Ada Dua Jenis Jomblo:
available
avai-labil
😆
Belum menikah?
Baru menikah?
Baca ini deh...
Riset yang dilangsungkan Australian Centre on Quality of Life merangkum, fase awal pernikahan (fase bulan madu) tidak selalu membuat pasangan merasa bahagia. Sementara, pasangan yang sudah menikah setidaknya 40 tahun ternyata lebih bahagia. Nah lho!
Apakah harta yang menentukan kebahagiaan? Nggak juga.
Saya dan istri menikah secara sederhana. Cuma syukuran di rumah. Pakai 2 tenda (awalnya cuma 1 tenda). Sebelum menikah, dia juga nggak minta macam-macam. Menurut saya, wanita yang nggak minta macam-macam, justru layak diperjuangkan dan diberikan macam-macam. Yang setuju, boleh share.
Kami bertemu cuma sekali, lalu kami memutuskan untuk menikah. Nggak pake pacaran. Menurut kami, saling kenal nggak harus pake pacaran. Resepsi kami sederhana, hidup kami awal-awal juga sederhana. Ya, serba sederhana. Walaupun restoran Sederhana tidak jadi sponsor dalam tulisan ini, hehehe.
Setelah menikah, rezeki kami membaik. Alhamdulillah, setahun setelah menikah, saya mengajaknya berumrah. Tak lama, tiga tahun berselang, kami pun berhaji. Setelah ke Tanah Suci, kami ke Amerika dan Jepang. Alhamdulillah, Dia Maha Pemurah.
Saran saya bagi teman-teman yang belum menikah, carilah pasangan yang siap berjuang namun juga siap hidup sederhana. Boleh-boleh saja berniat untuk kaya, namun kesiapan untuk hidup sederhana adalah keniscayaan. Sekali lagi, nis-ca-ya. Kenapa? Namanya hidup, percayalah, kadang tak seindah drama Korea atau film India. Ada fase-fase susah.
Perlu ditegaskan di sini, tak perlu terpana dan terpesona dengan resepsi ala artis atau pejabat di infotainment. Wong, sebagian reporter di infotainment itu sering enek ketika meliput mereka, hehehe. Jangan pula baper apalagi iri saat melihat foto honeymoon teman yang terpapar di Facebook dan Instagram. Tetaplah bertekad untuk resepsi secara sederhana.
Kalaupun ada rezeki lebih, besarkan saja di mahar, bukan di resepsi. Inilah yang sebenarnya dianjurkan oleh agama. Dengan dimaharkan begitu, uangnya nggak 'hilang' kan? Cuma berpindah ke tangan istri (pas BU, bisa dipinjam lagi, hehehe). Sekiranya jor-joran di resepsi, yang untung cuma Wedding Organizer, hehehe. Serba-serbi pernikahan, saya bahas di buku #EntengJodoh, yang sudah tersedia di Gramedia dan royaltinya semua untuk charity.
"Wah, susah nyari pasangan yang mau diajak hidup sederhana!" Nggak juga. Itu tergantung kita. Karena nilai-nilai yang kita anut akan memancar dan menarik tipe orang yang sejenis. Maka dari itulah saya selaluuuuu berseru, "Pantaskan diri, perbaiki diri." Soalnya, kita hanya dipertemukan dengan orang-orang yang pantas untuk kita. Ini berlaku dalam jodoh dan pergaulan.
Siap? #NikahSana
Ada baiknya, sekarang Anda share tulisan ini kepada teman-teman Anda. Saling mengingatkan. Terutama mereka yang belum menikah atau baru menikah.
available
avai-labil
😆
Belum menikah?
Baru menikah?
Baca ini deh...
Riset yang dilangsungkan Australian Centre on Quality of Life merangkum, fase awal pernikahan (fase bulan madu) tidak selalu membuat pasangan merasa bahagia. Sementara, pasangan yang sudah menikah setidaknya 40 tahun ternyata lebih bahagia. Nah lho!
Apakah harta yang menentukan kebahagiaan? Nggak juga.
Saya dan istri menikah secara sederhana. Cuma syukuran di rumah. Pakai 2 tenda (awalnya cuma 1 tenda). Sebelum menikah, dia juga nggak minta macam-macam. Menurut saya, wanita yang nggak minta macam-macam, justru layak diperjuangkan dan diberikan macam-macam. Yang setuju, boleh share.
Kami bertemu cuma sekali, lalu kami memutuskan untuk menikah. Nggak pake pacaran. Menurut kami, saling kenal nggak harus pake pacaran. Resepsi kami sederhana, hidup kami awal-awal juga sederhana. Ya, serba sederhana. Walaupun restoran Sederhana tidak jadi sponsor dalam tulisan ini, hehehe.
Setelah menikah, rezeki kami membaik. Alhamdulillah, setahun setelah menikah, saya mengajaknya berumrah. Tak lama, tiga tahun berselang, kami pun berhaji. Setelah ke Tanah Suci, kami ke Amerika dan Jepang. Alhamdulillah, Dia Maha Pemurah.
Saran saya bagi teman-teman yang belum menikah, carilah pasangan yang siap berjuang namun juga siap hidup sederhana. Boleh-boleh saja berniat untuk kaya, namun kesiapan untuk hidup sederhana adalah keniscayaan. Sekali lagi, nis-ca-ya. Kenapa? Namanya hidup, percayalah, kadang tak seindah drama Korea atau film India. Ada fase-fase susah.
Perlu ditegaskan di sini, tak perlu terpana dan terpesona dengan resepsi ala artis atau pejabat di infotainment. Wong, sebagian reporter di infotainment itu sering enek ketika meliput mereka, hehehe. Jangan pula baper apalagi iri saat melihat foto honeymoon teman yang terpapar di Facebook dan Instagram. Tetaplah bertekad untuk resepsi secara sederhana.
Kalaupun ada rezeki lebih, besarkan saja di mahar, bukan di resepsi. Inilah yang sebenarnya dianjurkan oleh agama. Dengan dimaharkan begitu, uangnya nggak 'hilang' kan? Cuma berpindah ke tangan istri (pas BU, bisa dipinjam lagi, hehehe). Sekiranya jor-joran di resepsi, yang untung cuma Wedding Organizer, hehehe. Serba-serbi pernikahan, saya bahas di buku #EntengJodoh, yang sudah tersedia di Gramedia dan royaltinya semua untuk charity.
"Wah, susah nyari pasangan yang mau diajak hidup sederhana!" Nggak juga. Itu tergantung kita. Karena nilai-nilai yang kita anut akan memancar dan menarik tipe orang yang sejenis. Maka dari itulah saya selaluuuuu berseru, "Pantaskan diri, perbaiki diri." Soalnya, kita hanya dipertemukan dengan orang-orang yang pantas untuk kita. Ini berlaku dalam jodoh dan pergaulan.
Siap? #NikahSana
Ada baiknya, sekarang Anda share tulisan ini kepada teman-teman Anda. Saling mengingatkan. Terutama mereka yang belum menikah atau baru menikah.
Kali ini soal godaan.
Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi PRIA? Itulah wanita.
Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi WANITA? Itulah online shop. Hehehe.
Shopping. Belanja-belanja. Beli-beli. Milih-milih. Wanita mana yang nggak suka? Ayo ngaku! Anehnya, barang yang terlihat biasa-biasa saja oleh pria, eh bisa terlihat lucu dan unyu oleh wanita. Begitulah wanita. Hehehe.
Kadang, pekerjaan ibu rumahtangga itu melelahkan dan menjemukan. Kan seringnya di rumah. Betul apa betul? Jadi, sekiranya istri sesekali shopping, yah izinkan saja. Toh yang dia shopping itu untuk keluarga dan rumahtangga. Bukan untuk siapa-siapa.
Apabila selama ini suami SUDAH BENAR dalam mengarahkan dan mendidik istri, pastilah yang di-shopping istri itu barang-barang yang bermanfaat untuk keluarga dan rumahtangga. Nggak sia-sia.
Pesan untuk suami. Daripada berdebat nyuruh-nyuruh istri berhenti shopping, lebih baik shopping-nya diarahkan & diatur. So, everybody wins. Apalagi Anda tahu persis, nggak bakal menang berdebat melawan wanita, hehehe.
Hal ini tentu mesti dilihat secara berimbang, nggak timpang. Di mana istri pun harus tahu berapa kemampuan dan kesukaan suami. Jangan memaksakan diri. Jangan mau enaknya sendiri. Ocre?
Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.
Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.
Yang belum dikaruniai jodoh, saya turut mendoakan. Semoga segera ya. Aamiin.
Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi PRIA? Itulah wanita.
Tahukah Anda, apa godaan terbesar bagi WANITA? Itulah online shop. Hehehe.
Shopping. Belanja-belanja. Beli-beli. Milih-milih. Wanita mana yang nggak suka? Ayo ngaku! Anehnya, barang yang terlihat biasa-biasa saja oleh pria, eh bisa terlihat lucu dan unyu oleh wanita. Begitulah wanita. Hehehe.
Kadang, pekerjaan ibu rumahtangga itu melelahkan dan menjemukan. Kan seringnya di rumah. Betul apa betul? Jadi, sekiranya istri sesekali shopping, yah izinkan saja. Toh yang dia shopping itu untuk keluarga dan rumahtangga. Bukan untuk siapa-siapa.
Apabila selama ini suami SUDAH BENAR dalam mengarahkan dan mendidik istri, pastilah yang di-shopping istri itu barang-barang yang bermanfaat untuk keluarga dan rumahtangga. Nggak sia-sia.
Pesan untuk suami. Daripada berdebat nyuruh-nyuruh istri berhenti shopping, lebih baik shopping-nya diarahkan & diatur. So, everybody wins. Apalagi Anda tahu persis, nggak bakal menang berdebat melawan wanita, hehehe.
Hal ini tentu mesti dilihat secara berimbang, nggak timpang. Di mana istri pun harus tahu berapa kemampuan dan kesukaan suami. Jangan memaksakan diri. Jangan mau enaknya sendiri. Ocre?
Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.
Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.
Yang belum dikaruniai jodoh, saya turut mendoakan. Semoga segera ya. Aamiin.
Pernah dengar Pizza Huh, Wumart, Bucksstar, dan Harry Poller?
Sekilas terdengar seperti Pizza Hut, Starbucks, Walmart, dan Harry Porter.
Kok bisa? Yuk kita bahas. Wal-Mart Stores, Inc, dengan merek Walmart, adalah raja ritel asal Amerika yang berdiri sejak 1962. Di China, kemudian merek ini ditiru dan berdirilah Wumart pada 1994, yang kini berkembang menjadi sekitar 430 toko dan 100 hypermarket.
Begitulah China:
Wumart meniru Walmart
OFC (Obama) meniru KFC
McDnoald's meniru McDonald's
Pizza Huh meniru Pizza Hut
Bucksstar meniru Starbucks
Harry Poller meniru Harry Porter
APad meniru iPad
HiPhone meniru iPhone
Dan masih banyak lagi
Ya, meniru. Bukan sekedar terinspirasi.
Tanpa tedeng aling-aling, China menegaskan dirinya sebagai negara 'King of Counterfeiters' atau 'Rajanya Peniru' dan sulit dituntut secara hukum, terutama di China. Dari seluruh barang dan merek yang dipalsukan dunia sepanjang 2008-2010, China memproduksi 70% tiruan tersebut. Nggak percaya? Googling aja di Yahoo, hehehe.
Apakah peniruan-peniruan itu membuat Walmart, KFC, McDonald's, Pizza Hut, Starbucks, Harry Porter, iPad, dan iPhone tenggelam? Boro-boro padam, merek-merek besar itu malah semakin bersinar. Menurut mereka, lebih baik fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi. Adalah pekerjaan sia-sia kalau berharap China bertobat terkait peniruan.
Begini. Jangan gagal panen. Eh, maksud saya, jangan gagal paham. Hehehe. Saya tidak membenarkan tindakan pemalsuan dan demikian pula bunyi hukum di berbagai negara. Namun saya setuju dengan reaksi merek-merek besar itu. Alih-alih bermental pecundang, mereka fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi.
Maaf, rada beda dengan kita, yang sering menyalah-nyalahkan pesaing ketika rugi atau gagal. Pembenaran mungkin menentramkan hati, namun tak pernah membawa solusi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sekilas terdengar seperti Pizza Hut, Starbucks, Walmart, dan Harry Porter.
Kok bisa? Yuk kita bahas. Wal-Mart Stores, Inc, dengan merek Walmart, adalah raja ritel asal Amerika yang berdiri sejak 1962. Di China, kemudian merek ini ditiru dan berdirilah Wumart pada 1994, yang kini berkembang menjadi sekitar 430 toko dan 100 hypermarket.
Begitulah China:
Wumart meniru Walmart
OFC (Obama) meniru KFC
McDnoald's meniru McDonald's
Pizza Huh meniru Pizza Hut
Bucksstar meniru Starbucks
Harry Poller meniru Harry Porter
APad meniru iPad
HiPhone meniru iPhone
Dan masih banyak lagi
Ya, meniru. Bukan sekedar terinspirasi.
Tanpa tedeng aling-aling, China menegaskan dirinya sebagai negara 'King of Counterfeiters' atau 'Rajanya Peniru' dan sulit dituntut secara hukum, terutama di China. Dari seluruh barang dan merek yang dipalsukan dunia sepanjang 2008-2010, China memproduksi 70% tiruan tersebut. Nggak percaya? Googling aja di Yahoo, hehehe.
Apakah peniruan-peniruan itu membuat Walmart, KFC, McDonald's, Pizza Hut, Starbucks, Harry Porter, iPad, dan iPhone tenggelam? Boro-boro padam, merek-merek besar itu malah semakin bersinar. Menurut mereka, lebih baik fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi. Adalah pekerjaan sia-sia kalau berharap China bertobat terkait peniruan.
Begini. Jangan gagal panen. Eh, maksud saya, jangan gagal paham. Hehehe. Saya tidak membenarkan tindakan pemalsuan dan demikian pula bunyi hukum di berbagai negara. Namun saya setuju dengan reaksi merek-merek besar itu. Alih-alih bermental pecundang, mereka fokus pada apa-apa yang bisa mereka lakukan. Berbenah. Inovasi. Improvisasi.
Maaf, rada beda dengan kita, yang sering menyalah-nyalahkan pesaing ketika rugi atau gagal. Pembenaran mungkin menentramkan hati, namun tak pernah membawa solusi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda sudah menikah?
Punya saudara yang belum menikah?
Jones? Jomblo?
Benarkah itu jelek?
Hehehe.
Ternyata nggak juga. Sebuah studi dari Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa orang yang menjomblo bukanlah sosok kesepian seperti anggapan orang selama ini.
Anda-Anda yang jomblo pasti bersemangat sekali membaca riset ini, hehehe.
Riset tadi dihelat oleh peneliti Natalia Sarkisian dan Naomi Gerstel. Hasilnya, orang yang berstatus lajang memiliki kehidupan sosial yang lebih baik ketimbang pasangan yang telah menikah. Kok bisa?
Ya, bisa. Orang yang berstatus lajang lebih mampu bersosialisasi dengan baik terhadap teman, tetangga, orangtua, dan saudara kandung ketimbang orang seusianya yang telah menikah.
Kan mereka lebih leluasa dari segi waktu dan tidak terikat apapun. Selain itu, studi ini menemukan pula wanita dan pria yang belum menikah juga cenderung lebih mudah memberi dan menerima bantuan. Mereka tidak perlu berembuk dulu dengan siapapun. Ini sisi positifnya.
Terkait lajang alias single, sampai-sampai kemarin saya menulis status:
"MAU MENGUBAH dunia? Lakukan saja sekarang, selagi single. Ntar kalau sudah nikah, ngubah channel TV aja susah."
Hehehe, jangan terlalu serius.
Akan tetapi, para peneliti dari University of Toronto, Kanada menemukan bahwa 37 persen orang merasa takut hidup sebagai lajang alias single. Ditemukan bahwa orang yang takut melajang cenderung kurang selektif dalam memilih pasangan. Ini pun kurang baik.
Menjomblo sambil menjaga diri dan memantaskan diri adalah pilihan yang terbaik. Tak ada yang salah dengan itu. Nah, bagi Anda yang ingin menjemput jodoh dan rumahtangga yang lebih baik, ada baiknya baca buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' karya saya bareng Shamsi Ali (Imam di New York). Telah hadir di Gramedia, royalti 100% untuk sedekah.
Terus, gimana dengan falsafah 'belahan jiwa'?
Sering disebut-sebut pasangan suami istri adalah dua jiwa berbeda yang dipersatukan. Apa betul itu? Ternyata, riset genetik menunjukkan bahwa suami istri di dunia cenderung memiliki DNA yang sama. Menakjubkan. Ini menurut Ben Domingue dari University of California setelah meneliti 800 pasangan.
Bagaimana dengan belahan jiwa Anda? Sudahkah ditemukan? Kalau sudah ditemukan, sudahkan dibahagiakan?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Punya saudara yang belum menikah?
Jones? Jomblo?
Benarkah itu jelek?
Hehehe.
Ternyata nggak juga. Sebuah studi dari Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa orang yang menjomblo bukanlah sosok kesepian seperti anggapan orang selama ini.
Anda-Anda yang jomblo pasti bersemangat sekali membaca riset ini, hehehe.
Riset tadi dihelat oleh peneliti Natalia Sarkisian dan Naomi Gerstel. Hasilnya, orang yang berstatus lajang memiliki kehidupan sosial yang lebih baik ketimbang pasangan yang telah menikah. Kok bisa?
Ya, bisa. Orang yang berstatus lajang lebih mampu bersosialisasi dengan baik terhadap teman, tetangga, orangtua, dan saudara kandung ketimbang orang seusianya yang telah menikah.
Kan mereka lebih leluasa dari segi waktu dan tidak terikat apapun. Selain itu, studi ini menemukan pula wanita dan pria yang belum menikah juga cenderung lebih mudah memberi dan menerima bantuan. Mereka tidak perlu berembuk dulu dengan siapapun. Ini sisi positifnya.
Terkait lajang alias single, sampai-sampai kemarin saya menulis status:
"MAU MENGUBAH dunia? Lakukan saja sekarang, selagi single. Ntar kalau sudah nikah, ngubah channel TV aja susah."
Hehehe, jangan terlalu serius.
Akan tetapi, para peneliti dari University of Toronto, Kanada menemukan bahwa 37 persen orang merasa takut hidup sebagai lajang alias single. Ditemukan bahwa orang yang takut melajang cenderung kurang selektif dalam memilih pasangan. Ini pun kurang baik.
Menjomblo sambil menjaga diri dan memantaskan diri adalah pilihan yang terbaik. Tak ada yang salah dengan itu. Nah, bagi Anda yang ingin menjemput jodoh dan rumahtangga yang lebih baik, ada baiknya baca buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' karya saya bareng Shamsi Ali (Imam di New York). Telah hadir di Gramedia, royalti 100% untuk sedekah.
Terus, gimana dengan falsafah 'belahan jiwa'?
Sering disebut-sebut pasangan suami istri adalah dua jiwa berbeda yang dipersatukan. Apa betul itu? Ternyata, riset genetik menunjukkan bahwa suami istri di dunia cenderung memiliki DNA yang sama. Menakjubkan. Ini menurut Ben Domingue dari University of California setelah meneliti 800 pasangan.
Bagaimana dengan belahan jiwa Anda? Sudahkah ditemukan? Kalau sudah ditemukan, sudahkan dibahagiakan?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apalah arti sebuah nama?
Tersebutlah:
Desa Timbun Tulang di Kalsel.
Desa Pocong di Bangkalan.
Desa Toket di Madura.
Desa Tutup di Blora.
Desa Kebocoran di Banyumas.
Dusun Koplak di Sleman.
Hehehe...
Mungkin Anda kaget mendengar nama-nama di atas. Tapi itu beneran ada. Nyata. Nggak mengada-ngada.
Apalah arti sebuah nama? Itu kata sebagian orang. Namun tidak demikian dalam bisnis, terutama dalam marketing.
Segala image, spirit, dan visi yang akan dibangun, bermula dari sebuah nama. Sekali lagi, bermula dari sebuah nama.
Go-Jek
Net TV
Indomie
Facebook
Twitter
Jelas, mereka tidak sembarang dalam memilih nama. Apa image, spirit, dan visi mereka, tersirat dari nama mereka. Saya juga berharap Anda tidak sembarang dalam memilih nama atau merek. Entah itu dalam keluarga atau dalam bisnis.
Selain mencerminkan image, spirit, dan visi, hendaknya nama juga mudah ditulis (writable) dan mudah disebut (speakable). Kalau serba sulit, maka akan memperlambat viral di media sosial. Masih banyak syarat lainnya. Kapan-kapan kita bahas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tersebutlah:
Desa Timbun Tulang di Kalsel.
Desa Pocong di Bangkalan.
Desa Toket di Madura.
Desa Tutup di Blora.
Desa Kebocoran di Banyumas.
Dusun Koplak di Sleman.
Hehehe...
Mungkin Anda kaget mendengar nama-nama di atas. Tapi itu beneran ada. Nyata. Nggak mengada-ngada.
Apalah arti sebuah nama? Itu kata sebagian orang. Namun tidak demikian dalam bisnis, terutama dalam marketing.
Segala image, spirit, dan visi yang akan dibangun, bermula dari sebuah nama. Sekali lagi, bermula dari sebuah nama.
Go-Jek
Net TV
Indomie
Jelas, mereka tidak sembarang dalam memilih nama. Apa image, spirit, dan visi mereka, tersirat dari nama mereka. Saya juga berharap Anda tidak sembarang dalam memilih nama atau merek. Entah itu dalam keluarga atau dalam bisnis.
Selain mencerminkan image, spirit, dan visi, hendaknya nama juga mudah ditulis (writable) dan mudah disebut (speakable). Kalau serba sulit, maka akan memperlambat viral di media sosial. Masih banyak syarat lainnya. Kapan-kapan kita bahas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Miliki mental pemenang. Berusaha berpikir positif. Niscaya akan beruntung.
Alhamdulillah sejak 2010 sampai 2016, di berbagai kesempatan saya membawakan seminar 7 Keajaiban Rezeki bareng Ary Ginanjar, Syafi’i Antonio, Aa Gym, Sandiaga Uno, Tung Desem Waringin, Merry Riana, Nurhayati Subakat (pemilik Wardah), Heppy Trenggono, Habiburrahman El-Shirazy, Jamil Azzaini, dan lain-lain.
Sebagai pembicara seminar, kesempatan ini merupakan nikmat tersendiri bagi saya. Satu hal yang sering saya bahas di seminar adalah soal mental pemenang. Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka. Positif.
Misalnya saja:
- Sakit, tapi masih bisa tersenyum.
- Gagal, tapi masih bisa bahagia.
- Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.
- Miskin, tapi masih mau sedekah.
Orang rata-rata, sukses dulu, baru bisa bersyukur. Mapan dulu, baru mau sedekah. Ini kan parah. Sekiranya kita mau bersikap positif, niscaya kita akan lebih lucky alias beruntung.
Dalam karya fenomenalnya, The Luck Factor, Profesor Richard Wiseman seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire telah meneliti 400 orang yang memiliki karakter yang beruntung dan tidak beruntung, dengan berbagai jenis latar belakang.
Dalam penelitiannya bertahun-tahun ia mengungkap bahwa keberuntungan bukanlah kemampuan magis atau hasil dari pengambilan acak. Ternyata ada polanya. Apa saja polanya? Macam-macam. Salah satunya adalah berpikir dan bersikap positif.
Anda termasuk yang mana? Jadikan saja tulisan ini sebagai bahan renungan. Semoga hidup kita selalu berkah dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Alhamdulillah sejak 2010 sampai 2016, di berbagai kesempatan saya membawakan seminar 7 Keajaiban Rezeki bareng Ary Ginanjar, Syafi’i Antonio, Aa Gym, Sandiaga Uno, Tung Desem Waringin, Merry Riana, Nurhayati Subakat (pemilik Wardah), Heppy Trenggono, Habiburrahman El-Shirazy, Jamil Azzaini, dan lain-lain.
Sebagai pembicara seminar, kesempatan ini merupakan nikmat tersendiri bagi saya. Satu hal yang sering saya bahas di seminar adalah soal mental pemenang. Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka. Positif.
Misalnya saja:
- Sakit, tapi masih bisa tersenyum.
- Gagal, tapi masih bisa bahagia.
- Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.
- Miskin, tapi masih mau sedekah.
Orang rata-rata, sukses dulu, baru bisa bersyukur. Mapan dulu, baru mau sedekah. Ini kan parah. Sekiranya kita mau bersikap positif, niscaya kita akan lebih lucky alias beruntung.
Dalam karya fenomenalnya, The Luck Factor, Profesor Richard Wiseman seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire telah meneliti 400 orang yang memiliki karakter yang beruntung dan tidak beruntung, dengan berbagai jenis latar belakang.
Dalam penelitiannya bertahun-tahun ia mengungkap bahwa keberuntungan bukanlah kemampuan magis atau hasil dari pengambilan acak. Ternyata ada polanya. Apa saja polanya? Macam-macam. Salah satunya adalah berpikir dan bersikap positif.
Anda termasuk yang mana? Jadikan saja tulisan ini sebagai bahan renungan. Semoga hidup kita selalu berkah dan berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mengapa Telegram yang baru diluncurkan tahun 2014 lalu sudah kebanjiran pengguna? Itu karena Telegram punya keunggulan tersendiri berbanding Whatsapp (WA).
Apa saja keunggulan atau kelebihan Telegram? Ternyata banyak sekali.
1. Gratis selamanya.
2. Mengirim pesan lebih cepat.
3. Lebih ringan saat dioperasikan.
4. Dapat diakses dari berbagai perangkat pada saat bersamaan.
5. Berbagi file dengan ukuran lebih besar dan jenis lebih beragam.
6. Grup di Telegram bisa menampung 5.000 member. WA cuma 256.
7. Fitur Channel (Broadcasting).
8. Fitur Bot (Apa saja aktivitas di internet).
9. Lebih interaktif dan lebih humanis.
10. Lebih aman.
Adakah kelemahan Telegram? Ada.
1. belum memiliki voice call.
2. belum sepopuler WA.
Sebenarnya, perang terbuka WA terhadap Telegram telah dimulai sejak tahun lalu:
- WA untuk Android pernah memblokir tautan (link) Telegram, sehingga tidak dapat di-klik dan di-copy.
- Facebook (sebagai pemilik WA) menutup akun resmi Telegram di Facebook www.facebook.com/tlgrm.
Saran saya, ajak keluarga dan teman-teman Anda untuk meng-install Telegram. Gratis tho? Setelah itu, ajak mereka bergabung di Channel Ipphoright. Bayangkan, setiap kali mereka beroleh inspirasi positif di sini, maka itu akan menjadi amal kita sama-sama. Saya dan Anda.
Seperti yang Anda tahu, saya cuma aktif di Channel ini:
telegram.me/ipphoright
Apa saja keunggulan atau kelebihan Telegram? Ternyata banyak sekali.
1. Gratis selamanya.
2. Mengirim pesan lebih cepat.
3. Lebih ringan saat dioperasikan.
4. Dapat diakses dari berbagai perangkat pada saat bersamaan.
5. Berbagi file dengan ukuran lebih besar dan jenis lebih beragam.
6. Grup di Telegram bisa menampung 5.000 member. WA cuma 256.
7. Fitur Channel (Broadcasting).
8. Fitur Bot (Apa saja aktivitas di internet).
9. Lebih interaktif dan lebih humanis.
10. Lebih aman.
Adakah kelemahan Telegram? Ada.
1. belum memiliki voice call.
2. belum sepopuler WA.
Sebenarnya, perang terbuka WA terhadap Telegram telah dimulai sejak tahun lalu:
- WA untuk Android pernah memblokir tautan (link) Telegram, sehingga tidak dapat di-klik dan di-copy.
- Facebook (sebagai pemilik WA) menutup akun resmi Telegram di Facebook www.facebook.com/tlgrm.
Saran saya, ajak keluarga dan teman-teman Anda untuk meng-install Telegram. Gratis tho? Setelah itu, ajak mereka bergabung di Channel Ipphoright. Bayangkan, setiap kali mereka beroleh inspirasi positif di sini, maka itu akan menjadi amal kita sama-sama. Saya dan Anda.
Seperti yang Anda tahu, saya cuma aktif di Channel ini:
telegram.me/ipphoright
Bumi ini bulat atau rata?
Untuk mengetahui jawabannya secara pasti, mungkin kita perlu terbang dulu ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan. Btw, tulisan kali ini tentang terbang.
Di film Spiderman yang terbaru (Homecoming, rilis 2017), sepertinya Spiderman akan ditemani oleh Iron Man, meskipun durasinya tak lama. Mungkin ini kompensasi atas kemunculan Spiderman di film Civil War yang melagakan Captain America dan Iron Man.
Terlihat di film-film bagaimana Iron Man alias Tony Stark bisa terbang dengan baju besinya yang teramat canggih. Manusia terbang, mungkinkah itu terjadi dalam dunia nyata? Mungkin saja. Buktinya? Adalah Franky Zapata dengan Hoverboard-nya mampu terbang bagai Iron Man, meskipun Hoverboard masih kalah canggih.
Di Bali saya pernah mencoba alat semacam ini, namanya flyboard atau waterboard. Bedanya, yang saya coba itu masih ada kabel besar yang terhubung ke speedboad. Itu pun saya cuma bisa melayang-layang di atas air doang. Nggak bisa di darat.
Terlepas dari itu, guru saya pernah berwasiat, "Hiasi hari-hari kita dengan prestasi, niscaya hidup kita akan lebih berisi dan lebih bergengsi." Nah, Abbas Ibn Firnas adalah salah satu sosok yang berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Hm, Anda pernah mendengar namanya?
Abbas Ibn Firnas, seorang fisikawan dan ahli penerbangan dari abad ke-9, tercatat sebagai MANUSIA PERTAMA yang mengembangkan alat penerbangan dan berhasil terbang (sumber: National Geographic). Karena ini sangat penting, ada baiknya kalau tulisan ini Anda share.
Ya, Abbas Ibn Firnas-lah yang pertama, bukan Wright bersaudara seperti persepsi khalayak dan publikasi media selama ini. Abbas Ibn Firnas, yang dikenal juga sebagai Armen Firman, wafat pada tahun 888, karena cedera punggung akibat uji coba pesawat buatannya.
Hebatnya lagi, Abbas bukan hanya penemu pesawat terbang pertama. Ia juga ilmuwan serba bisa. Salah satunya, ia menemukan jam air yang disebut Al-Maqata. Dan masih banyak lagi. Atas berbagai kontribusinya terhadap dunia, beberapa negara menyematkan penghormatan khusus kepadanya.
Misal, Libya mengeluarkan perangko bergambar dirinya. Irak mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad. Namanya juga dipakai sebagai nama jembatan di kota asalnya, Cordoba. Nama Armen Firman sendiri menjadi nama salah satu kawah di bulan.
Ya, ia berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Sekarang, giliran kita. Tak harus seperti Tony Stark, Franky Zapata, dan Abbas Ibn Firnas. Berprestasilah di bidang kita masing-masing. Bukan untuk dikenang manusia atau dikagumi manusia, melainkan untuk menebar manfaat kepada seluas-luasnya manusia.
Ingatlah, emas dinilai dari karat. Manusia? Dinilai dari manfaat. Tak perlu kita berdebat, saya yakin Anda 100 persen sepakat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Untuk mengetahui jawabannya secara pasti, mungkin kita perlu terbang dulu ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan. Btw, tulisan kali ini tentang terbang.
Di film Spiderman yang terbaru (Homecoming, rilis 2017), sepertinya Spiderman akan ditemani oleh Iron Man, meskipun durasinya tak lama. Mungkin ini kompensasi atas kemunculan Spiderman di film Civil War yang melagakan Captain America dan Iron Man.
Terlihat di film-film bagaimana Iron Man alias Tony Stark bisa terbang dengan baju besinya yang teramat canggih. Manusia terbang, mungkinkah itu terjadi dalam dunia nyata? Mungkin saja. Buktinya? Adalah Franky Zapata dengan Hoverboard-nya mampu terbang bagai Iron Man, meskipun Hoverboard masih kalah canggih.
Di Bali saya pernah mencoba alat semacam ini, namanya flyboard atau waterboard. Bedanya, yang saya coba itu masih ada kabel besar yang terhubung ke speedboad. Itu pun saya cuma bisa melayang-layang di atas air doang. Nggak bisa di darat.
Terlepas dari itu, guru saya pernah berwasiat, "Hiasi hari-hari kita dengan prestasi, niscaya hidup kita akan lebih berisi dan lebih bergengsi." Nah, Abbas Ibn Firnas adalah salah satu sosok yang berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Hm, Anda pernah mendengar namanya?
Abbas Ibn Firnas, seorang fisikawan dan ahli penerbangan dari abad ke-9, tercatat sebagai MANUSIA PERTAMA yang mengembangkan alat penerbangan dan berhasil terbang (sumber: National Geographic). Karena ini sangat penting, ada baiknya kalau tulisan ini Anda share.
Ya, Abbas Ibn Firnas-lah yang pertama, bukan Wright bersaudara seperti persepsi khalayak dan publikasi media selama ini. Abbas Ibn Firnas, yang dikenal juga sebagai Armen Firman, wafat pada tahun 888, karena cedera punggung akibat uji coba pesawat buatannya.
Hebatnya lagi, Abbas bukan hanya penemu pesawat terbang pertama. Ia juga ilmuwan serba bisa. Salah satunya, ia menemukan jam air yang disebut Al-Maqata. Dan masih banyak lagi. Atas berbagai kontribusinya terhadap dunia, beberapa negara menyematkan penghormatan khusus kepadanya.
Misal, Libya mengeluarkan perangko bergambar dirinya. Irak mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad. Namanya juga dipakai sebagai nama jembatan di kota asalnya, Cordoba. Nama Armen Firman sendiri menjadi nama salah satu kawah di bulan.
Ya, ia berhasil menghiasi hari-harinya dengan prestasi. Sekarang, giliran kita. Tak harus seperti Tony Stark, Franky Zapata, dan Abbas Ibn Firnas. Berprestasilah di bidang kita masing-masing. Bukan untuk dikenang manusia atau dikagumi manusia, melainkan untuk menebar manfaat kepada seluas-luasnya manusia.
Ingatlah, emas dinilai dari karat. Manusia? Dinilai dari manfaat. Tak perlu kita berdebat, saya yakin Anda 100 persen sepakat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Prof Mahfud MD dulu pernah ngetwit, “Di Indonesia banyak orang Islam tapi perilakunya kurang islami. Di New Zealand hampir-hampir tidak ada orang Islam tapi perilakunya islami.” Kurang-lebih begitu bunyinya.
Twit ini merespons hasil penelitian Prof Hossein Askari yang menempatkan New Zealand sebagai negara paling islami di dunia. Artinya, nilai-nilai Islam yang universal seperti kejujuran, kesetaraan, kebersihan, pembelajaran dll diterapkan dengan sangat baik di sana.
Hasil penelitian ini juga pernah dibahas oleh Anies Baswedan, salah satu menteri kita.
Kita kadang prihatin, negeri-negeri muslim yang kaya sumber daya alam sering sekali abai dan lalai dengan ilmu. Kuliah, malas. Riset, malas. Menulis, malas. Membaca, malas. Sehingga untuk urusan riset-riset dan buku-buku, kita hampir-hampir selalu menginduk ke Barat. Padahal Islam sangat memuliakan ilmu.
Ngomong-ngomong Anda tahu:
- Siapa mentornya Soekarno?
- Siapa mentornya Tan Malaka?
- Siapa mentornya M. Natsir?
Ternyata orangnya yang sama. Siapakah orang hebat itu? Dialah HOS Tjokroaminoto, gurunya para pendiri bangsa, yang juga perintis Serikat Dagang Islam. Perihal HOS Tjokroaminoto sebagai mentor ini diingatkan kembali oleh Anies Baswedan sewaktu mengundang 20-an profesional dan motivator, salah satunya saya.
Ya, mentor itu gudangnya ilmu.
Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril. Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara mencapainya.
Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajar. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajar, namun belum pernah mencapai. Kedua-duanya perlu. Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.
Belajarlah. Cari ilmu. Cari mentor. Mudah-mudahan nasib kita membaik. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Twit ini merespons hasil penelitian Prof Hossein Askari yang menempatkan New Zealand sebagai negara paling islami di dunia. Artinya, nilai-nilai Islam yang universal seperti kejujuran, kesetaraan, kebersihan, pembelajaran dll diterapkan dengan sangat baik di sana.
Hasil penelitian ini juga pernah dibahas oleh Anies Baswedan, salah satu menteri kita.
Kita kadang prihatin, negeri-negeri muslim yang kaya sumber daya alam sering sekali abai dan lalai dengan ilmu. Kuliah, malas. Riset, malas. Menulis, malas. Membaca, malas. Sehingga untuk urusan riset-riset dan buku-buku, kita hampir-hampir selalu menginduk ke Barat. Padahal Islam sangat memuliakan ilmu.
Ngomong-ngomong Anda tahu:
- Siapa mentornya Soekarno?
- Siapa mentornya Tan Malaka?
- Siapa mentornya M. Natsir?
Ternyata orangnya yang sama. Siapakah orang hebat itu? Dialah HOS Tjokroaminoto, gurunya para pendiri bangsa, yang juga perintis Serikat Dagang Islam. Perihal HOS Tjokroaminoto sebagai mentor ini diingatkan kembali oleh Anies Baswedan sewaktu mengundang 20-an profesional dan motivator, salah satunya saya.
Ya, mentor itu gudangnya ilmu.
Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril. Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara mencapainya.
Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajar. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajar, namun belum pernah mencapai. Kedua-duanya perlu. Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.
Belajarlah. Cari ilmu. Cari mentor. Mudah-mudahan nasib kita membaik. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
Ketika ngumpul Lebaran, sang nenek yang sudah lumayan berumur menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh cucunya yang cerdas terkait suaminya dan pernikahannya. Kebetulan saat itu sang kakek berada di kebun.
Cucu: Apakah nenek merasa kakek ada kekurangannya?
Nenek: Wah, banyak sekali! Sebanyak bintang di langit! Tak sanggup ku menghitungnya!
Cucu: (Kaget) Apakah kebaikan kakek juga banyak sekali?
Nenek: Wah, sedikit sekali! Bagai matahari di langit! Semua orang tahu jumlahnya!
Cucu: (Penasaran) Lha, terus kenapa nenek sanggup hidup bersama kakek selama setengah abad dan tetap saling menyayangi?
Nenek: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit tak lagi kelihatan!
Cucu: Oo, begitu rupanya.
Hehehe. Kekurangan kadang menimbulkan kekesalan. Akan tetapi, rasa kasih-sayang menutupi segala kekesalan juga mencegah sebuah pertengkaran. Ini baru romantis namanya.
Di buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' saya dan Shamsi Ali (imam di New York) membahas soal jodoh dan pernikahan, lengkap dengan data-data ilmiah agar lebih meyakinkan. Semoga jadi solusi buat para suami, para istri, calon suami, dan calon istri. Fyi, royalty for charity.
Terakhir ingatlah, ciri pria romantis itu sedikit bicara, banyak transfer. Hehehe, nggak usah tersinggung. Banyak transfer itu bagus tho? Wong untuk berbakti, menafkahi, menggaji, belajar, dan bersedekah. Insya Allah itu mengundang berkah dan berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Cucu: Apakah nenek merasa kakek ada kekurangannya?
Nenek: Wah, banyak sekali! Sebanyak bintang di langit! Tak sanggup ku menghitungnya!
Cucu: (Kaget) Apakah kebaikan kakek juga banyak sekali?
Nenek: Wah, sedikit sekali! Bagai matahari di langit! Semua orang tahu jumlahnya!
Cucu: (Penasaran) Lha, terus kenapa nenek sanggup hidup bersama kakek selama setengah abad dan tetap saling menyayangi?
Nenek: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit tak lagi kelihatan!
Cucu: Oo, begitu rupanya.
Hehehe. Kekurangan kadang menimbulkan kekesalan. Akan tetapi, rasa kasih-sayang menutupi segala kekesalan juga mencegah sebuah pertengkaran. Ini baru romantis namanya.
Di buku 'Enteng Jodoh Enteng Rezeki' saya dan Shamsi Ali (imam di New York) membahas soal jodoh dan pernikahan, lengkap dengan data-data ilmiah agar lebih meyakinkan. Semoga jadi solusi buat para suami, para istri, calon suami, dan calon istri. Fyi, royalty for charity.
Terakhir ingatlah, ciri pria romantis itu sedikit bicara, banyak transfer. Hehehe, nggak usah tersinggung. Banyak transfer itu bagus tho? Wong untuk berbakti, menafkahi, menggaji, belajar, dan bersedekah. Insya Allah itu mengundang berkah dan berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sukses dan kaya kadang membuat orang lupa dengan sesama yang tengah kesusahan. Namun tidak begitu halnya dengan Oprah Winfrey. Saking rajinnya Oprah Winfrey membantu sesama, ratu talkshow ini mendapat gelar salah satu selebriti paling dermawan.
Selain Oprah Winfrey, ada juga novelis Nora Roberts dan aktris Meryl Streep. Bukan kebetulan, mereka sama-sama concern dengan dunia pendidikan dan berdonasi di bidang itu. Semoga kita dapat meniru yang baik-baik dari mereka.
Selanjutnya kita akan membahas orang terkaya di abad modern, bahkan ia menjadi miliarder filantropis pertama, jauh-jauh hari sebelum Bill Gates apalagi Mark Zuckerberg. Coba tebak, siapa dia?
Zaman dahulu, tumbuhnya industri telah menciptakan pemisah antara pekerja dengan pengusaha yang kala itu disebut robber baron (diartikan sebagai kapitalis perampok yang tak bermoral).
Untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, beberapa orang kaya memilih untuk menyumbangkan hampir seluruh hartanya.
Nah, tokoh yang satu ini berasal Skotlandia, yang kemudian mendirikan perusahaan baja, US Steel. Ia yakin bahwa pengusaha yang sukses secara moral wajib menyumbangkan hartanya demi membantu orang lain.
Saat meninggal di 1919, orang terkaya di abad modern ini memberikan lebih dari 90 persen hartanya. Dia membangun lebih dari 2.800 perpustakaan publik yang kini dikenal Carnegie-Mellon University di Pittsburgh, salah satu universitas riset terbaik di dunia.
Dan masih banyak lagi yang ia bangun. Siapakah dia? Dia adalah Andrew Carnegie. Anda pun semakin tertarik untuk men-share tulisan ini.
Harta yang banyak memang dapat membuat kita menyumbang lebih banyak. Akan tetapi, tak harus menjadi hartawan untuk menjadi dermawan. Berbagi atau bersedekah, kita bisa memulainya kapan saja, berapa saja, terhadap siapa saja. Ini pelajaran mendasar bagi kita semua.
Ngomong-ngomong soal sedekah:
- Matahari terbit di Timur, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
-Hukum Gravitasi, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
- Kok bisa? Karena dijanjikan berkali-kali di kitab suci. Pasti, pasti, pasti.
Lantas, gimana caranya agar kita bisa bersedekah lebih banyak dan lebih rutin? Paksa! Bisa! Terbiasa! Dalam bersedekah, kadang-kadang kita perlu begitu. Mudah-mudahan jadi kebiasaan:
Ingatlah:
- Bila dirimu tengah susah & gundah, jangan lupa #sedekah.
- Bila matamu basah & hatimu patah, segeralah sedekah.
- Bila dirimu kalah atau tak ingin kalah, perbanyak sedekah.
- Bila harimu cerah & indah, tetaplah sedekah.
- Bila kakimu melangkah & ingin mudah, segeralah sedekah.
- Bila mau rezeki berkah berlimpah, rajin-rajin sedekah.
- Bila mau ke Makkah bahkan Jannah, sering-sering sedekah.
- Bila ingin keluarga sakinah, anak soleh & solehah, ajak-ajaklah mereka #sedekah.
Kesimpulannya, sedekah itu mengundang percepatan. Lompatan. Keajaiban. Anda ragu-ragu saja, tetap dibalas. Apalagi kalau Anda yakin. Semoga kita semua menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, bahkan lifestyle. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tulisan ini boleh di-share. Setiap kali orang yang termotivasi, terinspirasi, dan bersedekah karena tulisan ini, maka kita semua akan kecipratan pahalanya. Ya, kita semua. Tertarik?
Selain Oprah Winfrey, ada juga novelis Nora Roberts dan aktris Meryl Streep. Bukan kebetulan, mereka sama-sama concern dengan dunia pendidikan dan berdonasi di bidang itu. Semoga kita dapat meniru yang baik-baik dari mereka.
Selanjutnya kita akan membahas orang terkaya di abad modern, bahkan ia menjadi miliarder filantropis pertama, jauh-jauh hari sebelum Bill Gates apalagi Mark Zuckerberg. Coba tebak, siapa dia?
Zaman dahulu, tumbuhnya industri telah menciptakan pemisah antara pekerja dengan pengusaha yang kala itu disebut robber baron (diartikan sebagai kapitalis perampok yang tak bermoral).
Untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, beberapa orang kaya memilih untuk menyumbangkan hampir seluruh hartanya.
Nah, tokoh yang satu ini berasal Skotlandia, yang kemudian mendirikan perusahaan baja, US Steel. Ia yakin bahwa pengusaha yang sukses secara moral wajib menyumbangkan hartanya demi membantu orang lain.
Saat meninggal di 1919, orang terkaya di abad modern ini memberikan lebih dari 90 persen hartanya. Dia membangun lebih dari 2.800 perpustakaan publik yang kini dikenal Carnegie-Mellon University di Pittsburgh, salah satu universitas riset terbaik di dunia.
Dan masih banyak lagi yang ia bangun. Siapakah dia? Dia adalah Andrew Carnegie. Anda pun semakin tertarik untuk men-share tulisan ini.
Harta yang banyak memang dapat membuat kita menyumbang lebih banyak. Akan tetapi, tak harus menjadi hartawan untuk menjadi dermawan. Berbagi atau bersedekah, kita bisa memulainya kapan saja, berapa saja, terhadap siapa saja. Ini pelajaran mendasar bagi kita semua.
Ngomong-ngomong soal sedekah:
- Matahari terbit di Timur, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
-Hukum Gravitasi, pastikah itu? Balasan sedekah ternyata jauh lebih pasti.
- Kok bisa? Karena dijanjikan berkali-kali di kitab suci. Pasti, pasti, pasti.
Lantas, gimana caranya agar kita bisa bersedekah lebih banyak dan lebih rutin? Paksa! Bisa! Terbiasa! Dalam bersedekah, kadang-kadang kita perlu begitu. Mudah-mudahan jadi kebiasaan:
Ingatlah:
- Bila dirimu tengah susah & gundah, jangan lupa #sedekah.
- Bila matamu basah & hatimu patah, segeralah sedekah.
- Bila dirimu kalah atau tak ingin kalah, perbanyak sedekah.
- Bila harimu cerah & indah, tetaplah sedekah.
- Bila kakimu melangkah & ingin mudah, segeralah sedekah.
- Bila mau rezeki berkah berlimpah, rajin-rajin sedekah.
- Bila mau ke Makkah bahkan Jannah, sering-sering sedekah.
- Bila ingin keluarga sakinah, anak soleh & solehah, ajak-ajaklah mereka #sedekah.
Kesimpulannya, sedekah itu mengundang percepatan. Lompatan. Keajaiban. Anda ragu-ragu saja, tetap dibalas. Apalagi kalau Anda yakin. Semoga kita semua menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, bahkan lifestyle. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tulisan ini boleh di-share. Setiap kali orang yang termotivasi, terinspirasi, dan bersedekah karena tulisan ini, maka kita semua akan kecipratan pahalanya. Ya, kita semua. Tertarik?

