Ippho Santosa - ipphoright
26K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Pernah tidur siang?

Menurut penelitian Dr Brigite Steger, Dosen Senior di Modern Japanese Studies, University of Cambridge, sebenarnya kebiasaan tidur siang (inemuri) sudah berlangsung sejak lama di Jepang. Bahkan sejak era samurai.

Bagaimana dengan di Amerika Serikat? Perusahaan Casper di New York bahkan membangun tiga kamar mungil. Selain itu, perusahaan seperti Google, Time Warner, dan Ben & Jerry’s menyediakan “kapsul tidur” untuk karyawan yang kurang tidur.

Soalnya pentingnya tidur siang disampaikan oleh Prof Richard Horner, Dr Brian Murray, dan Dr Charles Morindi dari Kanada. Sangat menyehatkan.

Menurut Dr Michael Breus dari Valley Sleep Center di Arizona, perusahaan wajib memastikan karyawannya cukup tidur. Dr Jennifer Turgiss, co-authored dari Virgin Pulse Institute (Virgin Group) juga menyerukan hal senada.

Tapi, janganlah tidur siang lama-lama. Penelitian dari Leiden University, Belanda, menemukan, mereka yang tidur siang lebih dari satu jam sehari, berpotensi untuk mengalami gangguan metabolisme.

Selama bertahun-tahun, saya pun rutin tidur siang dengan durasi 15-20 menit. Kenapa? Yang saya pelajari, Nabi Muhammad juga melakukan ini. Namanya qailulah. Sangat menyehatkan. Sekarang, tak sedikit perusahaan di negara-negara maju menerapkan hal yang sama.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda sudah menikah? Jika sudah, sering-seringlah memeluk pasangan Anda juga anak-anak Anda.

Penelitian yang dihelat oleh Touch Research Institute di University of Miami mengungkapkan bahwa sentuhan dan pelukan memiliki efek positif yang besar terhadap kesehatan tubuh.

Seperti dilansir MindBodyGreen, Januari 2015, setiap orang membutuhkan pelukan setidaknya delapan kali dalam sehari. Ya, delapan kali dalam sehari. Kalau sudah rutin dan banyak seperti ini, dampaknya lebih daripada meditasi.

Menurut MD Junction, pelukan dapat membangun rasa percaya dan rasa aman.

Setiap pelukan akan merangsang hormon oksitosin dan serotonin, yang mana ini dampaknya menyehatkan dan membahagiakan. Selain itu, hadir pula keterikatan emosional dan spiritual dengan pasangan, empati dan komunikasi dengan pasangan, relaksasi pikiran dan keseimbangan pikiran.

Menurut Isabel Leming dari Klinik Smart TMS, pelukan dapat menekan rasa sepi, menekan risiko sakit jantung, dan membangkitkan mood.

Dikutip dari TheHealthSite.com, pelukan bisa membakar 12 kalori, memperlancar sirkulasi darah, memperkuat sistem kekebalan tubuh (mengaktifkan Solar Plexus Chakra), meningkatkan daya ingat, dan menurunkan tekanan darah.

Menurut penelitian di University of Kansas AS, pelukan erat selama 10-20 detik bisa memperlancar sirkulasi darah dan oksigen. Ya, pelukan adalah sebuah terapi yang ampuh untuk menyembuhkan beraneka penyakit dan masalah, termasuk susah tidur. 

Dora asal Chippy yang berusia 102 tahun pernah menyampaikan rahasia panjang umurnya, "Aku selalu menghindari perasaan cemas. Dalam sehari, aku akan memeluk orang tercinta agar aku merasa aman dan nyaman. Inilah yang membuatku panjang umur. Dan ini sebenarnya tidak sulit. Semua orang bisa melakukannya."

Dari Aisyah kita pun tahu bahwa Nabi biasanya menemui istrinya, lalu mendekatinya, menciumnya, dan membelainya tanpa hubungan badan (HR. Daruquthni 3781).

Pada akhirnya, sering-seringlah memeluk pasangan Anda juga anak-anak Anda. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pamer kemesraan dan pamer kekayaan, dari segi apapun, jelas-jelas tidak baik.

Menurut dosen senior di University of Technology Sydney, Hillbun Ho, postingan yang berorientasi pada konsumerisme bisa merusak kesehatan finansial bahkan hingga kesehatan mental. Bukan saja buat dirinya, tapi juga orang lain.

Bagaimana dengan pamer kemesraan? Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Telematics and Informatics, hubungan percintaan bisa terkena dampak buruk dari selfie dan pamer. Apa itu? Menambah kecemasan dan mengurangi kebahagiaan.

Seksolog Nikki Goldstein menyampaikan, pasangan yang berlebihan berbagi foto bahagia itu sebenarnya mengompensasi rasa tak aman atau retakan dalam hubungan mereka. Lantas mereka mencari penghiburan dari teman-teman dan follower di media sosial.

"Acapkali mereka yang paling sering mengunggah, mencari validasi hubungan mereka dari orang lain di media sosial," ungkap Seksolog Nikki Goldstein blak-blakan.

Bolehkah posting sesuatu dengan niat ingin menginspirasi? Bagi saya, boleh. Tapi soal pamer atau tidak, hanya kita yang tahu. Right? Akan sangat baik kalau kita menjaga niat dan menjauhkan diri dari keinginan untuk pamer.

Gemar pamer pada ujungnya akan memicu penyakit hati dan penyakit fisik. Ini yang bahaya. Hati-hati.
Entah berapa kali orang-orang bertanya ke saya soal memulai usaha. Baiklah, saya bagikan tips-tipsnya.

Pertama, mengenal customer. Saat menentukan jenis usaha yang akan dijalankan, coba pikirkan baik-baik jenis customer yang kita inginkan. Ini penting. Kenapa? Karena hal ini akan berpengaruh terhadap persepsi dan manfaat yang akan kita hadirkan pada produk.

Maka, coba pikirkan siapakah target pasar kita? Berapa usia mereka? Berapa pendapatan mereka? Apa yang mereka butuhkan? Apa yang mereka inginkan? Bagaimana mereka berperilaku? Seperti apa ciri-ciri mereka? Jenis message seperti apa yang bisa mereka terima?

Kedua, mengenal competitor. Mempelajari competitor bukan berarti kita menyontek mentah-mentah cara mereka. Bukan begitu. Melainkan mencontoh best practice dari mereka serta mengetahui kelemahan-kelemahan mereka.

Setelah itu, hal-hal yang positif dan relevan, kita terapkan pada bisnis kita. Tentu, dengan penyesuaian-penyesuaian. Selain itu, kita juga perlu mempelajari keunikan produk mereka, baik dari segi persepsi maupun dari segi manfaat.

Ketiga, menentukan keunikan brand kita. Berusahalah membangun brand yang unik dan menonjol dari bisnis-bisnis lainnya. Coba cari tahu apa yang membuat bisnis kita berbeda dan lebih unggul ketimbang competitor lainnya.

Saran, sekiranya tidak kuat dari segi modal, jangan pernah bersaing habis-habisan dari segi harga. Lebih baik, tetaplah menjual barang yang berkualitas, lalu temukan keunikan dan keunggulan tersendiri. Ingat, perang harga hanya menguntungkan mereka yang bermodal kuat.

Sekian, semoga bermanfaat.
Saya senang sekali saat bisa membantu klien mencapai targetnya. Puas rasanya. Apalagi kalau ternyata klien itu BUMN. Hitung-hitung, bantu negara. Walaupun hanya melalui training.

Setiap kita hendaknya berpikir besar. Namanya manusia tak cukup memikirkan perut dan dapurnya sendiri. Sekali lagi, harusnya berpikir besar. Bantu sesama. Bantu negara. Dengan apa saja, termasuk dengan uang. Niatkan seperti itu.

Mustahil? Muluk-muluk? Ketinggian. Nggak juga. Kalau kita serius, akan ada jalannya. Dimampukan insya Allah. Walaupun sedikit. Teman-teman mesti yakin. Baiklah, saya kasih contoh biar yakin.

Rakyat Korea Selatan pada tahun 1998 ternyata pernah urunan emas demi membantu pembayaran utang negara. Rakyat Malaysia juga sama, pada tahun 2018 urunan uang demi membantu pembayaran utang negara, walaupun belum seberhasil Korsel.

Bagaimana dengan membantu negara lain? Mungkin saja. Bill Gates sempat ikut melunasi utang Nigeria ke Jepang sebesar Rp 950 Miliar (Kompas, Januari 2018). Rakyat Uni Eropa sempat urunan demi membantu pembayaran utang Yunani (CNN, 2015), walaupun belum seberhasil Bill Gates.

Dan jangan salah. Dulu, kita pun pernah melakukannya. Perlu contoh? Bongkahan emas seberat 38 kilogram di puncak Monas adalah sumbangan dari pengusaha Aceh, Teuku Markam.

Tempat proklamasi kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur merupakan wakaf pengusaha keturunan Yaman yang tinggal di Indonesia, Faradj bin Said Awad Martak .

Tak cukup sampai di situ. Sultan Hamengku Buwono IX pun turut menyumbangkan 6,5 juta Gulden pada pemerintah saat itu.

Kuncinya, pemerintah bisa dipercaya. Saya ulang, pemerintah bisa dipercaya. Sehingga rakyat tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan uang, emas, dan apa saja miliknya untuk negara.

Belum lagi adanya hartawan yang dermawan. Bisa dipastikan, bantuan si hartawan ini akan signifikan jumlahnya dan menggerakkan tokoh-tokoh yang lain. Anda bisa membayangkan? Saya bisa.

Jadi, membantu negara dalam bentuk uang bukanlah sebuah perkara yang mustahil dan muluk-muluk. Sudah banyak contohnya. Kita doakan ya agar masa-masa seperti itu segera terjadi. Bisa insya Allah. Aamiin.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Uang, penting.

Ilmu di balik uang jauh lebih penting.

Bayangkan, apa jadinya bila orang miskin tiba-tiba memenangkan lotre dalam jumlah yang besar? Kebayang?

Penelitian para ekonom dari University of Kentucky, University of Pittsburgh, dan Vanderbilt University membuktikan, dalam lima tahun, para pemenang lotre jadi bangkrut. Miskin lagi.

Inilah akibat dari surplus uang tapi minus ilmu.

Ingat, uang bisa datang dan pergi. Tapi dengan ilmu, kita bisa mendatangkan uang, lagi dan lagi.
Bayangkan, apa jadinya bila orang miskin tiba-tiba memenangkan lotre dalam jumlah yang besar? Penelitian dari University of Kentucky, University of Pittsburgh, dan Vanderbilt University membuktikan, dalam lima tahun, para pemenang lotre jadi bangkrut. Miskin lagi.

Perlu contoh? Pada 2003, nama Callie Rogers tiba-tiba menjadi perbincangan di Inggris. Di usia 16, ia memenangkan lotre bernilai 1,8 juta poundsterling atau Rp 35 miliar! Callie Rogers pun menyandang status pemenang lotre termuda di Inggris.

Bergelimangan harta, Callie Rogers menjalani hidup dengan berfoya-foya. Tak lama setelah mendapat hadiah lotere, Callie Rogers tak mau meneruskan sekolah dan bekerja. Sebelum memenangkan lotre tersebut, Callie Rogers bekerja sebagai penjaga toko.

Dia lebih banyak menghabiskan uang untuk baju, pesta, narkoba, operasi plastik, liburan dan hadiah. Dan kini, ibu tiga anak itu harus bersusah payah sebagai perawat demi menyambung hidup karena hartanya sudah habis. Penyesalan selalu datang di akhir ketika Callie Rogers merasa tak sanggup memberikan perawatan yang layak bagi buah hatinya, terutama Blake yang mengidap cerebral palsy. 

Inilah akibat dari surplus uang tapi minus ilmu. Tak mampu mengelola uang. Ingat, uang bisa datang dan pergi. Tapi dengan ilmu, kita bisa mendatangkan uang, lagi dan lagi. Uang, penting. Ilmu di balik uang jauh lebih penting. Teman-teman setuju? Tulisan ini boleh di-share.
Soal godaan nih.

Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi PRIA? Itulah wanita.

Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi WANITA? Itulah online shop. Hehehe.

Shopping. Belanja-belanja. Beli-beli. Milih-milih. Wanita mana yang nggak suka? Ayo ngaku! Anehnya, barang yang terlihat biasa-biasa saja oleh pria, eh bisa terlihat lucu dan unyu oleh wanita. Begitulah wanita. Hehehe.

Kadang, pekerjaan ibu rumahtangga itu melelahkan dan menjemukan. Kan seringnya di rumah. Betul apa betul? Jadi, sekiranya istri sesekali shopping, yah izinkan saja. Toh yang dia shopping itu untuk keluarga dan rumahtangga. Bukan untuk siapa-siapa.

Apabila selama ini suami SUDAH BENAR dalam mengarahkan dan mendidik istri, pastilah yang di-shopping istri itu barang-barang yang bermanfaat untuk keluarga dan rumahtangga. Nggak sia-sia.

Pesan untuk suami. Daripada berdebat nyuruh-nyuruh istri berhenti shopping, lebih baik shopping-nya diarahkan dan diatur. So, everybody wins. Apalagi Anda tahu persis, nggak bakal menang berdebat melawan wanita, hehehe.

Hal ini tentu mesti dilihat secara berimbang, nggak timpang. Di mana istri pun harus tahu berapa kemampuan dan kesukaan suami. Jangan memaksakan diri. Jangan mau enaknya sendiri. Sip?

Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.

Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.

Yang belum dikaruniai jodoh, saya turut mendoakan. Semoga segera ya. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kesehatan adalah investasi yang sangat mahal dan bersifat jangka panjang. Kalau kita memilih menu sehat hari ini, mungkin dampaknya tidak langsung terasa pada keesokan harinya. Ya, perlu waktu bertahun-tahun untuk mengetahui dampaknya.

Ingat. Karier, penting. Bisnis, penting. Target, penting. Kesehatan? Jauuuh lebih penting. Pastilah teman-teman setuju dengan statement ini. Saking berharganya, kesehatan tak bisa diukur dengan rupiah. Priceless.

Di sekitar kita ada tiga masalah kesehatan yang sangat mencolok. Apa itu? Kolestrol, diabetes, dan asam urat. Mungkin terkesan remeh, tapi jangan salah, ketiga penyakit sangat mengganggu produktivitas. Tidak jarang, orang-orang muda juga mengalaminya.

Apa saran saya untuk teman-teman yang menderita asam urat? Perbanyak jeruk, ceri, stoberi, apel, delima, seledri, dan teh hijau. Terus, hindari nangka, nanas, durian, rambutan, dan anggur. Lebih baik lagi kalau merutinkan propolis yang berkualitas premium.

Lantas, olahraga apa yang tepat? Lakukan peregangan pada pergelangan tangan, naik-turun tangga, renang, sepeda, dan aerobik. Olahraga-olahraga ini insya Allah sangat membantu.

Sepengalaman saya, memelihara bisnis memerlukan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Demikian pula memelihara kesehatan, memerlukan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Tidak bisa mengandalkan satu-dua tindakan sesaat saja.

Semoga kita semua selalu sehat, berkah, dan berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rajin sedekah, apakah jaminan surga? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu.

Ada orang yang diberi keluasan rezeki oleh Allah, dikaruniai macam-macam harta. Lalu di akhirat, ia dibawa ke hadapan Allah dan Allah mengabarkan kenikmatan-kenikmatan itu kepadanya.

Allah pun bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan di dunia?” Orang yang disebut-sebut ahli sedekah itu menjawab, “Aku menginfakkan hartaku karena-Mu, ya Allah.”

Mendengar itu, Allah membalas, “Engkau berdusta. Sebenarnya engkau melakukan itu semua karena ingin dipuji sebagai dermawan." Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk membawanya. Orang itu pun diseret, masuk ke dalam neraka.

Hadis Abu Hurairah ini diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasai. Sahih insya Allah. Begitulah, ada tiga kelompok orang yang pertama kali akan diadili di akhirat kelak dan ternyata masuk neraka, salah satunya adalah ahli sedekah yang keliru niatnya.

Hati-hati. Niat tak bisa dianggap sepele. Amal kecil bisa terhitung besar, asalkan lurus niatnya. Amal besar bisa terhitung kecil bahkan sia-sia, karena melenceng niatnya. Pada akhirnya, mari kita jaga niat kita.
Tadi malam saya, keluarga saya, dan tim saya ditraktir oleh Mas Akhmad di Sabhu Hachi. Mentraktir, ini bentuk luas dari sedekah. Alhamdulillah, menyenangkan.

Sungguh, murah hati membuat hidup kita tidak murahan. Yang saya yakini, sedekah itu solusi. Bagi yang menerima, juga bagi yang memberi. Itu yang mestinya kita imani dan amini.

Memuliakan sesama, tak perlu diragukan lagi, ini adalah perbuatan mulia. Dan berkah tentunya. Di samping itu, menurut penelitian University of Antwerp di Belgia, berbagi makanan bisa membuat hati menjadi lebih lembut. Termasuk mentraktir makan.

Apalagi guru-guru dunia telah mengajarkan dan menganjurkan, kunci bahagia dalam hidup BUKANLAH mengakumulasi harta. Kuncinya ialah kontribusi dan distribusi, maka peganglah kunci ini baik-baik, jangan pernah lepas.

Menariknya lagi, menurut pengalaman saya, seseorang yang terbiasa dengan sedekah, maka saat menjadi karyawan di kantor:
-       ia tidak terlalu menuntut terhadap perusahaan
-       ia berani berkorban untuk rekan-rekannya dan perusahaan

Dan lihatlah kenyataan. Orang-orang hebat sepanjang sejarah adalah mereka yang ikhlas dan mau berkorban. Seperti pahlawan-pahlawan nasional. Boleh dibilang, mereka lebih banyak memberi daripada mengambil.

Sepanjang bulan Agustus ini, saya rutin menceritakan kisah pahlawan-pahlawan nasional kepada anak-anak saya, mulai Jenderal Sudirman, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, I Gusti Ngurah Rai, Mohammad Hatta, Pangeran Diponegoro dll.

Bukan sekedar berbagi, tapi juga berkorban. Semoga kita semua dimampukan. Aamiin.
Foto dari IPPHO & TIM KHALIFAH
Menikah itu mengundang rezeki. Bukan saja ada dalilnya, tapi juga ada risetnya.

Penelitian 30 Percent Club asal Inggris, pria yang memiliki istri dan anak, kariernya akan meningkat. Rupanya 74 persen pria yang telah memiliki istri dan anak berhasil beroleh kenaikan jabatan dan gaji lebih dari 5 kali lipat. Ini berdasarkan pengamatan terhadap 4.600 pekerja.

Brittany Solomon dan Joshua Jackson dari Washington University meneliti 4.544 pasutri di Australia. Manakala seseorang dapat diandalkan untuk menjalankan perannya sebagai istri atau suami dengan penuh tanggung-jawab, maka pasangannya memiliki peluang 50 persen lebih besar untuk beroleh promosi karier.

Bagi yang belum menikah, semoga segera ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pendidikan formal saat ini, entah itu SD, SMP, atau SMA, hanya mengarah pada 'angka tertinggi' dan 'kampus favorit'. Apapun dilakukan agar si anak bisa meraih angka tertinggi dan masuk kampus favorit.

Bagaimana dengan minat dan bakat si anak? Bagaimana dengan cita-cita khusus si anak? Itu tidak terlalu dipikirkan. Fenomena ini setidaknya terjadi pada keluarga rata-rata.

Kemarin saya dan istri menonton film 'Big Brother. Two thumbs up for #BigBrother and #DonnieYen. CGI-nya oke, action-nya oke, humornya juga oke. Walaupun beberapa dialognya rada lebay (film di mana-mana yah begitu, ada lebay-lebaynya).

Saya pribadi terkesan dengan pesan-pesan yang tersirat tentang pendidikan di film ini. Ya, bagaimana orangtua dan guru hendaknya memperhatikan minat dan bakat si anak, bukan semata-mata pencapaian akademis. Yang jelas, film ini menghibur!

Saya ini pendidik. Mengelola puluhan TK, SD, dan kampus. Jujur, saya lebih senang melihat murid yang supel (banyak temannya), ada rasa enjoy ketika belajar, dan berkesempatan menyalurkan minat dan bakatnya, daripada sibuk-sibuk melulu dengan pencapaian akademis.

Begini. Bukannya pencapaian akademis itu tidak perlu. Yah perlu. Tapi pergaulan (banyak teman) lebih diperlukan. Demikian pula rasa enjoy ketika belajar. Jangan sampai murid merasa stress ketika belajar. Minat? Bakat? Tentu saja, ini tidak boleh diabaikan.

Mari kita sampaikan (remind) hal ini kepada keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita. Insya Allah kalau diterapkan, ini akan menjadi bekal bagi kehidupan mereka kelak. Sekian, semoga berkah berlimpah.
Kemarin saya dan istri nonton di bioskop.

Judulnya biasa, pemain-pemainnya juga biasa, tidak terkenal. Dari awal sampai akhir, semuanya tampil via screen. Tapi ceritanya bener-bener seru dan nggak ketebak. Bikin deg-degan. #Searching judulnya. Selama 4 minggu terakhir, menurut saya, ini adalah the best movie. Remaja dan orang tua mesti nonton!

Film ini berkisah tentang seorang anak (tepatnya anak perempuan) yang tiba-tiba menghilang dari rumah. Si ayah pun bingung dan mau nggak mau harus melacak melalui apa saja, termasuk socmed si anak. Dalam film ini, terlihat si anak tidak terlalu dekat dengan ayahnya dan ini keliru. Sangat keliru.

Di keluarga rata-rata, anak perempuan biasanya relatif dekat dengan ayahnya.

Ternyata ada sederet alasan mengapa anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Pertama, ayah itu bagai superhero di mata anak perempuannya, di mana si ayah mengajarkan ketegaran, kemandirian, dan tidak mengekang. Kedua, ayah lebih lembut dan lebih melindungi terhadap anak perempuan ketimbang anak laki-laki. Ketiga, ayah lebih mengandalkan logika ketimbang emosi, sehingga bisa menjadi teman curhat yang solutif.

Lebih lanjut, penelitian di University of Illinois menjabarkan bahwa anak-anak yang dikaruniai ayah yang meluangkan waktu untuk menanyakan apa yang mereka pelajari di sekolah, menanyakan aktivitas mereka sehari-hari, dan menanyakan hubungan sosial mereka dengan lingkungannya, menunjukkan prestasi akademis yang lebih prima di sekolah, dibanding anak-anak yang tidak memiliki hubungan yang hangat dengan ayahnya.

Semoga bermanfaat. Sekian, Ippho Santosa.
Selama 5 tahun terakhir, dunia entrepreneurship berkembang begitu pesat.

Tapi masih ada yang bingung mau usaha apa. Saran saya, nggak harus produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.

Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu menjual' dan 'menjualkan'. Bukan mustahil beliau seorang reseller atau sejenisnya.

Sejauh ini, banyak sekali yang japri ke ponsel saya, mengeluh soal income (penghasilan). Keluhan mereka, "Pendapatan saya nggak seberapa. Sementara, kebutuhan hidup dan tagihan nggak putus-putus. Ada terus."

Saya pun menyarankan mereka untuk berhemat. Walaupun tidak mudah, mereka berusaha mencoba. Tapi, tetap saja keteteran. Nggak ada pilihan lain, lalu saya menganjurkan mereka untuk berbisnis. Kecil-kecilan dulu. Mulai dari 'menjual' dan 'menjualkan'.

"Bisnis yang bagus, cirinya apa saja?" Kembali mereka bertanya. Saya bilang, perhatikan baik-baik margin-nya dan repeat order-nya. Pastikan oke. Ya, keberlangsungan sebuah bisnis sangat ditentukan oleh repeat order.

Satu lagi. Ada mentor-nya. Pastikan teruji kejujurannya, pastikan teruji kemampuannya. Dalam learning, mentor itu peredam risiko. Penting sekali. Kalau coba-coba sendiri, yah bisa juga. Tapi lebih lama dan lebih berisiko.

Terus, ada juga yang nanya, apa saya bisa jadi #MitraMasIppho ? Saya jawab, yah bisa. Tapi harus tahan banting. Cara-cara yang saya pakai relatif keras. Nggak semua orang suka, hehehe. Contoh kecil saja, mereka yang mengaku mau belajar bisnis sama saya tapi datangnya telat, sering saya suruh pulang.

Tapi ada senang-senangnya juga. Saat senggang, saya dan mitra-mitra pergi travelling. Kadang dalam negeri, kadang luar negeri. Alhamdulillah. Ini bagian dari kebersamaan. Saya sangat mensyukuri moment-moment seperti itu.

Pada akhirnya, saya berharap teman-teman semua bisa sukses besar jadi pengusaha, entah bermitra dengan saya atau tidak. Sekali lagi, sukses besar. Aamiin. Sekiranya masih bekerja, itu pun tak masalah. Alokasikan gajinya untuk membeli properti dan emas. Insya Allah bagus juga hasilnya.

Semoga berkah berlimpah.