GRATIS!
Saya akan membagikan buku saya plus tanda tangan untuk *lima pemenang*. Ya, untuk lima pemenang. Gratis.
Selain dapat buku, masing-masing pemenang akan mendapatkan satu British Propolis. Gratis.
Caranya? Mudah saja. Teman-teman cukup komen di IG saya ini tentang _makna bisnis_ bagi teman-teman.
Lima komen terbaik insya Allah akan dipilih sebagai pemenang. Btw, Anda boleh komen berulang untuk memperbesar kemungkinan menang.
https://www.instagram.com/p/B5hpR-mFb5e/?igshid=1ovz2uxfgpsgq
Siap?
Saya akan membagikan buku saya plus tanda tangan untuk *lima pemenang*. Ya, untuk lima pemenang. Gratis.
Selain dapat buku, masing-masing pemenang akan mendapatkan satu British Propolis. Gratis.
Caranya? Mudah saja. Teman-teman cukup komen di IG saya ini tentang _makna bisnis_ bagi teman-teman.
Lima komen terbaik insya Allah akan dipilih sebagai pemenang. Btw, Anda boleh komen berulang untuk memperbesar kemungkinan menang.
https://www.instagram.com/p/B5hpR-mFb5e/?igshid=1ovz2uxfgpsgq
Siap?
Instagram
IPPHO SANTOSA
Banyak yang heran, kok bisa mitra-mitra saya income-nya melompat 2X sampai 6X? Pertama, saya mengajak mereka untuk fokus. Saya biarkan mereka untuk memilih (bisnis A atau B). Satu kali pun saya tidak pernah memaksa mereka. Toh mereka sudah dewasa, mana bisa…
Coba lihat deh postingan saya kemarin di IG. Tentang naik income 2X lipat bahkan lebih.
Beramal ikhlas, tahu-tahu pahalanya terkikis bahkan habis.
Kok bisa? Karena kemudian ia merasa sombong, merasa berjasa, atau meremehkan orang lain. Tapi, bisa juga pahalanya berkurang karena salah dalam memilih respons.
Contohnya?
Membina. Tulus. Kemudian ia dituduh modus oleh seseorang dan ia tidak terima dengan tuduhan itu. Kesal. Kalau sudah begitu, bukan mustahil pahalanya akan berkurang.
Berbagi. Ikhlas. Kemudian ia dituduh pelit oleh seseorang dan ia tidak terima dengan tuduhan itu. Marah. Bukan mustahil pahalanya akan berkurang.
Berbakti. Sepenuh hati. Kemudian ia dituding durhaka oleh keluarganya dan ia tidak terima dengan tudingan itu. Sakit hati. Bukan mustahil pahalanya akan berkurang.
Begini. Kalau memang ridha Illahi yang dicari, mestinya kita tidak perlu terlalu pusing dengan pendapat manusia, sesinis apapun itu. Jangan terlalu dianggap.
Selanjutnya, apa saran saya? Cukuplah ingat nama-nama mereka, agar kelak kita bisa berhati-hati. Maksudnya? Begini. Sering-sering mendengar pendapat mereka, bisa melemahkan semangat kita sebagai pemula.
Ikhlas dan menuju ikhlas memang tidak mudah. Bagi saya, ini adalah perjuangan tanpa akhir. Jadi, teruslah berbuat. Teruslah beramal. Sambil kita jaga niat kita baik-baik.
Siap? 🙂
Kok bisa? Karena kemudian ia merasa sombong, merasa berjasa, atau meremehkan orang lain. Tapi, bisa juga pahalanya berkurang karena salah dalam memilih respons.
Contohnya?
Membina. Tulus. Kemudian ia dituduh modus oleh seseorang dan ia tidak terima dengan tuduhan itu. Kesal. Kalau sudah begitu, bukan mustahil pahalanya akan berkurang.
Berbagi. Ikhlas. Kemudian ia dituduh pelit oleh seseorang dan ia tidak terima dengan tuduhan itu. Marah. Bukan mustahil pahalanya akan berkurang.
Berbakti. Sepenuh hati. Kemudian ia dituding durhaka oleh keluarganya dan ia tidak terima dengan tudingan itu. Sakit hati. Bukan mustahil pahalanya akan berkurang.
Begini. Kalau memang ridha Illahi yang dicari, mestinya kita tidak perlu terlalu pusing dengan pendapat manusia, sesinis apapun itu. Jangan terlalu dianggap.
Selanjutnya, apa saran saya? Cukuplah ingat nama-nama mereka, agar kelak kita bisa berhati-hati. Maksudnya? Begini. Sering-sering mendengar pendapat mereka, bisa melemahkan semangat kita sebagai pemula.
Ikhlas dan menuju ikhlas memang tidak mudah. Bagi saya, ini adalah perjuangan tanpa akhir. Jadi, teruslah berbuat. Teruslah beramal. Sambil kita jaga niat kita baik-baik.
Siap? 🙂
Jumat 6 Desember insya Allah saya (Ippho Santosa) akan berbagi ilmu di #HalalExpoIndonesia di ICE BSD. Jam 3.30 sore. Selain saya, insya Allah ada narsum-narsum lain juga. Keren-keren semua, masya Allah. Ustadz Adi Hidayat salah satunya. Artis-artis? Ada juga. Pastikan teman-teman hadir ya bareng keluarganya. Sampai jumpa!
Sebenarnya, pasangan kita (suami kita atau istri kita) adalah orang ditakdirkan untuk memperbaiki kita sekaligus melengkapi kita. Begitu juga sebaliknya, vice versa. Percayalah, dialah yang paling tepat. Tidak ada orang lain yang lebih tepat.
Terbukti kita ditakdirkan berjodoh dan menikah dengan dia. Padahal ada miliaran manusia yang hidup di dunia ini.
Saat kita berharap pasangan untuk berubah dan membaik, yang sebenarnya perubahan dan perbaikan itu harus dimulai dari diri kita. Ya, dari diri kita. Berharap dia yang berubah duluan adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak terlalu bijak.
Satu hal lagi. Apa itu? Harus ada kesabaran. Nabi sabar menunggu para sahabat untuk berubah. Allah? Maha Sabar. Lantas, kenapa kita nggak sabar?
Kadang kita kurang sabar ketika berharap pasangan untuk berubah. Kadang kita merasa sudah relatif baik, lalu kita menuntut pasangan untuk berubah dan membaik. Hei ingat, kecepatan dan momentum orang itu berbeda-beda ketika diharapkan untuk berubah.
Jangan digegas. Jangan di-gas.
Kita boleh berharap perubahan yang cepat kalau orang itu adalah diri kita sendiri. Perlu contoh? Misal, kita pengen tahajjud dan rutin. Ya sudah, mulai malam ini juga, berlanjut malam-malam berikutnya. Tapi saat kita berharap pasangan yang rutin tahajjud-nya, yah kita mesti sabar. Jangan mendesak dia untuk memulai malam ini juga.
Sabar. Doakan. Dan mulai perubahan itu dari diri kita.
Seperti Nabi Yunus yang awalnya gagal berdakwah utk sebuah kampung. Iya, gagal. Tapi kemudian, beliau berhasil juga. Kok bisa? Krn beliau memutuskan utk bertobat dan berubah. Tepatnya, memperbaiki diri dan memantaskan diri.
Dalam mendoakan, mesti ada sikap sabar dan rasa sayang. Hadirkan itu selalu. Apalagi terhadap orang yang ditakdirkan untuk melengkapi kita, yaitu pasangan kita. Sering kali, krn kesal, kita tidak membawa 'rasa sayang' dlm mendoakan. Ini kurang tepat.
Di mana-mana, setiap perubahan perlu pendampingan. Ya, setiap perubahan. Apalagi di komunitas BP yang saya rintis, kami selalu mengedepankan konsep couple-preneur. Perlu kesabaran. Perlu baiksangka. Perlu doa yang tidak putus-putus. Pastikan kita menghadirkan itu semua, demi pasangan kita.
Siap? 🙂
Terbukti kita ditakdirkan berjodoh dan menikah dengan dia. Padahal ada miliaran manusia yang hidup di dunia ini.
Saat kita berharap pasangan untuk berubah dan membaik, yang sebenarnya perubahan dan perbaikan itu harus dimulai dari diri kita. Ya, dari diri kita. Berharap dia yang berubah duluan adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak terlalu bijak.
Satu hal lagi. Apa itu? Harus ada kesabaran. Nabi sabar menunggu para sahabat untuk berubah. Allah? Maha Sabar. Lantas, kenapa kita nggak sabar?
Kadang kita kurang sabar ketika berharap pasangan untuk berubah. Kadang kita merasa sudah relatif baik, lalu kita menuntut pasangan untuk berubah dan membaik. Hei ingat, kecepatan dan momentum orang itu berbeda-beda ketika diharapkan untuk berubah.
Jangan digegas. Jangan di-gas.
Kita boleh berharap perubahan yang cepat kalau orang itu adalah diri kita sendiri. Perlu contoh? Misal, kita pengen tahajjud dan rutin. Ya sudah, mulai malam ini juga, berlanjut malam-malam berikutnya. Tapi saat kita berharap pasangan yang rutin tahajjud-nya, yah kita mesti sabar. Jangan mendesak dia untuk memulai malam ini juga.
Sabar. Doakan. Dan mulai perubahan itu dari diri kita.
Seperti Nabi Yunus yang awalnya gagal berdakwah utk sebuah kampung. Iya, gagal. Tapi kemudian, beliau berhasil juga. Kok bisa? Krn beliau memutuskan utk bertobat dan berubah. Tepatnya, memperbaiki diri dan memantaskan diri.
Dalam mendoakan, mesti ada sikap sabar dan rasa sayang. Hadirkan itu selalu. Apalagi terhadap orang yang ditakdirkan untuk melengkapi kita, yaitu pasangan kita. Sering kali, krn kesal, kita tidak membawa 'rasa sayang' dlm mendoakan. Ini kurang tepat.
Di mana-mana, setiap perubahan perlu pendampingan. Ya, setiap perubahan. Apalagi di komunitas BP yang saya rintis, kami selalu mengedepankan konsep couple-preneur. Perlu kesabaran. Perlu baiksangka. Perlu doa yang tidak putus-putus. Pastikan kita menghadirkan itu semua, demi pasangan kita.
Siap? 🙂
Soal penafkahan, sudah jelas, itu 100% urusan dan tanggung-jawab suami. Walaupun mungkin istri itu bekerja atau berbisnis. Yang namanya tanggung-jawab tetaplah tanggung-jawab. Harus ada upaya dari suami untuk mencukupi.
Ingat, menikahi artinya menafkahi.
Kekerasan pada istri (KDRT) bukan hanya sekedar kekerasan fisik dan mental saja. Ada juga bentuk lainnya. Kekerasan finansial (kelalaian finansial) adalah salah satu kekerasan dalam rumah tangga yang sering terjadi, namun suami jarang menyadarinya.
Seperti dilansir dari Boldsky, rasa hormat istri terhadap suami bisa pelan-pelan berkurang ketika suami lalai akan tanggung-jawabnya, terutama untuk urusan kurangnya nafkah dan hadirnya masalah-masalah.
Jangan sampai istri ikut pusing karena urusan kurangnya nafkah. Apalagi sampai dibenturkan dengan masalah-masalah. Kalau hal ini terjadi berkali-kali, selama bertahun-tahun, waduh, ini sama sekali nggak sehat untuk sebuah hubungan pernikahan.
Istri yang harusnya merasa nyaman (secure) dan dilindungi (protected) oleh suami, akhirnya merasa sebaliknya. Waswas. Cemas. Kalau sudah begini, rasa hormat istri terhadap suami bisa pelan-pelan berkurang dan hilang.
Ini nggak main-main. Bahkan beberapa psikolog menilai, RASA HORMAT lebih krusial daripada RASA CINTA dalam sebuah hubungan pernikahan. Hati-hati.
Sekiranya si suami sudah bersungguh-sungguh nyari nafkah dan ternyata hasilnya nggak seberapa, saya yakin si istri juga akan memaklumi dan tetap hormat. Tapi ingat, harus ada kesungguhan. Pertanyaannya, apakah si suami sudah bersungguh-sungguh selama ini?
Think.
Ingat, menikahi artinya menafkahi.
Kekerasan pada istri (KDRT) bukan hanya sekedar kekerasan fisik dan mental saja. Ada juga bentuk lainnya. Kekerasan finansial (kelalaian finansial) adalah salah satu kekerasan dalam rumah tangga yang sering terjadi, namun suami jarang menyadarinya.
Seperti dilansir dari Boldsky, rasa hormat istri terhadap suami bisa pelan-pelan berkurang ketika suami lalai akan tanggung-jawabnya, terutama untuk urusan kurangnya nafkah dan hadirnya masalah-masalah.
Jangan sampai istri ikut pusing karena urusan kurangnya nafkah. Apalagi sampai dibenturkan dengan masalah-masalah. Kalau hal ini terjadi berkali-kali, selama bertahun-tahun, waduh, ini sama sekali nggak sehat untuk sebuah hubungan pernikahan.
Istri yang harusnya merasa nyaman (secure) dan dilindungi (protected) oleh suami, akhirnya merasa sebaliknya. Waswas. Cemas. Kalau sudah begini, rasa hormat istri terhadap suami bisa pelan-pelan berkurang dan hilang.
Ini nggak main-main. Bahkan beberapa psikolog menilai, RASA HORMAT lebih krusial daripada RASA CINTA dalam sebuah hubungan pernikahan. Hati-hati.
Sekiranya si suami sudah bersungguh-sungguh nyari nafkah dan ternyata hasilnya nggak seberapa, saya yakin si istri juga akan memaklumi dan tetap hormat. Tapi ingat, harus ada kesungguhan. Pertanyaannya, apakah si suami sudah bersungguh-sungguh selama ini?
Think.
Gratis!
Saya akan membagikan tiga e-books tentang bisnis. Awalnya satu e-book mau saya jual Rp 60 ribu.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, yah saya gratiskan saja. Niatnya mau berbagi ilmu.
Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di postingan terakhir di IG saya.
Saya akan membagikan tiga e-books tentang bisnis. Awalnya satu e-book mau saya jual Rp 60 ribu.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, yah saya gratiskan saja. Niatnya mau berbagi ilmu.
Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di postingan terakhir di IG saya.
Kadang dunia ini tidak ideal. Dalam perjalanan hidup, mungkin kita bertemu dengan orang-orang yang menzalimi kita dan menganiaya kita. Pada akhirnya, ini memancing kita untuk mendendam atau sikap-sikap negatif lainnya. Ini sebenarnya nggak baik.
Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan juga bisa merusak kesehatan. Ya, merusak kesehatan. Apa saja 3D itu? Dengki, Dongkol, Dendam.
Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Benarkah sampai seperti itu? Ya, benar.
Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.
Sekiranya kita sadar bahwa dendam itu berdampak buruk terhadap rezeki dan kesehatan kita, tentulah kita akan membuang jauh-jauh sikap negatif ini. Kita pun semakin berhati-hati karena dendam ternyata juga memberangus amal-amal alias membuat hangus amal-amal. Ngeri.
Kesimpulannya, kalau lapang hati, akan lapang rezeki. Kalau sempit hati, akan sempit rezeki. Pilih mana? Saya yakin Anda akan menjatuhkan pilihan pada sikap yang memberdayakan untuk masa depan Anda. Sekian, semoga bermanfaat.
Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan juga bisa merusak kesehatan. Ya, merusak kesehatan. Apa saja 3D itu? Dengki, Dongkol, Dendam.
Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Benarkah sampai seperti itu? Ya, benar.
Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.
Sekiranya kita sadar bahwa dendam itu berdampak buruk terhadap rezeki dan kesehatan kita, tentulah kita akan membuang jauh-jauh sikap negatif ini. Kita pun semakin berhati-hati karena dendam ternyata juga memberangus amal-amal alias membuat hangus amal-amal. Ngeri.
Kesimpulannya, kalau lapang hati, akan lapang rezeki. Kalau sempit hati, akan sempit rezeki. Pilih mana? Saya yakin Anda akan menjatuhkan pilihan pada sikap yang memberdayakan untuk masa depan Anda. Sekian, semoga bermanfaat.
Haruskah kita anti harta?
Dunia, termasuk harta, boleh dinikmati. Yang penting, jangan berlebih-lebihan dan jangan bermegah-megahan. Kali ini saya mengajak teman-teman menyimak pendapat ulamanya para ulama. Boleh? Namanya Syaikh Yusuf Qardhawi.
Beberapa tahun yang lalu, alhamdulillah saya sempat bertamu dan bertemu dengan Syaikh Yusuf Qardhawi di rumahnya. Personal, masya Allah. Ada beberapa hal yang saya tanya dan beliau jawab, di antaranya peranan harta.
Sebagai ketua para ulama di dunia untuk sekian periode, beliau mengatakan bahwa harta itu mutlak diperlukan. Ya, mutlak. Lapar, kan perlu makan. Haus, kan perlu minum. Takut, kan perlu naungan. Termasuk urusan dakwah. Jangan tabu dengan harta.
Beliau pun mengingatkan pentingnya bersedekah dengan mengutip Surat Al-Ma’un. Namun beliau juga mengingatkan bahaya bermegah-megahan dengan mengutip Surat Al-Takatsur. Masya Allah, peringatan yang berimbang!
Boleh-boleh saja menikmati dunia. Tapi dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak berlebih-lebihan, tidak bermegah-megahan.
Kurang kaya apa Umar dan Usman di zamannya? Demikian pula kekuasaannya. Tapi adakah mereka bermegah-megahan? Setahu saya, Umar dan Usman memilih gaya hidup yang sangat sederhana.
Perlu contoh konkrit?
Misal, Anda mau membeli handphone canggih seharga 10-an atau belasan juta, dengan tujuan untuk memudahkan urusan kerja. Camera-nya bagus, karena memang perlu, buat foto produk dan promosi. Memory-nya besar, karena memang perlu, buat menyimpan foto produk dan data-data penting terkait bisnis.
Boleh? Sah? Menurut saya, itu sah-sah saja. Silakan beli. Soal fungsi tho, bukan soal emosi. Tapi kalau Anda membeli handphone mahal untuk tujuan gaya-gaya saja, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Malah mendekati mubazir.
Contoh lain. Anda ingin menambah kendaraan. Cek dulu, apa tujuannya? Untuk delivery barang atau mengantar-ngantar tim. Nah, ini masih boleh. Tapi kalau Anda menambah kendaraan semata-mata untuk gonta-ganti saja atau kesenangan pribadi, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan.
Hati-hati. Kita semua paham bahwa harta halal akan dihisab. Harta haram akan diazab. Sekali lagi, hati-hati. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dunia, termasuk harta, boleh dinikmati. Yang penting, jangan berlebih-lebihan dan jangan bermegah-megahan. Kali ini saya mengajak teman-teman menyimak pendapat ulamanya para ulama. Boleh? Namanya Syaikh Yusuf Qardhawi.
Beberapa tahun yang lalu, alhamdulillah saya sempat bertamu dan bertemu dengan Syaikh Yusuf Qardhawi di rumahnya. Personal, masya Allah. Ada beberapa hal yang saya tanya dan beliau jawab, di antaranya peranan harta.
Sebagai ketua para ulama di dunia untuk sekian periode, beliau mengatakan bahwa harta itu mutlak diperlukan. Ya, mutlak. Lapar, kan perlu makan. Haus, kan perlu minum. Takut, kan perlu naungan. Termasuk urusan dakwah. Jangan tabu dengan harta.
Beliau pun mengingatkan pentingnya bersedekah dengan mengutip Surat Al-Ma’un. Namun beliau juga mengingatkan bahaya bermegah-megahan dengan mengutip Surat Al-Takatsur. Masya Allah, peringatan yang berimbang!
Boleh-boleh saja menikmati dunia. Tapi dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak berlebih-lebihan, tidak bermegah-megahan.
Kurang kaya apa Umar dan Usman di zamannya? Demikian pula kekuasaannya. Tapi adakah mereka bermegah-megahan? Setahu saya, Umar dan Usman memilih gaya hidup yang sangat sederhana.
Perlu contoh konkrit?
Misal, Anda mau membeli handphone canggih seharga 10-an atau belasan juta, dengan tujuan untuk memudahkan urusan kerja. Camera-nya bagus, karena memang perlu, buat foto produk dan promosi. Memory-nya besar, karena memang perlu, buat menyimpan foto produk dan data-data penting terkait bisnis.
Boleh? Sah? Menurut saya, itu sah-sah saja. Silakan beli. Soal fungsi tho, bukan soal emosi. Tapi kalau Anda membeli handphone mahal untuk tujuan gaya-gaya saja, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Malah mendekati mubazir.
Contoh lain. Anda ingin menambah kendaraan. Cek dulu, apa tujuannya? Untuk delivery barang atau mengantar-ngantar tim. Nah, ini masih boleh. Tapi kalau Anda menambah kendaraan semata-mata untuk gonta-ganti saja atau kesenangan pribadi, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan.
Hati-hati. Kita semua paham bahwa harta halal akan dihisab. Harta haram akan diazab. Sekali lagi, hati-hati. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bolehkah menghardik dan membentak anak? Begini. Tegas, nggak harus marah. Kalaupun harus marah (karena hal-hal prinsip), nggak perlu menghardik dan membentak.
"Memarahi anak dengan berteriak ternyata dapat merusak kepribadian mereka saat dewasa," ungkap Dr Ming-Te Wang, pemimpin penelitian dari Universitas Pittsburgh. Di mana penelitian ini dimunculkan di Journal of Child Development.
Apabila orangtua memarahi anak saat berusia 13 tahun, maka anak tersebut akan berisiko besar memiliki masalah perilaku dan masalah emosional saat dewasa. Bukan itu saja. Si anak bisa menderita depresi di usia 13 dan 14 tahun. Mereka pun cenderung berperilaku negatif di sekolah, sering berbohong, mencuri, dan berkelahi.
Dr. Ming-Te Wang menegaskan, memarahi anak dengan menghardik dan membentak BUKAN langkah yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Sama sekali nggak efektif. Tindakan tersebut justru akan berdampak buruk pada anak, kendati hubungan anak dan orangtua cukup dekat. Bahkan anak cenderung MENIRU hardikan dan bentakan yang diterimanya.
Menurut Dr. Laura Markham lulusan Columbia University, hardikan dan bentakan orangtua kepada anak akan membuat anak menutup diri secara emosional. Menurut Martin Teicher, profesor di Harvard Medical School, teriakan orangtua kepada anak akan merusak struktur otak anak.
Terkait itu, menurut Lise Eliot dari Chicago Medical School, memarahi anak dengan nada tinggi dapat mengganggu struktur otak anak. Malah pada masa pertumbuhan (golden age), suara keras dan hardikan dari orangtua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.
Sebagian kita mungkin berkilah, "Ah, nggak juga. Buktinya, aku dulu sering dibentak-bentak ibu. Toh sekarang pintar juga, IPK tiga koma sekian." Benarkah argumen ini? Padahal, mungkin saja, tanpa bentakan, ia bisa lebih pintar. Bahkan jenius!
Hal ini perlu kita bahas karena pada umumnya kita menempatkan anak dan keluarga sebagai prioritas. Ya, prioritas.
Sekiranya kita sayang sama anak-anak kita dan peduli dengan kecerdasan juga pertumbuhan mereka, baiknya kita urungkan saja niat kita untuk menghardik mereka. Sekiranya sesekali kita terpaksa marah (karena hal-hal prinsip), toh masih bisa dilakukan tanpa menghardik dan membentak. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Semoga bermanfaat.
"Memarahi anak dengan berteriak ternyata dapat merusak kepribadian mereka saat dewasa," ungkap Dr Ming-Te Wang, pemimpin penelitian dari Universitas Pittsburgh. Di mana penelitian ini dimunculkan di Journal of Child Development.
Apabila orangtua memarahi anak saat berusia 13 tahun, maka anak tersebut akan berisiko besar memiliki masalah perilaku dan masalah emosional saat dewasa. Bukan itu saja. Si anak bisa menderita depresi di usia 13 dan 14 tahun. Mereka pun cenderung berperilaku negatif di sekolah, sering berbohong, mencuri, dan berkelahi.
Dr. Ming-Te Wang menegaskan, memarahi anak dengan menghardik dan membentak BUKAN langkah yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Sama sekali nggak efektif. Tindakan tersebut justru akan berdampak buruk pada anak, kendati hubungan anak dan orangtua cukup dekat. Bahkan anak cenderung MENIRU hardikan dan bentakan yang diterimanya.
Menurut Dr. Laura Markham lulusan Columbia University, hardikan dan bentakan orangtua kepada anak akan membuat anak menutup diri secara emosional. Menurut Martin Teicher, profesor di Harvard Medical School, teriakan orangtua kepada anak akan merusak struktur otak anak.
Terkait itu, menurut Lise Eliot dari Chicago Medical School, memarahi anak dengan nada tinggi dapat mengganggu struktur otak anak. Malah pada masa pertumbuhan (golden age), suara keras dan hardikan dari orangtua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.
Sebagian kita mungkin berkilah, "Ah, nggak juga. Buktinya, aku dulu sering dibentak-bentak ibu. Toh sekarang pintar juga, IPK tiga koma sekian." Benarkah argumen ini? Padahal, mungkin saja, tanpa bentakan, ia bisa lebih pintar. Bahkan jenius!
Hal ini perlu kita bahas karena pada umumnya kita menempatkan anak dan keluarga sebagai prioritas. Ya, prioritas.
Sekiranya kita sayang sama anak-anak kita dan peduli dengan kecerdasan juga pertumbuhan mereka, baiknya kita urungkan saja niat kita untuk menghardik mereka. Sekiranya sesekali kita terpaksa marah (karena hal-hal prinsip), toh masih bisa dilakukan tanpa menghardik dan membentak. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Semoga bermanfaat.
Tetap berhemat dan hanya membeli barang-barang yang tepat, menjadi tantangan bagi mereka yang tiba-tiba 'punya uang'. Di antara mereka ada yang mendekati boros.
Bagaimanapun, boros adalah akhlak yang buruk.
Sepenting-pentingnya uang, ingat, lebih penting lagi ilmu dan akhlak di balik uang. Tanpa ilmu dan akhlak yang tepat, uang bisa menjadi bencana.
Dari dulu sampai sekarang, uang tidak pernah membawa masalah. Sekalipun tidak pernah. Yang masalah itu manusianya. Kurang ilmu, kurang pengendalian diri.
Terkait cara mencari uang, pahami dulu konsekuensi dan risikonya. Kalau memang mau bekerja, yah terimalah konsekuensinya. Uangnya (gajinya) nggak seberapa.
Kalau memang mau berbisnis, yah bersiaplah dengan segala konsekuensi dan resikonya. Bisnis mengharuskan kerja keras. Selain itu, kita harus pandai-pandai memutar uang dan menghemat uang.
Setidaknya ada tiga hal atau 'tiga i' yang dianjurkan saat kita mengelola penghasilan alias income:
- invest (putar lagi di bisnis, jadi stok)
- infaq (10% - 20% sedekahkan)
- insyaf (jangan lagi konsumtif)
Sayangnya, mereka yang tidak bertanggung-jawab cenderung menyalah-nyalahkan (blame) dan beralasan (excuse) saat keadaan tidak sesuai dengan harapan. Ini kurang bijak.
Kadang mereka mengeluh soal profit yang nggak seberapa. Padahal, profit-nya sudah lumayan. Pengendalian dirinya yang kurang. Betul apa betul?
Kadang mereka mengeluh soal produk yang sesekali indent. Padahal, produksi dari pusatnya sudah bagus. Manajemen stok di mitranya yang belum bagus.
Ada juga yang ngeluh soal nasibnya yang gitu-gitu aja. Dia lupa, ternyata infaq-nya selama ini juga gitu-gitu aja. Dan siapapun tahu, sedekah itu wasilah untuk berbagai macam perubahan.
Ya, sebagian orang tidak bertanggung-jawab dengan keputusan-keputusan yang telah diambil. Nggak serius di stok. Nggak serius di infaq. Selalu konsumtif, nggak insyaf-insyaf.
Padahal, yang namanya entrepreneur itu harus 100% bertanggung-jawab, nggak boleh menyalahkan keadaan. Pada akhirnya, daripada menyalah-nyalahkan keadaan, mari sama-sama kita berbenah. Siap?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bagaimanapun, boros adalah akhlak yang buruk.
Sepenting-pentingnya uang, ingat, lebih penting lagi ilmu dan akhlak di balik uang. Tanpa ilmu dan akhlak yang tepat, uang bisa menjadi bencana.
Dari dulu sampai sekarang, uang tidak pernah membawa masalah. Sekalipun tidak pernah. Yang masalah itu manusianya. Kurang ilmu, kurang pengendalian diri.
Terkait cara mencari uang, pahami dulu konsekuensi dan risikonya. Kalau memang mau bekerja, yah terimalah konsekuensinya. Uangnya (gajinya) nggak seberapa.
Kalau memang mau berbisnis, yah bersiaplah dengan segala konsekuensi dan resikonya. Bisnis mengharuskan kerja keras. Selain itu, kita harus pandai-pandai memutar uang dan menghemat uang.
Setidaknya ada tiga hal atau 'tiga i' yang dianjurkan saat kita mengelola penghasilan alias income:
- invest (putar lagi di bisnis, jadi stok)
- infaq (10% - 20% sedekahkan)
- insyaf (jangan lagi konsumtif)
Sayangnya, mereka yang tidak bertanggung-jawab cenderung menyalah-nyalahkan (blame) dan beralasan (excuse) saat keadaan tidak sesuai dengan harapan. Ini kurang bijak.
Kadang mereka mengeluh soal profit yang nggak seberapa. Padahal, profit-nya sudah lumayan. Pengendalian dirinya yang kurang. Betul apa betul?
Kadang mereka mengeluh soal produk yang sesekali indent. Padahal, produksi dari pusatnya sudah bagus. Manajemen stok di mitranya yang belum bagus.
Ada juga yang ngeluh soal nasibnya yang gitu-gitu aja. Dia lupa, ternyata infaq-nya selama ini juga gitu-gitu aja. Dan siapapun tahu, sedekah itu wasilah untuk berbagai macam perubahan.
Ya, sebagian orang tidak bertanggung-jawab dengan keputusan-keputusan yang telah diambil. Nggak serius di stok. Nggak serius di infaq. Selalu konsumtif, nggak insyaf-insyaf.
Padahal, yang namanya entrepreneur itu harus 100% bertanggung-jawab, nggak boleh menyalahkan keadaan. Pada akhirnya, daripada menyalah-nyalahkan keadaan, mari sama-sama kita berbenah. Siap?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kadang orang-orang muda memiliki kerancuan berpikir tentang masa muda. Bahkan ini terjadi pada orang-orang yang sudah berusia 30-an. Harus dipahami ada perbedaan nyata antara menikmati masa muda dan menghancurkan masa depan.
Sebenarnya, terdapat berbagai pilihan untuk menikmati waktu luang. Terlebih di masa muda. Nah, pastikan kita memilih kegiatan-kegiatan positif yang membawa manfaat optimal bagi diri, keluarga, dan tim kita. Toh kita sama-sama tahu, waktu jauuuuuh lebih berharga daripada uang. Right?
Rasulullah pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR Al-Bukhari). Di tulisan ini, penekanan kita pada waktu luang.
Syaikh As-Sa’di pun mengingatkan, ”Termasuk di antara keajaiban takdir dan hikmah ilahiyyah adalah sesiapa yang meninggalkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, padahal memungkinkan baginya untuk meraihnya (namun dia tidak berusaha meraihnya), maka dia akan mendapat UJIAN dengan disibukkan dalam hal-hal yang membahayakan bagi dirinya.”
Dengan kata lain, tidak sungguh-sungguh untuk hal-hal yang membawa manfaat akan menjatuhkan diri kita pada hal-hal yang membawa mudharat. Hati-hati, ini nggak main-main.
Uang itu amanah. Tapi jangan salah, waktu lebih amanah. Perlu dikelola benar-benar. Pastikan diri kita terlepas dari hal yang sia-sia, apalagi yang mudharat. Terutama kita yang sudah menjadi kepala rumahtangga, di mana tindakan kita akan dicontoh dan diteladani oleh istri juga anak-anak kita.
Tambahan lagi kalau kita pengusaha. Ya, kita punya tim dan mitra. Mereka perlu diperhatikan. Benar-benar diperhatikan. Kok kita sampai hati, begitu punya kelapangan waktu kita malah buang-buang waktu? Tim dan mitra juga mengharapkan keteladanan dari kita. Sekali lagi, keteladanan.
Ketimbang kepo-kepo di socmed (IG dan FB), lebih baik kasih komen-komen positif di socmed tim. Itu namanya motivasi. Ketimbang nonton konten-konten unfaedah di YouTube, lebih baik kasih chat positif di grup WA sama tim. Itu namanya interaksi.
Pada akhirnya, penuhi dan sesaki HARI KITA dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Otomatis kita akan menjauh dari aktivitas-aktivitas yang sia-sia. Insya Allah. Semoga tulisan ini menginspirasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sebenarnya, terdapat berbagai pilihan untuk menikmati waktu luang. Terlebih di masa muda. Nah, pastikan kita memilih kegiatan-kegiatan positif yang membawa manfaat optimal bagi diri, keluarga, dan tim kita. Toh kita sama-sama tahu, waktu jauuuuuh lebih berharga daripada uang. Right?
Rasulullah pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR Al-Bukhari). Di tulisan ini, penekanan kita pada waktu luang.
Syaikh As-Sa’di pun mengingatkan, ”Termasuk di antara keajaiban takdir dan hikmah ilahiyyah adalah sesiapa yang meninggalkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, padahal memungkinkan baginya untuk meraihnya (namun dia tidak berusaha meraihnya), maka dia akan mendapat UJIAN dengan disibukkan dalam hal-hal yang membahayakan bagi dirinya.”
Dengan kata lain, tidak sungguh-sungguh untuk hal-hal yang membawa manfaat akan menjatuhkan diri kita pada hal-hal yang membawa mudharat. Hati-hati, ini nggak main-main.
Uang itu amanah. Tapi jangan salah, waktu lebih amanah. Perlu dikelola benar-benar. Pastikan diri kita terlepas dari hal yang sia-sia, apalagi yang mudharat. Terutama kita yang sudah menjadi kepala rumahtangga, di mana tindakan kita akan dicontoh dan diteladani oleh istri juga anak-anak kita.
Tambahan lagi kalau kita pengusaha. Ya, kita punya tim dan mitra. Mereka perlu diperhatikan. Benar-benar diperhatikan. Kok kita sampai hati, begitu punya kelapangan waktu kita malah buang-buang waktu? Tim dan mitra juga mengharapkan keteladanan dari kita. Sekali lagi, keteladanan.
Ketimbang kepo-kepo di socmed (IG dan FB), lebih baik kasih komen-komen positif di socmed tim. Itu namanya motivasi. Ketimbang nonton konten-konten unfaedah di YouTube, lebih baik kasih chat positif di grup WA sama tim. Itu namanya interaksi.
Pada akhirnya, penuhi dan sesaki HARI KITA dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Otomatis kita akan menjauh dari aktivitas-aktivitas yang sia-sia. Insya Allah. Semoga tulisan ini menginspirasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Internet + Socmed + WA Chat = Money Magnet
Ya, internet jika digunakan bareng socmed dan WA chat bisa menjelma jadi magnet. Tepatnya, mesin uang. Saran saya, "Biarkan mesin uang itu bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk keluarga dan ibadah. Juga untuk liburan."
Senior-senior saya di bisnis selalu mengingatkan, "Nggak harus punya toko dan budget promosi yang besar untuk memulai bisnis. Nggak harus. Sebaliknya, cobalah kurangi penggunaan flyer, spanduk, dan salesman."
Ngelapak? Nggak harus. Buka stand? Nggak harus. Dengan mesin bernama internet dan socmed, kita bisa menghasilkan penjualan yang jauh lebih banyak dengan biaya yang jauh lebih hemat, dengan cara yang jauh lebih simple. Betul apa betul?
Belakangan ini, kekuatan media konvensional seperti spanduk, koran, dan radio kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata memang begitu, menurut saya. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai brosur, flyer, spanduk, iklan koran, dan iklan radio. Kalaupun masih ada, yah nggak sebanyak dulu lagi.
Yang saya rasakan, dengan internet dan socmed, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur. Di komunitas saya (komunitas BP), mitra-mitra dilatih untuk melakukan sosialisasi produk melalui socmed. Setelah itu, diarahkan ke WA chat. Nah, karena penawaran yang menarik dan bukti-bukti yang real, akhirnya prospek pun berubah jadi konsumen, bahkan jadi partner. Alhamdulillah.
Begitulah. Lima tahun terakhir, internet dan socmed kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.
Sudah semestinya semua pihak (mulai dari brand owner, distributor, agent, reseller, termasuk staff CS) harus belajar benar-benar soal internet dan socmed. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!
Ingat, BUKAN zaman yang kejam. BUKAN internet yang kejam. BUKAN socmed yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Saran saya, mari mempersiapkan diri. Daripada anti sama socmed, lebih baik mempelajari dan memanfaatkannya. Ready? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ya, internet jika digunakan bareng socmed dan WA chat bisa menjelma jadi magnet. Tepatnya, mesin uang. Saran saya, "Biarkan mesin uang itu bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk keluarga dan ibadah. Juga untuk liburan."
Senior-senior saya di bisnis selalu mengingatkan, "Nggak harus punya toko dan budget promosi yang besar untuk memulai bisnis. Nggak harus. Sebaliknya, cobalah kurangi penggunaan flyer, spanduk, dan salesman."
Ngelapak? Nggak harus. Buka stand? Nggak harus. Dengan mesin bernama internet dan socmed, kita bisa menghasilkan penjualan yang jauh lebih banyak dengan biaya yang jauh lebih hemat, dengan cara yang jauh lebih simple. Betul apa betul?
Belakangan ini, kekuatan media konvensional seperti spanduk, koran, dan radio kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata memang begitu, menurut saya. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai brosur, flyer, spanduk, iklan koran, dan iklan radio. Kalaupun masih ada, yah nggak sebanyak dulu lagi.
Yang saya rasakan, dengan internet dan socmed, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur. Di komunitas saya (komunitas BP), mitra-mitra dilatih untuk melakukan sosialisasi produk melalui socmed. Setelah itu, diarahkan ke WA chat. Nah, karena penawaran yang menarik dan bukti-bukti yang real, akhirnya prospek pun berubah jadi konsumen, bahkan jadi partner. Alhamdulillah.
Begitulah. Lima tahun terakhir, internet dan socmed kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.
Sudah semestinya semua pihak (mulai dari brand owner, distributor, agent, reseller, termasuk staff CS) harus belajar benar-benar soal internet dan socmed. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!
Ingat, BUKAN zaman yang kejam. BUKAN internet yang kejam. BUKAN socmed yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Saran saya, mari mempersiapkan diri. Daripada anti sama socmed, lebih baik mempelajari dan memanfaatkannya. Ready? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda bahagia?
Rekan-rekan anda bahagia?
Sebuah artikel bertajuk "16 Things Guaranteed To Make You Happy At Work" yang dimuat di Forbes menyarankan kita agar bahagia, untuk menjaga jarak dari orang-orang yang berpikiran negatif. Ya, menjaga jarak. Kenapa?
Soalnya, orang-orang yang berpikiran negatif cenderung tidak bahagia dan sering berkubang pada masalah. Sehingga gagal mencurahkan perhatian pada solusi. Repotnya lagi, mereka senang jika ada orang lain yang merasakan masalah yang sama.
Rupanya, hal itu dapat membuat mereka merasa lebih baik. Yang paling berbahaya adalah jika pengaruh negatif itu datang dari atasan (leader) yang tidak memiliki keterikatan. Ini parah.
Di BP, kita percaya bahwa leader adalah contoh alias teladan. Harus membawa pengaruh positif terhadap tim, setiap hari. Sekiranya sesekali leader keliru, kemungkinan tim masih bisa menerima dan memaafkan. Diterima, kenapa? Karena setiap hari leader itu sudah berusaha memberikan pengaruh yang positif terhadap tim.
Sebuah artikel berjudul "Being Happy At Work Matters" di Harvard Business Review memaparkan bahwa orang-orang yang tidak bahagia dan tidak memiliki keterikatan bukanlah rekan bisnis yang menyenangkan.
Lebih dari itu, mereka tidak bisa membawa nilai tambah, malahan dapat membawa pengaruh negatif terhadap bisnis. Lebih gawat lagi jika pihak yang lebih superior (leader) yang bersikap sedemikian. Disebut gawat, karena dapat mempengaruhi orang banyak.
So, hati-hati. Jangan biarkan bahagia anda direnggut oleh mereka yang berpikiran negatif dan tidak bahagia. Kalau anda bahagia, insya Allah itu akan sangat baik dampaknya buat diri anda, bisnis anda, dan keluarga anda.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rekan-rekan anda bahagia?
Sebuah artikel bertajuk "16 Things Guaranteed To Make You Happy At Work" yang dimuat di Forbes menyarankan kita agar bahagia, untuk menjaga jarak dari orang-orang yang berpikiran negatif. Ya, menjaga jarak. Kenapa?
Soalnya, orang-orang yang berpikiran negatif cenderung tidak bahagia dan sering berkubang pada masalah. Sehingga gagal mencurahkan perhatian pada solusi. Repotnya lagi, mereka senang jika ada orang lain yang merasakan masalah yang sama.
Rupanya, hal itu dapat membuat mereka merasa lebih baik. Yang paling berbahaya adalah jika pengaruh negatif itu datang dari atasan (leader) yang tidak memiliki keterikatan. Ini parah.
Di BP, kita percaya bahwa leader adalah contoh alias teladan. Harus membawa pengaruh positif terhadap tim, setiap hari. Sekiranya sesekali leader keliru, kemungkinan tim masih bisa menerima dan memaafkan. Diterima, kenapa? Karena setiap hari leader itu sudah berusaha memberikan pengaruh yang positif terhadap tim.
Sebuah artikel berjudul "Being Happy At Work Matters" di Harvard Business Review memaparkan bahwa orang-orang yang tidak bahagia dan tidak memiliki keterikatan bukanlah rekan bisnis yang menyenangkan.
Lebih dari itu, mereka tidak bisa membawa nilai tambah, malahan dapat membawa pengaruh negatif terhadap bisnis. Lebih gawat lagi jika pihak yang lebih superior (leader) yang bersikap sedemikian. Disebut gawat, karena dapat mempengaruhi orang banyak.
So, hati-hati. Jangan biarkan bahagia anda direnggut oleh mereka yang berpikiran negatif dan tidak bahagia. Kalau anda bahagia, insya Allah itu akan sangat baik dampaknya buat diri anda, bisnis anda, dan keluarga anda.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hari Ibu telah berlalu? Nggak juga. Karena pada hakekatnya, Hari Ibu itu harus diperingati, dimaknai, dan diisi setiap hari.
Cristiano Ronaldo terkenal sangat dekat dengan ibunya. Ia sempat memberikan kejutan kepada ibunya. Nggak main-main, ketika ibunya berulang tahun pada 31 Desember beberapa waktu yang lalu, Ronaldo menghadiahkan sebuah mobil Porsche Boxster berwarna putih!
Orang seperti ini mungkin disebut anak mami.
Disebut anak mami, emang napa? Yang penting, nggak manja. Satu temuan dari Grant Study, Harvard University, justru menunjukkan ‘anak mami’ memiliki potensi sukses lebih besar ketimbang mereka yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan ibunya. Nah lho!
Studi tersebut memaparkan 'anak mami' secara konsisten dan persisten mengalami peningkatan karier dan income. Sedangkan pria yang selalu bersitegang dengan ibunya, jarang mendapatkan promosi jabatan bahkan sering mandek!
Pria yang harmonis dan berbakti sama ibunya diketahui beroleh gaji bulanan yang lebih tinggi. Selain itu, risiko terjangkit dementia saat mencapai masa lansia, disinyalir sangat rendah. Keren ya, berbakti itu ternyata menyukseskan juga menyehatkan!
Btw, benarkah penelitian ini?
Grant Study adalah penelitian terkait hubungan orangtua dan anak paling lama dalam sejarah ilmu psikologi. Bermula tahun 1938 dan terus berjalan hingga puluhan tahun kemudian. Studi ini di-refresh 2 tahun sekali, dengan meneliti kehidupan 200-an mahasiswa pria di Harvard University, sewaktu mereka masih kuliah, lulus, dan bekerja.
Menurut YourTango.com pula, pria yang berlabel 'anak mami' rupa-rupanya cenderung lebih setia, lebih empati, lebih bertanggung-jawab, dan lebih menghormati wanita. Jadi, nggak usah risih disebut 'anak mami'. Hehehe. Asal nggak cengeng aja.
Di komunitas bisnis saya, kami menempatkan keluarga sebagai salah satu prioritas. Masih ingat soal 3A?
Pesan seorang senior, "Jangan takut dicemooh 'anak mami'. Pemuda yang dekat dan menghormati orang tuanya, pastilah lebih sukses." Saya sejak lama membahas ini dalam ilmu #7KeajaibanRezeki. Apa pendapat Anda? Kalau boleh, sampaikan tulisan ini kepada saudara-saudara Anda. Mengingatkan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Cristiano Ronaldo terkenal sangat dekat dengan ibunya. Ia sempat memberikan kejutan kepada ibunya. Nggak main-main, ketika ibunya berulang tahun pada 31 Desember beberapa waktu yang lalu, Ronaldo menghadiahkan sebuah mobil Porsche Boxster berwarna putih!
Orang seperti ini mungkin disebut anak mami.
Disebut anak mami, emang napa? Yang penting, nggak manja. Satu temuan dari Grant Study, Harvard University, justru menunjukkan ‘anak mami’ memiliki potensi sukses lebih besar ketimbang mereka yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan ibunya. Nah lho!
Studi tersebut memaparkan 'anak mami' secara konsisten dan persisten mengalami peningkatan karier dan income. Sedangkan pria yang selalu bersitegang dengan ibunya, jarang mendapatkan promosi jabatan bahkan sering mandek!
Pria yang harmonis dan berbakti sama ibunya diketahui beroleh gaji bulanan yang lebih tinggi. Selain itu, risiko terjangkit dementia saat mencapai masa lansia, disinyalir sangat rendah. Keren ya, berbakti itu ternyata menyukseskan juga menyehatkan!
Btw, benarkah penelitian ini?
Grant Study adalah penelitian terkait hubungan orangtua dan anak paling lama dalam sejarah ilmu psikologi. Bermula tahun 1938 dan terus berjalan hingga puluhan tahun kemudian. Studi ini di-refresh 2 tahun sekali, dengan meneliti kehidupan 200-an mahasiswa pria di Harvard University, sewaktu mereka masih kuliah, lulus, dan bekerja.
Menurut YourTango.com pula, pria yang berlabel 'anak mami' rupa-rupanya cenderung lebih setia, lebih empati, lebih bertanggung-jawab, dan lebih menghormati wanita. Jadi, nggak usah risih disebut 'anak mami'. Hehehe. Asal nggak cengeng aja.
Di komunitas bisnis saya, kami menempatkan keluarga sebagai salah satu prioritas. Masih ingat soal 3A?
Pesan seorang senior, "Jangan takut dicemooh 'anak mami'. Pemuda yang dekat dan menghormati orang tuanya, pastilah lebih sukses." Saya sejak lama membahas ini dalam ilmu #7KeajaibanRezeki. Apa pendapat Anda? Kalau boleh, sampaikan tulisan ini kepada saudara-saudara Anda. Mengingatkan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Perbesar impian kita. Di kehidupan ini, ada baiknya kita berusaha untuk mewujudkan impian orang lain. Menariknya, saat kita berusaha memikirkan dan mewujudkan impian orang lain, maka impian kita lebih mudah untuk terwujud.
Dan inilah salah satu poin yang sering saya bahas di seminar:
- Ingin maju? Majukan orang lain.
- Ingin kaya? Kayakan orang lain.
- Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
- Ingin mulia? Muliakan orang lain.
- Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
- Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.
Bukan sekedar sukses. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut sukses. Bukan sekedar kaya. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut kaya. Kurang-lebih begitu.
Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali disentuh dan diingatkan bahwa:
- Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
- Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
- Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
- Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
- Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
- Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.
Inilah yang terjadi dan selalu terjadi. Saya yakin, teman-teman setuju dan sedikit-banyak pernah mengalami.
Guru saya suatu ketika berpesan, "Pikirkan perut dan dapur orang lain. Jangan egois. Setiap kali kita memikirkan dan mengurus kepentingan orang lain, percayalah, kepentingan kita akan diurus sama Allah." Semakin hari, saya pun semakin yakin dengan kalimat tersebut. Bagaimana dengan teman-teman?
Saya berharap, setelah membaca tulisan ini, teman-teman semua tambah semangat dalam mewujudkan impian orang lain, terutama impian mitra-mitra dan orang-orang terdekatnya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dan inilah salah satu poin yang sering saya bahas di seminar:
- Ingin maju? Majukan orang lain.
- Ingin kaya? Kayakan orang lain.
- Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
- Ingin mulia? Muliakan orang lain.
- Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
- Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.
Bukan sekedar sukses. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut sukses. Bukan sekedar kaya. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut kaya. Kurang-lebih begitu.
Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali disentuh dan diingatkan bahwa:
- Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
- Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
- Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
- Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
- Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
- Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.
Inilah yang terjadi dan selalu terjadi. Saya yakin, teman-teman setuju dan sedikit-banyak pernah mengalami.
Guru saya suatu ketika berpesan, "Pikirkan perut dan dapur orang lain. Jangan egois. Setiap kali kita memikirkan dan mengurus kepentingan orang lain, percayalah, kepentingan kita akan diurus sama Allah." Semakin hari, saya pun semakin yakin dengan kalimat tersebut. Bagaimana dengan teman-teman?
Saya berharap, setelah membaca tulisan ini, teman-teman semua tambah semangat dalam mewujudkan impian orang lain, terutama impian mitra-mitra dan orang-orang terdekatnya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa persamaan mereka?
CEO Apple, Tim Cook
CEO Disney, Bob Iger
CEO Starbucks, Howard Schultz
CEO Twitter, Dan Dorsey
CEO Chrysler, Sergio Marchionne
CEO General Motors, Mary Barra
CEO Virgin America, David Cush
Founder Virgin, Richard Branson
Michelle Obama
Martha Stewart
Kris Jenner
Mereka semua ternyata gemar bangun pagi, bahkan bangun awal. Btw tulisan ini pernah saya posting beberapa minggu yang lalu dan hari ini kembali saya posting dengan sedikit tambahan. Karena memang penting.
Satu hal yang pasti, sejak lama, saya membiasakan bangun sebelum subuh. Istilahnya, bangun awal. Dan saya berharap ini menjadi tradisi juga di BP. Besar manfaatnya. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu menyusun rencana, mengevaluasi hasil, menyapa tim, mengirim VN, menulis artikel, ataupun kesibukan-kesibukan produktif lainnya.
Tubuh yang baru bangun dan lagi segar-segarnya, lalu disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan keadaan. Extra fresh! Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun awal aja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Hehehe.
Mereka yang selalu telat bangunnya (setelah subuh) kemungkinan akan sering mengeluh karena sakit-sakit yang mungkin kesannya sepele. Misalnya pening dan lemas. Tapi jangan salah. Lama-lama ini nggak sepele lagi. Bisa parah.
Hati-hati, bangun telat lama-lama bisa mengganggu metabolisme tubuh. Selain itu, bisa memicu sakit kepala berterusan karena cairan serebrospinal bergerak menuju otak. Bukan itu saja, bangun telat juga bisa memicu masalah pencernaan dan kanker hati.
Pantaslah Nabi menganjurkan kita untuk bangun awal dan bergerak, nggak diam. Karena memang itu menyehatkan, mengundang rezeki, dan mengundang keberkahan. Itu janji Nabi. Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja, bangun awal. Nggak ada ruginya! Untung malah!
Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
CEO Apple, Tim Cook
CEO Disney, Bob Iger
CEO Starbucks, Howard Schultz
CEO Twitter, Dan Dorsey
CEO Chrysler, Sergio Marchionne
CEO General Motors, Mary Barra
CEO Virgin America, David Cush
Founder Virgin, Richard Branson
Michelle Obama
Martha Stewart
Kris Jenner
Mereka semua ternyata gemar bangun pagi, bahkan bangun awal. Btw tulisan ini pernah saya posting beberapa minggu yang lalu dan hari ini kembali saya posting dengan sedikit tambahan. Karena memang penting.
Satu hal yang pasti, sejak lama, saya membiasakan bangun sebelum subuh. Istilahnya, bangun awal. Dan saya berharap ini menjadi tradisi juga di BP. Besar manfaatnya. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu menyusun rencana, mengevaluasi hasil, menyapa tim, mengirim VN, menulis artikel, ataupun kesibukan-kesibukan produktif lainnya.
Tubuh yang baru bangun dan lagi segar-segarnya, lalu disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan keadaan. Extra fresh! Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun awal aja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Hehehe.
Mereka yang selalu telat bangunnya (setelah subuh) kemungkinan akan sering mengeluh karena sakit-sakit yang mungkin kesannya sepele. Misalnya pening dan lemas. Tapi jangan salah. Lama-lama ini nggak sepele lagi. Bisa parah.
Hati-hati, bangun telat lama-lama bisa mengganggu metabolisme tubuh. Selain itu, bisa memicu sakit kepala berterusan karena cairan serebrospinal bergerak menuju otak. Bukan itu saja, bangun telat juga bisa memicu masalah pencernaan dan kanker hati.
Pantaslah Nabi menganjurkan kita untuk bangun awal dan bergerak, nggak diam. Karena memang itu menyehatkan, mengundang rezeki, dan mengundang keberkahan. Itu janji Nabi. Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja, bangun awal. Nggak ada ruginya! Untung malah!
Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Siapa yang mencari uang di keluarga Anda? Ayah, ibu, atau dua-duanya? Suami, istri, atau dua-duanya?
Entah siapa yang menempelkan stereotype, seolah-olah mencari uang itu urusan ayah dan mengasuh anak itu urusan ibu. Stereotype itu melekat sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza. Hehe.
Padahal yang namanya pengasuhan anak atau parenting adalah urusan ayah dan ibu. Ya, dua-duanya. Bahkan kalau bicara tanggung-jawab, itu adalah tanggung-jawab suami (ayah) sebagai imam (pemimpin). Sadar woy!
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
So, anak yang dekat dengan kedua orangtuanya akan relatif lebih cerdas dan lebih sehat. Sekali lagi, pengasuhan anak adalah urusan ayah dan ibu. Bukan salah satunya. Mumpung awal tahun, tidak ada salahnya kalau hal ini menjadi tumpuan perhatian kita. Soal keluarga nih.
Di komunitas BP, kami meyakini ada 3 prioritas dalam hidup, yaitu 3A:
- Allah dan Rasul
- Anak dan keluarga
- Amal jariyah
Bisnis, penting. Profit, penting. Keluarga? Jauh lebih penting. Jangan sampai salah prioritas. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Entah siapa yang menempelkan stereotype, seolah-olah mencari uang itu urusan ayah dan mengasuh anak itu urusan ibu. Stereotype itu melekat sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza. Hehe.
Padahal yang namanya pengasuhan anak atau parenting adalah urusan ayah dan ibu. Ya, dua-duanya. Bahkan kalau bicara tanggung-jawab, itu adalah tanggung-jawab suami (ayah) sebagai imam (pemimpin). Sadar woy!
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
So, anak yang dekat dengan kedua orangtuanya akan relatif lebih cerdas dan lebih sehat. Sekali lagi, pengasuhan anak adalah urusan ayah dan ibu. Bukan salah satunya. Mumpung awal tahun, tidak ada salahnya kalau hal ini menjadi tumpuan perhatian kita. Soal keluarga nih.
Di komunitas BP, kami meyakini ada 3 prioritas dalam hidup, yaitu 3A:
- Allah dan Rasul
- Anak dan keluarga
- Amal jariyah
Bisnis, penting. Profit, penting. Keluarga? Jauh lebih penting. Jangan sampai salah prioritas. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
JUJUR = MUJUR
Memiliki orangtua yang kaya memang membanggakan. Tapi dikaruniai orangtua yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya lebih membanggakan. Betul apa betul?
Kalau ngomong orangtua dan keluarga, biasanya kita selalu membahasnya dengan penuh perhatian. Bahkan sampai terharu. Begitulah, hampir semua orang membanggakan orangtuanya. Dan itu sah-sah saja karena demikian besar jasa mereka.
Didikan dari orangtua selama belasan tahun, membekas dalam hati kita, bahkan dalam tarikan nafas kita. Nggak heran kalau kemudian itu mewarnai keputusan-keputusan kita. Bahkan mempengaruhi peruntungan kita. Dan ini jamak terjadi pada siapa saja, termasuk Anda dan saya.
Sekarang, giliran kita yang menjadi orangtua, setidaknya calon orangtua. Maka bawa pulanglah rezeki yang baik-baik, yang bersih. Jangan sampai kepolosan anak-anak kita di rumah, kita kotori dengan rezeki yang tidak halal. Jangan sampai.
Ingatlah, rezeki yang halal akan mempengaruhi peruntungan anak-anak kita dan keluarga kita. Sudah banyak contohnya. Apalagi kita ingin menjadi orangtua yang benar-benar dibanggakan oleh anak-anaknya.
Menurut riset Thomas Stanley, sikap jujur adalah salah satu faktor penentu menuju kesuksesan. Jujur yah mujur. Selanjutnya, menurut riset Anita Kelly dan Lijuan Wang dari University of Notre Dame, jika ingin hidup tenang dan sehat, maka berhentilah berbohong. Ya, demikianlah faktanya!
Sukses atau tidak, terkenal atau tidak, kaya atau tidak, sudah semestinya kita berusaha menjadi orangtua yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita. Dengan apa? Dengan menjadi sosok yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya, apapun latar belakang kita. Saya yakin, Anda setuju dengan saya. Teman-teman setuju?
Pada akhirnya, saat kita jujur, anak pun akan merasa, "Aku adalah anak yang beruntung." Mujur! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Memiliki orangtua yang kaya memang membanggakan. Tapi dikaruniai orangtua yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya lebih membanggakan. Betul apa betul?
Kalau ngomong orangtua dan keluarga, biasanya kita selalu membahasnya dengan penuh perhatian. Bahkan sampai terharu. Begitulah, hampir semua orang membanggakan orangtuanya. Dan itu sah-sah saja karena demikian besar jasa mereka.
Didikan dari orangtua selama belasan tahun, membekas dalam hati kita, bahkan dalam tarikan nafas kita. Nggak heran kalau kemudian itu mewarnai keputusan-keputusan kita. Bahkan mempengaruhi peruntungan kita. Dan ini jamak terjadi pada siapa saja, termasuk Anda dan saya.
Sekarang, giliran kita yang menjadi orangtua, setidaknya calon orangtua. Maka bawa pulanglah rezeki yang baik-baik, yang bersih. Jangan sampai kepolosan anak-anak kita di rumah, kita kotori dengan rezeki yang tidak halal. Jangan sampai.
Ingatlah, rezeki yang halal akan mempengaruhi peruntungan anak-anak kita dan keluarga kita. Sudah banyak contohnya. Apalagi kita ingin menjadi orangtua yang benar-benar dibanggakan oleh anak-anaknya.
Menurut riset Thomas Stanley, sikap jujur adalah salah satu faktor penentu menuju kesuksesan. Jujur yah mujur. Selanjutnya, menurut riset Anita Kelly dan Lijuan Wang dari University of Notre Dame, jika ingin hidup tenang dan sehat, maka berhentilah berbohong. Ya, demikianlah faktanya!
Sukses atau tidak, terkenal atau tidak, kaya atau tidak, sudah semestinya kita berusaha menjadi orangtua yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita. Dengan apa? Dengan menjadi sosok yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya, apapun latar belakang kita. Saya yakin, Anda setuju dengan saya. Teman-teman setuju?
Pada akhirnya, saat kita jujur, anak pun akan merasa, "Aku adalah anak yang beruntung." Mujur! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
REZEKI PUN MENINGKAT...
Tahun 2019 yang lalu, alhamdulillah saya berkesempatan umrah bareng mitra-mitra BP. Ini pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya. Btw, apa saja keutamaan umrah? Banyak. Salah satunya, peningkatan dari segi rezeki.
Begini. Kita sedekah Rp2juta saja, terasa balasannya. Dahsyat. Hebat. Apalagi berumrah, di mana kita mengeluarkan uang Rp20juta bahkan lebih. Sampai-sampai mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarga. Betul apa betul?
Bukan karena kaya, kita berumrah. Tapi, karena berumrah, insya Allah kita akan dikayakan. Kaya, ini sih bukan tujuan. Melainkan keutamaan dan fadilah dari berumrah.
Hm, apa iya sih? Dulu, kalau nggak salah tahun 2009, ibu saya tanpa sengaja pernah bercerita tentang keinginannya untuk berumrah di bulan Ramadhan. Sebut saja, angan-angan. Tahu sendiri kan, umrah Ramadhan dua kali lipat lebih mahal daripada umrah biasa.
Saat itu saya nggak punya uang. Bener-bener nggak punya uang. Tapi alhamdulillah, saya masih punya keyakinan. Langsung saja saya sambar, "Insya Allah berangkat, Bu. Umrah Ramadhan." Ternyata, beneran. Dengan izin Allah, tahu-tahu uangnya ada dan ibu saya bisa berangkat. Surprise-nya lagi, saya pun ikut berangkat.
Sepulang umrah, masya Allah, terjadi peningkatan dari segi rezeki. Sangat banyak. Itulah yang saya alami. Dan itu pula yang terjadi pada kebanyakan orang. Mungkin juga pada Anda. So, jangan pernah kuatir uang bakal habis karena biaya umrah. Keluarkan saja. Tenang, pasti berbalas kok.
Saya pun turut mendoakan, semoga teman-teman yang belum berumrah, bisa berumrah. Segera. Aamiin. Dengan pembimbing mana saja, dengan travel mana saja. Boleh dengan saya. Boleh dengan BP. Boleh dengan yang lain. Nggak masalah. Yang penting, berangkat.
Semoga kita semua dimampukan. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tahun 2019 yang lalu, alhamdulillah saya berkesempatan umrah bareng mitra-mitra BP. Ini pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya. Btw, apa saja keutamaan umrah? Banyak. Salah satunya, peningkatan dari segi rezeki.
Begini. Kita sedekah Rp2juta saja, terasa balasannya. Dahsyat. Hebat. Apalagi berumrah, di mana kita mengeluarkan uang Rp20juta bahkan lebih. Sampai-sampai mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarga. Betul apa betul?
Bukan karena kaya, kita berumrah. Tapi, karena berumrah, insya Allah kita akan dikayakan. Kaya, ini sih bukan tujuan. Melainkan keutamaan dan fadilah dari berumrah.
Hm, apa iya sih? Dulu, kalau nggak salah tahun 2009, ibu saya tanpa sengaja pernah bercerita tentang keinginannya untuk berumrah di bulan Ramadhan. Sebut saja, angan-angan. Tahu sendiri kan, umrah Ramadhan dua kali lipat lebih mahal daripada umrah biasa.
Saat itu saya nggak punya uang. Bener-bener nggak punya uang. Tapi alhamdulillah, saya masih punya keyakinan. Langsung saja saya sambar, "Insya Allah berangkat, Bu. Umrah Ramadhan." Ternyata, beneran. Dengan izin Allah, tahu-tahu uangnya ada dan ibu saya bisa berangkat. Surprise-nya lagi, saya pun ikut berangkat.
Sepulang umrah, masya Allah, terjadi peningkatan dari segi rezeki. Sangat banyak. Itulah yang saya alami. Dan itu pula yang terjadi pada kebanyakan orang. Mungkin juga pada Anda. So, jangan pernah kuatir uang bakal habis karena biaya umrah. Keluarkan saja. Tenang, pasti berbalas kok.
Saya pun turut mendoakan, semoga teman-teman yang belum berumrah, bisa berumrah. Segera. Aamiin. Dengan pembimbing mana saja, dengan travel mana saja. Boleh dengan saya. Boleh dengan BP. Boleh dengan yang lain. Nggak masalah. Yang penting, berangkat.
Semoga kita semua dimampukan. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.