Alokasikan uang dan waktu untuk belajar. Jangan berdalih 'Sibuk!'
Buktinya yang lain sempat. Apa mereka pengangguran? Nggak tho? Mereka juga punya banyak kegiatan. Sangat banyak.
Yang jelas, mereka adalah orang-orang serius untuk urusan pengembangan diri. Karena itulah mereka menyisihkan uang dan waktu untuk belajar.
Buktinya yang lain sempat. Apa mereka pengangguran? Nggak tho? Mereka juga punya banyak kegiatan. Sangat banyak.
Yang jelas, mereka adalah orang-orang serius untuk urusan pengembangan diri. Karena itulah mereka menyisihkan uang dan waktu untuk belajar.
Seandainya Anda harus memilih, kira-kira apa pilihan Anda, uang atau waktu luang? Jangan langsung dijawab, coba pikirkan dulu.
Sekarang, apa jawaban Anda?
Menurut riset dalam Journal of Social Psychological and Personality Science, memiliki waktu luang akan meningkatkan kebahagiaan daripada memiliki uang. Benarkah? Ya, benar. Tidak main-main, kesimpulan itu dihasilkan berdasarkan survei atas 4.600 responden.
Terbukti sebagian orang rela mengorbankan uang demi berlibur, membayar toll demi hemat waktu, menolak lembur demi ngumpul sama keluarga, memilih pesawat terbang yang lebih mahal daripada kereta api, dst. Betul apa betul?
Waktu luang dan uang, tentu kedua-duanya kita perlukan. Ini tak bisa disangkal. Dan ketidakseimbangan di antara keduanya akan memicu kekusutan dalam hidup kita.
- Kebayang, punya waktu luang tapi sama sekali tidak punya uang?
- Kebayang kalau sebaliknya, punya uang tapi sama sekali tidak punya waktu luang?
Kebayang?
Menariknya, semakin berumur seseorang, semakin besar prioritasnya pada waktu luang. Dan semakin mapan seseorang, semakin besar prioritasnya pada waktu luang. Biasanya kita seperti itu, walaupun ini tidak berlaku pada semua orang. Di mana-mana, pengecualian itu selalu ada.
Satu poin yang perlu ditekankan berulang-ulang di sini adalah, kesibukan kita mencari uang sering mengabaikan 'quality time' untuk keluarga dan ibadah. Nah, sekiranya sampai terjadi, yah ini patut disayangkan.
Keluarga dan ibadah hendaknya menjadi sentral dalam kehidupan kita, tak jadi soal sesibuk apapun kita. Idealnya, terkait waktu untuk keluarga dan ibadah, kita mampu mencukupkan 'quantity' dan 'quality'. Kalaupun terpaksa mengorbankan salah satunya, maka 'quality' jangan pernah diabaikan. Yup, utamakan 'quality'.
Ini pula yang dipesankan Richard Branson (Virgin Group) kepada saya beberapa waktu yang lalu, ketika saya tanyakan kepadanya keterkaitan antara keluarga dan bisnis. Memang dia bukan sosok yang sempurna. Tapi banyak hal yang bisa kita pelajari darinya terutama keterkaitan antara keluarga dan bisnis.
Sekian dulu inspirasi untuk hari ini, kapan-kapan kita sambung lagi. Happy weekend! Salam berkah berlimpah dari saya, Ippho Santosa!
Sekarang, apa jawaban Anda?
Menurut riset dalam Journal of Social Psychological and Personality Science, memiliki waktu luang akan meningkatkan kebahagiaan daripada memiliki uang. Benarkah? Ya, benar. Tidak main-main, kesimpulan itu dihasilkan berdasarkan survei atas 4.600 responden.
Terbukti sebagian orang rela mengorbankan uang demi berlibur, membayar toll demi hemat waktu, menolak lembur demi ngumpul sama keluarga, memilih pesawat terbang yang lebih mahal daripada kereta api, dst. Betul apa betul?
Waktu luang dan uang, tentu kedua-duanya kita perlukan. Ini tak bisa disangkal. Dan ketidakseimbangan di antara keduanya akan memicu kekusutan dalam hidup kita.
- Kebayang, punya waktu luang tapi sama sekali tidak punya uang?
- Kebayang kalau sebaliknya, punya uang tapi sama sekali tidak punya waktu luang?
Kebayang?
Menariknya, semakin berumur seseorang, semakin besar prioritasnya pada waktu luang. Dan semakin mapan seseorang, semakin besar prioritasnya pada waktu luang. Biasanya kita seperti itu, walaupun ini tidak berlaku pada semua orang. Di mana-mana, pengecualian itu selalu ada.
Satu poin yang perlu ditekankan berulang-ulang di sini adalah, kesibukan kita mencari uang sering mengabaikan 'quality time' untuk keluarga dan ibadah. Nah, sekiranya sampai terjadi, yah ini patut disayangkan.
Keluarga dan ibadah hendaknya menjadi sentral dalam kehidupan kita, tak jadi soal sesibuk apapun kita. Idealnya, terkait waktu untuk keluarga dan ibadah, kita mampu mencukupkan 'quantity' dan 'quality'. Kalaupun terpaksa mengorbankan salah satunya, maka 'quality' jangan pernah diabaikan. Yup, utamakan 'quality'.
Ini pula yang dipesankan Richard Branson (Virgin Group) kepada saya beberapa waktu yang lalu, ketika saya tanyakan kepadanya keterkaitan antara keluarga dan bisnis. Memang dia bukan sosok yang sempurna. Tapi banyak hal yang bisa kita pelajari darinya terutama keterkaitan antara keluarga dan bisnis.
Sekian dulu inspirasi untuk hari ini, kapan-kapan kita sambung lagi. Happy weekend! Salam berkah berlimpah dari saya, Ippho Santosa!
Sibuk bukan berarti produktif. Hasil, inilah patokan utama untuk produktif.
Dunia online, jangan dianggap enteng. Bisnis online, kalau ditekuni, hasilnya bisa menyamai bahkan melebihi bisnis offline. Itulah faktanya.
Kenapa bisnis online semakin digemari belakangan ini? Banyak alasannya. Tak perlu ruko. Tak perlu karyawan. Tak perlu perizinan. Setidaknya di tahap awal. Hemat tho? Satu lagi. Tak perlu keahlian berbicara.
Begitulah. Toko online, bagian dari bisnis online, tidak membutuhkan banyak modal. Pada umumnya, toko atau ruko adalah sebuah bangunan yang di dalamnya tertata rapi barang-barang dagangan, baik itu kebutuhan primer maupun sekunder.
Namun, lain halnya dengan toko online. Beda. Toko online tidak membutuhkan toko fisik atau bangunan fisik. Right?
Anda hanya memerlukan gadget, koneksi internet, dan pandai dalam menyiapkan template (untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan konsumen). Secara umum, cuma itu. Produk? Tak harus dibikin sendiri. Jadinya sangat hemat dan sangat mudah.
Pastikan saja kualitas dan spesifikasi barang yang dijual sesuai dengan harapan konsumen. So, hindari janji dan tampilan berlebihan ketika berpromosi. Menjaga nama baik sangat diperlukan dalam bisnis apapun, entah itu online atau offline.
Sebab orang hanya tahu nama Anda atau nama toko Anda, tak peduli produk Anda dari mana. Ya, ini soal reputasi. Sesuatu yang sangat mahal.
Bilamana Anda membuat suatu kesalahan, seperti barang tidak sesuai spesifikasi, maka ini bisa menyebabkan orang-orang kecewa dan memberikan testimoni yang buruk. Ujung-ujungnya nama Anda dan nama toko Anda akan tercemar. Bahkan bisa viral.
Tantangan berikutnya, bagaimana caranya agar bisnis online atau toko online Anda diketahui oleh orang banyak. Tidak bisa tidak, Anda harus mengoptimasi socmed, web, dan blog Anda. Sehingga muncul dan selalu muncul ketika konsumen mencari (search) di socmed dan Google.
Untuk itulah, kita perlu belajar internet marketing. Ya, internet marketing. Percayalah, ini tidak sesulit yang dibayangkan. Belajar dan praktek 2 minggu saja, sudah kelihatan hasilnya. Yang penting, kita sungguh-sungguh belajar dan berani mencoba.
Happy selling! Semoga berkah berlimpah!
Kenapa bisnis online semakin digemari belakangan ini? Banyak alasannya. Tak perlu ruko. Tak perlu karyawan. Tak perlu perizinan. Setidaknya di tahap awal. Hemat tho? Satu lagi. Tak perlu keahlian berbicara.
Begitulah. Toko online, bagian dari bisnis online, tidak membutuhkan banyak modal. Pada umumnya, toko atau ruko adalah sebuah bangunan yang di dalamnya tertata rapi barang-barang dagangan, baik itu kebutuhan primer maupun sekunder.
Namun, lain halnya dengan toko online. Beda. Toko online tidak membutuhkan toko fisik atau bangunan fisik. Right?
Anda hanya memerlukan gadget, koneksi internet, dan pandai dalam menyiapkan template (untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan konsumen). Secara umum, cuma itu. Produk? Tak harus dibikin sendiri. Jadinya sangat hemat dan sangat mudah.
Pastikan saja kualitas dan spesifikasi barang yang dijual sesuai dengan harapan konsumen. So, hindari janji dan tampilan berlebihan ketika berpromosi. Menjaga nama baik sangat diperlukan dalam bisnis apapun, entah itu online atau offline.
Sebab orang hanya tahu nama Anda atau nama toko Anda, tak peduli produk Anda dari mana. Ya, ini soal reputasi. Sesuatu yang sangat mahal.
Bilamana Anda membuat suatu kesalahan, seperti barang tidak sesuai spesifikasi, maka ini bisa menyebabkan orang-orang kecewa dan memberikan testimoni yang buruk. Ujung-ujungnya nama Anda dan nama toko Anda akan tercemar. Bahkan bisa viral.
Tantangan berikutnya, bagaimana caranya agar bisnis online atau toko online Anda diketahui oleh orang banyak. Tidak bisa tidak, Anda harus mengoptimasi socmed, web, dan blog Anda. Sehingga muncul dan selalu muncul ketika konsumen mencari (search) di socmed dan Google.
Untuk itulah, kita perlu belajar internet marketing. Ya, internet marketing. Percayalah, ini tidak sesulit yang dibayangkan. Belajar dan praktek 2 minggu saja, sudah kelihatan hasilnya. Yang penting, kita sungguh-sungguh belajar dan berani mencoba.
Happy selling! Semoga berkah berlimpah!
Belanja online sudah menjadi gaya hidup orang perkotaan. Saya yakin Anda dan keluarga Anda juga merasakannya. Dengan belanja online, seseorang tak perlu lagi berkeliling di pusat perbelanjaan hanya untuk mencari barang-barang yang dibutuhkan.
Cukup browsing saja. Ya, berbelanja online ternyata memberikan kepuasan yang sama dengan berbelanja offline. Setidaknya, hampir sama. Terutama bagi mereka yang mengutamakan harga dan kepraktisan.
Ini peluang bagi mereka yang melek bisnis. Oleh sebab itu, kini banyak penjual yang berlomba-lomba membuka bisnis online. Bisnis offline? Toko fisik? Sedikit-banyak yah berkurang bahkan terganggu. Mari kita lihat satu per satu.
Suasana di Mall Mangga Dua, Jakarta Utara, tampak agak sepi belakangan ini. Begitulah selama tiga-empat tahun terakhir. Lebih banyak toko yang tutup daripada yang buka.
Saat ini, satu lantai paling hanya belasan atau puluhan toko yang buka, padahal jumlah tokonya ada ratusan. Menurut penjual, setelah ada toko-toko online, memang terasa lebih sepi.
Namun, sepinya Mall Mangga Dua ini tak berarti toko-toko di sana kehilangan pembeli. Tidak begitu. Sebab, rata-rata penjual juga mulai memasarkan dagangannya secara online.
Pasar Gembrong dan Pasar Glodok pun mengalami hal serupa. Lebih sepi belakangan ini dan mereka pelan-pelan mulai berbisnis online. Kata penjual, "Kita kalau enggak ikut online, yah habislah."
Ironisnya, masih banyak pedagang yang kurang melek internet. Padahal internet adalah now market dan next market. Saat ini, sangat besar. Ke depannya, jauh lebih besar. Terus, bagaimana dengan kita? Sampai kapan kita cuma diam jadi penonton? Saran saya, "Jadilah pemain. Jadilah pelaku."
Dengan internet (go online), kita tidak perlu lagi menyewa ruko atau buka stand. Tidak perlu lagi memasang spanduk, flyer, dan iklan koran. Hemat tho? Cukuplah kita mengoptimasi Facebook, Instagram, dan Blogspot, sehingga otomatis bisnis kita dan produk kita muncul di mana-mana ketika konsumen mencari.
Ya, sudah saatnya kita go online dan melakukan optimasi. Ini bukan pilihan lagi, melainkan keharusan. Bagian dari menyempurnakan ikhtiar. Mudah-mudahan berkah dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Cukup browsing saja. Ya, berbelanja online ternyata memberikan kepuasan yang sama dengan berbelanja offline. Setidaknya, hampir sama. Terutama bagi mereka yang mengutamakan harga dan kepraktisan.
Ini peluang bagi mereka yang melek bisnis. Oleh sebab itu, kini banyak penjual yang berlomba-lomba membuka bisnis online. Bisnis offline? Toko fisik? Sedikit-banyak yah berkurang bahkan terganggu. Mari kita lihat satu per satu.
Suasana di Mall Mangga Dua, Jakarta Utara, tampak agak sepi belakangan ini. Begitulah selama tiga-empat tahun terakhir. Lebih banyak toko yang tutup daripada yang buka.
Saat ini, satu lantai paling hanya belasan atau puluhan toko yang buka, padahal jumlah tokonya ada ratusan. Menurut penjual, setelah ada toko-toko online, memang terasa lebih sepi.
Namun, sepinya Mall Mangga Dua ini tak berarti toko-toko di sana kehilangan pembeli. Tidak begitu. Sebab, rata-rata penjual juga mulai memasarkan dagangannya secara online.
Pasar Gembrong dan Pasar Glodok pun mengalami hal serupa. Lebih sepi belakangan ini dan mereka pelan-pelan mulai berbisnis online. Kata penjual, "Kita kalau enggak ikut online, yah habislah."
Ironisnya, masih banyak pedagang yang kurang melek internet. Padahal internet adalah now market dan next market. Saat ini, sangat besar. Ke depannya, jauh lebih besar. Terus, bagaimana dengan kita? Sampai kapan kita cuma diam jadi penonton? Saran saya, "Jadilah pemain. Jadilah pelaku."
Dengan internet (go online), kita tidak perlu lagi menyewa ruko atau buka stand. Tidak perlu lagi memasang spanduk, flyer, dan iklan koran. Hemat tho? Cukuplah kita mengoptimasi Facebook, Instagram, dan Blogspot, sehingga otomatis bisnis kita dan produk kita muncul di mana-mana ketika konsumen mencari.
Ya, sudah saatnya kita go online dan melakukan optimasi. Ini bukan pilihan lagi, melainkan keharusan. Bagian dari menyempurnakan ikhtiar. Mudah-mudahan berkah dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Utang adalah masalah bagi banyak orang. Mungkin Anda juga termasuk. Sepertinya tulisan berikut ini pas dan pantas buat Anda. Satu hal yang perlu diingat, alangkah baiknya kata 'utang' diganti dengan kata 'amanah' dan 'tanggung-jawab'. Ini lebih memberdayakan.
Punya utang? Yah bayar... Belum bisa? Cicil sebisanya... Kalau kabur? Masalah malah bertambah... Sekiranya pemberi utang tidak ridha, maka rezeki dan hidup kita akan semakin susah. Beneran, susah...
Soal lain. Pengen ngutang. Kalau kita lagi miskin dan susah, terus orang kaya yang kita kenal nggak mau membantu kita, apa yang harus kita lakukan? Nyalahin si kaya, inilah reaksi orang rata-rata. Baguskah itu? Begini ya. Si kaya yang pelit, jelas dia itu salah dan bermasalah. Namun ada baiknya juga kita melihat sisi lainnya biar berimbang.
Pertama, sebaik-baiknya berharap dan meminta hanya kepada Yang Maha Kaya, bukan kepada makhluk-Nya yang kadang cuma berlagak kaya. Terus, ngapain kita ngarepin dan nyalahin orang lain? Orang-orang yang bermental kaya pasti setuju dengan pernyataan saya ini. Kalau Anda setuju, silakan share tulisan ini.
Kedua, kita introspeksi. Kok dia nggak mau membantu? Selama ini, apa kekuranganku? Ketika meminta, gimana sikap dan caraku? Mungkinkah aku tidak pernah menanam selama ini? Mungkinkah aku nggak pantas dan nggak bisa dipercaya untuk dibantu? Kenapa Tuhan-ku Yang Maha Pemurah tidak meng-gerakkan hati si kaya untuk membantu?
Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Begitulah. Introspeksi, itu jauh lebih baik.
Ketiga, belajar ilmu uang agar ke depan tidak keteteran uang lagi. Misalnya ilmu bisnis, ilmu penjualan, dan ilmu internet marketing. Ini lebiiiiih memberdayakan. Dan di sini saya tidak bermaksud menyinggung Anda atau siapapun. Ini kesimpulan saya, berdasarkan pengalaman sewaktu miskin dan susah dulu.
Praktek ya. Semoga lunas, berkah, dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Setelah berseminar di belasan negara di 5 benua, seminar saya kembali hadir di Korea untuk keempat kalinya. Alhamdulillah. Tepatnya 14-15 Juli. Kabari keluarga dan teman-teman kita di Korea ya. Terbuka untuk umum)
Punya utang? Yah bayar... Belum bisa? Cicil sebisanya... Kalau kabur? Masalah malah bertambah... Sekiranya pemberi utang tidak ridha, maka rezeki dan hidup kita akan semakin susah. Beneran, susah...
Soal lain. Pengen ngutang. Kalau kita lagi miskin dan susah, terus orang kaya yang kita kenal nggak mau membantu kita, apa yang harus kita lakukan? Nyalahin si kaya, inilah reaksi orang rata-rata. Baguskah itu? Begini ya. Si kaya yang pelit, jelas dia itu salah dan bermasalah. Namun ada baiknya juga kita melihat sisi lainnya biar berimbang.
Pertama, sebaik-baiknya berharap dan meminta hanya kepada Yang Maha Kaya, bukan kepada makhluk-Nya yang kadang cuma berlagak kaya. Terus, ngapain kita ngarepin dan nyalahin orang lain? Orang-orang yang bermental kaya pasti setuju dengan pernyataan saya ini. Kalau Anda setuju, silakan share tulisan ini.
Kedua, kita introspeksi. Kok dia nggak mau membantu? Selama ini, apa kekuranganku? Ketika meminta, gimana sikap dan caraku? Mungkinkah aku tidak pernah menanam selama ini? Mungkinkah aku nggak pantas dan nggak bisa dipercaya untuk dibantu? Kenapa Tuhan-ku Yang Maha Pemurah tidak meng-gerakkan hati si kaya untuk membantu?
Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Begitulah. Introspeksi, itu jauh lebih baik.
Ketiga, belajar ilmu uang agar ke depan tidak keteteran uang lagi. Misalnya ilmu bisnis, ilmu penjualan, dan ilmu internet marketing. Ini lebiiiiih memberdayakan. Dan di sini saya tidak bermaksud menyinggung Anda atau siapapun. Ini kesimpulan saya, berdasarkan pengalaman sewaktu miskin dan susah dulu.
Praktek ya. Semoga lunas, berkah, dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Setelah berseminar di belasan negara di 5 benua, seminar saya kembali hadir di Korea untuk keempat kalinya. Alhamdulillah. Tepatnya 14-15 Juli. Kabari keluarga dan teman-teman kita di Korea ya. Terbuka untuk umum)
Di sebuah swalayan, teman saya tertawa ketika melihat ada produk yang dijual sangat murah. Dia bilang, "Jual rugi tuh."
Saya tanya, "Tahu dari mana mereka jual rugi?"
Dia jawab, "Saya tahu persis cost-nya. Nggak mungkin untung kalau dijual dengan harga segitu."
Baiklah.
Sebenarnya, mungkin saja sebuah swalayan atau ritel manapun untuk menjual barang dengan harga cost bahkan di bawah cost alias rugi. Anda pun bertanya, "Lha, kalau begitu, untungnya dari mana?"
Simple saja. Untungnya dari produk-produk yang lain. Begitulah, satu produk dimurahin, sehingga mengundang crowd (keramaian), lalu crowd ini diharapkan membeli produk-produk lain yang yang dijual dengan harga normal.
Crowd is cash.
Misal, Anda jualan pakaian.
Maka:
- kaos kaki mungkin dimurahin
- syal atau scarf mungkin dimurahin
- agar orang-orang datang (crowd)
- kemeja dll dijual dengan harga normal
Sampai di sini dapat disimpulkan, ada 1 atau 2 produk yang digunakan untuk memancing crowd. Ada pula produk-produk yang dirancang untuk mencetak keuntungan.
Cash sangat ditentukan oleh crowd (keramaian). So? Mesti ada produk-produk yang mengundang crowd. Mesti ada event berkala yang mengundang crowd. Mesti ada promosi khusus yang mengundang crowd.
Kalau ini benar-benar dilakukan, niscaya akan berdampak langsung ke cash. Ya, berdampak langsung.
Contoh lain?
Misal, Anda jualan bakso.
Maka:
- baksonya mungkin dimurahin
- terus, murahnya ini dipromosiin
- agar orang-orang datang (crowd)
- teh botol dll dijual dengan harga normal
Crowd is cash. Paham sampai di sini?
Praktek ya. Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya tanya, "Tahu dari mana mereka jual rugi?"
Dia jawab, "Saya tahu persis cost-nya. Nggak mungkin untung kalau dijual dengan harga segitu."
Baiklah.
Sebenarnya, mungkin saja sebuah swalayan atau ritel manapun untuk menjual barang dengan harga cost bahkan di bawah cost alias rugi. Anda pun bertanya, "Lha, kalau begitu, untungnya dari mana?"
Simple saja. Untungnya dari produk-produk yang lain. Begitulah, satu produk dimurahin, sehingga mengundang crowd (keramaian), lalu crowd ini diharapkan membeli produk-produk lain yang yang dijual dengan harga normal.
Crowd is cash.
Misal, Anda jualan pakaian.
Maka:
- kaos kaki mungkin dimurahin
- syal atau scarf mungkin dimurahin
- agar orang-orang datang (crowd)
- kemeja dll dijual dengan harga normal
Sampai di sini dapat disimpulkan, ada 1 atau 2 produk yang digunakan untuk memancing crowd. Ada pula produk-produk yang dirancang untuk mencetak keuntungan.
Cash sangat ditentukan oleh crowd (keramaian). So? Mesti ada produk-produk yang mengundang crowd. Mesti ada event berkala yang mengundang crowd. Mesti ada promosi khusus yang mengundang crowd.
Kalau ini benar-benar dilakukan, niscaya akan berdampak langsung ke cash. Ya, berdampak langsung.
Contoh lain?
Misal, Anda jualan bakso.
Maka:
- baksonya mungkin dimurahin
- terus, murahnya ini dipromosiin
- agar orang-orang datang (crowd)
- teh botol dll dijual dengan harga normal
Crowd is cash. Paham sampai di sini?
Praktek ya. Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kemarin saya seminar dan kopdar dengan mitra-mitra di Karawang, sekitar 2 jam dari Jakarta.
Kita harus bangga dengan profesi kita. Makanya saya sering berpesan, "Tak perlu minder, semua orang bisa jadi miliarder."
Jangan minder, itu resep pertama. Resep selanjutnya? Mari perbaiki cara pandang kita terhadap orang kaya dan kekayaan. Jangan negatif. Saya melihat, banyak orang kaya yang ideal. Rumahtangga mereka oke, ibadah mereka oke, sedekah mereka oke, silaturahim mereka oke, dan lain-lain.
Cuma, publik dan media biasanya menyorot yang sebaliknya. Publik dan media demen mengekspos si kaya yang korup, yang bercerai, yang ribut sama temannya, dan sebagainya. Ini repot. Sehingga persepsi kita buruk terhadap kekayaan. Mestinya, yah netral. Saya ulang, netral.
Setelah memperbaiki cara pandang, terus apa lagi?
Resep berikutnya, belajarlah dari orang yang tepat. Jack Ma (Ali Baba), salah satu orang terkaya di Tiongkok, pernah berpetuah, "Kalau Anda masih muda, yang terpenting adalah 'dengan siapa Anda bekerja' BUKAN 'di perusahaan mana Anda bekerja' karena dari orang yang tepat Anda akan belajar langsung tentang dream lagi passion."
Sambung Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Sekali lagi, agar Anda dapat belajar langsung dari orang yang tepat. Ini petuah yang sangat tajam dan menukik, menurut saya. Sebagian orang bangga karena telah bekerja di perusahaan multinasional. Padahal bukan itu yang utama.
Orang yang tepat di mana Anda bisa belajar secara langsung, itu yang lebih utama.
Inilah tiga resep sederhana kalau Anda ingin menjadi miliarder atau sukses besar-besaran di usia muda. Besar harapan saya, Anda mau menerapkannya dengan sungguh-sungguh. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Kita harus bangga dengan profesi kita. Makanya saya sering berpesan, "Tak perlu minder, semua orang bisa jadi miliarder."
Jangan minder, itu resep pertama. Resep selanjutnya? Mari perbaiki cara pandang kita terhadap orang kaya dan kekayaan. Jangan negatif. Saya melihat, banyak orang kaya yang ideal. Rumahtangga mereka oke, ibadah mereka oke, sedekah mereka oke, silaturahim mereka oke, dan lain-lain.
Cuma, publik dan media biasanya menyorot yang sebaliknya. Publik dan media demen mengekspos si kaya yang korup, yang bercerai, yang ribut sama temannya, dan sebagainya. Ini repot. Sehingga persepsi kita buruk terhadap kekayaan. Mestinya, yah netral. Saya ulang, netral.
Setelah memperbaiki cara pandang, terus apa lagi?
Resep berikutnya, belajarlah dari orang yang tepat. Jack Ma (Ali Baba), salah satu orang terkaya di Tiongkok, pernah berpetuah, "Kalau Anda masih muda, yang terpenting adalah 'dengan siapa Anda bekerja' BUKAN 'di perusahaan mana Anda bekerja' karena dari orang yang tepat Anda akan belajar langsung tentang dream lagi passion."
Sambung Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Sekali lagi, agar Anda dapat belajar langsung dari orang yang tepat. Ini petuah yang sangat tajam dan menukik, menurut saya. Sebagian orang bangga karena telah bekerja di perusahaan multinasional. Padahal bukan itu yang utama.
Orang yang tepat di mana Anda bisa belajar secara langsung, itu yang lebih utama.
Inilah tiga resep sederhana kalau Anda ingin menjadi miliarder atau sukses besar-besaran di usia muda. Besar harapan saya, Anda mau menerapkannya dengan sungguh-sungguh. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Anda punya masalah?
Sebesar apa?
Seberat apa?
Masalah selalu ada. Mana mungkin tiada? Yang penting ialah sikap kita dan cara kita terhadap masalah. Baik dalam kerja maupun dalam bisnis.
Sering kali masalah bertambah hanya karena sikap kita dan cara kita yang salah. Misal, kita menganggap itu karena kesalahan orang lain. Jujur saya pun pernah begitu.
Terkait masalah, saya sangat menyarankan teman-teman untuk MEMBACA KE DALAM. Maksudnya, introspeksi. Bukan menyalah-nyalahkan pihak lain.
Tak mungkin masalah terjadi begitu saja. Jangan-jangan kita penyebabnya. Sedikit-banyak, pasti ada peran kita. Right? Sekali lagi, introspeksi.
Kedua, maknai masalah sebagai tantangan atau ujian untuk naik kelas. Bukan beban.
Salah makna, salah respons. Kalau respons-nya salah, hasilnya juga pasti salah. Hati-hati.
Ketiga, utamakan curhat ke Allah ketimbang manusia. Bukankah Allah itu sangat dekat dengan kita? Bukankah Allah itu sangat kuat dan mampu melindungi kita?
Terus, kenapa kita masih bingung berlebihan saat ada masalah dan memikirkan siang-malam solusinya. Coba renungkan ini sejenak.
Boleh-boleh saja kita curhat dengan orang yang kita percaya. Boleh. Nggak dilarang. Tapi jangan sampai kita menomorduakan bahkan mengabaikan Allah.
Sebaliknya, jadikan Allah sebagai sandaran pertama dan utama. Bukan yang lain. Dengan melibatkan Allah, niscaya hati akan terasa lebih tentram.
Silakan dicoba ya. Semoga bermanfaat.
Sebesar apa?
Seberat apa?
Masalah selalu ada. Mana mungkin tiada? Yang penting ialah sikap kita dan cara kita terhadap masalah. Baik dalam kerja maupun dalam bisnis.
Sering kali masalah bertambah hanya karena sikap kita dan cara kita yang salah. Misal, kita menganggap itu karena kesalahan orang lain. Jujur saya pun pernah begitu.
Terkait masalah, saya sangat menyarankan teman-teman untuk MEMBACA KE DALAM. Maksudnya, introspeksi. Bukan menyalah-nyalahkan pihak lain.
Tak mungkin masalah terjadi begitu saja. Jangan-jangan kita penyebabnya. Sedikit-banyak, pasti ada peran kita. Right? Sekali lagi, introspeksi.
Kedua, maknai masalah sebagai tantangan atau ujian untuk naik kelas. Bukan beban.
Salah makna, salah respons. Kalau respons-nya salah, hasilnya juga pasti salah. Hati-hati.
Ketiga, utamakan curhat ke Allah ketimbang manusia. Bukankah Allah itu sangat dekat dengan kita? Bukankah Allah itu sangat kuat dan mampu melindungi kita?
Terus, kenapa kita masih bingung berlebihan saat ada masalah dan memikirkan siang-malam solusinya. Coba renungkan ini sejenak.
Boleh-boleh saja kita curhat dengan orang yang kita percaya. Boleh. Nggak dilarang. Tapi jangan sampai kita menomorduakan bahkan mengabaikan Allah.
Sebaliknya, jadikan Allah sebagai sandaran pertama dan utama. Bukan yang lain. Dengan melibatkan Allah, niscaya hati akan terasa lebih tentram.
Silakan dicoba ya. Semoga bermanfaat.
Punya produk yang sejenis dengan teman? Sebut saja, bersaing satu sama lain. Sebenarnya nggak masalah. Kalau perlu, bantu teman kita untuk jualan.
Sekiranya ada potential customer, jangan malah rebutan. Cobalah mengalah. Insya Allah ini bagian dari sedekah. Ya, bagian dari mental kaya.
Saat kita rebutan prospect, berarti kita berpikir secara sadar atau tidak sadar bahwa REZEKI ITU TERBATAS. Sampai diperebutkan segala.
Padahal, rezeki itu tanpa batas. Adalah benar rezeki harus diikhtiarkan namun tak perlu sampai rebut-rebutan apalagi ribut-ribut. Betul apa betul?
Lapang hati diterapkan bukan saat berdoa dan berzikir saja. Tapi hendaknya juga diterapkan dalam keseharian, kerja dan bisnis. Praktek deh. Semoga berkah berlimpah.
Sekiranya ada potential customer, jangan malah rebutan. Cobalah mengalah. Insya Allah ini bagian dari sedekah. Ya, bagian dari mental kaya.
Saat kita rebutan prospect, berarti kita berpikir secara sadar atau tidak sadar bahwa REZEKI ITU TERBATAS. Sampai diperebutkan segala.
Padahal, rezeki itu tanpa batas. Adalah benar rezeki harus diikhtiarkan namun tak perlu sampai rebut-rebutan apalagi ribut-ribut. Betul apa betul?
Lapang hati diterapkan bukan saat berdoa dan berzikir saja. Tapi hendaknya juga diterapkan dalam keseharian, kerja dan bisnis. Praktek deh. Semoga berkah berlimpah.
Dr David Hugh Jones dan tim peneliti dari University of East Anglia (UEA) menemukan bahwa tingkat kejujuran seseorang berbeda di setiap negara. Menurutnya, warga Inggris dan warga Jepang mencatatkan poin tertinggi dalam hal kejujuran.
Beberapa waktu ke depan, saya diminta memberikan training selama dua hari untuk sebuah lembaga negara yang amat disegani. Salah satu materi yang mereka request adalah soal kejujuran.
Kejujuran, ini adalah barang langka. Ya, orang #jujur memang langka. Tapi kalau kita berusaha untuk jujur, maka kita akan menjadi orang yang dicari-cari dan dinanti-nanti. Betul apa betul?
Lihatlah kerugian karena kasus kondensat yang mencapai Rp 35 triliun, dengan tersangka Honggo Wendratmo alias Hong Go Wie. Betapa besar mudharat yang dirasakan oleh orang banyak akibat dari ketidakjujuran.
Rezeki atau nafkah kalau diperoleh dengan jujur, niscaya akan membawa ketenangan. Ingat, ketenangan jauh lebih berharga daripada kekayaan. Apalah artinya harta berlimpah kalau hati selalu gundah?
"Jujur, mujur. Nggak jujur? Bakal tersungkur," itu nasihat guru saya.
Sambung beliau, "Nggak jujur? Resah. Gelisah. Jauh dari berkah."
Menjadi jujur dan selalu jujur memang tidak mudah. Ada saja tantangannya. Tapi bisa, insya Allah. Perubahan besar baiknya dimulai dari perubahan kecil, yaitu diri kita dan keluarga kita. Hei, apa salahnya kalau kita mulai dari sana? Jadilah contoh. Jadilah inspirasi.
Mudah-mudahan nanti banyak yang mengikuti. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Beberapa waktu ke depan, saya diminta memberikan training selama dua hari untuk sebuah lembaga negara yang amat disegani. Salah satu materi yang mereka request adalah soal kejujuran.
Kejujuran, ini adalah barang langka. Ya, orang #jujur memang langka. Tapi kalau kita berusaha untuk jujur, maka kita akan menjadi orang yang dicari-cari dan dinanti-nanti. Betul apa betul?
Lihatlah kerugian karena kasus kondensat yang mencapai Rp 35 triliun, dengan tersangka Honggo Wendratmo alias Hong Go Wie. Betapa besar mudharat yang dirasakan oleh orang banyak akibat dari ketidakjujuran.
Rezeki atau nafkah kalau diperoleh dengan jujur, niscaya akan membawa ketenangan. Ingat, ketenangan jauh lebih berharga daripada kekayaan. Apalah artinya harta berlimpah kalau hati selalu gundah?
"Jujur, mujur. Nggak jujur? Bakal tersungkur," itu nasihat guru saya.
Sambung beliau, "Nggak jujur? Resah. Gelisah. Jauh dari berkah."
Menjadi jujur dan selalu jujur memang tidak mudah. Ada saja tantangannya. Tapi bisa, insya Allah. Perubahan besar baiknya dimulai dari perubahan kecil, yaitu diri kita dan keluarga kita. Hei, apa salahnya kalau kita mulai dari sana? Jadilah contoh. Jadilah inspirasi.
Mudah-mudahan nanti banyak yang mengikuti. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
"Hati-hati. Setiap keinginan harus diteliti... Boleh ikhtiar mati-matian, hanya untuk sesuatu yang bisa dibawa mati... Sesuatu yang nggak abadi, ngapain masuk ke hati?" Itulah pesan guru saya jauh-jauh hari. Dan ini perlu kita resapi.
Apakah mobil dan rumah bisa dibawa mati? Hm, karena Anda sudah sering membaca tulisan-tulisan saya, pastilah Anda menjawab, "Bisa!" Pakailah mobil dan rumahnya untuk kebaikan. Misal, mencari nafkah, mencari ilmu, mengantar anak, mengantar tamu, dll. Insya Allah mobilnya kelak dibawa mati sebagai amal kebaikan.
Right?
Bahkan mencari nafkah dan mencari ilmu itu terhitung jihad, bukan ibadah biasa. Sekali lagi, bukan ibadah biasa. Telah diserukan di mana-mana, berjuang atau ber-jihad-lah di jalan Allah.
Sambil bercanda, teman saya ngomong begini, "Biarlah Fortuner, biarlah Pajero, biarlah CRV, yang penting punya sendiri. Daripada motor second tapi nyewa." Hehehe. Yang belum punya mobil, semoga segera ya. Beli cash. Aamiin. Saya bantu doain. Lebih baik bilang amin, daripada tersinggung, hehehe.
Tapi, inilah keluhan mereka:
"DP sih bisa, tapi nyicilnya itu lho."
"Badai pasti berlalu, cicilan belum tentu."
"Teroris, kami tidak takut. Debt collector, barulah kami takut."
Hehehe, ada-ada saja. Mendengar celetukan ini, saya cuma tersenyum. Menurut saya, karena itulah kita perlu belajar memperbesar Self-Capacity, sehingga Outer Problem mengecil dengan sendirinya. Termasuk cicilan dan tagihan.
Di bisnis, saya berusaha menuntun para mitra step-by-step untuk memperbesar Self-Capacity. Termasuk memiliki mobil impian dan rumah impian. Sekalian berumrah. Nggak terlalu sulit, ternyata. Ingatlah, ganteng nggak jaminan. sertifikat tanah baru bisa jadi jaminan, hehehe.
Terus baiknya, punya mobil dulu, atau punya rumah dulu? Sebenarnya, lebih baik punya mobil sekalian garasinya. Nggak usah ketawa. Bilang amin lagi, hehehe. Dalam berdoa, biasakan pakai 'dan' bukan 'atau'. Dua-duanya boleh kok, nggak harus salah satu. Buktinya, bertahun-tahun Anda berdoa agar selamat dunia dan akhirat, bukan salah satu. Bukankah begitu?
Fyi, menjelang 2018, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 26,5 juta jiwa. Mobil masih terhitung barang mewah bagi sebagian besar orang Indonesia.
Punya motor, yah disyukuri. Itu mesti. Second, tetap disyukuri. Masih nyicil dan nunggak-nunggak, tetap disyukuri. Sambil berusaha lebih baik lagi. Bukan untuk gaya sana-sini. Tapi niatnya untuk menyamankan keluarga yang dinafkahi. Sekiranya niat baik sudah dimiliki, Yang Maha Baik tentulah memudahkan, itu pasti.
Sekali lagi, mari perbaiki niat kita saat menginginkan sesuatu. Ada Allah dalam setiap keinginan kita. Niat itu salah satu cara memperbesar Self-Capacity... Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan teman-teman di sini. Semoga hidup Anda berkah berlimpah. Doakan juga saya dan keluarga saya...
Apakah mobil dan rumah bisa dibawa mati? Hm, karena Anda sudah sering membaca tulisan-tulisan saya, pastilah Anda menjawab, "Bisa!" Pakailah mobil dan rumahnya untuk kebaikan. Misal, mencari nafkah, mencari ilmu, mengantar anak, mengantar tamu, dll. Insya Allah mobilnya kelak dibawa mati sebagai amal kebaikan.
Right?
Bahkan mencari nafkah dan mencari ilmu itu terhitung jihad, bukan ibadah biasa. Sekali lagi, bukan ibadah biasa. Telah diserukan di mana-mana, berjuang atau ber-jihad-lah di jalan Allah.
Sambil bercanda, teman saya ngomong begini, "Biarlah Fortuner, biarlah Pajero, biarlah CRV, yang penting punya sendiri. Daripada motor second tapi nyewa." Hehehe. Yang belum punya mobil, semoga segera ya. Beli cash. Aamiin. Saya bantu doain. Lebih baik bilang amin, daripada tersinggung, hehehe.
Tapi, inilah keluhan mereka:
"DP sih bisa, tapi nyicilnya itu lho."
"Badai pasti berlalu, cicilan belum tentu."
"Teroris, kami tidak takut. Debt collector, barulah kami takut."
Hehehe, ada-ada saja. Mendengar celetukan ini, saya cuma tersenyum. Menurut saya, karena itulah kita perlu belajar memperbesar Self-Capacity, sehingga Outer Problem mengecil dengan sendirinya. Termasuk cicilan dan tagihan.
Di bisnis, saya berusaha menuntun para mitra step-by-step untuk memperbesar Self-Capacity. Termasuk memiliki mobil impian dan rumah impian. Sekalian berumrah. Nggak terlalu sulit, ternyata. Ingatlah, ganteng nggak jaminan. sertifikat tanah baru bisa jadi jaminan, hehehe.
Terus baiknya, punya mobil dulu, atau punya rumah dulu? Sebenarnya, lebih baik punya mobil sekalian garasinya. Nggak usah ketawa. Bilang amin lagi, hehehe. Dalam berdoa, biasakan pakai 'dan' bukan 'atau'. Dua-duanya boleh kok, nggak harus salah satu. Buktinya, bertahun-tahun Anda berdoa agar selamat dunia dan akhirat, bukan salah satu. Bukankah begitu?
Fyi, menjelang 2018, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 26,5 juta jiwa. Mobil masih terhitung barang mewah bagi sebagian besar orang Indonesia.
Punya motor, yah disyukuri. Itu mesti. Second, tetap disyukuri. Masih nyicil dan nunggak-nunggak, tetap disyukuri. Sambil berusaha lebih baik lagi. Bukan untuk gaya sana-sini. Tapi niatnya untuk menyamankan keluarga yang dinafkahi. Sekiranya niat baik sudah dimiliki, Yang Maha Baik tentulah memudahkan, itu pasti.
Sekali lagi, mari perbaiki niat kita saat menginginkan sesuatu. Ada Allah dalam setiap keinginan kita. Niat itu salah satu cara memperbesar Self-Capacity... Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan teman-teman di sini. Semoga hidup Anda berkah berlimpah. Doakan juga saya dan keluarga saya...
Membangun silaturahim bukan pekerjaaan satu hari dua hari, melainkan pekerjaan bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Ya, a long-term work.
Kita mesti mau mengalokasikan waktu, kadang harus melepas kesempatan-kesempatan yang lain. Karena kita tidak bisa hadir di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Right?
Manfaatnya sangatlah banyak.
Menurut penelitian, semakin sering Anda bersilaturahim, semakin besar pula kesempatan bagi Anda untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan risiko demensia yang lebih kecil.
Dan inilah pesan guru saya:
- Silaturahim menyehatkan rohani.
- Silaturahim menyehatkan jasmani.
- Silaturahim memudahkan rezeki.
- Silaturahim membangun reputasi.
Hebat ya? Sangat hebat!
Silaturahim, mari kita rutinkan!
Kita mesti mau mengalokasikan waktu, kadang harus melepas kesempatan-kesempatan yang lain. Karena kita tidak bisa hadir di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Right?
Manfaatnya sangatlah banyak.
Menurut penelitian, semakin sering Anda bersilaturahim, semakin besar pula kesempatan bagi Anda untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan risiko demensia yang lebih kecil.
Dan inilah pesan guru saya:
- Silaturahim menyehatkan rohani.
- Silaturahim menyehatkan jasmani.
- Silaturahim memudahkan rezeki.
- Silaturahim membangun reputasi.
Hebat ya? Sangat hebat!
Silaturahim, mari kita rutinkan!
Punya mobil? Punya rumah?
Menurut Gaikindo, rasio jumlah kendaraan terhadap penduduk Indonesia adalah 1 mobil banding 70 penduduk. Artinya, satu mobil untuk 70 orang.
Data BPS menunjukkan bahwa sekitar 82 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki rumah sendiri, sementara sisanya sekitar 17 persen belum memiliki rumah sendiri.
Anda termasuk yang mana?
Kalau sekarang Anda sudah punya ini dan itu, bukan berarti Anda telah sukses. Belum tentu. Yang benar, orangtua dan guru Anda-lah yang telah sukses. Kok gitu? Yah begitu. Bukankah mereka yang telah mengantarkan Anda meraih ini dan itu?
Tak sedikit pemimpin (leader) yang malas-malasan saat sudah berhasil mempunyai mobil, punya rumah, dan berumrah. Mereka nggak mikir, apakah tim dan tangan kanan-nya sudah berhasil mencapai hal serupa, apa belum.
Sekiranya kita ingin disebut sukses, hendaknya ini kita buktikan dengan mengantarkan orang lain meraih ini dan itu. Dengan kata lain, bukan sekedar kita yang mencapai impian. Melainkan juga mengantarkan orang lain mencapai impian. Itu baru layak disebut sukses!
Kalau sekedar meraih impian, itu adalah pemikiran yang egois. Mengantarkan orang lain meraih impiannya, nah itu baru pemikiran yang humanis. Insya Allah akan berbuah manis. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan Anda beserta tim Anda bisa tumbuh bersama, maju bersama, sukses bersama, di tengah persaingan yang begitu dinamis.
Semoga berkah berlimpah!
Menurut Gaikindo, rasio jumlah kendaraan terhadap penduduk Indonesia adalah 1 mobil banding 70 penduduk. Artinya, satu mobil untuk 70 orang.
Data BPS menunjukkan bahwa sekitar 82 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki rumah sendiri, sementara sisanya sekitar 17 persen belum memiliki rumah sendiri.
Anda termasuk yang mana?
Kalau sekarang Anda sudah punya ini dan itu, bukan berarti Anda telah sukses. Belum tentu. Yang benar, orangtua dan guru Anda-lah yang telah sukses. Kok gitu? Yah begitu. Bukankah mereka yang telah mengantarkan Anda meraih ini dan itu?
Tak sedikit pemimpin (leader) yang malas-malasan saat sudah berhasil mempunyai mobil, punya rumah, dan berumrah. Mereka nggak mikir, apakah tim dan tangan kanan-nya sudah berhasil mencapai hal serupa, apa belum.
Sekiranya kita ingin disebut sukses, hendaknya ini kita buktikan dengan mengantarkan orang lain meraih ini dan itu. Dengan kata lain, bukan sekedar kita yang mencapai impian. Melainkan juga mengantarkan orang lain mencapai impian. Itu baru layak disebut sukses!
Kalau sekedar meraih impian, itu adalah pemikiran yang egois. Mengantarkan orang lain meraih impiannya, nah itu baru pemikiran yang humanis. Insya Allah akan berbuah manis. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan Anda beserta tim Anda bisa tumbuh bersama, maju bersama, sukses bersama, di tengah persaingan yang begitu dinamis.
Semoga berkah berlimpah!
Pernah merantau?
Ternyata banyak manfaatnya. Apa saja? Anda akan menjadi seseorang yang berani mengambil risiko dan tantangan, sekaligus menjadi seseorang yang mandiri dan bertanggungjawab. Selain itu, menjadi seseorang yang mudah beradaptasi dan lebih toleran. Tambahan lagi, semakin mencintai daerah asal sembari menghargai adat dan kebiasaan dari daerah-daerah lain.
Biasanya begitu.
Di seminar kemarin di Korea, saya juga mengupas soal merantau. Jauh-jauh hari Imam Syafii telah menyerukan itu, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.”
Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya dua kali di Mesir.
Menyikapi merantau, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Saya pribadi, terlahir di Pekanbaru, kemudian merantau ke Malaysia, lalu balik ke Batam, dan sekarang menetap di BSD, dekat Jakarta. Ibu saya, Sumatera. Ayah saya, Jawa. Istri saya, Kalimantan. Jadi, anak saya disebut orang mana? Yang jelas, orang baik-baik, hehehe.
Pesan dari Sang Pencipta, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Pesan kebaikan ini teramat sulit untuk dilaksanakan sekiranya tidak ada yang merantau. Tulisan ini boleh di-share.
Gimana dengan rezeki? Insya Allah akan lebih baik. Sesiapa yang berhijrah dan niatnya lurus, maka ia akan dianugerahi rezeki yang luas, bahkan bisa memiliki properti. Soal ini, ada dalilnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ternyata banyak manfaatnya. Apa saja? Anda akan menjadi seseorang yang berani mengambil risiko dan tantangan, sekaligus menjadi seseorang yang mandiri dan bertanggungjawab. Selain itu, menjadi seseorang yang mudah beradaptasi dan lebih toleran. Tambahan lagi, semakin mencintai daerah asal sembari menghargai adat dan kebiasaan dari daerah-daerah lain.
Biasanya begitu.
Di seminar kemarin di Korea, saya juga mengupas soal merantau. Jauh-jauh hari Imam Syafii telah menyerukan itu, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.”
Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya dua kali di Mesir.
Menyikapi merantau, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Saya pribadi, terlahir di Pekanbaru, kemudian merantau ke Malaysia, lalu balik ke Batam, dan sekarang menetap di BSD, dekat Jakarta. Ibu saya, Sumatera. Ayah saya, Jawa. Istri saya, Kalimantan. Jadi, anak saya disebut orang mana? Yang jelas, orang baik-baik, hehehe.
Pesan dari Sang Pencipta, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Pesan kebaikan ini teramat sulit untuk dilaksanakan sekiranya tidak ada yang merantau. Tulisan ini boleh di-share.
Gimana dengan rezeki? Insya Allah akan lebih baik. Sesiapa yang berhijrah dan niatnya lurus, maka ia akan dianugerahi rezeki yang luas, bahkan bisa memiliki properti. Soal ini, ada dalilnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam keluarga, nafkah itu perlu. Tapi bukan penentu.
Menyoal penghasilan, Robert Waldinger dalam riset 75 tahun pernah mengungkap bahwa uang bukanlah hal yang membuat orang paling bahagia.
Hubungan penuh cinta yang sehatlah yang membuat orang merasa paling bahagia. Waldinger menceritakan hasil risetnya dalam sesi TED talk.
Hidup memang butuh uang. Ini mutlak. Namun saat Anda berada pada titik nyaman, korelasi antara uang dan kebahagiaan menjadi kabur. Blur.
Karena itu, baiknya pasangan yang kuat dimaknai bukan dari materi. Melainkan dari sosok yang membuat pasangannya menjadi lebih bahagia dan lebih baik (ilmu, iman, amal).
Saya harap Anda setuju dengan saya. Semoga berkah berlimpah.
Menyoal penghasilan, Robert Waldinger dalam riset 75 tahun pernah mengungkap bahwa uang bukanlah hal yang membuat orang paling bahagia.
Hubungan penuh cinta yang sehatlah yang membuat orang merasa paling bahagia. Waldinger menceritakan hasil risetnya dalam sesi TED talk.
Hidup memang butuh uang. Ini mutlak. Namun saat Anda berada pada titik nyaman, korelasi antara uang dan kebahagiaan menjadi kabur. Blur.
Karena itu, baiknya pasangan yang kuat dimaknai bukan dari materi. Melainkan dari sosok yang membuat pasangannya menjadi lebih bahagia dan lebih baik (ilmu, iman, amal).
Saya harap Anda setuju dengan saya. Semoga berkah berlimpah.
Anda sudah menikah?
Sudah dikaruniai anak?
Alhamdulillah, selama ini di rumah saya ada satu anak asuh. Sudah sekian tahun ikut keluarga saya. Mulai kemarin, dia sudah masuk pesantren, tidak di rumah lagi. Jadi santri ceritanya.
Saya pribadi senang sekali kalau dikaruniai banyak anak, termasuk anak asuh dan anak didik. Saat ini saya diamanahi ribuan anak didik, melalui TK, SD, dan kampus yang saya asuh. Alhamdulillah, saya senang sekali.
Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan amal jariyah. Ya, demi amal jariyah.
Satu lagi. Anak itu rezeki dan mengundang rezeki. Ingat kalimat ini baik-baik. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya bertambah-tambah!
Betul apa betul?
Saya pribadi sudah 4x seminar di Korea dan di Jepang. Orang sana biasanya tak mau punya banyak anak. Bahkan sering pula memutuskan untuk tidak punya anak sama sekali. Karena dianggap merepotkan. Duh!
Hei, sekalipun jangan pernah menganggap anak itu beban. Ada pula yang takut menambah anak karena merasa gaji atau income-nya tak mencukupi. Ini cara pikir yang keliru. Bener-bener keliru. Setiap anak, percayalah, ada rezekinya sendiri.
Yang saya tahu, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Mengayakan. Kalau punya anak? Lebih mengayakan.
Perhatikan baik-baik. Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya.
Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah? Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!
Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.
Aneh kan? Ya. Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.
Yang belum dikaruniai jodoh, yang belum dikaruniai anak, saya doakan ya. Semoga segera. Kalau perlu, tahun ini juga. Aamiin. Mudah-mudahan berujung pada berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sudah dikaruniai anak?
Alhamdulillah, selama ini di rumah saya ada satu anak asuh. Sudah sekian tahun ikut keluarga saya. Mulai kemarin, dia sudah masuk pesantren, tidak di rumah lagi. Jadi santri ceritanya.
Saya pribadi senang sekali kalau dikaruniai banyak anak, termasuk anak asuh dan anak didik. Saat ini saya diamanahi ribuan anak didik, melalui TK, SD, dan kampus yang saya asuh. Alhamdulillah, saya senang sekali.
Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan amal jariyah. Ya, demi amal jariyah.
Satu lagi. Anak itu rezeki dan mengundang rezeki. Ingat kalimat ini baik-baik. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya bertambah-tambah!
Betul apa betul?
Saya pribadi sudah 4x seminar di Korea dan di Jepang. Orang sana biasanya tak mau punya banyak anak. Bahkan sering pula memutuskan untuk tidak punya anak sama sekali. Karena dianggap merepotkan. Duh!
Hei, sekalipun jangan pernah menganggap anak itu beban. Ada pula yang takut menambah anak karena merasa gaji atau income-nya tak mencukupi. Ini cara pikir yang keliru. Bener-bener keliru. Setiap anak, percayalah, ada rezekinya sendiri.
Yang saya tahu, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Mengayakan. Kalau punya anak? Lebih mengayakan.
Perhatikan baik-baik. Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya.
Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah? Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!
Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.
Aneh kan? Ya. Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.
Yang belum dikaruniai jodoh, yang belum dikaruniai anak, saya doakan ya. Semoga segera. Kalau perlu, tahun ini juga. Aamiin. Mudah-mudahan berujung pada berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda pernah ikut seminar? Berapa kali?
Suatu hari saya merenung, berapa biaya yang telah saya keluarkan untuk berguru alias belajar selama 5 tahun terakhir. Hitung-hitung, ternyata sudah ratusan juta rupiah (Sebenarnya, wajar-wajar saja. Untuk kuliah saja, kita menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah).
Karena itulah, saya salut sama teman-teman yang ikut seminar saya. Biasanya, sepertiga dari mereka berasal dari luar kota. Sengaja datang jauh-jauh hanya untuk mencari ilmu. Ya, mencari ilmu. Sebenarnya, nggak bakal rugi. Kalau sedekah saja berbalas, menuntut ilmu akan lebih berbalas. Soalnya memang wajib.
Dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz, terkenal gandrung sama seminar-seminar saya. Mereka sungguh-sungguh terhadap ilmu bisnis dan ilmu lainnya. Masing-masing mereka telah mengikuti seminar saya sampai puluhan kali. Mereka pun bela-belain kuliah S2 demi mencari ilmu.
Namanya ilmu, guru, dan buku harus diburu, jangan ditunggu. Ketika dulu kuliah, saya sering nggak makan karena terbatasnya uang. Tapi yang namanya buku, saya selalu beli. Nggak pernah terlewat. Sewaktu tamat kuliah, di antara teman-teman, sayalah yang paling lengkap bukunya.
Apa yang saya pahami kemudian, mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mana mungkin bertemu kedua-duanya? Agama pun memuliakan mereka yang terlibat dengan ilmu.
Ya, sesiapa yang terlibat dengan ilmu, semua dimuliakan. Misalnya orang yang belajar, orang yang mengajar, orang yang meneliti, orang yang membiayai kegiatan keilmuan, orang yang menyiapkan majelis ilmu, dan lain-lain.
Kembali ke dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz. Mereka bukan saja mempelajari dan mendalami ilmu bisnis, tapi juga menerapkannya. Lebih dari itu, mereka juga membimbing ratusan orang sehingga berhasil menjadi pebisnis dengan omzet puluhan sampai ratusan juta rupiah. Sukses dan menyukseskan, istilah saya.
Pesan saya, sungguh-sungguhlah terhadap ilmu. Agar berubah nasibmu dan membaik rezekimu. Belum lagi dari segi keberkahan yang akan menyertai selalu. Pada akhirnya, "Happy learning! Happy earning!"
Suatu hari saya merenung, berapa biaya yang telah saya keluarkan untuk berguru alias belajar selama 5 tahun terakhir. Hitung-hitung, ternyata sudah ratusan juta rupiah (Sebenarnya, wajar-wajar saja. Untuk kuliah saja, kita menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah).
Karena itulah, saya salut sama teman-teman yang ikut seminar saya. Biasanya, sepertiga dari mereka berasal dari luar kota. Sengaja datang jauh-jauh hanya untuk mencari ilmu. Ya, mencari ilmu. Sebenarnya, nggak bakal rugi. Kalau sedekah saja berbalas, menuntut ilmu akan lebih berbalas. Soalnya memang wajib.
Dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz, terkenal gandrung sama seminar-seminar saya. Mereka sungguh-sungguh terhadap ilmu bisnis dan ilmu lainnya. Masing-masing mereka telah mengikuti seminar saya sampai puluhan kali. Mereka pun bela-belain kuliah S2 demi mencari ilmu.
Namanya ilmu, guru, dan buku harus diburu, jangan ditunggu. Ketika dulu kuliah, saya sering nggak makan karena terbatasnya uang. Tapi yang namanya buku, saya selalu beli. Nggak pernah terlewat. Sewaktu tamat kuliah, di antara teman-teman, sayalah yang paling lengkap bukunya.
Apa yang saya pahami kemudian, mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mana mungkin bertemu kedua-duanya? Agama pun memuliakan mereka yang terlibat dengan ilmu.
Ya, sesiapa yang terlibat dengan ilmu, semua dimuliakan. Misalnya orang yang belajar, orang yang mengajar, orang yang meneliti, orang yang membiayai kegiatan keilmuan, orang yang menyiapkan majelis ilmu, dan lain-lain.
Kembali ke dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz. Mereka bukan saja mempelajari dan mendalami ilmu bisnis, tapi juga menerapkannya. Lebih dari itu, mereka juga membimbing ratusan orang sehingga berhasil menjadi pebisnis dengan omzet puluhan sampai ratusan juta rupiah. Sukses dan menyukseskan, istilah saya.
Pesan saya, sungguh-sungguhlah terhadap ilmu. Agar berubah nasibmu dan membaik rezekimu. Belum lagi dari segi keberkahan yang akan menyertai selalu. Pada akhirnya, "Happy learning! Happy earning!"