Ippho Santosa - ipphoright
25.9K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Bisnis yang hebat tidak bicara soal tim dan sistem saja. Tapi juga soal ekosistem.

Sudah saatnya kita memilih ekosistem yang positif. Saling mendukung, saling mendoakan, dan saling membesarkan. Spirit-nya adalah persaudaraan, BUKAN persaingan.

Nah, dalam jangka panjang, kita bisa bertumbuh dan hati terasa lebih nyaman. Insya Allah. Saya berharap teman-teman bisa menemukan bisnis dengan ekosistem seperti itu.

Sip ya? 🙂
Kadang, saat kita menganjurkan sesuatu kepada pasangan, belum tentu dia mau nurut. Betul? Seringnya kita 'nggak dianggap'. Nah, gimana caranya agar dia mau nurut? Ada caranya ternyata.

Tentu saja, kita menganjurkan sesuatu yang positif. Semisal, bangun awal, rutin olahraga, berhenti mengeluh, berhenti merokok, mulai jualan, mulai berbisnis, dll.

Sebenarnya, kita bisa 'meminjam' suara pihak yang ketiga yang dianggap ahli dan netral. Contohnya? Sebut saja, media, ustadz, dokter, dan motivator. Biasanya lebih berdampak.

Ketika dokter menganjurkan sesuatu, kita cenderung dengerin dan nurutin. Nggak berani membantah. Iya kan? Iya. Kenapa? Karena kita menganggap dokter itu ahli dan netral. Demikian pula ustadz dan motivator.

Saran saya, ajak pasangan, saudara, dan keluarga anda bergabung di grup WA ini atau channel @ipphoright di Telegram. Saat mereka sudah bergabung, Anda tidak perlu lagi menganjurkan macam-macam. Biarlah saya yang rutin berbagi nasehat dan inspirasi. Insya Allah lebih berdampak.

Kalau mereka belum mau bergabung, yah nggak apa-apa. Forward saja artikel-artikel saya yang ada di grup WA ini atau channel Telegram saya. Boleh juga pinjamkan buku-buku saya. Dan satu hal yang paling penting, doakan mereka. Sip?
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Photo from Ippho & Tim Khalifah
Dukungan istri mungkin tak terlihat, tapi memudahkan urusan-urusan pasangan setiap saat.

Ridha dari istri kadang dianggap tidak penting, padahal bisa melancarkan urusan-urusan yang genting.

Teman-teman setuju?

Alhamdulillah, 10 hari terakhir saya menemani mitra-mitra saya jalan-jalan di Inggris, negara-negara Eropa lainnya, dan Oman. Ya, kami bisnis bareng. Belajar bareng. Travelling bareng.

Sebelumnya, saya kasih satu syarat sama mereka. Apa itu? Bawa pasangannya. Saya mikirnya simple. Toh berjuang sama-sama. Apa salahnya enjoy-nya juga sama-sama? Travelling bareng pasangan. Asyik tho?

Suami kita atau istri kita, percayalah, adalah orang yang ditakdirkan untuk melengkapi dan membenahi kita. Tidak ada orang lain yang lebih tepat. Ya, dia-lah yang paling tepat.

Kalaupun istri di rumah nggak nyari nafkah sama sekali, perannya jangan dianggap ringan. Selain mengurus anak, rumah, dan rumahtangga, kontribusinya dalam bentuk doa dan ridha itu sangat menentukan, bahkan tak tergantikan.

"Doa istri itu 'bekerja' walaupun istri tidak bekerja," ini pesan saya di berbagai seminar.

Sering kita melihat, rumahtangga yang kurang akur, ternyata rezekinya juga tersendat-sendat seperti motor butut yang lagi ngadat. Sebaliknya, kalau rukun, guyub, dan akur, rezeki pun mengucur seperti air mancur.

Pada akhirnya, mari bahagiakan pasangan kita. Dapatkan ridhanya. Siap?
Internet dan gadget adalah kekuatan yang sangat dahsyat. Termasuk dalam bisnis.

Sayangnya, sebagian besar UKM kita kurang melek soal internet. Padahal internet adalah now market dan next market. Maksudnya? Saat ini, sangat besar. Ke depannya, jauh lebih besar.

Terus, sampai kapan kita cuma diam jadi penonton? Saran saya, jadilah pemain. Jadilah pelaku. Dengan internet, kita tidak perlu lagi menyewa ruko atau buka stand. Tidak perlu lagi memasang spanduk, flyer, dan iklan koran.

Hemat tho? Sangat hemat. Cukuplah kita mengoptimasi Facebook, Instagram, Whatsapp, dan Blogspot, sehingga otomatis bisnis kita muncul di mana-mana ketika konsumen mencari. Saya harap teman-teman semua siap dan terbiasa dengan itu.

Mitra-mitra saya alhamdulillah sudah terbiasa dengan itu semua. Misalnya, ganti profile picture, terus dapat closingan. Update WA story, terus dapat closingan. Posting di IG, terus dapat closingan. Simple tapi sangat ngefek.

Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa. Karena memang sudah di-training dan dikondisikan setiap harinya. Bukan asal update. Bagi teman-teman yang belum paham, saran saya, cobalah belajar. Atau bergabung di komunitas di tepat.

Zaman sekarang, percayalah, nyari rupiah itu relatif mudah dan nggak harus keluar rumah. Salah satu caranya, pandai-pandailah kita memanfaatkan internet dan gadget. Simple banget. Bisa insya Allah, asalkan kita mau membuka mindset dan memantaskan diri.

Siap?
Bayangkan sejenak...

Tentang kenaikan:
- harga properti,
- biaya pendidikan,
- biaya umrah,
- tingkat inflasi.

Sekitar 15% sampai 25%. Relatif tinggi tho? Dan itu semua sepertinya sulit diimbangi dengan kenaikan gaji. Dengan kata lain, akan jauh lebih baik kalau Anda memulai bisnis sekarang juga. Tentunya, bisnis yang ada mentornya.

Kamis-Jumat, insya Allah saya akan membuka peluang usaha.

Di mana saya dan tim akan memberikan bimbingan (coaching) agar Anda jadi pengusaha, step by step. Modalnya hanya Rp 660 ribu. Sangat terjangkau kan? Dan baru kali ini saya membuka peluang usaha dengan modal seminim ini.

Terus? Setelah bergabung, sebagai pengusaha Anda harus fight dan focus selama 2 tahun. Itu yang saya minta. Dan Anda harus komit. Nah, kalau ternyata TIDAK terjadi perubahan income yang signifikan pada diri Anda, maka modal Anda saya GANTI 2X lipat.

Menarik? Insya Allah sangat menarik. Dan sangat menjanjikan. Kalau minat, Anda boleh WA sekarang ke 0812-8777-7100. Bismillah, WA yang masuk akan kami reply satu per satu. Jujur saja, saya sangat berharap kita bisa bermitra.
Jadilah mukmin.
Jadilah rahmatan lil alamin.

Dan jadikan ini gaya hidup.

Sebenarnya, gaya hidup 'rahmatan' adalah gaya hidup yang diimpi-impikan oleh kebanyakan orang. Kenapa? Yah, karena di dalamnya terdapat asas kebermanfaatan, kebersamaan, dan keadilan.

Jujur, ini sangat langka. Tapi kalau kita bisa menjadi seperti itu, yah kita akan dicari-cari orang. Diimpikan banyak orang. Betul apa betul?

Termasuk dalam muamalah (kerjasama bisnis). Harus ada gaya hidup 'rahmatan lil alamin' di sana. Bukankah Nabi menganjurkan kebermanfaatan dan keadilan dalam muamalah? Tentu ini kita harapkan terjadi di semua sektor, bukan di sektor tertentu saja.

Di rumah makan Padang misalnya, kita berharap ada gaya hidup 'rahmatan' ini. Maksudnya, ada keadilan dan kejelasan pada harga. Makanan? Relatif sehat. Dan itulah yang seharusnya. Jadi, yang namanya 'rahmatan' BUKAN pada bisnis-bisnis yang berlabel agama saja, seperti travel umrah dan distributor jilbab. Melainkan pada SEMUA bisnis.
  
Terus, bagaimana dengan kebersamaan atau sering disebut dengan sinergi? Sepenting apa? Bagi saya sinergi adalah saling percaya, saling saling membantu, dan saling mendoakan. Ini semacam keterkaitan satu sama lain. Interconnected. Terus, seperti apa contoh konkritnya?

Begini. Saat kita membantu seseorang, jangan berharap orang itu langsung membantu kita sebagai timbal-baliknya. Nggak harus begitu. Sebagai mukmin kita percaya sepenuhnya bahwa Allah itu maha membalas. Right?

Kalau mau bantu yah bantu saja. Soal timbal-balik atau balasan, kita serahkan ke Allah.

Bantu orang lain, maka Allah akan membantu kita. Muliakan orang lain, maka Allah akan memuliakan kita. Doakan orang lain, maka Allah akan mengabulkan doa kita. Donorkan darah ke orang lain, maka Allah akan menyehatkan darah kita. Inilah bagian dari gaya hidup 'rahmatan'.

Masih soal bisnis. Bagaimana dengan harga? Jangan over-price bagi konsumen. Bagi mitra-mitra, yah diuntungkan secara adil dan merata. Kalau produk? Usahakan benar-benar bermanfaat. Jangan bikin orang konsumtif (fashion misalnya). Seperlunya saja. Jangan juga mengundang kolestrol dan asam urat (misalnya kalau kita jual makanan).

Begitulah kurang-lebih. Dan kalau ini diterapkan, sungguh-sungguh diterapkan, mudah-mudahan kita pelan-pelan menuju gaya hidup 'rahmatan lil alamin'. Aamiin.
Saya ingin sekali mencetak dan menghadirkan pengusaha yang lebih banyak lagi di negeri ini.

Bukan sekedar wacana, tapi sudah saya konkritkan selama 10 tahun terakhir dengan membangun TK, SD, dan kampus di berbagai kota dengan visi entrepreneurship.

Karena itu pula, ketika saya punya produk suplemen dan laris, saya tetap komitmen untuk TIDAK MASUK ke toko-toko besar walaupun mereka memiliki jaringan nasional.

Saya lebih memilih cara kemitraan. Open reseller. Buka keagenan.

Kenapa? Dengan cara ini, saya percaya akan lebih banyak pengusaha yang dihadirkan dan lebih banyak keluarga yang benar-benar terbantu. Alhamdulillah, itulah yang terjadi 2 tahun terakhir.

Dari segi modal, saya bikin sangat terjangkau. Pembinaan? Setiap hari. Training? Hampir-hampir setiap hari. Soalnya saya tahu persis, kebanyakan mereka adalah pemula. Perlu dibina. Benar-benar dibina.

Bagi teman-teman yang ingin bermitra dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100. Modalnya Rp 660 ribu sampai Rp 990 ribu. Kalau Anda join hari ini (Jumat), saya kasih free ongkir. Kesempatan bermitra ini saya buka sampai Sabtu.

Saatnya take action! Buktikan Anda memiliki mental pengusaha yang tidak suka menunda-nunda!
Banyak yang heran, kok bisa mitra-mitra saya income-nya melompat 3X sampai 12X lipat ketika bermitra dengan saya?

Pertama, saya mengajak mereka untuk fokus (pilih A, B, atau C). Saya biarkan mereka untuk memilih. Sekalipun saya tidak pernah memaksa mereka. Toh mereka sudah dewasa, mana bisa dipaksa-paksa?

Kedua, mereka mendapat pembinaan dari saya setiap hari. Ya, setiap hari. Silakan tanya mereka.

Gimana dengan iming-iming trip ke LN? Sebenarnya, ini BUKAN hal yang utama. Namanya orang berbisnis, yah pasti pengen hal-hal yang pokok, seperti dapurnya bisa ngepul, anaknya bisa sekolah, cicilannya bisa lunas. Gitu tho? Bukan karena pengen trip ke LN.

Btw, apa saya selalu mentraktir mitra-mitra setiap kali ke luar negeri (LN)? Nggak juga. Ada juga mereka bayar sendiri, misalnya pas ke Eropa dua minggu yang lalu. Kadang malah MEREKA yang MENTRAKTIR saya, misalnya pas ke China satu bulan yang lalu.

Seru ya? Iya! Ini yang namanya kesetaraan!

Saya bisa mentraktir mereka dan mereka pun bisa alias berkemampuan untuk mentraktir saya. Kok bisa? Karena pembagian profit antara saya dengan mereka yang relatif adil dan merata. Nggak timpang. Nggak jomplang. Menurut saya, ini baru bisa disebut grow together.

Bagi orang beriman, bisnis bukan sekedar halal saja. Tapi juga harus ada rasa keadilan, rasa kebersamaan, dan penuh pembinaan. Sehingga semua pihak merasa plong dan ridha satu sama lain. Kalau sudah begini, insya Allah semua pihak akan melejit potensi dan prestasinya. Insya Allah.

Saya harap Anda setuju dengan saya.