Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Belum bisa move on dari kenangan bersama Syekh #YusufEstes.
Ketika dulu merantau dan berpisah dengan keluarga, saya sempat merasa sedih. Tapi, tidak sampai menangis... Anehnya begitu berpisah dengan Syekh #YusufEstes, saya sampai menangis...
Hanya doa dan harap yang bisa kami antarkan dari Tanah Air... Semoga Allah selalu menjagamu, wahai Syekh...
Dijepret diam-diam oleh teman saya.
Semoga teman segera ke sini (lagi) bersama keluarga dan timnya, berkali-kali. Aamiin.
Bisnis BUKAN sekadar sistem, tapi juga tim dan ekosistem.

Tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.

Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.

Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat itu lebih bertahan lama daripada skill. Misal skill-nya hebat, tapi ketika bekerjasama belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.

Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan terburu-buru. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.

Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.

Selamat mencoba. Mudah-mudahan bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.



(Yuk ajak teman-teman kita bergabung ke channel @ipphoright di Telegram ini. Lebih update, lebih komplit)
Sempatkan belajar #InternetMarketing.
Internet adalah now market dan next market.
Siap dengan risiko dan tahan banting, inilah dua ciri utama pengusaha.

Ketika ditanya, "Siapa yang MAU jadi pengusaha?" hampir semua orang mengacungkan tangannya.

Ketika lanjut ditanya, "Siapa yang SIAP jadi pengusaha?" sebagian besar orang menyembunyikan tangannya.

Anda termasuk yang mana?

Atau Anda jenis orang yang berani memulai usaha tapi tidak tahan dengan penolakan-penolakan?

Katanya mau jadi pengusaha. Jualan, malu. Ditolak, malu. Rugi, kapok. Gagal, kapok. Bangkrut, kapok. Ditipu, kapok. Alasannya segerobak. Malesnya sekontainer.

Situ serius mau jadi pengusaha? Hehehe.

Hei, punya usaha itu mudah. Untuk bener-bener jadi pengusaha, nah itu yang nggak mudah. Di sini kita bukan sekadar berani melangkah, tapi juga pantang menyerah (baca: tahan banting). Anda sanggupkah?

Di sini saya cuma mengingatkan. Sekali lagi, siap dengan risiko dan tahan banting, inilah dua ciri utama pengusaha. Sekiranya Anda tidak punya dua ciri ini, lupakan saja cita-cita Anda untuk menjadi pengusaha.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Acara tadi malam, bersama Shafira dan owner-nya. Hadir juga Bu Lia, istri Kang Emil.
Semoga Shafira semakin maju dan berkembang. Demikian pula bisnis kita semua.
#FenyMustafa adalah wanita hebat di balik sukses merek busana muslimah Shafira yang selama hampir 30 tahun puluhan gerainya hadir di berbagai wilayah di Indonesia.

Saya beruntung beberapa kali diundang berseminar oleh Shafira dan sang founder dengan begitu rendah hati duduk sebagai peserta. Saya pun memilih Shafira untuk seragam tertentu di British Propolis dan TK Khalifah.

Ide awal membangun usaha Shafira, semua berawal dari keprihatinan Feny terhadap kaum muslimah Indonesia yang tidak diberi keleluasaan berhijab. Ini terjadi pada 30 tahun lalu.

"Saat itu jilbab tidak se-booming sekarang. Tapi saat Shafira hadir, ada respon positif terhadap label busana muslimah saya tersebut," jelas Feny yang sempat aktif di Rohis ITB.

"Saya benar-benar mengawali bisnis ini dari bawah. Awalnya hanya dibantu 1-2 karyawan saja. Bahkan untuk modal saya pinjam sana-sini," ungkap Feny.

"Satu lagi. Hal terpenting yang membuat sukses membangun bisnis pertama kali adalah support keluarga," ujar Feny. Tulisan ini diolah dari berita-berita di Liputan 6 dan Okezone.

Tidak cukup puluhan gerai Shafira, Feni juga mengembangkan brand Zoya yang kini telah memiliki 100-an toko di seluruh Indonesia. Saat ini Shafira merupakan label ritel busana Muslim yang sangat berpengaruh di Indonesia.

Saya pribadi berharap bisnis-bisnis saya kelak bisa sebesar Shafira. Aamiin.
Senang sekali, tadi pagi bisa silaturahim (lagi) dengan tiga ulama, yaitu Ust Somad, Aa Gym, dan TGB. Sarapan bareng. Alhamdulillah.

Btw, teman-teman ada pesan untuk beliau-beliau? Silakan komen dan sampaikan di IG saya...

https://www.instagram.com/p/BhA_sVZhU3v/
Membangun silaturahim bukan pekerjaaan satu hari dua hari, melainkan pekerjaan bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Kita mesti mau mengalokasikan waktu, kadang harus melepas kesempatan-kesempatan yang lain. Karena kita tidak bisa hadir di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Right?

Jumat sore, saya diundang oleh Shafira untuk hadir di acara Indonesia Fashion Week. Saya pun beroleh kehormatan untuk memberikan bunga di akhir sesi kepada founder dan perancang Shafira, Bu Feny Mustafa. Alhamdulillah.

Sabtu pagi sampai sore, saya bersama mitra-mitra British Propolis mengunjungi rumah Mas Jaya Setiabudi, founder YukBisnis.com. Di sana kami ngobrol-ngobrol bermutu, insya Allah sarat dengan ilmu. Alhamdulillah, kami sudah bersahabat selama belasan tahun, sejak di Batam dulu.

Ahad pagi, saya bahagia sekali diundang sama #AaGym untuk sarapan juga silaturahim dengan #UstadzAbdulSomad dan #TuanGuruBajang di Eco Pesantren DT. Serunya lagi, mereka berkuda. Foto-fotonya sekarang jadi viral.

UAS dan TGB awal-awal sempat kagok pas diajak berkuda. Apalagi kudanya besar-besar, hehehe. Tapi akhirnya beliau-beliau menikmati. Begitulah, rasa takut jangan dimanjakan. Baiknya dihadapi dan diatasi. Insya Allah berbagai hikmah menanti.

Sama seperti UAS, ternyata TGB sudah lama membaca buku saya. Alhamdulillah.

Sebagian teman-teman bertanya kepada saya, "Kok Mas Ippho bisa ngumpul-ngumpul bareng beliau-beliau. Apa karena buku?" Saya cuma senyum. Yang jelas, Allah yang mempertemukan. Saya cuma menjalani. Sesederhana itu.

Di satu sisi, Aa Gym dan UAS adalah guru-guru yang rendah hati. Saya sebagai murid senang sekali ketika diajak serta. Di sisi lain, saya mengenal Aa Gym sejak 2004, bahkan kami sempat seminar bareng dan bikin buku bareng pada 2005.

Memang, hadirnya buku-buku saya memudahkan saya untuk silaturahim. Ke sana, ke mari. Tapi, menurut saya, BUKAN itu yang utama. Terus, apa yang utama? Mau mengalokasikan waktu dan mau melepas kesempatan-kesempatan yang lain.

Pas sesi sarapan, saya sempat memperkenalkan ibu saya kepada UAS. Bertepatan saya dan UAS sama-sama berasal dari Pekanbaru. Terus, ibu saya berasal dari Pakakumbuh. Begitu tahu ibu saya berdarah Minang, UAS langsung menyapa ibu saya dengan Bahasa Minang yang fasih dan hangat. Ini berkesan bagi ibu saya.

Begitulah, di dalam silaturahim bertabur hikmah-hikmah. Bukan saja ilmu, tapi juga mendekatkan hati satu sama lain dan mengundang berbagai keberkahan. Insya Allah. Saya harap Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.