Perluas wawasan kita. Buka pikiran kita. Kalau binatang saja dijamin rezekinya, apalagi manusia, apalagi orang beriman! Padahal binatang nggak pernah sekolah, nggak pernah kuliah! Hehehe.
Kebanyakan kita, punya uang dulu, baru yakin. Nggak punya uang, nggak yakin. Ngawur itu. Makanya selalu keteteran uang. Nggak datang-datang uangnya, hehe. Lha, harusnya? Yah, yakin dulu. Sekali lagi, yakin dulu.
Terkait pemafkahan, bukan rezeki yang kurang. Mungkin keyakinan dan ikhtiar yang kurang. Akhirnya uang yang disalahkan dan dipermasalahkan. Ini menyesatkan.
Nah, yang tadi itu soal rezeki. Sekarang soal impian. Percayalah, nggak ada impian yang terlalu besar bagi-Nya. Beneran, nggak ada. Lebih baik perbesar saja keyakinan kita, ikhtiar kita, dan amal kita. Iringi pula impian yang besar itu dengan tawakal yang besar.
Belakangan ini saya sering diundang oleh sejumlah kementerian. Saya pun diminta bicara soal akselerasi dalam organisasi. Di hadapan peserta saya sampaikan, itu bukanlah impian yang muluk-muluk. Sebaliknya, itu mungkin saja terjadi. Sangat mungkin.
Selain itu, terkait mengikhtiarkan impian, ingatlah pesan ini: Jaga impianmu, jangan biarkan layu. Perjuangkan impianmu, jangan pernah jemu. Tabur, rawat, tuai. Sebaiknya, itulah sikap pamungkas kita terhadap mengikhtiarkan impian.
Dan tak usah risih kalau impianmu berbeda dengan orang lain atau tidak dianggap sama orang lain. Yang penting, dirimu bahagia, keluargamu bahagia, dan Tuhan-mu ridha. Cukup. Iya tho? Membanding-bandingkan impian, hanya akan mengurangi bahagiamu.
Terakhir, sebesar-besarnya impianmu, setinggi-tingginya impianmu, bawalah 'serendah-rendahnya' dalam sujud. Syukur-syukur dalam tahajud. Insya Allah terwujud, membuatmu terkejut. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin memenangkan buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' silakan komen di sini >> http://bit.ly/KerjaIbadah
Kapan lagi dapat buku gratis?
Kebanyakan kita, punya uang dulu, baru yakin. Nggak punya uang, nggak yakin. Ngawur itu. Makanya selalu keteteran uang. Nggak datang-datang uangnya, hehe. Lha, harusnya? Yah, yakin dulu. Sekali lagi, yakin dulu.
Terkait pemafkahan, bukan rezeki yang kurang. Mungkin keyakinan dan ikhtiar yang kurang. Akhirnya uang yang disalahkan dan dipermasalahkan. Ini menyesatkan.
Nah, yang tadi itu soal rezeki. Sekarang soal impian. Percayalah, nggak ada impian yang terlalu besar bagi-Nya. Beneran, nggak ada. Lebih baik perbesar saja keyakinan kita, ikhtiar kita, dan amal kita. Iringi pula impian yang besar itu dengan tawakal yang besar.
Belakangan ini saya sering diundang oleh sejumlah kementerian. Saya pun diminta bicara soal akselerasi dalam organisasi. Di hadapan peserta saya sampaikan, itu bukanlah impian yang muluk-muluk. Sebaliknya, itu mungkin saja terjadi. Sangat mungkin.
Selain itu, terkait mengikhtiarkan impian, ingatlah pesan ini: Jaga impianmu, jangan biarkan layu. Perjuangkan impianmu, jangan pernah jemu. Tabur, rawat, tuai. Sebaiknya, itulah sikap pamungkas kita terhadap mengikhtiarkan impian.
Dan tak usah risih kalau impianmu berbeda dengan orang lain atau tidak dianggap sama orang lain. Yang penting, dirimu bahagia, keluargamu bahagia, dan Tuhan-mu ridha. Cukup. Iya tho? Membanding-bandingkan impian, hanya akan mengurangi bahagiamu.
Terakhir, sebesar-besarnya impianmu, setinggi-tingginya impianmu, bawalah 'serendah-rendahnya' dalam sujud. Syukur-syukur dalam tahajud. Insya Allah terwujud, membuatmu terkejut. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin memenangkan buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' silakan komen di sini >> http://bit.ly/KerjaIbadah
Kapan lagi dapat buku gratis?
Pernah bertemu ibu saya?
Saat ini ibu saya sudah berusia 70-an tahun. Tapi alhamdulillah, rambutnya masih hitam, giginya masih utuh, dan bisa membaca tanpa kacamata. Snorkeling dan aerobic pun masih sanggup. Bareng saya, pernah melihat monyet berendam air panas di puncak Nagano Jepang. Saat itu musim salju, jalanan mendaki pula sekitar 45 menit.
Awet? Mungkin bisa dibilang begitu. Apa rahasianya? Entahlah. Satu hal yang pasti, saya dan ibu saya terbiasa bangun sebelum subuh. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time. Istilah golden time ini sering dipakai di mana-mana sejak 5 tahun terakhir. Alhamdulillah, itu artinya gagasan saya tentang bangun awal diterima oleh khalayak.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya. Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan segala proses. Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Setelah 21 hari praktek, Anda akan merasakan bedanya. Agar lebih jelas, simak saja video tips dari saya. Tak sampai satu menit, tapi penting banget >> https://www.youtube.com/watch?v=3TfY3vnRRwY
Saat ini ibu saya sudah berusia 70-an tahun. Tapi alhamdulillah, rambutnya masih hitam, giginya masih utuh, dan bisa membaca tanpa kacamata. Snorkeling dan aerobic pun masih sanggup. Bareng saya, pernah melihat monyet berendam air panas di puncak Nagano Jepang. Saat itu musim salju, jalanan mendaki pula sekitar 45 menit.
Awet? Mungkin bisa dibilang begitu. Apa rahasianya? Entahlah. Satu hal yang pasti, saya dan ibu saya terbiasa bangun sebelum subuh. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time. Istilah golden time ini sering dipakai di mana-mana sejak 5 tahun terakhir. Alhamdulillah, itu artinya gagasan saya tentang bangun awal diterima oleh khalayak.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya. Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan segala proses. Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Setelah 21 hari praktek, Anda akan merasakan bedanya. Agar lebih jelas, simak saja video tips dari saya. Tak sampai satu menit, tapi penting banget >> https://www.youtube.com/watch?v=3TfY3vnRRwY
Kadang demi dapat kerja atau buka usaha, kita mesti merantau. Hijrah. Baguskah itu?
Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.
Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif. Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir di Bethlehem, Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah ke Mesir.
Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya. Ayo hijrah! Ayo merantau!
Gimana dengan saya? Alhamdulillah saya dilahirkan di Pekanbaru, kemudian saya merantau ke Batam, Jogjakarta, dan Malaysia. Kini saya bersama istri (orang Kalimantan) dan ibu menetap di Jakarta. Bagaimana dengan Anda?
Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.
Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif. Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir di Bethlehem, Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah ke Mesir.
Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya. Ayo hijrah! Ayo merantau!
Gimana dengan saya? Alhamdulillah saya dilahirkan di Pekanbaru, kemudian saya merantau ke Batam, Jogjakarta, dan Malaysia. Kini saya bersama istri (orang Kalimantan) dan ibu menetap di Jakarta. Bagaimana dengan Anda?
Dunia sempat terhenyak ketika terdengar kabar pemerintah Turki dikudeta oleh segelintir oknum militer. Dan dunia menarik nafas lega lantaran kudeta tersebut berhasil dilumpuhkan dalam waktu sekian jam. Cepat sekali. Kita sama-sama mengetahui bahwa kudeta alias coup d'État terhadap pemerintah yang sah adalah perbuatan yang sangat zalim.
Anehnya Muslim-Muslim liberal menjadikan kudeta ini sebagai bahan olok-olok. Mereka seolah-olah senang ketika kudeta itu terjadi. Bukannya prihatin, boro-boro kuatir. Sebagian lagi menyebut-nyebut dan mengidentikkan Islam dengan kekerasan. Kudeta. Terorisme. Peperangan. Adalah benar Muslim pernah terlibat dalam sejumlah peperangan. Namun mengidentikkan Muslim dengan kekerasan adalah kesimpulan yang terburu-buru dan jelas-jelas keliru.
Terlepas dari itu, adakah syariat perang dalam Islam? Jelas, ada. Namun itu terjadi ketika muslim diserang atau dijajah. Dan ini merupakan pilihan terakhir. Lihatlah bagaimana pahlawan Indonesia terpaksa berperang pada masa penjajahan dulu. Lihat pula bagaimana Nabi Muhammad dan sahabat terpaksa angkat senjata pada saat Madinah diserang dulu. Untuk kondisi-kondisi seperti ini, berdiam diri adalah pilihan yang keliru. Share isi tulisan ini kalau Anda setuju.
Jarang orang tahu, terdapat sederet etika dalam perang menurut Islam. Tidak boleh menyerang musuh yang sudah menyerah. Tidak boleh menyerang anak kecil, wanita, orangtua, dan pemuka agama manapun. Tidak boleh memusnahkan tanaman, hewan, dan rumah ibadah manapun. Perlakukan tawanan dengan baik. Patuhi perjanjian dengan baik. Dan masih banyak lagi.
Setiap kejadian tentu menyimpan hikmah, termasuk perang-perang yang terpaksa dialami oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat. Apa saja hikmahnya?
Mari kita lihat Perang Fijar yang merupakan perang pertama yang dialami seorang Muhammad. Ini terjadi menjelang dirinya berusia 20 tahun dan belum diangkat menjadi nabi. Setidaknya, perang ini mengajarkan kita untuk siap bersaing walaupun masih sangat muda (Competitive Although Young) dan berani memutuskan walaupun keadaan tidak ideal (Decisive Although Unideal).
Perang Badar dan Perang Uhud adalah dua perang yang paling populer. Kemenangan Perang Badar mengajarkan kita untuk merasakan kehadiran dan pertolongan Allah dalam bertindak (The Existence of Allah). Walaupun pasukan minim dari segi jumlah dan pengalaman, namun itu tidak menjadi penghalang sama sekali dalam meraih kemenangan. Asalkan yakin. Asalkan sungguh-sungguh.
Menariknya, kekalahan Perang Uhud mengajarkan kita bahwa taat kepada Allah saja tidak cukup, hendaknya juga taat kepada Rasul (The Existence of Rasul). Bukankah itu esensi dari dua kalimat syahadat, Allah dan Rasul? Selain itu, kalau di Perang Badar Allah menurunkan keajaiban, maka di Perang Uhud Allah menetapkan sunatullah. Siapapun maklum bahwa ketidaktaatan, ketidakkompakan, dan ketidakwaspadaan akan berujung pada kekalahan. Itulah sunatullah dan itu pula yang Allah tunjukkan melalui Perang Uhud.
Tidak ada kejadian yang sia-sia. Selalu tersimpan hikmah dari setiap kejadian. Entah itu pada perang maupun pada kudeta. Kejadian di Turki, misalnya. Dari kudeta ini dapat diketahui secara pasti siapa saja oknum militer yang menjadi musuh dalam selimut selama ini. Dari kudeta ini juga dapat diketahui bahwa mayoritas warga Turki membela Erdogan dan menentang kudeta, di mana ini terlihat dari gelombang massa di jalanan membela pemerintahan yang sah.
Kita doakan semoga Turki, Prancis, dan negeri-negeri lainnya selalu damai. Sembari kita syukuri betapa damainya Tanah Air kita, Indonesia tercinta. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anehnya Muslim-Muslim liberal menjadikan kudeta ini sebagai bahan olok-olok. Mereka seolah-olah senang ketika kudeta itu terjadi. Bukannya prihatin, boro-boro kuatir. Sebagian lagi menyebut-nyebut dan mengidentikkan Islam dengan kekerasan. Kudeta. Terorisme. Peperangan. Adalah benar Muslim pernah terlibat dalam sejumlah peperangan. Namun mengidentikkan Muslim dengan kekerasan adalah kesimpulan yang terburu-buru dan jelas-jelas keliru.
Terlepas dari itu, adakah syariat perang dalam Islam? Jelas, ada. Namun itu terjadi ketika muslim diserang atau dijajah. Dan ini merupakan pilihan terakhir. Lihatlah bagaimana pahlawan Indonesia terpaksa berperang pada masa penjajahan dulu. Lihat pula bagaimana Nabi Muhammad dan sahabat terpaksa angkat senjata pada saat Madinah diserang dulu. Untuk kondisi-kondisi seperti ini, berdiam diri adalah pilihan yang keliru. Share isi tulisan ini kalau Anda setuju.
Jarang orang tahu, terdapat sederet etika dalam perang menurut Islam. Tidak boleh menyerang musuh yang sudah menyerah. Tidak boleh menyerang anak kecil, wanita, orangtua, dan pemuka agama manapun. Tidak boleh memusnahkan tanaman, hewan, dan rumah ibadah manapun. Perlakukan tawanan dengan baik. Patuhi perjanjian dengan baik. Dan masih banyak lagi.
Setiap kejadian tentu menyimpan hikmah, termasuk perang-perang yang terpaksa dialami oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat. Apa saja hikmahnya?
Mari kita lihat Perang Fijar yang merupakan perang pertama yang dialami seorang Muhammad. Ini terjadi menjelang dirinya berusia 20 tahun dan belum diangkat menjadi nabi. Setidaknya, perang ini mengajarkan kita untuk siap bersaing walaupun masih sangat muda (Competitive Although Young) dan berani memutuskan walaupun keadaan tidak ideal (Decisive Although Unideal).
Perang Badar dan Perang Uhud adalah dua perang yang paling populer. Kemenangan Perang Badar mengajarkan kita untuk merasakan kehadiran dan pertolongan Allah dalam bertindak (The Existence of Allah). Walaupun pasukan minim dari segi jumlah dan pengalaman, namun itu tidak menjadi penghalang sama sekali dalam meraih kemenangan. Asalkan yakin. Asalkan sungguh-sungguh.
Menariknya, kekalahan Perang Uhud mengajarkan kita bahwa taat kepada Allah saja tidak cukup, hendaknya juga taat kepada Rasul (The Existence of Rasul). Bukankah itu esensi dari dua kalimat syahadat, Allah dan Rasul? Selain itu, kalau di Perang Badar Allah menurunkan keajaiban, maka di Perang Uhud Allah menetapkan sunatullah. Siapapun maklum bahwa ketidaktaatan, ketidakkompakan, dan ketidakwaspadaan akan berujung pada kekalahan. Itulah sunatullah dan itu pula yang Allah tunjukkan melalui Perang Uhud.
Tidak ada kejadian yang sia-sia. Selalu tersimpan hikmah dari setiap kejadian. Entah itu pada perang maupun pada kudeta. Kejadian di Turki, misalnya. Dari kudeta ini dapat diketahui secara pasti siapa saja oknum militer yang menjadi musuh dalam selimut selama ini. Dari kudeta ini juga dapat diketahui bahwa mayoritas warga Turki membela Erdogan dan menentang kudeta, di mana ini terlihat dari gelombang massa di jalanan membela pemerintahan yang sah.
Kita doakan semoga Turki, Prancis, dan negeri-negeri lainnya selalu damai. Sembari kita syukuri betapa damainya Tanah Air kita, Indonesia tercinta. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Perlakukan dirimu sebagai VIP.
Kenapa? Karena Anda itu…
- Sangat penting, tak tergantikan.
- Sangat spesial, satu-satunya.
Saya ulang, perlakukan diri kita sebagai VIP. Dan rutinkan. Ajaibnya, pelan-pelan dunia akan memperlakukan diri kita benar-benar sebagai VIP. Inilah yang dianjurkan dan diajarkan oleh Harv Eker, salah satu guru kekayaan dunia. Alhamdulillah, saya sempat lunch bareng Harv Eker di Australia.
Lihatlah di sekitar kita, betapa banyak orang yang memilih untuk duduk di bagian paling belakang karena menurutnya dia hanya layak memperoleh itu. Di forum-forum begitu. Di rumah ibadah juga begitu. Akhirnya dunia, setidaknya orang-orang di sekitarnya, menganggap dirinya memang layak di situ.
Memperlakukan diri sebagai VIP adalah bagian dari mental kaya. Karena Anda dan impian Anda begitu besar. Sebesar apa? Yah, melebihi diri Anda, melebihi kepentingan Anda. Richard Branson melakukannya. Nick Vujicik juga melakukannya. Tentang ini, telah kami bahas berkali-kali di seminar-seminar terdahulu. Paragraf terakhir mungkin sulit Anda mengerti. Tak mengapa. Mudah-mudahan kelak Anda akan memahami apa intinya dan apa dampaknya.
Kenapa? Karena Anda itu…
- Sangat penting, tak tergantikan.
- Sangat spesial, satu-satunya.
Saya ulang, perlakukan diri kita sebagai VIP. Dan rutinkan. Ajaibnya, pelan-pelan dunia akan memperlakukan diri kita benar-benar sebagai VIP. Inilah yang dianjurkan dan diajarkan oleh Harv Eker, salah satu guru kekayaan dunia. Alhamdulillah, saya sempat lunch bareng Harv Eker di Australia.
Lihatlah di sekitar kita, betapa banyak orang yang memilih untuk duduk di bagian paling belakang karena menurutnya dia hanya layak memperoleh itu. Di forum-forum begitu. Di rumah ibadah juga begitu. Akhirnya dunia, setidaknya orang-orang di sekitarnya, menganggap dirinya memang layak di situ.
Memperlakukan diri sebagai VIP adalah bagian dari mental kaya. Karena Anda dan impian Anda begitu besar. Sebesar apa? Yah, melebihi diri Anda, melebihi kepentingan Anda. Richard Branson melakukannya. Nick Vujicik juga melakukannya. Tentang ini, telah kami bahas berkali-kali di seminar-seminar terdahulu. Paragraf terakhir mungkin sulit Anda mengerti. Tak mengapa. Mudah-mudahan kelak Anda akan memahami apa intinya dan apa dampaknya.
"Enakan ngantor apa libur?”
“Enakan gawe apa nyante?"
Di in-house seminar saya sering tanya-tanya begitu. Dan serta-merta mereka menjawab, "Libuuuuur." Namun ketika ditanya benar-benar, akhirnya mereka mengakui ternyata bekerja itu lebih nikmat. Catat itu, bekerja itu lebih nikmat.
Sekiranya Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga?" Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi, hehehe. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Bekerja. Berjuang.
Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai. Bekerja. Berjuang.
Terakhir, dalam bekerja, ada baiknya kita menyimak petunjuk-petunjuk rezeki. Ternyata petunjuk-petunjuk itu ada, namun sayangnya sering tercecer selama ini » bit.ly/PetunjukRezeki
“Enakan gawe apa nyante?"
Di in-house seminar saya sering tanya-tanya begitu. Dan serta-merta mereka menjawab, "Libuuuuur." Namun ketika ditanya benar-benar, akhirnya mereka mengakui ternyata bekerja itu lebih nikmat. Catat itu, bekerja itu lebih nikmat.
Sekiranya Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga?" Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi, hehehe. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Bekerja. Berjuang.
Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai. Bekerja. Berjuang.
Terakhir, dalam bekerja, ada baiknya kita menyimak petunjuk-petunjuk rezeki. Ternyata petunjuk-petunjuk itu ada, namun sayangnya sering tercecer selama ini » bit.ly/PetunjukRezeki
Selama berabad-abad manusia berjuang akan dua hal, yaitu kemakmuran dan kebahagiaan. Sayangnya, apa yang terjadi kemudian, sebagian besar manusia tidak mendapatkan kedua-duanya. Apalagi menurut penelitian Carnegie Mellon University, sejak 1983 hingga 2009 tingkat stress meningkat dari waktu ke waktu, 18% sampai 24%. Alih-alih bahagia yang bertambah, malah stress yang bertambah. Ini parah!
Yang sebenarnya:
- Target boleh bertambah, namun stress jangan sampai bertambah.
- Impian boleh membesar, namun resah dan gelisah jangan sampai membesar.
Bahkan di antara mereka ada yang mengalami gangguan jiwa. Beneran ada. Tidak mengada-ngada. Karena menurut mendiang Ann Landers, “1 dari 4 orang di dunia ini (dalam takaran tertentu) mengalami gangguan jiwa. Nah, apabila 3 orang yang Anda kenal baik-baik saja, berarti Anda-lah yang mengalami gangguan jiwa.” Hehehe, ini sih parah!
Kembali soal kebahagiaan. Benarkah jabatan, kekayaan, dan ketenaran bisa menjamin kebahagiaan? Mungkinkah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa? Simak cara-caranya » http://bit.ly/BAHAGIA
Yang sebenarnya:
- Target boleh bertambah, namun stress jangan sampai bertambah.
- Impian boleh membesar, namun resah dan gelisah jangan sampai membesar.
Bahkan di antara mereka ada yang mengalami gangguan jiwa. Beneran ada. Tidak mengada-ngada. Karena menurut mendiang Ann Landers, “1 dari 4 orang di dunia ini (dalam takaran tertentu) mengalami gangguan jiwa. Nah, apabila 3 orang yang Anda kenal baik-baik saja, berarti Anda-lah yang mengalami gangguan jiwa.” Hehehe, ini sih parah!
Kembali soal kebahagiaan. Benarkah jabatan, kekayaan, dan ketenaran bisa menjamin kebahagiaan? Mungkinkah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa? Simak cara-caranya » http://bit.ly/BAHAGIA
Negara mana yang paling berbahagia?
Survei World Happiness Report baru saja melaporkan dan ternyata Denmark berada di peringkat pertama sebagai negara paling berbahagia di dunia. Sementara, Burundi, berada di posisi paling buncit.
Laporan itu juga memuat negara yang memiliki kesenjangan sosial yang lebih sedikit ternyata warganya hidup jauh lebih bahagia. Swiss, Islandia, Norwegia dan Finlandia, seperti Denmark adalah negara-negara yang paling baik dalam jaminan keamanan sosialnya. Mereka adalah lima besar sebagai negara paling berbahagia.
Posisi Amerika Serikat berada di peringkat ke-13. Nomor paling buncit dari 156 adalah Burundi, bukan Suriah. Burundi mengalami banyak kekerasan serta gonjang-ganjing politik. Bahkan negara itu dianggap paling tak bahagia dibanding Suriah.
Indonesia berada dalam tingkat kebahagiaan di posisi 79. Rusia di peringkat 56 dan Jepang di peringkat 53. Laporan itu dirilis UN's Sustainable Development Solutions Network, dari Gallup World Poll yang mensurvei 1.000 orang dari setiap negara. Proses tersebut dihelat selama 3 tahun berturut turut.
Mungkin Anda bertanya, “Bisakah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa?” Ternyata bisa. Simak cara-caranya » http://bit.ly/BAHAGIA
Survei World Happiness Report baru saja melaporkan dan ternyata Denmark berada di peringkat pertama sebagai negara paling berbahagia di dunia. Sementara, Burundi, berada di posisi paling buncit.
Laporan itu juga memuat negara yang memiliki kesenjangan sosial yang lebih sedikit ternyata warganya hidup jauh lebih bahagia. Swiss, Islandia, Norwegia dan Finlandia, seperti Denmark adalah negara-negara yang paling baik dalam jaminan keamanan sosialnya. Mereka adalah lima besar sebagai negara paling berbahagia.
Posisi Amerika Serikat berada di peringkat ke-13. Nomor paling buncit dari 156 adalah Burundi, bukan Suriah. Burundi mengalami banyak kekerasan serta gonjang-ganjing politik. Bahkan negara itu dianggap paling tak bahagia dibanding Suriah.
Indonesia berada dalam tingkat kebahagiaan di posisi 79. Rusia di peringkat 56 dan Jepang di peringkat 53. Laporan itu dirilis UN's Sustainable Development Solutions Network, dari Gallup World Poll yang mensurvei 1.000 orang dari setiap negara. Proses tersebut dihelat selama 3 tahun berturut turut.
Mungkin Anda bertanya, “Bisakah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa?” Ternyata bisa. Simak cara-caranya » http://bit.ly/BAHAGIA
Ketika uang bisa membeli kebahagiaan...
Seorang peneliti di University of Cambridge di Inggris, Joe Gladstone, mengakui studi yang ada secara historis menunjukkan korelasi yang lemah antara uang dan kebahagiaan.
Namun Joe Gladstone mengklaim studinya menemukan sesuatu yang baru. Menurut studinya, uang bisa membeli kebahagiaan. Ya, kebahagiaan bisa dibeli. Syaratnya, kita harus membeli hal-hal yang cocok dengan kepribadian kita.
Sementara itu, riset klasik menunjukkan yang sebaliknya. Menurut Harvard Study of Adult Development, kunci kehidupan yang bahagia adalah kekuatan hubungan dengan keluarga, pasangan, dan sahabat. Bukan pada uang dan ketenaran.
Lantas, apa pendapat saya? Sepertinya, lebih tepat kalau uang disebut sebagai alat bantu untuk mencapai kebahagiaan. Uang bukan semata-mata bertujuan konsumsi alias kepentingan pribadi. Melainkan uang juga bertujuan distribusi alias berbagi kepada sesama.
Lebih lanjut, telah ditemukan istilah 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989. Di mana munculnya bermacam perasaan positif setelah menolong dan berbagi. Ya, bahagia dapat diraih dengan sederet cara, salah satunya dengan berbagi.
Kembali soal bahagia. Saya sudah menulis tentang rahasia bahagia dan alhamdulillah sudah ribuan yang baca. Insya Allah tulisan ini penting sekali. Simak deh » http://bit.ly/BAHAGIA
Karena tulisan ini sangat penting, saya pun rela berbagi e-book untuk 10 pemenang bagi mereka yang sungguh-sungguh membacanya. Minat? Caranya:
Buka blog ini » http://bit.ly/BAHAGIA
Berikan komen Anda di blog tersebut. Mohon cantumkan juga alamat email Anda.
Boleh komen berulang untuk memperbesar kemungkinan menang.
Saya akan memilih 10 pemenang. Semoga tulisan saya dan ebook saya ini membawa kebahagiaan juga kesuksesan dalam hidup Anda.
Mohon doanya juga untuk saya beserta keluarga.
Seorang peneliti di University of Cambridge di Inggris, Joe Gladstone, mengakui studi yang ada secara historis menunjukkan korelasi yang lemah antara uang dan kebahagiaan.
Namun Joe Gladstone mengklaim studinya menemukan sesuatu yang baru. Menurut studinya, uang bisa membeli kebahagiaan. Ya, kebahagiaan bisa dibeli. Syaratnya, kita harus membeli hal-hal yang cocok dengan kepribadian kita.
Sementara itu, riset klasik menunjukkan yang sebaliknya. Menurut Harvard Study of Adult Development, kunci kehidupan yang bahagia adalah kekuatan hubungan dengan keluarga, pasangan, dan sahabat. Bukan pada uang dan ketenaran.
Lantas, apa pendapat saya? Sepertinya, lebih tepat kalau uang disebut sebagai alat bantu untuk mencapai kebahagiaan. Uang bukan semata-mata bertujuan konsumsi alias kepentingan pribadi. Melainkan uang juga bertujuan distribusi alias berbagi kepada sesama.
Lebih lanjut, telah ditemukan istilah 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989. Di mana munculnya bermacam perasaan positif setelah menolong dan berbagi. Ya, bahagia dapat diraih dengan sederet cara, salah satunya dengan berbagi.
Kembali soal bahagia. Saya sudah menulis tentang rahasia bahagia dan alhamdulillah sudah ribuan yang baca. Insya Allah tulisan ini penting sekali. Simak deh » http://bit.ly/BAHAGIA
Karena tulisan ini sangat penting, saya pun rela berbagi e-book untuk 10 pemenang bagi mereka yang sungguh-sungguh membacanya. Minat? Caranya:
Buka blog ini » http://bit.ly/BAHAGIA
Berikan komen Anda di blog tersebut. Mohon cantumkan juga alamat email Anda.
Boleh komen berulang untuk memperbesar kemungkinan menang.
Saya akan memilih 10 pemenang. Semoga tulisan saya dan ebook saya ini membawa kebahagiaan juga kesuksesan dalam hidup Anda.
Mohon doanya juga untuk saya beserta keluarga.
Ratemat Aboe adalah seorang penarik becak berusia 70-an. Bedanya dengan yang lain, dia punya jasa besar karena selalu menyisihkan waktu untuk mengajar anak-anak yang tidak mampu secara gratis di daerahnya, Jawa Timur.
Namun demikian, apa iya, jiwa sosial itu hanya muncul saat kita berusia tua? Sebelum dijawab, baiknya simak dulu uraian berikut.
Dalam beberapa tahun terakhir, ternyata keterlibatan anak-anak muda Indonesia pada aktivitas filantropi (sosial) cukup menyita perhatian. Menarik!
Biasanya mereka itu berbasis komunitas demi mengembangkan hasrat sosialnya. Sebagian lagi menjadi simpatisan, relawan, dan donatur di berbagai kegiatan sosial. Macam-macam.
Walhasil, potret filantropi tak lagi identik dengan kemunculan 'orang tua' atau 'orang kaya'. Kini, anak-anak muda ini siap mengambil-alih, entah mereka sudah kaya atau belum kaya.
Filantropi juga tidak lagi identik dengan kegiatan berbau keagamaan dan kebencanaan. Namun sekarang menjadi lebih luas dan 'lebih pop'.
Ada yang mendukung film nasional dan produk lokal. Ada juga yang menyelamatkan orang utan. Atau 'sekedar' menyiapkan kantong belanja yang tahan lama dan bisa didaur ulang. Semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan. Insya Allah semuanya baik.
Mau contoh? Sekelompok jurnalis Muda di Banyuwangi menunjukkan sikap pedulinya saat mengetahui kondisi seorang ibu-ibu bernama Juminten (50) yang menderita kanker. Mereka pun meliput dan urunan memberikan donasi.
Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi concern dalam kegiatan filantropi Anda?
Namun demikian, apa iya, jiwa sosial itu hanya muncul saat kita berusia tua? Sebelum dijawab, baiknya simak dulu uraian berikut.
Dalam beberapa tahun terakhir, ternyata keterlibatan anak-anak muda Indonesia pada aktivitas filantropi (sosial) cukup menyita perhatian. Menarik!
Biasanya mereka itu berbasis komunitas demi mengembangkan hasrat sosialnya. Sebagian lagi menjadi simpatisan, relawan, dan donatur di berbagai kegiatan sosial. Macam-macam.
Walhasil, potret filantropi tak lagi identik dengan kemunculan 'orang tua' atau 'orang kaya'. Kini, anak-anak muda ini siap mengambil-alih, entah mereka sudah kaya atau belum kaya.
Filantropi juga tidak lagi identik dengan kegiatan berbau keagamaan dan kebencanaan. Namun sekarang menjadi lebih luas dan 'lebih pop'.
Ada yang mendukung film nasional dan produk lokal. Ada juga yang menyelamatkan orang utan. Atau 'sekedar' menyiapkan kantong belanja yang tahan lama dan bisa didaur ulang. Semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan. Insya Allah semuanya baik.
Mau contoh? Sekelompok jurnalis Muda di Banyuwangi menunjukkan sikap pedulinya saat mengetahui kondisi seorang ibu-ibu bernama Juminten (50) yang menderita kanker. Mereka pun meliput dan urunan memberikan donasi.
Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi concern dalam kegiatan filantropi Anda?
Pernahkah sesama orang pelit bersatu, misal membuat asosiasi atau komunitas? Hehehe, nggak pernah. Ternyata orang pelit saja nggak suka sama orang pelit lainnya. Betul? Apalagi orang dermawan!
Orang pelit, adakah gunanya?
"Orang dermawan dan orang pelit, semuanya berguna bagimu. Orang dermawan, memberimu pertolongan. Orang pelit, memberimu pelajaran. Siapkan dirimu. Sesederhana itu." Demikianlah pesan guru saya beberapa tahun yang lalu.
Sebelum anda mengikuti pesan-pesan pada tulisan ini, ada baiknya anda memilih posisi duduk yang nyaman. Bukan apa-apa. Agar tulisan berikut bisa anda nikmati dan hayati sepenuh hati. Boleh?
Dan ini pertanyaan pertama saya: anda pilih mana, mentraktir atau ditraktir?
Begini. Kalau kita minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan anda juga termasuk, hehehe.
Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki #MentalKaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.
"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.
Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!
Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.
Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, anda ingin nonton konser Afgan atau Wali, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya (reseller). Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya anda boleh masuk secara cuma-cuma.
Sekali lagi, kerahkan tenaga anda, berikan jasa anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar anda dan saya punya mental kaya. Oleh karena itu, janganlah minta-minta pulsa, apalagi minta-minta saham. Maaf, sedikit ngelantur, hehehe.
Ingat ini. Walaupun kaya, tapi ia masih minta-minta pada sesama dan mempermalukan diri, itulah mental miskin. Kalau mental kaya? Walaupun belum kaya, ia terus berbagi dan menjaga harga diri. Anda pilih mana? Saya menulis ini bukan untuk nyinyir atau nyindir siapapun. Apalagi saya pribadi pernah hidup miskin selama belasan tahun.
Satu hal lagi. Sahabat sejati akan selalu men-support bisnis temannya. Ini juga mental kaya. Bukannya malah murah-murahin. Sekiranya teman ngasih diskon, yah terima. Te-ri-ma. Tapi kita jangan minta-minta apalagi sampai murah-murahin. Kan kasihan teman kita. Wong bisnisnya belum gede-gede amat.
Dulu teman saya buka bisnis ticketing. Saya pun membeli tiket dari dia. Selalu. Padahal, kadang harga tiketnya 5% lebih mahal daripada tempat lainnya. Nggak masalah, saya beli terus. Karena saya bisa memaklumi. Kan dia baru buka usaha, yah wajar kalau harganya belum kompetitif. Sekiranya saya dukung terus insya Allah harganya akan kompetitif. Dan benar, itulah yang terjadi kemudian.
Yakinlah. Bahagia bukan lagi ketika mendapatkan. Melainkan ketika membagi-bagikan. Itulah sejatinya mental kaya. Kalaupun mau minta-minta, cukup kepada Sang Pencipta saja. Ke makhluk, mah jangan. Apalagi ke tuyul, hehehe. Mungkin saat ini anda terpikir untuk men-share tulisan ini. Yah silakan saja.
Kalau minta-minta sama suami? Hehehe. Apabila dulu anda sudah meminta sama Allah untuk diberikan suami yang soleh, insya Allah suami yang soleh sudah memberikan sebelum istrinya meminta. Bukankah ciri pria sejati itu 'Sedikit bicara, banyak transfer'? Hahaha.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan agar kita semua memiliki mental kaya. Aamiin. Juga kaya beneran. Aamiin.Insya Allah bisa, ketika masing-masing kita sudah pantas. Karena tulisan ini sangat penting, jangan biarkan berhenti sampai di sini saja. Demi amal jariyah kita sama-sama, akan lebih baik kalau disebarkan kepada saudara dan sahabat anda.
Orang pelit, adakah gunanya?
"Orang dermawan dan orang pelit, semuanya berguna bagimu. Orang dermawan, memberimu pertolongan. Orang pelit, memberimu pelajaran. Siapkan dirimu. Sesederhana itu." Demikianlah pesan guru saya beberapa tahun yang lalu.
Sebelum anda mengikuti pesan-pesan pada tulisan ini, ada baiknya anda memilih posisi duduk yang nyaman. Bukan apa-apa. Agar tulisan berikut bisa anda nikmati dan hayati sepenuh hati. Boleh?
Dan ini pertanyaan pertama saya: anda pilih mana, mentraktir atau ditraktir?
Begini. Kalau kita minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan anda juga termasuk, hehehe.
Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki #MentalKaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.
"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.
Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!
Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.
Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, anda ingin nonton konser Afgan atau Wali, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya (reseller). Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya anda boleh masuk secara cuma-cuma.
Sekali lagi, kerahkan tenaga anda, berikan jasa anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar anda dan saya punya mental kaya. Oleh karena itu, janganlah minta-minta pulsa, apalagi minta-minta saham. Maaf, sedikit ngelantur, hehehe.
Ingat ini. Walaupun kaya, tapi ia masih minta-minta pada sesama dan mempermalukan diri, itulah mental miskin. Kalau mental kaya? Walaupun belum kaya, ia terus berbagi dan menjaga harga diri. Anda pilih mana? Saya menulis ini bukan untuk nyinyir atau nyindir siapapun. Apalagi saya pribadi pernah hidup miskin selama belasan tahun.
Satu hal lagi. Sahabat sejati akan selalu men-support bisnis temannya. Ini juga mental kaya. Bukannya malah murah-murahin. Sekiranya teman ngasih diskon, yah terima. Te-ri-ma. Tapi kita jangan minta-minta apalagi sampai murah-murahin. Kan kasihan teman kita. Wong bisnisnya belum gede-gede amat.
Dulu teman saya buka bisnis ticketing. Saya pun membeli tiket dari dia. Selalu. Padahal, kadang harga tiketnya 5% lebih mahal daripada tempat lainnya. Nggak masalah, saya beli terus. Karena saya bisa memaklumi. Kan dia baru buka usaha, yah wajar kalau harganya belum kompetitif. Sekiranya saya dukung terus insya Allah harganya akan kompetitif. Dan benar, itulah yang terjadi kemudian.
Yakinlah. Bahagia bukan lagi ketika mendapatkan. Melainkan ketika membagi-bagikan. Itulah sejatinya mental kaya. Kalaupun mau minta-minta, cukup kepada Sang Pencipta saja. Ke makhluk, mah jangan. Apalagi ke tuyul, hehehe. Mungkin saat ini anda terpikir untuk men-share tulisan ini. Yah silakan saja.
Kalau minta-minta sama suami? Hehehe. Apabila dulu anda sudah meminta sama Allah untuk diberikan suami yang soleh, insya Allah suami yang soleh sudah memberikan sebelum istrinya meminta. Bukankah ciri pria sejati itu 'Sedikit bicara, banyak transfer'? Hahaha.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan agar kita semua memiliki mental kaya. Aamiin. Juga kaya beneran. Aamiin.Insya Allah bisa, ketika masing-masing kita sudah pantas. Karena tulisan ini sangat penting, jangan biarkan berhenti sampai di sini saja. Demi amal jariyah kita sama-sama, akan lebih baik kalau disebarkan kepada saudara dan sahabat anda.
Saat ini, alhamdulillah saya dikaruniai 3 anak. Yang terakhir, masih bayi. Dia berusia 7 bulan. Jelas, sebagai ayah, saya masih perlu belajar ini-itu.
Percakapan dengan bayi ternyata membawa andil yang besar, demi perkembangan otaknya. Kalau kita perhatikan, bayi memang belum bisa bicara. Namun keterlibatan interaktif dengan bayi bisa menumbuhkan kemahiran bahasa, kesiapan sekolah, dan kemantapan emosional bayi. Demikianlah menurut jurnal JAMA Pediatrics.
Sayangnya menurut riset, banyak sekali anak-anak yang tidak mengalami pola komunikasi demikian. Terutama, anak-anak yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Di samping itu, pakar literasi Harvard Graduate School of Education, Meredith Rowe mengungkapkan, kualitas percakapan-lah yang mempengaruhi perkembangan otak bayi. Bukan kuantitas.
Meredith Rowe berkolaborasi dengan Barry Zuckerman menyimpulkan bahwa orangtua tak perlu kaku mengikuti kuantitas tertentu atau mengajak bayi bicara sepanjang hari. Tak harus seperti itu. Orangtua baiknya fokus mencari waktu untuk interaksi yang penuh kasih-sayang dan berkualitas tinggi, sekalipun durasinya pendek.
Selama beberapa hari terakhir, saya bersama anak dan istri berkunjung ke kampung ibu saya di Sumatera Barat. Sepanjang perjalanan saya dan istri berusaha menjalin komunikasi yang intens dengan bayi kami. Insya Allah ini bagian dari pendidikan untuk si bayi, baik secara intelektual, maupun secara emosional dan spiritual.
Semoga sharing ini bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Percakapan dengan bayi ternyata membawa andil yang besar, demi perkembangan otaknya. Kalau kita perhatikan, bayi memang belum bisa bicara. Namun keterlibatan interaktif dengan bayi bisa menumbuhkan kemahiran bahasa, kesiapan sekolah, dan kemantapan emosional bayi. Demikianlah menurut jurnal JAMA Pediatrics.
Sayangnya menurut riset, banyak sekali anak-anak yang tidak mengalami pola komunikasi demikian. Terutama, anak-anak yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Di samping itu, pakar literasi Harvard Graduate School of Education, Meredith Rowe mengungkapkan, kualitas percakapan-lah yang mempengaruhi perkembangan otak bayi. Bukan kuantitas.
Meredith Rowe berkolaborasi dengan Barry Zuckerman menyimpulkan bahwa orangtua tak perlu kaku mengikuti kuantitas tertentu atau mengajak bayi bicara sepanjang hari. Tak harus seperti itu. Orangtua baiknya fokus mencari waktu untuk interaksi yang penuh kasih-sayang dan berkualitas tinggi, sekalipun durasinya pendek.
Selama beberapa hari terakhir, saya bersama anak dan istri berkunjung ke kampung ibu saya di Sumatera Barat. Sepanjang perjalanan saya dan istri berusaha menjalin komunikasi yang intens dengan bayi kami. Insya Allah ini bagian dari pendidikan untuk si bayi, baik secara intelektual, maupun secara emosional dan spiritual.
Semoga sharing ini bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika Anda membantu anak yatim, siapa yang lebih senang? Anak yatim itu atau Anda?
Ketika Anda membantu orang dhuafa, siapa yang lebih senang? Orang dhuafa itu atau Anda?
Pikirkan dulu sebelum dijawab. Sudah?
Si anak yatim dan si orang dhuafa memang senang. Namun jangan salah, ternyata Anda-lah lebih senang. Coba ingat-ingat kembali, pasti Anda pernah mengalami perasaan senang ini. Betul apa betul? Di seminar 7 Keajaiban Rezeki, hal ini sering kita bahas bahkan kita praktekkan bareng-bareng.
Lebih senang, kok bisa? Simak deh penjelasan berikut. Satu hal yang perlu ditegaskan, sebelum men-share tulisan ini, baiknya Anda baca dulu sampai selesai. Boleh?
Begini. Telah ditemukan fenomena 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989, di mana orang-orang yang beramal atau berbagi, akan mengalami sensasi perasaan positif. Sekali lagi, perasaan positif ini diperoleh setelah tindakan mereka memberi atau membantu orang lain.
Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan, sejumlah area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa saling percaya teraktifkan ketika memberi. Otak pun dicurahi endorfin dan dopamin, sehingga menambah perasaan positif yang disebut 'helper’s high'. Semakin membaca tulisan ini, Anda pun semakin tertarik untuk men-share-nya.
Tidak cukup sampai di situ, rupanya terdapat sederet penelitian menunjukkan korelasi antara sikap dermawan dan kesehatan. Di antaranya penelitian Stephanie Post, yang dimuat dalam buku Why Good Things Happen To Good People, yang menyimpulkan bahwa berbagi kepada sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis, seperti HIV.
Sebagian orang sudah yakin dengan dalil-dalil agama terkait berbagi. Itu bagus. Namun yang lain masih ragu-ragu. Jujur saja, mereka lebih menyukai data-data ilmiah. Nah, penjelasan singkat di atas membuktikan secara rasional bahwa berbagi itu menyehatkan. Benar-benar menyehatkan. Right?
Kita bisa berbagi dalam bentuk apa saja. Mungkin uang, tenaga, waktu, perhatian, doa, atau yang lainnya. Di hari yang sangat baik ini, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah men-share tulisan ini. Bayangkan, setiap kali si pembaca tergerak hatinya untuk berbagi, maka kita (saya dan Anda) akan turut keciprat pahala dan berkahnya.
Tertarik?
Ketika Anda membantu orang dhuafa, siapa yang lebih senang? Orang dhuafa itu atau Anda?
Pikirkan dulu sebelum dijawab. Sudah?
Si anak yatim dan si orang dhuafa memang senang. Namun jangan salah, ternyata Anda-lah lebih senang. Coba ingat-ingat kembali, pasti Anda pernah mengalami perasaan senang ini. Betul apa betul? Di seminar 7 Keajaiban Rezeki, hal ini sering kita bahas bahkan kita praktekkan bareng-bareng.
Lebih senang, kok bisa? Simak deh penjelasan berikut. Satu hal yang perlu ditegaskan, sebelum men-share tulisan ini, baiknya Anda baca dulu sampai selesai. Boleh?
Begini. Telah ditemukan fenomena 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989, di mana orang-orang yang beramal atau berbagi, akan mengalami sensasi perasaan positif. Sekali lagi, perasaan positif ini diperoleh setelah tindakan mereka memberi atau membantu orang lain.
Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan, sejumlah area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa saling percaya teraktifkan ketika memberi. Otak pun dicurahi endorfin dan dopamin, sehingga menambah perasaan positif yang disebut 'helper’s high'. Semakin membaca tulisan ini, Anda pun semakin tertarik untuk men-share-nya.
Tidak cukup sampai di situ, rupanya terdapat sederet penelitian menunjukkan korelasi antara sikap dermawan dan kesehatan. Di antaranya penelitian Stephanie Post, yang dimuat dalam buku Why Good Things Happen To Good People, yang menyimpulkan bahwa berbagi kepada sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis, seperti HIV.
Sebagian orang sudah yakin dengan dalil-dalil agama terkait berbagi. Itu bagus. Namun yang lain masih ragu-ragu. Jujur saja, mereka lebih menyukai data-data ilmiah. Nah, penjelasan singkat di atas membuktikan secara rasional bahwa berbagi itu menyehatkan. Benar-benar menyehatkan. Right?
Kita bisa berbagi dalam bentuk apa saja. Mungkin uang, tenaga, waktu, perhatian, doa, atau yang lainnya. Di hari yang sangat baik ini, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah men-share tulisan ini. Bayangkan, setiap kali si pembaca tergerak hatinya untuk berbagi, maka kita (saya dan Anda) akan turut keciprat pahala dan berkahnya.
Tertarik?
Lihatlah, barang kalau nggak berguna, akan diletakkan di pinggir. Lama-lama, diletakkan di gudang. Pada akhirnya, diletakkan di tong sampah. Manusia kurang-lebih juga sama. Yang tak berguna, pelan-pelan akan dipinggirkan dan disingkirkan. Bukankah emas dinilai dari karat dan manusia dinilai dari manfaat? Anda sepakat?
Hidup itu perlu solusi.
Ngomong-ngomong:
- Siapa yang profit-nya paling banyak?
- Siapa yang pahalanya sangat banyak?
- Siapa yang dirindukan oleh orang banyak?
Ternyata jawabannya sama. Yaitu mereka yang menjadi solusi bagi sesamanya. So-lu-si. Karena itu, tidak ada pilihan lain, jadilah bagian dari solusi. Jika tidak, cepat atau lambat, Anda akan menjadi bagian dari masalah. Itu pesan guru saya dan selalu saya ingat-ingat sampai sekarang.
Sebagian orang heran, kok belakangan ini saya jarang sharing di blog. Bukan apa-apa, sekarang saya lebih memilih untuk sharing dalam bentuk text dan picture di channel Telegram: ipphoright. Tetap berbagi solusi. Menurut saya, saat ini Telegram itu lebih selektif juga lebih efektif. Nggak tahu ke depannya seperti apa.
Perhatikan ini:
- Ingin sukses, sukseskan orang lain
- Ingin cerdas, cerdaskan orang lain
- Ingin doa terkabul, doakan orang lain
Sekarang, Anda ingin mengalami keajaiban rezeki?
Bener-bener ingin?
Baiklah, saya akan memberitahu caranya, dengan dua syarat:
- Pertama, jangan tunda (langsung praktek)
- Kedua, jangan tanya (apalagi mempertanyakan)
Dengar, taati. Itu intinya.
Siap praktek?
Baiklah, begini caranya.
Ajak teman-teman bergabung di channel ini. Minimal 5 orang.
Bayangkan, setiap kali mereka memetik inspirasi dan motivasi dari channel ini, maka Anda dan saya turut kebagian berkahnya. Terus, mungkinkah ini berdampak terhadap kesuksesan Anda? Jelas! Karena Anda menginginkan teman-teman Anda turut sukses, lha apa mungkin Yang Maha Kuasa diam saja? Mana mungkin! Tentulah Dia Yang Maha Pemurah menolong Anda agar lebih sukses!
Kalau sudah begini, rezeki yang berkah dan berlimpah bukan suatu yang mustahil lagi. Pengalaman yang sudah-sudah, sekitar 80% orang yang berbagi akan mengalami keajaiban rezeki dalam waktu 7 hari atau kurang. Sisanya lagi, mungkin perlu sedikit waktu, ketulusan, kesabaran, dan baiksangka.
Siap membuktikan?
Hidup itu perlu solusi.
Ngomong-ngomong:
- Siapa yang profit-nya paling banyak?
- Siapa yang pahalanya sangat banyak?
- Siapa yang dirindukan oleh orang banyak?
Ternyata jawabannya sama. Yaitu mereka yang menjadi solusi bagi sesamanya. So-lu-si. Karena itu, tidak ada pilihan lain, jadilah bagian dari solusi. Jika tidak, cepat atau lambat, Anda akan menjadi bagian dari masalah. Itu pesan guru saya dan selalu saya ingat-ingat sampai sekarang.
Sebagian orang heran, kok belakangan ini saya jarang sharing di blog. Bukan apa-apa, sekarang saya lebih memilih untuk sharing dalam bentuk text dan picture di channel Telegram: ipphoright. Tetap berbagi solusi. Menurut saya, saat ini Telegram itu lebih selektif juga lebih efektif. Nggak tahu ke depannya seperti apa.
Perhatikan ini:
- Ingin sukses, sukseskan orang lain
- Ingin cerdas, cerdaskan orang lain
- Ingin doa terkabul, doakan orang lain
Sekarang, Anda ingin mengalami keajaiban rezeki?
Bener-bener ingin?
Baiklah, saya akan memberitahu caranya, dengan dua syarat:
- Pertama, jangan tunda (langsung praktek)
- Kedua, jangan tanya (apalagi mempertanyakan)
Dengar, taati. Itu intinya.
Siap praktek?
Baiklah, begini caranya.
Ajak teman-teman bergabung di channel ini. Minimal 5 orang.
Bayangkan, setiap kali mereka memetik inspirasi dan motivasi dari channel ini, maka Anda dan saya turut kebagian berkahnya. Terus, mungkinkah ini berdampak terhadap kesuksesan Anda? Jelas! Karena Anda menginginkan teman-teman Anda turut sukses, lha apa mungkin Yang Maha Kuasa diam saja? Mana mungkin! Tentulah Dia Yang Maha Pemurah menolong Anda agar lebih sukses!
Kalau sudah begini, rezeki yang berkah dan berlimpah bukan suatu yang mustahil lagi. Pengalaman yang sudah-sudah, sekitar 80% orang yang berbagi akan mengalami keajaiban rezeki dalam waktu 7 hari atau kurang. Sisanya lagi, mungkin perlu sedikit waktu, ketulusan, kesabaran, dan baiksangka.
Siap membuktikan?
Anda pengusaha? Untuk jadi pengusaha, Anda belajar berapa tahun, baik secara formal maupun non formal? Hm, bisa bertahun-tahun.
Kalau Anda ingin menjadi notaris, arsitek, atau pengacara, Anda harus kuliah sampai 4 tahun bahkan lebih. Belajar. Nah, setiap kita insya Allah pasti akan menjadi ayah atau ibu. Sudahkah kita belajar untuk itu? Berapa tahun? Jangan mengandalkan logika kita saja. Kadang dicampur pula dengan logika dari orangtua kita yang kebanyakan juga tidak belajar. Akhirnya ke anak, kita seperti coba-coba saja.
Sekiranya Anda belajar sungguh-sungguh selama bertahun-tahun demi menjadi profesional atau entrepreneur, mestinya Anda lebih belajar lagi untuk menjadi ayah atau ibu, juga untuk menjadi suami dan istri. Soalnya guru saya pernah berpesan, “Dalam karier atau bisnis, kamu boleh gagal. Tapi dalam mendidik anak, kamu harus berhasil. Karena mendidik anak itu tidak bisa diulang.”
Hal sederhana saja, soal ASI. Ternyata itu bukan tanggung-jawab ibu. Sekali lagi, bukan tanggung-jawab ibu. Dan masih banyak hal lainnya. Sudahkah Anda mengetahuinya?
Tulisan ini penting banget! Simak deh » http://bit.ly/penafkahan
Kalau Anda ingin menjadi notaris, arsitek, atau pengacara, Anda harus kuliah sampai 4 tahun bahkan lebih. Belajar. Nah, setiap kita insya Allah pasti akan menjadi ayah atau ibu. Sudahkah kita belajar untuk itu? Berapa tahun? Jangan mengandalkan logika kita saja. Kadang dicampur pula dengan logika dari orangtua kita yang kebanyakan juga tidak belajar. Akhirnya ke anak, kita seperti coba-coba saja.
Sekiranya Anda belajar sungguh-sungguh selama bertahun-tahun demi menjadi profesional atau entrepreneur, mestinya Anda lebih belajar lagi untuk menjadi ayah atau ibu, juga untuk menjadi suami dan istri. Soalnya guru saya pernah berpesan, “Dalam karier atau bisnis, kamu boleh gagal. Tapi dalam mendidik anak, kamu harus berhasil. Karena mendidik anak itu tidak bisa diulang.”
Hal sederhana saja, soal ASI. Ternyata itu bukan tanggung-jawab ibu. Sekali lagi, bukan tanggung-jawab ibu. Dan masih banyak hal lainnya. Sudahkah Anda mengetahuinya?
Tulisan ini penting banget! Simak deh » http://bit.ly/penafkahan