Bagaimana puasa Anda?
Btw, hanya segelintir orang yang tahu bahwa hal-hal berikut ini beneran terjadi:
- Sadarkah kita, ternyata Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa (Jayakarta) ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata NKRI tercinta ini merdeka ketika bulan puasa, tepatnya Jumat 9 Ramadhan.
- Sadarkah kita, ternyata Peristiwa Badar dan Peristiwa Tabuk dimenangkan ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Penaklukkan Makkah dan Pembukaan Andalusia terjadi ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali negeri-negeri yang dikuasai musuh ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo, terjadi ketika bulan puasa.
Demikianlah. #Ramadhan disebut-sebut bulan yang penuh berkah. Apa ciri-ciri keberkahan itu? Salah satunya, dengan waktu yang sedikit terhasilkan manfaat yang banyak. Oleh karena itu, berpuasa janganlah dijadikan dalih untuk bermalas-malasan.
Ini sama sekali tidak cocok dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Sejarah sudah berkali-kali membuktikannya. Ramadhan hendaknya menjadi bulan yang efektif (karena banyak hal hebat yang dicapai) dan efisien (karena banyak hal rutin yang dihemat).
Ramadhan memang hebat, tiada duanya. Sekiranya Anda setuju dengan tulisan ini, silakan tulisan ini di-share kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda. Semoga menjadi amal baik bagi kita semua. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.
Btw, hanya segelintir orang yang tahu bahwa hal-hal berikut ini beneran terjadi:
- Sadarkah kita, ternyata Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa (Jayakarta) ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata NKRI tercinta ini merdeka ketika bulan puasa, tepatnya Jumat 9 Ramadhan.
- Sadarkah kita, ternyata Peristiwa Badar dan Peristiwa Tabuk dimenangkan ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Penaklukkan Makkah dan Pembukaan Andalusia terjadi ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali negeri-negeri yang dikuasai musuh ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo, terjadi ketika bulan puasa.
Demikianlah. #Ramadhan disebut-sebut bulan yang penuh berkah. Apa ciri-ciri keberkahan itu? Salah satunya, dengan waktu yang sedikit terhasilkan manfaat yang banyak. Oleh karena itu, berpuasa janganlah dijadikan dalih untuk bermalas-malasan.
Ini sama sekali tidak cocok dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Sejarah sudah berkali-kali membuktikannya. Ramadhan hendaknya menjadi bulan yang efektif (karena banyak hal hebat yang dicapai) dan efisien (karena banyak hal rutin yang dihemat).
Ramadhan memang hebat, tiada duanya. Sekiranya Anda setuju dengan tulisan ini, silakan tulisan ini di-share kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda. Semoga menjadi amal baik bagi kita semua. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.
Bagaimana #puasa Anda hari ini? Tetap semangat?
Gabriel Cousens, MD, Founder Tree Of Life Rejuvenation Center, mengakui bahwa mereka yang berpuasa akan mengalami peningkatan konsentrasi, kreativitas, dan ketenangan.
Btw, terkait bulan puasa, hanya segelintir orang yang tahu bahwa hal-hal berikut ini beneran terjadi:
- Sadarkah kita, ternyata Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa (Jayakarta) ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata NKRI tercinta ini merdeka ketika bulan puasa, tepatnya Jumat 9 Ramadhan.
- Sadarkah kita, ternyata Peristiwa Badar dan Peristiwa Tabuk dimenangkan ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Penaklukkan Makkah dan Pembukaan Andalusia terjadi ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali negeri-negeri yang dikuasai musuh ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo (salah satu kampus tertua), terjadi ketika bulan puasa.
Demikianlah. #Ramadhan disebut-sebut bulan yang penuh berkah. Apa sih ciri-ciri keberkahan itu? Salah satunya, dengan waktu yang sedikit terhasilkan manfaat yang banyak. Oleh karena itu, berpuasa janganlah dijadikan dalih untuk bermalas-malasan.
Ini sama sekali tidak cocok dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Sejarah sudah berkali-kali membuktikannya. Ramadhan hendaknya menjadi bulan yang efektif (karena banyak hal hebat yang dicapai) dan efisien (karena banyak hal rutin yang dihemat).
Ramadhan memang hebat, tiada duanya. Sekiranya Anda setuju dengan tulisan ini, silakan tulisan ini di-share kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda. Mention mereka. Semoga menjadi amal baik bagi kita semua. Ya, kita semua.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.
Gabriel Cousens, MD, Founder Tree Of Life Rejuvenation Center, mengakui bahwa mereka yang berpuasa akan mengalami peningkatan konsentrasi, kreativitas, dan ketenangan.
Btw, terkait bulan puasa, hanya segelintir orang yang tahu bahwa hal-hal berikut ini beneran terjadi:
- Sadarkah kita, ternyata Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa (Jayakarta) ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata NKRI tercinta ini merdeka ketika bulan puasa, tepatnya Jumat 9 Ramadhan.
- Sadarkah kita, ternyata Peristiwa Badar dan Peristiwa Tabuk dimenangkan ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Penaklukkan Makkah dan Pembukaan Andalusia terjadi ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali negeri-negeri yang dikuasai musuh ketika bulan puasa.
- Sadarkah kita, ternyata pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo (salah satu kampus tertua), terjadi ketika bulan puasa.
Demikianlah. #Ramadhan disebut-sebut bulan yang penuh berkah. Apa sih ciri-ciri keberkahan itu? Salah satunya, dengan waktu yang sedikit terhasilkan manfaat yang banyak. Oleh karena itu, berpuasa janganlah dijadikan dalih untuk bermalas-malasan.
Ini sama sekali tidak cocok dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Sejarah sudah berkali-kali membuktikannya. Ramadhan hendaknya menjadi bulan yang efektif (karena banyak hal hebat yang dicapai) dan efisien (karena banyak hal rutin yang dihemat).
Ramadhan memang hebat, tiada duanya. Sekiranya Anda setuju dengan tulisan ini, silakan tulisan ini di-share kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda. Mention mereka. Semoga menjadi amal baik bagi kita semua. Ya, kita semua.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.
Simak tulisan ini baik-baik.
Akankah nasib dan rezeki kita membaik, sekiranya kita melakukan hal-hal berikut ini selama 21 hari? Sebelum dijawab, perhatikan dulu poin-poin di bawah ini:
- Anda menyenangkan hati orangtua dengan perhatian, kunjungan, dan bingkisan (oleh-oleh). Intinya Anda berusaha berbakti dengan sebaik-baik bakti.
- Anda berbagi, yang berbalas ratusan kali lipat, lalu dilipatgandakan lagi puluhan kali lipat. Kepada keluarga, juga kepada sesama. Intinya Anda bersedekah dengan sebaik-baik sedekah.
- Anda menyambung tali silaturahim, meminta maaf, dan memberi maaf. Bahkan kepada orang-orang yang jarang Anda kontak selama berbulan-bulan. Intinya Anda bersilaturahim dengan sebaik-baik silaturahim.
Saya ulang pertanyaan saya, akankah nasib dan rezeki Anda membaik sekiranya Anda melakukan hal-hal tersebut di atas selama 21 hari? Insya Allah, pasti. Ya, p-a-s-t-i.
Nah, itulah salah satu rahasia #Ramadhan. Bukankah itu semua yang Anda lakukan selama Ramadhan? Ini nggak mengada-ngada. Coba Anda ingat-ingat kembali, bukankah itu semua yang Anda lakukan selama ini?
- Anda mudik, atau setidaknya menghubungi orangtua dengan kualitas hubungan yang jauh lebih baik. Transfer juga, dengan kuantitas yang lebih baik. Bagaimana mungkin itu nggak berdampak?
- Anda bersedekah dan, karena fadilah Ramadhan, dilipatgandakan lagi puluhan kali lipat. Lalu Anda membayar zakat harta dan zakat fitrah. Terus Anda menyiapkan bukaan puasa. Bagaimana mungkin itu nggak berdampak?
- Anda menghubungi bahkan mengunjungi kerabat dan sahabat, untuk silaturahim dan bermaaf-maafan. Ikatan batin pun menguat lantaran Anda buka puasa bareng dan taraweh bareng. Bagaimana mungkin itu nggak berdampak?
Malah, ini semua terjadi bukan saja 21 hari, melainkan 30 hari. Kurang-lebih seperti itu. Kalau hari biasa saja berdampak, APALAGI Ramadhan. APALAGI Anda melakukan itu semua sambil berpuasa. Nggak diragukan lagi, berlapis-lapis dampaknya!
Tulisan ini adalah 'goodness in practice'. Mungkin Anda terpikir untuk men-share tulisan ini kepada keluarga Anda dan teman-teman Anda, karena Anda ingin mereka lebih bersemangat dalam mengisi Ramadhan. Silakan saja. Niscaya dampaknya akan bertambah lagi dan lagi. Berkah? Pahala? Niscaya akan turut serta.
Yang saya yakini, Ramadhan bukan saja momentum untuk perbaikan iman dan akhlak. Namun menyimpan bonus tambahan. Ya, bonus tambahan. Apa itu? Perbaikan nasib dan rezeki. Terlebih-lebih lagi jika kita melakukannya dengan setulus hati dan sepenuh hati.
Siapa yang sanggup membantah kebaikan di balik Ramadhan? Saya harap Anda sependapat dengan saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya. Semoga berkah berlimpah.
Akankah nasib dan rezeki kita membaik, sekiranya kita melakukan hal-hal berikut ini selama 21 hari? Sebelum dijawab, perhatikan dulu poin-poin di bawah ini:
- Anda menyenangkan hati orangtua dengan perhatian, kunjungan, dan bingkisan (oleh-oleh). Intinya Anda berusaha berbakti dengan sebaik-baik bakti.
- Anda berbagi, yang berbalas ratusan kali lipat, lalu dilipatgandakan lagi puluhan kali lipat. Kepada keluarga, juga kepada sesama. Intinya Anda bersedekah dengan sebaik-baik sedekah.
- Anda menyambung tali silaturahim, meminta maaf, dan memberi maaf. Bahkan kepada orang-orang yang jarang Anda kontak selama berbulan-bulan. Intinya Anda bersilaturahim dengan sebaik-baik silaturahim.
Saya ulang pertanyaan saya, akankah nasib dan rezeki Anda membaik sekiranya Anda melakukan hal-hal tersebut di atas selama 21 hari? Insya Allah, pasti. Ya, p-a-s-t-i.
Nah, itulah salah satu rahasia #Ramadhan. Bukankah itu semua yang Anda lakukan selama Ramadhan? Ini nggak mengada-ngada. Coba Anda ingat-ingat kembali, bukankah itu semua yang Anda lakukan selama ini?
- Anda mudik, atau setidaknya menghubungi orangtua dengan kualitas hubungan yang jauh lebih baik. Transfer juga, dengan kuantitas yang lebih baik. Bagaimana mungkin itu nggak berdampak?
- Anda bersedekah dan, karena fadilah Ramadhan, dilipatgandakan lagi puluhan kali lipat. Lalu Anda membayar zakat harta dan zakat fitrah. Terus Anda menyiapkan bukaan puasa. Bagaimana mungkin itu nggak berdampak?
- Anda menghubungi bahkan mengunjungi kerabat dan sahabat, untuk silaturahim dan bermaaf-maafan. Ikatan batin pun menguat lantaran Anda buka puasa bareng dan taraweh bareng. Bagaimana mungkin itu nggak berdampak?
Malah, ini semua terjadi bukan saja 21 hari, melainkan 30 hari. Kurang-lebih seperti itu. Kalau hari biasa saja berdampak, APALAGI Ramadhan. APALAGI Anda melakukan itu semua sambil berpuasa. Nggak diragukan lagi, berlapis-lapis dampaknya!
Tulisan ini adalah 'goodness in practice'. Mungkin Anda terpikir untuk men-share tulisan ini kepada keluarga Anda dan teman-teman Anda, karena Anda ingin mereka lebih bersemangat dalam mengisi Ramadhan. Silakan saja. Niscaya dampaknya akan bertambah lagi dan lagi. Berkah? Pahala? Niscaya akan turut serta.
Yang saya yakini, Ramadhan bukan saja momentum untuk perbaikan iman dan akhlak. Namun menyimpan bonus tambahan. Ya, bonus tambahan. Apa itu? Perbaikan nasib dan rezeki. Terlebih-lebih lagi jika kita melakukannya dengan setulus hati dan sepenuh hati.
Siapa yang sanggup membantah kebaikan di balik Ramadhan? Saya harap Anda sependapat dengan saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya. Semoga berkah berlimpah.
#Ramadhan adalah massive training terbesar dan terlama di dunia! Itulah yang sebenarnya. Dan salah satu output yang diharapkan adalah meningkatnya kepekaan dan kepedulian kita kepada sesama. Mungkin dengan berbagi. Mungkin dengan memberdayakan.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk 'Top Incomes and Human Well-Being Around the World' dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Tentu, ini tidak mudah. Apalagi keluarga kaya cenderung ingin bersanding dengan keluarga kaya lainnya. Menurut penelitian University of California, orang tua yang kaya cenderung menikahkan anaknya demi harta dan masa depan yang lebih cerah bagi sang anak. Ini juga dilansir oleh WesternDailyPress.co.uk.
Begini. Tidak mudah bukan berarti mustahil. Right? Kita mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Berbagi. Memberdayakan. Saya melihat, ketika kekayaan terpusat pada segelintir orang, maka kedengkian dan ujung-ujungnya kriminalitas akan meningkat. Yang rugi yah kita semua.
Bulan puasa mengajarkan kita untuk lebih peka dan lebih peduli. Betul apa betul? Apalagi saat zakat fitrah dan zakat harta dikeluarkan. Sekali lagi, kita mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Berbagi. Memberdayakan. Insya Allah pasti berkah berlimpah. Sekian dari saya, #IpphoSantosa.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk 'Top Incomes and Human Well-Being Around the World' dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Tentu, ini tidak mudah. Apalagi keluarga kaya cenderung ingin bersanding dengan keluarga kaya lainnya. Menurut penelitian University of California, orang tua yang kaya cenderung menikahkan anaknya demi harta dan masa depan yang lebih cerah bagi sang anak. Ini juga dilansir oleh WesternDailyPress.co.uk.
Begini. Tidak mudah bukan berarti mustahil. Right? Kita mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Berbagi. Memberdayakan. Saya melihat, ketika kekayaan terpusat pada segelintir orang, maka kedengkian dan ujung-ujungnya kriminalitas akan meningkat. Yang rugi yah kita semua.
Bulan puasa mengajarkan kita untuk lebih peka dan lebih peduli. Betul apa betul? Apalagi saat zakat fitrah dan zakat harta dikeluarkan. Sekali lagi, kita mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Berbagi. Memberdayakan. Insya Allah pasti berkah berlimpah. Sekian dari saya, #IpphoSantosa.
Bagaimana puasa teman-teman hari ini? Semoga lancar-lancar saja semuanya.
Gabriel Cousens, MD, Founder Tree Of Life Rejuvenation Center, mengakui bahwa mereka yang berpuasa akan mengalami peningkatan konsentrasi, kreativitas, dan ketenangan.
Btw, terkait #BulanPuasa, hanya segelintir orang yang tahu bahwa hal-hal berikut ini beneran terjadi:
- Ternyata Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa (Jayakarta) ketika bulan puasa.
- Ternyata NKRI tercinta ini merdeka ketika bulan puasa, tepatnya Jumat 9 Ramadhan.
- Ternyata Peristiwa Badar dan Peristiwa Tabuk dimenangkan ketika bulan puasa.
- Ternyata Penaklukkan Makkah dan Pembukaan Andalusia terjadi ketika bulan puasa.
- Ternyata Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali negeri-negeri yang dikuasai musuh ketika bulan puasa.
- Ternyata pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo (salah satu kampus tertua di dunia), terjadi ketika bulan puasa.
Demikianlah. #Ramadhan disebut-sebut bulan yang penuh berkah. Apa sih ciri-ciri keberkahan itu? Salah satunya, dengan waktu yang sedikit terhasilkan manfaat yang banyak. Oleh karena itu, berpuasa janganlah dijadikan dalih untuk bermalas-malasan.
Ini sama sekali tidak cocok dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Sejarah sudah berkali-kali membuktikannya. Ramadhan hendaknya menjadi bulan yang efektif (karena banyak hal hebat yang dicapai) dan efisien (karena banyak hal rutin yang dihemat).
Ramadhan memang hebat, tiada duanya. Sekiranya Anda setuju dengan tulisan ini, silakan tulisan ini di-share kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda. Mention mereka. Semoga menjadi amal baik bagi kita semua.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.
Gabriel Cousens, MD, Founder Tree Of Life Rejuvenation Center, mengakui bahwa mereka yang berpuasa akan mengalami peningkatan konsentrasi, kreativitas, dan ketenangan.
Btw, terkait #BulanPuasa, hanya segelintir orang yang tahu bahwa hal-hal berikut ini beneran terjadi:
- Ternyata Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa (Jayakarta) ketika bulan puasa.
- Ternyata NKRI tercinta ini merdeka ketika bulan puasa, tepatnya Jumat 9 Ramadhan.
- Ternyata Peristiwa Badar dan Peristiwa Tabuk dimenangkan ketika bulan puasa.
- Ternyata Penaklukkan Makkah dan Pembukaan Andalusia terjadi ketika bulan puasa.
- Ternyata Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali negeri-negeri yang dikuasai musuh ketika bulan puasa.
- Ternyata pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo (salah satu kampus tertua di dunia), terjadi ketika bulan puasa.
Demikianlah. #Ramadhan disebut-sebut bulan yang penuh berkah. Apa sih ciri-ciri keberkahan itu? Salah satunya, dengan waktu yang sedikit terhasilkan manfaat yang banyak. Oleh karena itu, berpuasa janganlah dijadikan dalih untuk bermalas-malasan.
Ini sama sekali tidak cocok dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Sejarah sudah berkali-kali membuktikannya. Ramadhan hendaknya menjadi bulan yang efektif (karena banyak hal hebat yang dicapai) dan efisien (karena banyak hal rutin yang dihemat).
Ramadhan memang hebat, tiada duanya. Sekiranya Anda setuju dengan tulisan ini, silakan tulisan ini di-share kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda. Mention mereka. Semoga menjadi amal baik bagi kita semua.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.