Nouman Ali Khan segera hadir di Jakarta. Untuk hadir di acaranya, silakan mendaftar di www.UstadNouman.com
Malaikat Jadi Buzzer
😍😍😍
Kerja itu ibadah. Begitu pula dengan bisnis, sama-sama ibadah. Dengan pemahaman seperti ini, tentunya yang menjadi prioritas adalah ridha Allah. Bukan rupiah. Teman-teman setujukah?
Alhamdulillah, sejak lama saya diajarkan oleh guru-guru saya tidak saja soal kaya, tapi juga soal taqwa. Justru taqwa inilah yang pertama dan utama. Kaya tanpa taqwa, yah bisa bahaya. Bagi dirinya juga sesama.
Boleh dibilang, kerja dan bisnis adalah ibadah yang sifatnya umum. Sementara itu, berbagi kepada sesama dan berbakti kepada orangtua adalah ibadah yang sifatnya khusus. Sekelompok orang menyebutnya amal ibadah.
Begini. Dalam beramal, jangan selalu ingin diketahui dan dilihat. Baiknya sembunyikan sebagian amal-amal kita. Sebagian? Ya, sebagian. Istilah saya, "1 amal disampaikan sebagai syiar, inspirasi, dan motivasi. 9 amal dirahasiakan."
Buatlah malaikat di sebelah kanan sibuk mencatat amal-amal kita. Malaikat di sebelah kiri? Dibikin nganggur, hehehe. Jadi, kalaupun orang-orang tidak tahu, nggak masalah. Malaikat tahu, Allah tahu, itu sudah lebih dari cukup.
Menariknya, dengan izin Allah, malaikat ini akan memberitahu malaikat-malaikat yang lain. Nama kita disebut-sebut di kalangan malaikat. Dicatat. Akhirnya nama kita jadi viral di langit dan perbuatan kita jadi trending topic di akhirat. Masya Allah.
Hm, apa bisa sampai seperti itu? Ya bisa. Karena yang jadi buzzer-nya adalah para malaikat. Bahkan pelan-pelan penduduk langit ini akan memberitahu perbuatan kita tersebut kepada penduduk bumi.
Uwais Al Qarni, salah satu contohnya. Dan ini adalah kisah nyata, bukan fiktif.
Sekali lagi:
✅ 1 amal terang-terangan
✅ 9 amal diam-diam
✅ yang diam-diam itu jadi bekal
Pada akhirnya, mari kita jaga keikhlasan kita dalam beramal. Saling mendoakan ya, mudah-mudahan kita semua dimampukan Allah agar bisa mencapai keikhlasan. Benar-benar ikhlas.
Serunya lagi, saat kita berusaha menjaga amal, maka amal itu akan 'menjaga' kita. Urusan-urusan dimudahkan. Kerja dan bisnis jadi ringan. Negosiasi lebih cepat. Prospek langsung closing. Dan masih banyak lagi. Termasuk masalah-masalah di rumah tangga.
Kalau boleh, tulisan ini mohon disimak sungguh-sungguh. Baca ulang, lebih baik. Boleh juga di-share kepada keluarga dan kerabat kita. Saling mengingatkan satu sama lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
😍😍😍
Kerja itu ibadah. Begitu pula dengan bisnis, sama-sama ibadah. Dengan pemahaman seperti ini, tentunya yang menjadi prioritas adalah ridha Allah. Bukan rupiah. Teman-teman setujukah?
Alhamdulillah, sejak lama saya diajarkan oleh guru-guru saya tidak saja soal kaya, tapi juga soal taqwa. Justru taqwa inilah yang pertama dan utama. Kaya tanpa taqwa, yah bisa bahaya. Bagi dirinya juga sesama.
Boleh dibilang, kerja dan bisnis adalah ibadah yang sifatnya umum. Sementara itu, berbagi kepada sesama dan berbakti kepada orangtua adalah ibadah yang sifatnya khusus. Sekelompok orang menyebutnya amal ibadah.
Begini. Dalam beramal, jangan selalu ingin diketahui dan dilihat. Baiknya sembunyikan sebagian amal-amal kita. Sebagian? Ya, sebagian. Istilah saya, "1 amal disampaikan sebagai syiar, inspirasi, dan motivasi. 9 amal dirahasiakan."
Buatlah malaikat di sebelah kanan sibuk mencatat amal-amal kita. Malaikat di sebelah kiri? Dibikin nganggur, hehehe. Jadi, kalaupun orang-orang tidak tahu, nggak masalah. Malaikat tahu, Allah tahu, itu sudah lebih dari cukup.
Menariknya, dengan izin Allah, malaikat ini akan memberitahu malaikat-malaikat yang lain. Nama kita disebut-sebut di kalangan malaikat. Dicatat. Akhirnya nama kita jadi viral di langit dan perbuatan kita jadi trending topic di akhirat. Masya Allah.
Hm, apa bisa sampai seperti itu? Ya bisa. Karena yang jadi buzzer-nya adalah para malaikat. Bahkan pelan-pelan penduduk langit ini akan memberitahu perbuatan kita tersebut kepada penduduk bumi.
Uwais Al Qarni, salah satu contohnya. Dan ini adalah kisah nyata, bukan fiktif.
Sekali lagi:
✅ 1 amal terang-terangan
✅ 9 amal diam-diam
✅ yang diam-diam itu jadi bekal
Pada akhirnya, mari kita jaga keikhlasan kita dalam beramal. Saling mendoakan ya, mudah-mudahan kita semua dimampukan Allah agar bisa mencapai keikhlasan. Benar-benar ikhlas.
Serunya lagi, saat kita berusaha menjaga amal, maka amal itu akan 'menjaga' kita. Urusan-urusan dimudahkan. Kerja dan bisnis jadi ringan. Negosiasi lebih cepat. Prospek langsung closing. Dan masih banyak lagi. Termasuk masalah-masalah di rumah tangga.
Kalau boleh, tulisan ini mohon disimak sungguh-sungguh. Baca ulang, lebih baik. Boleh juga di-share kepada keluarga dan kerabat kita. Saling mengingatkan satu sama lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hari ini ibu saya milad. Senang sekali kalau teman-teman turut mendoakan...
Alhamdulillah. Tadi pagi saya bikin postingan soal milad ini >> https://www.instagram.com/p/Bhh78mfhrZp/
Alhamdulillah. Tadi pagi saya bikin postingan soal milad ini >> https://www.instagram.com/p/Bhh78mfhrZp/
Yang halal, dihisab.
Yang haram, diazab.
Ada pertanggungjawaban.
Hati-hati soal harta.
Demikian pula dengan ilmu. Akan dihisab. Dengan kata lain, ada pertanggungjawaban. Maka, hati-hati soal ilmu.
Segala ilmu yang baik-baik dan nyata manfaatnya hendaknya disampaikan kepada yang lain. Seluas-luasnya. Jangan didiamkan begitu saja.
Selama 3 tahun terakhir, 80% seminar saya konsepnya sudah charity alias sosial. Peserta tetap bayar, tapi saya-nya tidak dibayar. Kok nggak gratis saja? Kan berbagi ilmu? Kalau peserta digratiskan, kemungkinan besar mereka kurang serius.
Berdasarkan pengalaman saya selama 10 tahun berseminar, lebih baik peserta tetap bayar terus uang tiketnya saya donasikan. Dengan berbayar, dijamin mereka akan lebih serius.
Kalau peserta nggak punya uang, gimana? Yah sudah, kerahkan tenaga. Bantu panitia mendapatkan 5 peserta berbayar. Bukan memelas, berharap dikasihani.
Meski kadang melelahkan dan tidak ada uangnya, kenapa saya masih mengadakan seminar ini-itu, bahkan secara rutin? Saya ingin melihat perubahan, pada setiap peserta.
Begitu mereka berubah, rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri yang tak bisa diukur dengan uang.
Juga saya ingin kesibukan saya dalam seminar (baca: berbagi ilmu) menjadi amal jariyah buat almarhum papa saya serta almarhum kakek-nenek saya.
Meski tak seberapa, tentu rasanya melegakan saat kita tahu bahwa ada pahala yang mengalir buat orangtua manakala si anak berusaha berbuat baik dan mengajarkan ilmu.
Doakan saya, semoga niat saya tetap terjaga. Demikian pula panitia, kita doakan juga. Mudah-mudahan membawa keberkahan dan keberlimpahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang haram, diazab.
Ada pertanggungjawaban.
Hati-hati soal harta.
Demikian pula dengan ilmu. Akan dihisab. Dengan kata lain, ada pertanggungjawaban. Maka, hati-hati soal ilmu.
Segala ilmu yang baik-baik dan nyata manfaatnya hendaknya disampaikan kepada yang lain. Seluas-luasnya. Jangan didiamkan begitu saja.
Selama 3 tahun terakhir, 80% seminar saya konsepnya sudah charity alias sosial. Peserta tetap bayar, tapi saya-nya tidak dibayar. Kok nggak gratis saja? Kan berbagi ilmu? Kalau peserta digratiskan, kemungkinan besar mereka kurang serius.
Berdasarkan pengalaman saya selama 10 tahun berseminar, lebih baik peserta tetap bayar terus uang tiketnya saya donasikan. Dengan berbayar, dijamin mereka akan lebih serius.
Kalau peserta nggak punya uang, gimana? Yah sudah, kerahkan tenaga. Bantu panitia mendapatkan 5 peserta berbayar. Bukan memelas, berharap dikasihani.
Meski kadang melelahkan dan tidak ada uangnya, kenapa saya masih mengadakan seminar ini-itu, bahkan secara rutin? Saya ingin melihat perubahan, pada setiap peserta.
Begitu mereka berubah, rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri yang tak bisa diukur dengan uang.
Juga saya ingin kesibukan saya dalam seminar (baca: berbagi ilmu) menjadi amal jariyah buat almarhum papa saya serta almarhum kakek-nenek saya.
Meski tak seberapa, tentu rasanya melegakan saat kita tahu bahwa ada pahala yang mengalir buat orangtua manakala si anak berusaha berbuat baik dan mengajarkan ilmu.
Doakan saya, semoga niat saya tetap terjaga. Demikian pula panitia, kita doakan juga. Mudah-mudahan membawa keberkahan dan keberlimpahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kembali saya ke Raja Ampat. Kali ini bareng mitra-mitra British Propolis, alhamdulillah.
Sudah 3x berpose di sini, tetap happy hehehe. Presiden Jokowi juga pernah berfoto di sini
Pasir Timbul, salah satu spot menggemaskan di #RajaAmpat. Serasa private island
Sesuatu yang berat bukan berarti harus kita hindari. Terkadang harus kita hadapi.
Hidup adalah perjuangan. Berat? Mungkin. Tapi menariknya kita bisa memilih tim sehingga perjuangan tadi tidaklah terlalu berat. Bahkan insya Allah ada masa senang-senangnya.
Alhamdulillah, 3x saya ke #RajaAmpat, 2x bareng mitra-mitra. Ya, mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai penjuru Indonesia. Saya bangga sekali bisa bertemu dan bermitra dengan mereka.
Perjalanan begitu nyaman.
3x saya ke Raja Ampat, baru kali ini saya merasa hempasan ombaknya bener-bener minim. Begitu kami kelar foto-foto dan snorkling, barulah hujan turun, seolah-olah membasuh air laut di tubuh kami. Alhamdulillah.
Btw, kami menjalankan bisnis British Propolis. Alhamdulillah, di sini kita semua saling mendukung dan saling mendoakan. Hampir setiap hari mereka (mitra-mitra) mendapat bimbingan dari pusat. Dan mereka sungguh-sungguh belajarnya.
Tak heran banyak yang sukses.
Menurut data, negara-negara maju memiliki #wirausaha di atas 14%. Kita (Indonesia) sekarang ini angkanya masih 3,01%. Belum ideal memang. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendorong lahirnya pengusaha untuk turut membantu pembangunan negara.
Banyak orang yang akhirnya punya usaha dan sukses usahanya setelah dipertemukan dengan British Propolis. Apalagi modalnya sangat terjangkau. Memang sengaja saya rancang begitu agar bisa membantu banyak orang.
Satu lagi. Teman-teman tidak harus bermitra dengan saya. Bisnis-bisnis yang lain juga bagus. Yang penting, legal dan halal. Pastikan saja mentor-nya ada dan ekosistem-nya membuat kita bertumbuh. Semoga berkah berlimpah.
Hidup adalah perjuangan. Berat? Mungkin. Tapi menariknya kita bisa memilih tim sehingga perjuangan tadi tidaklah terlalu berat. Bahkan insya Allah ada masa senang-senangnya.
Alhamdulillah, 3x saya ke #RajaAmpat, 2x bareng mitra-mitra. Ya, mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai penjuru Indonesia. Saya bangga sekali bisa bertemu dan bermitra dengan mereka.
Perjalanan begitu nyaman.
3x saya ke Raja Ampat, baru kali ini saya merasa hempasan ombaknya bener-bener minim. Begitu kami kelar foto-foto dan snorkling, barulah hujan turun, seolah-olah membasuh air laut di tubuh kami. Alhamdulillah.
Btw, kami menjalankan bisnis British Propolis. Alhamdulillah, di sini kita semua saling mendukung dan saling mendoakan. Hampir setiap hari mereka (mitra-mitra) mendapat bimbingan dari pusat. Dan mereka sungguh-sungguh belajarnya.
Tak heran banyak yang sukses.
Menurut data, negara-negara maju memiliki #wirausaha di atas 14%. Kita (Indonesia) sekarang ini angkanya masih 3,01%. Belum ideal memang. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendorong lahirnya pengusaha untuk turut membantu pembangunan negara.
Banyak orang yang akhirnya punya usaha dan sukses usahanya setelah dipertemukan dengan British Propolis. Apalagi modalnya sangat terjangkau. Memang sengaja saya rancang begitu agar bisa membantu banyak orang.
Satu lagi. Teman-teman tidak harus bermitra dengan saya. Bisnis-bisnis yang lain juga bagus. Yang penting, legal dan halal. Pastikan saja mentor-nya ada dan ekosistem-nya membuat kita bertumbuh. Semoga berkah berlimpah.
Anda punya bisnis?
Menjual produk premium, berarti harus penampilan juga harus premium.
Jangan kucel.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Bagi pria, upayakan pakai kemeja. Disetrika. Terus, pakai minyak rambut. Sepatu? Jelas, ini lebih baik daripada sandal.
Bau badan? Jangan sampai.
Bukan soal salah atau benar, tapi ini soal penampilan yang lebih meyakinkan.
Ketika janjian, jangan telat. Datanglah lebih awal. Boleh juga ke toilet dulu, bersih-bersih. Sekali lagi, jangan kucel.
Jualan produk premium, yuk premiumkan penampilan kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menjual produk premium, berarti harus penampilan juga harus premium.
Jangan kucel.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Bagi pria, upayakan pakai kemeja. Disetrika. Terus, pakai minyak rambut. Sepatu? Jelas, ini lebih baik daripada sandal.
Bau badan? Jangan sampai.
Bukan soal salah atau benar, tapi ini soal penampilan yang lebih meyakinkan.
Ketika janjian, jangan telat. Datanglah lebih awal. Boleh juga ke toilet dulu, bersih-bersih. Sekali lagi, jangan kucel.
Jualan produk premium, yuk premiumkan penampilan kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.