Hari itu saya bertemu penulis novel Lupus, Hilman Hariwijaya. Sebelum dibukukan, cerpen-cerpen karyanya sempat populer di majalah remaja saat itu, tahun 80-an. Saya salah satu pembacanya. Begitulah. Sejak dulu, saya suka membaca. Sewaktu kecil dan remaja, saya sempat punya novel-novel karya Enid Blyton, selain karya Hilman Hariwijaya dan Bastian Tito.
Saat beranjak dewasa, mulailah saya membaca buku-buku pengembangan diri karya John Maxwell, Tony Robbins, Robert Kiyosaki dll. Al Ries juga termasuk. Kesukaan membaca ini akhirnya diteruskan dengan kesukaan menulis. Jadilah saya kolumnis di belasan koran di Indonesia. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dengan takdir ini.
Pelan-pelan, nama saya mulai dikenal publik.
Nggak cukup sampai di situ, lalu saya menulis buku-buku pengembangan diri yang alhamdulillah kemudian terjual di atas 1 juta eksemplar dan mengantarkan saya berseminar di 5 benua. Tapi, yang paling seru adalah ketika saya 'menulis' buku nikah dan buku tabungan, hehehe.
Saya dan Hilman Hariwijaya adalah jenis penulis yang dipopulerkan oleh media massa. Ya, media massa. Saya dengan koran, Hilman Hariwijaya dengan majalah. Zaman pun berubah. Belakangan ini, dominasi media massa mulai berkurang, seiring menguatnya dan meluasnya pengaruh socmed.
Kemarin saya bertemu #NissaSabyan. Kenal kan? Dia sangat terkenal di socmed dan YouTube. Ini pelajaran buat kita.
Di zaman serba socmed seperti saat ini, kita bisa memasarkan produk, jasa, dan ide tanpa media massa sama sekali. Dengan socmed dan YouTube, kita bisa menghadirkan channel dan halaman kita sendiri. Benar-benar mandiri. Anak-anak muda biasanya lebih paham soal ini dan mau coba-coba sendiri.
Kepada mitra-mitra di BP, saya sampaikan, "Ini bukan soal tua atau muda, tapi apakah kita mau belajar dan memperbaiki diri, atau malah mencari-cari dalih." Pada akhirnya, mari manfaatkan socmed untuk tujuan bisnis, komunikasi, dan pengembangan diri.
Jangan sekedar jadi penonton, jadilah pemain. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Saat beranjak dewasa, mulailah saya membaca buku-buku pengembangan diri karya John Maxwell, Tony Robbins, Robert Kiyosaki dll. Al Ries juga termasuk. Kesukaan membaca ini akhirnya diteruskan dengan kesukaan menulis. Jadilah saya kolumnis di belasan koran di Indonesia. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dengan takdir ini.
Pelan-pelan, nama saya mulai dikenal publik.
Nggak cukup sampai di situ, lalu saya menulis buku-buku pengembangan diri yang alhamdulillah kemudian terjual di atas 1 juta eksemplar dan mengantarkan saya berseminar di 5 benua. Tapi, yang paling seru adalah ketika saya 'menulis' buku nikah dan buku tabungan, hehehe.
Saya dan Hilman Hariwijaya adalah jenis penulis yang dipopulerkan oleh media massa. Ya, media massa. Saya dengan koran, Hilman Hariwijaya dengan majalah. Zaman pun berubah. Belakangan ini, dominasi media massa mulai berkurang, seiring menguatnya dan meluasnya pengaruh socmed.
Kemarin saya bertemu #NissaSabyan. Kenal kan? Dia sangat terkenal di socmed dan YouTube. Ini pelajaran buat kita.
Di zaman serba socmed seperti saat ini, kita bisa memasarkan produk, jasa, dan ide tanpa media massa sama sekali. Dengan socmed dan YouTube, kita bisa menghadirkan channel dan halaman kita sendiri. Benar-benar mandiri. Anak-anak muda biasanya lebih paham soal ini dan mau coba-coba sendiri.
Kepada mitra-mitra di BP, saya sampaikan, "Ini bukan soal tua atau muda, tapi apakah kita mau belajar dan memperbaiki diri, atau malah mencari-cari dalih." Pada akhirnya, mari manfaatkan socmed untuk tujuan bisnis, komunikasi, dan pengembangan diri.
Jangan sekedar jadi penonton, jadilah pemain. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.