Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Menikah itu mengundang rezeki. Bukan saja ada dalilnya, tapi juga ada risetnya.

Penelitian 30 Percent Club asal Inggris, pria yang memiliki istri dan anak, kariernya akan meningkat. Rupanya 74 persen pria yang telah memiliki istri dan anak berhasil beroleh kenaikan jabatan dan gaji lebih dari 5 kali lipat. Ini berdasarkan pengamatan terhadap 4.600 pekerja.

Brittany Solomon dan Joshua Jackson dari Washington University meneliti 4.544 pasutri di Australia. Manakala seseorang dapat diandalkan untuk menjalankan perannya sebagai istri atau suami dengan penuh tanggung-jawab, maka pasangannya memiliki peluang 50 persen lebih besar untuk beroleh promosi karier.

Bagi yang belum menikah, semoga segera ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pendidikan formal saat ini, entah itu SD, SMP, atau SMA, hanya mengarah pada 'angka tertinggi' dan 'kampus favorit'. Apapun dilakukan agar si anak bisa meraih angka tertinggi dan masuk kampus favorit.

Bagaimana dengan minat dan bakat si anak? Bagaimana dengan cita-cita khusus si anak? Itu tidak terlalu dipikirkan. Fenomena ini setidaknya terjadi pada keluarga rata-rata.

Kemarin saya dan istri menonton film 'Big Brother. Two thumbs up for #BigBrother and #DonnieYen. CGI-nya oke, action-nya oke, humornya juga oke. Walaupun beberapa dialognya rada lebay (film di mana-mana yah begitu, ada lebay-lebaynya).

Saya pribadi terkesan dengan pesan-pesan yang tersirat tentang pendidikan di film ini. Ya, bagaimana orangtua dan guru hendaknya memperhatikan minat dan bakat si anak, bukan semata-mata pencapaian akademis. Yang jelas, film ini menghibur!

Saya ini pendidik. Mengelola puluhan TK, SD, dan kampus. Jujur, saya lebih senang melihat murid yang supel (banyak temannya), ada rasa enjoy ketika belajar, dan berkesempatan menyalurkan minat dan bakatnya, daripada sibuk-sibuk melulu dengan pencapaian akademis.

Begini. Bukannya pencapaian akademis itu tidak perlu. Yah perlu. Tapi pergaulan (banyak teman) lebih diperlukan. Demikian pula rasa enjoy ketika belajar. Jangan sampai murid merasa stress ketika belajar. Minat? Bakat? Tentu saja, ini tidak boleh diabaikan.

Mari kita sampaikan (remind) hal ini kepada keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita. Insya Allah kalau diterapkan, ini akan menjadi bekal bagi kehidupan mereka kelak. Sekian, semoga berkah berlimpah.
Kemarin saya dan istri nonton di bioskop.

Judulnya biasa, pemain-pemainnya juga biasa, tidak terkenal. Dari awal sampai akhir, semuanya tampil via screen. Tapi ceritanya bener-bener seru dan nggak ketebak. Bikin deg-degan. #Searching judulnya. Selama 4 minggu terakhir, menurut saya, ini adalah the best movie. Remaja dan orang tua mesti nonton!

Film ini berkisah tentang seorang anak (tepatnya anak perempuan) yang tiba-tiba menghilang dari rumah. Si ayah pun bingung dan mau nggak mau harus melacak melalui apa saja, termasuk socmed si anak. Dalam film ini, terlihat si anak tidak terlalu dekat dengan ayahnya dan ini keliru. Sangat keliru.

Di keluarga rata-rata, anak perempuan biasanya relatif dekat dengan ayahnya.

Ternyata ada sederet alasan mengapa anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Pertama, ayah itu bagai superhero di mata anak perempuannya, di mana si ayah mengajarkan ketegaran, kemandirian, dan tidak mengekang. Kedua, ayah lebih lembut dan lebih melindungi terhadap anak perempuan ketimbang anak laki-laki. Ketiga, ayah lebih mengandalkan logika ketimbang emosi, sehingga bisa menjadi teman curhat yang solutif.

Lebih lanjut, penelitian di University of Illinois menjabarkan bahwa anak-anak yang dikaruniai ayah yang meluangkan waktu untuk menanyakan apa yang mereka pelajari di sekolah, menanyakan aktivitas mereka sehari-hari, dan menanyakan hubungan sosial mereka dengan lingkungannya, menunjukkan prestasi akademis yang lebih prima di sekolah, dibanding anak-anak yang tidak memiliki hubungan yang hangat dengan ayahnya.

Semoga bermanfaat. Sekian, Ippho Santosa.
Selama 5 tahun terakhir, dunia entrepreneurship berkembang begitu pesat.

Tapi masih ada yang bingung mau usaha apa. Saran saya, nggak harus produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.

Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu menjual' dan 'menjualkan'. Bukan mustahil beliau seorang reseller atau sejenisnya.

Sejauh ini, banyak sekali yang japri ke ponsel saya, mengeluh soal income (penghasilan). Keluhan mereka, "Pendapatan saya nggak seberapa. Sementara, kebutuhan hidup dan tagihan nggak putus-putus. Ada terus."

Saya pun menyarankan mereka untuk berhemat. Walaupun tidak mudah, mereka berusaha mencoba. Tapi, tetap saja keteteran. Nggak ada pilihan lain, lalu saya menganjurkan mereka untuk berbisnis. Kecil-kecilan dulu. Mulai dari 'menjual' dan 'menjualkan'.

"Bisnis yang bagus, cirinya apa saja?" Kembali mereka bertanya. Saya bilang, perhatikan baik-baik margin-nya dan repeat order-nya. Pastikan oke. Ya, keberlangsungan sebuah bisnis sangat ditentukan oleh repeat order.

Satu lagi. Ada mentor-nya. Pastikan teruji kejujurannya, pastikan teruji kemampuannya. Dalam learning, mentor itu peredam risiko. Penting sekali. Kalau coba-coba sendiri, yah bisa juga. Tapi lebih lama dan lebih berisiko.

Terus, ada juga yang nanya, apa saya bisa jadi #MitraMasIppho ? Saya jawab, yah bisa. Tapi harus tahan banting. Cara-cara yang saya pakai relatif keras. Nggak semua orang suka, hehehe. Contoh kecil saja, mereka yang mengaku mau belajar bisnis sama saya tapi datangnya telat, sering saya suruh pulang.

Tapi ada senang-senangnya juga. Saat senggang, saya dan mitra-mitra pergi travelling. Kadang dalam negeri, kadang luar negeri. Alhamdulillah. Ini bagian dari kebersamaan. Saya sangat mensyukuri moment-moment seperti itu.

Pada akhirnya, saya berharap teman-teman semua bisa sukses besar jadi pengusaha, entah bermitra dengan saya atau tidak. Sekali lagi, sukses besar. Aamiin. Sekiranya masih bekerja, itu pun tak masalah. Alokasikan gajinya untuk membeli properti dan emas. Insya Allah bagus juga hasilnya.

Semoga berkah berlimpah.
Kemarin saya ikut Kajian Musawarah yang diisi oleh Ust Adi Hidayat. Sudah sekian tahun saya ikut kajian ini, alhamdulillah.

Saya pribadi berterimakasih kepada Mas Dimas, Mbak Dhini, Mas Primus, Mbak Jihan, Mas Wisnu, Mbak Shireen dll yang awal-awal mengajak saya dan istri untuk hadir di kajian ini.

Kemarin hadir juga Irwansyah, Prilly, Fenita, Ricky Harun dll. Niatnya belajar juga silaturahim. Doakan niat kami terjaga.

Ust Adi Hidayat, Ust Abdul Somad, Ust Oemar Mita, dan Ust Hanan Attaki adalah beberapa ustadz yang rutin mengisi di Musawarah.

Saya pribadi penasaran, biasanya teman-teman ikut kajian siapa? Jawab di IG ini ya...

https://www.instagram.com/p/Bndw612AWfw/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1rvslnmvd9tl4
Apa bisnis Anda? Apa produk Anda? Detak dan denyut sebuah bisnis ditentukan oleh penjualan. Ya, penjualan.

Sayangnya, tidak sedikit pengusaha dan penjual yang ditolak dalam menawarkan. Kenapa? Karena mereka kurang memahami ilmu komunikasi dan pola sukses dalam penjualan.

Ingat, segala sesuatu ada pola suksesnya. Berkomunikasi dan menaklukkan hati konsumen juga sama, ada pola suksesnya.

Dalam berkomunikasi, terutama untuk penjualan, saya mengajak penjual untuk melakukan digging di awal. Maksudnya, menggali informasi. Inilah yang sampaikan kemarin ketika men-training mitra-mitra.

Jadi, jangan buru-buru jualan. Ketahui dulu, apa dia sudah punya keluarga, apa belum? Apa dia sudah punya anak, apa belum? Berapa kira-kira income-nya? Dari mana kira-kira asalnya? Dan masih banyak lagi.

Dengan digging dan memahami informasi-informasi mendasar ini, kita dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam berkomunikasi.

Misal, kita tahu ternyata dia sudah punya anak. Nah, mungkin saja kita menawarkan suplemen untuk keperluan anaknya. Si ortu kadang tidak peduli dengan kesehatan dirinya. Tapi, kesehatan anaknya? Sangat peduli.

Digging juga membuat dua pihak menjadi lebih akrab. Ya, lebih dekat. Sehingga, kalaupun tidak terjadi transaksi penjualan, silaturahim tetap terjaga. Kan bagus? Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Hari itu saya bertemu penulis novel Lupus, Hilman Hariwijaya. Sebelum dibukukan, cerpen-cerpen karyanya sempat populer di majalah remaja saat itu, tahun 80-an. Saya salah satu pembacanya. Begitulah. Sejak dulu, saya suka membaca. Sewaktu kecil dan remaja, saya sempat punya novel-novel karya Enid Blyton, selain karya Hilman Hariwijaya dan Bastian Tito.

Saat beranjak dewasa, mulailah saya membaca buku-buku pengembangan diri karya John Maxwell, Tony Robbins, Robert Kiyosaki dll. Al Ries juga termasuk. Kesukaan membaca ini akhirnya diteruskan dengan kesukaan menulis. Jadilah saya kolumnis di belasan koran di Indonesia. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dengan takdir ini.

Pelan-pelan, nama saya mulai dikenal publik.

Nggak cukup sampai di situ, lalu saya menulis buku-buku pengembangan diri yang alhamdulillah kemudian terjual di atas 1 juta eksemplar dan mengantarkan saya berseminar di 5 benua. Tapi, yang paling seru adalah ketika saya 'menulis' buku nikah dan buku tabungan, hehehe.

Saya dan Hilman Hariwijaya adalah jenis penulis yang dipopulerkan oleh media massa. Ya, media massa. Saya dengan koran, Hilman Hariwijaya dengan majalah. Zaman pun berubah. Belakangan ini, dominasi media massa mulai berkurang, seiring menguatnya dan meluasnya pengaruh socmed.

Kemarin saya bertemu #NissaSabyan. Kenal kan? Dia sangat terkenal di socmed dan YouTube. Ini pelajaran buat kita.

Di zaman serba socmed seperti saat ini, kita bisa memasarkan produk, jasa, dan ide tanpa media massa sama sekali. Dengan socmed dan YouTube, kita bisa menghadirkan channel dan halaman kita sendiri. Benar-benar mandiri. Anak-anak muda biasanya lebih paham soal ini dan mau coba-coba sendiri.

Kepada mitra-mitra di BP, saya sampaikan, "Ini bukan soal tua atau muda, tapi apakah kita mau belajar dan memperbaiki diri, atau malah mencari-cari dalih." Pada akhirnya, mari manfaatkan socmed untuk tujuan bisnis, komunikasi, dan pengembangan diri.

Jangan sekedar jadi penonton, jadilah pemain. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Bolehkah wanita bekerja atau berbisnis?

#KetikaWanitaBerbisnis, inilah tema seminar saya belakangan ini. Wanita memang tidak wajib mencari uang. Tapi boleh, dengan sederet catatan.

Salah satu kelebihan wanita dalam bisnis adalah multi-tasking. Bisa melakukan beberapa hal dalam waktu bersamaan. Selain itu, wanita lebih konsisten dan lebih detail dalam urusan bisnis.

However, prioritas bagi seorang wanita adalah anak, suami, dan rumahnya. Jangan sampai ini dinomorduakan hanya karena bisnis dan rupiah. Kalau ini sampai terjadi, itu namanya salah kaprah.

Ingat. Bagi seorang pria, nafkah keluarga tetaplah tanggung-jawabnya. Istri kaya-raya? Istri durhaka? Istri beda agama? Tetap saja pria (suami) yang harus menafkahi.

"Mas Ippho, istri saya cerdas. Dia S2, bahkan kandidat S3. Kan sayang banget kalau dia di rumah saja," celetuk salah satu peserta seminar.

Begini. Di rumah itu ada anak. Baiknya curahkan kecerdasan dan kehebatan sang ibu itu pada anaknya, the best investment. Anak itu investasi terbaik.

Saat ini, saya diamanahi 3 anak. Anak saya yang kedua, #Fathima. Berkerudung, tapi alhamdulillah juara lari, jago ice skating, dan jago gymnastic. Disebut jago kalau dibandingin pemula sih.

Di rumah dia sangat kritis. Berani mengkritik papa, mama, dan oma-nya, hehehe. Demikian pula anak saya yang pertama, #Khadija. Saya percaya, anak-anak saya bisa tumbuh begitu cerdas karena didampingi sungguh-sungguh oleh ibunya, istri saya.

Teman-teman yang punya bisnis, terutama wanita, hendaknya paham prioritas bagi seorang wanita. Prioritasnya adalah anak, suami, dan rumahnya. Bukan bisnisnya. Bukan profit-nya.

Para pria (para suami) hendaknya lebih giat dalam mencari nafkah. Memang hukumnya begitu. Itu adalah tanggung-jawabmu. Sebisanya, jangan sampai membebani istrimu.
Uang, ada.
Ilmu, ada.
Relasi, ada.

Tapi kok nggak mulai-mulai usahanya?

Kenapa ya? Mungkin karena tidak punya keberanian.

Ketika memulai, kadang muncul rasa takut. Nyali sampai menciut, kening sampai berkerut. Tapi saran saya, tetaplah melangkah, jangan pernah surut. Selagi legal dan halal, tak perlu merasa takut.

Hei, ingat! Rasa takut harus ditaklukkan dengan sadar dan sengaja. Bukan untuk dimanja-manja. Sering kali apa-apa yang kita takutkan itu tak pernah terjadi. Right?

Dan sebenarnya, keberanian itu menular. Benar-benar menular. Maka, ada baiknya kita bergaul dengan orang-orang yang berani. Sedikit-banyak kita akan terpengaruh.

Modal nomor satu bagi pengusaha adalah keberanian. Sekali lagi, keberanian. Kalau melulu play safe, itu bukan pengusaha namanya. Uang mungkin kurang. Ilmu mungkin kurang. Tapi, kalau ada keberanian, sebuah bisnis bisa segera dimulai.

Pada akhirnya, beranilah.

Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/BnUz8GTAeoL/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1s95qdfg0tn2t
Malam ini, saya talkshow bareng Merry Riana di Sonora. Jam 7 malam insya Allah. Kalau teman-teman mau bertanya, silakan WA 0812-112-9200. Dua pertanyaan terbaik akan mendapat hadiah buku plus tanda tangan.
Orang kayah mah bebas. πŸ˜„

Saat rumah temanmu disita oleh bank, maka kau bisa membantu temanmu dengan membeli bank tersebut. Ini dilakukan oleh Batman di Justice League.

Saat keluargamu dilarang masuk ke sebuah hotel, maka kau bisa membantu keluargamu dengan membeli hotel tersebut. Ini terjadi di film Crazy Rich Asians.

Begitulah, orang kayah mah bebas. 😁

Gimana dengan dunia nyata? Kurang-lebih sama. Kita bisa menerapkannya pada hal-hal yang lebih bermanfaat. Bukan untuk keren-kerenan saja. Contohnya?

Membangun sekolah, membangun rumah sakit, membangun rumah ibadah, haji, menghajikan, umrah, mengumrahkan, sedekah, zakat, dan wakaf.

Jangan lagi kita menutup mata. Memang ada amal-amal yang meniscayakan #harta. Dan orang kaya berpotensi bisa melakukan ini dengan lebih baik. Setidaknya, dengan lebih banyak. Betul apa betul?

Maka, jangan tabu terhadap kekayaan. Biasa saja. Karena, boleh-boleh saja kekayaan didapatkan dalam jumlah berapapun. Asalkan jelas dari mana dan ke mana-nya.

"Berjuanglah dengan harta dan jiwa," demikian perintah-Nya. Perhatikan, kata 'harta' diletakkan di depan. Begitulah keutamaan harta dan kekayaan. Primer, bukan sekunder.

Menjadi orang kaya yang soleh, semoga kita semua dimampukan. Aamiin. Simak kelanjutannya >>

https://www.instagram.com/p/Bni3TOZARuf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=unk1dqtce7xa
Indonesia ini sangat kaya. Benar-benar kaya. Bayangkan, kekayaannya sudah dijarah sedemikian rupa oleh penjajah dan koruptor, puluhan tahun, ratusan tahun, tetap saja negeri ini masih gagah berdiri. Amazing!

Lantas, apa yang membuat Indonesia ini sulit majunya? Ada dua hal, menurut saya. Pertama, korupsi. Kedua, ketidakselarasan. Begini. Keselarasan pikiran itu penting. Jangan dianggap enteng.

1% saja orang di kota Anda berpikir secara kolektif (selaras) dan fokus, ternyata bisa menurunkan angka kriminalitas dan meningkatkan angka keteraturan (harmoni) di kota Anda.

Hebat ya? Sangat hebat. Ini namanya Maharishi Effect.

Bayangkan kalau seluruh rakyat Indonesia berpikir bahwa Indonesia itu maju. Benar-benar maju. Setidaknya, bakal maju atau segera maju. Saya yakin, siapapun presidennya, Indonesia bakal maju sungguhan.

Begitulah, keselarasan pikiran itu penting.

Satu contoh kecil. Walau tidak satu kantor, walau tidak satu ruangan, mereka yang sevisi (selaras) bisa bekerjasama. Ya, orang-orang hebat perlu dikumpulkan. Tapi yang lebih perlu adalah orang-orang sevisi (selaras).

Saya tahu, menemukan orang-orang yang sefrekuensi memang tidak mudah. Tapi kalau ini berhasil, maka kita akan menuai hasil yang menakjubkan dan mengejutkan. Anda boleh pegang kata-kata saya.

Keselarasan, mari jadikan ini sebagai kriteria utama dalam memajukan perusahaan juga memajukan negara. Bakalan hebat, insya Allah. Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.



(Note: 18-24 Oktober 2018 insya Allah saya dan istri saya berada di Inggris. Bagi komunitas yang ingin memanfaatkan keberadaan saya di sana, silakan WA ke 0812-704-9090. Insya Allah saya siap berbagi ilmu)
Inflasi di Indonesia sekitar 10% setiap tahunnya. Walaupun Bank Indonesia melaporkan angka lebih kecil daripada itu, tapi nyatanya kenaikan harga barang sering lebih besar daripada itu.

Harga properti naik 15% - 20% setiap tahunnya.

Belum lagi kebutuhan yang meningkat. Anak bertambah. Mereka masuk SD, masuk SMP, masuk SMU. Dan biasanya, biaya pendidikan naik 2x lipat setiap 6 tahunnya, atau lebih cepat. Suka atau tidak suka, faktanya yah begitu.

Hei, kita belum bahas biaya haji dan umrah ya. Kita sama-sama tahu dollar gimana.

Gaji? Jarang-jarang naik setiap tahunnya. Kalaupun naik, di bawah 10%. Kecuali bagi segelintir karyawan yang berprestasi, naiknya bisa di atas 10%. Hm, kebayang kalau kita nggak mempersiapkan diri?

Izinkan saya menawarkan sebuah solusi konkrit. Boleh?

Ini semacam 'kampus bisnis'. Ya, dalam tanda petik. Bedanya, di sini semua serba real. Bisnisnya real. Pengajarnya real. Ilmunya real. Profit-nya real. Benefit-nya real. Hei, kurang apa lagi?

Insya Allah, dengan wasilah 'kampus bisnis' ini, kita bisa mengatasi masalah-masalah inflasi tadi, termasuk kenaikan-kenaikan harga tersebut. Sudah adakah buktinya? Banyak, alhamdulillah.

Di sini, fokusnya bukan lagi 'gelar kesarjanaan' tapi 'gelar barang dagangan'. πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

Saya mau tanya, enakan mana:
- IPK 3,7 satu semester atau
- income Rp3,7juta satu hari?

Ingat. Zaman sekarang yang dicari bukan lagi IPK akademis. Tapi IPK realistis.

Apa itu? Indeks Pendapatan Kumulatif. 😁😁😁

Nah, anggap saja di sini kita lagi ngambil S2 atau master. Tapi targetnya bukan ijazah, bukan kelulusan. Melainkan mapan finansial. Dan saya yakin, inilah jenis kelulusan yang kita inginkan, insya Allah. Aamiin.

Masih ingat zaman kuliah dulu? Kita kalau kuliah, pasti maunya wisuda. Di sini wisudanya rada beda. Bukan wisuda, tapi wis-sudah.

Kalau orang tanya:
Sudah umrah? Wis, sudah.
Punya rumah? Wis, sudah.
Punya mobil? Wis, sudah.
Timnya juga punya? Wis, sudah.

Kan keren?πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Wisuda beneran. Keren beneran. 🀣

Terus, apa solusi konkrit yang tawarkan? Sabar ya. Senin kita bahas detailnya. Kalaupun ada SMS atau WA masuk hari ini, mohon maaf, Senin baru bisa kami jawab. Sekali lagi, Senin. Siap-siap ya!
Teman-teman kenal Sunan Gresik? Maulana Malik Ibrahim adalah nama lainnya.

Saya pengagum sosok yang satu ini. Sering saya ulas di buku dan seminar. Beliau keturunan Rasulullah, melalui jalur Husain. Jago dagang, jago pengobatan, jago irigasi, dan tentunya jago komunikasi. Masya Allah.

Kalau membahas #WaliSongo, maka beliau-lah yang pertama-tama dibahas karena memang beliau-lah sosok sentralnya.

Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat adalah keturunan-keturunannya. Semoga Allah menambah kemuliaan pada beliau, keturunan beliau, dan murid-murid beliau. Aamiin.

Semasa hidup, beliau dikenal sebagai pedagang yang santun dan ramah. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik dengan Islam. Ia berdagang di pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.

Perdagangan membuatnya berinteraksi dengan masyarakat luas. Networking. Selain itu, raja dan para bangsawan pun turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal, atau pemilik modal.

Rupa-rupanya beliau mengikuti keteladanan Nabi Muhammad yang memang terkenal sebagai pedagang. Bukan satu tahun dua tahun, melainkan 25 tahun. Istri Nabi dan kebanyakan sahabat Nabi juga pedagang.

Yang kita sayangkan, dengan sedemikian banyak contoh perdagangan, mulai dari Nabi sampai wali-wali, umat Muslim saat ini malah jauh dari dunia perdagangan. Tentu saja, modal yang mereka jadikan alasan dan kambing hitam. Padahal kesungguhan yang belum ada.

Introspeksi.

Pada akhirnya, simak ini >> https://www.instagram.com/p/BoDwSaAgTwJ/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=ll1kv03zrnkv
Ada empat fungsi (department) dalam sebuah bisnis, menurut Robert Kiyosaki. Apa saja? Sebentar lagi kita bahas.

Sejauh ini, masih ada yang bingung mau bisnis apa. Saran saya, nggak harus produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.

Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu 'menjual' dan 'menjualkan'. Bukan mustahil beliau seorang reseller atau sejenisnya.

Setidaknya, ada empat fungsi dalam bisnis. Produksi, keuangan, SDM, dan marketing. Sebagai pemula, Anda tidak harus menguasai semuanya. Cukup salah satunya saja. Misal, marketing.

Sejauh ini, banyak sekali yang japri ke ponsel saya, bertanya soal bisnis, "Apa saja ciri bisnis yang bagus?" Saya bilang, perhatikan baik-baik margin-nya dan repeat order-nya. Pastikan kedua-duanya oke. Ya, keberlangsungan sebuah bisnis sangat ditentukan oleh margin dan repeat order.

Satu lagi. Ada mentor-nya. Pastikan teruji kejujurannya, pastikan teruji kemampuannya. Dalam learning, mentor itu peredam risiko. Penting sekali. Kalau coba-coba sendiri, yah bisa juga. Tapi lebih lama dan lebih berisiko.

Terus, ada juga yang nanya, apa saya bisa jadi #MitraMasIppho ? Saya jawab, yah bisa. Yang mau bermitra dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100. Anda cukup menyiapkan sedikit modal dan mulai memasarkan (marketing).

Kerumitan-kerumitan yang lain (produksi, keuangan, dan SDM), biar saya yang handle. Kesempatan bermitra ini terbuka sampai 2 Oktober. Tapi bagi mereka yang take action lebih awal, sampai 28 September, saya kasih bonus-bonus.

Pada akhirnya, saya berharap teman-teman semua bisa sukses besar jadi pengusaha, entah bermitra dengan saya atau tidak. Sekali lagi, sukses besar. Aamiin. Saling mendoakan ya. Semoga berkah berlimpah.