📚📝🔍 KETEKUNAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU
#AdabAkhlak
✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,
"وللسلف الصالح قضايا مشهورة في المثابرة على طلب العلم حتى أنه يروى عن ابن عباس رضي الله عنه أنه سئل بما أدركت العلم ؟ قال : بلسان سؤل، وقلب عقول، وبدن غير مثول ، وعنه ـ أيضاً ـ رضي الله عنه ـ قال : « . . . إن كان ليبلغني الحديث عن الرجل فأتي بابه ـ وهو قائل ـ ، فأتوسد ردائي على بابه ، تسـفـر الريح علي من التراب ، فيخرج فـيـقـول : يا ابن عم رسول الله مـا جاء بك ؟ ألا أرسلت إلى فأتيك ؟ فأقول : أنا أحق أن أتيك ، فأسأله عن الحديث . . . » . فابن عباس ـ رضي الله عنه ـ تواضع للعلم فرفعه الله به.
"Salafus shalih memiliki kisah-kisah yang masyhur tentang ketekunan dalam mencari ilmu.
Sampai-sampai diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau ditanya: 'Dengan apa engkau peroleh ilmu?' Beliau menjawab: "Dengan lisan yang suka bertanya, dengan hati yang mau berpikir, dan dengan badan yang tidak malas."
Ibnu Abbas juga berkata:
"Pernah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang (Seorang sahabat Nabi). Aku pun mendatangi rumahnya, dan saat itu dia sedang istirahat siang. Maka aku hamparkan rida' (selendang)ku di depan pintu rumahnya, anginpun menerbangkan debu-debu menerpaku. Kemudian Shahabat itu keluar dan berkata: "Wahai anak paman Rasulullah ada hajat apa engkau datang? Kenapa tidak kau utus orang kepadaku sehingga aku bisa datang kepadamu Aku berkata: "Aku lebih berhak untuk mendatangimu" Maka aku tanyakan kepadanya tentang hadits itu."
Lihatlah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bersikap tawadhu' terhadap ilmu, maka Allah mengangkat derajatnya dengan sebab hal tersebut."
📙 [Kitabul Ilmi hlm. 61]
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#AdabAkhlak
✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,
"وللسلف الصالح قضايا مشهورة في المثابرة على طلب العلم حتى أنه يروى عن ابن عباس رضي الله عنه أنه سئل بما أدركت العلم ؟ قال : بلسان سؤل، وقلب عقول، وبدن غير مثول ، وعنه ـ أيضاً ـ رضي الله عنه ـ قال : « . . . إن كان ليبلغني الحديث عن الرجل فأتي بابه ـ وهو قائل ـ ، فأتوسد ردائي على بابه ، تسـفـر الريح علي من التراب ، فيخرج فـيـقـول : يا ابن عم رسول الله مـا جاء بك ؟ ألا أرسلت إلى فأتيك ؟ فأقول : أنا أحق أن أتيك ، فأسأله عن الحديث . . . » . فابن عباس ـ رضي الله عنه ـ تواضع للعلم فرفعه الله به.
"Salafus shalih memiliki kisah-kisah yang masyhur tentang ketekunan dalam mencari ilmu.
Sampai-sampai diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau ditanya: 'Dengan apa engkau peroleh ilmu?' Beliau menjawab: "Dengan lisan yang suka bertanya, dengan hati yang mau berpikir, dan dengan badan yang tidak malas."
Ibnu Abbas juga berkata:
"Pernah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang (Seorang sahabat Nabi). Aku pun mendatangi rumahnya, dan saat itu dia sedang istirahat siang. Maka aku hamparkan rida' (selendang)ku di depan pintu rumahnya, anginpun menerbangkan debu-debu menerpaku. Kemudian Shahabat itu keluar dan berkata: "Wahai anak paman Rasulullah ada hajat apa engkau datang? Kenapa tidak kau utus orang kepadaku sehingga aku bisa datang kepadamu Aku berkata: "Aku lebih berhak untuk mendatangimu" Maka aku tanyakan kepadanya tentang hadits itu."
Lihatlah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bersikap tawadhu' terhadap ilmu, maka Allah mengangkat derajatnya dengan sebab hal tersebut."
📙 [Kitabul Ilmi hlm. 61]
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍2💯1
📗🍓 HARUSKAH MENGQADHA KEWAJIBAN YANG DITINGGALKAN KARENA BODOH ATAU TIDAK TAHU?
#Fatwa
🪶 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
(Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa, Ketua Lembaga Ulama Senior Arab Saudi)
السؤال:
علي صلاة بسبب تسقيط جنين عمره سبعة أسابيع، لم أصل جهلا مني؛ لأنني اعتبرت أنه نفاس، وكيف القضاء وتركت الصلاة لمدة نصف شهر لا أدري أكثر أو أقل هل يجوز أن أصلي في منى صلاتين التي علي من قبل ثلاث سنوات والصلاة الواجبة؟
الجواب:
إذا كان الجنين قد بان فيه علامة الإنسان من يد أو رجل فهو نفاس، وإن كان ما بان فيه شيء إنما هو دم فقط، فالمرأة تصلي وتتحفظ بحفائظ وتتوضأ لكل صلاة وتصلي، وإن قضيت هذا احتياطا، وإلا إن شاء الله ليس عليك شيء لأنك تركتها لشبهة تظنين ليس عليك شيء، والنبي -صلى الله عليه وسلم- ما أمر المستحاضات اللواتي تركن الصلوات لشبهة ما أمرهن بالقضاء، ولم يأمر الأعرابي الذي ينقر الصلاة ما أمره أن يقضي الأيام الماضية لجهله، وإن قضيتها فلا بأس، ولكن لا يلزمك ذلك، لأنك جاهلة، وإن كان فيه علامة إنسان؛ لأنه في الطور الثالث قد يكون فيه يد أو رجل، في الأربعين الثالثة قد يبين فيه يد أو رجل أو رأس يكون نفاسا، لا تصلي ولا تصومي، والمقصود أنه ليس عليك قضاء؛ لأجل الشبهة، وإنما عليك التوبة والحرص في المستقبل.
📗 (مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ بن باز ج ٢٩ ص ١٣٠ - ١٣١)
Pertanyaan:
Saya memiliki tanggungan shalat karena keguguran ketika janin berumur 7 minggu. Saya pun tidak shalat disebabkan kejahilan saya. Karena waktu itu saya menganggap darah yang keluar (pasca keguguran) adalah darah nifas.
Maka bagaimanakah cara mengqadhanya? Sementara ketika itu saya telah meninggalkan shalat dalam rentang waktu setengah bulan, entah lebih atau kurang. Apakah diperkenankan bagi saya yang sedang di Mina untuk menunaikan shalat-shalat yang saya tinggalkan 3 tahun yang lalu, sedangkan shalat hukumnya adalah wajib?
🧾 Jawaban:
Apabila ketika itu janin (yang keguguran) telah tampak bentuk tubuh manusia berupa tangan atau kaki, maka (darah yang keluar) teranggap darah nifas.
➡️ Adapun jika janin tersebut belum tampak bentuk tubuh manusia sedikitpun, maka itu teranggap darah biasa saja. (Dalam kondisi demikian) seorang wanita tetap wajib mengerjakan shalat dan hendaknya dia memakai pembalut (untuk menahan darah tersebut) serta (disyariatkan) baginya untuk berwudhu pada setiap shalat.
Jika engkau mengqadha shalatmu dalam rangka berhati-hati (maka yang demikian boleh, pen), walaupun _insyaAllah_ sebenarnya tidak ada kewajiban bagimu untuk mengqadhanya, karena engkau meninggalkan shalat tersebut karena ada sebuah kerancuan dibenakmu, yaitu engkau mengira bahwa yang demikian tidak mengharuskan untuk shalat.
Terhadap para wanita (dari kalangan shahabat) yang mengalami istihadhah dan meninggalkan shalat karena sebuah kerancuan di benak mereka (yaitu karena mengira bahwa istihadhah mengharuskan tidak shalat, pen), maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun tidak memerintahkan mereka untuk mengqadha shalat.
Begitu juga seorang badui yang shalatnya seperti ayam yang mematuk (karena gerakan shalatnya yang begitu cepat, pen) beliau pun tidak memerintahkannya untuk mengqadha shalatnya di masa lampau karena kejahilannya.
Sehingga (sekali lagi) jika engkau ingin mengqadhanya maka yang demikian tidak mengapa, namun itu tidak wajib atasmu. Karena engkau tidak tahu.
Namun jika saat keguguran, janin tersebut sudah tampak bentuk manusia, karena sudah masuk pada fase ketiga (dari perkembangan janin dalam kandungan, pen) baik berupa bentuk tangan, kaki ataupun kepala. Sebagaimana diketahui, pada fase perkembangan janin di periode 40 hari yang ketiga mulai terbentuk wujud tangan, kaki atau kepala janin. Maka jika terjadi keguguran pada masa tersebut, darah yang keluar teranggap darah nifas. Jika kondisinya demikia, maka engkau tidak boleh shalat dan berpuasa.
#Fatwa
🪶 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
(Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa, Ketua Lembaga Ulama Senior Arab Saudi)
السؤال:
علي صلاة بسبب تسقيط جنين عمره سبعة أسابيع، لم أصل جهلا مني؛ لأنني اعتبرت أنه نفاس، وكيف القضاء وتركت الصلاة لمدة نصف شهر لا أدري أكثر أو أقل هل يجوز أن أصلي في منى صلاتين التي علي من قبل ثلاث سنوات والصلاة الواجبة؟
الجواب:
إذا كان الجنين قد بان فيه علامة الإنسان من يد أو رجل فهو نفاس، وإن كان ما بان فيه شيء إنما هو دم فقط، فالمرأة تصلي وتتحفظ بحفائظ وتتوضأ لكل صلاة وتصلي، وإن قضيت هذا احتياطا، وإلا إن شاء الله ليس عليك شيء لأنك تركتها لشبهة تظنين ليس عليك شيء، والنبي -صلى الله عليه وسلم- ما أمر المستحاضات اللواتي تركن الصلوات لشبهة ما أمرهن بالقضاء، ولم يأمر الأعرابي الذي ينقر الصلاة ما أمره أن يقضي الأيام الماضية لجهله، وإن قضيتها فلا بأس، ولكن لا يلزمك ذلك، لأنك جاهلة، وإن كان فيه علامة إنسان؛ لأنه في الطور الثالث قد يكون فيه يد أو رجل، في الأربعين الثالثة قد يبين فيه يد أو رجل أو رأس يكون نفاسا، لا تصلي ولا تصومي، والمقصود أنه ليس عليك قضاء؛ لأجل الشبهة، وإنما عليك التوبة والحرص في المستقبل.
📗 (مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ بن باز ج ٢٩ ص ١٣٠ - ١٣١)
Pertanyaan:
Saya memiliki tanggungan shalat karena keguguran ketika janin berumur 7 minggu. Saya pun tidak shalat disebabkan kejahilan saya. Karena waktu itu saya menganggap darah yang keluar (pasca keguguran) adalah darah nifas.
Maka bagaimanakah cara mengqadhanya? Sementara ketika itu saya telah meninggalkan shalat dalam rentang waktu setengah bulan, entah lebih atau kurang. Apakah diperkenankan bagi saya yang sedang di Mina untuk menunaikan shalat-shalat yang saya tinggalkan 3 tahun yang lalu, sedangkan shalat hukumnya adalah wajib?
🧾 Jawaban:
Apabila ketika itu janin (yang keguguran) telah tampak bentuk tubuh manusia berupa tangan atau kaki, maka (darah yang keluar) teranggap darah nifas.
➡️ Adapun jika janin tersebut belum tampak bentuk tubuh manusia sedikitpun, maka itu teranggap darah biasa saja. (Dalam kondisi demikian) seorang wanita tetap wajib mengerjakan shalat dan hendaknya dia memakai pembalut (untuk menahan darah tersebut) serta (disyariatkan) baginya untuk berwudhu pada setiap shalat.
Jika engkau mengqadha shalatmu dalam rangka berhati-hati (maka yang demikian boleh, pen), walaupun _insyaAllah_ sebenarnya tidak ada kewajiban bagimu untuk mengqadhanya, karena engkau meninggalkan shalat tersebut karena ada sebuah kerancuan dibenakmu, yaitu engkau mengira bahwa yang demikian tidak mengharuskan untuk shalat.
Terhadap para wanita (dari kalangan shahabat) yang mengalami istihadhah dan meninggalkan shalat karena sebuah kerancuan di benak mereka (yaitu karena mengira bahwa istihadhah mengharuskan tidak shalat, pen), maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun tidak memerintahkan mereka untuk mengqadha shalat.
Begitu juga seorang badui yang shalatnya seperti ayam yang mematuk (karena gerakan shalatnya yang begitu cepat, pen) beliau pun tidak memerintahkannya untuk mengqadha shalatnya di masa lampau karena kejahilannya.
Sehingga (sekali lagi) jika engkau ingin mengqadhanya maka yang demikian tidak mengapa, namun itu tidak wajib atasmu. Karena engkau tidak tahu.
Namun jika saat keguguran, janin tersebut sudah tampak bentuk manusia, karena sudah masuk pada fase ketiga (dari perkembangan janin dalam kandungan, pen) baik berupa bentuk tangan, kaki ataupun kepala. Sebagaimana diketahui, pada fase perkembangan janin di periode 40 hari yang ketiga mulai terbentuk wujud tangan, kaki atau kepala janin. Maka jika terjadi keguguran pada masa tersebut, darah yang keluar teranggap darah nifas. Jika kondisinya demikia, maka engkau tidak boleh shalat dan berpuasa.
👍1
✅ Maksud dari penjelasan ini semua, bahwa tidak ada kewajiban atasmu untuk mengqadha, karena adanya kerancuan padamu. Hanyalah yang diwajibkan atas engkau sekarang adalah bertaubat (atas kejahilan tersebut) dan bersungguh-sungguh untuk lebih memperhatikan hal-hal yang demikian dimasa mendatang.
📘 [Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 29/130-131]
📝 Catatan:
Ini juga pendapat yang dipegang oleh Syeikhul lslam lbnu Taimiyah (Lihat Majmu Fatawa 22/101-102) dan Asy-Syaikh lbnul Utsaimin (lihat Liqoaatil Bab al-Maftuh, kaset no 79)
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
📘 [Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 29/130-131]
📝 Catatan:
Ini juga pendapat yang dipegang oleh Syeikhul lslam lbnu Taimiyah (Lihat Majmu Fatawa 22/101-102) dan Asy-Syaikh lbnul Utsaimin (lihat Liqoaatil Bab al-Maftuh, kaset no 79)
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍1
🛑 HASAD/DENGKI
#AdabAkhlak
🎙Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
الحسد هو كراهة ما أنعم الله على العبد، وليس هو تمني زوال نعمة الله على الغير، بل هو مجرد أن يكره الإنسان ما أنعم الله به على غيره فهذا هو الحسد سواء تمنى زواله أو أن يبقى ولكنه كاره له.
كما حقق ذلك شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله فقال: ((الحسد كراهة الإنسان ما أنعم الله به على غيره ))
▪️“Hasad adalah benci / tidak senang terhadap apa yang telah Allah karuniakan kepada seorang hamba. Hasad bukan menginginkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain, bahkan sebatas seorang tidak suka atau benci terhadap apa yang telah Allah berikan terhadap orang lain maka inilah hasad sama saja apakah ia menginginkan hilangnya atau tidak, tetapi ia tidak suka nikmat itu diberikan pada orang lain.
📍Sebagaimana telah ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: beliau katakan, “Hasad adalah seorang tidak suka / benci terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain.”
📚 [Kitab aI-Ilmi hlm. 71]
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#AdabAkhlak
🎙Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
الحسد هو كراهة ما أنعم الله على العبد، وليس هو تمني زوال نعمة الله على الغير، بل هو مجرد أن يكره الإنسان ما أنعم الله به على غيره فهذا هو الحسد سواء تمنى زواله أو أن يبقى ولكنه كاره له.
كما حقق ذلك شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله فقال: ((الحسد كراهة الإنسان ما أنعم الله به على غيره ))
▪️“Hasad adalah benci / tidak senang terhadap apa yang telah Allah karuniakan kepada seorang hamba. Hasad bukan menginginkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain, bahkan sebatas seorang tidak suka atau benci terhadap apa yang telah Allah berikan terhadap orang lain maka inilah hasad sama saja apakah ia menginginkan hilangnya atau tidak, tetapi ia tidak suka nikmat itu diberikan pada orang lain.
📍Sebagaimana telah ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: beliau katakan, “Hasad adalah seorang tidak suka / benci terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain.”
📚 [Kitab aI-Ilmi hlm. 71]
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍1
💐 KABAR GEMBIRA
#InfoKajian
📻 Ikuti kajian ilmiah bersama Masyaikh Ahlus Sunnah
📘 Dars "Syarah Kitab al-Adabul Mufrad"
💺 bersama Fadhilah asy-Syaikh DR. Khalid bin Qasim ar-Radady hafizhahullah
☄️ Malam ini pukul 19:40 WIB (Insyaallah)
dan
📘 Dars "Syarah al-Ushul as-Sittah"
💺 Fadhilah asy-Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah
☄️ Malam ini pukul 21:50 WIB (Insyaallah)
-------------------
📡 Disiarkan LIVE (Langsung) di:
Radio Miraath 1: Miraath.net/radio/1
-------------------
📡 Disiarkan relay di:*"
📻 Radio Minhajul Atsar 1:**
http://radiosalafy.com/atsar
(versi web)
📥 Atau download aplikasinya di:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.minhajul.atsar
📻 Radio Manhajul Anbiya via Aplikasi Radio Syariah.
#InfoKajian
📻 Ikuti kajian ilmiah bersama Masyaikh Ahlus Sunnah
📘 Dars "Syarah Kitab al-Adabul Mufrad"
💺 bersama Fadhilah asy-Syaikh DR. Khalid bin Qasim ar-Radady hafizhahullah
☄️ Malam ini pukul 19:40 WIB (Insyaallah)
dan
📘 Dars "Syarah al-Ushul as-Sittah"
💺 Fadhilah asy-Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah
☄️ Malam ini pukul 21:50 WIB (Insyaallah)
-------------------
📡 Disiarkan LIVE (Langsung) di:
Radio Miraath 1: Miraath.net/radio/1
-------------------
📡 Disiarkan relay di:*"
📻 Radio Minhajul Atsar 1:**
http://radiosalafy.com/atsar
(versi web)
📥 Atau download aplikasinya di:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.minhajul.atsar
📻 Radio Manhajul Anbiya via Aplikasi Radio Syariah.
miraath.net
إذاعة ميراث الأنبياء
من هنا تسمعون ما يبث في الاذاعة الرئيسية
🌾 MUHKAM dan MUTASYABIH DALAM AL-QUR'AN
#Fatwa
🪶 Samahah asy-Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
(Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa, Ketua Lembaga Ulama Senior Arab Saudi)
السؤال:
أرجو إعطاءنا توضيحًا شافيًا عن الفرق بين المُحْكَم والمُتشابه في القرآن الكريم.
الجواب:
أحسن ما قيل في ذلك: أن المحكم هو ما وضح معناه، والمتشابه: ما يخفى معناه على العالم، والواجب ردّ المشتبه إلى المحكم، وألا يُفسّر بشيءٍ يُخالف المحكم، كما قال النبيُّ ﷺ: إذا رأيتُم الذين يتَّبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمَّى الله فاحذروهم.
فالواجب أن يُردّ المتشابه إلى المحكم، فالمحكم من القرآن: ما وضح معناه، كآيات الصلاة، وما حرَّم الله من المحرَّمات، وغير ذلك، وما اشتبه معناه يُردّ إلى المحكم، ويُفسّر بالمحكم، ولا يجوز أبدًا أن يُفسّر بخلاف المحكم؛ لأن القرآن لا يتناقض، بل يصدق بعضُه بعضًا، ويُشبه بعضه بعضًا.
فالواجب على أهل العلم أن يردّوا ما اشتبه عليهم إلى ما وضح لهم من المحكمات، وهكذا ما جاء في السنة: الرد إلى المحكم
❓ Pertanyaan:
Saya berharap untuk dijelaskan dengan penjelasan yang gamblang tentang perbedaan antara (ayat-ayat) muhkam dan mutasyabih di dalam al-Quranul Karim.
🧾 Jawab:
"Penjelasan yang terbaik tentang masalah itu adalah bahwasanya muhkam adalah ayat-ayat yang telah jelas maknanya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang masih tersamarkan maknanya bagi seorang yang berilmu (ulama).
Yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam, dan tidak menafsirkan (mutasyabih) dengan sesuatu yang menyelesihi yang muhkam.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم.
"Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih, mereka itulah orang-orang yang Allah maksudkan (dalam firman-Nya), 'maka berhati-hatilah dari mereka'."
Maka yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam.
Ayat-ayat muhkam dari al-Quran adalah yang telah gamblang maknanya, seperti ayat-ayat tentang shalat, dan segala yang Allah haramkan dari perkara-perkara yang haram dan lain sebagainya. Dan segala yang masih samar maknanya, dikembalikan kepada yang muhkam dan ditafsirkan dengannya. Tidak boleh sama sekali ditafsirkan dengan makna yang menyelisihi ayat-ayat yang muhkam. Karena al-Quran tidaklah saling bertentangan, bahkan ayat-ayatnya saling membenarkan dan saling menyerupai sebagiannya dengan sebagian yang lain.
Maka wajib atas para ulama untuk mengembalikan segala makna yang tersamarkan bagi mereka kepada makna yang gamblang dari ayat-ayat yang muhkam. Demikian pula segala yang datang dari as-Sunnah yaitu mengembalikan kepada yang muhkam.
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#Fatwa
🪶 Samahah asy-Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
(Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa, Ketua Lembaga Ulama Senior Arab Saudi)
السؤال:
أرجو إعطاءنا توضيحًا شافيًا عن الفرق بين المُحْكَم والمُتشابه في القرآن الكريم.
الجواب:
أحسن ما قيل في ذلك: أن المحكم هو ما وضح معناه، والمتشابه: ما يخفى معناه على العالم، والواجب ردّ المشتبه إلى المحكم، وألا يُفسّر بشيءٍ يُخالف المحكم، كما قال النبيُّ ﷺ: إذا رأيتُم الذين يتَّبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمَّى الله فاحذروهم.
فالواجب أن يُردّ المتشابه إلى المحكم، فالمحكم من القرآن: ما وضح معناه، كآيات الصلاة، وما حرَّم الله من المحرَّمات، وغير ذلك، وما اشتبه معناه يُردّ إلى المحكم، ويُفسّر بالمحكم، ولا يجوز أبدًا أن يُفسّر بخلاف المحكم؛ لأن القرآن لا يتناقض، بل يصدق بعضُه بعضًا، ويُشبه بعضه بعضًا.
فالواجب على أهل العلم أن يردّوا ما اشتبه عليهم إلى ما وضح لهم من المحكمات، وهكذا ما جاء في السنة: الرد إلى المحكم
❓ Pertanyaan:
Saya berharap untuk dijelaskan dengan penjelasan yang gamblang tentang perbedaan antara (ayat-ayat) muhkam dan mutasyabih di dalam al-Quranul Karim.
🧾 Jawab:
"Penjelasan yang terbaik tentang masalah itu adalah bahwasanya muhkam adalah ayat-ayat yang telah jelas maknanya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang masih tersamarkan maknanya bagi seorang yang berilmu (ulama).
Yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam, dan tidak menafsirkan (mutasyabih) dengan sesuatu yang menyelesihi yang muhkam.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم.
"Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih, mereka itulah orang-orang yang Allah maksudkan (dalam firman-Nya), 'maka berhati-hatilah dari mereka'."
Maka yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam.
Ayat-ayat muhkam dari al-Quran adalah yang telah gamblang maknanya, seperti ayat-ayat tentang shalat, dan segala yang Allah haramkan dari perkara-perkara yang haram dan lain sebagainya. Dan segala yang masih samar maknanya, dikembalikan kepada yang muhkam dan ditafsirkan dengannya. Tidak boleh sama sekali ditafsirkan dengan makna yang menyelisihi ayat-ayat yang muhkam. Karena al-Quran tidaklah saling bertentangan, bahkan ayat-ayatnya saling membenarkan dan saling menyerupai sebagiannya dengan sebagian yang lain.
Maka wajib atas para ulama untuk mengembalikan segala makna yang tersamarkan bagi mereka kepada makna yang gamblang dari ayat-ayat yang muhkam. Demikian pula segala yang datang dari as-Sunnah yaitu mengembalikan kepada yang muhkam.
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍1
🌾🪶 Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar
#BuletinDakwah
Ketahuilah, bahwa agar terwujud insan yang sempurna dan masyarakat yang sempurna, maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memahami dan mengamalkan empat perkara, ...
🧾 Selengkapnya baca di:
https://manhajul-anbiya.net/wajib-berilmu-beramal-berdakwah-dan-bersabar/
#BuletinDakwah
Ketahuilah, bahwa agar terwujud insan yang sempurna dan masyarakat yang sempurna, maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memahami dan mengamalkan empat perkara, ...
🧾 Selengkapnya baca di:
https://manhajul-anbiya.net/wajib-berilmu-beramal-berdakwah-dan-bersabar/
Manhajul Anbiya
Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar - Manhajul Anbiya
بسم الله الرحمن الرحيم Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar Para pembaca rahimakumullah (semoga Allah merahmati Anda), Ketahuilah, bahwa agar terwujud insan yang sempurna dan masyarakat yang sempurna, maka wajib atas setiap muslim dan muslimah…
🥬 ORANG YANG MENGKIYASKAN MAKHLUK DENGAN AL-KHALIQ APAKAH KAFIR?
#Fatwa
🎙️ Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
يَقُولُ: فَضِيلَةَ الشَّيخِ وَفَّقَكُمُ اللهُ، مَنْ قَاسَ الْمَخْلُوقَ عَلَى الْخالِقِ هَلْ يَكْفُرُ بِذلِكَ الْقِياسِ؟
اَلْجَوابُ:
إِذَا كَانَ عَالِمًا بِذَلِكَ هُوَ يَكْفُرُ، أَمَّا إِذَا كَانَ جَاهِلًا فَيُبَيَّنُ لَهُ؛ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ بَاطِلٌ وَلَا يَجُوزُ. فَإِنْ أَصَرَّ وَلَمْ يَمْتَثِلْ يُحْكَم عَلَيهِ بِالْكُفْرِ، لِأَنَّهُ سَوَّى بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ خَلْقِهِ تَنَقَّصَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
💬 Pertanyaan
"Fadhilatasy Syaikh, orang yang mengkiaskan makhluk dengan al-Khaliq (Allah, Sang Pencipta), apakah dia bisa divonis kafir dengan sebab itu?"
🪶 Jawaban:
"Jika dia seorang yang mengetahui tentang hukum perbuatan kias tersebut maka dia kafir.
Adapun jika dia tidak mengetahuinya maka hendaknya diterangkan kepadanya; sesungguhnya ini adalah perkara yang batil dan tidak boleh. Jika dia bersikeras dan tidak mau merealisasikan (nasehat ini) maka dia divonis dengan kekafiran, karena dia telah menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya, dia telah merendahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
📚 Fatawa ad-Durus al-'Ilmiyyah
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#Fatwa
🎙️ Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
يَقُولُ: فَضِيلَةَ الشَّيخِ وَفَّقَكُمُ اللهُ، مَنْ قَاسَ الْمَخْلُوقَ عَلَى الْخالِقِ هَلْ يَكْفُرُ بِذلِكَ الْقِياسِ؟
اَلْجَوابُ:
إِذَا كَانَ عَالِمًا بِذَلِكَ هُوَ يَكْفُرُ، أَمَّا إِذَا كَانَ جَاهِلًا فَيُبَيَّنُ لَهُ؛ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ بَاطِلٌ وَلَا يَجُوزُ. فَإِنْ أَصَرَّ وَلَمْ يَمْتَثِلْ يُحْكَم عَلَيهِ بِالْكُفْرِ، لِأَنَّهُ سَوَّى بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ خَلْقِهِ تَنَقَّصَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
💬 Pertanyaan
"Fadhilatasy Syaikh, orang yang mengkiaskan makhluk dengan al-Khaliq (Allah, Sang Pencipta), apakah dia bisa divonis kafir dengan sebab itu?"
🪶 Jawaban:
"Jika dia seorang yang mengetahui tentang hukum perbuatan kias tersebut maka dia kafir.
Adapun jika dia tidak mengetahuinya maka hendaknya diterangkan kepadanya; sesungguhnya ini adalah perkara yang batil dan tidak boleh. Jika dia bersikeras dan tidak mau merealisasikan (nasehat ini) maka dia divonis dengan kekafiran, karena dia telah menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya, dia telah merendahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
📚 Fatawa ad-Durus al-'Ilmiyyah
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍1
⛵ PATOKAN DALAM MENGIKUTI IMAM SHALAT BUKAN DENGAN UCAPAN TAKBIR, NAMUN DENGAN GERAKANNYA
#Fiqh
✍🏻 Sudah diketahui bersama bahwa di antara petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam syariat shalat berjamaah adalah makmum wajib mengikuti imam dalam setiap gerakan shalat. Namun tidak jarang di antara kaum muslimin ada yang tidak mengetahui bagaimana sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam hal tersebut.
🌾 Shahabat yang mulia al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu 'anhu menyampaikan,
« كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَإِذَا رَكَعَ رَكَعُوا، وَإِذَا قَال: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ " لَم يَزَالُوا قِيَامًا حَتَّى يَرَوْهُ قَد وَضَعَ وَجْهَهُ (وفي لفظ: جَبْهَتَهُ) فيِ الأَرْضِ، ثَم يَتَّبِعُونَهُ »
“Bahwa dulu mereka (para shahabat) shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Maka apabila beliau ruku’ mereka ruku’, apabila beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah’, maka mereka tetap berdiri (I’tidal) hingga melihat beliau telah meletakkan wajahnya (dalam lafazh lain: keningnya) di atas tanah, baru kemudian mereka mengikuti beliau.”
(HR. Muslim 474, Abu Dawud 266, Abu ‘Awanah 2/179, ath-Thabarani dalam al-Ausath 2/290/1-2; lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2616).
🥬 Ketika menyebutkan salah satu alasan kenapa membahas hadits ini dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan,
أن جماهير المصلين يخلون بما تضمنه من التأخر بالسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، لا أستثني منهم أحدا، حتى من كان منهم حريصا على اتباع السنة، للجهل بها أو الغفلة عنها، إلا من شاء الله، وقليل ما هم.
“Mayoritas orang-orang yang melaksanakan shalat melalaikan kandungan yang ada dalam hadits tersebut, yaitu tidak terburu melakukan gerakan sujud sampai imam meletakkan keningnya di tanah/lantai (tempat sujud). Saya tidak memperkecualikan seorang pun di antara mereka, bahkan di antara orang-orang yang melalaikan perkara ini merupakan orang (yang dikenal) bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi, entah disebabkan karena kebodohannya tentang perkara ini atau kelalaiannya, kecuali siapa saja yang Allah kehendaki, dan betapa sedikitnya mereka.”
🧾 Kemudian asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengutip penjelasan al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim,
في الحديث هذا الأدب من آداب الصلاة، وهو أن السنة أن لا ينحني المأموم للسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، إلا أن يعلم من حاله أنه لو أخر إلى هذا الحد لرفع الإمام من السجود قبل سجوده. قال أصحابنا رحمهم الله تعالى: في هذا الحديث وغيره ما يقتضي مجموعه أن السنة للمأموم التأخر عن الإمام قليلا بحيث يشرع في الركن بعد شروعه، وقبل فراغه منه
“Pada hadits tersebut terdapat adab ini yang merupakan salah satu adab shalat. Yaitu bahwa tuntunan Sunnah Nabi adalah makmum tidak merunduk untuk sujud sampai imam meletakkan keningnya di atas tanah/lantai (tempat sujud). Kecuali kalau dia (makmum) tahu dari kondisi (kebiasaan) imam bahwa kalau seandainya terlambat (mengikuti sujudnya imam) sampai batas tersebut, maka sang imam akan terburu bangkit dari sujudnya sebelum makmum sujud.
Para ulama madzhab kami (yakni madzhab Syafi’i) rahimahumullah menyatakan, bahwa dalam hadits ini dan hadits yang lainnya terdapat makna yang semuanya berkonsekuensi bahwa tuntunan Sunnah Nabi bagi makmum adalah menunggu imam sebentar, yaitu makmum masuk mengerjakan rukun setelah masuknya imam dalam rukun tersebut dan sebelum selesainya imam dari rukun tersebut. Wallahu a’lam.”
(lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 6/225-226)
🍋 Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengatakan:
ولو كبّر الإمام للسجود وأتمّ التكبير قبل أن يصل إلى الأرض فلا تسجد حتى يصل إلى الأرض لقوله: 《إذا سجد》، ولم يقل: إذا كبّر للسجود
📚 (الشرح المختصر على بلوغ المرام ج ١ ص ٧٥٦)
#Fiqh
✍🏻 Sudah diketahui bersama bahwa di antara petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam syariat shalat berjamaah adalah makmum wajib mengikuti imam dalam setiap gerakan shalat. Namun tidak jarang di antara kaum muslimin ada yang tidak mengetahui bagaimana sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam hal tersebut.
🌾 Shahabat yang mulia al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu 'anhu menyampaikan,
« كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَإِذَا رَكَعَ رَكَعُوا، وَإِذَا قَال: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ " لَم يَزَالُوا قِيَامًا حَتَّى يَرَوْهُ قَد وَضَعَ وَجْهَهُ (وفي لفظ: جَبْهَتَهُ) فيِ الأَرْضِ، ثَم يَتَّبِعُونَهُ »
“Bahwa dulu mereka (para shahabat) shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Maka apabila beliau ruku’ mereka ruku’, apabila beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah’, maka mereka tetap berdiri (I’tidal) hingga melihat beliau telah meletakkan wajahnya (dalam lafazh lain: keningnya) di atas tanah, baru kemudian mereka mengikuti beliau.”
(HR. Muslim 474, Abu Dawud 266, Abu ‘Awanah 2/179, ath-Thabarani dalam al-Ausath 2/290/1-2; lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2616).
🥬 Ketika menyebutkan salah satu alasan kenapa membahas hadits ini dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan,
أن جماهير المصلين يخلون بما تضمنه من التأخر بالسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، لا أستثني منهم أحدا، حتى من كان منهم حريصا على اتباع السنة، للجهل بها أو الغفلة عنها، إلا من شاء الله، وقليل ما هم.
“Mayoritas orang-orang yang melaksanakan shalat melalaikan kandungan yang ada dalam hadits tersebut, yaitu tidak terburu melakukan gerakan sujud sampai imam meletakkan keningnya di tanah/lantai (tempat sujud). Saya tidak memperkecualikan seorang pun di antara mereka, bahkan di antara orang-orang yang melalaikan perkara ini merupakan orang (yang dikenal) bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi, entah disebabkan karena kebodohannya tentang perkara ini atau kelalaiannya, kecuali siapa saja yang Allah kehendaki, dan betapa sedikitnya mereka.”
🧾 Kemudian asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengutip penjelasan al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim,
في الحديث هذا الأدب من آداب الصلاة، وهو أن السنة أن لا ينحني المأموم للسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، إلا أن يعلم من حاله أنه لو أخر إلى هذا الحد لرفع الإمام من السجود قبل سجوده. قال أصحابنا رحمهم الله تعالى: في هذا الحديث وغيره ما يقتضي مجموعه أن السنة للمأموم التأخر عن الإمام قليلا بحيث يشرع في الركن بعد شروعه، وقبل فراغه منه
“Pada hadits tersebut terdapat adab ini yang merupakan salah satu adab shalat. Yaitu bahwa tuntunan Sunnah Nabi adalah makmum tidak merunduk untuk sujud sampai imam meletakkan keningnya di atas tanah/lantai (tempat sujud). Kecuali kalau dia (makmum) tahu dari kondisi (kebiasaan) imam bahwa kalau seandainya terlambat (mengikuti sujudnya imam) sampai batas tersebut, maka sang imam akan terburu bangkit dari sujudnya sebelum makmum sujud.
Para ulama madzhab kami (yakni madzhab Syafi’i) rahimahumullah menyatakan, bahwa dalam hadits ini dan hadits yang lainnya terdapat makna yang semuanya berkonsekuensi bahwa tuntunan Sunnah Nabi bagi makmum adalah menunggu imam sebentar, yaitu makmum masuk mengerjakan rukun setelah masuknya imam dalam rukun tersebut dan sebelum selesainya imam dari rukun tersebut. Wallahu a’lam.”
(lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 6/225-226)
🍋 Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengatakan:
ولو كبّر الإمام للسجود وأتمّ التكبير قبل أن يصل إلى الأرض فلا تسجد حتى يصل إلى الأرض لقوله: 《إذا سجد》، ولم يقل: إذا كبّر للسجود
📚 (الشرح المختصر على بلوغ المرام ج ١ ص ٧٥٦)
👍6
"Kalau seandainya imam bertakbir untuk sujud dan selesai mengucapkan takbir tersebut sebelum dia sampai ke tanah/lantai, maka engkau jangan bersujud hingga imam sampai di tanah/lantai (dalam kondisi sujud). Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:《apabila imam sujud》, beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan: ‘Apabila imam bertakbir untuk sujud (maka sujudlah)’."
📚 (asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulugh al-Maram 1/756)
Wallahu a'lam bi ash-Shawab
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
📚 (asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulugh al-Maram 1/756)
Wallahu a'lam bi ash-Shawab
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍3