🌾 MUHKAM dan MUTASYABIH DALAM AL-QUR'AN
#Fatwa
🪶 Samahah asy-Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
(Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa, Ketua Lembaga Ulama Senior Arab Saudi)
السؤال:
أرجو إعطاءنا توضيحًا شافيًا عن الفرق بين المُحْكَم والمُتشابه في القرآن الكريم.
الجواب:
أحسن ما قيل في ذلك: أن المحكم هو ما وضح معناه، والمتشابه: ما يخفى معناه على العالم، والواجب ردّ المشتبه إلى المحكم، وألا يُفسّر بشيءٍ يُخالف المحكم، كما قال النبيُّ ﷺ: إذا رأيتُم الذين يتَّبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمَّى الله فاحذروهم.
فالواجب أن يُردّ المتشابه إلى المحكم، فالمحكم من القرآن: ما وضح معناه، كآيات الصلاة، وما حرَّم الله من المحرَّمات، وغير ذلك، وما اشتبه معناه يُردّ إلى المحكم، ويُفسّر بالمحكم، ولا يجوز أبدًا أن يُفسّر بخلاف المحكم؛ لأن القرآن لا يتناقض، بل يصدق بعضُه بعضًا، ويُشبه بعضه بعضًا.
فالواجب على أهل العلم أن يردّوا ما اشتبه عليهم إلى ما وضح لهم من المحكمات، وهكذا ما جاء في السنة: الرد إلى المحكم
❓ Pertanyaan:
Saya berharap untuk dijelaskan dengan penjelasan yang gamblang tentang perbedaan antara (ayat-ayat) muhkam dan mutasyabih di dalam al-Quranul Karim.
🧾 Jawab:
"Penjelasan yang terbaik tentang masalah itu adalah bahwasanya muhkam adalah ayat-ayat yang telah jelas maknanya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang masih tersamarkan maknanya bagi seorang yang berilmu (ulama).
Yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam, dan tidak menafsirkan (mutasyabih) dengan sesuatu yang menyelesihi yang muhkam.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم.
"Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih, mereka itulah orang-orang yang Allah maksudkan (dalam firman-Nya), 'maka berhati-hatilah dari mereka'."
Maka yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam.
Ayat-ayat muhkam dari al-Quran adalah yang telah gamblang maknanya, seperti ayat-ayat tentang shalat, dan segala yang Allah haramkan dari perkara-perkara yang haram dan lain sebagainya. Dan segala yang masih samar maknanya, dikembalikan kepada yang muhkam dan ditafsirkan dengannya. Tidak boleh sama sekali ditafsirkan dengan makna yang menyelisihi ayat-ayat yang muhkam. Karena al-Quran tidaklah saling bertentangan, bahkan ayat-ayatnya saling membenarkan dan saling menyerupai sebagiannya dengan sebagian yang lain.
Maka wajib atas para ulama untuk mengembalikan segala makna yang tersamarkan bagi mereka kepada makna yang gamblang dari ayat-ayat yang muhkam. Demikian pula segala yang datang dari as-Sunnah yaitu mengembalikan kepada yang muhkam.
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#Fatwa
🪶 Samahah asy-Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
(Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa, Ketua Lembaga Ulama Senior Arab Saudi)
السؤال:
أرجو إعطاءنا توضيحًا شافيًا عن الفرق بين المُحْكَم والمُتشابه في القرآن الكريم.
الجواب:
أحسن ما قيل في ذلك: أن المحكم هو ما وضح معناه، والمتشابه: ما يخفى معناه على العالم، والواجب ردّ المشتبه إلى المحكم، وألا يُفسّر بشيءٍ يُخالف المحكم، كما قال النبيُّ ﷺ: إذا رأيتُم الذين يتَّبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمَّى الله فاحذروهم.
فالواجب أن يُردّ المتشابه إلى المحكم، فالمحكم من القرآن: ما وضح معناه، كآيات الصلاة، وما حرَّم الله من المحرَّمات، وغير ذلك، وما اشتبه معناه يُردّ إلى المحكم، ويُفسّر بالمحكم، ولا يجوز أبدًا أن يُفسّر بخلاف المحكم؛ لأن القرآن لا يتناقض، بل يصدق بعضُه بعضًا، ويُشبه بعضه بعضًا.
فالواجب على أهل العلم أن يردّوا ما اشتبه عليهم إلى ما وضح لهم من المحكمات، وهكذا ما جاء في السنة: الرد إلى المحكم
❓ Pertanyaan:
Saya berharap untuk dijelaskan dengan penjelasan yang gamblang tentang perbedaan antara (ayat-ayat) muhkam dan mutasyabih di dalam al-Quranul Karim.
🧾 Jawab:
"Penjelasan yang terbaik tentang masalah itu adalah bahwasanya muhkam adalah ayat-ayat yang telah jelas maknanya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang masih tersamarkan maknanya bagi seorang yang berilmu (ulama).
Yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam, dan tidak menafsirkan (mutasyabih) dengan sesuatu yang menyelesihi yang muhkam.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم.
"Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih, mereka itulah orang-orang yang Allah maksudkan (dalam firman-Nya), 'maka berhati-hatilah dari mereka'."
Maka yang wajib adalah mengembalikan mutasyabih kepada yang muhkam.
Ayat-ayat muhkam dari al-Quran adalah yang telah gamblang maknanya, seperti ayat-ayat tentang shalat, dan segala yang Allah haramkan dari perkara-perkara yang haram dan lain sebagainya. Dan segala yang masih samar maknanya, dikembalikan kepada yang muhkam dan ditafsirkan dengannya. Tidak boleh sama sekali ditafsirkan dengan makna yang menyelisihi ayat-ayat yang muhkam. Karena al-Quran tidaklah saling bertentangan, bahkan ayat-ayatnya saling membenarkan dan saling menyerupai sebagiannya dengan sebagian yang lain.
Maka wajib atas para ulama untuk mengembalikan segala makna yang tersamarkan bagi mereka kepada makna yang gamblang dari ayat-ayat yang muhkam. Demikian pula segala yang datang dari as-Sunnah yaitu mengembalikan kepada yang muhkam.
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍1
🌾🪶 Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar
#BuletinDakwah
Ketahuilah, bahwa agar terwujud insan yang sempurna dan masyarakat yang sempurna, maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memahami dan mengamalkan empat perkara, ...
🧾 Selengkapnya baca di:
https://manhajul-anbiya.net/wajib-berilmu-beramal-berdakwah-dan-bersabar/
#BuletinDakwah
Ketahuilah, bahwa agar terwujud insan yang sempurna dan masyarakat yang sempurna, maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memahami dan mengamalkan empat perkara, ...
🧾 Selengkapnya baca di:
https://manhajul-anbiya.net/wajib-berilmu-beramal-berdakwah-dan-bersabar/
Manhajul Anbiya
Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar - Manhajul Anbiya
بسم الله الرحمن الرحيم Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar Para pembaca rahimakumullah (semoga Allah merahmati Anda), Ketahuilah, bahwa agar terwujud insan yang sempurna dan masyarakat yang sempurna, maka wajib atas setiap muslim dan muslimah…
🥬 ORANG YANG MENGKIYASKAN MAKHLUK DENGAN AL-KHALIQ APAKAH KAFIR?
#Fatwa
🎙️ Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
يَقُولُ: فَضِيلَةَ الشَّيخِ وَفَّقَكُمُ اللهُ، مَنْ قَاسَ الْمَخْلُوقَ عَلَى الْخالِقِ هَلْ يَكْفُرُ بِذلِكَ الْقِياسِ؟
اَلْجَوابُ:
إِذَا كَانَ عَالِمًا بِذَلِكَ هُوَ يَكْفُرُ، أَمَّا إِذَا كَانَ جَاهِلًا فَيُبَيَّنُ لَهُ؛ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ بَاطِلٌ وَلَا يَجُوزُ. فَإِنْ أَصَرَّ وَلَمْ يَمْتَثِلْ يُحْكَم عَلَيهِ بِالْكُفْرِ، لِأَنَّهُ سَوَّى بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ خَلْقِهِ تَنَقَّصَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
💬 Pertanyaan
"Fadhilatasy Syaikh, orang yang mengkiaskan makhluk dengan al-Khaliq (Allah, Sang Pencipta), apakah dia bisa divonis kafir dengan sebab itu?"
🪶 Jawaban:
"Jika dia seorang yang mengetahui tentang hukum perbuatan kias tersebut maka dia kafir.
Adapun jika dia tidak mengetahuinya maka hendaknya diterangkan kepadanya; sesungguhnya ini adalah perkara yang batil dan tidak boleh. Jika dia bersikeras dan tidak mau merealisasikan (nasehat ini) maka dia divonis dengan kekafiran, karena dia telah menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya, dia telah merendahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
📚 Fatawa ad-Durus al-'Ilmiyyah
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#Fatwa
🎙️ Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
يَقُولُ: فَضِيلَةَ الشَّيخِ وَفَّقَكُمُ اللهُ، مَنْ قَاسَ الْمَخْلُوقَ عَلَى الْخالِقِ هَلْ يَكْفُرُ بِذلِكَ الْقِياسِ؟
اَلْجَوابُ:
إِذَا كَانَ عَالِمًا بِذَلِكَ هُوَ يَكْفُرُ، أَمَّا إِذَا كَانَ جَاهِلًا فَيُبَيَّنُ لَهُ؛ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ بَاطِلٌ وَلَا يَجُوزُ. فَإِنْ أَصَرَّ وَلَمْ يَمْتَثِلْ يُحْكَم عَلَيهِ بِالْكُفْرِ، لِأَنَّهُ سَوَّى بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ خَلْقِهِ تَنَقَّصَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
💬 Pertanyaan
"Fadhilatasy Syaikh, orang yang mengkiaskan makhluk dengan al-Khaliq (Allah, Sang Pencipta), apakah dia bisa divonis kafir dengan sebab itu?"
🪶 Jawaban:
"Jika dia seorang yang mengetahui tentang hukum perbuatan kias tersebut maka dia kafir.
Adapun jika dia tidak mengetahuinya maka hendaknya diterangkan kepadanya; sesungguhnya ini adalah perkara yang batil dan tidak boleh. Jika dia bersikeras dan tidak mau merealisasikan (nasehat ini) maka dia divonis dengan kekafiran, karena dia telah menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya, dia telah merendahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
📚 Fatawa ad-Durus al-'Ilmiyyah
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍1
⛵ PATOKAN DALAM MENGIKUTI IMAM SHALAT BUKAN DENGAN UCAPAN TAKBIR, NAMUN DENGAN GERAKANNYA
#Fiqh
✍🏻 Sudah diketahui bersama bahwa di antara petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam syariat shalat berjamaah adalah makmum wajib mengikuti imam dalam setiap gerakan shalat. Namun tidak jarang di antara kaum muslimin ada yang tidak mengetahui bagaimana sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam hal tersebut.
🌾 Shahabat yang mulia al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu 'anhu menyampaikan,
« كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَإِذَا رَكَعَ رَكَعُوا، وَإِذَا قَال: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ " لَم يَزَالُوا قِيَامًا حَتَّى يَرَوْهُ قَد وَضَعَ وَجْهَهُ (وفي لفظ: جَبْهَتَهُ) فيِ الأَرْضِ، ثَم يَتَّبِعُونَهُ »
“Bahwa dulu mereka (para shahabat) shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Maka apabila beliau ruku’ mereka ruku’, apabila beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah’, maka mereka tetap berdiri (I’tidal) hingga melihat beliau telah meletakkan wajahnya (dalam lafazh lain: keningnya) di atas tanah, baru kemudian mereka mengikuti beliau.”
(HR. Muslim 474, Abu Dawud 266, Abu ‘Awanah 2/179, ath-Thabarani dalam al-Ausath 2/290/1-2; lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2616).
🥬 Ketika menyebutkan salah satu alasan kenapa membahas hadits ini dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan,
أن جماهير المصلين يخلون بما تضمنه من التأخر بالسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، لا أستثني منهم أحدا، حتى من كان منهم حريصا على اتباع السنة، للجهل بها أو الغفلة عنها، إلا من شاء الله، وقليل ما هم.
“Mayoritas orang-orang yang melaksanakan shalat melalaikan kandungan yang ada dalam hadits tersebut, yaitu tidak terburu melakukan gerakan sujud sampai imam meletakkan keningnya di tanah/lantai (tempat sujud). Saya tidak memperkecualikan seorang pun di antara mereka, bahkan di antara orang-orang yang melalaikan perkara ini merupakan orang (yang dikenal) bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi, entah disebabkan karena kebodohannya tentang perkara ini atau kelalaiannya, kecuali siapa saja yang Allah kehendaki, dan betapa sedikitnya mereka.”
🧾 Kemudian asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengutip penjelasan al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim,
في الحديث هذا الأدب من آداب الصلاة، وهو أن السنة أن لا ينحني المأموم للسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، إلا أن يعلم من حاله أنه لو أخر إلى هذا الحد لرفع الإمام من السجود قبل سجوده. قال أصحابنا رحمهم الله تعالى: في هذا الحديث وغيره ما يقتضي مجموعه أن السنة للمأموم التأخر عن الإمام قليلا بحيث يشرع في الركن بعد شروعه، وقبل فراغه منه
“Pada hadits tersebut terdapat adab ini yang merupakan salah satu adab shalat. Yaitu bahwa tuntunan Sunnah Nabi adalah makmum tidak merunduk untuk sujud sampai imam meletakkan keningnya di atas tanah/lantai (tempat sujud). Kecuali kalau dia (makmum) tahu dari kondisi (kebiasaan) imam bahwa kalau seandainya terlambat (mengikuti sujudnya imam) sampai batas tersebut, maka sang imam akan terburu bangkit dari sujudnya sebelum makmum sujud.
Para ulama madzhab kami (yakni madzhab Syafi’i) rahimahumullah menyatakan, bahwa dalam hadits ini dan hadits yang lainnya terdapat makna yang semuanya berkonsekuensi bahwa tuntunan Sunnah Nabi bagi makmum adalah menunggu imam sebentar, yaitu makmum masuk mengerjakan rukun setelah masuknya imam dalam rukun tersebut dan sebelum selesainya imam dari rukun tersebut. Wallahu a’lam.”
(lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 6/225-226)
🍋 Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengatakan:
ولو كبّر الإمام للسجود وأتمّ التكبير قبل أن يصل إلى الأرض فلا تسجد حتى يصل إلى الأرض لقوله: 《إذا سجد》، ولم يقل: إذا كبّر للسجود
📚 (الشرح المختصر على بلوغ المرام ج ١ ص ٧٥٦)
#Fiqh
✍🏻 Sudah diketahui bersama bahwa di antara petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam syariat shalat berjamaah adalah makmum wajib mengikuti imam dalam setiap gerakan shalat. Namun tidak jarang di antara kaum muslimin ada yang tidak mengetahui bagaimana sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam hal tersebut.
🌾 Shahabat yang mulia al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu 'anhu menyampaikan,
« كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَإِذَا رَكَعَ رَكَعُوا، وَإِذَا قَال: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ " لَم يَزَالُوا قِيَامًا حَتَّى يَرَوْهُ قَد وَضَعَ وَجْهَهُ (وفي لفظ: جَبْهَتَهُ) فيِ الأَرْضِ، ثَم يَتَّبِعُونَهُ »
“Bahwa dulu mereka (para shahabat) shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Maka apabila beliau ruku’ mereka ruku’, apabila beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah’, maka mereka tetap berdiri (I’tidal) hingga melihat beliau telah meletakkan wajahnya (dalam lafazh lain: keningnya) di atas tanah, baru kemudian mereka mengikuti beliau.”
(HR. Muslim 474, Abu Dawud 266, Abu ‘Awanah 2/179, ath-Thabarani dalam al-Ausath 2/290/1-2; lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2616).
🥬 Ketika menyebutkan salah satu alasan kenapa membahas hadits ini dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan,
أن جماهير المصلين يخلون بما تضمنه من التأخر بالسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، لا أستثني منهم أحدا، حتى من كان منهم حريصا على اتباع السنة، للجهل بها أو الغفلة عنها، إلا من شاء الله، وقليل ما هم.
“Mayoritas orang-orang yang melaksanakan shalat melalaikan kandungan yang ada dalam hadits tersebut, yaitu tidak terburu melakukan gerakan sujud sampai imam meletakkan keningnya di tanah/lantai (tempat sujud). Saya tidak memperkecualikan seorang pun di antara mereka, bahkan di antara orang-orang yang melalaikan perkara ini merupakan orang (yang dikenal) bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi, entah disebabkan karena kebodohannya tentang perkara ini atau kelalaiannya, kecuali siapa saja yang Allah kehendaki, dan betapa sedikitnya mereka.”
🧾 Kemudian asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengutip penjelasan al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim,
في الحديث هذا الأدب من آداب الصلاة، وهو أن السنة أن لا ينحني المأموم للسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض، إلا أن يعلم من حاله أنه لو أخر إلى هذا الحد لرفع الإمام من السجود قبل سجوده. قال أصحابنا رحمهم الله تعالى: في هذا الحديث وغيره ما يقتضي مجموعه أن السنة للمأموم التأخر عن الإمام قليلا بحيث يشرع في الركن بعد شروعه، وقبل فراغه منه
“Pada hadits tersebut terdapat adab ini yang merupakan salah satu adab shalat. Yaitu bahwa tuntunan Sunnah Nabi adalah makmum tidak merunduk untuk sujud sampai imam meletakkan keningnya di atas tanah/lantai (tempat sujud). Kecuali kalau dia (makmum) tahu dari kondisi (kebiasaan) imam bahwa kalau seandainya terlambat (mengikuti sujudnya imam) sampai batas tersebut, maka sang imam akan terburu bangkit dari sujudnya sebelum makmum sujud.
Para ulama madzhab kami (yakni madzhab Syafi’i) rahimahumullah menyatakan, bahwa dalam hadits ini dan hadits yang lainnya terdapat makna yang semuanya berkonsekuensi bahwa tuntunan Sunnah Nabi bagi makmum adalah menunggu imam sebentar, yaitu makmum masuk mengerjakan rukun setelah masuknya imam dalam rukun tersebut dan sebelum selesainya imam dari rukun tersebut. Wallahu a’lam.”
(lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 6/225-226)
🍋 Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengatakan:
ولو كبّر الإمام للسجود وأتمّ التكبير قبل أن يصل إلى الأرض فلا تسجد حتى يصل إلى الأرض لقوله: 《إذا سجد》، ولم يقل: إذا كبّر للسجود
📚 (الشرح المختصر على بلوغ المرام ج ١ ص ٧٥٦)
👍6
"Kalau seandainya imam bertakbir untuk sujud dan selesai mengucapkan takbir tersebut sebelum dia sampai ke tanah/lantai, maka engkau jangan bersujud hingga imam sampai di tanah/lantai (dalam kondisi sujud). Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:《apabila imam sujud》, beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan: ‘Apabila imam bertakbir untuk sujud (maka sujudlah)’."
📚 (asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulugh al-Maram 1/756)
Wallahu a'lam bi ash-Shawab
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
📚 (asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulugh al-Maram 1/756)
Wallahu a'lam bi ash-Shawab
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
Manhajul Anbiya
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah
Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman
Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
👍3
🌾🥝 Dua Problem Utama Yang Menimpa Umat: Jauh Dari Tauhid Yang Murni dan Akhlak Mulia
#Aqidah #Tauhid #AdabAkhlak
🎙️ al-‘Allamah al-Muhaddits al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah
وأنا ألاحظ - مع الأسف - أن الناس اليوم يهتمُّون بالجانب الأول؛ ألا وهو العلم، ولا يهتمون بالجانب الآخر ؛ ألا وهو الأخلاق والسلوك ، فإذا كان النبي - صلى الله عليه وآله وسلم - يكاد يحصر دعوته من أجل محاسن الأخلاق ومكارمها حينما يأتي بأداة الحصر فيقول : ( إنما بُعثت لأتمِّم مكارم الأخلاق ) ؛ فإنما ذلك يعني أن مكارم الأخلاق جزء أساسيٌّ من دعوة الرسول عليه الصلاة والسلام.
والواقع أنني كنت في ابتداء طلبي للعلم وهداية الله - عز وجل - إياي إلى التوحيد الخالص، واطِّلاعي على ما يعيشه العالم الإسلامي من البعد عن هذا التوحيد، كنت أظنُّ أن المشكلة في العالم الإسلامي إنما هي فقط ابتعادهم عن فهمهم لحقيقة معنى لا إله إلا الله، ولكني مع الزمن صرتُ أتبيَّن أن هناك مشكلة أخرى في هذا العالم تُضاف إلى المشكلة الأولى الأساسية ؛ ألا وهي بعدهم عن التوحيد، المشكلة الأخرى أنهم أكثرهم لا يتخلَّقون بأخلاق الإسلام الصحيحة إلا بقدرٍ زهيدٍ .
📖 “Aku perhatikan – dengan sangat disesalkan – bahwa manusia pada hari ini mementingkan sisi yang pertama, yaitu sisi ilmu, dan tidak mementingkan sisi yang kedua yaitu sisi akhlak dan prilaku.
📬 Apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hampir-hampir membatasi dakwahnya adalah demi akhlak yang baik dan mulia, yaitu tatkala beliau menyebutkan dengan perangkat kata pembatasan, sehingga beliau katakan, “Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”, maka tidak lain ini bermakna bahwa akhlak mulia merupakan bagian yang sangat prinsipil dari dakwah Rasulullah ‘alaihi ash-Shalatu wa as-Salam.
⚡ Kenyataan, bahwa ketika aku masih di permulaan menuntut ilmu dan pada masa awal Allah memberikan hidayah kepadaku untuk mengenal tauhid yang murni, dan ketika aku mengerti kondisi dunia Islam yang jauh dari tauhid yang murni tersebut, dulu aku mengira bahwa problematika yang menimpa dunia Islam hanyalah semata-mata disebabkan jauhnya umat Islam dari memahami hakikat makna laailaaha illallah.
🚨 Namun bersama waktu aku menjadi mengerti bahwa di sana ada problematika lain di dunia Islam ini, melengkapi problematika yang pertama dan mendasar, yaitu problem jauhnya umat dari tauhid, ada problematika lain yaitu bahwa kebanyakan umat tidak berakhlak dengan akhlak Islami yang benar kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit."
Fatawa Jeddah, kaset ke-34; menit 4:39-6:51
💽 unduh audio
https://bit.ly/3qJv637
(1 MB)
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#Aqidah #Tauhid #AdabAkhlak
🎙️ al-‘Allamah al-Muhaddits al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah
وأنا ألاحظ - مع الأسف - أن الناس اليوم يهتمُّون بالجانب الأول؛ ألا وهو العلم، ولا يهتمون بالجانب الآخر ؛ ألا وهو الأخلاق والسلوك ، فإذا كان النبي - صلى الله عليه وآله وسلم - يكاد يحصر دعوته من أجل محاسن الأخلاق ومكارمها حينما يأتي بأداة الحصر فيقول : ( إنما بُعثت لأتمِّم مكارم الأخلاق ) ؛ فإنما ذلك يعني أن مكارم الأخلاق جزء أساسيٌّ من دعوة الرسول عليه الصلاة والسلام.
والواقع أنني كنت في ابتداء طلبي للعلم وهداية الله - عز وجل - إياي إلى التوحيد الخالص، واطِّلاعي على ما يعيشه العالم الإسلامي من البعد عن هذا التوحيد، كنت أظنُّ أن المشكلة في العالم الإسلامي إنما هي فقط ابتعادهم عن فهمهم لحقيقة معنى لا إله إلا الله، ولكني مع الزمن صرتُ أتبيَّن أن هناك مشكلة أخرى في هذا العالم تُضاف إلى المشكلة الأولى الأساسية ؛ ألا وهي بعدهم عن التوحيد، المشكلة الأخرى أنهم أكثرهم لا يتخلَّقون بأخلاق الإسلام الصحيحة إلا بقدرٍ زهيدٍ .
📖 “Aku perhatikan – dengan sangat disesalkan – bahwa manusia pada hari ini mementingkan sisi yang pertama, yaitu sisi ilmu, dan tidak mementingkan sisi yang kedua yaitu sisi akhlak dan prilaku.
📬 Apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hampir-hampir membatasi dakwahnya adalah demi akhlak yang baik dan mulia, yaitu tatkala beliau menyebutkan dengan perangkat kata pembatasan, sehingga beliau katakan, “Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”, maka tidak lain ini bermakna bahwa akhlak mulia merupakan bagian yang sangat prinsipil dari dakwah Rasulullah ‘alaihi ash-Shalatu wa as-Salam.
⚡ Kenyataan, bahwa ketika aku masih di permulaan menuntut ilmu dan pada masa awal Allah memberikan hidayah kepadaku untuk mengenal tauhid yang murni, dan ketika aku mengerti kondisi dunia Islam yang jauh dari tauhid yang murni tersebut, dulu aku mengira bahwa problematika yang menimpa dunia Islam hanyalah semata-mata disebabkan jauhnya umat Islam dari memahami hakikat makna laailaaha illallah.
🚨 Namun bersama waktu aku menjadi mengerti bahwa di sana ada problematika lain di dunia Islam ini, melengkapi problematika yang pertama dan mendasar, yaitu problem jauhnya umat dari tauhid, ada problematika lain yaitu bahwa kebanyakan umat tidak berakhlak dengan akhlak Islami yang benar kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit."
Fatawa Jeddah, kaset ke-34; menit 4:39-6:51
💽 unduh audio
https://bit.ly/3qJv637
(1 MB)
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
👍2
🍎 MEMBANTAH KEBATILAN ADALAH WAJIB
#Manhaj
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata:
"Membantah kebatilan -baik berupa bid'ah ucapan, keyakinan, ataupun amalan- adalah metode yang benar. Adapun meninggalkannya itulah aib yang sesungguhnya.
⚠️ Jika ada yang menyanggah pernyataan tersebut dengan mengatakan, "Sibuklah dengan aibmu sendiri, jangan sibuk dengan aib orang lain!"
Maka kita katakan kepada mereka "Justru termasuk aibku apabila aku tidak membantah kebatilan, karena membantah kebatilan hukumnya wajib."
📚 Fathu Dzi al-Jalal wa al-Ikram, 15/332
~~
📍 الرد على الباطل واجب
🔸 قال الشيخ/ ابن عثيمين رحمه الله:
الردّ على الباطل - سواء بدعة قولية أو عقدية أو فعلية -: هو الحق، وتركه هو العيب، وإذا قيل لمن يردّ ذلك: اشتغل بعيبك [عن] عيوب غيرك، قلنا لهم: وهذا من عيبي إن لم أردّ على الباطل؛ لأن الرد على الباطل واجب.
📚 فتح ذي الجلال والإكرام ٣٣٢/١٥
••══ ༻✿༺══ ••
قناة (فوائد العلامة ابن عثيمين)
=====
Sumber: https://t.me/othaymen/618
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
#Manhaj
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata:
"Membantah kebatilan -baik berupa bid'ah ucapan, keyakinan, ataupun amalan- adalah metode yang benar. Adapun meninggalkannya itulah aib yang sesungguhnya.
⚠️ Jika ada yang menyanggah pernyataan tersebut dengan mengatakan, "Sibuklah dengan aibmu sendiri, jangan sibuk dengan aib orang lain!"
Maka kita katakan kepada mereka "Justru termasuk aibku apabila aku tidak membantah kebatilan, karena membantah kebatilan hukumnya wajib."
📚 Fathu Dzi al-Jalal wa al-Ikram, 15/332
📍 الرد على الباطل واجب
🔸 قال الشيخ/ ابن عثيمين رحمه الله:
الردّ على الباطل - سواء بدعة قولية أو عقدية أو فعلية -: هو الحق، وتركه هو العيب، وإذا قيل لمن يردّ ذلك: اشتغل بعيبك [عن] عيوب غيرك، قلنا لهم: وهذا من عيبي إن لم أردّ على الباطل؛ لأن الرد على الباطل واجب.
📚 فتح ذي الجلال والإكرام ٣٣٢/١٥
••══ ༻✿༺══ ••
قناة (فوائد العلامة ابن عثيمين)
=====
Sumber: https://t.me/othaymen/618
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
Telegram
فوائد الشيخ ابن عثيمين
📍 الرد على الباطل هو الحق وتركه هو العيب ..
🔸 الشيخ/ ابن عثيمين رحمه الله
•• ══ ༻✿༺ ══ ••
قناة ( فوائد العلامة ابن عثيمين )
t.me/othaymen
🔸 الشيخ/ ابن عثيمين رحمه الله
•• ══ ༻✿༺ ══ ••
قناة ( فوائد العلامة ابن عثيمين )
t.me/othaymen
👍4