Sulit kita untuk mapan finansial, kalau kita tak mampu berhemat.
Merasa nyaman (comfort) itu berbahaya.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort.
Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi 2 kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini bahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Ya, di mana saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Saya aktif di dunia seminar. Walaupun sekitar 70% bentuknya sudah charity (memang saya yang maunya begitu). Hm, kenapa saya aktif sampai sekarang? Karena di situ saya menabur dan menuai ilmu.
Maksudnya?
Sebenarnya, seminar itu proses belajar-mengajar. Sarat dengan ilmu. Ketika mengajar, menariknya, pada waktu yang sama saya juga belajar. Dan mengajar adalah salah satu cara tercepat untuk belajar. Setidaknya itulah yang saya alami.
Selain berbisnis, saya mendapat ilmu-ilmu terbaik dari para alumni seminar selama 10 tahun terakhir di 30-an provinsi di Indonesia dan di belasan negara di 5 benua. Ya, saya belajar dari para alumni seminar. Tepatnya, kami saling belajar.
Silakan bersyukur. Itu bagus. Itu harus. Tapi di sisi lain, kita juga harus bertumbuh. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merasa nyaman, terus enggan untuk belajar dan bertumbuh.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort.
Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi 2 kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini bahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Ya, di mana saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Saya aktif di dunia seminar. Walaupun sekitar 70% bentuknya sudah charity (memang saya yang maunya begitu). Hm, kenapa saya aktif sampai sekarang? Karena di situ saya menabur dan menuai ilmu.
Maksudnya?
Sebenarnya, seminar itu proses belajar-mengajar. Sarat dengan ilmu. Ketika mengajar, menariknya, pada waktu yang sama saya juga belajar. Dan mengajar adalah salah satu cara tercepat untuk belajar. Setidaknya itulah yang saya alami.
Selain berbisnis, saya mendapat ilmu-ilmu terbaik dari para alumni seminar selama 10 tahun terakhir di 30-an provinsi di Indonesia dan di belasan negara di 5 benua. Ya, saya belajar dari para alumni seminar. Tepatnya, kami saling belajar.
Silakan bersyukur. Itu bagus. Itu harus. Tapi di sisi lain, kita juga harus bertumbuh. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merasa nyaman, terus enggan untuk belajar dan bertumbuh.
Sepertinya secara berkala kita perlu menilai (baca: evaluasi) hasil kinerja kita. Dengan demikian, kita tahu persis kelebihan dan kekurangan kita. Masih ingat soal SWOT Analysis? Ini penting.
Apa pentingnya? Jika nantinya Anda ingin ganti bisnis atau banting setir, Anda pun sudah memahami keunggulan-keunggulan Anda. Selain itu, Anda juga tahu hal-hal yang perlu dipertajam dan hal-hal yang cukup diabaikan.
Baiknya dievaluasi setiap berapa lama? Enam bulan adalah waktu relatif pas untuk mengevaluasi kinerja. Ya, setiap enam bulan. Bilamana ternyata kinerja kita kurang memuaskan, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya hingga akhir tahun. Right?
Seterusnya, soal fokus. Terlalu banyak tujuan (target) bisa membuat kita kurang fokus. Ya, kurang fokus. Seperti anak kecil, rata-rata mereka punya masalah soal #fokus. Wajar, di usianya, mereka memang sulit untuk serius.
Padahal? Fokus itu bagus. Fokus itu harus. Percayalah, untuk sukses, ini adalah rumus. Bisnis yang tak terurus adalah pertanda perhatian yang tidak fokus. Lama-lama, profit yang tergerus.
Kita saat ini berada di pertengahan tahun. Dua hal yang saya tawarkan adalah evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan. Jangan sampai karena sibuk ini-itu, pada akhirnya kita mengabaikan evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan.
Semoga bermanfaat.
Apa pentingnya? Jika nantinya Anda ingin ganti bisnis atau banting setir, Anda pun sudah memahami keunggulan-keunggulan Anda. Selain itu, Anda juga tahu hal-hal yang perlu dipertajam dan hal-hal yang cukup diabaikan.
Baiknya dievaluasi setiap berapa lama? Enam bulan adalah waktu relatif pas untuk mengevaluasi kinerja. Ya, setiap enam bulan. Bilamana ternyata kinerja kita kurang memuaskan, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya hingga akhir tahun. Right?
Seterusnya, soal fokus. Terlalu banyak tujuan (target) bisa membuat kita kurang fokus. Ya, kurang fokus. Seperti anak kecil, rata-rata mereka punya masalah soal #fokus. Wajar, di usianya, mereka memang sulit untuk serius.
Padahal? Fokus itu bagus. Fokus itu harus. Percayalah, untuk sukses, ini adalah rumus. Bisnis yang tak terurus adalah pertanda perhatian yang tidak fokus. Lama-lama, profit yang tergerus.
Kita saat ini berada di pertengahan tahun. Dua hal yang saya tawarkan adalah evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan. Jangan sampai karena sibuk ini-itu, pada akhirnya kita mengabaikan evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan.
Semoga bermanfaat.
Bukan YM namanya kalau nggak humoris, hehehe.
Muay-thai diadu dengan thai-tea.
Muay-thai diadu dengan thai-tea.
Indonesia adalah rumah kita. Tentu, kita menginginkan dan merindukan yang terbaik untuk Indonesia. Saya yakin Anda setuju dengan saya.
Kemarin (Jumat), dengan izin Allah, saya berbuka puasa bersama Ketua MPR Pak Zul, Presiden RI Pak Jokowi, sejumlah menteri, dan tokoh-tokoh lainnya. Alhamdulillah.
Ketika maghrib, #SyekhAliJaber yang menjadi imam. Saya, Pak Zul, Pak Jokowi, Pak Oesman Sapta Odang dll berada di shaf pertama (di foto, saya nggak kelihatan hehe).
Ketika isya, Ust #YusufMansur yang menjadi imam. Layaknya imam-imam lainnya, selesai sholat, Syekh Ali dan Ust Yusuf mendoakan yang baik-baik untuk Indonesia.
Latar belakang kita mungkin berbeda, pilihan politik kita mungkin berbeda, tapi kita sama-sama merindukan yang terbaik untuk Indonesia. Btw, terima kasih Pak Zul atas undangannya.
Mumpung Ramadhan, waktu yang istimewa, kita doakan yang terbaik untuk Indonesia. Maju, makmur, madani. Aamiin. Semoga Allah meridhai dan mengabulkan.
Kemarin (Jumat), dengan izin Allah, saya berbuka puasa bersama Ketua MPR Pak Zul, Presiden RI Pak Jokowi, sejumlah menteri, dan tokoh-tokoh lainnya. Alhamdulillah.
Ketika maghrib, #SyekhAliJaber yang menjadi imam. Saya, Pak Zul, Pak Jokowi, Pak Oesman Sapta Odang dll berada di shaf pertama (di foto, saya nggak kelihatan hehe).
Ketika isya, Ust #YusufMansur yang menjadi imam. Layaknya imam-imam lainnya, selesai sholat, Syekh Ali dan Ust Yusuf mendoakan yang baik-baik untuk Indonesia.
Latar belakang kita mungkin berbeda, pilihan politik kita mungkin berbeda, tapi kita sama-sama merindukan yang terbaik untuk Indonesia. Btw, terima kasih Pak Zul atas undangannya.
Mumpung Ramadhan, waktu yang istimewa, kita doakan yang terbaik untuk Indonesia. Maju, makmur, madani. Aamiin. Semoga Allah meridhai dan mengabulkan.
Majalah Forbes Edisi Maret 2018 merilis daftar orang terkaya di dunia untuk tahun 2018. Daftar tersebut mencantumkan lebih dari 2.000 orang paling tajir sedunia dari 78 negara.
Adalah Chairul Tanjung (55 tahun) dengan kekayaan 3,5 miliar dollar AS menjadi orang terkaya urutan ke-5 di Indonesia. Kalau Anda, urutan berapa? Di RT atau di RW? Hehehe.
Tentu, kita sudah tidak asing lagi dengan #ChairulTanjung alias CT, pemilik dua stasiun TV, di bawah naungan Trans Corp. Boleh dibilang, beliau adalah muslim terkaya di Indonesia.
Tadi malam, saya dan guru-guru saya diundang berbuka puasa di rumah beliau. Ada Ketua MUI juga. Sepertinya ini sudah tradisi setiap tahunnya, alhamdulillah. Terima kasih Pak Abdul Aziz.
Btw, sudah baca bukunya, Si Anak Singkong? Kalau sudah baca, Anda akan tahu bagaimana perjalanan bisnis CT, mulai dari berjualan buku stensil di sela-sela kuliah, sampai sekarang. Rata-rata ia bekerja belasan jam sehari.
Ya, belasan jam sehari. Ketika muda, ia bekerja 18 jam sehari. Sekarang, 14 jam sehari. Bangun pun sebelum subuh. Bukan kebetulan bangun awal ini menjadi inspirasi bagi saya dan follower saya.
Kalau baca bukunya, akan berasa banget kerja kerasnya. Hm, kalau aslinya? Lebih getir dari apa-apa yang pernah diceritakan pada buku tersebut. Ya, lebih getir.
Jadi, kalau sekarang kita merasa "Kok bisnis saya gitu-gitu aja, nggak bergerak?" saran saya cuman satu, coba cek kerja keras kita. Saya ulang, cek kerja keras kita. Sudah sejauh mana?
Bisnis kita nggak pernah salah, tapi mungkin ikhtiar dan ilmu kita yang belum sampai. Untuk sukses besar, jelas, kita perlu action gila-gilaan tanpa 'tapi' tanpa 'nanti'.
Terus, gimana soal risiko? Saran Chairul Tanjung:
- Jangan takut mengambil resiko.
- Jika berhasil, Anda akan bahagia.
- Jika gagal, Anda akan lebih bijaksana.
Ternyata, banyak yang terinspirasi dengan ungkapan-ungkapannya, termasuk anaknya, Putri Indahsari Tanjung. Sang anak sempat mencuri perhatian netizen. Kok bisa?
Salah satu sebabnya karena ia mengawali bisnis di usia yang relarif muda yaitu 15 tahun. Tepatnya bisnis EO dan fashion. Sekarang ia telah berusia 20-an tahun.
Mari kita tiru yang baik-baik dari beliau dan keluarga beliau. Siap bekerja keras dan siap mengambil risiko. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Adalah Chairul Tanjung (55 tahun) dengan kekayaan 3,5 miliar dollar AS menjadi orang terkaya urutan ke-5 di Indonesia. Kalau Anda, urutan berapa? Di RT atau di RW? Hehehe.
Tentu, kita sudah tidak asing lagi dengan #ChairulTanjung alias CT, pemilik dua stasiun TV, di bawah naungan Trans Corp. Boleh dibilang, beliau adalah muslim terkaya di Indonesia.
Tadi malam, saya dan guru-guru saya diundang berbuka puasa di rumah beliau. Ada Ketua MUI juga. Sepertinya ini sudah tradisi setiap tahunnya, alhamdulillah. Terima kasih Pak Abdul Aziz.
Btw, sudah baca bukunya, Si Anak Singkong? Kalau sudah baca, Anda akan tahu bagaimana perjalanan bisnis CT, mulai dari berjualan buku stensil di sela-sela kuliah, sampai sekarang. Rata-rata ia bekerja belasan jam sehari.
Ya, belasan jam sehari. Ketika muda, ia bekerja 18 jam sehari. Sekarang, 14 jam sehari. Bangun pun sebelum subuh. Bukan kebetulan bangun awal ini menjadi inspirasi bagi saya dan follower saya.
Kalau baca bukunya, akan berasa banget kerja kerasnya. Hm, kalau aslinya? Lebih getir dari apa-apa yang pernah diceritakan pada buku tersebut. Ya, lebih getir.
Jadi, kalau sekarang kita merasa "Kok bisnis saya gitu-gitu aja, nggak bergerak?" saran saya cuman satu, coba cek kerja keras kita. Saya ulang, cek kerja keras kita. Sudah sejauh mana?
Bisnis kita nggak pernah salah, tapi mungkin ikhtiar dan ilmu kita yang belum sampai. Untuk sukses besar, jelas, kita perlu action gila-gilaan tanpa 'tapi' tanpa 'nanti'.
Terus, gimana soal risiko? Saran Chairul Tanjung:
- Jangan takut mengambil resiko.
- Jika berhasil, Anda akan bahagia.
- Jika gagal, Anda akan lebih bijaksana.
Ternyata, banyak yang terinspirasi dengan ungkapan-ungkapannya, termasuk anaknya, Putri Indahsari Tanjung. Sang anak sempat mencuri perhatian netizen. Kok bisa?
Salah satu sebabnya karena ia mengawali bisnis di usia yang relarif muda yaitu 15 tahun. Tepatnya bisnis EO dan fashion. Sekarang ia telah berusia 20-an tahun.
Mari kita tiru yang baik-baik dari beliau dan keluarga beliau. Siap bekerja keras dan siap mengambil risiko. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.