Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Indonesia itu beragam.

Indonesia itu damai.

Keragaman dan perbedaan iman tidak menghalangi kita untuk saling menghormati dan menyayangi dalam arti yang sesungguhnya, bukan basa-basi belaka.

Dan ini sudah terjadi sejak lama. Lantas, bagaimana dengan ucapan natal? Harus kita akui, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Tapi saya yakin, seorang Kristiani sejati, meski tak diberi UcapanNatal, tak akan berkurang kadar bahagianya dan ia memaklumi pendapat saudaranya yang berbeda iman.

Sebaliknya, seorang Muslim sejati, meski tak memberikan ucapan natal, tak akan berkurang rasa sayangnya terhadap saudaranya yang berbeda iman.

Semoga di penghujung tahun yang damai ini, Yang Maha Kudus mencurahkan rahmat dan berkat-Nya untuk kita juga keluarga kita. Aamiin. Damai Indonesia-ku.
Mau e-book ini? Gratis...
Alhamdulillah, sold out!
Sangat indah dan tak terlupakan. Itulah kesan saya terhadap seminar 'Langitkan Bisnismu' pada 30 Desember 2018 yang lalu di Ayana Midplaza. Turut hadir pula mitra-mitra saya. Alhamdulillah.

Di sana saya bicara soal target. Nah, saat saya bersikap 'rada keras' soal target kepada mitra-mitra saya, seringkali istri saya menegur saya. Mengingatkan.

Kata istri saya, "Kasihan mereka, Mas. Setiap bulan dikejar-kejar target terus. Gimana kalau bulan ini off dulu? Yang biasa-biasa aja."

Saya menjawabnya dengan pertanyaan, "Kalau target ini tercapai, kira-kira siapa yang diuntungkan? Kita (saya dan istri) atau mereka (mitra-mitra)?"

"Semua diuntungkan."

"Ya, betul. Tapi coba pikir baik-baik, siapa yang lebih diuntungkan? Kita atau mereka?"

"Hm. Mereka sih."

Akhirnya istri saya paham dengan sendirinya apa maksud dan tujuan saya. Ternyata penetapan target itu memang buat mereka. Ya, buat mereka. Mitra-mitra saya.

Kemudian saya sambung, "Kita sudah jadi pengusaha, alhamdulillah. Bahkan kata orang, kita ini pengusaha sukses. Lha, mereka? Jadi pengusaha, belum. Apalagi jadi pengusaha sukses. Padahal mereka mau bermitra dengan kita karena memang pengen dibimbing jadi pengusaha sukses."

Saya lanjutkan lagi, "Yang penting, dalam penetapan target itu bener-bener masuk akal dan bener-bener minim risiko." Nggak ngawang-ngawang. Nggak asal-asalan. Insya Allah mereka pasti bisa.

Istri saya pun mengangguk. Sepakat.

Pada akhirnya, mari kita sambut tahun 2019 ini dengan antusiasme dan optimisme terhadap pencapaian target. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Izin, berbagi keceriaan untuk teman-teman semua. Ini merupakan acara milad saya, 30 Desember yang lalu.
Kesulitan itu cuma sedikit. Ya, cuma sedikit. Coba perhatikan contoh-contoh berikut.

Kelaparan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kenyang...

Kemiskinan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kaya...

Kematian, sedikit. Lebih banyak yang sehat dan hidup. Right?

Demikianlah. Kesulitan itu cuma sedikit. Kurang-lebih inilah salah satu pesan dalam Al-Baqarah 155-156. Saya menyarankan teman-teman untuk membacanya secara langsung dan membacanya lebih dari satu kali.

Kadang kita uring-uringan dengan jerawat. Padahal itu cuma 1 atau 2 jerawat saja. Lebih banyak lagi bagian wajah kita yang tidak berjerawat.

Kadang kita uring-uringan dengan nakalnya anak. Padahal itu cuma 5 atau 10 menit saja. Lebih banyak lagi perilaku anak yang tidak nakal.

Kadang kita uring-uringan dengan macetnya jalan raya. Padahal itu cuma 10 persen saja. Lebih banyak lagi ruas jalan yang tidak macet.

Kadang kita uring-uringan dengan naiknya harga barang. Padahal itu cuma 5 persen saja dan pada sebagian barang saja. Lebih banyak lagi harga barang yang tidak naik. Betul apa betul?

Sayangnya, perhatian kita seringkali lebih tercurah dan tersita pada kesulitan itu, sembari mengabaikan kemudahan-kemudahan yang ada. Padahal Allah sudah berjanji, sekiranya ada kesulitan, pasti ada kemudahan.

Guru-guru kita juga mengajarkan, untuk satu pertanyaan ada berbagai macam potensi jawaban. Tak mungkin jawaban itu cuma satu. Maka, sudah semestinya kita lebih bersyukur. Mengeluh? Ah, buang sikap ini jauh-jauh.

Sekali lagi, mari kita bersyukur. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga berkah berlimpah.
Saat orang memaki dan menghina, kita balas dengan makian dan hinaan.

Saat orang menghujat dan menyumpah, kita balas dengan hujatan dan sumpah-serapah.

Dia marah, kita ikut marah.

Dia dendam, kita ikut dendam.

Begitukah?

Hei, hanya itukah yang kita bisa?
- Meniru keburukan orang lain
- Membiarkan orang lain memancing sifat buruk kita.
- Membiarkan orang lain mendikte suasana hati kita.
- Disetir, tidak bisa menyetir hati dan akhlak kita sendiri.

Begitukah? Betapa ruginya!

Kalau hanya meniru keburukan orang lain, lha buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, buat apa ikut pengajian sering-sering?

Sudah saatnya kita mampu mengendalikan hati dan akhlak kita, tidak mau disetir oleh kelakuan buruk orang lain.

Mereka boleh kasar kata-katanya, tapi kita tidak perlu merespons dengan ikut-ikutan berkata kasar. Mereka boleh jelek perilakunya, tapi kita tidak perlu merespons dengan ikut-ikutan berperilaku jelek.

"Mas Ippho, ini memang tidak mudah. Tapi saya berusaha. Bisa insya Allah."

Kalau Anda sudah bisa bertekad seperti itu, nah itulah bagian dari mental pemenang. Mampu mengendalikan dirinya. Saya harap Anda benar-benar menjadi seorang pemenang, di manapun, kapanpun, terhadap siapapun. Sekian, semoga bermanfaat.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Azim Premji, salah satu orang terkaya di India, yang menyarankan kita untuk memiliki impian yang besar dan menggetarkan. Hal ini saya sampaikan ulang kepada mitra-mitra saya, bertepatan di Jogja kemarin...

Jangan anggap enteng segala impianmu. Kalau dirimu saja meremehkan, apalagi orang lain... Demikian pula terhadap anak-anakmu dan murid-muridmu. Hargai impian mereka. Lalu, bimbing mereka, semangati mereka, doakan mereka... Keberuntungan, tidak ada yang bisa menerka!

Kita semua tahu, anak-anak walaupun masih kecil, tapi impiannya sudah besar. Itu kan bagus. Nah, tugas orangtua adalah mengawal impian itu agar tetap besar dan penuh manfaat... Kepada-Nya, kita taat. Kepada sesama, kita bermanfaat. Niscaya dunia-akhirat kita akan selamat... Sepakat?

Impian yang besar memang tidak mudah. Namun insya Allah akan berakhir indah. Sangat indah. Kelak, diceritakan kemana-mana karena memang menggugah... Bagaimanapun, ikhtiarkan impian yang besar itu. Jangan lemah. Jangan mudah lelah. Jangan mudah menyerah...

Setiap kita mungkin memiliki impian dan keinginan yang berbeda. Boleh. Misalnya, membangun sekolah gratis, merintis rumah sakit murah, menghajikan dan mengumrahkan orangtua, membuka lapangan kerja, dst... Silakan...

Kembali saya ingatkan. Selagi itu kebaikan, perjuangkan semua impianmu. Jangan pernah ragu. Jangan pernah jemu. Tuhan-mu, pastilah membantu dirimu. Dari jauh, saya Ippho Santosa turut mendoakan itu...
Sebagian besar teman-teman di sini sudah mengikuti saya sejak lama. Belajar ke saya melalui WA, telegram, dan socmed.

Harapan saya...

Teman-teman semua...

makin sukses di bisnisnya,
makin sehat, makin soleh,
makin penyayang sama pasangan,
makin penyabar sama pasangan,
makin dekat dengan anak,
makin berbakti ke orangtua,
makin bermanfaat bagi sesama,
makin bertambah kebaikannya...

Aamiin...

Saya selalu berharap perubahan positif pada orang-orang yang belajar sama saya. Kalau itu terjadi, artinya sedikit-banyak saya telah berhasil. Ada kebahagiaan tersendiri yang saya rasakan.

Btw, pada 13 Januari (Ahad pagi), saya ada acara bareng guru saya, Aa Gym. Forum ilmu ini gratis. Bagi teman-teman yang berminat untuk hadir, silakan WA ke 0813-9520-0092.

Teman-teman dari kota manapun, profesi apapun, dipersilakan untuk hadir. Kalau bisa, hadirlah bersama pasangan. Semoga membawa perubahan. Bareng-bareng berubahnya.
Uang bisa datang dan pergi. Sangat cepat. Lebih cepat daripada angin. Karena itulah, yang paling penting adalah ilmu mendapatkan uang. BUKAN uang itu sendiri. Maksudnya?

Misal, Anda punya saudara atau sahabat. Saat Anda punya uang, lalu Anda membantunya terus-menerus dengan uang, apakah itu baik? Membantunya terus-menerus dengan fasiltas, apakah itu baik? Sebelum menjawab, coba renungkan dulu tenang-tenang.

Begini. Fasilitas demi fasilitas kalau kita berikan, hati-hati, ini bisa memanjakan saudara kita atau sahabat kita. Bahkan melemahkan potensinya. Nggak baik. Namanya manusia, begitu merasa nyaman, kemungkinan besar akan melemah potensinya.

Maka, kalau memang Anda peduli dan sayang sama dia, persiapkan dia. Gembleng dia. Ajari dia. Ilmu tentang uang. Di mana uang berada dan bagaimana cara mendapatkan uang. BUKAN terus-menerus memberinya uang.

Misal, adik Anda atau ponakan Anda masih kuliah. Anda bantu uang kuliahnya, itu masih wajar. Apalagi kalau orangtua Anda sudah tidak mampu. Tapi, bantu sekadarnya. Yup, sekedarnya. Nggak berlebihan.

Perlakuan terhadap saudara beda dengan orangtua. Beda. Orangtua boleh dimanjakan. Saudara mah jangan.

Terus, terhadap saudara, apa yang lebih penting, yang benar-benar penting? Gembleng dia. Ajari dia. Ilmu tentang uang. Bukan memanjakannya dengan uang. Sekali lagi, uang bisa datang dan pergi. Cepat sekali.

Karena itulah, yang paling penting adalah ilmu mendapatkan uang. Bukan uang itu sendiri. Kesimpulan, sekiranya Anda sudah sukses, bantu orang-orang yang Anda cintai dengan ilmu yang banyak dan uang yang sekedarnya. Jangan terbalik.

Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rumah tangga kadang rumit. Dan itu wajar sebenarnya. Kalau sederhana, bukan rumah tangga namanya. Yang 'sederhana' itu rumah makan. Hehehe.

๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Coba renungkan ini. Pasangan, orangtua, dan mertua BUKANLAH orang-orang yang dipilihkan Allah secara random (acak) kepada kita. Ada sebabnya. Ada tujuannya.

Buat apa?

Agar kita saling mengingatkan dan saling memperbaiki satu sama lain. Pengalaman dari para senior, saat kita berusaha memperbaiki diri, maka pelan-pelan akhlak dan amal pasangan kita akan turut membaik.

Nah, kalau kita dititipkan pasangan atau orangtua yang belum ideal, yah nggak heran. Toh diri kita juga jauuuh dari kata ideal. Pesan guru saya, "Ini kesempatan bagi kita turut membenahi mereka dengan sabar dan doa."

Teman-teman setuju? Saya sih setuju dan saya harap Anda juga begitu ๐Ÿ™‚

Lantas, gimana soal penafkahan? Gimana kalau wanita bekerja? Gimana kalau wanita berbisnis? Nah, topik ini sangat penting. Simak penjelasannya >> https://www.instagram.com/p/BspHtHFFbvq/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=6mxdfkf246h0
Saya dua kali bertemu Ustadz Maulana. Nama 'Maulana' diambil dari nama ayahnya. Orangnya humoris dan selalu ceria. Tapi, bukan berarti ilmunya dangkal. Ia lulusan Pondok Pesantren An-Nahdah, Sulsel, tahun 1994.

Saya pun turut berduka-cita sedalam-dalamnya, saat tahu berpulangnya Ibu Nuraliyah Ibnu Hajar (istri dari Ustadz Maulana) pada hari Ahad 20 Januari, sore kemarin di Makassar.

Kita doakan ya. Semoga almarhumah husnul khatimah, Allah terima amal ibadah beliau, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran juga ketabahan. Aamiin.

#UstadzMaulana pernah cerita, nggak pernah marah sama istrinya, di sepanjang pernikahan mereka. Masya Allah. Menurutnya, sang istri ini sangat mandiri, sangat dermawan, dan taat sama suami. Sang istri sebelum meninggal rutin mengajar sebagai guru.

Yang jelas, sewaktu ngobrol-ngobrol bareng Ustadz Maulana, saya jadi kagum sama beliau dan istri beliau. Kagum dalam banyak hal. Orang-orang mungkin tidak tahu bahwa Ustadz Maulana rajin berpuasa sunnah, bahkan saat syuting sekalipun!

Saat menyapa orang-orang, beliau selalu ceria. Ekspresif. Walaupun hatinya lagi susah dan sedih. Menurutnya, jangan menampakkan kesedihan di hadapan manusia. Masya Allah.

Walaupun sudah terkenal, istrinya masih mau mengajar sebagai guru di sekolah khusus untuk anak-anak yang tidak mampu. Bukankah ini amal kebaikan yang mengagumkan? Mereka pun berdua gemar mengumrahkan orang dan membangun masjid.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/Bs2uzA_lgrz/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1aber02tz8tmc
Seorang Raffi Ahmad, lagi 'nyari sesuatu'...

Video kedua yang bikin saya kaget. Nggak nyangka ternyata dia punya kekhawatiran seperti itu...

Simak deh >> https://www.instagram.com/p/Bs_hZrNlxjJ/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=8vzx2ltobuud

Hari itu kita lagi kajian di rumah Raffi Ahmad. Turut hadir Irwansyah, Baim Wong, Teuku Wisnu, Dimas Seto, Arie Untung, Tommy Kurniawan, Adrian Maulana, dll.

Beruntung, seorang Raffi masih punya sahabat-sahabat yang baik, yang mengingatkan dan mendoakan dalam kebaikan. Insya Allah.