*#IslamIsBeautiful*
Sebagaimana al-Attas, tauhid melahirkan kebebasan, _freedom_ yang lebih bermakna _ikhtiyār,_ memilih yang mengandung _khair_ (kebaikan). Tidak disebut memilih jika tidak ada kebaikan di dalamnya. Mampukah kita memprioritaskan yang terbaik dari yang baik?
https://twitter.com/supraha/status/968313668193669120
Sebagaimana al-Attas, tauhid melahirkan kebebasan, _freedom_ yang lebih bermakna _ikhtiyār,_ memilih yang mengandung _khair_ (kebaikan). Tidak disebut memilih jika tidak ada kebaikan di dalamnya. Mampukah kita memprioritaskan yang terbaik dari yang baik?
https://twitter.com/supraha/status/968313668193669120
Twitter
Dr. Wido Supraha
#IslamIsBeautiful Sebagaimana al-Attas, freedom lebih bermakna ikhtiyār, memilih yang mengandung khair (kebaikan). Tidak disebut memilih jika tidak ada kebaikan di dalamnya. Mampukah kita memprioritaskan yang terbaik dari yang baik?
Wido Supraha
Photo
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
💎 KALAM HASNA 💎
KAJIAN ILMIAH
Tema:
"Metodologi Kembali Kepada Al Qur'an & As Sunnah Komprehensif "
Narasumber:
Ust. DR. H. Wido Supraha
(Komisi Ukhuwah MUI Pusat, Peneliti INSISTS)
Ustadzah Indadari
(Da'iah/Founder Niqob Squad)
Moderator:
Budi Mulyanto, SE.As
(Kadiv Syiar & Dakwah JPRMI DKI, Founder Al Hasna)
📅 : Sabtu, 31 Maret 2018
⏰ : 07.30 s.d 15.00
🕌 : Ruang VIP 34 Masjid Istiqlal Jakarta
Investasi 75K
* Modul
*Lunch
*Snack
*Sertifikat
"Kuota Terbatas"
Pendaftaran
0811 822 0099
Come and join with us!
Organized
🔰ALHASNA
Supported by:
🔰KUI Majelis Ulama Indonesia Pusat
🔰ARMI
🔰 Niqob Squad
Follow
IG : @Alhasna.official
FB : Alhasna Official
#kalamhasna
#alhasna
#Kajianilmiah
💎 KALAM HASNA 💎
KAJIAN ILMIAH
Tema:
"Metodologi Kembali Kepada Al Qur'an & As Sunnah Komprehensif "
Narasumber:
Ust. DR. H. Wido Supraha
(Komisi Ukhuwah MUI Pusat, Peneliti INSISTS)
Ustadzah Indadari
(Da'iah/Founder Niqob Squad)
Moderator:
Budi Mulyanto, SE.As
(Kadiv Syiar & Dakwah JPRMI DKI, Founder Al Hasna)
📅 : Sabtu, 31 Maret 2018
⏰ : 07.30 s.d 15.00
🕌 : Ruang VIP 34 Masjid Istiqlal Jakarta
Investasi 75K
* Modul
*Lunch
*Snack
*Sertifikat
"Kuota Terbatas"
Pendaftaran
0811 822 0099
Come and join with us!
Organized
🔰ALHASNA
Supported by:
🔰KUI Majelis Ulama Indonesia Pusat
🔰ARMI
🔰 Niqob Squad
Follow
IG : @Alhasna.official
FB : Alhasna Official
#kalamhasna
#alhasna
#Kajianilmiah
#IslamIsBeautiful
MENYIKAPI KASUS BERSYA'IR DALAM IBADAH UMROH
Oleh: https://twitter.com/supraha
Islam tidak sekedar mengajarkan halal dan haram, namun ajaran yang tinggi dan mulia ini mengajarkan Adab, mengajarkan kepantasan, mengajarkan etika. Ajaran inilah yang membawa Islam pernah menjadi pemimpin peradaban setelah Yunani Kuno, sebagaimana menegakkan ajaran ini pula yang kelak akan mengembalikan Islam kembali tampil sebagai pemimpin peradaban.
Betapapun ada seorang ulama klasik yang meyakini panjangnya janggut berkorelasi dengan kebodohan, tetap tidak pantas disampaikan oleh pemimpin umat, sehingga merepotkan para ulama sepuh yang harus berjibaku menjawab 'kenakalan ide terlihat baru tapi usang' dengan keyakinan mereka berpegang pada pendapat mayoritas nan jumhur.
Betapapun ada seorang ulama yang mengatakan bahwa ibu Nabi Muhammad ﷺ ada di neraka-Nya, tetap tidak pantas disampaikan pada kalangan awam, sehingga merepotkan ulama sepuh yang kembali harus berjibaku menjawab 'pengetahuan terlihat baru tapi usang' dengan keyakinan ilmiah mereka berpegang pada pendapat mayoritas nan jumhur.
Dalam kasus sya'ir di Sa'i, sepertinya banyak muncul pemuda yang ingin tampil keluar dari mainstream umat, hanya sekedar berpegang pada 'ada kok yang membolehkan' dan lupa bahwa dahulu Syaikh az-Zarnuji mengingatkan adab dalam belajar sehingga mampu meraih keberkahan ilmu.
Keberkahan itu hadir dengan membersamai mayoritas umat. Keberkahan itu hadir dengan melihat tujuan syariat ini adalah persatuan, bukan perpecahan. Keberkahan itu hadir karena para pengamal ilmu melihat dan ingin meraih tujuan besar syariat, bukan sekedar 'aku melakukan karena ada segelintir yang membolehkan'. Jangan lupa juga, keberkahan itu hadir jika tidak terlalu merepotkan ulama sepuh untuk menjawab 'nafsu anak muda yang ingin cari perhatian' di era Zaman Now.
Pemandangan 196 sya'ir dunia dari 196 negara yang bersatu dalam ibadah sa'i tentu bukanlah pemandangan yang etis terlihat. Disana kental nuansa 'kami' daripada 'kita'. Padahal kalimat 'kita', kalimat yang mempersatukan 'kita' adalah kalimat yang membuat kita merasa sejasad, kalimat yang sama, diulang, dikuatkan, hingga bergema, meski dari 196 negara namun cita rasanya sama.
Demikianlah keindahan Islam yang tahu cita rasa kepantasan, kapan harus homogen dan kapan memang harua heterogen.
Salam Ukhuwah,
Wido Supraha
t.me/supraha
MENYIKAPI KASUS BERSYA'IR DALAM IBADAH UMROH
Oleh: https://twitter.com/supraha
Islam tidak sekedar mengajarkan halal dan haram, namun ajaran yang tinggi dan mulia ini mengajarkan Adab, mengajarkan kepantasan, mengajarkan etika. Ajaran inilah yang membawa Islam pernah menjadi pemimpin peradaban setelah Yunani Kuno, sebagaimana menegakkan ajaran ini pula yang kelak akan mengembalikan Islam kembali tampil sebagai pemimpin peradaban.
Betapapun ada seorang ulama klasik yang meyakini panjangnya janggut berkorelasi dengan kebodohan, tetap tidak pantas disampaikan oleh pemimpin umat, sehingga merepotkan para ulama sepuh yang harus berjibaku menjawab 'kenakalan ide terlihat baru tapi usang' dengan keyakinan mereka berpegang pada pendapat mayoritas nan jumhur.
Betapapun ada seorang ulama yang mengatakan bahwa ibu Nabi Muhammad ﷺ ada di neraka-Nya, tetap tidak pantas disampaikan pada kalangan awam, sehingga merepotkan ulama sepuh yang kembali harus berjibaku menjawab 'pengetahuan terlihat baru tapi usang' dengan keyakinan ilmiah mereka berpegang pada pendapat mayoritas nan jumhur.
Dalam kasus sya'ir di Sa'i, sepertinya banyak muncul pemuda yang ingin tampil keluar dari mainstream umat, hanya sekedar berpegang pada 'ada kok yang membolehkan' dan lupa bahwa dahulu Syaikh az-Zarnuji mengingatkan adab dalam belajar sehingga mampu meraih keberkahan ilmu.
Keberkahan itu hadir dengan membersamai mayoritas umat. Keberkahan itu hadir dengan melihat tujuan syariat ini adalah persatuan, bukan perpecahan. Keberkahan itu hadir karena para pengamal ilmu melihat dan ingin meraih tujuan besar syariat, bukan sekedar 'aku melakukan karena ada segelintir yang membolehkan'. Jangan lupa juga, keberkahan itu hadir jika tidak terlalu merepotkan ulama sepuh untuk menjawab 'nafsu anak muda yang ingin cari perhatian' di era Zaman Now.
Pemandangan 196 sya'ir dunia dari 196 negara yang bersatu dalam ibadah sa'i tentu bukanlah pemandangan yang etis terlihat. Disana kental nuansa 'kami' daripada 'kita'. Padahal kalimat 'kita', kalimat yang mempersatukan 'kita' adalah kalimat yang membuat kita merasa sejasad, kalimat yang sama, diulang, dikuatkan, hingga bergema, meski dari 196 negara namun cita rasanya sama.
Demikianlah keindahan Islam yang tahu cita rasa kepantasan, kapan harus homogen dan kapan memang harua heterogen.
Salam Ukhuwah,
Wido Supraha
t.me/supraha
_EDISI JUM'AT MUBARAKAH_
📚 *JANGAN MENGELUH*
Oleh: https://twitter.com/supraha
♦ Kita sering mengeluh karena banyak masalah, tapi kita lupa, banyak yang telah *Ar-Rahmān* selalu berikan tanpa kita minta hingga hari ini, seperti normal dan sehatnya 👃, 👂, ✋
♦ Kita sering mengeluh dengan kehidupan kita hari ini, padahal boleh jadi banyak orang lain yang menginginkan seperti kehidupan kita
♦ Kita sering mengeluh, karena kita tidak sibuk berpikir bagaimana memperbaiki diri
♦ Kita sering mengeluh, padahal mengeluh tidak melahirkan jawaban, malah menurunkan kemuliaan di hadapan manusia
♦ Kita sering mengeluh, karena lupa bahwa musibah dan cobaan sejatinya cara *Ar-Rahmān* menghendaki kebaikan dan kekuatan baru bagi kita
♦ Kita sering mengeluh, karena kita lupa akan indahnya janji Allah pada akhirnya
♦ Kita sering mengeluh, padahal rumput tidak pernah mengeluh ketika diinjak, selalu berusaha bangkit, dan baru menyerah saat dicabut
♦ Kita sering mengeluh, padahal menyadari kekurangan akan melecut diri mengejar kebaikan
♦ Kita sering mengeluh, padahal *Ar-Rahmān* sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita
💫 Mari belajar kepada sungai yang terus mengalir tanpa mengeluh, kepada burung yang terus mencari rizki pagi dan siang tanpa mengeluh, kepada matahari yang terus bersinar tanpa dibayar, karena mereka yakin betul dengan kebersamaan Allāh sebagaimana surat Az-Zumār [39] ayat 10:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
_“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”_
Channel Kajian: t.me/supraha
📚 *JANGAN MENGELUH*
Oleh: https://twitter.com/supraha
♦ Kita sering mengeluh karena banyak masalah, tapi kita lupa, banyak yang telah *Ar-Rahmān* selalu berikan tanpa kita minta hingga hari ini, seperti normal dan sehatnya 👃, 👂, ✋
♦ Kita sering mengeluh dengan kehidupan kita hari ini, padahal boleh jadi banyak orang lain yang menginginkan seperti kehidupan kita
♦ Kita sering mengeluh, karena kita tidak sibuk berpikir bagaimana memperbaiki diri
♦ Kita sering mengeluh, padahal mengeluh tidak melahirkan jawaban, malah menurunkan kemuliaan di hadapan manusia
♦ Kita sering mengeluh, karena lupa bahwa musibah dan cobaan sejatinya cara *Ar-Rahmān* menghendaki kebaikan dan kekuatan baru bagi kita
♦ Kita sering mengeluh, karena kita lupa akan indahnya janji Allah pada akhirnya
♦ Kita sering mengeluh, padahal rumput tidak pernah mengeluh ketika diinjak, selalu berusaha bangkit, dan baru menyerah saat dicabut
♦ Kita sering mengeluh, padahal menyadari kekurangan akan melecut diri mengejar kebaikan
♦ Kita sering mengeluh, padahal *Ar-Rahmān* sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita
💫 Mari belajar kepada sungai yang terus mengalir tanpa mengeluh, kepada burung yang terus mencari rizki pagi dan siang tanpa mengeluh, kepada matahari yang terus bersinar tanpa dibayar, karena mereka yakin betul dengan kebersamaan Allāh sebagaimana surat Az-Zumār [39] ayat 10:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
_“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”_
Channel Kajian: t.me/supraha
Fatwa_MUI_No_24_Tahun_2017_Tentang.pdf
660.1 KB
Fatwa MUI No.24 Tahun 2017 Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial.pdf
#Islamphobia
*MASIH BANYAK KAMPUS SELAIN UIN SUKA*
Oleh: https://twitter.com/supraha
Jika di kampus syari'ah tidak lagi dapat diharapkan kebebasan ilmiah, masih ada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pimpinan Sutrisno Wibowo, yang punya konsep memfasilitas setiap perbedaan dalam warga bangsa. [1]
Jika di kampus syari'ah tidak lagi dapat menghormati perbedaan penafsiran teks agama di atas diskursus ulama yang otoritatif, masih ada Universitas Islam Indonesia (UII) Yogya pimpinan Nandang Sutrisno, yang punya konsep radikalisme pun bisa terjadi pada yang tidak berhijab, dan menghadirkan fakta bahwa salah satu lulusan terbaik UII Yogya yang mendapatkan pin emas pun bercadar, sebagaimana lulusan Kedokteran Bantul yang sangat berprestasi dan melayani di masyarakatnya pun bercadar. [2]
Jika di kampus syari'ah masih lebih mementingkan pemaksaan pendapat tafsir daripada profesionalisme akademik mahasiswa, masih ada Universitas Gajah Mada (UGM) pimpinan Panut Mulyono, yang menghormati pilihan berpakaian seseorang. [3]
Jika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogya pimpinan Kasiyarno berencana ikut-ikutan jejak UIN SUKA karena dianggap tidak sesuai dengan nilai ke-Muhammadiyah-an, maka apalah arti sebuah kampus jika tidak memahami komprehensifitas dalam menghidupkan ajaran Islam. Sementara pimpinan MUI Pusat dari unsur Muhammadiyah, Prof. Dr. Anwar Abbas, menganggap hal itu tidak bertentangan dengan hukum. [4]
Sebuah kemunduran dalam cara ber-Islam di Zaman Now, ketika konsentrasi lebih berfokus pada yang telah mengenakan jilbab daripada membina yang belum mendapatkan hidayah untuk menutupi auratnya, ketika nasihat Ketua MUI Pusat pun tidak lagi menjadi makna,[5] kecuali kampus telah menjadi pusat industri daripada pusat persemaian adab manusia, generasi NKRI.
t.me/supraha
Referensi:
1] https://news.detik.com/jawatengah/3901348/tak-buat-aturan-khusus-soal-cadar-begini-penjelasan-rektor-uny
2] https://news.detik.com/jawatengah/3901064/yakin-hanya-soal-beda-tafsir-uii-yogya-tak-larang-mahasiswi-bercadar
3] https://news.detik.com/jawatengah/3900481/kata-rektor-ugm-tentang-mahasiswinya-yang-bercadar
4] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/03/05/p546at396-ini-tanggapan-mui-soal-pelarangan-cadar-di-uin-jogja
5] https://news.detik.com/berita/3901563/ketum-mui-di-islam-boleh-mengapa-uin-larang-mahasiswi-bercadar
*MASIH BANYAK KAMPUS SELAIN UIN SUKA*
Oleh: https://twitter.com/supraha
Jika di kampus syari'ah tidak lagi dapat diharapkan kebebasan ilmiah, masih ada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pimpinan Sutrisno Wibowo, yang punya konsep memfasilitas setiap perbedaan dalam warga bangsa. [1]
Jika di kampus syari'ah tidak lagi dapat menghormati perbedaan penafsiran teks agama di atas diskursus ulama yang otoritatif, masih ada Universitas Islam Indonesia (UII) Yogya pimpinan Nandang Sutrisno, yang punya konsep radikalisme pun bisa terjadi pada yang tidak berhijab, dan menghadirkan fakta bahwa salah satu lulusan terbaik UII Yogya yang mendapatkan pin emas pun bercadar, sebagaimana lulusan Kedokteran Bantul yang sangat berprestasi dan melayani di masyarakatnya pun bercadar. [2]
Jika di kampus syari'ah masih lebih mementingkan pemaksaan pendapat tafsir daripada profesionalisme akademik mahasiswa, masih ada Universitas Gajah Mada (UGM) pimpinan Panut Mulyono, yang menghormati pilihan berpakaian seseorang. [3]
Jika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogya pimpinan Kasiyarno berencana ikut-ikutan jejak UIN SUKA karena dianggap tidak sesuai dengan nilai ke-Muhammadiyah-an, maka apalah arti sebuah kampus jika tidak memahami komprehensifitas dalam menghidupkan ajaran Islam. Sementara pimpinan MUI Pusat dari unsur Muhammadiyah, Prof. Dr. Anwar Abbas, menganggap hal itu tidak bertentangan dengan hukum. [4]
Sebuah kemunduran dalam cara ber-Islam di Zaman Now, ketika konsentrasi lebih berfokus pada yang telah mengenakan jilbab daripada membina yang belum mendapatkan hidayah untuk menutupi auratnya, ketika nasihat Ketua MUI Pusat pun tidak lagi menjadi makna,[5] kecuali kampus telah menjadi pusat industri daripada pusat persemaian adab manusia, generasi NKRI.
t.me/supraha
Referensi:
1] https://news.detik.com/jawatengah/3901348/tak-buat-aturan-khusus-soal-cadar-begini-penjelasan-rektor-uny
2] https://news.detik.com/jawatengah/3901064/yakin-hanya-soal-beda-tafsir-uii-yogya-tak-larang-mahasiswi-bercadar
3] https://news.detik.com/jawatengah/3900481/kata-rektor-ugm-tentang-mahasiswinya-yang-bercadar
4] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/03/05/p546at396-ini-tanggapan-mui-soal-pelarangan-cadar-di-uin-jogja
5] https://news.detik.com/berita/3901563/ketum-mui-di-islam-boleh-mengapa-uin-larang-mahasiswi-bercadar
sosialisasi fatwa medsos
4.1 MB
Sosialisasi Fatwa MUI tentang Hukum Muamalah melalui Medsos
http://mui.or.id/id/berita/sikapi-pelarangan-cadar-begini-respons-mui/
Berikut ini sikap resmi kami di MUI, terkait Cadar.
Berikut ini sikap resmi kami di MUI, terkait Cadar.
Majelis Ulama Indonesia
Sikapi Pelarangan Cadar, Begini Respons MUI
Carilah satu alasan saja, mengapa Anda harus mencintai pasangan hidup Anda. Jika tidak, telah tersedia 1000 alasan untuk tidak mencintainya, tanpa perlu dicari.
twitter.com/supraha
twitter.com/supraha
📖 *Fanatisme kita hanya pada Islam, Iman dan Ihsan* 📖
Inspirasi Pelajaran dari Perang Uhud di bulan Syawwal 3H
*Saudaraku!*
Bila fanatisme kesukuan itu tujuan berislam, tentulah sahabat Anshar menerima rayuan Abu Sufyan bin Harb melalui suratnya yang berbunyi: _"Biarkanlah urusan kami dengan anak paman kami, dan setelah itu kami akan pulang tanpa mengusik kalian, karena tidak ada gunanya memerangi kalian."_
Bila fanatisme kabilah itu tujuan berislam, tentulah sahabat dari 'Aus menerima ajakan Abd Amir bin Shaify, ayahnya Hanzhalah r.a., dan tidak menjawab dengan kalimat: _"Allah tidak akan memberikan kesenangan kepadamu, wahai Si Fasik."_
Bila fanatisme kelompok itu tujuan berislam, tentulah sahabat dari Muhajirin tidak siap bersatu padu melahirkan kekuatan besar yang satu, bersama kelompok 'Aus dan Khazraj.
*Saudaraku !*
Islam itu mensinergikan kesukuan dalam ikatan Islam, bukan melepaskannya dalam ikatan kemunafikan.
Islam itu menyatukan kabilah dalam ikatan Iman, bukan memecahnya dalam ikatan dunia.
Islam itu memadukan kelompok dalam ikatan Ihsan, bukan mencerai-beraikannya dalam ikatan nafsu.
☕ Silahkan disebarkan, semoga sahabat mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
_Bārakallāh fīkum._
✒ Ditulis oleh Dr. Wido Supraha (Komisi Ukhuwah MUI Pusat)
_Ikuti kajian rutin Sirah Nabawiyah setiap hari Selasa, ba'da Zhuhur, pekan ke-2, di Masjid Sekretariat Wakil Presiden RI._
***
Inspirasi Pelajaran dari Perang Uhud di bulan Syawwal 3H
*Saudaraku!*
Bila fanatisme kesukuan itu tujuan berislam, tentulah sahabat Anshar menerima rayuan Abu Sufyan bin Harb melalui suratnya yang berbunyi: _"Biarkanlah urusan kami dengan anak paman kami, dan setelah itu kami akan pulang tanpa mengusik kalian, karena tidak ada gunanya memerangi kalian."_
Bila fanatisme kabilah itu tujuan berislam, tentulah sahabat dari 'Aus menerima ajakan Abd Amir bin Shaify, ayahnya Hanzhalah r.a., dan tidak menjawab dengan kalimat: _"Allah tidak akan memberikan kesenangan kepadamu, wahai Si Fasik."_
Bila fanatisme kelompok itu tujuan berislam, tentulah sahabat dari Muhajirin tidak siap bersatu padu melahirkan kekuatan besar yang satu, bersama kelompok 'Aus dan Khazraj.
*Saudaraku !*
Islam itu mensinergikan kesukuan dalam ikatan Islam, bukan melepaskannya dalam ikatan kemunafikan.
Islam itu menyatukan kabilah dalam ikatan Iman, bukan memecahnya dalam ikatan dunia.
Islam itu memadukan kelompok dalam ikatan Ihsan, bukan mencerai-beraikannya dalam ikatan nafsu.
☕ Silahkan disebarkan, semoga sahabat mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
_Bārakallāh fīkum._
✒ Ditulis oleh Dr. Wido Supraha (Komisi Ukhuwah MUI Pusat)
_Ikuti kajian rutin Sirah Nabawiyah setiap hari Selasa, ba'da Zhuhur, pekan ke-2, di Masjid Sekretariat Wakil Presiden RI._
***