TIMPANG
Seorang rabi Yahudi, Michael Lerner, pernah meminta pemerintah Amerika Serikat turut andil dalam mewujudkan pemerintahan Palestina yang sah. Ungkapnya, "Semua manusia sama berharganya di hadapan Tuhan, termasuk rakyat Palestina dan manusia lainnya." Ini soal keadilan.
Sang rabi juga menyayangkan ketimpangan ekonomi AS di mana 1% kaum elite menguasai 80% kekayaan negara. Sekedar perbandingan, di Indonesia 1% menguasai 40%. Dengan kata lain, di Indonesia timpang, tapi di AS dua kali lebih timpang!
Bagaimana Islam menyikapi ini? Hadirnya perintah sedekah, zakat, kurban, dan wakaf adalah salah satu cara Sang Pencipta untuk mendistribusikan kekayaan. Setidaknya, bisa mendekati angka 10% di mana 10% pengusaha menguasai 90% kekayaan, seperti yang diisyaratkan oleh Nabi Muhammad.
Syukur-syukur bisa di angka 20%, di mana 20% orang yang menguasai 80% kekayaan, seperti yang diisyaratkan dalam Hukum Pareto. Semakin merata, yah semakin baik. Karena ini akan mencegah penindasan, kedengkian dan kriminalitas.
Dengan adanya sedekah, zakat, kurban, dan wakaf, mau nggak mau si kaya harus melayani orang banyak. Inilah salah satu cara dari Sang Pencipta. Jangan salah, melayani itu mulia, nggak hina.
Terus, adakah cara lainnya untuk mengentaskan ketimpangan ekonomi dan menegakkan keadilan ekonomi? Ada, yaitu dengan menghadirkan peluang usaha yang sangat mudah diakses dan dimulai oleh siapa saja. BP salah satunya insya Allah.
Terlepas dari itu, di komunitas BP setiap leader harus melayani timnya. Ya, harus melayani timnya. Ini arahan saya untuk semua leader. Dan harus berusaha keras agar timnya meraih income yang tinggi, tapi relatif merata satu sama lain. Bukankah itu spirit BP sejak awal? Profit-nya relatif adil dan relatif merata. Jangan terlalu timpang!
Sesama distributor di satu komunitas harusnya punya income yang tidak terlalu jauh berbeda. Sesama agent di satu komunitas harusnya punya income yang tidak terlalu jauh berbeda. Kalau ini benar-benar terjadi, berarti leader-nya berhasil.
Mungkin beberapa bisnis, pemerataan ini belum terjadi. Nggak apa-apa. Saya bilang ke mereka, "Mari sama-sama kita berbenah." Kalau perlu, income agent tidak terlalu jomplang dengan income distributor. Bismillah, ini pun bisa insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seorang rabi Yahudi, Michael Lerner, pernah meminta pemerintah Amerika Serikat turut andil dalam mewujudkan pemerintahan Palestina yang sah. Ungkapnya, "Semua manusia sama berharganya di hadapan Tuhan, termasuk rakyat Palestina dan manusia lainnya." Ini soal keadilan.
Sang rabi juga menyayangkan ketimpangan ekonomi AS di mana 1% kaum elite menguasai 80% kekayaan negara. Sekedar perbandingan, di Indonesia 1% menguasai 40%. Dengan kata lain, di Indonesia timpang, tapi di AS dua kali lebih timpang!
Bagaimana Islam menyikapi ini? Hadirnya perintah sedekah, zakat, kurban, dan wakaf adalah salah satu cara Sang Pencipta untuk mendistribusikan kekayaan. Setidaknya, bisa mendekati angka 10% di mana 10% pengusaha menguasai 90% kekayaan, seperti yang diisyaratkan oleh Nabi Muhammad.
Syukur-syukur bisa di angka 20%, di mana 20% orang yang menguasai 80% kekayaan, seperti yang diisyaratkan dalam Hukum Pareto. Semakin merata, yah semakin baik. Karena ini akan mencegah penindasan, kedengkian dan kriminalitas.
Dengan adanya sedekah, zakat, kurban, dan wakaf, mau nggak mau si kaya harus melayani orang banyak. Inilah salah satu cara dari Sang Pencipta. Jangan salah, melayani itu mulia, nggak hina.
Terus, adakah cara lainnya untuk mengentaskan ketimpangan ekonomi dan menegakkan keadilan ekonomi? Ada, yaitu dengan menghadirkan peluang usaha yang sangat mudah diakses dan dimulai oleh siapa saja. BP salah satunya insya Allah.
Terlepas dari itu, di komunitas BP setiap leader harus melayani timnya. Ya, harus melayani timnya. Ini arahan saya untuk semua leader. Dan harus berusaha keras agar timnya meraih income yang tinggi, tapi relatif merata satu sama lain. Bukankah itu spirit BP sejak awal? Profit-nya relatif adil dan relatif merata. Jangan terlalu timpang!
Sesama distributor di satu komunitas harusnya punya income yang tidak terlalu jauh berbeda. Sesama agent di satu komunitas harusnya punya income yang tidak terlalu jauh berbeda. Kalau ini benar-benar terjadi, berarti leader-nya berhasil.
Mungkin beberapa bisnis, pemerataan ini belum terjadi. Nggak apa-apa. Saya bilang ke mereka, "Mari sama-sama kita berbenah." Kalau perlu, income agent tidak terlalu jomplang dengan income distributor. Bismillah, ini pun bisa insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sudah punya rumah?
Begini.
Lebih baik rumah tipe 500 tapi punya sendiri, daripada rumah kecil tapi masih ngontrak. Yeee, anak SD juga tau! Hehehe. Nggak usah tersinggung, mending berdoa aja agar dimampukan. Saya turut mengaminkan. Aamiin.
Benarkah rumah, mobil, dan harta itu nggak bisa dibawa mati? Siapa bilang! Sebenarnya bisa-bisa saja. Yang ngomong nggak bisa, mungkin memang nggak punya rumah, hehehe. Jangan buru-buru melotot. Saya akan jelaskan pelan-pelan.
Contoh, Anda punya rumah tipe 500. Anda gunakan rumah itu untuk menaungi anak dan istri. Bukankah itu bagian dari ibadah, bahkan salah satu ibadah yang utama? Lalu Anda siapkan satu kamar, kalau-kalau ada tamu. Lalu, sesekali Anda adakan majelis zikir dan majelis ilmu di rumah.
Lalu, sekian lama Anda tampung sanak-keluarga yang merantau di kota Anda. Lalu, Anda punya beberapa rumah, nah dua di antaranya Anda gunakan untuk mess karyawan dan rumah tahfidz. Insya Allah itu semua jadi amal kebaikan. Kalaupun nanti diwariskan, itu juga jadi amal kebaikan. Betul apa betul?
Lha, gimana kalau belum punya rumah? Hehehe, nggak usah panik, mending pergi piknik. Diniatkan dan diikhtiarkan aja. Tipe 200? Boleh. Tipe 500? Boleh. Beberapa unit? Juga boleh. Saya turut mendoakan, semoga Anda segera memiliki rumah idaman dan itu menjadi simpul kebaikan, seumur hidup Anda bahkan setelah Anda tutup usia. Aamiin.
Di komunitas BP, mereka yang sudah berumrah, saya arahkan agar mulai men-DP rumah. Jualan, hemat-hemat, nabung-nabung. Insya Allah kalau konsisten dan persisten, akan cukup uangnya. Bisa DP rumah, bahkan beli cash. Alhamdulillah, sejauh ini sudah banyak buktinya. Bukan satu-dua orang. Yang belum punya rumah, semoga dimudahkan ya.
Begini.
Lebih baik rumah tipe 500 tapi punya sendiri, daripada rumah kecil tapi masih ngontrak. Yeee, anak SD juga tau! Hehehe. Nggak usah tersinggung, mending berdoa aja agar dimampukan. Saya turut mengaminkan. Aamiin.
Benarkah rumah, mobil, dan harta itu nggak bisa dibawa mati? Siapa bilang! Sebenarnya bisa-bisa saja. Yang ngomong nggak bisa, mungkin memang nggak punya rumah, hehehe. Jangan buru-buru melotot. Saya akan jelaskan pelan-pelan.
Contoh, Anda punya rumah tipe 500. Anda gunakan rumah itu untuk menaungi anak dan istri. Bukankah itu bagian dari ibadah, bahkan salah satu ibadah yang utama? Lalu Anda siapkan satu kamar, kalau-kalau ada tamu. Lalu, sesekali Anda adakan majelis zikir dan majelis ilmu di rumah.
Lalu, sekian lama Anda tampung sanak-keluarga yang merantau di kota Anda. Lalu, Anda punya beberapa rumah, nah dua di antaranya Anda gunakan untuk mess karyawan dan rumah tahfidz. Insya Allah itu semua jadi amal kebaikan. Kalaupun nanti diwariskan, itu juga jadi amal kebaikan. Betul apa betul?
Lha, gimana kalau belum punya rumah? Hehehe, nggak usah panik, mending pergi piknik. Diniatkan dan diikhtiarkan aja. Tipe 200? Boleh. Tipe 500? Boleh. Beberapa unit? Juga boleh. Saya turut mendoakan, semoga Anda segera memiliki rumah idaman dan itu menjadi simpul kebaikan, seumur hidup Anda bahkan setelah Anda tutup usia. Aamiin.
Di komunitas BP, mereka yang sudah berumrah, saya arahkan agar mulai men-DP rumah. Jualan, hemat-hemat, nabung-nabung. Insya Allah kalau konsisten dan persisten, akan cukup uangnya. Bisa DP rumah, bahkan beli cash. Alhamdulillah, sejauh ini sudah banyak buktinya. Bukan satu-dua orang. Yang belum punya rumah, semoga dimudahkan ya.
Sudah DIUKUR? 🤔🤔🤔
Dalam menjalankan bisnis pada tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, saya menyukai sesuatu yang terukur, terutama untuk urusan uang. Karena, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.
Kalau nggak terukur, apa yang mau ditingkatkan?
Omset, diukur.
Profit, diukur.
Zakat, diukur.
Sedekah, diukur.
Cost, diukur.
Begitulah seharusnya. Kemudian, barulah dievaluasi untuk ditingkatkan.
Action memang perlu. Berani juga perlu. Terutama untuk memulai. Tapi, untuk membesarkan, kita perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu perhitungan. Perlu analisa. Nggak bisa asal action.
Kembali soal uang, tepatnya soal income. Di komunitas BP setidaknya ada lima hal atau 'lima i' yang dianjurkan saat kita mengelola income:
- in project (alokasikan pada project, silakan konsultasi sama mentor yang kompeten)
- invest (putar lagi di bisnis, jadi stok)
- infaq (10% - 20% sedekahkan)
- insyaf (jangan lagi konsumtif)
- irit-irit alias berhemat
Kalau dirangkum dan dirangkai, jadilah 5i atau 'lima i'. Simple tapi tokcer.
Percayalah, yang sering terjadi BUKAN kurangnya uang. Tapi kurangnya ilmu pengelolaan uang. Nah 'lima i' tadi adalah ilmu dasar dalam menyikapi uang, tepatnya menyikapi income. Simple, semoga tetap bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam menjalankan bisnis pada tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, saya menyukai sesuatu yang terukur, terutama untuk urusan uang. Karena, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.
Kalau nggak terukur, apa yang mau ditingkatkan?
Omset, diukur.
Profit, diukur.
Zakat, diukur.
Sedekah, diukur.
Cost, diukur.
Begitulah seharusnya. Kemudian, barulah dievaluasi untuk ditingkatkan.
Action memang perlu. Berani juga perlu. Terutama untuk memulai. Tapi, untuk membesarkan, kita perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu perhitungan. Perlu analisa. Nggak bisa asal action.
Kembali soal uang, tepatnya soal income. Di komunitas BP setidaknya ada lima hal atau 'lima i' yang dianjurkan saat kita mengelola income:
- in project (alokasikan pada project, silakan konsultasi sama mentor yang kompeten)
- invest (putar lagi di bisnis, jadi stok)
- infaq (10% - 20% sedekahkan)
- insyaf (jangan lagi konsumtif)
- irit-irit alias berhemat
Kalau dirangkum dan dirangkai, jadilah 5i atau 'lima i'. Simple tapi tokcer.
Percayalah, yang sering terjadi BUKAN kurangnya uang. Tapi kurangnya ilmu pengelolaan uang. Nah 'lima i' tadi adalah ilmu dasar dalam menyikapi uang, tepatnya menyikapi income. Simple, semoga tetap bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Berapa UMUR Anda? Berapa lagi SISANYA? Bismillah, kali ini saya akan membahas soal harta dan prioritas.
Guru saya pernah bertanya, "Benarkah harta itu titipan? Benarkah harta itu tangan kita? Jangan-jangan sudah masuk ke hati kita." Saya pun terdiam mendengar pernyataan itu. Sejenak, saya coba merenung.
Kita bilang, harta itu titipan. TAPI begitu harta diambil, kita menyebutnya 'ujian'. Wajah kita menunjukkan kesan 'berat' dan 'derita'. Begitu asyiknya kita sama harta, sampai-sampai lupa sama prioritas.
Hei, pahami benar-benar soal 'Prioritas 3A'
- Allah dan Rasul (A1)
- Anak dan keluarga (A2)
- Amal jariyah (A3)
Bukannya nggak boleh punya harta. BOLEH. Tapi, hendaknya diarahkan ke '3A'.
Begitulah. Sudah semestinya setiap langkah yang diayunkan mengarah pada '3A' ini. Jika tidak, dapat dipastikan Anda sudah salah langkah dan salah arah. Di komunitas BP, berkali-kali saya ingatkan soal ini, terutama buat diri saya sendiri.
Hati-hati. Durasi menunjukkan prioritas. Ini sih nggak jaminan, tapi menunjukkan. Sebut saja, indikator. Mau contoh?
Begini. Anda bilang, sholat itu penting. Tapi sholat Anda lebih cepat daripada bayi berganti popok. Selalu seperti itu. Maka, ada kemungkinan sholat nggak terlalu penting bagi Anda.
Anda bilang, socmed tidak penting. Tapi Anda bermain socmed lebih lama daripada bayi yang tidur siang. Selalu seperti itu. Maka, ada kemungkinan socmed sangat penting bagi Anda.
Ya, durasi menunjukkan prioritas.
Hidup ini singkat. Betapa sering Anda bertemu teman kuliah dan begitu Anda perhatikan wajahnya baik-baik, Anda melihat garis-garis ketuaan di wajahnya. Padahal dulu Anda mengenalnya begitu energik dan begitu segar di kampus.
Ya, sekarang Anda menganggapnya telah menua. Padahal, di waktu yang sama, dia juga menganggap begitu terhadap Anda. Sama-sama terlihat menua!
Steve Jobs menjelang sekarat, barulah paham tentang satu di antara '3A'. Kita jangan sampai terlambat!
Btw, saya suka travelling. Anda juga kan? Padahal, ke manapun kita travelling, sebenarnya destinasi terakhir yang kita tuju adalah liang kubur. Ya, liang kubur.
Dengan kata lain, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, masing-masing kita setiap harinya melangkah menuju dan mendekat ke liang kubur. Itu pasti, tak ada keraguan seujung kuku pun!
Sebelumnya, saya mau bertanya. Berapa umur Anda sekarang? Saat artikel ini ditulis, umur saya sekitar 42. Misal, saya diberi jatah umur 65. Yah, ini sekedar contoh saja. Bukan mustahil sebenarnya malah lebih singkat.
Kalau umur saya sekarang 42 dan diberi jatah umur sampai 65, itu artinya 2/3 badan saya sudah masuk ke liang kubur. Tanah sudah sampai sedada saya. Tak lama lagi, tanah akan menyentuh hidung dan mulut saya.
Selang beberapa tahun, orang akan menyebut saya 'bau tanah'. Duh!
Umur Anda 30, 31, atau 32 tahun? Berarti setengah dari badan Anda sudah masuk ke liang kubur!
Pertanyaan terakhir, sudahkah bisnis Anda menjadi amal jariyah bagi Anda? Sudahkah bisnis Anda mengarahkan Anda pada 3A? Sudahkah harta berada di tangan Anda, bukan di hati Anda? Think. Selagi masih ada waktu, mari kita sama-sama berbenah. Siap?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Guru saya pernah bertanya, "Benarkah harta itu titipan? Benarkah harta itu tangan kita? Jangan-jangan sudah masuk ke hati kita." Saya pun terdiam mendengar pernyataan itu. Sejenak, saya coba merenung.
Kita bilang, harta itu titipan. TAPI begitu harta diambil, kita menyebutnya 'ujian'. Wajah kita menunjukkan kesan 'berat' dan 'derita'. Begitu asyiknya kita sama harta, sampai-sampai lupa sama prioritas.
Hei, pahami benar-benar soal 'Prioritas 3A'
- Allah dan Rasul (A1)
- Anak dan keluarga (A2)
- Amal jariyah (A3)
Bukannya nggak boleh punya harta. BOLEH. Tapi, hendaknya diarahkan ke '3A'.
Begitulah. Sudah semestinya setiap langkah yang diayunkan mengarah pada '3A' ini. Jika tidak, dapat dipastikan Anda sudah salah langkah dan salah arah. Di komunitas BP, berkali-kali saya ingatkan soal ini, terutama buat diri saya sendiri.
Hati-hati. Durasi menunjukkan prioritas. Ini sih nggak jaminan, tapi menunjukkan. Sebut saja, indikator. Mau contoh?
Begini. Anda bilang, sholat itu penting. Tapi sholat Anda lebih cepat daripada bayi berganti popok. Selalu seperti itu. Maka, ada kemungkinan sholat nggak terlalu penting bagi Anda.
Anda bilang, socmed tidak penting. Tapi Anda bermain socmed lebih lama daripada bayi yang tidur siang. Selalu seperti itu. Maka, ada kemungkinan socmed sangat penting bagi Anda.
Ya, durasi menunjukkan prioritas.
Hidup ini singkat. Betapa sering Anda bertemu teman kuliah dan begitu Anda perhatikan wajahnya baik-baik, Anda melihat garis-garis ketuaan di wajahnya. Padahal dulu Anda mengenalnya begitu energik dan begitu segar di kampus.
Ya, sekarang Anda menganggapnya telah menua. Padahal, di waktu yang sama, dia juga menganggap begitu terhadap Anda. Sama-sama terlihat menua!
Steve Jobs menjelang sekarat, barulah paham tentang satu di antara '3A'. Kita jangan sampai terlambat!
Btw, saya suka travelling. Anda juga kan? Padahal, ke manapun kita travelling, sebenarnya destinasi terakhir yang kita tuju adalah liang kubur. Ya, liang kubur.
Dengan kata lain, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, masing-masing kita setiap harinya melangkah menuju dan mendekat ke liang kubur. Itu pasti, tak ada keraguan seujung kuku pun!
Sebelumnya, saya mau bertanya. Berapa umur Anda sekarang? Saat artikel ini ditulis, umur saya sekitar 42. Misal, saya diberi jatah umur 65. Yah, ini sekedar contoh saja. Bukan mustahil sebenarnya malah lebih singkat.
Kalau umur saya sekarang 42 dan diberi jatah umur sampai 65, itu artinya 2/3 badan saya sudah masuk ke liang kubur. Tanah sudah sampai sedada saya. Tak lama lagi, tanah akan menyentuh hidung dan mulut saya.
Selang beberapa tahun, orang akan menyebut saya 'bau tanah'. Duh!
Umur Anda 30, 31, atau 32 tahun? Berarti setengah dari badan Anda sudah masuk ke liang kubur!
Pertanyaan terakhir, sudahkah bisnis Anda menjadi amal jariyah bagi Anda? Sudahkah bisnis Anda mengarahkan Anda pada 3A? Sudahkah harta berada di tangan Anda, bukan di hati Anda? Think. Selagi masih ada waktu, mari kita sama-sama berbenah. Siap?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
LAGI KURANG SEHAT?
Jatuh sakit, jatuh bangkrut, dan kecurian adalah hal-hal yang kurang menyenangkan. Kadang kita menyebutnya dengan musibah. Lantas, apa saran saya? Izinkan saya bercerita sebentar.
Hari itu saya menjenguk sahabat saya di sebuah rumah sakit. Seperti yang sudah-sudah, saya datang bersama istri. Kebiasaan saya, kalau menjenguk orang sakit selalu setel wajah cerah dan ceria. Menyebarkan optimisme.
Kalau kita setel wajah suram dan muram, itu pesan yang melemahkan bagi si sakit dan kemungkinan besar terekam oleh otak bawah sadarnya. Pesimis, efeknya. Nggak bagus.
Kepada istri si sakit, saya berusaha menuliskan pesan singkat. Di mana pesan ini saya kutip dari kata-kata guru saya, "Acapkali Allah bekerja dengan cara yang misterius. Kadang kita nggak tahu apa tujuan dan hikmahnya. Yang jelas, kita tahu bahwa Allah itu maha baik, satu kali pun TAK PERNAH zalim."
Sakit. Mungkin ini untuk menaikkan derajat. Mungkin ini untuk menggugurkan dosa.
Sambung saya, "Jadi, tugas kita adalah berbaiksangka dan bersabar. Termasuk, besar harapan. Toh kita sama-sama menyadari, Allah adalah sebaik-baik perencana. Tidak ada rencana-Nya yang sia-sia. Insya Allah semua dalam bingkai kasih dan sayang-Nya."
Hidup + Ujian = Kualitas Hidup
Dan terakhir pesan saya, "Sesayang-sayangnya kita sama pasangan kita, ternyata Allah LEBIH sayang sama dia. Jauh lebih sayang, sangat penyayang, bahkan maha penyayang. Sekali lagi, tak mungkin Allah bertindak zalim."
Berbaiksangka dan bersabar, memang ini tidak mudah. Namun tidak ada salahnya kita upayakan. Sekiranya teman-teman kita atau keluarga kita tengah sakit, teruskan pesan saya ini kepada mereka. Demikian juga mereka yang bangkrut, kecurian, dan terkena musibah.
Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, bertambah-tambah baiksangka dan sabar mereka. Aamiin. Mohon doanya untuk saya dan keluarga saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jatuh sakit, jatuh bangkrut, dan kecurian adalah hal-hal yang kurang menyenangkan. Kadang kita menyebutnya dengan musibah. Lantas, apa saran saya? Izinkan saya bercerita sebentar.
Hari itu saya menjenguk sahabat saya di sebuah rumah sakit. Seperti yang sudah-sudah, saya datang bersama istri. Kebiasaan saya, kalau menjenguk orang sakit selalu setel wajah cerah dan ceria. Menyebarkan optimisme.
Kalau kita setel wajah suram dan muram, itu pesan yang melemahkan bagi si sakit dan kemungkinan besar terekam oleh otak bawah sadarnya. Pesimis, efeknya. Nggak bagus.
Kepada istri si sakit, saya berusaha menuliskan pesan singkat. Di mana pesan ini saya kutip dari kata-kata guru saya, "Acapkali Allah bekerja dengan cara yang misterius. Kadang kita nggak tahu apa tujuan dan hikmahnya. Yang jelas, kita tahu bahwa Allah itu maha baik, satu kali pun TAK PERNAH zalim."
Sakit. Mungkin ini untuk menaikkan derajat. Mungkin ini untuk menggugurkan dosa.
Sambung saya, "Jadi, tugas kita adalah berbaiksangka dan bersabar. Termasuk, besar harapan. Toh kita sama-sama menyadari, Allah adalah sebaik-baik perencana. Tidak ada rencana-Nya yang sia-sia. Insya Allah semua dalam bingkai kasih dan sayang-Nya."
Hidup + Ujian = Kualitas Hidup
Dan terakhir pesan saya, "Sesayang-sayangnya kita sama pasangan kita, ternyata Allah LEBIH sayang sama dia. Jauh lebih sayang, sangat penyayang, bahkan maha penyayang. Sekali lagi, tak mungkin Allah bertindak zalim."
Berbaiksangka dan bersabar, memang ini tidak mudah. Namun tidak ada salahnya kita upayakan. Sekiranya teman-teman kita atau keluarga kita tengah sakit, teruskan pesan saya ini kepada mereka. Demikian juga mereka yang bangkrut, kecurian, dan terkena musibah.
Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, bertambah-tambah baiksangka dan sabar mereka. Aamiin. Mohon doanya untuk saya dan keluarga saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Massive Action, Massive Income
Manusia dikaruniai akal dan tenaga. Selain itu, manusia juga dikasih kesempatan untuk memilih dan bermimpi. Apalagi manusia juga dikasih kemampuan untuk berubah dan beradaptasi.
Ya, makhluk yang bernama manusia itu komplit, kompleks, dan hebat sekali.
Nikmat manakah yang kita dustakan? Jika kita mengingat nikmat-nikmat dari-Nya, insyaAllah kita malu untuk berkeluh-kesah, termasuk saat terlintas keinginan untuk jadi pengusaha. Pada dasarnya, setiap kita bisa jadi pengusaha.
Nggak ada modal? Jangan-jangan nggak ada kemauan. 😅
Nggak ngerti jualan? Jangan-jangan nggak mau belajar. 😅
Nggak ada waktu? Jangan-jangan nggak ngerti prioritas. 😅
Daripada ngeluh kecilnya gaji, daripada ngeluh tingginya inflasi, daripada ngeluh biaya umrah dan haji, mending coba mandiri. Bisnis sendiri. Mulai sebisanya, sambil jalan coba belajar dan beradaptasi.
Di komunitas BP, alhamdulillah kami sama-sama sudah mengalami apa itu percepatan.
Ingat. Kalau income kita lumayan, banyak hal konkrit yang bisa kita lakukan untuk keluarga, sesama, dan agama. Belum bisa? Aminkan, ikhtiarkan. Setidaknya saat ini kita harus berusaha keras mencukupi kebutuhan keluarga. Itu yang utama.
Melalui bisnis BP, saya berusaha membantu mitra-mitra:
- mereka nggak perlu pusing soal produksi, keuangan, SDM, dan legal.
- biaya operasional super-minim
- pembinaan mitra super-intens
- margin dan repeat order sangat lumayan
- produk tahan lama
Alhamdulillah, risiko dan hal-hal yang kita takutkan dalam bisnis hampir-hampir terkikis habis.
Menurut saya, untuk sukses di bisnis, yang penting kita mau belajar dan mau mencoba. So, berhentilah mengeluh. Alihkan saja energi kita untuk terus-menerus belajar dan terus-menerus mencoba. Pantang menyerah. Istilahnya, massive action. Mudah-mudahan dengan massive action, dalam waktu singkat kita bisa mencetak massive income.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Siap? 😎
Manusia dikaruniai akal dan tenaga. Selain itu, manusia juga dikasih kesempatan untuk memilih dan bermimpi. Apalagi manusia juga dikasih kemampuan untuk berubah dan beradaptasi.
Ya, makhluk yang bernama manusia itu komplit, kompleks, dan hebat sekali.
Nikmat manakah yang kita dustakan? Jika kita mengingat nikmat-nikmat dari-Nya, insyaAllah kita malu untuk berkeluh-kesah, termasuk saat terlintas keinginan untuk jadi pengusaha. Pada dasarnya, setiap kita bisa jadi pengusaha.
Nggak ada modal? Jangan-jangan nggak ada kemauan. 😅
Nggak ngerti jualan? Jangan-jangan nggak mau belajar. 😅
Nggak ada waktu? Jangan-jangan nggak ngerti prioritas. 😅
Daripada ngeluh kecilnya gaji, daripada ngeluh tingginya inflasi, daripada ngeluh biaya umrah dan haji, mending coba mandiri. Bisnis sendiri. Mulai sebisanya, sambil jalan coba belajar dan beradaptasi.
Di komunitas BP, alhamdulillah kami sama-sama sudah mengalami apa itu percepatan.
Ingat. Kalau income kita lumayan, banyak hal konkrit yang bisa kita lakukan untuk keluarga, sesama, dan agama. Belum bisa? Aminkan, ikhtiarkan. Setidaknya saat ini kita harus berusaha keras mencukupi kebutuhan keluarga. Itu yang utama.
Melalui bisnis BP, saya berusaha membantu mitra-mitra:
- mereka nggak perlu pusing soal produksi, keuangan, SDM, dan legal.
- biaya operasional super-minim
- pembinaan mitra super-intens
- margin dan repeat order sangat lumayan
- produk tahan lama
Alhamdulillah, risiko dan hal-hal yang kita takutkan dalam bisnis hampir-hampir terkikis habis.
Menurut saya, untuk sukses di bisnis, yang penting kita mau belajar dan mau mencoba. So, berhentilah mengeluh. Alihkan saja energi kita untuk terus-menerus belajar dan terus-menerus mencoba. Pantang menyerah. Istilahnya, massive action. Mudah-mudahan dengan massive action, dalam waktu singkat kita bisa mencetak massive income.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Siap? 😎
4 LAPIS YANG MENENTUKAN
Di setiap pembinaan ke mitra-mitra, panjang-lebar penjelasan yang saya berikan dan salah satunya tentang pergaulan dan lingkungan. Istilah lainnya, ekosistem. Saya percaya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem.
Bergaul dengan siapa saja, boleh. Supel. Namun soal sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Karena akan mempengaruhi akhak, amal, dan pendapatan kita. Nggak percaya? Coba ingat-ingat lagi kalimat hikmah berikut ini, "Bergaul dengan penjual wangi, dapat bau wanginya. Bergaul dengan pembakar besi, dapat bau bakarannya."
Dan menurut ilmu pengembangan diri, siapa Anda tercermin melalui lima orang sampai sepuluh orang yang terdekat dengan Anda. Nabi Muhammad pun wanti-wanti, "Kesolehan seseorang sesuai dengan kesolehan teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya,” yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.
Menariknya, sebanyak apapun teman Facebook Anda dan follower Instagram Anda, sebenarnya Anda hanya bisa memiliki lima orang teman yang benar-benar dekat dalam satu waktu. Apa iya? Iya! Pernyataan mengejutkan tersebut dibuktikan Robin Dunbar lewat penelitian antropologis.
Pada tahun 1990-an, Robin Dunbar menghelat penelitian akbar terhadap enam juta panggilan telepon dari 35 juta orang. Dia menganalisis hubungan seseorang dengan yang lainnya. Lalu, dia mencermati frekuensi menelepon satu sama lain dan mengkategorikan hubungan tersebut.
Hasilnya? Berdasarkan penelitian ini, ia mengemukakan Teori Lapisan Dunbar. Teori tersebut menyatakan bahwa manusia pada dasarnya hanya mampu membangun hubungan yang berarti dengan maksimal 150 orang dan dibagi menjadi empat lapisan.
- Lapisan pertama adalah 4 sampai 5 orang sahabat terdekat.
- Lapisan kedua yaitu 11 orang terdekat.
- Lapisan ketiga yaitu 30 orang teman.
- Lapisan keempat yaitu 129 orang teman.
Karena bagi Anda tulisan ini sangat penting, Anda boleh men-share tulisan ini. Boleh sekarang, atau nanti saja begitu Anda selesai membacanya.
Uniknya, menurut Washington Post, orang-orang pintar biasanya memiliki teman lebih sedikit. Salah satu sebabnya, seringkali pemikiran orang-orang pintar ini mengembara pada hal-hal yang sangat besar atau terkait masa depan (visioner), di mana khayalak awam lazimnya belum sanggup mengimbanginya.
Sekali lagi, terkait sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Keberadaan mereka hendaknya mengarahkan kita pada impian kita, baik impian jangka pendek (dunia) maupun impian jangka panjang (akhirat). Insya Allah ekosistem di BP sangat memperhatikan dua hal itu, impian jangka pendek dan impian jangka panjang.
Pada akhirnya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem. Insya Allah kita semua bisa menemukan bisnis yang tepat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Boleh di-share.
Di setiap pembinaan ke mitra-mitra, panjang-lebar penjelasan yang saya berikan dan salah satunya tentang pergaulan dan lingkungan. Istilah lainnya, ekosistem. Saya percaya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem.
Bergaul dengan siapa saja, boleh. Supel. Namun soal sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Karena akan mempengaruhi akhak, amal, dan pendapatan kita. Nggak percaya? Coba ingat-ingat lagi kalimat hikmah berikut ini, "Bergaul dengan penjual wangi, dapat bau wanginya. Bergaul dengan pembakar besi, dapat bau bakarannya."
Dan menurut ilmu pengembangan diri, siapa Anda tercermin melalui lima orang sampai sepuluh orang yang terdekat dengan Anda. Nabi Muhammad pun wanti-wanti, "Kesolehan seseorang sesuai dengan kesolehan teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya,” yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.
Menariknya, sebanyak apapun teman Facebook Anda dan follower Instagram Anda, sebenarnya Anda hanya bisa memiliki lima orang teman yang benar-benar dekat dalam satu waktu. Apa iya? Iya! Pernyataan mengejutkan tersebut dibuktikan Robin Dunbar lewat penelitian antropologis.
Pada tahun 1990-an, Robin Dunbar menghelat penelitian akbar terhadap enam juta panggilan telepon dari 35 juta orang. Dia menganalisis hubungan seseorang dengan yang lainnya. Lalu, dia mencermati frekuensi menelepon satu sama lain dan mengkategorikan hubungan tersebut.
Hasilnya? Berdasarkan penelitian ini, ia mengemukakan Teori Lapisan Dunbar. Teori tersebut menyatakan bahwa manusia pada dasarnya hanya mampu membangun hubungan yang berarti dengan maksimal 150 orang dan dibagi menjadi empat lapisan.
- Lapisan pertama adalah 4 sampai 5 orang sahabat terdekat.
- Lapisan kedua yaitu 11 orang terdekat.
- Lapisan ketiga yaitu 30 orang teman.
- Lapisan keempat yaitu 129 orang teman.
Karena bagi Anda tulisan ini sangat penting, Anda boleh men-share tulisan ini. Boleh sekarang, atau nanti saja begitu Anda selesai membacanya.
Uniknya, menurut Washington Post, orang-orang pintar biasanya memiliki teman lebih sedikit. Salah satu sebabnya, seringkali pemikiran orang-orang pintar ini mengembara pada hal-hal yang sangat besar atau terkait masa depan (visioner), di mana khayalak awam lazimnya belum sanggup mengimbanginya.
Sekali lagi, terkait sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Keberadaan mereka hendaknya mengarahkan kita pada impian kita, baik impian jangka pendek (dunia) maupun impian jangka panjang (akhirat). Insya Allah ekosistem di BP sangat memperhatikan dua hal itu, impian jangka pendek dan impian jangka panjang.
Pada akhirnya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem. Insya Allah kita semua bisa menemukan bisnis yang tepat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Boleh di-share.
CROWD & CASH
Facebook (FB) dan Instagram (IG) adalah dua senjata penjualan andalan kita saat ini. Boleh dibilang, FB dan IG sekarang tengah ramai-ramainya, terutama IG. Ada keunikan di sana. Apa itu?
Ibaratnya media, di FB dan IG, yang menjadi redaktur dan editornya adalah Anda. Ya, Anda. Pembacanya? Teman-teman Anda dan keluarga Anda. Mereka pun bisa me-reply. Interaktif. Di social media, begitulah cara kerjanya. Beda dengan koran biasa (koran fisik).
Orang-orang bisnis dan pemasaran mesti melek soal beginian.
Prinsip pemasaran itu kan sederhana. Di mana ada keramaian (crowd), di situlah entrepreneur dan marketer turut berada. Mendekat. Merapat. Dari sana bisa menghasilkan uang (cash). Pesan senior saya, "Mari kelola baik-baik akun Facebook dan Instagram kita. Sepertinya Facebook dan Instagram akan bertahan sangat lama dan semakin berpengaruh."
Di koran biasa, komunikasi hanya berlaku satu arah. Kalau di FB dan IG? Yah, dua arah. Interaktif.
Memiliki akun FB dan IG adalah langkah awal yang bijak. Maka aktiflah di sana. Tapi maaf, itu sama sekali tidak cukup. Kita harus belajar ilmu optimasi agar akun kita bisa muncul dan selalu muncul ketika netizen melakukan pencarian (search atau explore). Dan ini ada ilmunya. Optimasi nama ilmunya. Saat ini saya bikin training-nya hanya untuk mitra-mitra saya.
Berikut ini adalah beberapa tips IG untuk kita semua.
5 Cara Bertumbuh Secara Organik di IG
1. Posting dengan data dan kata-kata yang positif. Kalau postingan negatif, orang-orang yang positif dan potensial akan unfollow.
2. Upload setidaknya 1 postingan dan 4 story per hari. Ini menunjukkan keaktifan dan menjaga interaksi.
3. Gunakan semua fitur yang ada di IG, seperti Video, IGTV, Stickers, dan Live. Setidaknya, gunakan dua di antaranya.
4. Gunakan headline yang dominan dan mencuri perhatian. So, cukup pilih satu atau dua kata sebagai headline.
5. Tetap pada niche kita. Fokus, fokus, fokus. Jangan gonta-ganti topik, tetaplah bahas satu topik.
Siap praktek ya?
8 Alasan Kenapa Orang Unfollow Anda
1. Kurang keterlibatan (interaksi)
2. Posting yang tidak konsisten
3. Terlalu banyak posting dalam satu waktu
4. Kualitas video dan foto yang buruk
5. Postingan yang terlalu emosional
6. Posting hal dan gambar aneh
7. Tiba-tiba bicara di luar topik
8. Terlalu sering merepost
Semua hal ada ilmunya, termasuk mengelola Instagram. Semoga bermanfaat.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Facebook (FB) dan Instagram (IG) adalah dua senjata penjualan andalan kita saat ini. Boleh dibilang, FB dan IG sekarang tengah ramai-ramainya, terutama IG. Ada keunikan di sana. Apa itu?
Ibaratnya media, di FB dan IG, yang menjadi redaktur dan editornya adalah Anda. Ya, Anda. Pembacanya? Teman-teman Anda dan keluarga Anda. Mereka pun bisa me-reply. Interaktif. Di social media, begitulah cara kerjanya. Beda dengan koran biasa (koran fisik).
Orang-orang bisnis dan pemasaran mesti melek soal beginian.
Prinsip pemasaran itu kan sederhana. Di mana ada keramaian (crowd), di situlah entrepreneur dan marketer turut berada. Mendekat. Merapat. Dari sana bisa menghasilkan uang (cash). Pesan senior saya, "Mari kelola baik-baik akun Facebook dan Instagram kita. Sepertinya Facebook dan Instagram akan bertahan sangat lama dan semakin berpengaruh."
Di koran biasa, komunikasi hanya berlaku satu arah. Kalau di FB dan IG? Yah, dua arah. Interaktif.
Memiliki akun FB dan IG adalah langkah awal yang bijak. Maka aktiflah di sana. Tapi maaf, itu sama sekali tidak cukup. Kita harus belajar ilmu optimasi agar akun kita bisa muncul dan selalu muncul ketika netizen melakukan pencarian (search atau explore). Dan ini ada ilmunya. Optimasi nama ilmunya. Saat ini saya bikin training-nya hanya untuk mitra-mitra saya.
Berikut ini adalah beberapa tips IG untuk kita semua.
5 Cara Bertumbuh Secara Organik di IG
1. Posting dengan data dan kata-kata yang positif. Kalau postingan negatif, orang-orang yang positif dan potensial akan unfollow.
2. Upload setidaknya 1 postingan dan 4 story per hari. Ini menunjukkan keaktifan dan menjaga interaksi.
3. Gunakan semua fitur yang ada di IG, seperti Video, IGTV, Stickers, dan Live. Setidaknya, gunakan dua di antaranya.
4. Gunakan headline yang dominan dan mencuri perhatian. So, cukup pilih satu atau dua kata sebagai headline.
5. Tetap pada niche kita. Fokus, fokus, fokus. Jangan gonta-ganti topik, tetaplah bahas satu topik.
Siap praktek ya?
8 Alasan Kenapa Orang Unfollow Anda
1. Kurang keterlibatan (interaksi)
2. Posting yang tidak konsisten
3. Terlalu banyak posting dalam satu waktu
4. Kualitas video dan foto yang buruk
5. Postingan yang terlalu emosional
6. Posting hal dan gambar aneh
7. Tiba-tiba bicara di luar topik
8. Terlalu sering merepost
Semua hal ada ilmunya, termasuk mengelola Instagram. Semoga bermanfaat.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hadirnya masalah itu wajar.
Mana ada manusia yang lepas dari masalah?
Terus, gimana kalau ternyata ada masalah TAPI nggak ada solusinya, nggak ada jalan keluarnya? Sebelum saya jawab, silakan teman-teman baca dulu analogi-analogi berikut ini.
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa menyiapkan jawabannya?
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian melebihi kemampuan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian dengan niat menyusahkan muridnya?
TIDAK MUNGKIN...
Kalau guru saja sedemikian baik terhadap muridnya, apalagi Allah terhadap hamba-Nya. Jalan keluar pasti ada, insya Allah. Manusia pasti mampu, insya Allah. Berbesarhatilah saat menghadapi #masalah.
Sebenarnya, masalah itu membuat kita semakin matang, semakin tangguh, semakin tawakal, semakin kreatif, dan naik derajat. Ya, naik kelas. Maka, tetaplah berbesar hati. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mana ada manusia yang lepas dari masalah?
Terus, gimana kalau ternyata ada masalah TAPI nggak ada solusinya, nggak ada jalan keluarnya? Sebelum saya jawab, silakan teman-teman baca dulu analogi-analogi berikut ini.
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa menyiapkan jawabannya?
Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian melebihi kemampuan muridnya?
Mungkinkah guru memberikan ujian dengan niat menyusahkan muridnya?
TIDAK MUNGKIN...
Kalau guru saja sedemikian baik terhadap muridnya, apalagi Allah terhadap hamba-Nya. Jalan keluar pasti ada, insya Allah. Manusia pasti mampu, insya Allah. Berbesarhatilah saat menghadapi #masalah.
Sebenarnya, masalah itu membuat kita semakin matang, semakin tangguh, semakin tawakal, semakin kreatif, dan naik derajat. Ya, naik kelas. Maka, tetaplah berbesar hati. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
SEKARANG ANDA KELAS BERAPA?
Setiap kita ingin 'naik kelas'.
Yang sekarang mahasiswa, pengen jadi sarjana.
Yang sekarang nganggur, pengen jadi karyawan.
Yang sekarang staf, pengen jadi supervisor atau manajer.
Yang sekarang entrepreneur, pengen jadi miliarder.
Yang sekarang jomblo, pengen? Pengen nangis, hehehe.
Nah, begitu kita naik level, sebenarnya kadar masalah pun bertambah. Betul apa betul? Masalah yang dihadapi seorang manajer tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang staf.
Masalah yang dihadapi seorang gubernur tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang walikota. Mana mungkin berkurang? Dengan kata lain, bertambahnya kadar masalah itu sesuatu yang wajar.
Sebagai hamba-Nya mesti paham soal kadar masalah seperti ini. Jangan berharap segala sesuatu jadi lebih mudah. Lebih baik berharap dan mempersiapkan diri untuk lebih tangguh.
Setuju? 😉
Setiap kita ingin 'naik kelas'.
Yang sekarang mahasiswa, pengen jadi sarjana.
Yang sekarang nganggur, pengen jadi karyawan.
Yang sekarang staf, pengen jadi supervisor atau manajer.
Yang sekarang entrepreneur, pengen jadi miliarder.
Yang sekarang jomblo, pengen? Pengen nangis, hehehe.
Nah, begitu kita naik level, sebenarnya kadar masalah pun bertambah. Betul apa betul? Masalah yang dihadapi seorang manajer tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang staf.
Masalah yang dihadapi seorang gubernur tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang walikota. Mana mungkin berkurang? Dengan kata lain, bertambahnya kadar masalah itu sesuatu yang wajar.
Sebagai hamba-Nya mesti paham soal kadar masalah seperti ini. Jangan berharap segala sesuatu jadi lebih mudah. Lebih baik berharap dan mempersiapkan diri untuk lebih tangguh.
Setuju? 😉
Gagal? Rugi?
Berjumpa teman-teman yang mengalami itu, saya langsung mengutip kata-kata dari guru saya, "Acapkali Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Kadang kita nggak tahu apa tujuan dan hikmahnya. Yang jelas, kita tahu bahwa Dia itu maha baik, satu kali pun tak pernah bertindak zalim."
Gagal. Rugi. Bangkrut. Mungkin ini untuk membersihkan hati dan harta. Mungkin ini untuk menaikkan derajat. Mungkin ini untuk menggugurkan dosa. Mungkin ini untuk menegur kelalaian kita. Atau kemungkinan lainnya.
Sambung saya, "Jadi, tugas kita adalah berbaiksangka dan bersabar. Termasuk, besar harapan. Toh kita sama-sama menyadari, Allah adalah sebaik-baik perencana. Tidak ada rencana-Nya yang sia-sia. Insya Allah semua dalam bingkai kasih dan sayang-Nya."
Dan terakhir pesan saya, "Sesayang-sayangnya kita sama diri kita dan keluarga kita, TERNYATA Allah lebih sayang sama diri kita dan keluarga kita. Jauh lebih sayang, sangat penyayang, bahkan maha penyayang. Sekali lagi, tak mungkin Allah bertindak zalim."
Berbaiksangka dan bersabar, memang ini tidak mudah. Apalagi ketika tagihan dan utang bertumpuk. Namun tidak ada salahnya kita upayakan. Sekiranya teman-teman kita atau keluarga kita tengah jatuh, berikan tulisan saya ini kepada mereka. Mudah-mudahan setelah membaca, bertambah-tambah baiksangka dan sabar mereka.
Setelah itu? Ajak mereka berbenah. Entah itu dari segi ikhtiar, amal, maupun akhlak. Kemungkinan besar, kita bisa jatuh karena kita mengabaikan satu atau beberapa faktor terpenting. Maka, benahi itu.
Tradisi kami di komunitas BP adalah introspeksi.
Introspection + Istighfar = Improvement
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Berjumpa teman-teman yang mengalami itu, saya langsung mengutip kata-kata dari guru saya, "Acapkali Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Kadang kita nggak tahu apa tujuan dan hikmahnya. Yang jelas, kita tahu bahwa Dia itu maha baik, satu kali pun tak pernah bertindak zalim."
Gagal. Rugi. Bangkrut. Mungkin ini untuk membersihkan hati dan harta. Mungkin ini untuk menaikkan derajat. Mungkin ini untuk menggugurkan dosa. Mungkin ini untuk menegur kelalaian kita. Atau kemungkinan lainnya.
Sambung saya, "Jadi, tugas kita adalah berbaiksangka dan bersabar. Termasuk, besar harapan. Toh kita sama-sama menyadari, Allah adalah sebaik-baik perencana. Tidak ada rencana-Nya yang sia-sia. Insya Allah semua dalam bingkai kasih dan sayang-Nya."
Dan terakhir pesan saya, "Sesayang-sayangnya kita sama diri kita dan keluarga kita, TERNYATA Allah lebih sayang sama diri kita dan keluarga kita. Jauh lebih sayang, sangat penyayang, bahkan maha penyayang. Sekali lagi, tak mungkin Allah bertindak zalim."
Berbaiksangka dan bersabar, memang ini tidak mudah. Apalagi ketika tagihan dan utang bertumpuk. Namun tidak ada salahnya kita upayakan. Sekiranya teman-teman kita atau keluarga kita tengah jatuh, berikan tulisan saya ini kepada mereka. Mudah-mudahan setelah membaca, bertambah-tambah baiksangka dan sabar mereka.
Setelah itu? Ajak mereka berbenah. Entah itu dari segi ikhtiar, amal, maupun akhlak. Kemungkinan besar, kita bisa jatuh karena kita mengabaikan satu atau beberapa faktor terpenting. Maka, benahi itu.
Tradisi kami di komunitas BP adalah introspeksi.
Introspection + Istighfar = Improvement
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Saya pengusaha, alhamdulillah.
Tidak cukup sampai di situ. Saya juga ingin mencetak dan menghadirkan pengusaha yang lebih banyak lagi di negeri ini.
Bukan sekedar wacana, tapi sudah saya konkritkan selama 12 tahun terakhir dengan membangun TK, SD, dan kampus di berbagai kota dengan visi entrepreneurship.
Karena itu pula, ketika saya punya produk suplemen dan laris, saya tetap komitmen untuk TIDAK MASUK ke toko-toko besar walaupun mereka memiliki jaringan nasional.
Saya lebih memilih cara kemitraan. Open reseller. Buka keagenan.
Kenapa? Dengan cara ini, saya percaya akan lebih banyak pengusaha yang dihadirkan dan lebih banyak keluarga yang benar-benar terbantu. Alhamdulillah, itulah yang terjadi 2 tahun terakhir.
Dari segi modal, saya bikin sangat terjangkau. Pembinaan? Setiap hari. Training? Hampir-hampir setiap hari. Soalnya saya tahu persis, kebanyakan mereka adalah pemula. Perlu dibina. Benar-benar dibina.
Lebih capek? Lebih menghabiskan waktu? Mungkin. Tapi demi Allah, saya lebih bahagia.
Doakan saya ya, semoga istiqomah dalam membina mitra-mitra.
Tidak cukup sampai di situ. Saya juga ingin mencetak dan menghadirkan pengusaha yang lebih banyak lagi di negeri ini.
Bukan sekedar wacana, tapi sudah saya konkritkan selama 12 tahun terakhir dengan membangun TK, SD, dan kampus di berbagai kota dengan visi entrepreneurship.
Karena itu pula, ketika saya punya produk suplemen dan laris, saya tetap komitmen untuk TIDAK MASUK ke toko-toko besar walaupun mereka memiliki jaringan nasional.
Saya lebih memilih cara kemitraan. Open reseller. Buka keagenan.
Kenapa? Dengan cara ini, saya percaya akan lebih banyak pengusaha yang dihadirkan dan lebih banyak keluarga yang benar-benar terbantu. Alhamdulillah, itulah yang terjadi 2 tahun terakhir.
Dari segi modal, saya bikin sangat terjangkau. Pembinaan? Setiap hari. Training? Hampir-hampir setiap hari. Soalnya saya tahu persis, kebanyakan mereka adalah pemula. Perlu dibina. Benar-benar dibina.
Lebih capek? Lebih menghabiskan waktu? Mungkin. Tapi demi Allah, saya lebih bahagia.
Doakan saya ya, semoga istiqomah dalam membina mitra-mitra.
Saya penasaran...
Sekiranya saya (Ippho Santosa) menawarkan kesempatan untuk konsultasi bisnis atau mentoring bisnis langsung dengan saya, kira-kira berapa orang ya yang berminat?
Mungkin secara online. Mungkin secara offline.
Bagi teman-teman yang kira-kira ingin konsultasi bisnis dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100.
Sekiranya saya (Ippho Santosa) menawarkan kesempatan untuk konsultasi bisnis atau mentoring bisnis langsung dengan saya, kira-kira berapa orang ya yang berminat?
Mungkin secara online. Mungkin secara offline.
Bagi teman-teman yang kira-kira ingin konsultasi bisnis dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100.
STRESS
Pelapor: "Pak Polisi, saya mau lapor. Saya ini distributor. Dan sekarang saya lagi stress."
Polisi: "Stress? Kenapa?"
Pelapor: "Ada dua calon mitra berantem, ngerebutin saya."
Polisi: "Lalu, masalahnya apa?"
Pelapor: "Sepertinya yang bakal menang yang kere, Pak."
🤣🤣🤣
Btw, apapun posisi dan prestasi kita, tak bisa lepas dari stress.
Faktanya, orang miskin yang stress lebih cepat meninggal ketimbang orang kaya yang stress. "Efek kemiskinan ditambah efek stress itu ibarat bom," kata Antonio Ivan Lazzarino, peneliti dari University College London, Inggris.
Profesor Glyn Lewis, pakar epidemiologi psikiatri di Universitas Bristol di Inggris, tidak terkejut dengan temuan tersebut. Karena memang ini lazim terjadi. Terus, gimana solusinya?
Saran saya, harus dicari tahu dulu akar permasalahannya. Jalan-jalan dan liburan hanya bisa memberi kesenangan sesaat. Solusi sejati tidak bisa terhadirkan dari aktivitas-aktivitas tersebut.
Saran berikutnya, minta masukan dari pasangan dan mentor. Hei, ini penting. Sepertinya mereka memiliki pandangan yang lebih jernih terhadap masalah kita. Juga lebih jujur.
Terakhir, bawa setiap masalah dalam doa dan ibadah. Kita semua tahu, hanya DIA yang menggenggam segala solusi. Hanya DIA pula yang bisa menentramkan setiap hati.
Dengan begitu, mudah-mudahan kita, tim kita, dan keluarga kita terbebas dari masalah. Kalaupun ada masalah, nggak sampai stress insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pelapor: "Pak Polisi, saya mau lapor. Saya ini distributor. Dan sekarang saya lagi stress."
Polisi: "Stress? Kenapa?"
Pelapor: "Ada dua calon mitra berantem, ngerebutin saya."
Polisi: "Lalu, masalahnya apa?"
Pelapor: "Sepertinya yang bakal menang yang kere, Pak."
🤣🤣🤣
Btw, apapun posisi dan prestasi kita, tak bisa lepas dari stress.
Faktanya, orang miskin yang stress lebih cepat meninggal ketimbang orang kaya yang stress. "Efek kemiskinan ditambah efek stress itu ibarat bom," kata Antonio Ivan Lazzarino, peneliti dari University College London, Inggris.
Profesor Glyn Lewis, pakar epidemiologi psikiatri di Universitas Bristol di Inggris, tidak terkejut dengan temuan tersebut. Karena memang ini lazim terjadi. Terus, gimana solusinya?
Saran saya, harus dicari tahu dulu akar permasalahannya. Jalan-jalan dan liburan hanya bisa memberi kesenangan sesaat. Solusi sejati tidak bisa terhadirkan dari aktivitas-aktivitas tersebut.
Saran berikutnya, minta masukan dari pasangan dan mentor. Hei, ini penting. Sepertinya mereka memiliki pandangan yang lebih jernih terhadap masalah kita. Juga lebih jujur.
Terakhir, bawa setiap masalah dalam doa dan ibadah. Kita semua tahu, hanya DIA yang menggenggam segala solusi. Hanya DIA pula yang bisa menentramkan setiap hati.
Dengan begitu, mudah-mudahan kita, tim kita, dan keluarga kita terbebas dari masalah. Kalaupun ada masalah, nggak sampai stress insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kebayang... sebuah bisnis yang menguntungkan dan penuh bimbingan?
Kebayang... punya seorang mentor bisnis yang fokus dan total?
Yuk bermitra dengan saya (Ippho Santosa). Peluang usaha kali ini banyak kelebihannya. Sebelum teman-teman memutuskan untuk join, ada baiknya teman-teman tahu dulu apa saja kelebihannya...
Ini dia kelebihannya:
- Modal kecil,
- Margin besar,
- Balik modal cepat,
- Repeat order tinggi,
- Ongkir sangat murah,
- Standar internasional,
- Ratusan mitra terbukti sukses.
Insya Allah dibimbing oleh mentor yang fokus dan total (saya dan tim).
Btw, peluang usaha ini hanya dibuka sampai Jumat. Ya, sampai Jumat.
Minat? Tertarik? WA 0812-8777-7100. Sekarang, boleh. Sore nanti juga boleh.
Bismillah. Semoga kita bisa segera bermitra ya.
Kebayang... punya seorang mentor bisnis yang fokus dan total?
Yuk bermitra dengan saya (Ippho Santosa). Peluang usaha kali ini banyak kelebihannya. Sebelum teman-teman memutuskan untuk join, ada baiknya teman-teman tahu dulu apa saja kelebihannya...
Ini dia kelebihannya:
- Modal kecil,
- Margin besar,
- Balik modal cepat,
- Repeat order tinggi,
- Ongkir sangat murah,
- Standar internasional,
- Ratusan mitra terbukti sukses.
Insya Allah dibimbing oleh mentor yang fokus dan total (saya dan tim).
Btw, peluang usaha ini hanya dibuka sampai Jumat. Ya, sampai Jumat.
Minat? Tertarik? WA 0812-8777-7100. Sekarang, boleh. Sore nanti juga boleh.
Bismillah. Semoga kita bisa segera bermitra ya.
Punya bisnis?
Punya mentor?
Mentornya fokus?
BAYANGKAN sebentar lagi Anda memiliki sebuah bisnis yang menguntungkan dan sarat bimbingan.
BAYANGKAN sebentar lagi Anda dibimbing oleh seorang mentor bisnis yang fokus dan total.
Yuk bermitra bareng saya (Ippho Santosa). Kemitraan kali ini banyak kelebihannya. Sebelum teman-teman memutuskan untuk join, ada baiknya teman-teman tahu dulu apa saja kelebihannya...
Ini dia kelebihannya:
- Modal kecil,
- Margin besar,
- Balik modal cepat,
- Repeat order tinggi,
- Ongkir sangat murah,
- Standar internasional,
- Ratusan mitra terbukti sukses.
Insya Allah dibimbing oleh mentor yang fokus dan total (saya dan tim).
Btw, peluang usaha ini hanya dibuka sampai Jumat. Ya, sampai Jumat.
Minat? Tertarik? WA 0812-8777-7100. Sekarang, boleh. Siang nanti juga boleh.
Semoga kita bisa segera bermitra ya.
Punya mentor?
Mentornya fokus?
BAYANGKAN sebentar lagi Anda memiliki sebuah bisnis yang menguntungkan dan sarat bimbingan.
BAYANGKAN sebentar lagi Anda dibimbing oleh seorang mentor bisnis yang fokus dan total.
Yuk bermitra bareng saya (Ippho Santosa). Kemitraan kali ini banyak kelebihannya. Sebelum teman-teman memutuskan untuk join, ada baiknya teman-teman tahu dulu apa saja kelebihannya...
Ini dia kelebihannya:
- Modal kecil,
- Margin besar,
- Balik modal cepat,
- Repeat order tinggi,
- Ongkir sangat murah,
- Standar internasional,
- Ratusan mitra terbukti sukses.
Insya Allah dibimbing oleh mentor yang fokus dan total (saya dan tim).
Btw, peluang usaha ini hanya dibuka sampai Jumat. Ya, sampai Jumat.
Minat? Tertarik? WA 0812-8777-7100. Sekarang, boleh. Siang nanti juga boleh.
Semoga kita bisa segera bermitra ya.
*TERAKHIR*
Hari ini dan besok (Kamis-Jumat) adalah kesempatan terakhir untuk bermitra dengan Ippho Santosa. Yang minat, WA 0812-8777-7100 ya.
Hari ini dan besok (Kamis-Jumat) adalah kesempatan terakhir untuk bermitra dengan Ippho Santosa. Yang minat, WA 0812-8777-7100 ya.
HARTA
Siapa yang lebih kaya?
Batman atau Iron Man?
Harta dan kekayaan selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan paling menarik perhatian. The most! Tapiiiii, sebenarnya inti dari kehidupan ini bukanlah pada kekayaan. Melainkan pada kebermanfaatan dan rasa syukur.
Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."
Kalau belum KAYA, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Sampai di sini, saya harap Anda setuju. Menebar manfaat dan memperbaiki akhlak, itulah amalan yang ditunggu-tunggu malaikat untuk dicatat.
Ingat, menjadi kaya perlu proses. Tapi, menjadi insan yang bermanfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Sekarang. Seketika. Sip? Sekiranya belum bisa besar, mulai saja dari hal kecil di sekitar kita. Terhadap keluarga. Terhadap mitra. Terhadap prospek. Insya Allah pasti bisa. Insya Allah pasti joss!
Ya, nggak harus sekaya Batman, Iron Man, atau Black Panther. Kita luaskan saja manfaat sebisa kita. Insya Allah pelan-pelan kita akan dikayakan. Lagi-lagi saya berharap Anda setuju dan yakin.
Ali bin Husein pernah berpesan, "Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian dari Allah dengan rasa senang (syukur)." Pesan ini memotivasi kita untuk selalu bersyukur. Kapanpun, di manapun. Sampai ke level quantum.
Pada akhirnya, semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. 😎
Siapa yang lebih kaya?
Batman atau Iron Man?
Harta dan kekayaan selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan paling menarik perhatian. The most! Tapiiiii, sebenarnya inti dari kehidupan ini bukanlah pada kekayaan. Melainkan pada kebermanfaatan dan rasa syukur.
Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."
Kalau belum KAYA, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Sampai di sini, saya harap Anda setuju. Menebar manfaat dan memperbaiki akhlak, itulah amalan yang ditunggu-tunggu malaikat untuk dicatat.
Ingat, menjadi kaya perlu proses. Tapi, menjadi insan yang bermanfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Sekarang. Seketika. Sip? Sekiranya belum bisa besar, mulai saja dari hal kecil di sekitar kita. Terhadap keluarga. Terhadap mitra. Terhadap prospek. Insya Allah pasti bisa. Insya Allah pasti joss!
Ya, nggak harus sekaya Batman, Iron Man, atau Black Panther. Kita luaskan saja manfaat sebisa kita. Insya Allah pelan-pelan kita akan dikayakan. Lagi-lagi saya berharap Anda setuju dan yakin.
Ali bin Husein pernah berpesan, "Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian dari Allah dengan rasa senang (syukur)." Pesan ini memotivasi kita untuk selalu bersyukur. Kapanpun, di manapun. Sampai ke level quantum.
Pada akhirnya, semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. 😎
ENJOY
Seminggu ini saya berada di Jepang, alhamdulillah. Dan ini kali ke-6 saya berada di Jepang. Bedanya, kali ini saya ditraktir oleh salah satu mitra saya di BP. Senang rasanya, masya Allah.
Terhadap mitra-mitra, sering saya sampaikan bahwa impian boleh besar TAPI mesti SIAP BERPROSES dan ENJOY ketika berproses. Maaf, kalau sekedar impian, hampir semua orang juga bisa. Tapi soal siap dan enjoy, nggak semua orang bisa.
Ini beneran. Tak semua orang bahagia ketika menjalani proses. Mereka merasa menderita. Dan mereka pikir, bahagia itu ketika berhasil meraih impiannya. Kebanyakan orang, cara pikirnya yah begitu.
Bayangkan, ternyata impiannya baru berhasil diraih di usia 40 tahun. Itu kan artinya, dia nggak bahagia alias merasa menderita selama 39 tahun. Ini kan konyol. Kebangetan konyolnya!
Masa-masa sulit dan pahit, hendaknya dinikmati. Kalau perlu, dihayati. Toh ketika Anda sukses nanti, itu akan menjadi cerita manis yang menginspirasi bagi banyak orang, setidaknya bagi anak-anak Anda, itu pasti.
Saya, Ippho Santosa, turut mendokan, semoga teman-teman semua ditunjukkan jalan yang mudaaaaah menuju impiannya. Kalaupun tidak mudah, diberi mental yang tangguh dan hati yang lapang untuk menjalaninya.
Dan satu lagi, semakin taat kepada Yang Maha Kuasa ketika menjalani proses tersebut, terlebih-lebih lagi ketika berhasil meraih impian tersebut. Aamiin. Sekian, semoga berkah berlimpah.
Seminggu ini saya berada di Jepang, alhamdulillah. Dan ini kali ke-6 saya berada di Jepang. Bedanya, kali ini saya ditraktir oleh salah satu mitra saya di BP. Senang rasanya, masya Allah.
Terhadap mitra-mitra, sering saya sampaikan bahwa impian boleh besar TAPI mesti SIAP BERPROSES dan ENJOY ketika berproses. Maaf, kalau sekedar impian, hampir semua orang juga bisa. Tapi soal siap dan enjoy, nggak semua orang bisa.
Ini beneran. Tak semua orang bahagia ketika menjalani proses. Mereka merasa menderita. Dan mereka pikir, bahagia itu ketika berhasil meraih impiannya. Kebanyakan orang, cara pikirnya yah begitu.
Bayangkan, ternyata impiannya baru berhasil diraih di usia 40 tahun. Itu kan artinya, dia nggak bahagia alias merasa menderita selama 39 tahun. Ini kan konyol. Kebangetan konyolnya!
Masa-masa sulit dan pahit, hendaknya dinikmati. Kalau perlu, dihayati. Toh ketika Anda sukses nanti, itu akan menjadi cerita manis yang menginspirasi bagi banyak orang, setidaknya bagi anak-anak Anda, itu pasti.
Saya, Ippho Santosa, turut mendokan, semoga teman-teman semua ditunjukkan jalan yang mudaaaaah menuju impiannya. Kalaupun tidak mudah, diberi mental yang tangguh dan hati yang lapang untuk menjalaninya.
Dan satu lagi, semakin taat kepada Yang Maha Kuasa ketika menjalani proses tersebut, terlebih-lebih lagi ketika berhasil meraih impian tersebut. Aamiin. Sekian, semoga berkah berlimpah.