Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Bisnis dan karier tak selamanya di atas. Jangan sombong, jangan pula melampaui batas. Kalau sombong, itu namanya bablas.

Coba ingat-ingat lagi masa-masa susah kita. Coba ingat-ingat lagi asal-usul diri kita. Masih berani sombong?

Seperti kehidupan, #bisnis juga kadang naik-turun. Kalau memahami ini, ketika naik, kita tidak akan sombong. Ketika turun, kita tidak akan putus asa. Dijalani saja semuanya, sewajarnya.

Lantas, apa bedanya sombong dengan keyakinan yang meluap-luap? Tentu saja beda.

Begini. Boleh-boleh saja yakin, setinggi apapun, sebesar apapun, asalkan disandarkan sama Allah. Keyakinan seperti ini namanya iman, bukan sombong, bukan takabur. Upayakan seyakin ini, meski uang di kantong nggak seberapa.

Sebenarnya, ini nggak ada urusan sama uang. Cuma sayangnya, kebanyakan orang, ada uang, baru yakin. Nggak ada uang, yah nggak yakin. Ini kan kebalik. Justru dengan yakin, suatu hari nanti, uang akan teradakan. Betul apa betul?

Sekali lagi, yakin hendaknya disandarkan sama Allah. Ya, sama Allah. Dan ini yang terbaik. Kalau disandarkan pada diri sendiri? Maaf, itu sombong namanya. S-o-m-b-o-n-g. Apalagi sampai meremehkan orang lain. Paham bedanya?

Saya doakan, semoga semua aktivitas teman-teman lancar dan berkah semua. Aamiin. Tetap semangat, tetap tawadhu. Jauh dari kesombongan. Aamiin.

Doakan saya juga ya 😄😄😄

Kadang, saya pribadi penasaran. Apa saja aktivitas utama teman-teman. Boleh bantu jawab? Di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BoIDfrKgXQ_/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=6u3omnqulut2
Kemarin saya bersama Wendi Abdillah dan mitra-mitra BP lunch bareng Mas Fadly, vokalis Padi dan Musikimia. Terima kasih Mas Fadly, telah berkenan lunch bersama mitra-mitra BP. Mudah-mudahan Mas Fadly tetap sehat, tambah sukses, dan tercapai impian-impian mulianya. Aamiin.

Istrinya Mas Fadly, Mbak Dessy, juga hadir. Alhamdulillah. Keseruan kami bisa dilihat di IG ini >> https://www.instagram.com/p/BoL7hyWANqg/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1uo82n8hsg55b.

Mereka sudah menikah 17 tahun. Langgeng alhamdulillah. Beberapa minggu yang lalu, barusan mereka memperingati anniversary pernikahan mereka di Eropa, walaupun perjalanan ke situ tidak direncanakan sebelumnya.

Pertama kali saya bertemu Mas Fadly di acara SalingSapa dan ICMI. Di situ saya baru tahu ternyata Mas Fadly sudah baca buku saya sejak lama. Setelah itu, saya mengajaknya bertemu Eyang Habibie, mengisi seminar bareng, dan membawakan lagu 'Sang Pemenang'.

Orangnya persis seperti filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Rendah hati alias tawadhu. Padahal albumnya sudah terjual jutaan keping. Hampir semua orang Indonesia pernah menyanyikan lagunya, seperti 'Begitu Indah' dan 'Insya Allah'.

Anaknya empat. Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan. Bilal sudah di pesantren, alhamdulillah. Mereka berharap Bilal ini suaranya lantang dan indah seperti sahabat Nabi, Bilal. Keluarga yang soleh, insya Allah. Tidak seperti rocker kebanyakan. Ya lihat saja dari nama-nama anaknya.

Bersama Maher Zain, Mas Fadly mengajak masyarakat untuk tetap optimis walaupun tengah dilanda masalah. Tepatnya di lagu 'Insya Allah'.

Bagi saya, setiap masalah pasti ada solusi dan jalan keluarnya. Insya Allah. Namun, kadang kita belum bisa menemukannya seketika. Perlu doa. Perlu ikhtiar. Perlu taubat. Agar dipertemukan dengan solusi dan jalan keluar.

Di sisi lain, kita juga mesti sabar dan baiksangka. Ya, sabar dan baiksangka. Yakinlah, pasti dipertemukan dengan solusi dan jalan keluar. Teman-teman setuju? Saya harap begitu.

Satu hal yang jarang diketahui, Mas Fadly juga suka berkebun. Menarik? Tentunya. Tiga anaknya belajar di sekolah alam. Baginya, kita harus menghargai alam. Jangan merusak alam, sekecil apapun. Menurut saya, ini bagian dari rahmat pada semesta alam.

Sekali lagi kita doakan, mudah-mudahan Mas Fadly tetap sehat, tambah sukses, dan tercapai impian-impian mulianya. Aamiin.
Simak tulisan-tulisan saya di sini, gratis >> tulisanipphosantosa.com
Ada baiknya kita memiliki mentor yang tepat untuk bisnis kita, karier kita, dan kehidupan kita. Memang tak mudah untuk mendapatkan mentor yang tepat. Tapi bukan berarti ini mustahil. Bisa, insya Allah.

Selanjutnya, lebih baik lagi kalau kita bisa bermitra dengannya atau bekerja untuknya (work with or work for). Dengan kata lain, kita menjadi partner-nya atau menjadi staf-nya. Kalau sudah begini, kita akan beroleh transferan ilmu setiap harinya. Tokcer tentunya!

Ini saran saya berikutnya >> https://www.instagram.com/p/BoQwgJWAiHh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1rfepb6n2qjzx
Setiap Muslim tentu tahu bahwa sholat 2 rakaat sebelum subuh lebih berharga daripada dunia dan seluruh isinya. Dalil ini memotivasi kita untuk sholat 2 rakaat sebelum subuh dan sholat subuh berjamaah.

Namun bukan berarti kita mengabaikan harta. Adalah benar, kaya hati dan kaya amal itu perlu. Ya, sangat perlu. Tapi kaya harta juga perlu. Memudahkan ibadah dan kebermanfaatan, iya tho? Saya yakin teman-teman setuju.

Harus kita akui, peradaban saat ini ditentukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan harta. Ini pelajaran buat kita. Berusahalah untuk kaya hati, kaya amal, dan kaya iman. Tapi jangan sampai kita mengabaikan kaya harta.

Hendaknya kaya hati, kaya amal, dan kaya iman yang dijadikan lokomotif. Terus, kaya teman, kaya ilmu, dan kaya harta menjadi gerbong-gerbong yang mengikuti di belakangnya. Berimbang. Tidak berlebihan.

Insya Allah yang berimbang ini jauh lebih baik. Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Punya mentor?

Ahad, saya seminar di Surabaya. Sabtu, saya seminar di Bandung. Dalam hati saya bersyukur, "Terima kasih ya Allah. Dikasih peserta seminar yang ramai, alhamdulillah." Dalam dua hari itu saya check-in di 5 hotel, hehehe. Kayaknya keren ya, padahal lumayan pegel.

Sebenarnya, yang paling enak itu di rumah, terutama di kamar, hehehe. Tapi kadang-kadang saya harus keluar kota juga. Berbagi ilmu, men-training mitra, dan menggalang dana. Berharap, semoga segala kesibukan saya dan kita semua diridhai Yang Maha Kuasa. Aamiin.

Di seminar, saya sering menyampaikan tentang pentingnya mencari mentor. Anda sudah punya mentor?

Pesan saya, "Sekiranya ada orang sukses, jadilah partner-nya. Atau jadilah staff-nya. Andai belum bisa, jadilah muridnya. Itulah mentoring. Sebisanya, dari sang mentor, kita belajar intens." Lazimnya mentor tidak datang seketika ke rumah kita atau tempat kita. Sebaliknya, kitalah yang mesti sungguh-sungguh mencarinya.

#FindYourMentor

Mentor hendaknya memiliki ilmu dan jam terbang. Selain itu, ia juga mampu menyampaikan ilmunya. Ini penting sekali. Betapa sering kita bertemu dengan orang hebat namun ia tidak terlalu pandai menularkan kehebatannya dan tidak terlalu piawai menyampaikan ilmu-ilmunya.

Sebut saja, ia tidak komunikatif. Atau, mungkin ia lumayan komunikatif, tapi ia menyampaikan ilmu-ilmunya dengan cara yang kurang sistematis. Sehingga kita pun merasa 'lost' atau 'missed' di beberapa hal ketika mempelajarinya.

Memang, tidak gampang mencari mentor yang ideal. Tapi ini sangat layak untuk diperjuangkan. Kenapa? Begitu dia ada, berbagai hal akan terasa lebih mudah. Ya, lebih mudah. Karena kita diberi bimbingan dan semangat.

Mudah-mudahan Anda sepakat.
Ali bin Husein pernah berpesan, "Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian dari Allah dengan rasa senang (syukur)." Pesan ini memotivasi kita untuk selalu bersyukur. Kapanpun, di manapun.

Demikianlah. Berusahalah untuk selalu bersyukur. Salah satu manfaatnya, kita akan lebih beruntung.

Awal-awal berseminar, saya hadir di kota-kota yang relatif kecil. Saya syukuri saja. Alhamdulillah sejak 2010 sampai 2018, dengan izin Allah, saya sudah berseminar di 34 provinsi di Indonesia dan di belasan negara di 5 benua.

Sebagai pembicara seminar, kesempatan ini merupakan nikmat tersendiri bagi saya. Satu hal yang sering saya bahas di seminar adalah soal bersyukur. Ini bagian dari mental pemenang. Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang 'bersikap terbalik'.

Dan rupa-rupanya bagi mereka ini malah menjadi motivasi untuk lebih sukses. Positif.

Misalnya saja:
- Sakit, tapi masih bisa tersenyum.
- Gagal, tapi masih bisa bahagia.
- Bangkrut, tapi masih bisa tersenyum.
- Miskin, tapi masih mau sedekah.

Orang rata-rata, sukses dulu, baru bisa bersyukur. Mapan dulu, baru mau sedekah. Ini kan parah. Sekiranya kita mau bersikap positif alias bersyukur, niscaya kita akan lebih lucky alias lebih beruntung.

Dalam karya fenomenalnya, The Luck Factor, Profesor Richard Wiseman seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire telah meneliti 400 orang yang memiliki karakter yang beruntung dan tidak beruntung, dengan berbagai jenis latar belakang.

Dalam penelitiannya bertahun-tahun ia mengungkap bahwa keberuntungan bukanlah kemampuan magis atau hasil dari pengambilan acak. Ternyata ada polanya. Apa saja polanya? Macam-macam. Salah satunya adalah berpikir dan bersikap positif.

Anda termasuk yang mana? Jadikan saja tulisan ini sebagai bahan renungan. Semoga dengan bersyukur, hidup kita selalu berkah dan berlimpah dari waktu ke waktu. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya dua kali bertemu Robert Kiyosaki bersama istrinya, Kim Kiyosaki. Mereka berdua terkenal sebagai guru kekayaan. Mungkin teman-teman sudah baca buku-buku mereka.

Menurut Robert Kiyosaki, perbedaan mendasar antara orang super kaya dengan orang-orang yang berkantong rata-rata adalah pada cara pikir atau mindset mereka.

Mindset-lah yang akhirnya memberikan perbedaan, mengapa sebagian orang mampu membangun kekayaan tanpa batas dan mengapa sebagian yang lain tidak mampu.

Mindset akan mempengaruhi orang dalam memutuskan sebuah tindakan dan menghadapi konsekuensinya. Mindset juga berpengaruh pada gaya kerja seseorang, apakah sekadar kerja keras atau kerja cerdas.

Serunya, Business Insider menyampaikan sejumlah pantangan bagi orang kaya (orang bermental kaya). Nah, berikut ini adalah kalimat-kalimat yang tidak boleh disebut alias pantangan:

1. “Saya tidak mampu membelinya.” Harusnya tetap positif. Insya Allah suatu hari nanti mampu membelinya. Ini soal waktu dan kapasitas saja.

2. “Saya bekerja untuk mencari uang.” Harusnya? Saya bekerja untuk belajar. Kemudian, dengan bisnis, uanglah yang bekerja untuk saya.

3. “Belajar yang rajin agar bisa diterima bekerja di perusahaan terbaik.” Harusnya? Kalaupun saya bekerja, saya bekerja di tempat yang ada mentor bisnisnya.

4. “Bila berkaitan dengan uang, main aman saja, jangan ambil risiko.” Harusnya? Orang bermental kaya siap dengan risiko asalkan jelas ganjarannya dan terukur risikonya.

5. “Rumahku adalah asetku.” Ini keliru. Rumah hanya disebut aset kalau memang menghasilkan uang. Bukan menguras uang.

6. "Saya tidak akan pernah jadi orang kaya." Padahal? Yah bisa saja. Tergantung ikhtiar, amal, dan doa. Insya Allah.

7. "Saya tidak tertarik pada uang." Lagi-lagi ini salah kaprah. Orang kaya tidak pernah meremehkan uang. Tidak pernah pula mengejek uang.

8. "Orang lain perlu dijatuhkan agar saya sukses." Ini mindset yang salah. Dengki. Harusnya dia percaya bahwa Tuhan Maha Kaya, bisa mengayakan siapapun, pada waktu bersamaan.

Praktek ya. Dalam artian, hindari 8 pantangan ini. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Orang Kaya Yang Bagaimana?

Kemarin saya berjumpa dengan Mufti Menk, difasilitasi oleh SKPI dan sahabat saya, Mario Irwinsyah. Menariknya, ketika berceramah, Mufti Menk mendoakan agar jamaah menjadi miliarder. Ya, menjadi miliarder.

Kita sama-sama tahu, tak semua ulama menganjurkan jamaah untuk kaya. Selain faktor hisab, kekayaan juga mengundang ujian-ujian tersendiri yang jelas-jelas tidak ringan.

Kompas pada 13 September 2018 melaporkan soal negara-negara kaya. Ironisnya, negara-negara yang dinyatakan kaya oleh badan-badan dunia, ternyata memiliki insiden bunuh diri yang tinggi. Benar-benar ironis.

Perlu contoh? Sebut saja Finlandia, Korea Selatan, Belgia, Perancis, Austria, dan Swiss. Sedangkan Indonesia adalah negara dengan peringkat bunuh diri nomor 165 dari 177 negara. Dengan kata lain, peringkat Indonesia relatif lebih baik.

Lantas, kaya yang bagaimana yang dianjurkan? Begini. Silakan saja kaya harta. Silakan saja kaya ilmu. Silakan saja kaya relasi. Tapi yang paling utama adalah kaya hati dan kaya iman. Ya, itulah yang utama.

Tanpa iman, kekayaan bisa menjadi mesin kapitalis yang mematikan. Tanpa iman, ilmu bisa menjadi alat rekayasa yang menjerumuskan. Tanpa iman, relasi bisa menjadi kelompok manipulatif yang menghancurkan.

Hendaknya kaya hati dan kaya iman dijadikan lokomotif. Diletakkan di depan. Terus, kaya harta, kaya ilmu, dan kaya relasi, menjadi gerbong-gerbong yang mengikuti di belakangnya. Proporsional, tidak berlebihan.

Dengan begini, insya Allah kita semua akan selamat. Anda sepakat?
Prestasi akan lebih terdengar ketimbang kata-kata. Sadarkah kita, prestasi itu aksi nyata?

Bahkan:
Prestasi adalah dakwah.
Prestasi adalah syiar.

Lihatlah Khabib Nurmagomedov dan Mohamed Salah. Hampir semua orang membahasnya dan mengikutinya.

Bayangkan. Kalau omset kita Rp 1 M sebulan, kalau kita juara di Asian Games, kita bicara apa saja, orang-orang akan dengar.

Saat kita bicara soal dhuha dan tahajjud, orang-orang akan nurut.

Saat kita bicara soal berbagi dan sedekah, orang-orang akan tergugah.

Saat kita bicara soal hormat dan berbakti, orang-orang akan mengikuti.

Bayangkan. Orang sekelas Sandiaga Uno dan Erick Thohir bicara soal berbakti. Tentulah orang-orang akan mengikuti. Tidak ada yang memungkiri. Itu pasti.

Begitulah.

Prestasi adalah dakwah.

Prestasi adalah syiar.

Maka:
- berprestasilah
- sukseslah
- kayalah

Menang kompetisi, bagus. Menang pilkada, bagus. Jadi, direktur, bagus. Jadi miliarder, bagus. Jadi triliuner, bagus.

Mulai dari diri kita. Sebisanya. Siap?
Selagi kita masih ada umur, selagi orangtua kita masih ada umur, berbaktilah. Sungguh-sungguh. Jangan sampai nanti kita menyesal... Kalau kita berbakti, insya Allah akan berbalas, berupa kemudahan rezeki dan keberkahan hidup. Bahkan anak-anak pun akan mencontoh, kelak mereka juga akan berbakti... Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat ya buat kita semua. Aamiin... Sekali lagi, mohon doa untuk ibu saya. Juga ibu-ibu kita semua...

https://www.instagram.com/p/BovkTU2A1ly/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=xncpm5q0fq2y
Weekend kemarin, saya dan mitra-mitra berada di Sumbar. Alhamdulillah. Tepatnya, berseminar di Payakumbuh, Bukittinggi, dan Padang. Kali ini kita akan membahas soal orang Minang. Sejarahnya dan etos kerjanya.

“Sejarah memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah masa depan. Jika kita selalu membanggakan sejarah, kita bisa kehilangan masa depan,” sindir Wakil Presiden Jusuf Kalla suatu ketika.

Saat itu ia berbicara di peresmian gedung baru milik Universitas Negeri Padang (UNP). Dan tulisan berikut ini diambil dari PadangKita dengan sedikit penyuntingan tanpa mengubah pesan utama.

JK yang paham sejarah mengingatkan bahwa orang Minang sebenarnya sangat digdaya dan berjaya di republik ini. Mulai dari peran besar dalam mendirikan republik, hingga mengisi pos-pos penting seperti diplomat.

Pengalaman JK saat bertugas ke berbagai negara, di mana berjumpa dengan berbagai diplomat. Dia miris, dulu karena kecakapan bicara, orang Minang mendominasi pos-pos diplomat, tapi sekarang tidak lagi.

Ungkap JK, zaman dulu di semua sektor pasti ada orang Minang. Di politik kalau ketua orang Jawa, sekjen pasti orang Minang. Bisnis pun sama, termasuk di perusahaan-perusahaan besar. Ada orang Minang seperti Hasyim Ning, co-founder PT Pembangunan Jaya.

JK menambahkan referensi, orang Minang masih menghegemoni sederet bidang hingga dekade tahun 1950-an dan 1960-an. Termasuk agama. Jika dulu Shalat Jumat di Jakarta, dari 10 khatib, pasti 8-nya orang Minang.

JK yang istrinya berdarah Minang mengingatkan bahwa orang Minang harus paham habitatnya yakni pendidikan, surau, dan pasar.

“Artinya, jika ingin memudarkan orang Minang, yah rusak pendidikan, surau dan pasarnya. Habislah orang Minang. Sebaliknya, jika ingin memajukan orang Minang, maka majukan pendidikan, surau dan pasarnya,” pesan blak-blakan dari JK.

Sedari dulu, kebanggaan Minang berbeda dengan daerah lain. Jika daerah lain, tokoh dan pahlawannya memegang pedang, tombak, atau keris. Semuanya senjata fisik. Tapi tidak begitu di Minang. Semua tokohnya mengandalkan ilmu pengetahuan. Senjatanya yah otak.

“Generasi Minang sekarang tidak ke surau lagi, karena di rumah ada TV, ada kenyamanan," ujar JK. Padahal untuk bersaing dan maju, modalnya hari ini adalah ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan inisiatif.

Dulu, orang Minang yang jumlahnya hanya 6% di Jakarta mampu membuka pusat-pusat perdagangan seperti Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Cipulir, Pasar Jatinegara, dan Pasar Blok M. Mendominasi. Tapi itu dulu.

Dengan kata lain, saat ini orang Minang secara khusus dan orang Indonesia secara umum, perlu introspeksi. Benar-benar introspeksi. Karena sebenarnya pesan dan peringatan ini berlaku untuk kita semua.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Setelah seminar di 3 kota di Sumbar, saya segera kembali ke Jakarta. Di Jakarta, telah menanti special dinner mitra-mitra saya dengan Dewi Sandra, dkk. Bukan rahasia lagi, mitra-mitra saya itu sebagian besar ibu-ibu.

Pesan saya, "Jangan engkau remehkan ibu-ibu atau emak-emak. Mungkin dia nggak gaul, mungkin dia nggak ngerti teknologi, mungkin dia nggak pernah kuliah bisnis. Tapi kalau mereka sudah terjun di bisnis, apa-apa yang dipegang jadi laris-manis."

Emak-emak dan mbak-mbak zaman sekarang beda. Ya, beda. Mereka demen jualan. Hehehe. Alhamdulillah, adanya teknologi dan komunitas sangat membantu perputaran bisnis mereka. Sehingga nggak perlu sering-sering keluar rumah, tapi tetap jualan. Betul apa betul? 😊
 
Bagi saya, jualan bukan sekedar menawarkan barang. Tapi juga menawarkan manfaat dan solusi. Sesuatu yang sangat bermanfaat, jangan didiamkan saja. Baiknya sampaikan ke orang lain. Kalau ngasih, namanya sedekah. Kalau jual, namanya muamalah. Dua-duanya berkah. Yang setuju, bantu share ya.

Selesai dinner, saya langsung cuss ke Bandung. Menjenguk ibu saya. Terus, balik lagi ke Jakarta. Siap-siap ke London.

Untuk belajar ilmu bisnis, teman-teman bisa belajar dari Mr Joss, Dedy Duit, Diaz Adriani, Wendi Abdillah, dan Subarkah. Bukan sekadar pengusaha, mereka juga berhasil mencetak ratusan pengusaha.

Demikianlah kesibukan saya weekend kemarin. Dan saya berharap Anda ikut merasakan kegembiraan saya melalui tulisan ini. Pada akhirnya, apapun kesibukan teman-teman semua, saya turut mendoakan, "Semoga berkah berlimpah."
Bisnis yang sarat manfaatnya dan positif ekosistemnya, layak diperjuangkan. Walaupun bisnis itu sesekali rugi, pertahankan. Ya, pertahankan. Apalagi kalau ternyata bisnis tersebut untung dan potensinya besar. Harus benar-benar diperjuangkan.

Saran saya, jangan sekedar berbisnis. Soal halal, itu sih sudah standar. Sebagai tambahan, cari bisnis yang ekosistemnya positif. Di mana lingkungan dalam bisnis itu membuat kita tambah dekat sama keluarga, tambah dekat sama agama, dan tambah peka terhadap sesama.

Indah tho? Insya Allah.

Bisnis yang hanya bicara soal rupiah adalah bisnis yang murah, bahkan murahan. Kita orang beriman harus berpikir lebih daripada itu. Ada keberkahan. Ada ekosistem yang positif. Ada manfaat yang luas. Kalau sudah begini, insya Allah bisnisnya akan 'menjaga' kita. Selamat dunia akhirat.

Tulisan ini saya ketik di London. Saya sempat merenung, "Hidup adalah pilihan." Maka, pilih bisnis yang bisa 'menjaga kita'. Kalau belum dapat, yah cari. Proaktif. Jangan diam begitu saja. Siap? Semoga berkah berlimpah. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan.