E-book terbaru. Judulnya 'Young Entrepreneur'. Sekarang masih gratis. Teman-teman mau?
Kisah Toyota Company telah menginspirasi dunia. Berikut ini pengalaman saya ketika dijamu dan diizinkan menginap di rumah keturunan pendiri Toyota (Toyoda Family). Sangat berkesan. Dan keramahan mereka membuat saya benar-benar terharu. Masya Allah.
https://www.instagram.com/p/BuXI6JRllzA/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=18wmqe7yn2fg8
Semoga Mr Toyoda dan Mrs Toyoda selalu sehat, juga panjang umur. Aamiin.
https://www.instagram.com/p/BuXI6JRllzA/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=18wmqe7yn2fg8
Semoga Mr Toyoda dan Mrs Toyoda selalu sehat, juga panjang umur. Aamiin.
Instagram
IPPHO SANTOSA
Masya Allah nggak nyangka, dijamu oleh Mrs Toyoda (beliau ini keluarga dari pendiri Toyota) dan diizinkan menginap di rumah beliau... Rezeki tak disangka-sangka bagi saya... Suami-istri ini usianya sudah 70-an tapi masih sangat aktif di Toyota Group. Ke mana…
Menetes airmata saya. Begitu pula teman-teman saya...
https://www.instagram.com/p/BuafGV5lIkh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1pvog0npuhgdy
Ketulusan itu terasa
https://www.instagram.com/p/BuafGV5lIkh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1pvog0npuhgdy
Ketulusan itu terasa
Instagram
IPPHO SANTOSA
Menetes airmata saya, saat berpisah dengan Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Terharu. Mereka ini keturunan dari pendiri Toyota. Tapi sangat sederhana, sangat tulus, dan sangat memuliakan tamu. Demikian pula teman-teman saya dari TK Khalifah, diperlakukan sangat baik…
"Go everywhere, see everything!"
Inilah pesan Mr Toyoda (lengkapnya Kanshiro Toyoda, cucunya pendiri Toyota) kepada saya. Lalu istrinya, Mrs Toyoda, menambahkan, "Satu kali melihat lebih berharga daripada seratus kali mendengar."
Ngomong-ngomong, gimana ceritanya, kok saya bisa bertemu langsung dengan mereka? Ceritanya begini.
Selesai berseminar di Tokyo, saya dan istri berangkat ke Toyota City. Partner-partner saya di TK Khalifah juga berangkat. Agenda utamanya, studi banding untuk TK dan SD. Alhamdulillah, kami diundang (Terima kasih Pak Mulyono dan Bu Lilis atas kesempatan ini).
Nggak nyangka, ternyata kemudian saya dan istri dijamu oleh Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Masya Allah. Bukan itu saja. Lalu kami diizinkan menginap di rumah mereka. Rezeki tak disangka-sangka bagi kami.
Alhamdulillah selama dua hari dua malam saya berada di rumah keluarga Toyoda. Sekali lagi, Mr Toyoda adalah keturunan dari pendiri Toyota dan beliau masih aktif memimpin salah satu perusahaan di Toyota Group.
Suami-istri ini usianya sudah 70-an tapi masih aktif dan produktif. Ke mana-mana nyetir sendiri. Jalannya cepat. Sikapnya sangat ramah dan sangat rendah hati. Sang istri lumayan lancar Bahasa Inggris-nya.
Hebatnya lagi, nggak ada asisten rumah. Semuanya mereka handle sendiri. Mungkin ini sudah biasa bagi masyarakat Jepang. Tapi beliau-beliau ini kan beda. Toyota sudah menjadi merek global. Bahkan sudah menjadi nama kota di Jepang.
Tapi begitulah, mereka tetap ramah dan tetap rendah hati.
Adapun filosofi Toyota, "Good thinking, good product." Mrs Toyoda cerita ke saya, concern mereka bukan lagi soal profit, tapi soal peningkatan taraf hidup manusia. Di Toyota City, di Jepang, dan di dunia.
Salah satu impian Mrs Toyoda, ingin dunia ini menjadi borderless dan penuh kedamaian. Beliau menceritakan ini sambil menyetir. Kata beliau, kayaknya ini mustahil terjadi saat ini. Tapi siapa tahu suatu hari nanti. Tulisan ini boleh di-share.
"Friendship forever," ini salah satu pesan Mrs Toyoda untuk entrepreneur-entrepreneur di Indonesia. Pokoknya, selama 2 hari 2 malam, saya dan partner-partner saya di TK Khalifah tak henti-henti dapat kejutan dari keluarga Toyoda dan masyarakat Toyota City.
Ya, mereka sangat friendly dan sangat humble. Bagi saya, ini berkesan sekali dan tak terlupakan. Sepertinya ucapan terimakasih tidak cukup untuk membalas kebaikan-kebaikan mereka.
Pada akhirnya, tibalah masa perpisahan itu. Menetes airmata saya saat pamitan dengan Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Terharu. Yang saya rasakan, mereka ini begitu tulus dan benar-benar memuliakan tamu.
Saat kami ber-sayonara dan berada di dalam bis, mereka berdiri di luar, di samping bis. Ya, mereka menunggu keberangkatan bis kami. Sambil berpayung, karena hujan, mereka bersikeras berada di situ sembari melambai-lambaikan tangannya, sampailah bis bergerak menjauh. Lagi-lagi saya speechless.
Bukan saya saja. Demikian pula teman-teman saya dari TK Khalifah. Mereka bahagia sekali dan terharu. Hampir semuanya meneteskan airmata. Karena diperlakukan dengan sangat hangat oleh warga Toyota City. Ternyata soal ramah, bukan dominasi orang Indonesia saja. Orang Jepang juga sangaaat ramah.
Kita doakan ya. Semoga Mr Toyoda dan Mrs Toyoda selalu sehat, juga panjang umur. Aamiin. Satu lagi. Mudah-mudahan hubungan Indonesia-Jepang semakin erat dan semakin akrab dari waktu ke waktu. Aamiin.
Saya pribadi berharap, ke depan lebih banyak lagi orang-orang yang terinspirasi dari kisah Toyota City, Toyota Company, dan Toyoda Family. Kalau perlu, berkunjung ke Toyota City. Insya Allah.
Inilah pesan Mr Toyoda (lengkapnya Kanshiro Toyoda, cucunya pendiri Toyota) kepada saya. Lalu istrinya, Mrs Toyoda, menambahkan, "Satu kali melihat lebih berharga daripada seratus kali mendengar."
Ngomong-ngomong, gimana ceritanya, kok saya bisa bertemu langsung dengan mereka? Ceritanya begini.
Selesai berseminar di Tokyo, saya dan istri berangkat ke Toyota City. Partner-partner saya di TK Khalifah juga berangkat. Agenda utamanya, studi banding untuk TK dan SD. Alhamdulillah, kami diundang (Terima kasih Pak Mulyono dan Bu Lilis atas kesempatan ini).
Nggak nyangka, ternyata kemudian saya dan istri dijamu oleh Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Masya Allah. Bukan itu saja. Lalu kami diizinkan menginap di rumah mereka. Rezeki tak disangka-sangka bagi kami.
Alhamdulillah selama dua hari dua malam saya berada di rumah keluarga Toyoda. Sekali lagi, Mr Toyoda adalah keturunan dari pendiri Toyota dan beliau masih aktif memimpin salah satu perusahaan di Toyota Group.
Suami-istri ini usianya sudah 70-an tapi masih aktif dan produktif. Ke mana-mana nyetir sendiri. Jalannya cepat. Sikapnya sangat ramah dan sangat rendah hati. Sang istri lumayan lancar Bahasa Inggris-nya.
Hebatnya lagi, nggak ada asisten rumah. Semuanya mereka handle sendiri. Mungkin ini sudah biasa bagi masyarakat Jepang. Tapi beliau-beliau ini kan beda. Toyota sudah menjadi merek global. Bahkan sudah menjadi nama kota di Jepang.
Tapi begitulah, mereka tetap ramah dan tetap rendah hati.
Adapun filosofi Toyota, "Good thinking, good product." Mrs Toyoda cerita ke saya, concern mereka bukan lagi soal profit, tapi soal peningkatan taraf hidup manusia. Di Toyota City, di Jepang, dan di dunia.
Salah satu impian Mrs Toyoda, ingin dunia ini menjadi borderless dan penuh kedamaian. Beliau menceritakan ini sambil menyetir. Kata beliau, kayaknya ini mustahil terjadi saat ini. Tapi siapa tahu suatu hari nanti. Tulisan ini boleh di-share.
"Friendship forever," ini salah satu pesan Mrs Toyoda untuk entrepreneur-entrepreneur di Indonesia. Pokoknya, selama 2 hari 2 malam, saya dan partner-partner saya di TK Khalifah tak henti-henti dapat kejutan dari keluarga Toyoda dan masyarakat Toyota City.
Ya, mereka sangat friendly dan sangat humble. Bagi saya, ini berkesan sekali dan tak terlupakan. Sepertinya ucapan terimakasih tidak cukup untuk membalas kebaikan-kebaikan mereka.
Pada akhirnya, tibalah masa perpisahan itu. Menetes airmata saya saat pamitan dengan Mr Toyoda dan Mrs Toyoda. Terharu. Yang saya rasakan, mereka ini begitu tulus dan benar-benar memuliakan tamu.
Saat kami ber-sayonara dan berada di dalam bis, mereka berdiri di luar, di samping bis. Ya, mereka menunggu keberangkatan bis kami. Sambil berpayung, karena hujan, mereka bersikeras berada di situ sembari melambai-lambaikan tangannya, sampailah bis bergerak menjauh. Lagi-lagi saya speechless.
Bukan saya saja. Demikian pula teman-teman saya dari TK Khalifah. Mereka bahagia sekali dan terharu. Hampir semuanya meneteskan airmata. Karena diperlakukan dengan sangat hangat oleh warga Toyota City. Ternyata soal ramah, bukan dominasi orang Indonesia saja. Orang Jepang juga sangaaat ramah.
Kita doakan ya. Semoga Mr Toyoda dan Mrs Toyoda selalu sehat, juga panjang umur. Aamiin. Satu lagi. Mudah-mudahan hubungan Indonesia-Jepang semakin erat dan semakin akrab dari waktu ke waktu. Aamiin.
Saya pribadi berharap, ke depan lebih banyak lagi orang-orang yang terinspirasi dari kisah Toyota City, Toyota Company, dan Toyoda Family. Kalau perlu, berkunjung ke Toyota City. Insya Allah.
Mau e-book karya saya? Judulnya 'Young Entrepreneur'. Sekarang masih gratis. Mau? WA ke 0859-4506-3777. Selama ini, banyak sekali WA yang masuk. Saran saya, coba WA dua kali atau tiga kali. Biar lebih terlihat oleh admin saya. File e-book insya Allah akan dikirim via WA.
Mau? 🙂
Mau? 🙂
Rahasia Pendidikan Jepang
Seperti yang teman-teman tahu, saya mendirikan dan mengelola TK dan SD Khalifah. Alhamdulillah tersebar puluhan cabang di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua.
Senang sekali, saya dan mitra-mitra TK Khalifah berkesempatan studi banding ke sekolah-sekolah di Jepang. Baik pemerintahnya maupun sekolahnya, sangat welcome terhadap kami, alhamdulillah.
Ada beberapa catatan yang menarik. Misalnya, tidak ada office boy atau cleaning service di sekolah (SD). Anak-anak yang membersihkan dan membereskan semuanya. Ya, semuanya. Termasuk membersihkan toilet dan salju!
Meja belajar sama dengan meja makan. Siswa menggeser dan mengatur mejanya sendiri. Tidak harus rapi, tidak harus lurus. Tinggi meja bisa disetel, disesuaikan dengan tinggi dan besarnya anak.
Anak TK menyuap makanannya sendiri. Tidak disuapi.
Selesai makan siang, siswa mengumpulkan sampah makanannya sendiri dan memilah-milah sampah tersebut (kertas, plastik, buah dll). Menu makanan dan gizi makanan diatur oleh sekolah. Kadang diubah, disesuaikan dengan kegiatan dan keperluan anak.
Meja dan loker dituliskan nama siswa masing-masing. Anak TK dan SD tidak berseragam, kecuali ketika berolahraga. Pelajaran budi pekerti menjadi penekanan ketika TK dan SD, bukan pelajaran calistung.
Ada jam tidur siang bagi anak TK. Satu lagi. Anak kecil tidak boleh difoto oleh orang yang tidak dikenal. Kalaupun anak difoto oleh pihak sekolah, untuk upload di socmed harus dengan izin orangtuanya.
Setidaknya, ini yang saya lihat di sana sewaktu kunjungan dan studi banding. Di sini saya sengaja tidak membahas soal fisik bangunan dan anggaran (biaya), karena tidak terlalu mudah bagi kita untuk menirunya. Yang saya bahas hanya keseharian dan kebiasaan mereka.
Semoga kita bisa meniru yang baik-baik dari pendidikan Jepang ya.
Seperti yang teman-teman tahu, saya mendirikan dan mengelola TK dan SD Khalifah. Alhamdulillah tersebar puluhan cabang di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua.
Senang sekali, saya dan mitra-mitra TK Khalifah berkesempatan studi banding ke sekolah-sekolah di Jepang. Baik pemerintahnya maupun sekolahnya, sangat welcome terhadap kami, alhamdulillah.
Ada beberapa catatan yang menarik. Misalnya, tidak ada office boy atau cleaning service di sekolah (SD). Anak-anak yang membersihkan dan membereskan semuanya. Ya, semuanya. Termasuk membersihkan toilet dan salju!
Meja belajar sama dengan meja makan. Siswa menggeser dan mengatur mejanya sendiri. Tidak harus rapi, tidak harus lurus. Tinggi meja bisa disetel, disesuaikan dengan tinggi dan besarnya anak.
Anak TK menyuap makanannya sendiri. Tidak disuapi.
Selesai makan siang, siswa mengumpulkan sampah makanannya sendiri dan memilah-milah sampah tersebut (kertas, plastik, buah dll). Menu makanan dan gizi makanan diatur oleh sekolah. Kadang diubah, disesuaikan dengan kegiatan dan keperluan anak.
Meja dan loker dituliskan nama siswa masing-masing. Anak TK dan SD tidak berseragam, kecuali ketika berolahraga. Pelajaran budi pekerti menjadi penekanan ketika TK dan SD, bukan pelajaran calistung.
Ada jam tidur siang bagi anak TK. Satu lagi. Anak kecil tidak boleh difoto oleh orang yang tidak dikenal. Kalaupun anak difoto oleh pihak sekolah, untuk upload di socmed harus dengan izin orangtuanya.
Setidaknya, ini yang saya lihat di sana sewaktu kunjungan dan studi banding. Di sini saya sengaja tidak membahas soal fisik bangunan dan anggaran (biaya), karena tidak terlalu mudah bagi kita untuk menirunya. Yang saya bahas hanya keseharian dan kebiasaan mereka.
Semoga kita bisa meniru yang baik-baik dari pendidikan Jepang ya.
Pernah bertemu dengan tokoh yang hebat?
Tampil di forum tertentu atau bertemu dengan tokoh tertentu, itu bukan ujug-ujug. Bukan kebetulan. Ada prosesnya. Membangun nama baik, membangun prestasi, membangun networking dll, boleh dibilang itulah prosesnya.
Bagi saya, networking itu seperti menanam. Ya, menanam. Kadang proses dan hasilnya nggak instant. Yang sering terjadi, proses dan hasilnya sangat lama. Tapi, walaupun makan waktu, walaupun sangat lama, ini layak untuk dikerjakan.
Bagaimana dengan waktu, cukupkah? Pasti cukup. Selalu cukup. Asal kita mau mengalokasikan dan mengatur waktu. Misalnya, pertemuan saya dan Bu Lilis dengan keluarga Toyoda (keturunan dari pendiri Toyota) di Toyota City, Jepang. Jelas, ini bukan ujug-ujug. Sama sekali bukan.
Wasilahnya dari keaktifan Bu Lilis di TIA (Toyota International Association), sebuah lembaga nirlaba yang membantu meng-internasionalisasi Toyota City. Terus, kami ada niat untuk studi banding soal TK dan SD ke Jepang. Setelah mantap dengan niat itu, kami pun berkomunikasi intens dengan beberapa decision maker di Jepang. Ya, ada prosesnya.
Begitu pula pertemuan saya dengan Richard Branson, Syekh Yusuf Qardhawi, Prof BJ Habibie. Bukan kebetulan. Ada prosesnya. Kapan-kapan saya bahas ya soal prosesnya.
Bahasa gampangnya, itu semua perlu waktu, perlu proses. Dan sayangnya, nggak semua orang mau mengalokasikan waktu dan menjalani proses. Padahal ini mutlak. Saya menyebut ini sebagai 'investasi hubungan'.
Berdasarkan pengalaman saya, orang-orang hebat tidak mudah untuk ditemui. Karena itulah kita perlu extra effort dan extra time untuk mengaksesnya.
Lantas, apa saran praktis dari saya? Pertama, alokasikan waktu kita untuk bertemu dengan orang-orang baru. Kedua, aktilah di komunitas dan asosiasi yang positif. Ketiga, jagalah hubungan dengan tetap berkomunikasi.
Keempat, proaktif saat ada kemungkinan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh yang hebat. Kelima, pantaskan diri kita sehingga layak bertemu dengan si hebat itu. Memantaskan diri, memang ini tidak mudah. Tapi bukannya mustahil. Bisa insya Allah.
Bagaimana, Anda siap?
Tampil di forum tertentu atau bertemu dengan tokoh tertentu, itu bukan ujug-ujug. Bukan kebetulan. Ada prosesnya. Membangun nama baik, membangun prestasi, membangun networking dll, boleh dibilang itulah prosesnya.
Bagi saya, networking itu seperti menanam. Ya, menanam. Kadang proses dan hasilnya nggak instant. Yang sering terjadi, proses dan hasilnya sangat lama. Tapi, walaupun makan waktu, walaupun sangat lama, ini layak untuk dikerjakan.
Bagaimana dengan waktu, cukupkah? Pasti cukup. Selalu cukup. Asal kita mau mengalokasikan dan mengatur waktu. Misalnya, pertemuan saya dan Bu Lilis dengan keluarga Toyoda (keturunan dari pendiri Toyota) di Toyota City, Jepang. Jelas, ini bukan ujug-ujug. Sama sekali bukan.
Wasilahnya dari keaktifan Bu Lilis di TIA (Toyota International Association), sebuah lembaga nirlaba yang membantu meng-internasionalisasi Toyota City. Terus, kami ada niat untuk studi banding soal TK dan SD ke Jepang. Setelah mantap dengan niat itu, kami pun berkomunikasi intens dengan beberapa decision maker di Jepang. Ya, ada prosesnya.
Begitu pula pertemuan saya dengan Richard Branson, Syekh Yusuf Qardhawi, Prof BJ Habibie. Bukan kebetulan. Ada prosesnya. Kapan-kapan saya bahas ya soal prosesnya.
Bahasa gampangnya, itu semua perlu waktu, perlu proses. Dan sayangnya, nggak semua orang mau mengalokasikan waktu dan menjalani proses. Padahal ini mutlak. Saya menyebut ini sebagai 'investasi hubungan'.
Berdasarkan pengalaman saya, orang-orang hebat tidak mudah untuk ditemui. Karena itulah kita perlu extra effort dan extra time untuk mengaksesnya.
Lantas, apa saran praktis dari saya? Pertama, alokasikan waktu kita untuk bertemu dengan orang-orang baru. Kedua, aktilah di komunitas dan asosiasi yang positif. Ketiga, jagalah hubungan dengan tetap berkomunikasi.
Keempat, proaktif saat ada kemungkinan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh yang hebat. Kelima, pantaskan diri kita sehingga layak bertemu dengan si hebat itu. Memantaskan diri, memang ini tidak mudah. Tapi bukannya mustahil. Bisa insya Allah.
Bagaimana, Anda siap?
Masalah selalu ada. Ya, selalu ada. Mana mungkin nggak ada? Yang penting adalah sikap kita dan cara kita terhadap masalah. Baik dalam kerja maupun dalam bisnis.
Sering kali masalah bertambah hanya karena sikap kita dan cara kita yang salah. Misal, kita menganggap itu karena kesalahan orang lain. Jujur, dulu saya pun pernah begitu.
Terkait masalah, saya sangat menyarankan teman-teman untuk MEMBACA KE DALAM. Maksudnya, introspeksi. Bukan menyalah-nyalahkan pihak lain. Bukan menyalah-nyalahkan keadaan.
Nggak mungkin masalah terjadi begitu saja. Jangan-jangan kita penyebabnya. Sedikit-banyak, pasti ada sebab dari kita. Right? Sekali lagi, introspeksi.
Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan masalah. Jadi, buat apa resah dan gelisah? Kendati tidak mudah, sikapi saja dengan benar, niscaya semua akan berakhir indah. Insya Allah.
Dan inilah yang biasa terjadi:
- Si jahat membuat masalah.
- Si picik memperbesar masalah.
- Si awam membicarakan masalah.
- Si hebat menuntaskan masalah.
- Si bijak mensyukuri adanya masalah.
- Si jeli melihat peluang dari masalah.
- Si soleh naik derajat karena masalah.
Anda termasuk yang mana?
Satu lagi. Jadikan MASALAH sebagai “masa-masa untuk lebih mengenal Allah”.
Pengalaman saya, masalah akan membuat kita semakin cerdas, kreatif, dewasa, tangguh, dan tawakal. Itulah hikmah-hikmahnya. Lebih lanjut, bukan mustahil Allah menjadikan masalah sebagai alat untuk menggugurkan dosa kita atau menaikkan derajat kita.
Be tough!
Sering kali masalah bertambah hanya karena sikap kita dan cara kita yang salah. Misal, kita menganggap itu karena kesalahan orang lain. Jujur, dulu saya pun pernah begitu.
Terkait masalah, saya sangat menyarankan teman-teman untuk MEMBACA KE DALAM. Maksudnya, introspeksi. Bukan menyalah-nyalahkan pihak lain. Bukan menyalah-nyalahkan keadaan.
Nggak mungkin masalah terjadi begitu saja. Jangan-jangan kita penyebabnya. Sedikit-banyak, pasti ada sebab dari kita. Right? Sekali lagi, introspeksi.
Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan masalah. Jadi, buat apa resah dan gelisah? Kendati tidak mudah, sikapi saja dengan benar, niscaya semua akan berakhir indah. Insya Allah.
Dan inilah yang biasa terjadi:
- Si jahat membuat masalah.
- Si picik memperbesar masalah.
- Si awam membicarakan masalah.
- Si hebat menuntaskan masalah.
- Si bijak mensyukuri adanya masalah.
- Si jeli melihat peluang dari masalah.
- Si soleh naik derajat karena masalah.
Anda termasuk yang mana?
Satu lagi. Jadikan MASALAH sebagai “masa-masa untuk lebih mengenal Allah”.
Pengalaman saya, masalah akan membuat kita semakin cerdas, kreatif, dewasa, tangguh, dan tawakal. Itulah hikmah-hikmahnya. Lebih lanjut, bukan mustahil Allah menjadikan masalah sebagai alat untuk menggugurkan dosa kita atau menaikkan derajat kita.
Be tough!
Awalnya saya sempat bertanya-tanya. Kenapa orang beriman dianalogikan seperti lebah?
“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah, selalu makan yang baik-baik dan mengeluarkan yang baik-baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak,” HR Ahmad.
“Persamaannya adalah lebah itu cerdas, rendah hati, merasa cukup, sarat manfaat, taat pemimpin, jarang menyakiti, menjauhi kotoran, makanannya halal dan tayyib, tak mau makan dari hasil kerja orang lain, bekerja di siang hari, dan berhenti kerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air, dan api,” Al-Munawi.
Setelah dipelajari lebih lanjut, barulah saya tahu ternyata lebah memiliki banyak kelebihan berbanding hewan-hewan yang lain. Terus, apa saja kelebihan lebah itu? Ini dia:
- Membantu penyerbukan
- Sarangnya steril
- Sangat well-organized
- Mengutamakan teamwork
- Menguburkan rekannya yang mati
- Mampu berhitung
- Ditakuti gajah
- Bentuk tubuhnya tidak aerodinamis tapi bisa terbang dengan sangat cepat
- Mampu memilih lubang yang besar sehingga mengurangi risiko benturan
- Mengetahui jarak terdekat dari berbagai alternatif
- Mengetahui ranjau walaupun dari jarak jauh
Selama ini, kita pun mengenal beragam khasiat dari produk-produk turunan lebah seperti madu, propolis, dan royal jelly. Menariknya, ini sudah tercantum di Surah An-Nahl.
Dengan kata lain, lebah hanya membawa manfaat, manfaat, dan manfaat. Bukankah begitu? Sudah sepantasnya kita meniru yang baik-baik dari lebah.
“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah, selalu makan yang baik-baik dan mengeluarkan yang baik-baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak,” HR Ahmad.
“Persamaannya adalah lebah itu cerdas, rendah hati, merasa cukup, sarat manfaat, taat pemimpin, jarang menyakiti, menjauhi kotoran, makanannya halal dan tayyib, tak mau makan dari hasil kerja orang lain, bekerja di siang hari, dan berhenti kerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air, dan api,” Al-Munawi.
Setelah dipelajari lebih lanjut, barulah saya tahu ternyata lebah memiliki banyak kelebihan berbanding hewan-hewan yang lain. Terus, apa saja kelebihan lebah itu? Ini dia:
- Membantu penyerbukan
- Sarangnya steril
- Sangat well-organized
- Mengutamakan teamwork
- Menguburkan rekannya yang mati
- Mampu berhitung
- Ditakuti gajah
- Bentuk tubuhnya tidak aerodinamis tapi bisa terbang dengan sangat cepat
- Mampu memilih lubang yang besar sehingga mengurangi risiko benturan
- Mengetahui jarak terdekat dari berbagai alternatif
- Mengetahui ranjau walaupun dari jarak jauh
Selama ini, kita pun mengenal beragam khasiat dari produk-produk turunan lebah seperti madu, propolis, dan royal jelly. Menariknya, ini sudah tercantum di Surah An-Nahl.
Dengan kata lain, lebah hanya membawa manfaat, manfaat, dan manfaat. Bukankah begitu? Sudah sepantasnya kita meniru yang baik-baik dari lebah.
Ada yang bertanya kepada saya, "Kok produk Mas Ippho dari Inggris sih?"
"Apa nggak ada barang bagus dari Indonesia atau negeri-negeri Islam?" Itu pertanyaan mereka.
Sebenarnya, produk-produk turunan lebah itu islami semua. Karena sarat manfaat dan direkomendasikan langsung oleh Al-Quran
Dan lebah, di negara manapun, nggak punya agama 😊😊😊
Kalau nggak percaya, silakan wawancara langsung lebahnya 😋
Satu hal lagi. Dalam muamalah, kita boleh berniaga dengan siapa saja, mengambil barang dari siapa saja, dan menawarkan barang kepada siapa. Dan ini dibuktikan sendiri oleh Nabi Muhammad selama 20 tahun lebih.
Bayangkan, 20 tahun lebih. Bukan sehari dua hari. Yang penting, barangnya halal dan orangnya jujur.
Beliau berniaga dengan siapa saja, tidak memandang suku dan agama, bahkan lintas wilayah. Kalau bahasa sekarang, sampai ke luar negeri alias international business.
Setelah Nabi Muhammad jadi nabi sekalipun, tidak sedikit pujian dan saran dari beliau untuk tumbuh-tumbuhan dari India. Dan kita sama-sama tahu, penduduk India itu beda agama dengan beliau. Ini fakta.
Misalnya tentang kayu gaharu dari India. Juga siwak jenis tertentu, dari India. Beliau puji. Sekiranya tidak percaya, silakan cari hadis-hadis terkait dua tetumbuhan tersebut.
Sebaliknya, satu botol miras, walaupun dari Tanah Arab, walaupun mereknya diubah jadi Bahasa Arab, walaupun dijual oleh Muslim Arab, tetap hukumnya haram. Dan di Dubai, ini bukan hal baru.
Ingat, bisnis itu disebut islami kalau halal barangnya, halal caranya, dan sarat manfaatnya. Sejak dulu sampai sekarang, saya berupaya membangun bisnis yang seperti itu. Sehingga mereka yang berbeda agama dengan saya pun tak keberatan untuk bermitra.
Sekian, semoga berkah berlimpah. Aamiin.
"Apa nggak ada barang bagus dari Indonesia atau negeri-negeri Islam?" Itu pertanyaan mereka.
Sebenarnya, produk-produk turunan lebah itu islami semua. Karena sarat manfaat dan direkomendasikan langsung oleh Al-Quran
Dan lebah, di negara manapun, nggak punya agama 😊😊😊
Kalau nggak percaya, silakan wawancara langsung lebahnya 😋
Satu hal lagi. Dalam muamalah, kita boleh berniaga dengan siapa saja, mengambil barang dari siapa saja, dan menawarkan barang kepada siapa. Dan ini dibuktikan sendiri oleh Nabi Muhammad selama 20 tahun lebih.
Bayangkan, 20 tahun lebih. Bukan sehari dua hari. Yang penting, barangnya halal dan orangnya jujur.
Beliau berniaga dengan siapa saja, tidak memandang suku dan agama, bahkan lintas wilayah. Kalau bahasa sekarang, sampai ke luar negeri alias international business.
Setelah Nabi Muhammad jadi nabi sekalipun, tidak sedikit pujian dan saran dari beliau untuk tumbuh-tumbuhan dari India. Dan kita sama-sama tahu, penduduk India itu beda agama dengan beliau. Ini fakta.
Misalnya tentang kayu gaharu dari India. Juga siwak jenis tertentu, dari India. Beliau puji. Sekiranya tidak percaya, silakan cari hadis-hadis terkait dua tetumbuhan tersebut.
Sebaliknya, satu botol miras, walaupun dari Tanah Arab, walaupun mereknya diubah jadi Bahasa Arab, walaupun dijual oleh Muslim Arab, tetap hukumnya haram. Dan di Dubai, ini bukan hal baru.
Ingat, bisnis itu disebut islami kalau halal barangnya, halal caranya, dan sarat manfaatnya. Sejak dulu sampai sekarang, saya berupaya membangun bisnis yang seperti itu. Sehingga mereka yang berbeda agama dengan saya pun tak keberatan untuk bermitra.
Sekian, semoga berkah berlimpah. Aamiin.
Nama Nabi Musa adalah nama yang paling sering disebutkan di Al-Quran, bahkan melebihi nama Nabi Muhammad. Dan kita sama-sama tahu, Nabi Musa sempat melarikan diri dan keluar dari Mesir, karena tak sengaja memukul orang...
Saat Nabi Musa diperintahkan untuk kembali ke Mesir dan berdakwah ke Firaun, awalnya Nabi Musa merasa keberatan. Malu, takut, dan sama sekali nggak pede... Apalagi beliau memang sedikit gagap...
Lalu beliau meminta ke Allah agar ada orang lain yang mem-backup-nya. Jadilah back-up itu Nabi Harun. Karena menurut Nabi Musa, Nabi Harun itu pandai bertutur-kata. Tak pernah punya kesalahan, tak pernah kabur dari Mesir...
So, dengan adanya Nabi Harun, Nabi Musa jadi lebih pede...
Kemudian, apa yang terjadi? Ternyata ketika bertemu Firaun, Nabi Harun hampir-hampir tidak ada bicara sama sekali. Siapa yang bicara? Tetap saja Nabi Musa. Terus, apakah Nabi Harun itu ada perannya? Tentu saja, ada perannya...
Lihatlah, dengan adanya Nabi Harun, Nabi Musa jadi lebih pede...
Adalah benar Nabi Musa telah yakin 100% kepada Tuhan-nya. Tapi, tetap saja dia membutuhkan orang lain. Dan orang itu adalah Nabi Harun. Ini sesuatu yang wajar. Alami dan manusiawi (Terima kasih Ustadz Nouman Ali Khan atas penjelasannya).
Demikian pula dengan kita dalam kehidupan sehari-hari. Jujur saja, kita perlu 'Harun'. Bukan sekedar back-up, tapi lebih ke pendamping. Mungkin 'Harun' bagi kita adalah istri, sahabat, atau partner. Dengan hadirnya mereka, kita pun jadi lebih pede dalam berbicara dan bertindak. Masalah-masalah pun terselesaikan...
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat.
Saat Nabi Musa diperintahkan untuk kembali ke Mesir dan berdakwah ke Firaun, awalnya Nabi Musa merasa keberatan. Malu, takut, dan sama sekali nggak pede... Apalagi beliau memang sedikit gagap...
Lalu beliau meminta ke Allah agar ada orang lain yang mem-backup-nya. Jadilah back-up itu Nabi Harun. Karena menurut Nabi Musa, Nabi Harun itu pandai bertutur-kata. Tak pernah punya kesalahan, tak pernah kabur dari Mesir...
So, dengan adanya Nabi Harun, Nabi Musa jadi lebih pede...
Kemudian, apa yang terjadi? Ternyata ketika bertemu Firaun, Nabi Harun hampir-hampir tidak ada bicara sama sekali. Siapa yang bicara? Tetap saja Nabi Musa. Terus, apakah Nabi Harun itu ada perannya? Tentu saja, ada perannya...
Lihatlah, dengan adanya Nabi Harun, Nabi Musa jadi lebih pede...
Adalah benar Nabi Musa telah yakin 100% kepada Tuhan-nya. Tapi, tetap saja dia membutuhkan orang lain. Dan orang itu adalah Nabi Harun. Ini sesuatu yang wajar. Alami dan manusiawi (Terima kasih Ustadz Nouman Ali Khan atas penjelasannya).
Demikian pula dengan kita dalam kehidupan sehari-hari. Jujur saja, kita perlu 'Harun'. Bukan sekedar back-up, tapi lebih ke pendamping. Mungkin 'Harun' bagi kita adalah istri, sahabat, atau partner. Dengan hadirnya mereka, kita pun jadi lebih pede dalam berbicara dan bertindak. Masalah-masalah pun terselesaikan...
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat.
Pemimpin spiritual, Dalai Lama, menolak keras istilah 'teroris Kristen' atau 'teroris Muslim'. Ia mengaku tidak nyaman atas penggunaan istilah tersebut.
Menurut beliau, akan selalu ada kelompok radikal di semua komunitas, namun itu tidak mewakili keseluruhan komunitas tersebut. Pandangan itu tepat sekali.
Beliau pernah berkata, "Seorang Muslim kalau melakukan terorisme, berarti dia bukan lagi seorang Muslim." Demikian pula seorang Kristiani yang melakukan terorisme.
Lantas, apa pendapat saya tentang penembakan dan pembantaian yang terjadi di sebuah masjid di New Zealand?
Yang jelas, saya mengutuk dan mengecam tindakan terorisme tersebut. Mereka yang meninggal atau cidera, mari sama-sama kita doakan. Yang terbaik.
Mohon diperhatikan. Di kasus-kasus seperti ini, kita kecam pelakunya. Bukan masyarakatnya, bukan negaranya. Mari bersikap adil dan proporsional.
Simak lanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/BvBYU6ulMSC/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=zzxqa9kqhrgm
Menurut beliau, akan selalu ada kelompok radikal di semua komunitas, namun itu tidak mewakili keseluruhan komunitas tersebut. Pandangan itu tepat sekali.
Beliau pernah berkata, "Seorang Muslim kalau melakukan terorisme, berarti dia bukan lagi seorang Muslim." Demikian pula seorang Kristiani yang melakukan terorisme.
Lantas, apa pendapat saya tentang penembakan dan pembantaian yang terjadi di sebuah masjid di New Zealand?
Yang jelas, saya mengutuk dan mengecam tindakan terorisme tersebut. Mereka yang meninggal atau cidera, mari sama-sama kita doakan. Yang terbaik.
Mohon diperhatikan. Di kasus-kasus seperti ini, kita kecam pelakunya. Bukan masyarakatnya, bukan negaranya. Mari bersikap adil dan proporsional.
Simak lanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/BvBYU6ulMSC/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=zzxqa9kqhrgm
Instagram
IPPHO SANTOSA
Pada dasarnya, New Zealand adalah negeri yang tenang dan damai. Kita doakan ya, New Zealand tetap tenang dan damai. Aamiin... Kalaupun terjadi penembakan, besar harapan kita kejadian tersebut segera diusut dan pelakunya segera diadili. Peace! . #MerekaTeroris
Pernahkah Anda melakukan perjalanan bisnis (business trip) bersama partner-partner Anda? Alhamdulillah, saya pernah.
Sudah semestinya kita membangun hubungan yang baik dengan partner-partner kita. Sehingga, yang terjalin BUKAN semata-mata ikatan bisnis, tapi juga ikatan emosional dan ikatan spiritual. Syukur-syukur kalau mereka juga dijadikan sahabat.
Teman beda dengan sahabat.
Bergaul dengan siapa saja, boleh. Itu supel namanya. Tapi soal sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Karena akan mempengaruhi akhak, amal, dan pendapatan kita.
Nggak percaya? Coba ingat-ingat lagi kalimat hikmah berikut ini, "Bergaul dengan penjual minyak wangi, dapat bau wanginya. Bergaul dengan pembakar besi, dapat bau bakarannya."
Dan menurut ilmu pengembangan diri, siapa Anda tercermin melalui lima orang sampai sepuluh orang yang terdekat (sahabat) dengan Anda. Nabi Muhammad pun wanti-wanti soal ini.
"Kesolehan seseorang sesuai dengan kesolehan teman dekatnya (sahabatnya). Hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya,” peringatan Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.
Gimana dengan teman di socmed? Menariknya, sebanyak apapun teman Facebook dan Instagram Anda, sebenarnya Anda hanya bisa memiliki lima orang teman yang benar-benar dekat dalam satu waktu. Ini menurut Robin Dunbar lewat penelitian antropologis.
Kembali soal sahabat. Sekali lagi, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Keberadaan mereka hendaknya mengarahkan kita pada impian kita, baik impian jangka pendek (dunia) maupun impian jangka panjang (akhirat).
Lantas, bagaimana cara membangun hubungan dan mengenal seorang sahabat?
Secara umum, ada dua. Pertama, perbanyak aktivitas bersama. Kedua, adakan perjalanan bersama (safar). Kadang disebut juga dengan safari. Pelakunya adalah musafir.
Ujar Syaikh Muhammad bin Shalih, "Safar secara makna disebut as-safaru-safran karena memang 'membuka akhlak seseorang'. Maksudnya, membuat keadaan jadi begitu jelas dan begitu nyata."
Berapa banyak orang yang belum terkuak jati dirinya untuk sekian lama dan bisa terungkap setelah melakukan safar alias bepergian bersama. Dalam safar itulah akhirnya kita mengetahui akhlak dan perangai aslinya. Right?
Reaksi Umar bin Khattab saat ada seseorang yang merekomendasikan temannya, adalah bertanya, “Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya? Apakah engkau telah lama bergaul dengannya?” Jika jawabannya 'ya' maka Umar pun menerimanya.
Jika jawabannya 'belum' maka Umar akan melanjutkan, “Engkau belum mengetahui hakikat nyata tentang orang itu."
Dan menurut agama, dianjurkan safar dengan teman. Bareng-bareng. Jangan sendirian. Umar bin Khattab pernah berkata, “Janganlah seorang dari kalian safar sendirian dan jangan pula ia tidur di rumah sendirian.”
Suatu ketika Nabi Muhammad pun berpesan, "Kalau saja manusia mengetahui dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui, pasti ia tidak akan berani bepergian sendirian selamanya."
Karena itulah di komunitas BP (Billionaire with Pride) kami bepergian bersama. Di antara hikmahnya adalah untuk saling menjaga dan untuk saling mengenal. Insya Allah.
Terakhir, saya berharap semoga Allah memampukan kita semua untuk safar (trip) ke berbagai negara di 5 benua. Aamiin. Mungkin untuk tujuan bisnis, tujuan ibadah, atau tujuan yang lainnya.
Sudah semestinya kita membangun hubungan yang baik dengan partner-partner kita. Sehingga, yang terjalin BUKAN semata-mata ikatan bisnis, tapi juga ikatan emosional dan ikatan spiritual. Syukur-syukur kalau mereka juga dijadikan sahabat.
Teman beda dengan sahabat.
Bergaul dengan siapa saja, boleh. Itu supel namanya. Tapi soal sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Karena akan mempengaruhi akhak, amal, dan pendapatan kita.
Nggak percaya? Coba ingat-ingat lagi kalimat hikmah berikut ini, "Bergaul dengan penjual minyak wangi, dapat bau wanginya. Bergaul dengan pembakar besi, dapat bau bakarannya."
Dan menurut ilmu pengembangan diri, siapa Anda tercermin melalui lima orang sampai sepuluh orang yang terdekat (sahabat) dengan Anda. Nabi Muhammad pun wanti-wanti soal ini.
"Kesolehan seseorang sesuai dengan kesolehan teman dekatnya (sahabatnya). Hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya,” peringatan Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.
Gimana dengan teman di socmed? Menariknya, sebanyak apapun teman Facebook dan Instagram Anda, sebenarnya Anda hanya bisa memiliki lima orang teman yang benar-benar dekat dalam satu waktu. Ini menurut Robin Dunbar lewat penelitian antropologis.
Kembali soal sahabat. Sekali lagi, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Keberadaan mereka hendaknya mengarahkan kita pada impian kita, baik impian jangka pendek (dunia) maupun impian jangka panjang (akhirat).
Lantas, bagaimana cara membangun hubungan dan mengenal seorang sahabat?
Secara umum, ada dua. Pertama, perbanyak aktivitas bersama. Kedua, adakan perjalanan bersama (safar). Kadang disebut juga dengan safari. Pelakunya adalah musafir.
Ujar Syaikh Muhammad bin Shalih, "Safar secara makna disebut as-safaru-safran karena memang 'membuka akhlak seseorang'. Maksudnya, membuat keadaan jadi begitu jelas dan begitu nyata."
Berapa banyak orang yang belum terkuak jati dirinya untuk sekian lama dan bisa terungkap setelah melakukan safar alias bepergian bersama. Dalam safar itulah akhirnya kita mengetahui akhlak dan perangai aslinya. Right?
Reaksi Umar bin Khattab saat ada seseorang yang merekomendasikan temannya, adalah bertanya, “Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya? Apakah engkau telah lama bergaul dengannya?” Jika jawabannya 'ya' maka Umar pun menerimanya.
Jika jawabannya 'belum' maka Umar akan melanjutkan, “Engkau belum mengetahui hakikat nyata tentang orang itu."
Dan menurut agama, dianjurkan safar dengan teman. Bareng-bareng. Jangan sendirian. Umar bin Khattab pernah berkata, “Janganlah seorang dari kalian safar sendirian dan jangan pula ia tidur di rumah sendirian.”
Suatu ketika Nabi Muhammad pun berpesan, "Kalau saja manusia mengetahui dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui, pasti ia tidak akan berani bepergian sendirian selamanya."
Karena itulah di komunitas BP (Billionaire with Pride) kami bepergian bersama. Di antara hikmahnya adalah untuk saling menjaga dan untuk saling mengenal. Insya Allah.
Terakhir, saya berharap semoga Allah memampukan kita semua untuk safar (trip) ke berbagai negara di 5 benua. Aamiin. Mungkin untuk tujuan bisnis, tujuan ibadah, atau tujuan yang lainnya.
Pesan guru saya, "Selling is amazing"
Menjual itu menakjubkan. Banyak sekali manfaatnya:
- Menyehatkan,
- Membuka Kemungkinan-Kemungkinan,
- Rezeki Tak Disangka-Sangka,
- Distribusi Manfaat,
- Sunnah Nabi
Lanjut guru saya, "Menjual (selling) itu seperti membawa sepeda (cycling). Bisa dilatih. Kalau sekali bisa, maka akan bisa selamanya." Saya pikir itu ada benarnya. Dan ini pula yang saya sampaikan kepada partner-partner saya.
Adam Knight, profesor biomekanik menyimpulkan, “Dari perspektif motorik, saat seseorang sudah mendapatkan satu skill, maka dia tidak akan kehilangan skill tersebut, kecuali terdapat kecelakaan syaraf atau otot.”
Ngomong-ngomong, dalam memulai bisnis, haruskah produksi sendiri? Boleh, tapi nggak harus. Saat kita ingin menjual mobil Toyota atau motor Yamaha, kita tidak perlu melakukan produksi dan perakitan sama sekali. Cukup menjual saja.
Sekarang, coba perhatikan mereka yang 'memindahkan' mobil dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa membuat dan merakit sedikitpun, mereka tetap disebut pengusaha. Right?
- Importir
- ATPM
- Dealer
- Showroom
- Broker
Boleh dibilang, seorang reseller itu mirip-mirip dengan sebuah showroom mobil. Kalau dropship? Mirip-mirip dengan seorang broker mobil. Fokusnya pada menjual.
Menjual itu baik. Asalkan barangnya, caranya, dan niatnya baik. So, jangan tabu, jangan malu. Bahkan Nabi Muhammad selama lebih dari 20 tahun, dalam bisnisnya, beliau fokus pada fungsi penjualan.
Ini pesan dan pelajaran buat kita. Think!
Menjual itu menakjubkan. Banyak sekali manfaatnya:
- Menyehatkan,
- Membuka Kemungkinan-Kemungkinan,
- Rezeki Tak Disangka-Sangka,
- Distribusi Manfaat,
- Sunnah Nabi
Lanjut guru saya, "Menjual (selling) itu seperti membawa sepeda (cycling). Bisa dilatih. Kalau sekali bisa, maka akan bisa selamanya." Saya pikir itu ada benarnya. Dan ini pula yang saya sampaikan kepada partner-partner saya.
Adam Knight, profesor biomekanik menyimpulkan, “Dari perspektif motorik, saat seseorang sudah mendapatkan satu skill, maka dia tidak akan kehilangan skill tersebut, kecuali terdapat kecelakaan syaraf atau otot.”
Ngomong-ngomong, dalam memulai bisnis, haruskah produksi sendiri? Boleh, tapi nggak harus. Saat kita ingin menjual mobil Toyota atau motor Yamaha, kita tidak perlu melakukan produksi dan perakitan sama sekali. Cukup menjual saja.
Sekarang, coba perhatikan mereka yang 'memindahkan' mobil dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa membuat dan merakit sedikitpun, mereka tetap disebut pengusaha. Right?
- Importir
- ATPM
- Dealer
- Showroom
- Broker
Boleh dibilang, seorang reseller itu mirip-mirip dengan sebuah showroom mobil. Kalau dropship? Mirip-mirip dengan seorang broker mobil. Fokusnya pada menjual.
Menjual itu baik. Asalkan barangnya, caranya, dan niatnya baik. So, jangan tabu, jangan malu. Bahkan Nabi Muhammad selama lebih dari 20 tahun, dalam bisnisnya, beliau fokus pada fungsi penjualan.
Ini pesan dan pelajaran buat kita. Think!