Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Azan & Aktor Hollywood

Dalam azan, sebenarnya ada dua seruan. Pertama, seruan untuk sholat. Kedua, seruan untuk menang. Ayo sholat, ayo menang. Menurut saya, ini hebat sekali. Lebih hebat dari yell-yell motivasi manapun!

Dua aktor ternama Hollywood, Liam Neeson juga Will Smith, sempat terpana dan terpesona dengan #SuaraAzan. Ini terjadi di Turki dan di India. Justin Bieber bahkan pernah menghentikan sejenak konsernya demi menghormati azan.

Nggak percaya? Silakan googling berita-beritanya. Sahih insya Allah. Ternyata mereka bertiga lebih pancasilais ketimbang si pembaca puisi itu. Btw, suara azan dianggap kalah merdu, menurut si pembaca puisi itu.

Apa pendapat saya? Pernyataan dia jelas-jelas menghina dan merendahkan. Repotnya, kalau kita protes, ntar kita dianggap terlalu vokal dan radikal. Padahal siapa yang bermulut kasar dan berpikir dangkal?

Kita berulang kali diminta untuk sabar dan menjaga sikap. Selaluuu begitu. Sementara orang-orang seperti dia seenaknya tidak menjaga mulut dan tidak menjaga sikap. Apa mungkin karena mereka sadar bahwa mereka kebal hukum?

Azan itu istimewa. Pesan Nabi, kalau ada azan, dengarlah dan jawablah. Selesai azan, berdoalah. Bayangkan, ini reminder dan calling untuk beribadah kepada-Nya. Sarat dengan doa serta harapan. Itu kan indah sekali. Setidaknya, bagi seorang Muslim yang masih punya iman di hatinya.

Bagi saya, kalau kau belum tahu soal syariat, kalau kau belum tahu soal azan, #belajarlah. Jangan pongah. Tak perlu pula kau rendahkan azan dan kau banding-bandingkan dengan kidung serta puisi.

Kalaupun kau tak mau belajar soal syariat dan azan, yah diam dan hormatilah. Ini Indonesia. Saling menghormati, saling menghargai, itu baru namanya Indonesia, itu baru namanya Pancasila.

Di sisi lain, bagi seluruh Muslim, saya menganjurkan kita semua untuk introspeksi. Barangkali selama ini kita sering mengabaikan azan. Tidak mengindahkan. Allah izinkan peristiwa ini terjadi, mungkin agar kita kembali mengingat pentingnya azan dan pentingnya sholat.

Tulisan ini boleh di-share. Berulang-ulang. Seluas-luasnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Liam, Will, and Justin.
Sudirman bukan saja seorang jenderal, tapi juga seorang ustadz.

Menurut catatan sejarah, Sudirman dan adiknya belajar Islam di bawah bimbingan Kyai Haji Qahar. Boleh dibilang, Sudirman adalah orang yang taat beragama dan shalat tepat waktu. Ia pun dipercaya untuk melantunkan azan dan iqamah.

Sudah terlihat sejak kecil, Sudirman punya jiwa sosial yang tinggi. Ia gemar membantu. Pendidikan yang pernah dikecapnya adalah Sekolah Guru Muhammadiyah di Solo, tapi tidak sampai tamat. Namun demikian, beliau sempat menjadi guru di Muhammadiyah Cilacap.

Anak buahnya biasa menyapa Kajine, istilah Jawa untuk panggilan Pak Haji. Padahal beliau belum pernah ke Mekkah apalagi sampai berhaji. Satu lagi. Ia gemar berzikir dan menjaga wudhu. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Surah Ash-Shaf ayat 10-12 sering ia kutip dan sampaikan kepada anak buahnya. Intinya tentang suatu perniagaan yang benar-benar menyelamatkan, yaitu dengan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

Ketika ia sakit keras, ia tetap memilih untuk berjuang. Tidak diam. Selama bertahun-tahun. Karena jasa-jasanya, Sudirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968 serta namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan besar, universitas, museum, dan monumen.

Muhammad Isa Anshary menyatakan bahwa Sudirman adalah putra revolusi, karena dia lahir dalam revolusi, dan dibesarkan oleh revolusi. Yang jelas, Sudirman bukan saja seorang jenderal, tapi juga seorang ustadz. Semoga menjadi inspirasi bagi kita.
Photo from Ippho dan Tim
Pertama-tama, saya mau bertanya. Rp 1 M, terhitung besar atau kecil? Relatif, sebenarnya. Tergantung kapasitas kita. Terlepas dari itu, saya yakin Anda setuju dengan kalimat-kalimat berikut ini:

-       Rp 1 M menjadi mudah, jika kita tahu ilmunya. Apalagi kalau cuma Rp 100 juta.

-       Masalah (Outer Problem) sebesar Rp 100 juta menjadi kecil, jika kapasitas kita (Inner-Capacity) sudah Rp 500 juta.

-       Dengan kata lain, yang menjadi kunci adalah kapasitas kita. Maka perbesar kapasitas kita!

Berdasarkan pengalaman saya yang sudah-sudah, hadirnya ilmu yang tepat adalah cara terbaik untuk memperbesar kapasitas. Sekali lagi, hadirnya ilmu yang tepat.
 
Bisakah Anda menyetir sedan? Bisa, kalau Anda sudah menguasai ilmu menyetir sedan.

Bisakah Anda menyetir truk? Bisa, kalau Anda sudah menguasai ilmu menyetir truk (baca: memperbesar kapasitas).

Satu lagi. Mengelola sebuah warung beda dengan mengelola sebuah supermarket. Right? Kita sama-sama maklum, perlu ilmu yang lebih mumpuni (baca: kapasitas lebih besar) untuk mengelola supermarket.

Terus, apa hikmahnya? Belajarlah. Cari ilmu. Cari pengalaman. Insya Allah dengan belajar, kapasitas kita akan membesar. Mumpuni, istilah lainnya.

Dan terakhir ingatlah, Outer Problem akan mengecil, seiring Inner-Capacity kita yang membesar. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sekian tahun saya tinggal bersama kakek dan nenek. Beliau (kakek saya) adalah seorang karyawan. Ayah dan ibu saya juga. Karyawan. Tidak terkecuali kakak saya yang turut membantu biaya sekolah saya. Nah, ketika saya menjadi entrepreneur, ini adalah sesuatu yang baru di keluarga saya.

Layaknya entrepreneur-entrepreneur lainnya, niat saya saat itu untuk penafkahan yang lebih baik. Kurang-lebih begitu. Nggak kepikir soal sunnah atau membantu pembangunan negara. Kemudian barulah saya sadar ternyata menjadi entrepreneur itu bagian dari sunnah dan sedikit-banyak membantu pembangunan negara.

Menurut data dari pemerintah, negara-negara maju memiliki wirausaha di atas 14%. Kita (Indonesia) sekarang ini angkanya masih 3,01%. Belum ideal memang. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha muda untuk turut membantu pembangunan negara.

Disebut-sebut membantu pembangunan negara, kok bisa? Ya bisa, karena setiap unit usaha yang hadir akan membuka lapangan kerja dan ujung-ujungnya menggerakkan roda ekonomi. Betul apa betul?

Ternyata ini tidak sesulit yang kita bayangkan. Anak kecil pun bisa dilatih entrepreneurship-nya. Saran saya, biasakan anak untuk menyukai dunia penjualan sejak dini. Ya, sejak dini. Terjun langsung sebagai penjual pun tak masalah. Lebih bagus malah. Pelan-pelan ia akan terbiasa dengan risiko dan transaksi.

Ini kita terapkan di TK dan SD Khalifah. Alhamdulillah, sekarang sudah puluhan cabang, dari Aceh sampai Papua. Termasuk di Kampus Bisnis Umar Usman di Pejaten, Jakarta.

Ketika saya bertemu Chairul Tanjung, beliau juga menyarankan hal serupa pada saya. Ajarkan ilmu penjualan sejak dini. Pesan Chairul Tanjung selanjutnya, "Jangan takut mengambil resiko. Jika berhasil, kita akan bahagia. Jika gagal, kita akan lebih bijaksana." Saya pikir kalimat itu ada benarnya

Teman-teman siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Mau nasib berubah? Mau rezeki  bertambah? Mau impian tercapai?

Menjemput jodoh? Punya rumah impian? Punya mobil impian?

Satu hal yang selalu dipesankan oleh para mentor, "Lima tahun lagi, kita akan jadi seperti apa? Kemungkinan besar, sangat dipengaruhi oleh teman-teman kita dan seminar-seminar yang pernah kita ikuti."

Nah, 22 April 2018, insya Allah saya (Ippho Santosa) akan berbagi ilmu-ilmu percepatan melalui seminar 7 Keajaiban Rezeki. Bukan kebetulan, seminar ini sudah menjadi viral di mana-mana, sehingga menembus belasan negara di 5 benua, termasuk Amerika, Jerman, Jepang, New Zealand, dan Oman.

Keajaiban. Percepatan. Lompatan demi lompatan. Inilah yang akan saya tunjukkan satu per satu. Tak sedikit yang berubah nasibnya menjadi miliarder atau orang berpengaruh di negeri ini, wasilahnya melalui seminar 7 Keajaiban Rezeki. Dan dengan izin Allah, di Indonesia seminar ini telah diikuti para miliarder, para triliuner, dan artis-artis.

Kapan diadakan lagi? Di mana? Berapa lama? Silakan catat tanggal dan tempatnya:

Pejaten, Jakarta
22 April 2018
08.00 s/d 15.00
HTM Rp199ribu
VIP Rp500ribu

Rekening a/n Yayasan Dompet Dhuafa Republika:

Mandiri 127.00.700.7000.6
BNI Syariah 700.7000.117

Setelah transfer, mohon konfirmasi (via WA) ke 0813-9875-6577.

Bukti transfer berlaku sebagai tiket masuk di seminar 7 Keajaiban Rezeki ini. Fyi, sewaktu-waktu harga tiket bisa naik. Dan sewaktu-waktu ketersediaan tiket bisa habis alias sold out.

Yang pernah ikut, bantu rekomen ya. Boleh?

Temukan rahasia-rahasia sukses dan kunci-kunci percepatan di seminar ini. Semoga teman-teman semua dimudahkan untuk mengikuti. Ajak juga keluarganya. Tidak puas? Tidak dapat manfaat? Uang tiket 100% akan dikembalikan, tanpa pertanyaan apapun!

Satu lagi, seluruh keuntungan dari tiket dan acara 100% untuk sedekah.
Sampai jumpa ya...
Saat bertemu guru, baiknya kita bukan sekadar berguru. Cobalah berkhidmat kalau perlu.

Di Tiongkok, terhadap guru Kung Fu, para murid bersikap begitu. Di pesantren, terhadap kyai dan ustadz, para santri bersikap begitu. Berkhidmat, ini budaya yang sangat bagus dan perlu ditiru.

Saya sering berpesan, "Mesti sungguh-sungguh ketika melayani tamu atau guru. Jangan biarkan mereka menunggu." Aktif dan proaktiflah sepanjang waktu.

#Berkhidmat ada tiga caranya. Dengan tenaga, harta, dan doa. Kalau dipakai semuanya, tentu ini lebih baik. Sekiranya belum bisa semuanya, niatkan dan ikhtiarkan. Insya Allah pelan-pelan akan dimampukan.

Ibnu Abbas ketika masih kecil berkhidmat dengan tenaga kepada Nabi, lalu Nabi mendoakan kecerdasan kepada Ibnu Abbas. Sekarang, kita mengenal Ibnu Abbas sebagai sahabat yang kuat daya ingatnya dan cerdas.

Guru pada umumnya tidak minta dihormati oleh muridnya. Namun, orang yang beradab dan sadar bahwa dirinya seorang murid harus tahu diri untuk menghormati gurunya. Right?

Lagi pula, berkhidmat ini penuh keberkahan. Fakhruddin al-Arsabandi, saat tenar dan berkuasa, mengungkapkan rahasia suksesnya, "Aku mendapatkan kedudukan yang mulia ini karena berkhidmat kepada guruku."

Mari diterapkan. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lahir di Jerman, Nouman Ali Khan salah satu ulama muda paling menonjol saat ini dan masuk dalam 500 most influential muslims in the world.

Nouman dikenal sebagai profesor di bidang tafsir, yang kemudian mendirikan Bayyinah Institute, sebuah pusat studi di Amerika Serikat.

Kemampuannya menyederhanakan analisa-analisa terkait Alquran disertai dengan bahasa yang lugas berhasil membius setiap peserta untuk fokus memperhatikan ceramahnya.

Menariknya, awal Mei 2018 beliau akan hadir dan berceramah di Indonesia. Insya Allah. Teman-teman silakan mendaftar. Free >> http://www.UstadNouman.com
Saya menganjurkan orang-orang untuk berkuda. Setidaknya, setahun sekali. Syukur-syukur kalau bisa rutin seminggu sekali.

Di sini perlu keberanian, ketenangan, dan pengendalian diri. Kuda tidak suka ditunggangi oleh orang yang cemas. Dan kuda bisa tahu apakah penunggangnya cemas atau tidak. Ini fakta, bukan mitos.

Umar bin Khattab telah mewajibkan penduduk Syam supaya mengajar anak-anak mereka berenang, dan memanah, dan menunggang kuda. Pastilah ini bukan pekerjaan sia-sia atau sekadar mengisi waktu luang.

''Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah," pesan Nabi.

''Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda)," pesan Nabi.

Gimana dengan mengendarai mobil dan motor? Tentu saja ini perlu dan kita harus mampu. Tapi, ini sama sekali tidak menggantikan hikmah dan manfaat dari berkuda.

Dari segi kesehatan, berkuda bisa menjadi obat untuk berbagai penyakit atau masalah kesehatan. Seperti autis dan sakit jantung. Juga dapat menghilangkan sakit kepala, sakit pinggang, dan stress.

Sekali lagi, cobalah untuk berkuda. Setidaknya, setahun sekali. Kalau rutin seminggu sekali, tentu ini lebih baik. Semoga sehat, berkah, dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Be healthy, be wealthy!
Anda tahu brand Hermes? Merek tas yang satu ini tak diragukan lagi mewahnya. Saya sempat kaget pas tahu ada tas Birkin dari Hermes yang dipasangi titanium dan 2.000 berlian! Lebih kaget lagi pas tahu harganya yaitu Rp 26 miliar!

Untuk itukah kekayaan? Megah-megahan dan gagah-gagahan? Tentu saja tidak.

Bagi saya, kaya itu BUKAN soal akumulasi harta, melainkan soal distribusi harta. Hendaknya begitu. Dengan kata lain, yang dipikirkan itu sesama, bukan dirinya dan keluarganya saja. Manfaat, manfaat, manfaat.

Terus, gimana dengan kebahagiaan?

Miskin, bahagia. Kaya, bahagia. Tapi kalau kaya, kita bisa membahagiakan orang banyak. Right? Bikin berbagai program sosial, mulai dari sekolah, klinik, rumah sakit, rumah ibadah, sport centre, dll. Maka, niatkan untuk kaya. Niatkan, ikhtiarkan!

Bagi saya, kaya BUKAN untuk megah-megahan dan gagah-gagahan. Barang-barang, silakan beli dan pakai seperlunya. Untuk diri kita dan keluarga kita. Setelah itu? Hendaknya yang menjadi fokus adalah kebermanfaatan untuk sesama. Sesuatu yang lebih luas dan lebih mulia.

Saya harap Anda setuju dengan saya.
Anda sudah menikah? Peneliti di Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat, menghelat survei terhadap 163 pasangan suami-istri. Hasilnya?

Menarik. Ternyata, pasangan yang saling mendukung cenderung lebih baik dalam menghadapi tantangan-tantangan dan cenderung #LebihSukses.

Laporan American Enterprise Institute menunjukkan, pria yang telah menikah cenderung bekerja lebih banyak 400 jam dalam setahun, ketimbang pria lajang dengan latar belakang yang sama. Rupanya, pria yang telah menikah lebih bisa diandalkan.

Satu lagi. Riset yang dihelat oleh para peneliti di Universitas Washington menyimpulkan, kinerja seseorang sangat dipengaruhi oleh dukungan pasangan mereka. Tidak main-main, para peneliti menilai reaksi-reaksi dari 4.544 pasangan yang telah menikah.

Kesimpulannya, apakah pernikahan itu menyukseskan? Hm. Tepatnya, pernikahan yang selaras dan saling mendukung. Bukan sekadar pernikahan. Kalau pasangannya bertengkar satu sama lain, tentu kita sama-sama tahu bagaimana dampaknya. Bad. Very bad.

Selaras dan saling mendukung, inilah yang utama. Insya Allah menentramkan dan menyukseskan. Yuk kita terapkan. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Selama 10 tahun terakhir, perekonomian Indonesia tumbuh dua kali lipat dan kini mencapai volume 932 miliar dolar AS. Di satu sisi, ini relatif bagus.

Namun di sisi lainnya, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, Indonesia masih tertinggal jauh dalam pembangunan infrastruktur dan pemerataan ekonomi.

Sementara itu, 28 juta penduduknya masih hidup dalam kemiskinan. Apabila dicermati secara mendalam, perekonomian Indonesia belum benar-benar bangkit secara riil.

Ya, ketimpangan ekonomi masih jadi isu utama.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, mengakui pemerintah masih sulit menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Pendistribusian beras sejahtera (rastra) pun terhitung lambat, menurut Kepala BPS.

Menyikapi fakta pahit ini, menurut saya kita perlu mencetak lebih banyak lagi pengusaha yang pro rakyat (pro umat). Ini demi mengurangi ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi tadi.

Mungkinkah? Sangat mungkin. Diharapkan, awalnya terbuka lapangan kerja dan akhirnya terjadi distribusi kekayaan. Memang ini tidak hadir seketika. Barangkali perlu 2 sampai 3 generasi.

Satu lagi. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Masing-masing kita hendaknya berkontribusi. Pada akhirnya, jadilah pengusaha. Yang pro rakyat, tentunya.

Mulai dari diri kita, mulai dari keluarga kita. Pelan-pelan. Semoga kita semua dimampukan, aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Btw, saya lagi survey, berapa follower saya di Telegram yang pernah baca buku saya...

Yang sudah pernah dan belum pernah, tentu perlu pendekatan berbeda. Ya, berbeda...

Ini menjadi bahan pertimbangan bagi saya dalam menyusun konten. Biar lebih pas...

Sudah apa belum, tolong komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/Bhcww9sB6eh/