Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Orang mendendam menyimpan energi yang negatif. Ini membuat rezeki menjauh dan membuat orang-orang tidak nyaman.
Hati yang lapang dan tidak mendendam, akan menghimpun berbagai potensi positif.
Pernah dendam?

Belakangan ini kita salut sama Anwar Ibrahim, politisi Malaysia, yang memaafkan orang-orang yang pernah menzalimi dia selama belasan tahun. Sangat lama. Ini bukan perkara gampang.

Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan juga bisa merusak kesehatan. Ya, merusak kesehatan. Apa saja 3D itu? Dengki, Dongkol, Dendam.

Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Benarkah sampai seperti itu? Ya, benar.

Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.

Sekiranya kita sadar bahwa dendam itu berdampak buruk terhadap rezeki dan kesehatan kita, tentulah kita akan membuang jauh-jauh sikap negatif ini. Kita pun semakin berhati-hati karena dendam ternyata juga memberangus amal-amal alias membuat hangus amal-amal. Ngeri.

Kesimpulannya, kalau lapang hati, akan lapang rezeki. Kalau sempit hati, akan sempit rezeki. Pilih mana? Saya yakin Anda akan menjatuhkan pilihan pada sikap yang memberdayakan masa depan Anda.

Jadi, buat apa mendendam? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Di bulan yang mulia ini, mari kita saling memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin ya. Semoga berkah berlimpah!
Ketika #Ramadhan, ketika #Lebaran, hampir semua muslim 'kembali' alias menyadari hal-hal yang benar-benar penting dalam hidupnya. Apa itu? Ada dua. Agama dan keluarga...
Kali ini coba Anda jawab pertanyaan saya. Anda lebih sering mana, mentraktir atau ditraktir?

Begini. Kalau kita sering minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Inner capacity akan mengecil. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu.

Jangan-jangan Anda juga termasuk ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki mental kaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.

"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain TANPA adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.

Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!

๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.

Misal kita perlu sesuatu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, Anda ingin ikut seminar, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya. Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya Anda boleh masuk dengan cuma-cuma.

Sekali lagi, kerahkan tenaga Anda, berikan jasa Anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar Anda dan kita semua punya mental kaya. Nah, saat Anda memberikan jasa Anda, terjadilah transaksi alias muamalah yang setimpal. Setara. Harga diri pun terjaga.

Kembali soal mentraktir. Gimana dengan orang yang gemar mentraktir dan gemar melayani. Ini bagus sekali. Saya menyebutnya mental kaya. Ya, mental kaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya.

Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Mentraktir, apa susahnya sih? Toh itu bagian dari berbagi dan insya Allah pasti berbalas.

Lagi-lagi, ini soal mental kaya. ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

Percayalah, ini bukan soal uang. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Pada akhirnya, mari biasakan diri kita untuk mentraktir.

Sepertinya ini sepele, padahal tidak. Sama sekali tidak. Terakhir pesan saya, kalaupun mau meminta, cukuplah kepada Yang Maha Kuasa, bukan kepada makhluk. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Menikah itu mengundang rezeki. Ya, mengundang rezeki.

Dan sebenarnya, menikah itu mudah. Yang membuatnya sulit dan mahal adalah adat, gengsi, serta ego.
Saya sudah keliling Indonesia sejak 2005, setiap weekend-nya, di 33 provinsi.

Ternyata adat itu kurang-lebih sama saja. Cenderung membuat pernikahan itu sulit dan rumit.
Pandai-pandailah kita beragumen ke keluarga, agar pernikahan kita bisa berlangsung segera dan sederhana.
Ustadz Yusuf Mansur (agar ringkas, izinkan selanjutnya saya sebut YM saja) adalah seorang pembelajar. Maksud saya, benar-benar pembelajar.

Ramadhan kemarin, dengan izin Allah, saya berbuka puasa bersama Ketua MPR Pak Zul, Presiden RI Pak Jokowi, sejumlah menteri, dan tokoh-tokoh lainnya.

Ketika maghrib, Syekh Ali Jaber yang menjadi imam. Saya, Pak Zul, Pak Jokowi, Pak Oesman Sapta Odang dll berada di shaf pertama. Ketika isya, YM yang menjadi imam. Nah, di sini saya sedikit takjub.

Kenapa?

Meski saya tidak terlalu pandai mengaji, tapi insya Allah sedikit-banyak saya bisa menilai bacaan YM ketika sholat. Sekitar 10 tahun saya mengenal beliau, saya merasakan ada perubahan signifikan pada bacaan beliau. Jauh lebih baik insya Allah.

Pas pulang, saya sampaikan hal ini kepada istri saya. YM juga bisa Bahasa Inggris dan Bahasa Arab dengan jauh lebih baik ketimbang 10 tahun yang lalu. Setidaknya, menurut saya.

Yes, YM itu pembelajar. Bukan sekali dua kali saya melihat YM jadi peserta di kajian atau seminar. Duduk beneran, belajar beneran. Kita-kita yang enggan belajar tentu merasa malu. Right?

Bagi saya, mengajar itu baik. Tapi jangan salah, belajar itu sama baiknya bahkan bisa lebih baik. Paling tidak, penilaian di sisi Allah. Sudah semestinya kita lebih giat belajar, apapun posisi dan profesi kita sekarang.

Btw, teman-teman ada pesan atau doa untuk YM? Silakan komen di sini ya. Nanti saya sampaikan ke beliau >> https://www.instagram.com/p/BkJdxhdHrMk/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=rjq0recex115
Mana yang lebih berharga, waktu atau uang. Orang yang cerdas akan menjawab, "Waktu."

Salah satu alasannya:
- Uang yang hilang, masih bisa terganti.
- Waktu yang hilang, sulit untuk diganti.

Ya, waktu lebih berharga daripada uang. Setidaknya, orang akan menjawab, "Waktu sama berharganya seperti uang. Time is money." Sampai di sini, saya yakin kita semua sepakat. Nah, kalau Anda sepakat, silakan baca paragraf-paragraf berikutnya.

Bayangkan, ada orang yang sengaja menguras dan membuang-buang UANG Anda. Berkali-kali. Berlarut-larut. Anda pun mengikutinya dengan sadar atau tanpa sadar. Saya yakin, kelak Anda akan marah besar. Kenapa? Jelas, orang ini telah menguras dan membuang-buang uang Anda.

Bayangkan kejadian lain. Ada orang yang sengaja menyita dan membuang-buang WAKTU Anda. Berkali-kali. Berlarut-larut. Apakah Anda akan marah? Benar-benar marah? Semarah ketika Anda kehilangan uang Anda? Mestinya Anda juga marah. Kan sebelumnya kita sudah sepakat bahwa waktu sama berharganya seperti uang.

Ke mana sih arah tulisan saya? Sebenarnya sejak lama saya ingin menyebarkan tulisan ini. Tapi saya tahan. Jujur saja, ada semacam perasaan nggak enak. Kuatir dianggap nyinyir atau usil sama urusan orang lain. Saya pun menunggu sampai Ramadhan dan Syawal untuk merenung serta menata ulang niat saya.

Hari ini saya sebarkan tulisan ini. Ya, saya coba mengingatkan sahabat-sahabat saya yang aktif di social media, terutama di Instagram dan di YouTube. Ya, tulisan ini tepatnya untuk Selebgram dan YouTubers.

Saat Anda membuat konten yang sia-sia alias tak ada manfaatnya, itu artinya Anda telah menyita dan membuang-buang WAKTU follower Anda. Sesuatu yang sama berharganya seperti uang. Dan bukan waktu satu-dua orang saja, melainkan waktu ribuan orang.

Mungkin Anda kebanjiran klik, view, bahkan rupiah. Tapi follower Anda? Waktu mereka jelas-jelas terkuras dan Anda yang menguras. Berkali-kali. Berlarut-larut. Barangkali saat ini mereka belum sadar. Atau nggak sadar-sadar. Tapi yang jelas, waktu mereka telah Anda kuras.

Kalau boleh saran, "Silakan berkreasi. Bikin konten. Namun sisipkan pesan-pesan yang positif." Sedikit pun boleh. Misalnya, nasionalisme, semangat berprestasi, semangat berbagi, semangat berbakti, nilai-nilai agama, dst. Masih ada faedah-nya tho? Jadi, waktu mereka tidak terbuang sia-sia. Anda pun dapat ganjarannya.

Kata guru saya, segala sesuatu akan di-hisab. Akan dipertanggungjawabkan. Think.



(Bantu share ya)
Idul Fitri di Indonesia identik dengan makan-makan. Betul apa betul? Tapi, di luar Idul Fitri sekalipun, kita mengakui bahwa Indonesia adalah surganya kuliner. Ya, surganya kuliner.

Siapa sangka, 50 Makanan Terenak Sedunia Versi CNN Tahun 2017, ternyata juara satu dan juara dua berasal dari Indonesia. Betul sekali, Indonesia adalah surganya kuliner. Sangat beragam, sangat berasa, dan sangat khas!

Tak terlalu banyak negara yang pernah saya kunjungi. Tapi alhamdulillah, saya ditakdirkan Allah untuk menjejakkan kaki di lima benua. Mulai Amerika, sampai Australia dan New Zealand.

Sepengalaman saya, SANGAT SULIT untuk mencari negara yang kulinernya seberagam Indonesia!

Ambil contoh Timur Tengah. Bukan kebetulan saya pernah ke Mesir, Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait dll. Walaupun beda-beda negara, tapi kuliner mereka kurang-lebih sama saja. Lha kita? Satu provinsi saja punya sederet menu khas!

Ngomong-ngomong, Anda suka karedok, pecel, dan gado-gado? Ketiga hidangan ini sama-sama menyajikan sayuran yang disiram bumbu kacang dan kaya gizi. Sekilas ketiga-tiganya terlihat serupa, tetapi karedok, pecel, dan gado-gado sebenarnya hidangan yang berbeda.

Karedok itu khasnya Jawa Barat. Pecel itu khasnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gado-gado? Berasal dari Betawi, tapi kemudian go national bahkan go international. Gado-gado, dari segi tampilan dan bahan-bahan, dianggap lebih menarik.

Saya pribadi sangat menyukai ketiga-tiganya. Menurut Kompas, gado-gado lebih kesohor di dunia internasional ketimbang karedok dan pecel. Orang luar sering menyebut gado-gado sebagai saladnya Indonesia. Koki selebriti asal Inggris, Jamie Oliver, pun sempat memuji-muji gado-gado.

Mari kita lestarikan kuliner Indonesia! โ˜บ๏ธโ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ
Biasakan bangun lebih awal. Bukan sekedar bangun pagi.

#BangunAwal itu mengundang keberkahan dan keberlimpahan. "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi,โ€ inilah doa Nabi Muhammad.

Di kesempatan lain, beliau bersabda, โ€œBerpagi-pagilah dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya berpagi-pagi itu membawa keberkahan dan mengantarkan pada kemenangan.โ€

Itulah salah satu rahasia sukses orang-orang beriman dalam melakukan penaklukan-penaklukan. Mereka melakukannya di waktu pagi. Bahkan hijrah Sang Nabi pun dilakukan di waktu pagi.

Fatimah, putri kesayangan Nabi Muhammad, mengisahkan, โ€œAyahku pernah lewat di sampingku saat aku sedang berbaring di waktu pagi. Lalu beliau menggerakkan badanku dan berkata, 'Wahai anakku, bangun dan saksikan rezeki dari Tuhan-mu. Janganlah kamu termasuk orang yang lalai. Karena Allah membagi-bagikan rezeki kepada hamba-Nya, antara terbit fajar dan terbit matahari.โ€

Luqman Al-Hakim pernah berwasiat kepada anaknya, โ€œJangan sampai ayam jantan lebih cerdas daripada dirimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur hingga matahari terbit.โ€

Bangun awal. Mari kita rutinkan.
Tak semua orang ingin maju. Biasanya ciri mereka, "No action, more excuses."

Inilah alasan-alasan mereka.

- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."

- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini mah belum tentu."

- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."

- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."

- Saat teman-temannya sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."

- Dikasih gratis, murah, atau kesempatan refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"

- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"

Begitulah, tak semua orang ingin maju. Saran saya, sekiranya Anda ingin maju, dengarlah pesan-pesan dari orang-orang sukses di sekitar Anda. Berhentilah beralasan.

Ketimbang beralasan, cobalah menerapkan tips-tips dari mereka dengan sungguh-sungguh. Bukan mustahil, kelak nasib Anda sama bahkan lebih baik daripada mereka. Yakin?

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Pernahkah Anda membayangkan hidup sampai di usia 100 tahun?

Dr Shigeaki Hinohara BUKAN dokter biasa. Dia adalah aset nasional Jepang. Lahir tahun 1911, meninggal tahun 2017 di usia 106. Dia salah satu pendidik tertua dan terlama di dunia. Dia telah menerbitkan lebih dari 150 buku, salah satunya mega-bestseller "Living Long, Living Good" yang terjual lebih dari 1,2 juta copy.

Ia menawarkan cara sehat dan cara bahagia yang LEBIH menyegarkan, yang berbeda dengan cara-cara pada umumnya. Salah satu pesannya, "Energi berasal terutama dari perasaan yang baik. Ya, perasaan yang baik."

Btw, positive thinking dan positive feeling ini juga diterapkan oleh pasangan selebriti Arie Untung dan Fenita Arie dalam keseharian mereka. Olahraga, harus. Supplement, harus. Tidur teratur, harus. Makan teratur, harus. Tapi perasaan yang baik juga harus.

Seperti yang teman-teman tahu, saya sering mengadakan seminar. Menjelang acara, biasanya saya berusaha berpikir yang baik-baik. Berlangsung lancar, bermanfaat, dan berkah. Itulah doa dan harapan saya. Saya pun mengajak tim saya untuk mendoakan dan mengharapkan hal serupa.

Setiap pikiran itu adalah doa. Ya, doa. Kenapa? Karena saat akal kita FOKUS pada sesuatu, maka kita sedang menghadirkan suatu realita. Tak sedikit orang yang mengeluh, doanya tidak dikabulkan Tuhan.

Padahal ia sudah berdoa dan beramal, eh tetap saja tidak dikabulkan oleh Tuhan. Sebenarnya, maaf, ini adalah sebuah prasangka yang jahat kepada Tuhan. Sebab Tuhan selalu mengabulkan doa yang kita ucapkan.

Sewaktu akal kita berpikir, serius dan fokus pada sesuatu, ia memiliki daya yang sangat kuat untuk memohon kepada Allah. Akhirnya terkabul. Makbul. Allah-lah yang berfirman โ€œBerdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan!โ€

Ada beragam hikmah dan jawaban tentang doa yang tidak terkabul. Mungkin belum saatnya, mungkin tinggal menunggu saja, mungkin diganti yang setara, mungkin masih banyak dosa, mungkin disimpan untuk akhirat, dan lain-lain. Intinya, kita harus selalu positive thinking terhadap doa yang kita ucapkan.

Hal lain. Ada pula orang berdoa hanya di lisannya saja, berbeda dengan pikirannya. Bahkan kontra. Contoh, orang yang berdoa agar hidupnya kaya, namun akalnya fokus pada kemiskinan dan utang. Siang-malam kepikiran soal kemiskinan dan utang.

Ada ketidakcocokan antara lisan dan fokus pikirannya. Doa yang terkabul adalah doa yang selaras antara lisan dan fokus pikirannya. Yang Maha Kuasa pun berfirman, โ€œAku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.โ€ Maka, sangkalah yang baik-baik.

Ingat, positive thinking bukan saja menyehatkan dan membuat kita panjang umur, tapi juga menyukseskan. Sangat sukses. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Benarkah gadget itu berbahaya? Tidak juga. Ternyata inilah dampak-dampak positif dan negatif gagdet buat anak-anak.

Banyak ortu yang tidak memberikan gadget pada anaknya sebelum usia 12 tahun. Kenapa? Pertama, gadget dapat mengganggu pertumbuhan otak anak. Pada usia 0-2 tahun otak anak bertumbuh dengan cepat, sampailah anak berusia belasan tahun.

Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan. Nah, stimulasi dari gadget (HP, internet, TV, iPad, dll) dapat menyebabkan keterlambatan koginitif pada anak, gangguan belajar, meningkatnya sifat impulsif, menurunnya kemandirian anak, dan tantrum.

Coba lepaskan gadget dari tangan anak kita. Apakah ia langsung mengamuk? Kalau iya, nah itu pertanda tantrum.

Kedua, tumbuh-kembang yang melambat. Ini karena terbatasnya gerak fisiknya. Selain itu, paparan teknologi sejak dini juga mengganggu kemampuan literasi dan kemampuan akademik anak secara signifikan.

Ketiga, penelitian di Bristol University tahun 2010 mengungkapkan, gadget di tangan anak dapat meningkatkan risiko depresi, risiko kecemasan, kurang atensi, kurang fokus, kelainan bipolar, potensi autisme, dan perilaku-perilaku bermasalah lainnya.

Keempat, radiasi emisi. Pada Mei 2011, WHO memasukkan ponsel dan gadget tanpa kabel lainnya dalam kategori Risiko 2B (penyebab kemungkinan kanker). James McNamee dari Kanada mengingatkan, โ€œAnak-anak lebih sensitif terhadap radiasi dibanding orang dewasa."

So, adakah manfaat gadget pada anak? Ada, seperti terbukanya wawasan. Tapi manfaatnya sangat sedikit. Bahaya-nya jauh lebih besar. Hati-hati. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa profesi Anda?

Di antara kita, ada yang memutuskan jadi profesional, ada juga yang memutuskan jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Ini soal pilihan dan masing-masing pilihan ada konsekuensi. Nah, bagaimana dengan Anda? Pengen jadi entrepreneur? Benar-benar pengen? Ternyata:
- Tidak harus pintar untuk jadi entrepreneur.
- Tidak harus kaya.
- Tidak harus pengalaman.
- Tidak harus keturunan.
- Tidak harus terkenal.
- Tidak harus banyak teman.
- Tidak harus ini-itu.

Terus, apa yang paling penting? Anda punya keberanian. Sekali lagi, Anda punya keberanian. Cuma itu. Soal keberanian, jangan salah, nggak semua orang punya. Lihat saja orang-orang di sekitar Anda. Punya uang, tapi tidak jadi buka usaha. Punya skill, tapi tidak jadi buka usaha. Punya relasi, tapi tidak jadi buka usaha. Kenapa? Karena, maaf, mereka tidak punya keberanian. Nyalinya ciut, semangatnya surut. Bayang-bayang bangkrut membuat kening mereka berkerut, sampai-sampai membuat mereka takut.

Sebab itulah kita memerlukan pendekatan otak kanan. Action-oriented. Dare to start, istilah lainnya. Berani melangkah. Berani memulai. Berani mengambil resiko. Berani menerima kegagalan. Nggak bertele-tele. Toh, tidak ada kejadian yang sia-sia. Dari setiap kejadian, termasuk kegagalan, kita bisa belajar dan bertumbuh. Right?

Berani-lah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tahun 2018 boleh dibilang periode emas bagi pelaku e-commerce di Tanah Air. Buktinya, semakin banyak generasi muda yang lebih memilih belanja online ketimbang department store. Mungkin Anda salah satunya. Bisnis online sendiri mempunyai beberapa ragam, seperti Consumer to Consumer (C2C), Business to Consumer (B2C), dan sebagainya.

Trend e-commerce ini membuat Matahari Department Store tergerak untuk membuka bisnis online berupa MatahariMall.com. Disinyalir, Lippo Group telah menginvestasikan 500 juta dolar AS atau setara Rp 6,5 triliun untuk operasional MatahariMall.com selama 2-3 tahun ke depan. Hal ini dinilai membuahkan hasil yang menggembirakan. Di mana MatahariMall.com mengalami pertumbuhan rata-rata 97 persen.

Kita mungkin belum sebesar Matahari dan Lippo Group. Namun tak ada salahnya kalau kita mempelajari kiat-kiat sukses di bisnis online.

Setidaknya ada lima kiat sukses.

Great Quality. Untuk memulai dan membesarkan sebuah bisnis, sekalipun itu bisnis online, kita harus selektif dalam memilih produk. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pastikan mutunya bagus. Karena pada akhirnya, yang membuat produk itu terjual terus-menerus dalam jangka panjang adalah mutu, bukan promosi. Sekali lagi, mutu. Setelah itu, mudah untuk dikirim.

Great Planning. Di semua bidang, perihal terkait perencanaan perlu dilakukan. Awal-awal, langsung action yah silakan. Namun setelah berjalan, harus ada perencanaan. Tak hanya varian produk tapi juga strategi promosi dan strategi distribusi. Maka harus diatur sedemikian rupa. Belajarlah dari pemain lain agar kita bisa mengantisipasi berbagai masalah. Sebab hal-hal tak diinginkan bisa terjadi kapan saja.

Great Budgeting. Salah satu bukti perencanaan yang matang adalah penganggaran dana dengan tepat. Penggunaan dana ini mesti tepat waktunya dan tepat timing-nya. Alokasikan secara hemat tapi tetap efektif untuk pembelian produk, pemasangan iklan, penggajian karyawan, dan pengiriman barang. Tidak cermat dalam penganggaran dana bisa membuat bisnis kita keteteran di tengah jalan.

Great Promotion. Agar produk lebih dikenal atau menjadi viral, maka kita harus memaksimalkan aspek promosi. Ya, aspek promosi. Apalagi jika produk kita memiliki banyak kompetitor. Di bisnis online, ada dua jenis promosi yakni gratis dan berbayar. Jujur saja, kita tidak bisa menebak mana yang lebih efektif sampai kita benar-benar mencobanya.

Great Name. Ada baiknya kita menggunakan brand yang cocok dengan produk kita. Selanjutnya hindari penggunaan nama yang rumit dan sulit diingat. Kalau sulit diucapkan dan sulit diketik, maka nama itu sulit pula nyantol di benak konsumen, terutama di segmen bawah dan menengah. Tentu beda ceritanya kalau kita punya budget yang besar di mana kita tetap bisa mensosialisasikan nama yang rumit. Untuk urusan nama, make it simple.

Selamat mencoba!
Halooo Korea!

14-15 Juli, insya Allah saya akan seminar lagi di #KoreaSelatan untuk keempat kalinya. Kali ini, selain saya, ada Dr Amir Faishol Fath yang akan berbagi ilmu. Insya Allah seru!

Lock dulu tanggalnya!