Keyakinan itu menular.
Keraguan? Sama, juga menular.
Ini berlaku dalam apapun, termasuk dalam dunia penjualan.
Yakin yang gimana? Yakin sama diri sendiri. Bukan sekedar pede.
Terus? Yakin sama produk yang akan ditawarkan. Ini rumus dasar, setiap kali kita mau menawarkan sebuah produk, yah kita harus yakin dulu sama produk tersebut. Jangan setengah-setengah.
Setidaknya, ada lima tips.
Pertama, pahami produk. Maksudnya, tahu manfaat-manfaatnya dan khasiat-khasiatnya. Jangan sampai nggak tahu.
Kedua, simak success story dari penjual-penjual lain yang berhasil. Ya, belajar dari pengalaman orang lain.
Ketiga, perbanyak jam terbang. Tetaplah menawarkan. Dan belajarlah dari pengalaman diri sendiri.
Keempat, ingat-ingat moment terdahulu saat kita berhasil closing atau berprestasi. Kenangan ini akan membangkitkan semangat.
Kelima, stop mengeluh dan pandai-pandailah mencari hikmah saat ditolak. Tidak ada pengalaman yang sia-sia.
Gimana biar lebih yakin? Ada lagi tips-nya. Apa itu? Bergaul dan membaurlah dengan mereka yang yakin. Karena, sekali lagi, yakin itu menular.
Siaaap?
Keraguan? Sama, juga menular.
Ini berlaku dalam apapun, termasuk dalam dunia penjualan.
Yakin yang gimana? Yakin sama diri sendiri. Bukan sekedar pede.
Terus? Yakin sama produk yang akan ditawarkan. Ini rumus dasar, setiap kali kita mau menawarkan sebuah produk, yah kita harus yakin dulu sama produk tersebut. Jangan setengah-setengah.
Setidaknya, ada lima tips.
Pertama, pahami produk. Maksudnya, tahu manfaat-manfaatnya dan khasiat-khasiatnya. Jangan sampai nggak tahu.
Kedua, simak success story dari penjual-penjual lain yang berhasil. Ya, belajar dari pengalaman orang lain.
Ketiga, perbanyak jam terbang. Tetaplah menawarkan. Dan belajarlah dari pengalaman diri sendiri.
Keempat, ingat-ingat moment terdahulu saat kita berhasil closing atau berprestasi. Kenangan ini akan membangkitkan semangat.
Kelima, stop mengeluh dan pandai-pandailah mencari hikmah saat ditolak. Tidak ada pengalaman yang sia-sia.
Gimana biar lebih yakin? Ada lagi tips-nya. Apa itu? Bergaul dan membaurlah dengan mereka yang yakin. Karena, sekali lagi, yakin itu menular.
Siaaap?
Ippho Santosa - ipphoright
Video
Simak pesan dari Dewi Sandra, Terry Putri, dan Ustadz Abi Makki.
Mr Bean, nama ini mungkin lebih familier di telinga Anda ketimbang nama Rowan Atkinson. Mr Bean adalah nama fiktif. Sekedar karakter di serial TV dan film. Nama aslinya adalah Rowan Atkinson.
Meski terkesan konyol ketika tampil di film, sebenarnya dia aktor Inggris yang sangat cerdas. Ya, sangat cerdas. Gelar master-nya saja dia peroleh dari Oxford. Bukan sembarang kampus.
Rowan Atkinson pernah berpesan, "Excellence can be achieved if it is a habit!" Sesuatu yang paripurna hanya bisa dicapai kalau itu dijadikan kebiasaan. Jadi, bukan pekerjaan satu hari dua hari. Tapi memang kebiasaan sehari-hari.
Yang menjadi pertanyaan adalah, "Berusaha mempersembahkan yang terbaik, apakah ini sudah Anda jadikan kebiasaan dan budaya sehari-hari? Atau hanya pada event dan project tertentu saja?"
Rowan Atkinson termasuk orang yang percaya pada kerja keras dan kesungguhan. Bukan pada ketampanan atau kecantikan. Suatu kali ia pernah berpesan, "Beauty is not a criteria to be successful."
Saya pribadi mengamati, saat ini ada satu hal yang kurang dari orang Indonesia ketika ia bekerja atau berbisnis. Apa itu? Itqan. Mereka yang itqan hendaknya berusaha memberikan produk yang terbaik dan mengiringi prosesnya dengan perbaikan terus-menerus.
Ya, dalam Islam, ada etos kerja yang namanya itqan. Maksudnya? Teliti, hati-hati, sepenuh hati, bermutu tinggi, dan sulit disaingi. Apapun nama dan istilahnya, sudah sepantasnya orang Indonesia belajar soal itqan. Terutama dalam bekerja atau berbisnis.
Mengingat SDM kita yang belum terlalu kompetitif dibanding negara-negara lainnya, ini jadi PR besar bagi orang Indonesia. Tanpa itqan, produk bikinan orang Indonesia sulit untuk bertahan di negerinya sendiri, boro-boro go intenational.
Gagal di awal itu biasa. Tapi, jangan lama-lama. Segeralah berbenah. Ketika Anda gagal, berarti itu adalah signal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Perlu disempurnakan. Ya, itqan. Terakhir, coba Anda ingat-ingat lagi pesan Rowan Atkinson, "Excellence can be achieved if it is a habit!"
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan berkah berlimpah.
Meski terkesan konyol ketika tampil di film, sebenarnya dia aktor Inggris yang sangat cerdas. Ya, sangat cerdas. Gelar master-nya saja dia peroleh dari Oxford. Bukan sembarang kampus.
Rowan Atkinson pernah berpesan, "Excellence can be achieved if it is a habit!" Sesuatu yang paripurna hanya bisa dicapai kalau itu dijadikan kebiasaan. Jadi, bukan pekerjaan satu hari dua hari. Tapi memang kebiasaan sehari-hari.
Yang menjadi pertanyaan adalah, "Berusaha mempersembahkan yang terbaik, apakah ini sudah Anda jadikan kebiasaan dan budaya sehari-hari? Atau hanya pada event dan project tertentu saja?"
Rowan Atkinson termasuk orang yang percaya pada kerja keras dan kesungguhan. Bukan pada ketampanan atau kecantikan. Suatu kali ia pernah berpesan, "Beauty is not a criteria to be successful."
Saya pribadi mengamati, saat ini ada satu hal yang kurang dari orang Indonesia ketika ia bekerja atau berbisnis. Apa itu? Itqan. Mereka yang itqan hendaknya berusaha memberikan produk yang terbaik dan mengiringi prosesnya dengan perbaikan terus-menerus.
Ya, dalam Islam, ada etos kerja yang namanya itqan. Maksudnya? Teliti, hati-hati, sepenuh hati, bermutu tinggi, dan sulit disaingi. Apapun nama dan istilahnya, sudah sepantasnya orang Indonesia belajar soal itqan. Terutama dalam bekerja atau berbisnis.
Mengingat SDM kita yang belum terlalu kompetitif dibanding negara-negara lainnya, ini jadi PR besar bagi orang Indonesia. Tanpa itqan, produk bikinan orang Indonesia sulit untuk bertahan di negerinya sendiri, boro-boro go intenational.
Gagal di awal itu biasa. Tapi, jangan lama-lama. Segeralah berbenah. Ketika Anda gagal, berarti itu adalah signal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Perlu disempurnakan. Ya, itqan. Terakhir, coba Anda ingat-ingat lagi pesan Rowan Atkinson, "Excellence can be achieved if it is a habit!"
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan berkah berlimpah.
Hari itu saya berada di KL, Malaysia. Sebelumnya juga saya kuliah di Malaysia, tepatnya di Malaysia di bagian Utara. Saya pun berjumpa dengan pengusaha-pengusaha muda Malaysia.
Ya, mereka masih muda. Seperti di Indonesia, penampilan mereka cenderung santai alias non formal.
Lima tahun terakhir, banyak perusahaan yang mengubah kebijakan berpakaian mereka, dari penggunaan pakaian formal ke kebebasan memilih pakaian sendiri alias non formal di tempat kerja.
Baguskah itu? Kecenderungan berpakaian santai ini berkembang di berbagai wilayah dan bidang pekerjaan, ujar konsultan yang berkantor di California, Jacob Morgan, yang juga menulis buku The Future of Work.
Sementara, pakaian santai seperti kaus -dipopulerkan oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg- mulai jadi pakem tersendiri di industri teknologi. Apakah Anda pernah melihat orang-orang berpakaian begitu di sekitar Anda?
“Dulu kita hidup di dua dunia terpisah, kerja dan rumah,” kata Jacob Morgan. “Seiring menyatunya kedua hal ini, kita mulai berpakaian dengan lebih santai.” Ini ada benarnya. Lihat saja gaya pendiri Bukalapak dan Go-Jek.
Dengan kekuatan internet dan socmed, orang-orang muda bisa melakukan pekerjaan dan bisnisnya dari rumah. Keluar rumah hanya sesekali, tidak harus setiap hari.
Begini. Berpenampilan santai bukan berarti kerja asal-asalan. Bukan. Sebaliknya, mereka justru siap untuk bekerja sampai larut malam sekiranya memang perlu. Mungkin Anda termasuk orang yang seperti itu.
Masalahkah? Nggak juga ternyata. Yang penting, jangan sampai kebablasan. Ketika kita dituntut untuk tampil formal dan rapi di moment tertentu, yah kita harus siap juga. Fleksibel. Saya harap Anda setuju dengan saya.
Ya, mereka masih muda. Seperti di Indonesia, penampilan mereka cenderung santai alias non formal.
Lima tahun terakhir, banyak perusahaan yang mengubah kebijakan berpakaian mereka, dari penggunaan pakaian formal ke kebebasan memilih pakaian sendiri alias non formal di tempat kerja.
Baguskah itu? Kecenderungan berpakaian santai ini berkembang di berbagai wilayah dan bidang pekerjaan, ujar konsultan yang berkantor di California, Jacob Morgan, yang juga menulis buku The Future of Work.
Sementara, pakaian santai seperti kaus -dipopulerkan oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg- mulai jadi pakem tersendiri di industri teknologi. Apakah Anda pernah melihat orang-orang berpakaian begitu di sekitar Anda?
“Dulu kita hidup di dua dunia terpisah, kerja dan rumah,” kata Jacob Morgan. “Seiring menyatunya kedua hal ini, kita mulai berpakaian dengan lebih santai.” Ini ada benarnya. Lihat saja gaya pendiri Bukalapak dan Go-Jek.
Dengan kekuatan internet dan socmed, orang-orang muda bisa melakukan pekerjaan dan bisnisnya dari rumah. Keluar rumah hanya sesekali, tidak harus setiap hari.
Begini. Berpenampilan santai bukan berarti kerja asal-asalan. Bukan. Sebaliknya, mereka justru siap untuk bekerja sampai larut malam sekiranya memang perlu. Mungkin Anda termasuk orang yang seperti itu.
Masalahkah? Nggak juga ternyata. Yang penting, jangan sampai kebablasan. Ketika kita dituntut untuk tampil formal dan rapi di moment tertentu, yah kita harus siap juga. Fleksibel. Saya harap Anda setuju dengan saya.
Penting banget. Baca deh.
https://www.instagram.com/p/BtVwwiAloqs/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1fzshtbhgtogg
Semoga jadi inspirasi.
https://www.instagram.com/p/BtVwwiAloqs/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1fzshtbhgtogg
Semoga jadi inspirasi.
Instagram
IPPHO SANTOSA
Tahun 1999, dengan ekonomi pas-pasan alias miskin, saya kuliah di Malaysia. Tahun itu juga, berbagai hal yang pahit dan getir terjadi menimpa saya. Beruntun. Indonesia krisis, Ringgit naik 2x sampai 3x lipat. Tidak cukup sampai di situ, ayah saya pun meninggal…
Saya sangat serius dalam membina mitra-mitra saya (my partners).
Saya undang Pak James Gwee dan Mas Yehezkiel Zebua untuk sharing di hadapan mereka. Selanjutnya, saya boyong mereka ke Eco-Pesantren DT agar bisa belajar langsung sama Aa Gym. Inilah kegiatan kami weekend yang lalu (Sabtu dan Ahad).
Ilmu bisnis, diajarkan.
Ilmu agama, diajarkan.
Ilmu kesehatan, juga diajarkan.
Selanjutnya, lihat IG saya >> https://www.instagram.com/p/Btaa5DqF8sh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=62joy9nxcpem
Lihat juga postingan sebelumnya.
Saya undang Pak James Gwee dan Mas Yehezkiel Zebua untuk sharing di hadapan mereka. Selanjutnya, saya boyong mereka ke Eco-Pesantren DT agar bisa belajar langsung sama Aa Gym. Inilah kegiatan kami weekend yang lalu (Sabtu dan Ahad).
Ilmu bisnis, diajarkan.
Ilmu agama, diajarkan.
Ilmu kesehatan, juga diajarkan.
Selanjutnya, lihat IG saya >> https://www.instagram.com/p/Btaa5DqF8sh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=62joy9nxcpem
Lihat juga postingan sebelumnya.
Instagram
IPPHO SANTOSA
Bersama Teh Meyda, Aa Gym, dan my partners. Kami di Eco-Pesantren DT... Hari-hari penuh bimbingan, alhamdulillah. Selagi mereka (my partners) mau belajar, saya akan bimbing terus. Bukan itu saja, kadang saya ajak mereka silaturahim dengan tokoh-tokoh. Menambah…
Mereka ini pemula.
Rata-rata yah begitu. Pemula.
Mereka, maksudnya siapa?
Mitra-mitra saya. My partners.
Tapi, mereka sadar betul bahwa dirinya itu pemula. Karena itulah mereka belajarnya sungguh-sungguh. Dan mau diajar (teachable).
Dengan senang hati, saya membimbing mereka. Siang dan malam. Bahkan subuh-subuh, ada materi dan bimbingan dari saya.
Setelah beberapa bulan, alhamdulillah ada perubahan. Pencapaian mereka membaik. Tepatnya dari sisi finansial dan spiritual.
Saya bangga sekali.
Sampai-sampai saya ajak mereka ke sini >> https://www.instagram.com/p/BtcI7C7lr6N/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1jqoph0sk0b3u
Rata-rata yah begitu. Pemula.
Mereka, maksudnya siapa?
Mitra-mitra saya. My partners.
Tapi, mereka sadar betul bahwa dirinya itu pemula. Karena itulah mereka belajarnya sungguh-sungguh. Dan mau diajar (teachable).
Dengan senang hati, saya membimbing mereka. Siang dan malam. Bahkan subuh-subuh, ada materi dan bimbingan dari saya.
Setelah beberapa bulan, alhamdulillah ada perubahan. Pencapaian mereka membaik. Tepatnya dari sisi finansial dan spiritual.
Saya bangga sekali.
Sampai-sampai saya ajak mereka ke sini >> https://www.instagram.com/p/BtcI7C7lr6N/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1jqoph0sk0b3u
Instagram
IPPHO SANTOSA
Katanya parkir mobil, kok nggak ada mobil? Yang ada cuma kuda, hehehe... Ini Eco-Pesantren DT, Bandung. Bagus banget. Tahun lalu ke sini, diajak @AaGym sarapan bareng @UstadzAbdulSomad. Sangat berkesan. Tahun ini? Sarapan bareng my partners, alhamdulillah.…
Alhamdulillah.
Januari yang lalu, dengan izin Allah, saya mengisi acara bareng Aa Gym di Jakarta.
Februari, kembali bareng Aa Gym, tapi di Bandung. Bersama mitra-mitra (my partners).
Sepertinya biasa, Aa Gym mengajak kita untuk berhenti mengeluh. Ya, berhenti mengeluh.
Lagi susah?
Lagi resah?
Lagi sedih?
Bawa dalam sujud.
Bawa dalam tahajjud.
Jangan diumbar ke luar.
Firman Allah, “Sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku,” QS Yusuf: 86.
Berkali-kali saya bahas di seminar bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh. Sama sekali nggak bagus.
Kalaupun lagi susah, sembunyikan kesusahan itu. Cukup diadukan ke Allah. Jangan diumbar ke makhluk.
Teman-teman setuju? Saya harap, Anda setuju dengan saya.
Januari yang lalu, dengan izin Allah, saya mengisi acara bareng Aa Gym di Jakarta.
Februari, kembali bareng Aa Gym, tapi di Bandung. Bersama mitra-mitra (my partners).
Sepertinya biasa, Aa Gym mengajak kita untuk berhenti mengeluh. Ya, berhenti mengeluh.
Lagi susah?
Lagi resah?
Lagi sedih?
Bawa dalam sujud.
Bawa dalam tahajjud.
Jangan diumbar ke luar.
Firman Allah, “Sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku,” QS Yusuf: 86.
Berkali-kali saya bahas di seminar bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh. Sama sekali nggak bagus.
Kalaupun lagi susah, sembunyikan kesusahan itu. Cukup diadukan ke Allah. Jangan diumbar ke makhluk.
Teman-teman setuju? Saya harap, Anda setuju dengan saya.
Allah mengurusi kita pol-polan. Bukan asal-asalan.
Maka, perbaiki penampilan kita. Hindari sikap mengeluh. Terus? Cerah dan ceriakan wajah kita.
Kalau penampilan kita selalu lusuh dan sikap kita selalu mengeluh, itu artinya kita mengirim pesan kepada semua orang bahwa _Allah telah lalai mengurusi kita._
Pernah melihat seorang anak yang wajahnya murung dan suram? Pakaiannya kusam? Hati kita langsung membatin, "Ke mana orangtuanya? Kok anaknya dibiarin seperti itu?"
Ingat, Allah tidak pernah menelantarkan kita walaupun sepersekian detik. Telatennya Allah jauh melampaui telatennya seorang ibu terhadap bayinya.
Rasulullah pernah bersabda, "Jika dirimu telah diberi nikmat oleh Allah, maka tampakkan nikmat itu pada dirimu." Ya, boleh ditampakkan asalkan tidak berlebihan dan tanpa ujub.
Paham sampai di sini?
Sekali lagi, Allah mengurusi kita pol-polan. Bukan asal-asalan. Saya tambahkan sedikit, "Maka tampil dan berjalanlah sebagaimana layaknya seorang pemenang." Siaaap?
Maka, perbaiki penampilan kita. Hindari sikap mengeluh. Terus? Cerah dan ceriakan wajah kita.
Kalau penampilan kita selalu lusuh dan sikap kita selalu mengeluh, itu artinya kita mengirim pesan kepada semua orang bahwa _Allah telah lalai mengurusi kita._
Pernah melihat seorang anak yang wajahnya murung dan suram? Pakaiannya kusam? Hati kita langsung membatin, "Ke mana orangtuanya? Kok anaknya dibiarin seperti itu?"
Ingat, Allah tidak pernah menelantarkan kita walaupun sepersekian detik. Telatennya Allah jauh melampaui telatennya seorang ibu terhadap bayinya.
Rasulullah pernah bersabda, "Jika dirimu telah diberi nikmat oleh Allah, maka tampakkan nikmat itu pada dirimu." Ya, boleh ditampakkan asalkan tidak berlebihan dan tanpa ujub.
Paham sampai di sini?
Sekali lagi, Allah mengurusi kita pol-polan. Bukan asal-asalan. Saya tambahkan sedikit, "Maka tampil dan berjalanlah sebagaimana layaknya seorang pemenang." Siaaap?
Saat ini, ilmu begitu mudahnya didapatkan. Dari YouTube, dari socmed, dari WA. Saking mudahnya, akhirnya sebagian kita mengabaikan adab dalam menuntut ilmu. Padahal adab hendaknya lebih diutamakan daripada ilmu.
Sewaktu menuntut ilmu, lazimnya kita berharap dapat ilmu canggih yang bisa membawa perubahan. Sebenarnya, ada yang lebih utama daripada 'canggihnya ilmu' tsb. Apa itu? Adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Agar apa? Agar ilmu itu jadi berkah dan benar-benar membekas.
Adalah kurang tepat kalau lagi belajar atau jumpa mentor, kitanya nyambi-nyambi main HP. Ini kurang tepat. Baiknya HP pun di-silent saat kita belajar atau bertemu mentor. Tunjukkan kesungguhan kita.
Terus? Badan menghadap ke si penyampai ilmu. Bukan ke arah yang lain. Percayalah, akan beda hasilnya. Satu lagi. Apa itu? Datang ontime bahkan datang lebih awal. Disiplin waktu, ini sudah menjadi sesuatu yang standar dalam menuntut ilmu. Entah itu di training, entah itu di kajian.
Dan ini semua harus kita terapkan sebagai pembelajar.
Ingat. Bukan canggihnya ilmu yang membuat nasib kita berubah. Bukan itu yang utama. Tapi lebih karena kita (si penuntut ilmu) punya adab dan punya kesungguhan terhadap ilmu. Alhamdulillah kemarin saya berbagi ilmu untuk PLN di Aceh. Hebat sekali semangat mereka! Semoga ilmu yang saya sampaikan bisa membawa perubahan!
Akhir kata, jadilah pembelajar sejati. Punya adab. Juga sungguh-sungguh.
Simak >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2542507295791457&id=144175158958028
Sewaktu menuntut ilmu, lazimnya kita berharap dapat ilmu canggih yang bisa membawa perubahan. Sebenarnya, ada yang lebih utama daripada 'canggihnya ilmu' tsb. Apa itu? Adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Agar apa? Agar ilmu itu jadi berkah dan benar-benar membekas.
Adalah kurang tepat kalau lagi belajar atau jumpa mentor, kitanya nyambi-nyambi main HP. Ini kurang tepat. Baiknya HP pun di-silent saat kita belajar atau bertemu mentor. Tunjukkan kesungguhan kita.
Terus? Badan menghadap ke si penyampai ilmu. Bukan ke arah yang lain. Percayalah, akan beda hasilnya. Satu lagi. Apa itu? Datang ontime bahkan datang lebih awal. Disiplin waktu, ini sudah menjadi sesuatu yang standar dalam menuntut ilmu. Entah itu di training, entah itu di kajian.
Dan ini semua harus kita terapkan sebagai pembelajar.
Ingat. Bukan canggihnya ilmu yang membuat nasib kita berubah. Bukan itu yang utama. Tapi lebih karena kita (si penuntut ilmu) punya adab dan punya kesungguhan terhadap ilmu. Alhamdulillah kemarin saya berbagi ilmu untuk PLN di Aceh. Hebat sekali semangat mereka! Semoga ilmu yang saya sampaikan bisa membawa perubahan!
Akhir kata, jadilah pembelajar sejati. Punya adab. Juga sungguh-sungguh.
Simak >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2542507295791457&id=144175158958028
Facebook
Log in or sign up to view
See posts, photos and more on Facebook.
Salah satu bukti kekayaan Nabi Ibrahim. Simak penjelasan Ustadz Hanan Attaki.
Sedekah dan berharap balasan, bolehkah? Selagi berharap sama Allah, yah boleh.
Berharap kepada-Nya = berdoa
Berharap kepada-Nya = bukti iman
Berharap kepada-Nya = enggan berharap ke makhluk
Berharap kepada-Nya = menuruti perintah-Nya karena itulah yang Dia perintahkan.
Apa yang jelas-jelas terlarang? Berharap ke makhluk. Itulah yang keliru.
Berharap kepada-Nya = berdoa
Berharap kepada-Nya = bukti iman
Berharap kepada-Nya = enggan berharap ke makhluk
Berharap kepada-Nya = menuruti perintah-Nya karena itulah yang Dia perintahkan.
Apa yang jelas-jelas terlarang? Berharap ke makhluk. Itulah yang keliru.
Berusahalah mandiri sejak muda. Ya, sejak muda. Izinkan saya mengambil satu contoh yang sangat menginspirasi. Simak baik-baik:
- Semasa kuliah, ia berusaha tidak membebani orangtua. Bersama teman, ia berbisnis fotokopi.
- Semasa kuliah, walaupun miskin, dari hasil usahanya ia sering mentraktir teman-temannya.
- Ketika musim ujian di kampus, ia bangun dan belajar mulai jam 3 pagi. Lama-lama, ini jadi habit.
- Ketika muda, dia bekerja 18 jam sehari. Ketika berusia 50-an, dia bekerja 12-14 jam sehari.
- Menariknya, sebagai ayah ia terbiasa memandikan anak mengganti popok. Soalnya dulu sudah terbiasa mengasuh adik-adiknya.
- Kepada anak-anaknya, kemudian ia berpesan, “Kalian harus mampu berjuang sendiri. Agar kalian punya kebanggaan atas hasil karya sendiri.”
Siapakah dia? Ya, dialah Pak Chairul Tanjung alias CT. Seorang sosok yang sangat menginspirasi. Dan saat ini karyawannya ada 100.000 orang, tersebar di Bank Mega, Mega Syariah, Trans TV, Trans 7, juga Detik.
Di sini saya tidak mendesak Anda untuk menjadi seorang CT. Tapi, apa salahnya kita sama-sama belajar soal kerja kerasnya? Sekiranya kita belum bisa meniru kerja kerasnya 100%, cobalah menirunya 30% atau 40%.
Satu lagi. Apa itu? Berusahalah mandiri sejak muda. Ini akan membuat kita lebih dewasa dan lebih tangguh, tidak mudah mengeluh. Ingat, dunia ini keras. Dan akan terasa sangat keras kalau tidak mempersiapkan diri.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
- Semasa kuliah, ia berusaha tidak membebani orangtua. Bersama teman, ia berbisnis fotokopi.
- Semasa kuliah, walaupun miskin, dari hasil usahanya ia sering mentraktir teman-temannya.
- Ketika musim ujian di kampus, ia bangun dan belajar mulai jam 3 pagi. Lama-lama, ini jadi habit.
- Ketika muda, dia bekerja 18 jam sehari. Ketika berusia 50-an, dia bekerja 12-14 jam sehari.
- Menariknya, sebagai ayah ia terbiasa memandikan anak mengganti popok. Soalnya dulu sudah terbiasa mengasuh adik-adiknya.
- Kepada anak-anaknya, kemudian ia berpesan, “Kalian harus mampu berjuang sendiri. Agar kalian punya kebanggaan atas hasil karya sendiri.”
Siapakah dia? Ya, dialah Pak Chairul Tanjung alias CT. Seorang sosok yang sangat menginspirasi. Dan saat ini karyawannya ada 100.000 orang, tersebar di Bank Mega, Mega Syariah, Trans TV, Trans 7, juga Detik.
Di sini saya tidak mendesak Anda untuk menjadi seorang CT. Tapi, apa salahnya kita sama-sama belajar soal kerja kerasnya? Sekiranya kita belum bisa meniru kerja kerasnya 100%, cobalah menirunya 30% atau 40%.
Satu lagi. Apa itu? Berusahalah mandiri sejak muda. Ini akan membuat kita lebih dewasa dan lebih tangguh, tidak mudah mengeluh. Ingat, dunia ini keras. Dan akan terasa sangat keras kalau tidak mempersiapkan diri.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Mau e-book 'The Richest Moslem' ini? Free alias gratis. WA ke 0859-4506-3777.