Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Bisakah takdir dipercepat?

Soal takdir, pesan saya, "Sabar dan tenanglah dalam menyikapi takdir. Segala sesuatu ada waktunya." Saya ulang, segala sesuatu ada waktunya.

Inilah pesan saya selanjutnya:
- Takdirmu selalu ontime.
- Datangnya tak pernah lebih cepat.
- Datangnya tak pernah lebih lambat.

Obama pensiun jadi presiden di usia 50-an.
Trump mulai jadi presiden di usia 70-an.

Jokowi jadi presiden di usia 50-an.
JK 'hanya' jadi wapres di usia 70-an.

Nggak ada yang salah tho?

Steve Jobs menjadi salah satu ikon dalam bisnis dan inovasi. Tapi umurnya cuma 50-an.

Pablo Escobar, kok bisa-bisanya jadi salah satu orang terkaya di dunia menurut Forbes, padahal dia cuma gembong narkoba. Ya, tapi umurnya cuma 40-an.

Masing-masing ada waktunya.

Sekali lagi, masing-masing punya takdirnya sendiri, punya waktunya sendiri. Karena tulisan ini sangat penting, baiknya di-share kepada teman-teman Anda.

Yakinlah:
- Mereka yang lebih sukses, bukan berarti mereka 'lebih awal' darimu.
- Mereka yang belum sukses, bukan berarti mereka 'lebih telat' darimu.

Silakan belajar dari orang muda yang sukses. Belajar itu harus tho? Namun setelah kita mempelajari dan mengikuti, kita mesti paham sepaham-pahamnya bahwa setiap orang punya takdirnya sendiri dan punya waktunya sendiri.

Memaksakan diri kita seperti takdir orang lain adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan sangat meresahkan. Bahkan bisa menjurus pada kufur nikmat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya.
S + R = O

Situation + Reaction = Outcome

Ternyata yang lebih menentukan hasil (outcome) itu adalah reaksi, bukan situasi. Sekali lagi. Reaksi, bukan situasi. Nah, kali ini kita akan membahas soal sikap, dengan penekanan pada sikap Victim atau Victor. Apa maksudnya?

Begini. Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Bahkan menyalahkan takdir. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.

Namun sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.

Ini saya sampaikan kemarin di pelatihan dua hari untuk Mahkamah Agung di Alana, Sentul.

Perlu contoh?

"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang memperoleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah reaksi dan sikap sang pemenang.

Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun reaksi dan respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!

Sekali lagi, bertanggung-jawablah atas keputusan yang telah kita ambil. Investasi, bisa rugi. Bisnis, bisa rugi. Karier, bisa mentok. Tugas, bisa gagal. Kalau memang terjadi, berhentilah menyalah-nyalahkan orang lain. Dewasalah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Orang muda sarat dengan idealisme, impian, bahkan ambisi.

Muda, maksudnya siapa saja sih? Definisi muda versi PBB adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun, muda versi ASEAN 15-35 tahun, dan muda versi Indonesia 16-30 tahun.

Kalau HIPMI? Selagi Anda masih berusia 30-an, Anda akan disebut muda.

Semisal Anda berusia 40-an, tapi selalu berinteraksi dengan orang-orang yang berusia 50-an atau 60-an, maka Anda akan disebut muda oleh mereka, hehehe.

Tapi bukan itu intinya.

Di artikel ini, kita kembali ke idealisme dan impian. Begini. Idealisme boleh tinggi. Impian boleh besar. Tapi mencapainya bertahap. Ya, bertahap. Jangan ngawang-ngawang terus, membumilah.

Bercita-cita punya restoran sendiri? Silakan. Tapi sekiranya belum bisa, yah buka warung dulu. Atau buka stand dulu. Atau titip jual makanan di rumah makan orang lain. Atau menawarkan makanan melalui socmed.

Bercita-cita bangun perumahan alias jadi developer? Silakan. Tapi sekiranya belum bisa, yah jual kavling dulu. Atau jadi broker dulu. Atau menawarkan properti melalui socmed. Masih bisa tho?

Begitulah kurang-lebih. Bertahap dan lakukan dulu apa yang bisa. Sebuah kebaikan, kalau belum bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya. Lakukan dulu apa yang bisa.

Praktek ya. Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ingin lebih produktif?

Pertama, datanglah lebih awal. Terutama bagi Anda tinggal di kota besar. Selain menghindari kemacetan lalu lintas, datang lebih awal juga membuat mood lebih baik. Ya, lebih baik.

Kedua, susunlah daftar kerja pada malam sebelumnya. Biasakan sebelum tidur, menyusun daftar tugas yang akan dikerjakan esok hari sekaligus menentukan mana yang menjadi fokus dan prioritas.

Dua hal ini sempat saya sampaikan saat dipercaya oleh Mahkamah Agung untuk membawakan training selama 2 hari pekan lalu di Alana, Sentul.

Ketiga, menjadi penyemangat. Ini menurut Rob Cross dan Andrew Parker, penulis buku 'The Hidden Power of Social Network: Understanding How Work Really Get Done in Organizations'.

Orang yang selalu menyemangati orang lain akan bertambah-tambah semangatnya. Menariknya, orang yang menyemangati ini akan memiliki kinerja yang lebih tinggi daripada yang lainnya.

Menjadi penyemangat bukan sekadar menghibur atau berkarisma. Lebih dari itu, penyemangat juga bisa membawa diri sepenuhnya dalam interaksi demi interaksi.

Pada akhirnya, selamat beraktivitas! Semoga berkah berlimpah! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Segala sesuatu tergantung pada tujuannya, pada niatnya.

Impian itu tujuan. Oleh karenanya, harus benar, harus besar, harus kuat, harus yakin. Keyakinan itu mutlak diperlukan. Yang lazim terjadi, keyakinan (di awal) tidak bisa dihilangkan oleh keraguan (kemudian).

Kita sama-sama tahu, dalam mencapai impian, pasti ada tantangan. Itu wajar. Segala macam tantangan, anggap saja itu konsekuensi. Rela akan sesuatu (tercapainya impian), berarti rela dengan konsekuensinya. Jangan mau enaknya saja.

Percayalah, kesulitan akan menarik kemudahan. Tak selamanya sulit. Tak selamanya susah.

Lakukan saja sebisanya. Saya kasih contoh ya.

Misalnya Anda bercita-cita punya butik sendiri. Silakan saja. Tapi sekiranya belum bisa, yah sewa toko dulu. Atau sewa stand dulu. Atau titip jual busana di butik orang lain. Atau menawarkan busana melalui socmed.

Misalnya Anda bercita-cita punya panti asuhan sendiri. Silakan saja. Tapi sekiranya belum bisa, yah ambil anak asuh dulu. Atau jadi donatur dulu. Nggak bisa juga? Beri santunan sekali setahun, mungkin di Ramadhan, mungkin di Muharram.

Demikianlah. Jika tidak mampu mengerjakan seluruhnya, maka jangan ditinggalkan seluruhnya. Lakukan saja sebisanya. Yang menarik, sembari kita melakukan, Allah bisa menurunkan keajaiban. Karenanya, sekali lagi, lakukan saja sebisanya.

Dalam bisnis yah begitu, dalam amal juga begitu. “Sesuatu yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian,” ucap Nabi Muhammad (HR Bukhari Muslim).

Berbagai kaidah ushul fiqih, saya hadirkan di artikel pendek dan sederhana ini. Semoga bermanfaat dan membawa perubahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang saya sarankan adalah tidur awal dan bangun awal. Banyak alasannya.

Ternyata tidur larut dan bangun siang dapat membuat daya ingat menurun. Kenapa? Karena keseringan begadang dapat membuat kinerja otak 3-5 tahun lebih tua dari usia fisik.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Chronobiology International menemukan bahwa orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang yang suka begadang atau 'night owl' lebih rentan terhadap beberapa masalah kesehatan.

Macam-macam masalahnya termasuk diabetes, gangguan neurologis, penyakit psikologis, dan risiko kematian yang lebih tinggi daripada mereka yang teridentifikasi sebagai orang yang suka bangun pagi.

Dalam penelitian di Inggris, lebih dari 10.000 dari 433.268 peserta meninggal. Ya, meninggal. Para peneliti menemukan bahwa mereka yang teridentifikasi sebagai 'tipe malam' lebih mungkin meninggal 10 persen ketimbang mereka yang mencintai bangun pagi (tipe pagi).

Satu lagi, mereka yang suka begadang juga lebih mungkin memiliki gangguan pencernaan dan gangguan pernapasan. Cukupkah sampai di situ? Tidak juga.

Penelitian para dokter di National Taiwan Hospital menemukan bahwa tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang merupakan penyebab utama kerusakan hati.

Apa yang dianjurkan oleh agama? Nabi Muhammad tidak pernah tidur sebelum waktu isya’ dan tidak pernah begadang setelahnya (HR Ahmad, shahih).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan dalam Zadul Ma’ad, “Termasuk kebiasaan beliau adalah tidur di awal malam dan bangun di bagian akhirnya. Terkadang beliau begadang di awal malam untuk mengurusi berbagai kepentingan orang-orang miskin.”

Begitulah. Berkali-kali saya sarankan, tidurlah awal dan bangunlah awal. Sangat menyehatkan, insya Allah.
Pernah tidur siang?

Menurut penelitian Dr Brigite Steger, Dosen Senior di Modern Japanese Studies, University of Cambridge, sebenarnya kebiasaan tidur siang (inemuri) sudah berlangsung sejak lama di Jepang. Bahkan sejak era samurai.

Bagaimana dengan di Amerika Serikat? Perusahaan Casper di New York bahkan membangun tiga kamar mungil. Selain itu, perusahaan seperti Google, Time Warner, dan Ben & Jerry’s menyediakan “kapsul tidur” untuk karyawan yang kurang tidur.

Soalnya pentingnya tidur siang disampaikan oleh Prof Richard Horner, Dr Brian Murray, dan Dr Charles Morindi dari Kanada. Sangat menyehatkan.

Menurut Dr Michael Breus dari Valley Sleep Center di Arizona, perusahaan wajib memastikan karyawannya cukup tidur. Dr Jennifer Turgiss, co-authored dari Virgin Pulse Institute (Virgin Group) juga menyerukan hal senada.

Tapi, janganlah tidur siang lama-lama. Penelitian dari Leiden University, Belanda, menemukan, mereka yang tidur siang lebih dari satu jam sehari, berpotensi untuk mengalami gangguan metabolisme.

Selama bertahun-tahun, saya pun rutin tidur siang dengan durasi 15-20 menit. Kenapa? Yang saya pelajari, Nabi Muhammad juga melakukan ini. Namanya qailulah. Sangat menyehatkan. Sekarang, tak sedikit perusahaan di negara-negara maju menerapkan hal yang sama.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda sudah menikah? Jika sudah, sering-seringlah memeluk pasangan Anda juga anak-anak Anda.

Penelitian yang dihelat oleh Touch Research Institute di University of Miami mengungkapkan bahwa sentuhan dan pelukan memiliki efek positif yang besar terhadap kesehatan tubuh.

Seperti dilansir MindBodyGreen, Januari 2015, setiap orang membutuhkan pelukan setidaknya delapan kali dalam sehari. Ya, delapan kali dalam sehari. Kalau sudah rutin dan banyak seperti ini, dampaknya lebih daripada meditasi.

Menurut MD Junction, pelukan dapat membangun rasa percaya dan rasa aman.

Setiap pelukan akan merangsang hormon oksitosin dan serotonin, yang mana ini dampaknya menyehatkan dan membahagiakan. Selain itu, hadir pula keterikatan emosional dan spiritual dengan pasangan, empati dan komunikasi dengan pasangan, relaksasi pikiran dan keseimbangan pikiran.

Menurut Isabel Leming dari Klinik Smart TMS, pelukan dapat menekan rasa sepi, menekan risiko sakit jantung, dan membangkitkan mood.

Dikutip dari TheHealthSite.com, pelukan bisa membakar 12 kalori, memperlancar sirkulasi darah, memperkuat sistem kekebalan tubuh (mengaktifkan Solar Plexus Chakra), meningkatkan daya ingat, dan menurunkan tekanan darah.

Menurut penelitian di University of Kansas AS, pelukan erat selama 10-20 detik bisa memperlancar sirkulasi darah dan oksigen. Ya, pelukan adalah sebuah terapi yang ampuh untuk menyembuhkan beraneka penyakit dan masalah, termasuk susah tidur. 

Dora asal Chippy yang berusia 102 tahun pernah menyampaikan rahasia panjang umurnya, "Aku selalu menghindari perasaan cemas. Dalam sehari, aku akan memeluk orang tercinta agar aku merasa aman dan nyaman. Inilah yang membuatku panjang umur. Dan ini sebenarnya tidak sulit. Semua orang bisa melakukannya."

Dari Aisyah kita pun tahu bahwa Nabi biasanya menemui istrinya, lalu mendekatinya, menciumnya, dan membelainya tanpa hubungan badan (HR. Daruquthni 3781).

Pada akhirnya, sering-seringlah memeluk pasangan Anda juga anak-anak Anda. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pamer kemesraan dan pamer kekayaan, dari segi apapun, jelas-jelas tidak baik.

Menurut dosen senior di University of Technology Sydney, Hillbun Ho, postingan yang berorientasi pada konsumerisme bisa merusak kesehatan finansial bahkan hingga kesehatan mental. Bukan saja buat dirinya, tapi juga orang lain.

Bagaimana dengan pamer kemesraan? Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Telematics and Informatics, hubungan percintaan bisa terkena dampak buruk dari selfie dan pamer. Apa itu? Menambah kecemasan dan mengurangi kebahagiaan.

Seksolog Nikki Goldstein menyampaikan, pasangan yang berlebihan berbagi foto bahagia itu sebenarnya mengompensasi rasa tak aman atau retakan dalam hubungan mereka. Lantas mereka mencari penghiburan dari teman-teman dan follower di media sosial.

"Acapkali mereka yang paling sering mengunggah, mencari validasi hubungan mereka dari orang lain di media sosial," ungkap Seksolog Nikki Goldstein blak-blakan.

Bolehkah posting sesuatu dengan niat ingin menginspirasi? Bagi saya, boleh. Tapi soal pamer atau tidak, hanya kita yang tahu. Right? Akan sangat baik kalau kita menjaga niat dan menjauhkan diri dari keinginan untuk pamer.

Gemar pamer pada ujungnya akan memicu penyakit hati dan penyakit fisik. Ini yang bahaya. Hati-hati.
Entah berapa kali orang-orang bertanya ke saya soal memulai usaha. Baiklah, saya bagikan tips-tipsnya.

Pertama, mengenal customer. Saat menentukan jenis usaha yang akan dijalankan, coba pikirkan baik-baik jenis customer yang kita inginkan. Ini penting. Kenapa? Karena hal ini akan berpengaruh terhadap persepsi dan manfaat yang akan kita hadirkan pada produk.

Maka, coba pikirkan siapakah target pasar kita? Berapa usia mereka? Berapa pendapatan mereka? Apa yang mereka butuhkan? Apa yang mereka inginkan? Bagaimana mereka berperilaku? Seperti apa ciri-ciri mereka? Jenis message seperti apa yang bisa mereka terima?

Kedua, mengenal competitor. Mempelajari competitor bukan berarti kita menyontek mentah-mentah cara mereka. Bukan begitu. Melainkan mencontoh best practice dari mereka serta mengetahui kelemahan-kelemahan mereka.

Setelah itu, hal-hal yang positif dan relevan, kita terapkan pada bisnis kita. Tentu, dengan penyesuaian-penyesuaian. Selain itu, kita juga perlu mempelajari keunikan produk mereka, baik dari segi persepsi maupun dari segi manfaat.

Ketiga, menentukan keunikan brand kita. Berusahalah membangun brand yang unik dan menonjol dari bisnis-bisnis lainnya. Coba cari tahu apa yang membuat bisnis kita berbeda dan lebih unggul ketimbang competitor lainnya.

Saran, sekiranya tidak kuat dari segi modal, jangan pernah bersaing habis-habisan dari segi harga. Lebih baik, tetaplah menjual barang yang berkualitas, lalu temukan keunikan dan keunggulan tersendiri. Ingat, perang harga hanya menguntungkan mereka yang bermodal kuat.

Sekian, semoga bermanfaat.
Saya senang sekali saat bisa membantu klien mencapai targetnya. Puas rasanya. Apalagi kalau ternyata klien itu BUMN. Hitung-hitung, bantu negara. Walaupun hanya melalui training.

Setiap kita hendaknya berpikir besar. Namanya manusia tak cukup memikirkan perut dan dapurnya sendiri. Sekali lagi, harusnya berpikir besar. Bantu sesama. Bantu negara. Dengan apa saja, termasuk dengan uang. Niatkan seperti itu.

Mustahil? Muluk-muluk? Ketinggian. Nggak juga. Kalau kita serius, akan ada jalannya. Dimampukan insya Allah. Walaupun sedikit. Teman-teman mesti yakin. Baiklah, saya kasih contoh biar yakin.

Rakyat Korea Selatan pada tahun 1998 ternyata pernah urunan emas demi membantu pembayaran utang negara. Rakyat Malaysia juga sama, pada tahun 2018 urunan uang demi membantu pembayaran utang negara, walaupun belum seberhasil Korsel.

Bagaimana dengan membantu negara lain? Mungkin saja. Bill Gates sempat ikut melunasi utang Nigeria ke Jepang sebesar Rp 950 Miliar (Kompas, Januari 2018). Rakyat Uni Eropa sempat urunan demi membantu pembayaran utang Yunani (CNN, 2015), walaupun belum seberhasil Bill Gates.

Dan jangan salah. Dulu, kita pun pernah melakukannya. Perlu contoh? Bongkahan emas seberat 38 kilogram di puncak Monas adalah sumbangan dari pengusaha Aceh, Teuku Markam.

Tempat proklamasi kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur merupakan wakaf pengusaha keturunan Yaman yang tinggal di Indonesia, Faradj bin Said Awad Martak .

Tak cukup sampai di situ. Sultan Hamengku Buwono IX pun turut menyumbangkan 6,5 juta Gulden pada pemerintah saat itu.

Kuncinya, pemerintah bisa dipercaya. Saya ulang, pemerintah bisa dipercaya. Sehingga rakyat tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan uang, emas, dan apa saja miliknya untuk negara.

Belum lagi adanya hartawan yang dermawan. Bisa dipastikan, bantuan si hartawan ini akan signifikan jumlahnya dan menggerakkan tokoh-tokoh yang lain. Anda bisa membayangkan? Saya bisa.

Jadi, membantu negara dalam bentuk uang bukanlah sebuah perkara yang mustahil dan muluk-muluk. Sudah banyak contohnya. Kita doakan ya agar masa-masa seperti itu segera terjadi. Bisa insya Allah. Aamiin.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Uang, penting.

Ilmu di balik uang jauh lebih penting.

Bayangkan, apa jadinya bila orang miskin tiba-tiba memenangkan lotre dalam jumlah yang besar? Kebayang?

Penelitian para ekonom dari University of Kentucky, University of Pittsburgh, dan Vanderbilt University membuktikan, dalam lima tahun, para pemenang lotre jadi bangkrut. Miskin lagi.

Inilah akibat dari surplus uang tapi minus ilmu.

Ingat, uang bisa datang dan pergi. Tapi dengan ilmu, kita bisa mendatangkan uang, lagi dan lagi.
Bayangkan, apa jadinya bila orang miskin tiba-tiba memenangkan lotre dalam jumlah yang besar? Penelitian dari University of Kentucky, University of Pittsburgh, dan Vanderbilt University membuktikan, dalam lima tahun, para pemenang lotre jadi bangkrut. Miskin lagi.

Perlu contoh? Pada 2003, nama Callie Rogers tiba-tiba menjadi perbincangan di Inggris. Di usia 16, ia memenangkan lotre bernilai 1,8 juta poundsterling atau Rp 35 miliar! Callie Rogers pun menyandang status pemenang lotre termuda di Inggris.

Bergelimangan harta, Callie Rogers menjalani hidup dengan berfoya-foya. Tak lama setelah mendapat hadiah lotere, Callie Rogers tak mau meneruskan sekolah dan bekerja. Sebelum memenangkan lotre tersebut, Callie Rogers bekerja sebagai penjaga toko.

Dia lebih banyak menghabiskan uang untuk baju, pesta, narkoba, operasi plastik, liburan dan hadiah. Dan kini, ibu tiga anak itu harus bersusah payah sebagai perawat demi menyambung hidup karena hartanya sudah habis. Penyesalan selalu datang di akhir ketika Callie Rogers merasa tak sanggup memberikan perawatan yang layak bagi buah hatinya, terutama Blake yang mengidap cerebral palsy. 

Inilah akibat dari surplus uang tapi minus ilmu. Tak mampu mengelola uang. Ingat, uang bisa datang dan pergi. Tapi dengan ilmu, kita bisa mendatangkan uang, lagi dan lagi. Uang, penting. Ilmu di balik uang jauh lebih penting. Teman-teman setuju? Tulisan ini boleh di-share.
Soal godaan nih.

Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi PRIA? Itulah wanita.

Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi WANITA? Itulah online shop. Hehehe.

Shopping. Belanja-belanja. Beli-beli. Milih-milih. Wanita mana yang nggak suka? Ayo ngaku! Anehnya, barang yang terlihat biasa-biasa saja oleh pria, eh bisa terlihat lucu dan unyu oleh wanita. Begitulah wanita. Hehehe.

Kadang, pekerjaan ibu rumahtangga itu melelahkan dan menjemukan. Kan seringnya di rumah. Betul apa betul? Jadi, sekiranya istri sesekali shopping, yah izinkan saja. Toh yang dia shopping itu untuk keluarga dan rumahtangga. Bukan untuk siapa-siapa.

Apabila selama ini suami SUDAH BENAR dalam mengarahkan dan mendidik istri, pastilah yang di-shopping istri itu barang-barang yang bermanfaat untuk keluarga dan rumahtangga. Nggak sia-sia.

Pesan untuk suami. Daripada berdebat nyuruh-nyuruh istri berhenti shopping, lebih baik shopping-nya diarahkan dan diatur. So, everybody wins. Apalagi Anda tahu persis, nggak bakal menang berdebat melawan wanita, hehehe.

Hal ini tentu mesti dilihat secara berimbang, nggak timpang. Di mana istri pun harus tahu berapa kemampuan dan kesukaan suami. Jangan memaksakan diri. Jangan mau enaknya sendiri. Sip?

Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.

Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.

Yang belum dikaruniai jodoh, saya turut mendoakan. Semoga segera ya. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kesehatan adalah investasi yang sangat mahal dan bersifat jangka panjang. Kalau kita memilih menu sehat hari ini, mungkin dampaknya tidak langsung terasa pada keesokan harinya. Ya, perlu waktu bertahun-tahun untuk mengetahui dampaknya.

Ingat. Karier, penting. Bisnis, penting. Target, penting. Kesehatan? Jauuuh lebih penting. Pastilah teman-teman setuju dengan statement ini. Saking berharganya, kesehatan tak bisa diukur dengan rupiah. Priceless.

Di sekitar kita ada tiga masalah kesehatan yang sangat mencolok. Apa itu? Kolestrol, diabetes, dan asam urat. Mungkin terkesan remeh, tapi jangan salah, ketiga penyakit sangat mengganggu produktivitas. Tidak jarang, orang-orang muda juga mengalaminya.

Apa saran saya untuk teman-teman yang menderita asam urat? Perbanyak jeruk, ceri, stoberi, apel, delima, seledri, dan teh hijau. Terus, hindari nangka, nanas, durian, rambutan, dan anggur. Lebih baik lagi kalau merutinkan propolis yang berkualitas premium.

Lantas, olahraga apa yang tepat? Lakukan peregangan pada pergelangan tangan, naik-turun tangga, renang, sepeda, dan aerobik. Olahraga-olahraga ini insya Allah sangat membantu.

Sepengalaman saya, memelihara bisnis memerlukan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Demikian pula memelihara kesehatan, memerlukan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Tidak bisa mengandalkan satu-dua tindakan sesaat saja.

Semoga kita semua selalu sehat, berkah, dan berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rajin sedekah, apakah jaminan surga? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu.

Ada orang yang diberi keluasan rezeki oleh Allah, dikaruniai macam-macam harta. Lalu di akhirat, ia dibawa ke hadapan Allah dan Allah mengabarkan kenikmatan-kenikmatan itu kepadanya.

Allah pun bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan di dunia?” Orang yang disebut-sebut ahli sedekah itu menjawab, “Aku menginfakkan hartaku karena-Mu, ya Allah.”

Mendengar itu, Allah membalas, “Engkau berdusta. Sebenarnya engkau melakukan itu semua karena ingin dipuji sebagai dermawan." Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk membawanya. Orang itu pun diseret, masuk ke dalam neraka.

Hadis Abu Hurairah ini diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasai. Sahih insya Allah. Begitulah, ada tiga kelompok orang yang pertama kali akan diadili di akhirat kelak dan ternyata masuk neraka, salah satunya adalah ahli sedekah yang keliru niatnya.

Hati-hati. Niat tak bisa dianggap sepele. Amal kecil bisa terhitung besar, asalkan lurus niatnya. Amal besar bisa terhitung kecil bahkan sia-sia, karena melenceng niatnya. Pada akhirnya, mari kita jaga niat kita.
Tadi malam saya, keluarga saya, dan tim saya ditraktir oleh Mas Akhmad di Sabhu Hachi. Mentraktir, ini bentuk luas dari sedekah. Alhamdulillah, menyenangkan.

Sungguh, murah hati membuat hidup kita tidak murahan. Yang saya yakini, sedekah itu solusi. Bagi yang menerima, juga bagi yang memberi. Itu yang mestinya kita imani dan amini.

Memuliakan sesama, tak perlu diragukan lagi, ini adalah perbuatan mulia. Dan berkah tentunya. Di samping itu, menurut penelitian University of Antwerp di Belgia, berbagi makanan bisa membuat hati menjadi lebih lembut. Termasuk mentraktir makan.

Apalagi guru-guru dunia telah mengajarkan dan menganjurkan, kunci bahagia dalam hidup BUKANLAH mengakumulasi harta. Kuncinya ialah kontribusi dan distribusi, maka peganglah kunci ini baik-baik, jangan pernah lepas.

Menariknya lagi, menurut pengalaman saya, seseorang yang terbiasa dengan sedekah, maka saat menjadi karyawan di kantor:
-       ia tidak terlalu menuntut terhadap perusahaan
-       ia berani berkorban untuk rekan-rekannya dan perusahaan

Dan lihatlah kenyataan. Orang-orang hebat sepanjang sejarah adalah mereka yang ikhlas dan mau berkorban. Seperti pahlawan-pahlawan nasional. Boleh dibilang, mereka lebih banyak memberi daripada mengambil.

Sepanjang bulan Agustus ini, saya rutin menceritakan kisah pahlawan-pahlawan nasional kepada anak-anak saya, mulai Jenderal Sudirman, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, I Gusti Ngurah Rai, Mohammad Hatta, Pangeran Diponegoro dll.

Bukan sekedar berbagi, tapi juga berkorban. Semoga kita semua dimampukan. Aamiin.
Foto dari IPPHO & TIM KHALIFAH