Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Pernahkah sesama orang pelit bersatu, misal membuat asosiasi atau komunitas? Hehehe, nggak pernah. Ternyata orang pelit saja nggak suka sama orang pelit lainnya. Betul? Apalagi orang dermawan!

Orang pelit, adakah gunanya?

"Orang dermawan dan orang pelit, semuanya berguna bagimu. Orang dermawan, memberimu pertolongan. Orang pelit, memberimu pelajaran. Siapkan dirimu. Sesederhana itu." Demikianlah pesan guru saya beberapa tahun yang lalu.

Sebelum anda mengikuti pesan-pesan pada tulisan ini, ada baiknya anda memilih posisi duduk yang nyaman. Bukan apa-apa. Agar tulisan berikut bisa anda nikmati dan hayati sepenuh hati. Boleh?

Dan ini pertanyaan pertama saya: anda pilih mana, mentraktir atau ditraktir?

Begini. Kalau kita minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan anda juga termasuk, hehehe.

Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki #MentalKaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.

"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.

Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!

Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.

Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, anda ingin nonton konser Afgan atau Wali, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya (reseller). Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya anda boleh masuk secara cuma-cuma.

Sekali lagi, kerahkan tenaga anda, berikan jasa anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar anda dan saya punya mental kaya. Oleh karena itu, janganlah minta-minta pulsa, apalagi minta-minta saham. Maaf, sedikit ngelantur, hehehe.

Ingat ini. Walaupun kaya, tapi ia masih minta-minta pada sesama dan mempermalukan diri, itulah mental miskin. Kalau mental kaya? Walaupun belum kaya, ia terus berbagi dan menjaga harga diri. Anda pilih mana? Saya menulis ini bukan untuk nyinyir atau nyindir siapapun. Apalagi saya pribadi pernah hidup miskin selama belasan tahun.

Satu hal lagi. Sahabat sejati akan selalu men-support bisnis temannya. Ini juga mental kaya. Bukannya malah murah-murahin. Sekiranya teman ngasih diskon, yah terima. Te-ri-ma. Tapi kita jangan minta-minta apalagi sampai murah-murahin. Kan kasihan teman kita. Wong bisnisnya belum gede-gede amat.

Dulu teman saya buka bisnis ticketing. Saya pun membeli tiket dari dia. Selalu. Padahal, kadang harga tiketnya 5% lebih mahal daripada tempat lainnya. Nggak masalah, saya beli terus. Karena saya bisa memaklumi. Kan dia baru buka usaha, yah wajar kalau harganya belum kompetitif. Sekiranya saya dukung terus insya Allah harganya akan kompetitif. Dan benar, itulah yang terjadi kemudian.

Yakinlah. Bahagia bukan lagi ketika mendapatkan. Melainkan ketika membagi-bagikan. Itulah sejatinya mental kaya. Kalaupun mau minta-minta, cukup kepada Sang Pencipta saja. Ke makhluk, mah jangan. Apalagi ke tuyul, hehehe. Mungkin saat ini anda terpikir untuk men-share tulisan ini. Yah silakan saja.

Kalau minta-minta sama suami? Hehehe. Apabila dulu anda sudah meminta sama Allah untuk diberikan suami yang soleh, insya Allah suami yang soleh sudah memberikan sebelum istrinya meminta. Bukankah ciri pria sejati itu 'Sedikit bicara, banyak transfer'? Hahaha.

Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan agar kita semua memiliki mental kaya. Aamiin. Juga kaya beneran. Aamiin.Insya Allah bisa, ketika masing-masing kita sudah pantas. Karena tulisan ini sangat penting, jangan biarkan berhenti sampai di sini saja. Demi amal jariyah kita sama-sama, akan lebih baik kalau disebarkan kepada saudara dan sahabat anda.
Weekend atau liburan, biasanya kita gunakan untuk silaturahim. Bertemu sahabat, bertemu kerabat. Bolehkah? Boleh banget! Btw, ini kesempatan untuk latihan alias praktek #MentalKaya.

Bagi teman-teman yang ingin mengalami kejutan-kejutan rezeki, coba deh praktekkan ilmu ini. Insya Allah dalam seminggu atau kurang Anda akan mengalami kejutan-kejutan yang saya maksud.

Perlu diingat ya, ilmu ini BUKAN untuk semua orang. Hanya mereka yang open-minded dan change-oriented yang siap mempraktekkan ilmu ini, walaupun sebenarnya nggak terlalu sulit.

Mau nyoba? Simak » http://bit.ly/LatihanMentalKaya
Ditraktir, itu menyenangkan.

Mentraktir, mestinya lebih menyenangkan.

Teman-teman pilih ditraktir atau mentraktir? Gemar mentraktir, inilah yang disebut #MentalKaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya.

Istri saya kalau makan di luar, sering mentraktir pengunjung-pengunjung di rumah makan itu. Yang biasanya, tidak ia kenal sama sekali. Dan ini ia lakukan sebelum dan sesudah menikah dengan saya.

Ibunya (mertua saya) juga begitu. Ketika dulu-dulu naik angkot dan turun pertama, dia sering mentraktir penumpang-penumpang di angkot itu. Demikian pula ibu saya dalam konteks yang berbeda.

Ditraktir, apakah salah? Tidak juga. Tapi kalau kita sengaja atau minta-minta agar ditraktir, ini tentu saja kurang elok. Dan kalau kita terbiasa dengan perangai ini, itu artinya kita belum memiliki mental kaya.

Nah, apapun posisi dan profesi Anda, ayo miliki mental kaya, salah satunya dengan gemar mentraktir. Mari dibiasakan. Sekecil apapun. Semoga berkah dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.