Ippho Santosa - ipphoright
26K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Pernah merantau?

Ternyata banyak manfaatnya. Apa saja? Anda akan menjadi seseorang yang berani mengambil risiko dan tantangan, sekaligus menjadi seseorang yang mandiri dan bertanggungjawab. Selain itu, menjadi seseorang yang mudah beradaptasi dan lebih toleran. Tambahan lagi, semakin mencintai daerah asal sembari menghargai adat dan kebiasaan dari daerah-daerah lain.

Biasanya begitu.

Di seminar kemarin di Korea, saya juga mengupas soal merantau. Jauh-jauh hari Imam Syafii telah menyerukan itu, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.”

Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya dua kali di Mesir.

Menyikapi merantau, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”

Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput. 
- Kadang rezeki orang di negeri kita. 
- Kadang rezeki kita di negeri orang.

Saya pribadi, terlahir di Pekanbaru, kemudian merantau ke Malaysia, lalu balik ke Batam, dan sekarang menetap di BSD, dekat Jakarta. Ibu saya, Sumatera. Ayah saya, Jawa. Istri saya, Kalimantan. Jadi, anak saya disebut orang mana? Yang jelas, orang baik-baik, hehehe.

Pesan dari Sang Pencipta, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Pesan kebaikan ini teramat sulit untuk dilaksanakan sekiranya tidak ada yang merantau. Tulisan ini boleh di-share.

Gimana dengan rezeki? Insya Allah akan lebih baik. Sesiapa yang berhijrah dan niatnya lurus, maka ia akan dianugerahi rezeki yang luas, bahkan bisa memiliki properti. Soal ini, ada dalilnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

 
Dalam keluarga, nafkah itu perlu. Tapi bukan penentu.

Menyoal penghasilan, Robert Waldinger dalam riset 75 tahun pernah mengungkap bahwa uang bukanlah hal yang membuat orang paling bahagia.

Hubungan penuh cinta yang sehatlah yang membuat orang merasa paling bahagia. Waldinger menceritakan hasil risetnya dalam sesi TED talk.

Hidup memang butuh uang. Ini mutlak. Namun saat Anda berada pada titik nyaman, korelasi antara uang dan kebahagiaan menjadi kabur. Blur.

Karena itu, baiknya pasangan yang kuat dimaknai bukan dari materi. Melainkan dari sosok yang membuat pasangannya menjadi lebih bahagia dan lebih baik (ilmu, iman, amal).

Saya harap Anda setuju dengan saya. Semoga berkah berlimpah.
Anda sudah menikah?
Sudah dikaruniai anak?

Alhamdulillah, selama ini di rumah saya ada satu anak asuh. Sudah sekian tahun ikut keluarga saya. Mulai kemarin, dia sudah masuk pesantren, tidak di rumah lagi. Jadi santri ceritanya.

Saya pribadi senang sekali kalau dikaruniai banyak anak, termasuk anak asuh dan anak didik. Saat ini saya diamanahi ribuan anak didik, melalui TK, SD, dan kampus yang saya asuh. Alhamdulillah, saya senang sekali.

Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan amal jariyah. Ya, demi amal jariyah.

Satu lagi. Anak itu rezeki dan mengundang rezeki. Ingat kalimat ini baik-baik. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya bertambah-tambah!

Betul apa betul?

Saya pribadi sudah 4x seminar di Korea dan di Jepang. Orang sana biasanya tak mau punya banyak anak. Bahkan sering pula memutuskan untuk tidak punya anak sama sekali. Karena dianggap merepotkan. Duh!

Hei, sekalipun jangan pernah menganggap anak itu beban. Ada pula yang takut menambah anak karena merasa gaji atau income-nya tak mencukupi. Ini cara pikir yang keliru. Bener-bener keliru. Setiap anak, percayalah, ada rezekinya sendiri.

Yang saya tahu, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Mengayakan. Kalau punya anak? Lebih mengayakan.

Perhatikan baik-baik. Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya.

Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah? Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!

Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.

Aneh kan? Ya. Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.

Yang belum dikaruniai jodoh, yang belum dikaruniai anak, saya doakan ya. Semoga segera. Kalau perlu, tahun ini juga. Aamiin. Mudah-mudahan berujung pada berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda pernah ikut seminar? Berapa kali?

Suatu hari saya merenung, berapa biaya yang telah saya keluarkan untuk berguru alias belajar selama 5 tahun terakhir. Hitung-hitung, ternyata sudah ratusan juta rupiah (Sebenarnya, wajar-wajar saja. Untuk kuliah saja, kita menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah).

Karena itulah, saya salut sama teman-teman yang ikut seminar saya. Biasanya, sepertiga dari mereka berasal dari luar kota. Sengaja datang jauh-jauh hanya untuk mencari ilmu. Ya, mencari ilmu. Sebenarnya, nggak bakal rugi. Kalau sedekah saja berbalas, menuntut ilmu akan lebih berbalas. Soalnya memang wajib.

Dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz, terkenal gandrung sama seminar-seminar saya. Mereka sungguh-sungguh terhadap ilmu bisnis dan ilmu lainnya. Masing-masing mereka telah mengikuti seminar saya sampai puluhan kali. Mereka pun bela-belain kuliah S2 demi mencari ilmu.

Namanya ilmu, guru, dan buku harus diburu, jangan ditunggu. Ketika dulu kuliah, saya sering nggak makan karena terbatasnya uang. Tapi yang namanya buku, saya selalu beli. Nggak pernah terlewat. Sewaktu tamat kuliah, di antara teman-teman, sayalah yang paling lengkap bukunya.

Apa yang saya pahami kemudian, mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mana mungkin bertemu kedua-duanya? Agama pun memuliakan mereka yang terlibat dengan ilmu.

Ya, sesiapa yang terlibat dengan ilmu, semua dimuliakan. Misalnya orang yang belajar, orang yang mengajar, orang yang meneliti, orang yang membiayai kegiatan keilmuan, orang yang menyiapkan majelis ilmu, dan lain-lain.

Kembali ke dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz. Mereka bukan saja mempelajari dan mendalami ilmu bisnis, tapi juga menerapkannya. Lebih dari itu, mereka juga membimbing ratusan orang sehingga berhasil menjadi pebisnis dengan omzet puluhan sampai ratusan juta rupiah. Sukses dan menyukseskan, istilah saya.

Pesan saya, sungguh-sungguhlah terhadap ilmu. Agar berubah nasibmu dan membaik rezekimu. Belum lagi dari segi keberkahan yang akan menyertai selalu. Pada akhirnya, "Happy learning! Happy earning!"
Makan siang, teratur.
Makan malam, teratur.
Jam tidur, teratur.
Jam bangun, teratur.

Kalau bisa rutin seperti ini, insya Allah kita akan lebih sehat.

Saran saya, "Mari biasakan bangun sebelum subuh." Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.

Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya.

Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar mengajaibkan segala proses. Hm, nggak percaya? Yah, Anda coba saja. #BangunAwal.

Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal.

Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.

Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Mudah-mudahan awal dari keberkahan dan keberlimphan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Indonesia, dari segi waktu penggunaan internet, menempati peringkat keempat dunia, dengan durasi rata-rata menggunakan internet hampir 9 jam setiap harinya. Bayangkan, hampir 9 jam setiap harinya! Yang saya kuatirkan, itu cuma untuk shopping dan senang-senang saja, bukan untuk tujuan produktif.

Ternyata ada peringatan bahaya lain untuk kita semua. Apa itu? Kertegantungan belanja online mulai marak dan merebak di masyarakat Indonesia.

Ada tiga cirinya.

Pertama, memiliki lebih dari 3 kartu kredit yang aktif untuk belanja. Sebaiknya berhati-hati jika kita sudah menggunakan lebih dari 3 kartu kredit untuk belanja online, bahkan tanpa sadar telah berbelanja melebihi income bulanan.

Kedua, menghabiskan lebih dari 3 jam sehari untuk melihat-lihat fitur belanja online. Ketagihan belanja online dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Perhatikan baik-baik, kebiasaan ini bisa mengganggu pekerjaan utama kita karena dilakukan berlebihan. 

Ketiga, setiap minggu pasti ada beberapa kiriman paket belanja online. Apalagi kita mulai membayarnya dengan mencicil. Atau terpaksa mengorbankan pos-pos keuangan yang lain. Ini benar-benar bahaya.

Mari kita lihat dalam perspektif yang lebih luas.

Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017. Angka ini tidak terlalu jelek sebagai negara berkembang.

Dengan kata lain, ini sebenarnya potensi bisnis yang menggiurkan. Pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita memanfaatkan perkembangan internet di Indonesia ini sebagai pelaku bisnis? Atau hanya sebagai konsumen produk?

Bijaklah. Sudah saatnya kita jadi pelaku. Jadi pemain. Jadi penjual. Jadi produsen. Besar harapan saya, semoga ke depan lebih banyak lagi orang Indonesia yang memanfaatkan internet untuk tujuan bisnis. Aamiin.

Mudah-mudahan berkah berlimpah.
Apa profesi Anda? Profesional atau entrepreneur?

Di antara kita, sebagian memilih jadi profesional, sebagian lagi memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.

Kakek saya, ayah saya, ibu saya, dan kakak saya, mereka semua memilih jadi profesional, sepanjang hidup mereka. Dan mereka-lah yang menafkahi saya sebelum saya mencari nafkah sendiri. Tanpa mereka, saya nggak akan jadi apa-apa.

Gimana dengan entrepreneurship?

Inilah saran saya kepada entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.

Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, ketika muda, Anda punya banyak waktu untuk menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele atau lelucon, padahal nggak.

Dan jangan salah. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, jempol adalah aset yang teramat besar pun bisa menghasilkan uang, TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS macet-macetan, TANPA HARUS punya ruko dan kios.

Jempol + Internet = Duit

Bijaklah. Ketika orang lain menghabiskan waktu bersama gadget dan komputernya, Anda malah menghasilkan uang melalui gadget dan komputer Anda. Keren nggak tuh? Yah keren banget!

Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Semoga hidup Anda semakin berkah dan semakin berlimpah dengan menjadi entrepreneur, dengan memanfaatkan masa muda, dengan memanfaatkan internet, socmed, dan gadget. Aamiin.
Photo from Ippho dan Tim
Pagi ini saya (Ippho Santosa) senang sekaligus terharu...

Kacang tak boleh lupa sama kulitnya. Beliau berdua (tampak di foto) besar sekali jasanya ke saya dan keluarga saya. Encik Yulian dan Puan Asma namanya. Mereka, orang Malaysia asli. Encik Yulian, orang Chinese asli...

Mereka-lah yang dulu membantu biaya kuliah saya. Ngasih pinjaman. Begitu tamat kuliah, saya berusaha mencicil pinjaman tersebut. Beliau menolak. Katanya, nanti saja bayarnya, setelah Ippho dapat pekerjaan yang lumayan. Setelah bertahun-tahun, setelah didesak-desak, barulah beliau mau menerima cicilan dari saya. Masya Allah...

Ternyata beliau ngasih pinjaman seperti itu, bukan ke saya saja, melainkan ke banyak orang. Tanpa membeda-bedakan ras, agama, dan warga negara. Masya Allah. Mudah-mudahan beliau dan keluarga beliau selalu dirahmati Allah, selamat dunia-akhirat. Aamiin...

Hanya doa yang bisa saya berikan untuk beliau sekeluarga...
Selama 3 hari, saya dan tim berkesempatan untuk melatih mitra-mitra saya. Kami tidak bicara soal bisnis saja, melainkan juga soal kesehatan. Yah, apa gunanya kaya-raya tapi kalau ternyata sakit-sakitan? Right?

Di sini ada sejumlah tips sehat yang mentor-mentor ajarkan. Apa saja? Pertama, makan buah 3 kali sehari, sebelum makan. Kedua, hindari setidaknya kurangi goreng-gorengan. Ketiga, ganti gula dengan madu atau aren. Ini sangat sederhana, tapi dampaknya besar sekali.

Ngomong-ngomong, kenapa pria lebih cepat meninggal? Suka atau tidak suka, secara ilmiah, faktanya yah begitu. Kenapa?

Pertama, dibanding wanita, pria lebih susah diajak untuk menjalani gaya hidup sehat dan sering makan berlebihan. Kedua, sebagian besar pria malas menjalani tes kesehatan karena masalah ego atau masalah kepedean.

Ketiga, sebagian pria semasa mudanya memiliki perilaku yang agresif dan kebiasaan yang berbahaya. Nah, sebenarnya, ketiga faktor yang terakhir ini masih bisa dikendalikan. Ya, masih bisa dikendalikan.

Lantas, adakah faktor-faktor yang tidak bisa dikendalikan? Ada. Mari kita simak ulasan berikut ini.

Survei Vanity Fair terhadap sekitar 1.000 pria dewasa, ternyata 70% pria, kalau boleh memilih, akan memilih meninggal duluan sebelum istrinya. Yah maunya begitu. Dan rupa-rupanya, kemauan mereka itu 'terkabul' dalam dunia nyata, hehehe. Terjadi beneran.

Terlepas dari itu, kenapa pria lebih cepat meninggal ketimbang wanita? Ini dijawab oleh Buzzle.

Begini. Pertama, pria tidak terlatih menghadapi perubahan fisik yang ekstrim. Beda dengan wanita yang terlatih, berhubung pernah hamil dan melahirkan. Btw, ini lazim terjadi pada mamalia, di mana si betina cenderung hidup relatif lebih lama ketimbang si jantan. 

Sebab-sebab lain? Kedua, karena adanya menstruasi, wanita mengalami pengurangan zat besi dan juga pengurangan radikal bebas. Ini ada baiknya. Sementara, pria tidak mengalami fenomena ini.

Ketiga, pria pun terus-menerus memproduksi hormon testosteron sepanjang hidupnya, di mana ini tidak menguntungkan saat mereka beranjak tua. Boleh dibilang, faktor-faktor di atas sulit untuk dikendalikan.

Sekali lagi, ini adalah faktor-faktor yang sulit bahkan tidak bisa dikendalikan.

Lantas, apa saran praktis saya? Fokuslah pada faktor-faktor yang masih bisa kita kendalikan. Perbaiki. Lalu, bagaimana dengan faktor-faktor yang belum bisa kita kendalikan? Yah, berpikir positif saja. Setelah itu, yah berdoa. Insya Allah hasilnya bisa jauh lebih baik. Siap praktek?

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat!
Punya bisnis?

Saran saya, "Belajarlah memulai bisnis dan MENGELOLA bisnis."

Dengan belajar, dengan ilmu, risiko-risiko bisnis dapat ditekan. Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif. Apalagi kita tahu, saat ini inovasi perlu dirancang dengan cermat, nggak bisa lagi dadakan atau karbitan.

Memang, action itu teramat perlu. Mutlak. Tapi nggak cukup. Perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu analisa. Terutama untuk ekspansi bisnis atau membesarkan bisnis. Kalau coba-coba sekenanya, malah lebih menguras waktu dan biaya. Itulah yang dulu saya alami.

Dalam menjalankan bisnis pada tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, saya menyukai sesuatu yang terukur. Karena, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan. Kalau tidak terukur, apa yang mau ditingkatkan?

Omset, diukur.
Profit, diukur.
Zakat, diukur.
Jumlah karyawan, diukur.
Kinerja karyawan, diukur.

Kemudian, dievaluasi untuk ditingkatkan.

Sekali lagi, action itu perlu. Berani itu perlu. Terutama untuk memulai. Tapi, untuk membesarkan, kita perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu analisa. Nggak bisa asal action.

Soal membesarkan bisnis, teman-teman bisa belajar dari Mr Joss, Dedy Duit, dan Wendi Abdillah. Boleh juga jadi mitra mereka. Setahu saya, mereka senang sekali berbagi ilmu untuk entrepreneur dan calon entrepreneur.

Mudah-mudahan dengan belajar dan tahu hal-hal teknis, bukan sekedar motivasi, bisnis kita bisa membesar dan menaungi banyak orang. Berkah berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di pusat keramaian, di deretan ruko-ruko, saya berjalan ke sana ke mari mencari koran. Ternyata tidak ada satupun yang menjual. Rupanya, perusahaan-perusahaan suratkabar saat ini jarang-jarang menjual koran versi cetak. Mereka lebih memilih untuk mengaktifkan koran versi online. Go digital, istilahnya.

Jujur, saya tidak tahu bagaimana nasib industri koran dan iklan koran ke depannya. Benar-benar tidak tahu. Sudah sekian kali saya mengalami, ternyata viral di Facebook dan viral di Instagram jelas-jelas lebih ampuh daripada iklan koran. Serius. Biayanya jauh lebih murah, targetnya jauh lebih terarah.

Boleh dibilang, FB dan IG sekarang tengah ramai-ramainya. Ada keunikan di sana.

Di FB dan IG, yang menjadi redaktur dan editornya adalah Anda. Ya, Anda. Pembacanya? Teman-teman Anda dan keluarga Anda. Interaktif. Di social media, begitulah cara kerjanya. Beda dengan koran biasa. Orang-orang bisnis dan pemasaran mesti melek soal beginian.

Prinsip pemasaran itu kan sederhana. Di mana ada keramaian, di situlah entrepreneur dan marketer turut berada. Mendekat. Merapat. Pesan senior saya, "Mari kelola baik-baik akun Facebook dan Instagram kita. Sepertinya Facebook dan Instagram akan bertahan sangat lama dan semakin berpengaruh."

Di koran biasa, komunikasi hanya berlaku satu arah. Kalau di FB dan IG? Yah, dua arah. Interaktif.

Memiliki akun FB dan IG adalah langkah awal yang bijak. Aktiflah di sana. Tapi maaf, itu sama sekali tidak cukup. Kita harus belajar ilmu optimasi agar akun kita bisa muncul dan selalu muncul ketika netizen melakukan pencarian (search atau explore). Ini ada ilmunya. Optimasi nama ilmunya.

Ilmu optimasi, internet marketing, digital marketing atau apapun namanya, sangat perlu dipelajari. Anda boleh belajar dari siapa saja. Yang penting, harus teknis dan detail. Nggak cukup cuma sesi motivasi yang serba singkat.

Menariknya, dengan internet marketing, bisnis kita bisa go national. Benar-benar go national. Manfaat lainnya? Bisa hemat besar-besaran (nggak perlu toko, nggak perlu banyak stok, nggak perlu banyak staf). Satu lagi, bisa jualan 24 jam (SEO membantu akun kita dan web kita berada di halaman 1 Google).

Sekali lagi, sempatkan untuk belajar internet marketing. Teknis, detail. Mungkin dua hari. Mungkin tiga hari. Seminggu, itu lebih baik. Zaman sudah berubah. Bila kita enggan berubah dan berbenah, bukan mustahil kita dan bisnis kita akan punah. Persis seperti koran versi cetak.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Seperti yang teman-teman tahu, kadang saya memberikan coaching untuk entrepreneur dan calon entrepreneur.

"Bisnis apa sih yang bagus?" celetuk seorang peserta coaching.

"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.

Ada yang buka bisnis fashion dan untung. Ada pula yang buka bisnis yang sama dan rugi. Apakah fashion-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.

Ada yang buka bisnis katering dan berkembang. Ada pula yang buka bisnis yang serupa dan bangkrut. Apakah katering-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.

Begini. Sekiranya Anda punya jatah gagal 5X atau 7X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan menghilang.

Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha,  jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.

Di sini, saya mau membeberkan sejumlah tips sukses. Siap? Pertama, cari produk yang mutunya bagus dan marginnya lumayan (tidak harus produksi sendiri). Kedua, miliki kemampuan menjual baik offline maupun online). Ketiga, miliki mentor yang tepat.

Simple tho? Nggak ribet. Kalau tiga tips tadi Anda terapkan baik-baik, saya yakin hasilnya akan kelihatan dalam 100 hari atau kurang. Ngefek ke income Anda. Tapi kalau sekedar dibaca-baca saja, yah nggak dapat apa-apa, kecuali menambah wawasan.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan berkah berlimpah.



(Sejak lama, saya rutin berbagi ilmu bisnis dan ilmu rezeki di channel Telegram @ipphoright ini. Mari ajak sahabat dan keluarga untuk join. Sama-sama kita belajar.)
Ribuan pertanyaan telah masuk ke saya. Mereka semua japri ke tim saya.

Walaupun sangat melelahkan, saya berusaha menjawabnya. Setidaknya, sebagian. Saya menjawabnya melalui artikel-artikel. Ke depan, saya akan dibantu beberapa mentor bisnis yang teruji, seperti Mr Joss, Dedy Duit, dan Wendi Abdillah.

Beberapa pertanyaan masuk adalah soal memulai bisnis.

Ini respons saya. Seberapa yakin Anda untuk menunda-nunda memulai bisnis dengan dalih besok-besok atau nanti-nanti, sementara waktu terus berganti tak terhenti? Padahal, begitu Anda mulai, sukses finansial tengah menanti.

Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Inflasi tak bisa ditahan, tak bisa dicegat. Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Ya, bukanlah solusi.

"Mas Ippho, bisnis apa sih yang bagus?" celetuk mereka.

"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.

Sekiranya Anda punya jatah gagal 4X atau 5X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan mereda.

Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha,  jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.

Syukur-syukur kalau dapat bisnis yang marginnya lumayan dan repeat order-nya juga lumayan. Yang seperti itu, ada di sekitar kita. Cari saja. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Bisakah takdir dipercepat?

Soal takdir, pesan saya, "Sabar dan tenanglah dalam menyikapi takdir. Segala sesuatu ada waktunya." Saya ulang, segala sesuatu ada waktunya.

Inilah pesan saya selanjutnya:
- Takdirmu selalu ontime.
- Datangnya tak pernah lebih cepat.
- Datangnya tak pernah lebih lambat.

Obama pensiun jadi presiden di usia 50-an.
Trump mulai jadi presiden di usia 70-an.

Jokowi jadi presiden di usia 50-an.
JK 'hanya' jadi wapres di usia 70-an.

Nggak ada yang salah tho?

Steve Jobs menjadi salah satu ikon dalam bisnis dan inovasi. Tapi umurnya cuma 50-an.

Pablo Escobar, kok bisa-bisanya jadi salah satu orang terkaya di dunia menurut Forbes, padahal dia cuma gembong narkoba. Ya, tapi umurnya cuma 40-an.

Masing-masing ada waktunya.

Sekali lagi, masing-masing punya takdirnya sendiri, punya waktunya sendiri. Karena tulisan ini sangat penting, baiknya di-share kepada teman-teman Anda.

Yakinlah:
- Mereka yang lebih sukses, bukan berarti mereka 'lebih awal' darimu.
- Mereka yang belum sukses, bukan berarti mereka 'lebih telat' darimu.

Silakan belajar dari orang muda yang sukses. Belajar itu harus tho? Namun setelah kita mempelajari dan mengikuti, kita mesti paham sepaham-pahamnya bahwa setiap orang punya takdirnya sendiri dan punya waktunya sendiri.

Memaksakan diri kita seperti takdir orang lain adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan sangat meresahkan. Bahkan bisa menjurus pada kufur nikmat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya.
S + R = O

Situation + Reaction = Outcome

Ternyata yang lebih menentukan hasil (outcome) itu adalah reaksi, bukan situasi. Sekali lagi. Reaksi, bukan situasi. Nah, kali ini kita akan membahas soal sikap, dengan penekanan pada sikap Victim atau Victor. Apa maksudnya?

Begini. Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Bahkan menyalahkan takdir. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.

Namun sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.

Ini saya sampaikan kemarin di pelatihan dua hari untuk Mahkamah Agung di Alana, Sentul.

Perlu contoh?

"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang memperoleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah reaksi dan sikap sang pemenang.

Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun reaksi dan respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!

Sekali lagi, bertanggung-jawablah atas keputusan yang telah kita ambil. Investasi, bisa rugi. Bisnis, bisa rugi. Karier, bisa mentok. Tugas, bisa gagal. Kalau memang terjadi, berhentilah menyalah-nyalahkan orang lain. Dewasalah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Orang muda sarat dengan idealisme, impian, bahkan ambisi.

Muda, maksudnya siapa saja sih? Definisi muda versi PBB adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun, muda versi ASEAN 15-35 tahun, dan muda versi Indonesia 16-30 tahun.

Kalau HIPMI? Selagi Anda masih berusia 30-an, Anda akan disebut muda.

Semisal Anda berusia 40-an, tapi selalu berinteraksi dengan orang-orang yang berusia 50-an atau 60-an, maka Anda akan disebut muda oleh mereka, hehehe.

Tapi bukan itu intinya.

Di artikel ini, kita kembali ke idealisme dan impian. Begini. Idealisme boleh tinggi. Impian boleh besar. Tapi mencapainya bertahap. Ya, bertahap. Jangan ngawang-ngawang terus, membumilah.

Bercita-cita punya restoran sendiri? Silakan. Tapi sekiranya belum bisa, yah buka warung dulu. Atau buka stand dulu. Atau titip jual makanan di rumah makan orang lain. Atau menawarkan makanan melalui socmed.

Bercita-cita bangun perumahan alias jadi developer? Silakan. Tapi sekiranya belum bisa, yah jual kavling dulu. Atau jadi broker dulu. Atau menawarkan properti melalui socmed. Masih bisa tho?

Begitulah kurang-lebih. Bertahap dan lakukan dulu apa yang bisa. Sebuah kebaikan, kalau belum bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya. Lakukan dulu apa yang bisa.

Praktek ya. Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ingin lebih produktif?

Pertama, datanglah lebih awal. Terutama bagi Anda tinggal di kota besar. Selain menghindari kemacetan lalu lintas, datang lebih awal juga membuat mood lebih baik. Ya, lebih baik.

Kedua, susunlah daftar kerja pada malam sebelumnya. Biasakan sebelum tidur, menyusun daftar tugas yang akan dikerjakan esok hari sekaligus menentukan mana yang menjadi fokus dan prioritas.

Dua hal ini sempat saya sampaikan saat dipercaya oleh Mahkamah Agung untuk membawakan training selama 2 hari pekan lalu di Alana, Sentul.

Ketiga, menjadi penyemangat. Ini menurut Rob Cross dan Andrew Parker, penulis buku 'The Hidden Power of Social Network: Understanding How Work Really Get Done in Organizations'.

Orang yang selalu menyemangati orang lain akan bertambah-tambah semangatnya. Menariknya, orang yang menyemangati ini akan memiliki kinerja yang lebih tinggi daripada yang lainnya.

Menjadi penyemangat bukan sekadar menghibur atau berkarisma. Lebih dari itu, penyemangat juga bisa membawa diri sepenuhnya dalam interaksi demi interaksi.

Pada akhirnya, selamat beraktivitas! Semoga berkah berlimpah! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Segala sesuatu tergantung pada tujuannya, pada niatnya.

Impian itu tujuan. Oleh karenanya, harus benar, harus besar, harus kuat, harus yakin. Keyakinan itu mutlak diperlukan. Yang lazim terjadi, keyakinan (di awal) tidak bisa dihilangkan oleh keraguan (kemudian).

Kita sama-sama tahu, dalam mencapai impian, pasti ada tantangan. Itu wajar. Segala macam tantangan, anggap saja itu konsekuensi. Rela akan sesuatu (tercapainya impian), berarti rela dengan konsekuensinya. Jangan mau enaknya saja.

Percayalah, kesulitan akan menarik kemudahan. Tak selamanya sulit. Tak selamanya susah.

Lakukan saja sebisanya. Saya kasih contoh ya.

Misalnya Anda bercita-cita punya butik sendiri. Silakan saja. Tapi sekiranya belum bisa, yah sewa toko dulu. Atau sewa stand dulu. Atau titip jual busana di butik orang lain. Atau menawarkan busana melalui socmed.

Misalnya Anda bercita-cita punya panti asuhan sendiri. Silakan saja. Tapi sekiranya belum bisa, yah ambil anak asuh dulu. Atau jadi donatur dulu. Nggak bisa juga? Beri santunan sekali setahun, mungkin di Ramadhan, mungkin di Muharram.

Demikianlah. Jika tidak mampu mengerjakan seluruhnya, maka jangan ditinggalkan seluruhnya. Lakukan saja sebisanya. Yang menarik, sembari kita melakukan, Allah bisa menurunkan keajaiban. Karenanya, sekali lagi, lakukan saja sebisanya.

Dalam bisnis yah begitu, dalam amal juga begitu. “Sesuatu yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian,” ucap Nabi Muhammad (HR Bukhari Muslim).

Berbagai kaidah ushul fiqih, saya hadirkan di artikel pendek dan sederhana ini. Semoga bermanfaat dan membawa perubahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang saya sarankan adalah tidur awal dan bangun awal. Banyak alasannya.

Ternyata tidur larut dan bangun siang dapat membuat daya ingat menurun. Kenapa? Karena keseringan begadang dapat membuat kinerja otak 3-5 tahun lebih tua dari usia fisik.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Chronobiology International menemukan bahwa orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang yang suka begadang atau 'night owl' lebih rentan terhadap beberapa masalah kesehatan.

Macam-macam masalahnya termasuk diabetes, gangguan neurologis, penyakit psikologis, dan risiko kematian yang lebih tinggi daripada mereka yang teridentifikasi sebagai orang yang suka bangun pagi.

Dalam penelitian di Inggris, lebih dari 10.000 dari 433.268 peserta meninggal. Ya, meninggal. Para peneliti menemukan bahwa mereka yang teridentifikasi sebagai 'tipe malam' lebih mungkin meninggal 10 persen ketimbang mereka yang mencintai bangun pagi (tipe pagi).

Satu lagi, mereka yang suka begadang juga lebih mungkin memiliki gangguan pencernaan dan gangguan pernapasan. Cukupkah sampai di situ? Tidak juga.

Penelitian para dokter di National Taiwan Hospital menemukan bahwa tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang merupakan penyebab utama kerusakan hati.

Apa yang dianjurkan oleh agama? Nabi Muhammad tidak pernah tidur sebelum waktu isya’ dan tidak pernah begadang setelahnya (HR Ahmad, shahih).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan dalam Zadul Ma’ad, “Termasuk kebiasaan beliau adalah tidur di awal malam dan bangun di bagian akhirnya. Terkadang beliau begadang di awal malam untuk mengurusi berbagai kepentingan orang-orang miskin.”

Begitulah. Berkali-kali saya sarankan, tidurlah awal dan bangunlah awal. Sangat menyehatkan, insya Allah.