Kemarin saya ikut Kajian Musawarah yang diisi oleh Ust Adi Hidayat. Sudah sekian tahun saya ikut kajian ini, alhamdulillah.
Saya pribadi berterimakasih kepada Mas Dimas, Mbak Dhini, Mas Primus, Mbak Jihan, Mas Wisnu, Mbak Shireen dll yang awal-awal mengajak saya dan istri untuk hadir di kajian ini.
Kemarin hadir juga Irwansyah, Prilly, Fenita, Ricky Harun dll. Niatnya belajar juga silaturahim. Doakan niat kami terjaga.
Ust Adi Hidayat, Ust Abdul Somad, Ust Oemar Mita, dan Ust Hanan Attaki adalah beberapa ustadz yang rutin mengisi di Musawarah.
Saya pribadi penasaran, biasanya teman-teman ikut kajian siapa? Jawab di IG ini ya...
https://www.instagram.com/p/Bndw612AWfw/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1rvslnmvd9tl4
Saya pribadi berterimakasih kepada Mas Dimas, Mbak Dhini, Mas Primus, Mbak Jihan, Mas Wisnu, Mbak Shireen dll yang awal-awal mengajak saya dan istri untuk hadir di kajian ini.
Kemarin hadir juga Irwansyah, Prilly, Fenita, Ricky Harun dll. Niatnya belajar juga silaturahim. Doakan niat kami terjaga.
Ust Adi Hidayat, Ust Abdul Somad, Ust Oemar Mita, dan Ust Hanan Attaki adalah beberapa ustadz yang rutin mengisi di Musawarah.
Saya pribadi penasaran, biasanya teman-teman ikut kajian siapa? Jawab di IG ini ya...
https://www.instagram.com/p/Bndw612AWfw/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1rvslnmvd9tl4
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Jadilah seperti masjid, mengumpulkan orang... Jadilah seperti tasbih, menyatukan kebaikan... Dengan adanya hati yang bersih, sahabat-sahabat, dan guru-guru, insya Allah kita semua bisa melakukannya. Dimampukan, insya Allah. Aamiin...
Apa bisnis Anda? Apa produk Anda? Detak dan denyut sebuah bisnis ditentukan oleh penjualan. Ya, penjualan.
Sayangnya, tidak sedikit pengusaha dan penjual yang ditolak dalam menawarkan. Kenapa? Karena mereka kurang memahami ilmu komunikasi dan pola sukses dalam penjualan.
Ingat, segala sesuatu ada pola suksesnya. Berkomunikasi dan menaklukkan hati konsumen juga sama, ada pola suksesnya.
Dalam berkomunikasi, terutama untuk penjualan, saya mengajak penjual untuk melakukan digging di awal. Maksudnya, menggali informasi. Inilah yang sampaikan kemarin ketika men-training mitra-mitra.
Jadi, jangan buru-buru jualan. Ketahui dulu, apa dia sudah punya keluarga, apa belum? Apa dia sudah punya anak, apa belum? Berapa kira-kira income-nya? Dari mana kira-kira asalnya? Dan masih banyak lagi.
Dengan digging dan memahami informasi-informasi mendasar ini, kita dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam berkomunikasi.
Misal, kita tahu ternyata dia sudah punya anak. Nah, mungkin saja kita menawarkan suplemen untuk keperluan anaknya. Si ortu kadang tidak peduli dengan kesehatan dirinya. Tapi, kesehatan anaknya? Sangat peduli.
Digging juga membuat dua pihak menjadi lebih akrab. Ya, lebih dekat. Sehingga, kalaupun tidak terjadi transaksi penjualan, silaturahim tetap terjaga. Kan bagus? Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Sayangnya, tidak sedikit pengusaha dan penjual yang ditolak dalam menawarkan. Kenapa? Karena mereka kurang memahami ilmu komunikasi dan pola sukses dalam penjualan.
Ingat, segala sesuatu ada pola suksesnya. Berkomunikasi dan menaklukkan hati konsumen juga sama, ada pola suksesnya.
Dalam berkomunikasi, terutama untuk penjualan, saya mengajak penjual untuk melakukan digging di awal. Maksudnya, menggali informasi. Inilah yang sampaikan kemarin ketika men-training mitra-mitra.
Jadi, jangan buru-buru jualan. Ketahui dulu, apa dia sudah punya keluarga, apa belum? Apa dia sudah punya anak, apa belum? Berapa kira-kira income-nya? Dari mana kira-kira asalnya? Dan masih banyak lagi.
Dengan digging dan memahami informasi-informasi mendasar ini, kita dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam berkomunikasi.
Misal, kita tahu ternyata dia sudah punya anak. Nah, mungkin saja kita menawarkan suplemen untuk keperluan anaknya. Si ortu kadang tidak peduli dengan kesehatan dirinya. Tapi, kesehatan anaknya? Sangat peduli.
Digging juga membuat dua pihak menjadi lebih akrab. Ya, lebih dekat. Sehingga, kalaupun tidak terjadi transaksi penjualan, silaturahim tetap terjaga. Kan bagus? Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Hari itu saya bertemu penulis novel Lupus, Hilman Hariwijaya. Sebelum dibukukan, cerpen-cerpen karyanya sempat populer di majalah remaja saat itu, tahun 80-an. Saya salah satu pembacanya. Begitulah. Sejak dulu, saya suka membaca. Sewaktu kecil dan remaja, saya sempat punya novel-novel karya Enid Blyton, selain karya Hilman Hariwijaya dan Bastian Tito.
Saat beranjak dewasa, mulailah saya membaca buku-buku pengembangan diri karya John Maxwell, Tony Robbins, Robert Kiyosaki dll. Al Ries juga termasuk. Kesukaan membaca ini akhirnya diteruskan dengan kesukaan menulis. Jadilah saya kolumnis di belasan koran di Indonesia. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dengan takdir ini.
Pelan-pelan, nama saya mulai dikenal publik.
Nggak cukup sampai di situ, lalu saya menulis buku-buku pengembangan diri yang alhamdulillah kemudian terjual di atas 1 juta eksemplar dan mengantarkan saya berseminar di 5 benua. Tapi, yang paling seru adalah ketika saya 'menulis' buku nikah dan buku tabungan, hehehe.
Saya dan Hilman Hariwijaya adalah jenis penulis yang dipopulerkan oleh media massa. Ya, media massa. Saya dengan koran, Hilman Hariwijaya dengan majalah. Zaman pun berubah. Belakangan ini, dominasi media massa mulai berkurang, seiring menguatnya dan meluasnya pengaruh socmed.
Kemarin saya bertemu #NissaSabyan. Kenal kan? Dia sangat terkenal di socmed dan YouTube. Ini pelajaran buat kita.
Di zaman serba socmed seperti saat ini, kita bisa memasarkan produk, jasa, dan ide tanpa media massa sama sekali. Dengan socmed dan YouTube, kita bisa menghadirkan channel dan halaman kita sendiri. Benar-benar mandiri. Anak-anak muda biasanya lebih paham soal ini dan mau coba-coba sendiri.
Kepada mitra-mitra di BP, saya sampaikan, "Ini bukan soal tua atau muda, tapi apakah kita mau belajar dan memperbaiki diri, atau malah mencari-cari dalih." Pada akhirnya, mari manfaatkan socmed untuk tujuan bisnis, komunikasi, dan pengembangan diri.
Jangan sekedar jadi penonton, jadilah pemain. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Saat beranjak dewasa, mulailah saya membaca buku-buku pengembangan diri karya John Maxwell, Tony Robbins, Robert Kiyosaki dll. Al Ries juga termasuk. Kesukaan membaca ini akhirnya diteruskan dengan kesukaan menulis. Jadilah saya kolumnis di belasan koran di Indonesia. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dengan takdir ini.
Pelan-pelan, nama saya mulai dikenal publik.
Nggak cukup sampai di situ, lalu saya menulis buku-buku pengembangan diri yang alhamdulillah kemudian terjual di atas 1 juta eksemplar dan mengantarkan saya berseminar di 5 benua. Tapi, yang paling seru adalah ketika saya 'menulis' buku nikah dan buku tabungan, hehehe.
Saya dan Hilman Hariwijaya adalah jenis penulis yang dipopulerkan oleh media massa. Ya, media massa. Saya dengan koran, Hilman Hariwijaya dengan majalah. Zaman pun berubah. Belakangan ini, dominasi media massa mulai berkurang, seiring menguatnya dan meluasnya pengaruh socmed.
Kemarin saya bertemu #NissaSabyan. Kenal kan? Dia sangat terkenal di socmed dan YouTube. Ini pelajaran buat kita.
Di zaman serba socmed seperti saat ini, kita bisa memasarkan produk, jasa, dan ide tanpa media massa sama sekali. Dengan socmed dan YouTube, kita bisa menghadirkan channel dan halaman kita sendiri. Benar-benar mandiri. Anak-anak muda biasanya lebih paham soal ini dan mau coba-coba sendiri.
Kepada mitra-mitra di BP, saya sampaikan, "Ini bukan soal tua atau muda, tapi apakah kita mau belajar dan memperbaiki diri, atau malah mencari-cari dalih." Pada akhirnya, mari manfaatkan socmed untuk tujuan bisnis, komunikasi, dan pengembangan diri.
Jangan sekedar jadi penonton, jadilah pemain. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Bolehkah wanita bekerja atau berbisnis?
#KetikaWanitaBerbisnis, inilah tema seminar saya belakangan ini. Wanita memang tidak wajib mencari uang. Tapi boleh, dengan sederet catatan.
Salah satu kelebihan wanita dalam bisnis adalah multi-tasking. Bisa melakukan beberapa hal dalam waktu bersamaan. Selain itu, wanita lebih konsisten dan lebih detail dalam urusan bisnis.
However, prioritas bagi seorang wanita adalah anak, suami, dan rumahnya. Jangan sampai ini dinomorduakan hanya karena bisnis dan rupiah. Kalau ini sampai terjadi, itu namanya salah kaprah.
Ingat. Bagi seorang pria, nafkah keluarga tetaplah tanggung-jawabnya. Istri kaya-raya? Istri durhaka? Istri beda agama? Tetap saja pria (suami) yang harus menafkahi.
"Mas Ippho, istri saya cerdas. Dia S2, bahkan kandidat S3. Kan sayang banget kalau dia di rumah saja," celetuk salah satu peserta seminar.
Begini. Di rumah itu ada anak. Baiknya curahkan kecerdasan dan kehebatan sang ibu itu pada anaknya, the best investment. Anak itu investasi terbaik.
Saat ini, saya diamanahi 3 anak. Anak saya yang kedua, #Fathima. Berkerudung, tapi alhamdulillah juara lari, jago ice skating, dan jago gymnastic. Disebut jago kalau dibandingin pemula sih.
Di rumah dia sangat kritis. Berani mengkritik papa, mama, dan oma-nya, hehehe. Demikian pula anak saya yang pertama, #Khadija. Saya percaya, anak-anak saya bisa tumbuh begitu cerdas karena didampingi sungguh-sungguh oleh ibunya, istri saya.
Teman-teman yang punya bisnis, terutama wanita, hendaknya paham prioritas bagi seorang wanita. Prioritasnya adalah anak, suami, dan rumahnya. Bukan bisnisnya. Bukan profit-nya.
Para pria (para suami) hendaknya lebih giat dalam mencari nafkah. Memang hukumnya begitu. Itu adalah tanggung-jawabmu. Sebisanya, jangan sampai membebani istrimu.
#KetikaWanitaBerbisnis, inilah tema seminar saya belakangan ini. Wanita memang tidak wajib mencari uang. Tapi boleh, dengan sederet catatan.
Salah satu kelebihan wanita dalam bisnis adalah multi-tasking. Bisa melakukan beberapa hal dalam waktu bersamaan. Selain itu, wanita lebih konsisten dan lebih detail dalam urusan bisnis.
However, prioritas bagi seorang wanita adalah anak, suami, dan rumahnya. Jangan sampai ini dinomorduakan hanya karena bisnis dan rupiah. Kalau ini sampai terjadi, itu namanya salah kaprah.
Ingat. Bagi seorang pria, nafkah keluarga tetaplah tanggung-jawabnya. Istri kaya-raya? Istri durhaka? Istri beda agama? Tetap saja pria (suami) yang harus menafkahi.
"Mas Ippho, istri saya cerdas. Dia S2, bahkan kandidat S3. Kan sayang banget kalau dia di rumah saja," celetuk salah satu peserta seminar.
Begini. Di rumah itu ada anak. Baiknya curahkan kecerdasan dan kehebatan sang ibu itu pada anaknya, the best investment. Anak itu investasi terbaik.
Saat ini, saya diamanahi 3 anak. Anak saya yang kedua, #Fathima. Berkerudung, tapi alhamdulillah juara lari, jago ice skating, dan jago gymnastic. Disebut jago kalau dibandingin pemula sih.
Di rumah dia sangat kritis. Berani mengkritik papa, mama, dan oma-nya, hehehe. Demikian pula anak saya yang pertama, #Khadija. Saya percaya, anak-anak saya bisa tumbuh begitu cerdas karena didampingi sungguh-sungguh oleh ibunya, istri saya.
Teman-teman yang punya bisnis, terutama wanita, hendaknya paham prioritas bagi seorang wanita. Prioritasnya adalah anak, suami, dan rumahnya. Bukan bisnisnya. Bukan profit-nya.
Para pria (para suami) hendaknya lebih giat dalam mencari nafkah. Memang hukumnya begitu. Itu adalah tanggung-jawabmu. Sebisanya, jangan sampai membebani istrimu.
Uang, ada.
Ilmu, ada.
Relasi, ada.
Tapi kok nggak mulai-mulai usahanya?
Kenapa ya? Mungkin karena tidak punya keberanian.
Ketika memulai, kadang muncul rasa takut. Nyali sampai menciut, kening sampai berkerut. Tapi saran saya, tetaplah melangkah, jangan pernah surut. Selagi legal dan halal, tak perlu merasa takut.
Hei, ingat! Rasa takut harus ditaklukkan dengan sadar dan sengaja. Bukan untuk dimanja-manja. Sering kali apa-apa yang kita takutkan itu tak pernah terjadi. Right?
Dan sebenarnya, keberanian itu menular. Benar-benar menular. Maka, ada baiknya kita bergaul dengan orang-orang yang berani. Sedikit-banyak kita akan terpengaruh.
Modal nomor satu bagi pengusaha adalah keberanian. Sekali lagi, keberanian. Kalau melulu play safe, itu bukan pengusaha namanya. Uang mungkin kurang. Ilmu mungkin kurang. Tapi, kalau ada keberanian, sebuah bisnis bisa segera dimulai.
Pada akhirnya, beranilah.
Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/BnUz8GTAeoL/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1s95qdfg0tn2t
Ilmu, ada.
Relasi, ada.
Tapi kok nggak mulai-mulai usahanya?
Kenapa ya? Mungkin karena tidak punya keberanian.
Ketika memulai, kadang muncul rasa takut. Nyali sampai menciut, kening sampai berkerut. Tapi saran saya, tetaplah melangkah, jangan pernah surut. Selagi legal dan halal, tak perlu merasa takut.
Hei, ingat! Rasa takut harus ditaklukkan dengan sadar dan sengaja. Bukan untuk dimanja-manja. Sering kali apa-apa yang kita takutkan itu tak pernah terjadi. Right?
Dan sebenarnya, keberanian itu menular. Benar-benar menular. Maka, ada baiknya kita bergaul dengan orang-orang yang berani. Sedikit-banyak kita akan terpengaruh.
Modal nomor satu bagi pengusaha adalah keberanian. Sekali lagi, keberanian. Kalau melulu play safe, itu bukan pengusaha namanya. Uang mungkin kurang. Ilmu mungkin kurang. Tapi, kalau ada keberanian, sebuah bisnis bisa segera dimulai.
Pada akhirnya, beranilah.
Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/BnUz8GTAeoL/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1s95qdfg0tn2t
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Takut melangkah? Takut memulai? Itu semua adalah ketakutan-ketakutan yang tidak perlu... Letakkan #takut pada tempatnya. Takutlah kalau tidak ada berkah saat sibuk mencari nafkah. Takutlah kalau tidak ada syukur saat sudah beroleh nafkah. Takutlah kalau tidakβ¦
Malam ini, saya talkshow bareng Merry Riana di Sonora. Jam 7 malam insya Allah. Kalau teman-teman mau bertanya, silakan WA 0812-112-9200. Dua pertanyaan terbaik akan mendapat hadiah buku plus tanda tangan.
Orang kayah mah bebas. π
Saat rumah temanmu disita oleh bank, maka kau bisa membantu temanmu dengan membeli bank tersebut. Ini dilakukan oleh Batman di Justice League.
Saat keluargamu dilarang masuk ke sebuah hotel, maka kau bisa membantu keluargamu dengan membeli hotel tersebut. Ini terjadi di film Crazy Rich Asians.
Begitulah, orang kayah mah bebas. π
Gimana dengan dunia nyata? Kurang-lebih sama. Kita bisa menerapkannya pada hal-hal yang lebih bermanfaat. Bukan untuk keren-kerenan saja. Contohnya?
Membangun sekolah, membangun rumah sakit, membangun rumah ibadah, haji, menghajikan, umrah, mengumrahkan, sedekah, zakat, dan wakaf.
Jangan lagi kita menutup mata. Memang ada amal-amal yang meniscayakan #harta. Dan orang kaya berpotensi bisa melakukan ini dengan lebih baik. Setidaknya, dengan lebih banyak. Betul apa betul?
Maka, jangan tabu terhadap kekayaan. Biasa saja. Karena, boleh-boleh saja kekayaan didapatkan dalam jumlah berapapun. Asalkan jelas dari mana dan ke mana-nya.
"Berjuanglah dengan harta dan jiwa," demikian perintah-Nya. Perhatikan, kata 'harta' diletakkan di depan. Begitulah keutamaan harta dan kekayaan. Primer, bukan sekunder.
Menjadi orang kaya yang soleh, semoga kita semua dimampukan. Aamiin. Simak kelanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/Bni3TOZARuf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=unk1dqtce7xa
Saat rumah temanmu disita oleh bank, maka kau bisa membantu temanmu dengan membeli bank tersebut. Ini dilakukan oleh Batman di Justice League.
Saat keluargamu dilarang masuk ke sebuah hotel, maka kau bisa membantu keluargamu dengan membeli hotel tersebut. Ini terjadi di film Crazy Rich Asians.
Begitulah, orang kayah mah bebas. π
Gimana dengan dunia nyata? Kurang-lebih sama. Kita bisa menerapkannya pada hal-hal yang lebih bermanfaat. Bukan untuk keren-kerenan saja. Contohnya?
Membangun sekolah, membangun rumah sakit, membangun rumah ibadah, haji, menghajikan, umrah, mengumrahkan, sedekah, zakat, dan wakaf.
Jangan lagi kita menutup mata. Memang ada amal-amal yang meniscayakan #harta. Dan orang kaya berpotensi bisa melakukan ini dengan lebih baik. Setidaknya, dengan lebih banyak. Betul apa betul?
Maka, jangan tabu terhadap kekayaan. Biasa saja. Karena, boleh-boleh saja kekayaan didapatkan dalam jumlah berapapun. Asalkan jelas dari mana dan ke mana-nya.
"Berjuanglah dengan harta dan jiwa," demikian perintah-Nya. Perhatikan, kata 'harta' diletakkan di depan. Begitulah keutamaan harta dan kekayaan. Primer, bukan sekunder.
Menjadi orang kaya yang soleh, semoga kita semua dimampukan. Aamiin. Simak kelanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/Bni3TOZARuf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=unk1dqtce7xa
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Tampan, nggak perlu ikhtiar. Mapan, jelas-jelas perlu ikhtiar. Hehe... Mudah-mudahan kita semua diberi kehidupan yang #mapan dan bebas dari segala macam utang. Aamiin...
Indonesia ini sangat kaya. Benar-benar kaya. Bayangkan, kekayaannya sudah dijarah sedemikian rupa oleh penjajah dan koruptor, puluhan tahun, ratusan tahun, tetap saja negeri ini masih gagah berdiri. Amazing!
Lantas, apa yang membuat Indonesia ini sulit majunya? Ada dua hal, menurut saya. Pertama, korupsi. Kedua, ketidakselarasan. Begini. Keselarasan pikiran itu penting. Jangan dianggap enteng.
1% saja orang di kota Anda berpikir secara kolektif (selaras) dan fokus, ternyata bisa menurunkan angka kriminalitas dan meningkatkan angka keteraturan (harmoni) di kota Anda.
Hebat ya? Sangat hebat. Ini namanya Maharishi Effect.
Bayangkan kalau seluruh rakyat Indonesia berpikir bahwa Indonesia itu maju. Benar-benar maju. Setidaknya, bakal maju atau segera maju. Saya yakin, siapapun presidennya, Indonesia bakal maju sungguhan.
Begitulah, keselarasan pikiran itu penting.
Satu contoh kecil. Walau tidak satu kantor, walau tidak satu ruangan, mereka yang sevisi (selaras) bisa bekerjasama. Ya, orang-orang hebat perlu dikumpulkan. Tapi yang lebih perlu adalah orang-orang sevisi (selaras).
Saya tahu, menemukan orang-orang yang sefrekuensi memang tidak mudah. Tapi kalau ini berhasil, maka kita akan menuai hasil yang menakjubkan dan mengejutkan. Anda boleh pegang kata-kata saya.
Keselarasan, mari jadikan ini sebagai kriteria utama dalam memajukan perusahaan juga memajukan negara. Bakalan hebat, insya Allah. Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
(Note: 18-24 Oktober 2018 insya Allah saya dan istri saya berada di Inggris. Bagi komunitas yang ingin memanfaatkan keberadaan saya di sana, silakan WA ke 0812-704-9090. Insya Allah saya siap berbagi ilmu)
Lantas, apa yang membuat Indonesia ini sulit majunya? Ada dua hal, menurut saya. Pertama, korupsi. Kedua, ketidakselarasan. Begini. Keselarasan pikiran itu penting. Jangan dianggap enteng.
1% saja orang di kota Anda berpikir secara kolektif (selaras) dan fokus, ternyata bisa menurunkan angka kriminalitas dan meningkatkan angka keteraturan (harmoni) di kota Anda.
Hebat ya? Sangat hebat. Ini namanya Maharishi Effect.
Bayangkan kalau seluruh rakyat Indonesia berpikir bahwa Indonesia itu maju. Benar-benar maju. Setidaknya, bakal maju atau segera maju. Saya yakin, siapapun presidennya, Indonesia bakal maju sungguhan.
Begitulah, keselarasan pikiran itu penting.
Satu contoh kecil. Walau tidak satu kantor, walau tidak satu ruangan, mereka yang sevisi (selaras) bisa bekerjasama. Ya, orang-orang hebat perlu dikumpulkan. Tapi yang lebih perlu adalah orang-orang sevisi (selaras).
Saya tahu, menemukan orang-orang yang sefrekuensi memang tidak mudah. Tapi kalau ini berhasil, maka kita akan menuai hasil yang menakjubkan dan mengejutkan. Anda boleh pegang kata-kata saya.
Keselarasan, mari jadikan ini sebagai kriteria utama dalam memajukan perusahaan juga memajukan negara. Bakalan hebat, insya Allah. Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
(Note: 18-24 Oktober 2018 insya Allah saya dan istri saya berada di Inggris. Bagi komunitas yang ingin memanfaatkan keberadaan saya di sana, silakan WA ke 0812-704-9090. Insya Allah saya siap berbagi ilmu)
Inflasi di Indonesia sekitar 10% setiap tahunnya. Walaupun Bank Indonesia melaporkan angka lebih kecil daripada itu, tapi nyatanya kenaikan harga barang sering lebih besar daripada itu.
Harga properti naik 15% - 20% setiap tahunnya.
Belum lagi kebutuhan yang meningkat. Anak bertambah. Mereka masuk SD, masuk SMP, masuk SMU. Dan biasanya, biaya pendidikan naik 2x lipat setiap 6 tahunnya, atau lebih cepat. Suka atau tidak suka, faktanya yah begitu.
Hei, kita belum bahas biaya haji dan umrah ya. Kita sama-sama tahu dollar gimana.
Gaji? Jarang-jarang naik setiap tahunnya. Kalaupun naik, di bawah 10%. Kecuali bagi segelintir karyawan yang berprestasi, naiknya bisa di atas 10%. Hm, kebayang kalau kita nggak mempersiapkan diri?
Izinkan saya menawarkan sebuah solusi konkrit. Boleh?
Ini semacam 'kampus bisnis'. Ya, dalam tanda petik. Bedanya, di sini semua serba real. Bisnisnya real. Pengajarnya real. Ilmunya real. Profit-nya real. Benefit-nya real. Hei, kurang apa lagi?
Insya Allah, dengan wasilah 'kampus bisnis' ini, kita bisa mengatasi masalah-masalah inflasi tadi, termasuk kenaikan-kenaikan harga tersebut. Sudah adakah buktinya? Banyak, alhamdulillah.
Di sini, fokusnya bukan lagi 'gelar kesarjanaan' tapi 'gelar barang dagangan'. πππ
Saya mau tanya, enakan mana:
- IPK 3,7 satu semester atau
- income Rp3,7juta satu hari?
Ingat. Zaman sekarang yang dicari bukan lagi IPK akademis. Tapi IPK realistis.
Apa itu? Indeks Pendapatan Kumulatif. πππ
Nah, anggap saja di sini kita lagi ngambil S2 atau master. Tapi targetnya bukan ijazah, bukan kelulusan. Melainkan mapan finansial. Dan saya yakin, inilah jenis kelulusan yang kita inginkan, insya Allah. Aamiin.
Masih ingat zaman kuliah dulu? Kita kalau kuliah, pasti maunya wisuda. Di sini wisudanya rada beda. Bukan wisuda, tapi wis-sudah.
Kalau orang tanya:
Sudah umrah? Wis, sudah.
Punya rumah? Wis, sudah.
Punya mobil? Wis, sudah.
Timnya juga punya? Wis, sudah.
Kan keren?ππππ
Wisuda beneran. Keren beneran. π€£
Terus, apa solusi konkrit yang tawarkan? Sabar ya. Senin kita bahas detailnya. Kalaupun ada SMS atau WA masuk hari ini, mohon maaf, Senin baru bisa kami jawab. Sekali lagi, Senin. Siap-siap ya!
Harga properti naik 15% - 20% setiap tahunnya.
Belum lagi kebutuhan yang meningkat. Anak bertambah. Mereka masuk SD, masuk SMP, masuk SMU. Dan biasanya, biaya pendidikan naik 2x lipat setiap 6 tahunnya, atau lebih cepat. Suka atau tidak suka, faktanya yah begitu.
Hei, kita belum bahas biaya haji dan umrah ya. Kita sama-sama tahu dollar gimana.
Gaji? Jarang-jarang naik setiap tahunnya. Kalaupun naik, di bawah 10%. Kecuali bagi segelintir karyawan yang berprestasi, naiknya bisa di atas 10%. Hm, kebayang kalau kita nggak mempersiapkan diri?
Izinkan saya menawarkan sebuah solusi konkrit. Boleh?
Ini semacam 'kampus bisnis'. Ya, dalam tanda petik. Bedanya, di sini semua serba real. Bisnisnya real. Pengajarnya real. Ilmunya real. Profit-nya real. Benefit-nya real. Hei, kurang apa lagi?
Insya Allah, dengan wasilah 'kampus bisnis' ini, kita bisa mengatasi masalah-masalah inflasi tadi, termasuk kenaikan-kenaikan harga tersebut. Sudah adakah buktinya? Banyak, alhamdulillah.
Di sini, fokusnya bukan lagi 'gelar kesarjanaan' tapi 'gelar barang dagangan'. πππ
Saya mau tanya, enakan mana:
- IPK 3,7 satu semester atau
- income Rp3,7juta satu hari?
Ingat. Zaman sekarang yang dicari bukan lagi IPK akademis. Tapi IPK realistis.
Apa itu? Indeks Pendapatan Kumulatif. πππ
Nah, anggap saja di sini kita lagi ngambil S2 atau master. Tapi targetnya bukan ijazah, bukan kelulusan. Melainkan mapan finansial. Dan saya yakin, inilah jenis kelulusan yang kita inginkan, insya Allah. Aamiin.
Masih ingat zaman kuliah dulu? Kita kalau kuliah, pasti maunya wisuda. Di sini wisudanya rada beda. Bukan wisuda, tapi wis-sudah.
Kalau orang tanya:
Sudah umrah? Wis, sudah.
Punya rumah? Wis, sudah.
Punya mobil? Wis, sudah.
Timnya juga punya? Wis, sudah.
Kan keren?ππππ
Wisuda beneran. Keren beneran. π€£
Terus, apa solusi konkrit yang tawarkan? Sabar ya. Senin kita bahas detailnya. Kalaupun ada SMS atau WA masuk hari ini, mohon maaf, Senin baru bisa kami jawab. Sekali lagi, Senin. Siap-siap ya!
Teman-teman kenal Sunan Gresik? Maulana Malik Ibrahim adalah nama lainnya.
Saya pengagum sosok yang satu ini. Sering saya ulas di buku dan seminar. Beliau keturunan Rasulullah, melalui jalur Husain. Jago dagang, jago pengobatan, jago irigasi, dan tentunya jago komunikasi. Masya Allah.
Kalau membahas #WaliSongo, maka beliau-lah yang pertama-tama dibahas karena memang beliau-lah sosok sentralnya.
Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat adalah keturunan-keturunannya. Semoga Allah menambah kemuliaan pada beliau, keturunan beliau, dan murid-murid beliau. Aamiin.
Semasa hidup, beliau dikenal sebagai pedagang yang santun dan ramah. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik dengan Islam. Ia berdagang di pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.
Perdagangan membuatnya berinteraksi dengan masyarakat luas. Networking. Selain itu, raja dan para bangsawan pun turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal, atau pemilik modal.
Rupa-rupanya beliau mengikuti keteladanan Nabi Muhammad yang memang terkenal sebagai pedagang. Bukan satu tahun dua tahun, melainkan 25 tahun. Istri Nabi dan kebanyakan sahabat Nabi juga pedagang.
Yang kita sayangkan, dengan sedemikian banyak contoh perdagangan, mulai dari Nabi sampai wali-wali, umat Muslim saat ini malah jauh dari dunia perdagangan. Tentu saja, modal yang mereka jadikan alasan dan kambing hitam. Padahal kesungguhan yang belum ada.
Introspeksi.
Pada akhirnya, simak ini >> https://www.instagram.com/p/BoDwSaAgTwJ/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=ll1kv03zrnkv
Saya pengagum sosok yang satu ini. Sering saya ulas di buku dan seminar. Beliau keturunan Rasulullah, melalui jalur Husain. Jago dagang, jago pengobatan, jago irigasi, dan tentunya jago komunikasi. Masya Allah.
Kalau membahas #WaliSongo, maka beliau-lah yang pertama-tama dibahas karena memang beliau-lah sosok sentralnya.
Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat adalah keturunan-keturunannya. Semoga Allah menambah kemuliaan pada beliau, keturunan beliau, dan murid-murid beliau. Aamiin.
Semasa hidup, beliau dikenal sebagai pedagang yang santun dan ramah. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik dengan Islam. Ia berdagang di pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.
Perdagangan membuatnya berinteraksi dengan masyarakat luas. Networking. Selain itu, raja dan para bangsawan pun turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal, atau pemilik modal.
Rupa-rupanya beliau mengikuti keteladanan Nabi Muhammad yang memang terkenal sebagai pedagang. Bukan satu tahun dua tahun, melainkan 25 tahun. Istri Nabi dan kebanyakan sahabat Nabi juga pedagang.
Yang kita sayangkan, dengan sedemikian banyak contoh perdagangan, mulai dari Nabi sampai wali-wali, umat Muslim saat ini malah jauh dari dunia perdagangan. Tentu saja, modal yang mereka jadikan alasan dan kambing hitam. Padahal kesungguhan yang belum ada.
Introspeksi.
Pada akhirnya, simak ini >> https://www.instagram.com/p/BoDwSaAgTwJ/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=ll1kv03zrnkv
Instagram
IPPHO SANTOSA
Saya pengagum sosok yang satu ini. Sering saya bahas di buku dan seminar. Beliau keturunan Rasulullah, melalui jalur Husain. Jago dagang, jago pengobatan, jago irigasi, dan tentunya jago komunikasi. Masya Allah. Kalau membahas #WaliSongo, beliau-lah sosokβ¦
Ada empat fungsi (department) dalam sebuah bisnis, menurut Robert Kiyosaki. Apa saja? Sebentar lagi kita bahas.
Sejauh ini, masih ada yang bingung mau bisnis apa. Saran saya, nggak harus produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.
Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu 'menjual' dan 'menjualkan'. Bukan mustahil beliau seorang reseller atau sejenisnya.
Setidaknya, ada empat fungsi dalam bisnis. Produksi, keuangan, SDM, dan marketing. Sebagai pemula, Anda tidak harus menguasai semuanya. Cukup salah satunya saja. Misal, marketing.
Sejauh ini, banyak sekali yang japri ke ponsel saya, bertanya soal bisnis, "Apa saja ciri bisnis yang bagus?" Saya bilang, perhatikan baik-baik margin-nya dan repeat order-nya. Pastikan kedua-duanya oke. Ya, keberlangsungan sebuah bisnis sangat ditentukan oleh margin dan repeat order.
Satu lagi. Ada mentor-nya. Pastikan teruji kejujurannya, pastikan teruji kemampuannya. Dalam learning, mentor itu peredam risiko. Penting sekali. Kalau coba-coba sendiri, yah bisa juga. Tapi lebih lama dan lebih berisiko.
Terus, ada juga yang nanya, apa saya bisa jadi #MitraMasIppho ? Saya jawab, yah bisa. Yang mau bermitra dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100. Anda cukup menyiapkan sedikit modal dan mulai memasarkan (marketing).
Kerumitan-kerumitan yang lain (produksi, keuangan, dan SDM), biar saya yang handle. Kesempatan bermitra ini terbuka sampai 2 Oktober. Tapi bagi mereka yang take action lebih awal, sampai 28 September, saya kasih bonus-bonus.
Pada akhirnya, saya berharap teman-teman semua bisa sukses besar jadi pengusaha, entah bermitra dengan saya atau tidak. Sekali lagi, sukses besar. Aamiin. Saling mendoakan ya. Semoga berkah berlimpah.
Sejauh ini, masih ada yang bingung mau bisnis apa. Saran saya, nggak harus produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.
Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu 'menjual' dan 'menjualkan'. Bukan mustahil beliau seorang reseller atau sejenisnya.
Setidaknya, ada empat fungsi dalam bisnis. Produksi, keuangan, SDM, dan marketing. Sebagai pemula, Anda tidak harus menguasai semuanya. Cukup salah satunya saja. Misal, marketing.
Sejauh ini, banyak sekali yang japri ke ponsel saya, bertanya soal bisnis, "Apa saja ciri bisnis yang bagus?" Saya bilang, perhatikan baik-baik margin-nya dan repeat order-nya. Pastikan kedua-duanya oke. Ya, keberlangsungan sebuah bisnis sangat ditentukan oleh margin dan repeat order.
Satu lagi. Ada mentor-nya. Pastikan teruji kejujurannya, pastikan teruji kemampuannya. Dalam learning, mentor itu peredam risiko. Penting sekali. Kalau coba-coba sendiri, yah bisa juga. Tapi lebih lama dan lebih berisiko.
Terus, ada juga yang nanya, apa saya bisa jadi #MitraMasIppho ? Saya jawab, yah bisa. Yang mau bermitra dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100. Anda cukup menyiapkan sedikit modal dan mulai memasarkan (marketing).
Kerumitan-kerumitan yang lain (produksi, keuangan, dan SDM), biar saya yang handle. Kesempatan bermitra ini terbuka sampai 2 Oktober. Tapi bagi mereka yang take action lebih awal, sampai 28 September, saya kasih bonus-bonus.
Pada akhirnya, saya berharap teman-teman semua bisa sukses besar jadi pengusaha, entah bermitra dengan saya atau tidak. Sekali lagi, sukses besar. Aamiin. Saling mendoakan ya. Semoga berkah berlimpah.
Bisnis dan karier tak selamanya di atas. Jangan sombong, jangan pula melampaui batas. Kalau sombong, itu namanya bablas.
Coba ingat-ingat lagi masa-masa susah kita. Coba ingat-ingat lagi asal-usul diri kita. Masih berani sombong?
Seperti kehidupan, #bisnis juga kadang naik-turun. Kalau memahami ini, ketika naik, kita tidak akan sombong. Ketika turun, kita tidak akan putus asa. Dijalani saja semuanya, sewajarnya.
Lantas, apa bedanya sombong dengan keyakinan yang meluap-luap? Tentu saja beda.
Begini. Boleh-boleh saja yakin, setinggi apapun, sebesar apapun, asalkan disandarkan sama Allah. Keyakinan seperti ini namanya iman, bukan sombong, bukan takabur. Upayakan seyakin ini, meski uang di kantong nggak seberapa.
Sebenarnya, ini nggak ada urusan sama uang. Cuma sayangnya, kebanyakan orang, ada uang, baru yakin. Nggak ada uang, yah nggak yakin. Ini kan kebalik. Justru dengan yakin, suatu hari nanti, uang akan teradakan. Betul apa betul?
Sekali lagi, yakin hendaknya disandarkan sama Allah. Ya, sama Allah. Dan ini yang terbaik. Kalau disandarkan pada diri sendiri? Maaf, itu sombong namanya. S-o-m-b-o-n-g. Apalagi sampai meremehkan orang lain. Paham bedanya?
Saya doakan, semoga semua aktivitas teman-teman lancar dan berkah semua. Aamiin. Tetap semangat, tetap tawadhu. Jauh dari kesombongan. Aamiin.
Doakan saya juga ya πππ
Kadang, saya pribadi penasaran. Apa saja aktivitas utama teman-teman. Boleh bantu jawab? Di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BoIDfrKgXQ_/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=6u3omnqulut2
Coba ingat-ingat lagi masa-masa susah kita. Coba ingat-ingat lagi asal-usul diri kita. Masih berani sombong?
Seperti kehidupan, #bisnis juga kadang naik-turun. Kalau memahami ini, ketika naik, kita tidak akan sombong. Ketika turun, kita tidak akan putus asa. Dijalani saja semuanya, sewajarnya.
Lantas, apa bedanya sombong dengan keyakinan yang meluap-luap? Tentu saja beda.
Begini. Boleh-boleh saja yakin, setinggi apapun, sebesar apapun, asalkan disandarkan sama Allah. Keyakinan seperti ini namanya iman, bukan sombong, bukan takabur. Upayakan seyakin ini, meski uang di kantong nggak seberapa.
Sebenarnya, ini nggak ada urusan sama uang. Cuma sayangnya, kebanyakan orang, ada uang, baru yakin. Nggak ada uang, yah nggak yakin. Ini kan kebalik. Justru dengan yakin, suatu hari nanti, uang akan teradakan. Betul apa betul?
Sekali lagi, yakin hendaknya disandarkan sama Allah. Ya, sama Allah. Dan ini yang terbaik. Kalau disandarkan pada diri sendiri? Maaf, itu sombong namanya. S-o-m-b-o-n-g. Apalagi sampai meremehkan orang lain. Paham bedanya?
Saya doakan, semoga semua aktivitas teman-teman lancar dan berkah semua. Aamiin. Tetap semangat, tetap tawadhu. Jauh dari kesombongan. Aamiin.
Doakan saya juga ya πππ
Kadang, saya pribadi penasaran. Apa saja aktivitas utama teman-teman. Boleh bantu jawab? Di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BoIDfrKgXQ_/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=6u3omnqulut2
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Seperti kehidupan, #bisnis kadang juga naik-turun. Kalau memahami ini, ketika naik, kita tidak akan sombong. Ketika turun, kita tidak akan putus asa. Dijalani saja semuanya... Teman-teman sudah mulai beraktivitas? πππ
Kemarin saya bersama Wendi Abdillah dan mitra-mitra BP lunch bareng Mas Fadly, vokalis Padi dan Musikimia. Terima kasih Mas Fadly, telah berkenan lunch bersama mitra-mitra BP. Mudah-mudahan Mas Fadly tetap sehat, tambah sukses, dan tercapai impian-impian mulianya. Aamiin.
Istrinya Mas Fadly, Mbak Dessy, juga hadir. Alhamdulillah. Keseruan kami bisa dilihat di IG ini >> https://www.instagram.com/p/BoL7hyWANqg/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1uo82n8hsg55b.
Mereka sudah menikah 17 tahun. Langgeng alhamdulillah. Beberapa minggu yang lalu, barusan mereka memperingati anniversary pernikahan mereka di Eropa, walaupun perjalanan ke situ tidak direncanakan sebelumnya.
Pertama kali saya bertemu Mas Fadly di acara SalingSapa dan ICMI. Di situ saya baru tahu ternyata Mas Fadly sudah baca buku saya sejak lama. Setelah itu, saya mengajaknya bertemu Eyang Habibie, mengisi seminar bareng, dan membawakan lagu 'Sang Pemenang'.
Orangnya persis seperti filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Rendah hati alias tawadhu. Padahal albumnya sudah terjual jutaan keping. Hampir semua orang Indonesia pernah menyanyikan lagunya, seperti 'Begitu Indah' dan 'Insya Allah'.
Anaknya empat. Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan. Bilal sudah di pesantren, alhamdulillah. Mereka berharap Bilal ini suaranya lantang dan indah seperti sahabat Nabi, Bilal. Keluarga yang soleh, insya Allah. Tidak seperti rocker kebanyakan. Ya lihat saja dari nama-nama anaknya.
Bersama Maher Zain, Mas Fadly mengajak masyarakat untuk tetap optimis walaupun tengah dilanda masalah. Tepatnya di lagu 'Insya Allah'.
Bagi saya, setiap masalah pasti ada solusi dan jalan keluarnya. Insya Allah. Namun, kadang kita belum bisa menemukannya seketika. Perlu doa. Perlu ikhtiar. Perlu taubat. Agar dipertemukan dengan solusi dan jalan keluar.
Di sisi lain, kita juga mesti sabar dan baiksangka. Ya, sabar dan baiksangka. Yakinlah, pasti dipertemukan dengan solusi dan jalan keluar. Teman-teman setuju? Saya harap begitu.
Satu hal yang jarang diketahui, Mas Fadly juga suka berkebun. Menarik? Tentunya. Tiga anaknya belajar di sekolah alam. Baginya, kita harus menghargai alam. Jangan merusak alam, sekecil apapun. Menurut saya, ini bagian dari rahmat pada semesta alam.
Sekali lagi kita doakan, mudah-mudahan Mas Fadly tetap sehat, tambah sukses, dan tercapai impian-impian mulianya. Aamiin.
Istrinya Mas Fadly, Mbak Dessy, juga hadir. Alhamdulillah. Keseruan kami bisa dilihat di IG ini >> https://www.instagram.com/p/BoL7hyWANqg/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1uo82n8hsg55b.
Mereka sudah menikah 17 tahun. Langgeng alhamdulillah. Beberapa minggu yang lalu, barusan mereka memperingati anniversary pernikahan mereka di Eropa, walaupun perjalanan ke situ tidak direncanakan sebelumnya.
Pertama kali saya bertemu Mas Fadly di acara SalingSapa dan ICMI. Di situ saya baru tahu ternyata Mas Fadly sudah baca buku saya sejak lama. Setelah itu, saya mengajaknya bertemu Eyang Habibie, mengisi seminar bareng, dan membawakan lagu 'Sang Pemenang'.
Orangnya persis seperti filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Rendah hati alias tawadhu. Padahal albumnya sudah terjual jutaan keping. Hampir semua orang Indonesia pernah menyanyikan lagunya, seperti 'Begitu Indah' dan 'Insya Allah'.
Anaknya empat. Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan. Bilal sudah di pesantren, alhamdulillah. Mereka berharap Bilal ini suaranya lantang dan indah seperti sahabat Nabi, Bilal. Keluarga yang soleh, insya Allah. Tidak seperti rocker kebanyakan. Ya lihat saja dari nama-nama anaknya.
Bersama Maher Zain, Mas Fadly mengajak masyarakat untuk tetap optimis walaupun tengah dilanda masalah. Tepatnya di lagu 'Insya Allah'.
Bagi saya, setiap masalah pasti ada solusi dan jalan keluarnya. Insya Allah. Namun, kadang kita belum bisa menemukannya seketika. Perlu doa. Perlu ikhtiar. Perlu taubat. Agar dipertemukan dengan solusi dan jalan keluar.
Di sisi lain, kita juga mesti sabar dan baiksangka. Ya, sabar dan baiksangka. Yakinlah, pasti dipertemukan dengan solusi dan jalan keluar. Teman-teman setuju? Saya harap begitu.
Satu hal yang jarang diketahui, Mas Fadly juga suka berkebun. Menarik? Tentunya. Tiga anaknya belajar di sekolah alam. Baginya, kita harus menghargai alam. Jangan merusak alam, sekecil apapun. Menurut saya, ini bagian dari rahmat pada semesta alam.
Sekali lagi kita doakan, mudah-mudahan Mas Fadly tetap sehat, tambah sukses, dan tercapai impian-impian mulianya. Aamiin.
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Setiap masalah pasti ada solusi dan jalan keluarnya. Insya Allah. Namun, kadang kita belum bisa menemukannya seketika. Perlu doa. Perlu ikhtiar. Agar dipertemukan dengan solusi dan jalan keluar... Teman-teman setuju atau sangat setujuuuu?
Simak tulisan-tulisan saya di sini, gratis >> tulisanipphosantosa.com
Ada baiknya kita memiliki mentor yang tepat untuk bisnis kita, karier kita, dan kehidupan kita. Memang tak mudah untuk mendapatkan mentor yang tepat. Tapi bukan berarti ini mustahil. Bisa, insya Allah.
Selanjutnya, lebih baik lagi kalau kita bisa bermitra dengannya atau bekerja untuknya (work with or work for). Dengan kata lain, kita menjadi partner-nya atau menjadi staf-nya. Kalau sudah begini, kita akan beroleh transferan ilmu setiap harinya. Tokcer tentunya!
Ini saran saya berikutnya >> https://www.instagram.com/p/BoQwgJWAiHh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1rfepb6n2qjzx
Selanjutnya, lebih baik lagi kalau kita bisa bermitra dengannya atau bekerja untuknya (work with or work for). Dengan kata lain, kita menjadi partner-nya atau menjadi staf-nya. Kalau sudah begini, kita akan beroleh transferan ilmu setiap harinya. Tokcer tentunya!
Ini saran saya berikutnya >> https://www.instagram.com/p/BoQwgJWAiHh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1rfepb6n2qjzx
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Kalau bisa mentoring dengan tatap muka, itu lebih bagus. Apalagi kalau pertemuan intens, terus-menerus.