Media Tashfiyah
5.69K subscribers
263 photos
5 videos
4 files
548 links
Ini adalah saluran telegram resmi Media Tashfiyah. Silakan menyebarkan isi dari saluran ini tanpa mengubah isinya.

Admin: @red_tashfiyah
Download Telegram
💐💐 DUA NIKMAT BESAR: ISLAM DAN DI ATAS SUNNAH NABI

✍🏻 Abdullah bin Umar bin Al Khatthab radhiyallahu 'anhuma mengatakan,

ما فرحت بشيء من الإسلام أشد فرحا بأن قلبي لم يدخله شيء من هذه الأهواء

➡️ "Tidaklah saya bergembira dengan sesuatu daripada Islam, lebih dari kegembiraan saya bahwa kalbuku tidak dimasuki oleh hawa nafsu ini (yakni pemikiran bid'ah)."

📚 Syarh Ushul I'tiqad karya Al Lalakai jil. 1 hlm. 130
###########
✍🏻 Qatadah rahimahullah mengatakan,

ما أدري أي النعمتين علي أعظم إذ أخرجني من الشرك إلى الإسلام أو عصمني في الإسلام أن يكون لي فيه هوى

➡️ "Saya tidak tahu, dari dua nikmat ini, mana yang paling agung: Allah mengeluarkan aku dari kesyirikan menuju Islam ataukah Allah melindungi saya dari hawa nafsu di dalam Islam ini (yakni dengan menempuh jalan sunnah dan menjauhi pemikiran bid'ah)."

📚 Thabaqat Ibni Sa'ad 7/113
#############
✍🏻 Mujahid (tabi'in) rahimahullah mengatakan,

ما أدري أي النعمتين علي أعظم ,أن هداني للإسلام أو عافاني الله من الأهواء

➡️ "Saya tidak tahu, dari dua nikmat ini, mana yang paling agung: Allah menunjuki saya ke dalam Islam atau Allah menyelamatkan saya dari hawa nafsu (pemikiran bid'ah)."

📚 Muqaddimmah Sunan Ad Darimi
•┈┈•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•┈┈•
#sunnah #bidah

🌏 Website: tashfiyah.com ||| telegram.tashfiyah.com
📱 Gabung Channel Majalah Tashfiyah : bit.ly/tashfiyah
MARI MENGENAL BIDAH
bag. 1 Bidah Secara Bahasa

✍️ oleh Abu Yusuf Abdurrahman

a. Tinjauan Makna Etimologis

📚 Secara etimologis atau akar bahasa, بِدْعَةٌ berasal dari kata kerja بَدَعَ (fi’il madhi, kata kerja bentuk lampau) يَبْدَعُ (fi’il mudhari’, kata kerja bentuk sekarang dan akan datang) بَدْعاً (mashdar, kata kerja dibendakan). Makna dari kata ini adalah membuat inovasi, sesuatu yang baru, tidak ada contoh dan misal sebelumnya.

📚 Pada makna asal kata, kata ‘bid’ah’ ini tidaklah memiliki nilai celaan atau pujian. Karena, sesuatu yang baru belum mesti sesuatu yang jelek, sebagaimana sesuatu yang baru pun juga belum mesti sesuatu yang bagus. Nilai jelek dan baiknya tergantung dari apakah hal yang baru itu.

📚 Kesimpulannya, kata bid’ah secara bahasa tidaklah memiliki nilai positif dan negatif. Kita baru bisa menilai positif dan negatifnya dilihat dari produk atau hasil dari bid’ah itu.

🌎 dari Dikit-dikit bidah
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #definisi

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
MARI MENGENAL BIDAH
(bag. 2 [akhir] Bidah menurut syariat)

✍️ oleh: Abu Yusuf
b.Tinjauan Terminologis Syara’

📚 Definisi yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Asy Syathibi rahimahullah di dalam kitab Al I’tisham:
“Suatu jalan dalam beragama yang diadakan, menyerupai jalan syariat, tujuan menempuhnya adalah kesungguhan dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.”

🔑 Ada beberapa kata kunci yang menjadi batasan bid’ah dalam definisi beliau.
1️⃣ Pertama, bid’ah adalah ‘thariqah’ suatu jalan. Artinya, bid’ah memang dijadikan sebagai suatu pedoman yang senantiasa dilazimi. Dengan batasan ini, kita bisa membedakan bid’ah dengan maksiat. Seseorang yang melakukan maksiat, dalam hati kecilnya dia berniat akan meninggalkannya dan bertobat darinya.

🍂 Dengan batasan thariqah ini pula, kita menyimpulkan bahwa bid’ah tidak terbatas hanya pada amalan lahiriah saja. Bid’ah juga mencakup keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Misalnya, keyakinan Khawarij bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka.

2️⃣ ‘Fid din’ dalam agama Islam, artinya cakupan bid’ah hanya perkara yang ada dalam agama. Bid’ah tidak mencakup segala inovasi dan penemuan dalam hal dunia. Jadi, tidak tepat bid’ah diterapkan dalam penemuan-penemuan dunia, seperti kendaraan modern, kulkas, dan segala hal penemuan dunia yang lain.

3️⃣ ‘Mukhtara’ah’, yang diadakan, artinya bid’ah tersebut tidak memiliki dalil dalam syariat ini. Dengan batasan ini, maka ilmu-ilmu yang membantu dalam memahami agama Islam –seperti ilmu nahwu, sharaf, ushul fiqh, serta ilmu-ilmu lainnya yang dahulu tidak ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam — bukanlah bid’ah. Sebab, meskipun ilmu tersebut tidak ada di zaman Rasulullah n, namun ada asal dalil-dalil yang menunjukkan padanya.

4️⃣ ‘Tudhahi asy syar’iyyah’ menyerupai jalan syariat, artinya perbuatan bid’ah tersebut memiliki kesamaan dengan jalan syariat, namun bukan termasuk dari syariat ini.
Penyerupaan syariat tersebut bisa berupa: penentuan tata cara tertentu tanpa dalil (misal, zikir dengan tata cara berjamaah dengan suara berbarengan), menentukan batasan tanpa dalil (misal, puasa dengan memakan jenis makanan tertentu, nasi, umbi, dsb), menentukan waktu-waktu tertentu tanpa dalil (misal, salat pada pertengahan Sya’ban, atau Jumat pertama dari Rajab). Ini semua menyerupai jalan syariat, namun bukan termasuk syariat karena tidak ada dalil baik dari Al Quran, hadis, ataupun ijma’ mengenai penentuan-penentuan tersebut. Orang yang mengadakannya membuat seolah-olah ada tuntunannya dari syariat agar terlihat bagus dikerjakan, padahal tidak ada asalnya.

5️⃣ Tujuan dari ditempuhnya jalan tersebut adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Inilah niatan dari para pelaku bid’ah. Semuanya berkeyakinan bahwa bid’ah yang dilakukannya adalah sesuatu yang bisa mendekatkan kepada Allah subhanahu wata’ala . Namun, anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Bid’ah bukan termasuk syariat Islam. Maka, perbuatan bid’ah bukanlah sesuatu yang Allah subhanahu wata’ala cintai. Andaikan bid’ah itu merupakan sesuatu yang Allah subhanahu wata’ala cintai, niscaya sudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan dan jelaskan kepada kita. Sebab, beliau bersabda:
“Wahai manusia, tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, kecuali pasti telah aku perintahkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka dan menjauhkan kalian dari surga kecuali telah aku larang kalian darinya.” [H.R. Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, dari Abdullah bin Mas’ud z dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah]. Kita simpulkan dari hadis ini, bahwa segala hal yang disyariatkan pastilah sudah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, ketika bid’ah tidak diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pastilah bid’ah bukan hal yang mendekatkan ke surga.

🌎 dari Dikit-dikit bidah
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #definisi

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
SAUDARA, BIDAH ITU TERCELA
(bag. 1 Al Quran telah menjelaskan)

✍️ [oleh Abu Yusuf Abdurrahman] )
Pembaca, semoga Allah merahmati kita semua. Semua jenis bid’ah dalam istilah pengertian syariat –yang telah kami sebutkan pengertian dan batasannya dalam pembahasan sebelumnya— adalah amalan yang tercela. Allah subhanahu wata’ala, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para shahabat serta yang mengikuti mereka telah menyebutkan celaan dan peringatan agar umat tidak terjatuh dalam bid’ah. Pada kesempatan kali ini, kami akan menyebutkan beberapa kutipan dari Al Quran, hadis, serta ucapan para shahabat serta para ulama yang mengikuti mereka mengenai tercelanya bid’ah.

☝🏻 Al Quran Menjelaskan
1. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَنَّ هٰذَا صِرٰطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتََّبِعُوالسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lainnya yang akan mengakibatkan kalian bercerai-berai dari jalan-Nya. Itulah yang Allah perintahkan kepada kalian agar kalian bertakwa.” [Q.S. Al An’am:153]

📏 Abdullah bin Mas’ud z mengisahkan, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggariskan satu garis lurus untuk kami. Beliau mengatakan, ‘Ini adalah jalan Allah.’ Kemudian, beliau menggariskan banyak garis di kanan kiri garis tersebut. Lalu beliau mengatakan, ‘Ini adalah jalan-jalan, setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.’ Kemudian beliau membaca ayat tersebut. [H.R. Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh Al Albani rahimahullah ]

🛣 Jalan yang lurus adalah syariat Allah. Sedangkan jalan-jalan lain yang Allah subhanahu wata’ala larang adalah jalan bid’ah. Asy Syathibi rahimahullah menegaskan, ”Jalan-jalan yang dimaksud bukanlah jalan kemaksiatan. Sebab, maksiat itu sendiri tidak ada seorang pun menjadikannya sebagai jalan yang senantiasa ditempuh untuk menyamai syariat. Ciri-ciri seperti ini hanya ada pada jalan bid’ah yang diadakan.” [Al I’tisham]

📚 Mujahid rahimahullah , seorang tabiin senior, menafsirkan ayat ini, “(Jalan-jalan yang banyak itu adalah) bid’ah dan syubhat (kesalahan pemahaman dalam bab agama).”

2. Dalam ayat lainnya, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka berkelompok-kelompok, engkau bukan termasuk golongan mereka sama sekali.” [Q.S. Al An’am:159]

📖 Ummu Salamah x, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , menafsirkan, “Ayat ini terkait para pengikut bid’ah, hawa nafsu, dan pembuat fitnah (keonaran) dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Yakni, merekalah yang memecah belah agama Islam.” [Al Muharrar Al Wajiz, karya Ibnu Athiyyah rahimahullah , wafat 542 H]

🌎 dari Saudara, bidah itu tercela
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #tafsir

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
SAUDARA, BIDAH ITU TERCELA
(bag. 2 Hadis Rasulullah menerangkan)

✍️ [oleh Abu Yusuf Abdurrahman]

☝🏻 Hadis Pun Menerangkan
1. Shahabat Irbadh bin Sariyah z mengisahkan bahwa suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan wejangan kepada para shahabat. Mereka pun merasa terharu terhadap wejangan tersebut. Air mata berlinang dan kalbu pun bergetar. Nasihat yang begitu mengharukan seolah-olah nasihat orang yang hendak berpamitan. Maka, para shahabat pun meminta wasiat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mewasiatkan dengan wasiat yang ringkas namun memiliki makna yang padat dan penting. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

أوصيكُمْ بتَقوى الله ، والسَّمْعِ والطَّاعةِ ، وإنْ تَأَمَّرَ عَليكُم عَبْدٌ ، وإنَّه من يَعِشْ مِنْكُم بعدي فَسَيرى اختلافاً كَثيراً ، فَعَلَيكُمْ بِسُنَّتِي وسُنَّةِ الخُلفاء الرَّاشدينَ المهديِّينَ ، عَضُّوا عليها بالنَّواجِذِ ، وإيَّاكُم ومُحْدَثاتِ الأمور ، فإنَّ كُلَّ بِدعَةٍ ضَلالةٌ

☝🏻“Aku mewasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemerintah), meski yang memerintahkan kalian sebelumnya adalah seorang budak. Sungguh, siapa yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib untuk kalian pegang teguh jalanku dan jalan para Khulafaur Rasyidin yang terpetunjuk. Gigitlah ajaran itu dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah kalian dari hal yang diada-adakan karena sungguh, setiap bid’ah adalah kesesatan.” [H.R. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

2. Dalam riwayat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berkhutbah memulai khutbahnya dengan ucapan:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

📖 “Sesungguhnya ucapan terbaik adalah Kitabullah dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Dan perkara terjelek adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” [H.R. Muslim]

🌎 dari Saudara, bidah itu tercela
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hadis #albani

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
SAUDARA, BIDAH ITU TERCELA
(bag. 3 Para ulama mempersaksikan)

✍️ [oleh Abu Yusuf Abdurrahman]

☝🏻 Para Ulama Terdahulu Mempersaksikan

Riwayat-riwayat dari para salaf yang mencela bid’ah sangat banyak. Kami cukupkan sebagian saja, semoga bisa menjadi gambaran tentang pendapat mereka terhadap bid’ah.

1️⃣ Abu Idris Al Khaulani rahimahullah (tabi’in senior, wafat 80 H) mengatakan, “Saya melihat di masjid ada api yang tidak bisa saya padamkan lebih baik daripada saya melihat di masjid ada bid’ah yang tidak bisa saya ubah.”

2️⃣ Abdullah bin Mas’ud z berkata, “Teladanilah dan jangan kalian berbuat bid’ah. Sungguh, kalian sudah dicukupi.”

3️⃣ Beliau mengucapkan dalam kesempatan lainnya, “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.”

4️⃣ Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Tidaklah bertambah semangat ahlul bid’ah dalam puasa dan salat, kecuali Allah justru bertambah jauh darinya.”

5️⃣ Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Jangan engkau duduk bersama pelaku bid’ah, itu akan menyebabkan kalbumu sakit.”

6️⃣ Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah (tabiut tabi’in, wafat 187 H) mengatakan, “Ikutilah jalan kebenaran, jangan risau dengan sedikitnya orang yang menganutnya. Jauhilah olehmu jalan kesesatan, jangan terpana dengan banyaknya orang yang binasa.”

🌎 dari Saudara, bidah itu tercela
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hadis #albani

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
SAUDARA, BIDAH ITU TERCELA
(bag. 4 [akhir] Logika Juga Sepakat)

✍️ [oleh Abu Yusuf Abdurrahman]

Bid’ah Tercela Secara Logika

1️⃣ Logika pertama, syariat Islam merupakan syariat yang telah sempurna. Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, Allah subhanahu wata’ala telah menegaskan bahwa Islam telah sempurna. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah Aku lengkapi untuk kalian agama kalian dan telah Aku sempurnakan untuk kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” [Q.S. Al Maidah:3]

Ayat yang turun saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan Hajjatul Wada’ ini menjadi pertanda bahwa Islam telah sempurna dan paripurna. Tidak diturunkan ayat mengenai hukum halal dan haram setelahnya. Sesuatu yang sempurna tidak memerlukan penambahan maupun pengurangan. Apabila ditambah, maka yang tadinya sempurna tidak menjadi lebih sempurna, namun justru menjadi cacat.

Sebagai contoh untuk memudahkan pemahaman, Allah subhanahu wata’ala menciptakan manusia memiliki dua tangan. Dua tangan ini merupakan sifat kesempurnaan pada manusia. Jika salah satu anggota tubuh manusia ini berkurang, maka dikatakan bahwa dia tidak sempurna. Demikian pula, jika dia diciptakan memiliki satu tangan yang lebih. Meskipun anggota tubuh tersebut mampu berfungsi sebagaimana mestinya, tetap dikatakan tidak normal (cacat) dan tidak dikatakan sempurna. Maka, orang yang menambahi syariat ini, dia tidak menambahi kesempurnaan agama ini, justru menjadikan agamanya tidak sempurna. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa orang yang berbuat bid’ah telah melakukan hal yang tercela.

2️⃣ Logika kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan segala hal yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Sehingga, tidak ada lagi suatu amalan yang perlu ditambahkan. Siapa yang menambahi syariat ini, sadar atau tidak, dia menuduh bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah. Secara tersirat, dia telah menuduh bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum menyampaikan semua syariat. Meskipun secara lisan dia mengingkarinya, namun inilah konsekuensi dari perbuatannya. Jadi, dipandang dari segi ini pun, orang yang berbuat bid’ah telah melakukan hal yang tercela.

Imam Malik rahimahullah sampai mengatakan, “Siapa yang mengadakan bid’ah dan dia anggap baik, maka dia telah menganggap bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhianati risalah (yakni beliau tidak menyampaikan seluruhnya). Sebab, Allah subhanahu wata’ala telah berfirman yang artinya, ‘Di hari ini telah Aku lengkapi agama kalian.’ [Q.S. Al Maidah:3] Maka segala hal yang bukan termasuk agama di hari turunnya ayat itu, bukan termasuk agama pula pada hari ini.”

3️⃣ Logika ketiga, asalnya, manusia diciptakan sebagai makhluk yang tidak mengetahui. Dia terlahir ke dunia ini tanpa memiliki pengetahuan sedikit pun. Lalu, dia pun sedikit demi sedikit bertambah ilmunya baik dari pengalaman maupun dari pengajaran yang dia dapatkan. Ilmunya yang dimilikinya pun sangat terbatas sekali karena berasal dari sumber yang terbatas.

Adapun pada perkara gaib, manusia sama sekali tidak memiliki jalan untuk mengetahuinya. Misalnya, surga serta cara untuk sampai kepadanya; dan neraka serta cara untuk menjauhinya. Oleh sebab itu, Allah subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada manusia dengan diutusnya para rasul untuk menunjukkan jalan yang terbaik bagi manusia. Jalan terbaik tersebut adalah jalan syariat. Maka, ketika seseorang tidak mau meniti jalan rasul dalam urusan agama, namun malah membuat jalan lain, dia telah berbuat lancang. Orang itu telah melakukan hal yang tanpa didasari ilmu. Karena, hanya melalui rasul ini, ilmu agama didapatkan.

Pembaca Tashfiyah yang kami muliakan, demikianlah dalil-dalil dan alasan kenapa bid’ah dalam agama adalah sesuatu yang tercela. Maka, sebagai muslim yang beriman, tentunya sudah sepantasnya bagi kita untuk menjauhi perkara-perkara bid’ah dalam agama ini. Wallahu a’lam bish shawab.

🌎 dari Saudara, bidah itu tercela
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #akal #nalar #logika
MENGENAL BID'AH HASANAH
(bag. 1 Ucapan Umar)

✍️ Abu Yusuf Abdurrahman

Apa itu bid'ah hasanah? Bid’ah hasanah artinya adalah bid’ah yang bernilai baik. Beberapa ulama telah menyebutkan jenis bid’ah ini dalam beberapa karya mereka. Pada kesempatan ini, kita akan sebutkan beberapa hal yang dianggap bidah hasanah dan nukilan ulama mengenai bid’ah jenis ini disertai telaah ringkas mengenainya.

🍃 1. Ucapan Umar radhiyallahu ‘anhu “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

📚 Mari kita perhatikan sejenak mengenai ucapan beliau ini. Umar radhiyallahu ‘anhu mengucapkan ucapan ini saat beliau melihat salat tarawih yang dilakukan oleh para shahabat, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari rahimahullah. Lantas, terbetik tanya, apakah salat tarawih termasuk bid’ah yang tidak ada dalilnya dari Al Quran dan hadis?

📖 Jawabannya, ada dalilnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha telah meneladankan salat tarawih. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan bahwa dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam Ramadhan salat sendiri di masjid. Lalu, orang berkumpul ikut salat bersama dengan beliau tiga malam berturut-turut. Pada malam keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar mengimami mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan sebab beliau meninggalkan salat tarawih berjamaah, yang artinya, “Yang menyebabkan aku tidak keluar mengimami kalian hanya karena aku khawatir salat ini akan diwajibkan atas kalian.” Maka, salat ini pun tidak dilakukan secara berjamaah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan pada khilafah Abu Bakar.

🕋 Barulah pada khilafah Umar, saat beliau melihat orang-orang salat dengan beberapa jamaah tercerai-berai, beliau pun mengumpulkan mereka di masjid dengan satu imam.

🤚🏻 Dengan melihat kepada kisah di atas, kita ketahui bahwa salat tarawih bukanlah bid’ah secara istilah syariat. Kriteria bid’ah ‘mukhtara’ah’ atau diada-adakan tidak terpenuhi pada amalan ini. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencontohkannya. Secara lisan pun, beliau juga memotivasi untuk melakukan salat malam di bulan Ramadhan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meneruskan mengimami hanya khawatir diwajibkan karena zaman itu adalah zaman pensyariatan. Saat beliau meninggal, syariat tidak lagi turun, alasan kekhawatiran telah hilang, makanya Umar radhiyallahu ‘anhu pun menghidupkan lagi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu. Umar bukan membuat hal yang baru dalam agama ini.

Lantas, kenapa Umar radhiyallahu ‘anhu menyebut salat tarawih sebagai bid’ah? Umar radhiyallahu ‘anhu menyebut amalan ini sebagai bid’ah dipandang dari bahasa, yakni menghidupkan amalan yang dahulunya ditinggalkan. Ingat, penggunaan kata bid’ah secara bahasa tidak bernilai celaan secara langsung (lihat pembahasan tentang definisi bid’ah di https://tashfiyah.com/dikit-dikit-bidah/). Adapun secara istilah syariat, apa yang beliau sebutkan ini bukanlah bid’ah.

🌍 Dari https://tashfiyah.com/inilah-bidah-hasanah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hasanah #tarawih

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
MENGENAL BID'AH HASANAH
(bag. 2 Ucapan Imam Asy Syafi'i)

✍️ Abu Yusuf Abdurrahman

🍃 2. Ucapan Imam Asy Syafi’i rahimahullah “Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji (mahmudah) dan bid’ah tercela (madzmumah).”

Apakah dari ucapan beliau ini bisa dipahami adanya bid’ah secara istilah syariat yang bernilai baik? Untuk memahaminya, perlu diketahui apa yang beliau maksud sebagai bid’ah terpuji.

📖 Redaksi ucapan beliau secara lengkap seperti ini, “Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Yang sesuai sunnah adalah yang terpuji, sedang yang menyelisihi sunnah adalah tercela.” [Hilyatul Auliya]

📕 Dari penjelasan beliau sendiri ini, kita simpulkan bahwa yang beliau maksud bid’ah terpuji bukanlah bid’ah secara istilah syariat, namun bid’ah secara bahasa. Karena, beliau yang beliau maksudkan sebagai bid’ah terpuji adalah bid’ah yang sesuai sunnah. Sehingga, tidak terpenuhi padanya kriteria bid’ah ‘mukhtara’ah’ (yang diadakan) sebab amalan tersebut berdasarkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

📌 Akan lebih jelas lagi, jika kita mengetahui bahwa beliau berdalil adanya bid’ah terpuji dengan komentar shahabat Umar mengenai salat tarawih, seperti yang diriwayatkan dalam Hilyatul Auliya. Dan telah kita sampaikan di muka bahwa tarawih bukanlah bidah.

🌍 Dari https://tashfiyah.com/inilah-bidah-hasanah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hasanah #tarawih #Syafii

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
MENGENAL BID'AH HASANAH
(bag. 3 dalil dari hadis)

✍️ Abu Yusuf Abdurrahman

📚 3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya, “Siapa yang meneladankan di dalam Islam ini teladan yang baik, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang beramal dengannya, tanpa mengurangi pahala orang yang beramal sedikit pun. Dan siapa yang mencontohkan dalam Islam ini teladan yang jelek, maka dia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang beramal dengannya, tanpa mengurangi dosa orang yang melakukannya sedikit pun.”

👍 Hadis ini adalah hadis shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, Imam Ahmad, dan lainnya. Dari hadis ini diambil faedah bahwa orang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala yang sangat besar, terus mengalir selama ajarannya diamalkan.

🤚🏻 Sebagian orang memahami bahwa ini merupakan dalil adanya bid’ah hasanah. Mereka mengatakan bahwa siapa yang mengajarkan bid’ah hasanah, akan terus mendapat pahala yang terus mengalir selama bid’ah tersebut diamalkan.

📌 Pendalilan ini adalah pendalilan yang tidak tepat. Akan lebih jelas saat kita melihat sababul wurud atau sebab datangnya hadis ini.

☀️ Saat itu pertengahan siang. Datang sekelompok orang yang bertelanjang kaki dan berbaju wol dari kabilah Mudhar. Kondisi mereka memprihatinkan. Demi melihat kondisi mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa kasihan. Beliau pun naik ke mimbar dan berkhutbah memberikan motivasi bersedekah kepada mereka. Namun, para shahabat tidak langsung menyambut ajakan tersebut. Sampai ada seorang dari Anshar yang datang membawa setangkup perak di tangannya. Lalu, para shahabat pun menjadi bersemangat hingga terkumpul dua gundukan makanan dan baju. Raut wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjadi cerah/bahagia. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengucapkan sabdanya di atas.

💡 Pembaca, dengan melihat sababul wurud di atas, kita bisa menilai bahwa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maksud dengan ‘sunnah hasanah’ (ajaran yang baik) bukanlah ‘bid’ah hasanah’. Sebab, sedekah merupakan amalan yang memiliki banyak sekali landasan dalil dalam syariat. Sehingga, kriteria ‘mukhtara’ah’ tidak terpenuhi dalam perkara ini. Kesimpulannya, tidak tepat dalil ini dipakai dalam bid’ah hasanah dan hanya berlaku dalam sunnah hasanah.

🌍 Dari https://tashfiyah.com/inilah-bidah-hasanah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hasanah #hadis #sedekah

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
MENGENAL BID'AH HASANAH
(bag. 4 ucapan Imam Nawawi)

✍️ Abu Yusuf Abdurrahman

📚4. An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama mengatakan bahwa bid’ah ada lima macam: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah.” [Syarh Shahih Muslim] Ucapan An Nawawi ini semakna dengan yang disebutkan oleh Al ‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah dalam kitab Qawa’idul Ahkam.

📚 Setelah menyebutkan hukum-hukum bid’ah yang dibagi menjadi lima ini, An Nawawi rahimahullah mencontohkan jenis-jenis bid’ah tersebut. Bid’ah yang wajib, misalnya mengumpulkan dalil-dalil yang digunakan oleh ahlul kalam untuk membantah ahlul bid’ah (membantah kebatilan ahlul bid’ah adalah wajib). Bid’ah yang sunnah, contohnya adalah menyusun kitab-kitab ilmu dan membangun sekolah. Bid’ah yang mubah, seperti mengonsumsi berbagai makanan beraneka macam yang belum ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Adapun bid’ah yang haram dan makruh, jelas.” kata beliau. [Syarh Shahih Muslim]

💡 Pembaca yang kami hormati, dengan membaca perician contoh-contoh bid’ah tersebut, kita pun bisa menyimpulkan apa yang beliau sebut sebagai bid’ah dengan hukum wajib, sunnah, dan mubah, sejatinya bukanlah bid’ah menurut istilah syariat. Sebab, hal-hal tersebut telah ada dalil landasannya, baik secara tegas, maupun secara tersirat. Sehingga, penyebutan bid’ah yang menurut beliau bisa dibagi menjadi lima adalah bid’ah secara bahasa, yakni sesuatu yang baru, tidak memandang termasuk dalam hal agama atau tidaknya (seperti masalah makanan), tidak memerhatikan apakah ada dalil tersirat atau tidaknya (semisal penulisan karya ilmiah). Sedangkan hal-hal tersebut tidak termasuk dalam definisi bidah.

👍🏻 Lebih menguatkan apa yang kami sebutkan, bahwa An Nawawi rahimahullah menyebutkan pembagian ini setelah beliau mengatakan, “Para ahli bahasa mengatakan bid’ah adalah sesuatu yang diamalkan tanpa misal sebelumnya.” Setelah mengutip pendapat ahli bahasa inilah, beliau menyebutkan pembagian bid’ah. Maka kita pahami bahwa beliau menginginkan bid’ah secara bahasa, bukan bid’ah secara istilah syariat.

🌍 Dari https://tashfiyah.com/inilah-bidah-hasanah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hasanah #nawawi

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
MENGENAL BID'AH HASANAH
(bag. 5 ucapan Imam Nawawi pendalilan 'am makhsush)

✍️ Abu Yusuf Abdurrahman

📚 5. An Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ‘Semua bid’ah adalah sesat’, beliau mengatakan, “Hadis ini adalah ‘am makhshush (yakni, redaksinya menyebutkan keseluruhan, namun hanya dimaksudkan hal yang parsial atau sebagian saja). Yakni, mayoritas bid’ah adalah sesat.” [Syarh Shahih Muslim]

☝🏻 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali memulai khutbahnya dengan mengatakan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Amma ba’du: Sungguh, ucapan terbaik adalah Kitabullah, petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad. Dan perkara terjelek adalah yang diada-adakan dan setiap bidah adalah kesesatan.” [H.R. Muslim]

📖 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tegaskan dan beliau ulang-ulang dalam khutbah, “Setiap bid’ah adalah kesesatan.” Secara tersurat, hadis ini menunjukkan bahwa bidah seluruhnya adalah sesat. Dipahami dari sini, tidak ada pengecualian dan pembagian menjadi bidah yang tidak sesat.

Akan tetapi, Imam An Nawawi mengatakan bahwa Rasulullah dalam hadis ini menggunakan uslub (metode pembicaraan) ‘am makhshush (ucapannya umum, namun diinginkan sebagian saja). Meski Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap bid’ah adalah kesesatan,” beliau memaksudkan hanya sebagian bid’ah saja yang sesat.

Allah subhanahu wata’ala juga pernah memakai uslub ini, kata beliau. Di antara contoh uslub (metode pembicaraan) ‘am makhshush, kata An Nawawi rahimahullah, adalah firman Allah subhanahu wata’a:

تُدَمِّرُ كُلَّ شَىْءٍۭ بِأَمْرِ رَبِّهَا

“(Angin itu) menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya,” [Q.S. Al Ahqaf:25]

Kata Imam An Nawawi, penyebutan ‘segala sesuatu’ dalam ayat ini yang dimaksud bukan segala sesuatu secara mutlak, tapi yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dilewati oleh angin tersebut. Sehingga, meski ucapannya umum, tapi yang diinginkan sebagian, parsial dari keumuman tersebut.

📖 Pembaca yang semoga dimuliakan Allah, pendalilan ini benar dengan catatan, kita harus memahaminya sesuai dengan penjelasan An Nawawi rahimahullah yang telah lewat pada poin sebelumnya.

💡 Benar bahwa sebagian bid’ah ada yang baik, tidak sesat. Namun bid’ah yang baik tersebut merupakan bid’ah secara bahasa (bukan dalam syariat). Adapun secara istilah (bid’ah dalam syariat), seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , “Semua bid’ah adalah sesat.”

🌍 Dari https://tashfiyah.com/inilah-bidah-hasanah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hasanah #sesat #hadis #nawawi

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
MENGENAL BID'AH HASANAH
(bag. 6 ucapan Al Hafizh Ibnu Hajar)

✍️ Abu Yusuf Abdurrahman

📚6. Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan, “Yang benar, jika bid’ah ini termasuk dalam hal yang dianggap baik dalam syariat, maka itu adalah bid’ah hasanah. Namun jika termasuk hal yang dianggap jelek dalam syariat, maka itu adalah bid’ah mustaqbahah (jelek).” [Fathul Bari]

🌴 Ucapan Ibnu Hajar rahimahullah memberikan faedah bahwa bid’ah ada bid’ah hasanah dan bid’ah mustaqbahah/ sayyiah (jelek). Pembagian ini sebagaimana yang telah lalu, adalah pembagian bid’ah menurut asal kata secara bahasa. Hal ini bisa kita simpulkan dari ucapan beliau "dianggap baik dalam syariat".

📖 Adapun bid'ah menurut syariat, Ibnu Hajar menyatakan bahwa seluruhnya adalah tercela. Beliau mengungkapkan pada kitab yang sama, dalam halaman yang sama, “Kata bid’ah secara syariat disebut pada sesuatu yang menyelisihi sunnah, sehingga kata bid’ah adalah kata yang tercela.” [Fathul Bari]

🌍 Dari https://tashfiyah.com/inilah-bidah-hasanah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hasanah #ibnuhajar

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
MENGENAL BID'AH HASANAH
(bag. 6 [akhir] ucapan Al Hafizh Ibnu Rajab menyimpulkan)

✍️ Abu Yusuf Abdurrahman

💡 Dari pemaparan alasan dan penukilan ulama mengenai bidah hasanah pada poin:
1. Umar bin Khattab https://t.me/majalahtashfiyah/585
2. Imam Asy Syafi'i https://t.me/majalahtashfiyah/586
3. Hadis sunnah hasanah https://t.me/majalahtashfiyah/587
4. Imam Nawawi lima macam bidah https://t.me/majalahtashfiyah/588
5. Imam Nawawi pendalilan 'am makhsush https://t.me/majalahtashfiyah/589
6. Ibnu Hajar https://t.me/majalahtashfiyah/590

💡 bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat antara ulama. Ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah, mereka melihat kepada asal bahasa kata tersebut. Adapun ulama yang menjelaskan bahwa semua jenis bid’ah adalah sesat dan tercela, dan berdalil dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Setiap bid’ah adalah kesesatan.” Maka mereka memaksudkan dengannya bid’ah secara syariat yang telah kami sebutkan definisi dan batasannya pada artikel sebelumnya. (https://tashfiyah.com/dikit-dikit-bidah/)

📚 Sebagai akhir pembahasan, marilah kita simak ucapan Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah dalam kitab Jami’ul Ulum wal Hikam saat beliau menjelaskan hadis, ‘Setiap bid’ah adalah kesesatan.’

💡Beliau mengatakan, “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Setiap bid’ah adalah kesesatan’ termasuk jawami’ul kalim (ucapan yang ringkas namun padat cakupannya). Tidak ada pengecualian sedikit pun. Dan ini termasuk pokok penting dalam agama ini. Sabda ini mirip dengan sabda beliau yang artinya, “Siapa yang mengadakan dalam urusan kami ini, yang bukan darinya, maka dia tertolak.” Maka, setiap orang yang mengadakan sesuatu dan menisbatkannya kepada agama, namun tidak memiliki dalil dari agama ini yang dijadikan sebagai pedoman, maka itu adalah kesesatan. Agama Islam berlepas diri darinya. Sama saja, itu termasuk masalah akidah, amalan anggota badan, atau ucapan lahiriah dan batiniah.

📌 Adapun ucapan sebagian salaf yang menganggap baik sebagian bid’ah, maka itu hanyalah bid’ah secara bahasa, bukan secara syariat.” ~Ibnu Rajab dalam Jami'ul Ulum wal Hikam.


🌍 Dari https://tashfiyah.com/inilah-bidah-hasanah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #hasanah #Ibnurajab

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
IBNU MAS'UD DAN JAMAAH ZIKIR
[bag. 1 Kisah]

📖 Ad Darimi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam Sunan-nya sebuah kejadian yang patut kita renungkan. Pagi itu, azan Subuh belumlah berkumandang. Shahabat Abu Musa Al Asy’ari melihat orang-orang berkumpul di masjid.

🕋 Sambil menunggu salat wajib untuk ditunaikan, orang-orang itu berkumpul menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok ada pemimpin yang memandu mereka untuk berzikir. Mereka menggunakan kerikil sebagai alat penghitung zikirnya.

📿 “Bertasbihlah seratus kali,” kata salah satu pemandu zikir. Anggotanya pun melakukan tasbih. “Bertahlillah seratus kali.” “Bertakbirlah seratus kali.” Demikian, anggota halaqahnya mengikuti perintah dari sang pemandu.

Abu Musa merasa aneh dengan amalan yang tidak pernah dilihatnya di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Kalau tasbih, tahlil, dan takbir tentu itu adalah zikir yang sudah sangat dikenal oleh shahabat. Namun, yang beliau anehkan adalah caranya yang berjamaah. Cara ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat.

📌 Maka, Abu Musa pun mendatangi Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu untuk meminta keterangan dari beliau. Ibnu Mas’ud memang dikenal sebagai shahabat yang sangat lama menimba ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

❗️ Setelah Abu Musa bercerita apa yang dialaminya, Ibnu Mas’ud pun segera ke masjid untuk meluruskan bid’ah yang mereka lakukan. Ibnu Mas’ud pun marah.

📗 “Apa yang kalian lakukan ini?” tanya Ibnu Mas’ud.

📿 “Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Mas’ud), ini hanyalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”

📗 “Hitunglah kejelekan kalian, aku jamin sedikit pun kebaikan kalian tidak akan hilang.”

❗️ Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Kasihan kalian umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam! Betapa cepat kehancuran kalian! Ini, para shahabat Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam masih banyak. Baju-baju beliau pun belum usang. Bejana beliau pun belum juga pecah. Demi Dzat Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, apakah kalian ini di atas agama yang lebih berpetunjuk daripada agama Nabi ataukah kalian membuka pintu kesesatan?!”

Andai agama mereka lebih berpetunjuk daripada agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tentunya ini tidak mungkin, karena Allah sudah menegaskan ridha-Nya terhadap kesempurnaan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Sehingga, hanya tersisa kemungkinan kedua, mereka membuka pintu kesesatan.

📿 Lalu, orang-orang itu pun berdalih, “Wahai Abu Abdirrahman, kami hanya ingin kebaikan.”

🍃 Niatan mereka sebenarnya baik, menunggu datangnya waktu salat dengan melakukan zikir berjamaah. Tapi sayang, caranya tidak sesuai dengan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, ada satu syarat yang tidak terpenuhi agar amalnya diterima.

Makanya, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pun menjawabnya, “Betapa banyak orang yang ingin kebaikan, tapi sayang tidak bisa mendapatkannya.”

📖 Beliau pun melanjutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepadaku, ada suatu kaum yang membaca Al Quran, namun tidak melewati kerongkongan mereka (yakni hanya dibaca tanpa direnungi sampai di kalbunya). Demi Allah, aku tidak tahu, bisa jadi mayoritas mereka adalah dari golongan kalian.” Ibnu Mas’ud pun berpaling dari mereka setelah memberikan nasihat ini.

🌪 Benarlah apa yang diprediksi oleh Ibnu Mas’ud. Beberapa tahun kemudian, terjadi perang antara kaum muslimin dengan Khawarij di Nahrawan. Ternyata, mayoritas yang ikut di majelis bid’ah tersebut ikut memerangi muslimin dalam barisan Khawarij.

✍️ Abu Yusuf

🌍 Dari https://tashfiyah.com/ibnu-masud-mengingkari-zikir-jamaah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #Ibnumasud #bertanya #khawarij #zikir

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
IBNU MAS'UD DAN JAMAAH ZIKIR
[bag. 2 Hikmah dan Pelajaran 1]

📚 Hikmah 1 Bertanya dan meminta masukan kepada orang yang berilmu merupakan solusi dari segala permasalahan.

📖 Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu merasa ada yang ganjil dari amalan yang dikerjakan sebagian orang. Beliau tidak langsung mengingkarinya namun bertanya dahulu kepada Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang lebih banyak menimba ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .

🍃 Sebuah kisah lain bisa menjadi ibrah mengenai bahayanya beramal tanpa ilmu. Shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma dahulu safar dengan rombongannya. Ternyata, di perjalanan tersebut salah satu anggota rombongan tertimpa batu dan melukai kepala sampai parah. Saat tidur, orang tersebut mimpi basah, padahal cuacanya sangat dingin dan dikhawatirkan lukanya akan lebih parah. Dia pun bertanya kepada para shahabat yang ikut dalam rombongan itu apakah ada keringanan baginya untuk tidak mandi. Para shahabat menjawab bahwa tidak ada keringanan, dia tetap harus mandi. Dia pun mandi, yang akhirnya menyebabkan dirinya meninggal dunia. Ketika hal ini diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau pun marah dan mengatakan yang artinya, “Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membunuh mereka! Tidakkah mereka itu bertanya jika mereka tidak mengetahui?! Obat dari kebodohan itu hanyalah dengan bertanya.” [H.R. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

🍃 Inilah yang seharusnya dilakukan seorang muslim saat bertemu dengan perkara agama yang tidak diketahuinya. Jangan sembarangan menetapkan hukum sampai bertanya kepada ulama. Sungguh, akibat yang ditimbulkan dari sembarang menghukumi sesuatu dalam agama, bisa jadi sangat parah.

✍️ Abu Yusuf

🌍 Dari https://tashfiyah.com/ibnu-masud-mengingkari-zikir-jamaah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #Ibnumasud #ilmu #bertanya #ulama

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
IBNU MAS'UD DAN JAMAAH ZIKIR
[bag. 3 Hikmah dan Pelajaran 2]

📚 Hikmah 2 Bid’ah –dari segi ketiadaan dalil— dibagi dua: bid’ah haqiqiyah dan bid’ah idhafiyah.

1️⃣ Bid’ah haqiqiyah adalah bid’ah yang sama sekali tidak memiliki dasar dalil dari agama ini. Contohnya, keyakinan Khawarij yang mengafirkan kaum muslimin, keyakinan Qadariya’h yang menolak adanya takdir, puasa dengan tidak berbicara, dsb.

2️⃣ Bid’ah idhafiyah adalah bid’ah yang memiliki dua sisi. Sisi pertama, amalan tersebut memiliki dalil yang menunjukkan asalnya; dan sisi kedua, amalan tersebut memiliki tambahan yang tidak ditunjukkan dalil baik secara tegas maupun isyarat.

📝 Yakni, asal amalan disyariatkan, akan tetapi menjadi bid’ah karena adanya penambahan dari segi yang lain. Misalnya, ditambahkan tata cara tertentu, waktu tertentu, jumlah, atau keutamaan tertentu. Sebab, penentuan hal-hal tersebut merupakan kekhususan syariat yang tidak bisa dijangkau nalar.

📿 Misalnya dalam kisah di atas, zikir tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir merupakan zikir yang sangat besar pahalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan yang artinya, “Ucapan yang paling dicintai Allah adalah subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illallah, dan allahu akbar. Tidak mengapa engkau mulai dengan yang mana saja.” [H.R. Muslim]. Sehingga, dari sisi ini amalan yang mereka lakukan memiliki dalil yang menunjukkan asal amalan tersebut.

❗️ Namun, Ibnu Mas’ud rahimahullah justru mengingkari mereka dengan sangat keras. Apa sebabnya? Jawabnya, karena ada tambahan yang tidak ditunjukkan dalil. Mereka menentukan tata cara, waktu, dan jumlah tertentu yang tidak ada dalam dalil.

📖 Begitu pula amalan saleh lainnya, jika dalil menyebutkan secara umum, maka tidak boleh dikhususkan tanpa dalil. Jika seseorang mengamalkannya secara mutlak sesuai dalil, hukumnya sunnah. Namun, jika ada yang mengamalkan amalan itu dengan keyakinan adanya jumlah, tata cara, waktu, atau keutamaan tertentu, amalan itu berubah menjadi bid’ah. Bid’ah itulah yang dijuluki bid’ah idhafiyah.

📕 Ad Darimi rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan beliau, ada orang yang salat setelah Ashar dengan rakaat yang banyak. Sa’id bin Musayyib rahimahullah yang melihat apa yang dilakukan orang ini, langsung melarangnya. Orang itu pun bertanya, “Wahai Abu Muhammad (Sa’id bin Musayyib) apakah Allah akan mengazabku dikarenakan salat?” Sa’id rahimahullah menjawab, “Tidak. Akan tetapi, Allah mengazabmu karena menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .”

✍️ Abu Yusuf

🌍 Dari https://tashfiyah.com/ibnu-masud-mengingkari-zikir-jamaah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #pembagian #zikir #sunnah

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
IBNU MAS'UD DAN JAMAAH ZIKIR
[bag. 4 Hikmah dan Pelajaran 3]

🖋 Hikmah 4. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu'anhu mengatakan kepada mereka, “Betapa cepat kebinasaan kalian!” Ini menunjukkan kepada kita bahwa bid’ah adalah jalan menuju kebinasaan.

🔥 Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Sebab, orang bisa bertobat dari maksiat sedangkan bid’ah, orang tidak bertobat darinya.” Bid’ah tidak bisa tobat darinya, maksudnya seorang pelaku bid’ah menganggap bahwa amalan bid’ah yang dilakukannya adalah amalan yang baik. Maka, selama orang tersebut menganggap bahwa itu baik, dia tidak akan bertobat darinya. Sebab, hal yang pertama dari tobat adalah meyakini bahwa apa yang dilakukannya merupakan perkara jelek. Akan tetapi, tobat tetap mungkin terjadi jika Allah memberinya hidayah hingga mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. [Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah rahimahullah]

🍂 Di sini lain, perbuatan bid’ah akan menjadikan seseorang meninggalkan sunnah. Sebab, seseorang yang melakukan bid’ah terkuras tenaganya, tersibukkan pikirannya, dan terisi kalbunya dengan amalan bid’ah tersebut. Sehingga, pantaslah Abu Idris Al Khaulani rahimahullah dahulu mengatakan, “Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu bid’ah, kecuali Allah mengangkat dari mereka sunnah.” Inilah di antara bentuk kebinasaan para pelaku bid’ah.

✍️ Abu Yusuf

🌍 Dari https://tashfiyah.com/ibnu-masud-mengingkari-zikir-jamaah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #sunnah #binasa

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
IBNU MAS'UD DAN JAMAAH ZIKIR
[bag. 5 Hikmah dan Pelajaran 4]

🖋 Hikmah 4. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ini, para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih banyak.” Ucapan ini menunjukkan wajibnya memahami perkara agama ini dengan pemahaman shahabat. Janganlah memahami dalil Al Quran dan hadis dengan pemahaman sendiri tanpa merujuk pada bimbingan shahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan yang artinya, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan ajaranku dan ajaran Khulafaur Rasyidin setelahku.”

✏️ Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga telah mewanti-wanti, “Siapa yang hendak meneladani, hendaknya dia teladani yang telah mati. Sebab, orang yang masih hidup tidak aman dari godaan (yakni, belum ada jaminan istiqamah hingga ajal menjemput). Mereka inilah para shahabat Nabi. Mereka inilah orang-orang terbaik dari umat ini: kalbu mereka terbaik, ilmu mereka paling dalam, dan paling sedikit berlebih-lebihan. Merekalah orang yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan agama-Nya. Maka, contohlah akhlak dan jalan mereka. Mereka ada di atas petunjuk yang lurus.” [Syarhus Sunnah, Al Baghawi]

✍️ Abu Yusuf

🌍 Dari https://tashfiyah.com/ibnu-masud-mengingkari-zikir-jamaah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #shahabat #Ibnumasud

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah
IBNU MAS'UD DAN JAMAAH ZIKIR
[bag. 6 Hikmah dan Pelajaran 5]

📄 Hikmah 5. Mereka berdalih, “Tidaklah kami menginginkan kecuali kebaikan.” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjawab mereka, “Betapa banyak orang yang ingin kebaikan, tapi sayang tidak bisa mendapatkannya.”

🧾 Diambil hikmah dari sini, bahwa niat saja tidak cukup. Niat yang baik harus dibarengi cara yang benar. Dua syarat ini mesti terpenuhi bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan. Dari sini, bisa kita simpulkan kekeliruan ucapan yang banyak menyebar di masyarakat, “Yang penting niatnya baik.”

✍️ Abu Yusuf

🌍 Dari https://tashfiyah.com/ibnu-masud-mengingkari-zikir-jamaah/
•┈┈•┈┈•⊰✿📖✿⊱•┈┈•┈┈•
#bidah #niat #mutabaah #teladan

📘 Channel Majalah Tashfiyah t.me/majalahtashfiyah