Rezeki tidak melulu soal uang.
Hampir 100% perjalanan saya, alhamdulillah, dibiayai oleh pihak lain. Mulai Bukittinggi sampai Inggris. Kesempatan jalan-jalan seperti ini, menurut saya adalah bentuk lain dari rezeki.
Pernah juga saya bertemu bahkan dinner dengan tokoh-tokoh nasional dan internasional. Ini juga rezeki. Gimana dengan kesehatan? Persahabatan? Keluarga? Nama baik? Itu pun rezeki.
Saya kenal dengan pengusaha-pengusaha yang jauh lebih sukses daripada saya. Tapi, sebagian besar mereka tidak sempat untuk jalan-jalan. Termasuk bertemu dengan tokoh-tokoh. Tidak sempat.
Karena itulah saya mengajak kita semua untuk selalu bersyukur. Ya, selalu bersyukur. Dan berhentilah mengeluh. Karena rezeki bukan melulu soal uang. Sungguh, dimensi rezeki itu amatlah luas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Salam dari London.
https://www.instagram.com/p/BpOEITHguIs/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=71tmifbv4khf
Hampir 100% perjalanan saya, alhamdulillah, dibiayai oleh pihak lain. Mulai Bukittinggi sampai Inggris. Kesempatan jalan-jalan seperti ini, menurut saya adalah bentuk lain dari rezeki.
Pernah juga saya bertemu bahkan dinner dengan tokoh-tokoh nasional dan internasional. Ini juga rezeki. Gimana dengan kesehatan? Persahabatan? Keluarga? Nama baik? Itu pun rezeki.
Saya kenal dengan pengusaha-pengusaha yang jauh lebih sukses daripada saya. Tapi, sebagian besar mereka tidak sempat untuk jalan-jalan. Termasuk bertemu dengan tokoh-tokoh. Tidak sempat.
Karena itulah saya mengajak kita semua untuk selalu bersyukur. Ya, selalu bersyukur. Dan berhentilah mengeluh. Karena rezeki bukan melulu soal uang. Sungguh, dimensi rezeki itu amatlah luas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Salam dari London.
https://www.instagram.com/p/BpOEITHguIs/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=71tmifbv4khf
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Jangan salah. Jogging adalah #olahraga yang mahal, bisa habis jutaan rupiah. Lho kok bisa? Ya, bisa. Misal, tinggalnya di Jakarta, terus hanya mau jogging kalau di Kensington Gardens. Kan lumayan tiket pesawatnya, hehehe... Ada banyak cabang olahraga. Pilih…
Hari itu, saya dan istri berkunjung ke Kota Bath, sekitar 2 jam dari London. Kota ini terkenal dengan pemandian kuno yang sudah eksis sejak Zaman Romawi. Ya, umurnya sudah ribuan tahun. Menakjubkan.
Di samping itu, saya melihat berbagai bisnis di Inggris yang umurnya sudah ratusan tahun. Di antaranya:
Restoran Sally Lunn yang berdiri sejak tahun 1600-an.
WHSmith Company yang berdiri sejak tahun 1828.
Burberry yang berdiri sejak tahun 1856.
British Petroleum sejak tahun 1909.
Masing-masing sudah ratusan tahun umurnya. Hebat ya. Sangat.
Ada pula Halal Restaurant di London Timur yang umurnya lebih dari 70 tahun. Menunya enak-enak.
Jujur saja, saya takjub. Di saat kita masih berjuang melawan penjajahan, pada waktu yang sama, mereka sudah mengembangkan berbagai macam bisnis, mulai dari fashion sampai kuliner. Dan sebagian masih bertahan sampai sekarang.
Mereka memiliki visi dan memperjuangkan visinya. Mereka pun mempersiapkan top management untuk generasi berikutnya. Selain itu, mereka welcome terhadap perubahan. Tidak anti. Itulah yang membuat mereka bertahan.
Lantas, gimana dengan bisnis kita?
Saran saya, "Kalaupun sekarang bisnis kita masih kecil, nggak masalah. Niatkan dan ikhtiarkan untuk besar juga bertahan lama. Siap?" Melalui visi. Melalui kaderisasi. Melalui manajemen perubahan.
Teman-teman siap? https://www.instagram.com/p/BpWd8q_AlJT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1vrhemysw0p7g
Di samping itu, saya melihat berbagai bisnis di Inggris yang umurnya sudah ratusan tahun. Di antaranya:
Restoran Sally Lunn yang berdiri sejak tahun 1600-an.
WHSmith Company yang berdiri sejak tahun 1828.
Burberry yang berdiri sejak tahun 1856.
British Petroleum sejak tahun 1909.
Masing-masing sudah ratusan tahun umurnya. Hebat ya. Sangat.
Ada pula Halal Restaurant di London Timur yang umurnya lebih dari 70 tahun. Menunya enak-enak.
Jujur saja, saya takjub. Di saat kita masih berjuang melawan penjajahan, pada waktu yang sama, mereka sudah mengembangkan berbagai macam bisnis, mulai dari fashion sampai kuliner. Dan sebagian masih bertahan sampai sekarang.
Mereka memiliki visi dan memperjuangkan visinya. Mereka pun mempersiapkan top management untuk generasi berikutnya. Selain itu, mereka welcome terhadap perubahan. Tidak anti. Itulah yang membuat mereka bertahan.
Lantas, gimana dengan bisnis kita?
Saran saya, "Kalaupun sekarang bisnis kita masih kecil, nggak masalah. Niatkan dan ikhtiarkan untuk besar juga bertahan lama. Siap?" Melalui visi. Melalui kaderisasi. Melalui manajemen perubahan.
Teman-teman siap? https://www.instagram.com/p/BpWd8q_AlJT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1vrhemysw0p7g
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Restoran ini berdiri sejak tahun 1600-an. WHSmith Company berdiri sejak tahun 1828. Sudah ratusan tahun umurnya. Kalaupun sekarang bisnis kita masih kecil, nggak masalah. Niatkan dan ikhtiarkan untuk besar juga bertahan lama. Siaaaaap? 😉
Duka masih menyelimuti Kota Palu, Sulteng. Di sana, sembako masih relatif mahal. Selain kehilangan tempat tinggal, sebagian mereka juga belum bisa bekerja. Memprihatinkan. Maka, saran saya untuk semua, "Mari kita sama-sama bergerak, membantu." Setidaknya, bantu doa dan donasi.
Saat berada di sana, saya sempat mengunjungi beberapa spot yang terdampak gempa, tsunami, dan likuifaksi itu. Bayangkan, ribuan rumah di lahan seluas 180 hektar tersapu lumpur dan tanah bergerak, karena menyapu dengan kecepatan tinggi. Sebagai akibatnya, rumah-rumah dan mobil-mobil itu pun hancur tak berbentuk.
Kita semua kaget. Terperangah. Karena ini belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.
Sempat juga saya mengunjungi rumah Mas Eka, mitra TK dan SD Khalifah di Palu. Bukan saja rata dengan tanah, rumahnya juga berputar dan bergeser dari posisi asalnya sejauh 200 meter. Sejumlah kebakaran pun terjadi sesaat setelah gempa dan tsunami melanda. Penjarahan demi penjarahan juga merebak, tak terelakkan.
Lantas, adakah sisi positifnya di balik bencana besar ini? Ada, insya Allah.
However, bencana adalah terapi kesabaran. Itu pesan guru saya. Meski berat, meski lelah, baiknya jangan pernah sekalipun kita berkeluh-kesah. Kalau saja kita mau bersabar dan berbaiksangka, niscaya akan tersingkap hikmah demi hikmah. Insya Allah.
Selain itu, bencana adalah penambah zikir dan muhasabah. Ya, zikir dan muhasabah. Dibanding ketika keadaan normal, orang yang terkena bencana akan lebih sering dan lebih khusyuk dalam menyebut nama Allah. Amal-amal pun ia tambah. Begitulah, ia benar-benar berubah.
Selanjutnya, bencana adalah penambah istighfar dan taubat. Ketika bencana, dosa-dosa akan lebih mudah teringat, ketimbang keadaan normal dan sehat. Sehingga mulut kita lebih ringan untuk memohon ampun dan taubat. Terlebih-lebih Allah memang menjanjikan bencana sebagai penggugur dosa dan peningkat derajat.
Pada akhirnya, mari kita doakan sungguh-sungguh mereka yang terkena bencana. Mereka itu saudara-saudara kita. Mudah-mudahan Allah beri mereka kesabaran, ketabahan, dan kekuatan. Aamiin. Simak videonya >> https://www.instagram.com/p/BpgNcx7Fmgh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=18vb00gk7wj7x
Saat berada di sana, saya sempat mengunjungi beberapa spot yang terdampak gempa, tsunami, dan likuifaksi itu. Bayangkan, ribuan rumah di lahan seluas 180 hektar tersapu lumpur dan tanah bergerak, karena menyapu dengan kecepatan tinggi. Sebagai akibatnya, rumah-rumah dan mobil-mobil itu pun hancur tak berbentuk.
Kita semua kaget. Terperangah. Karena ini belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.
Sempat juga saya mengunjungi rumah Mas Eka, mitra TK dan SD Khalifah di Palu. Bukan saja rata dengan tanah, rumahnya juga berputar dan bergeser dari posisi asalnya sejauh 200 meter. Sejumlah kebakaran pun terjadi sesaat setelah gempa dan tsunami melanda. Penjarahan demi penjarahan juga merebak, tak terelakkan.
Lantas, adakah sisi positifnya di balik bencana besar ini? Ada, insya Allah.
However, bencana adalah terapi kesabaran. Itu pesan guru saya. Meski berat, meski lelah, baiknya jangan pernah sekalipun kita berkeluh-kesah. Kalau saja kita mau bersabar dan berbaiksangka, niscaya akan tersingkap hikmah demi hikmah. Insya Allah.
Selain itu, bencana adalah penambah zikir dan muhasabah. Ya, zikir dan muhasabah. Dibanding ketika keadaan normal, orang yang terkena bencana akan lebih sering dan lebih khusyuk dalam menyebut nama Allah. Amal-amal pun ia tambah. Begitulah, ia benar-benar berubah.
Selanjutnya, bencana adalah penambah istighfar dan taubat. Ketika bencana, dosa-dosa akan lebih mudah teringat, ketimbang keadaan normal dan sehat. Sehingga mulut kita lebih ringan untuk memohon ampun dan taubat. Terlebih-lebih Allah memang menjanjikan bencana sebagai penggugur dosa dan peningkat derajat.
Pada akhirnya, mari kita doakan sungguh-sungguh mereka yang terkena bencana. Mereka itu saudara-saudara kita. Mudah-mudahan Allah beri mereka kesabaran, ketabahan, dan kekuatan. Aamiin. Simak videonya >> https://www.instagram.com/p/BpgNcx7Fmgh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=18vb00gk7wj7x
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Saya masih di Palu, Sulteng. Di sini, sembako masih relatif mahal. Mereka kehilangan tempat tinggal. Bekerja, belum bisa... Mari kita sama-sama bergerak, membantu. Setidaknya, bantu share ya...
Pernah stress? Kemarin alhamdulillah saya berbagi ilmu alias in-house seminar untuk kantor Pak Wapres. Di sana saya sempat membahas soal mood dan stress.
Dilansir dari Lifehack.org, orang sukses jarang mengalami stress di awal pekan meskipun dirinya super sibuk. Kenapa? Orang sukses terlatih mengendalikan dirinya, terutama pikirannya.
Inilah cara-cara orang sukses mengatasi stress di hari kerja.
Orang sukses sebenarnya lebih mempersiapkan diri. Tepatnya mempersiapkan segala kebutuhan sebelum memulai sederet aktivitas dan ini merupakan salah satu kunci pembuka keberhasilan.
Ya, persiapan yang matang dapat mengurangi stress, terutama menyambut pekerjaan-pekerjaan yang belum tuntas. Salah satu contohnya Pak JK, yang terkenal sebagai sosok yang mampu mengurai hal-hal rumit jadi tuntas dan berkualitas.
Doa, sholat, dan meditasi juga diperlukan. Ini salah satu cara ampuh mencegah diri dari berbagai stress saat menyambut pekerjaan di awal pekan. Dengan ini, banyak orang sukses yang merasa dirinya lebih tenang dan lebih ceria.
Terus, apa lagi? Orang sukses mengelilingi dirinya dengan mereka yang optimis. Begini. Pikiran positif bisa menular. Ini seringkali menimbulkan kegembiraan dan mengusir rasa stress.
Kita sama-sama tahu, Pak JK sibuk sekali. Di suatu kesempatan, Pak JK pernah ditanya, "Bapak nggak pernah capek?" Beliau malah balik bertanya, "Apa itu capek?" Masya Allah. Rupanya beliau nggak kenal istilah capek.
Beberapa bulan yang lalu, ketika sarapan bareng, saya sempat nanya-nanya sama Pak JK, apa tips sehat dari beliau. Beliau pun berkenan menjawab. Ternyata adanya rasa ikhlas dan rasa enjoy dalam mengerjakan sesuatu. Bonusnya, kita akan terbebas dari rasa stress.
Silakan dicoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Dilansir dari Lifehack.org, orang sukses jarang mengalami stress di awal pekan meskipun dirinya super sibuk. Kenapa? Orang sukses terlatih mengendalikan dirinya, terutama pikirannya.
Inilah cara-cara orang sukses mengatasi stress di hari kerja.
Orang sukses sebenarnya lebih mempersiapkan diri. Tepatnya mempersiapkan segala kebutuhan sebelum memulai sederet aktivitas dan ini merupakan salah satu kunci pembuka keberhasilan.
Ya, persiapan yang matang dapat mengurangi stress, terutama menyambut pekerjaan-pekerjaan yang belum tuntas. Salah satu contohnya Pak JK, yang terkenal sebagai sosok yang mampu mengurai hal-hal rumit jadi tuntas dan berkualitas.
Doa, sholat, dan meditasi juga diperlukan. Ini salah satu cara ampuh mencegah diri dari berbagai stress saat menyambut pekerjaan di awal pekan. Dengan ini, banyak orang sukses yang merasa dirinya lebih tenang dan lebih ceria.
Terus, apa lagi? Orang sukses mengelilingi dirinya dengan mereka yang optimis. Begini. Pikiran positif bisa menular. Ini seringkali menimbulkan kegembiraan dan mengusir rasa stress.
Kita sama-sama tahu, Pak JK sibuk sekali. Di suatu kesempatan, Pak JK pernah ditanya, "Bapak nggak pernah capek?" Beliau malah balik bertanya, "Apa itu capek?" Masya Allah. Rupanya beliau nggak kenal istilah capek.
Beberapa bulan yang lalu, ketika sarapan bareng, saya sempat nanya-nanya sama Pak JK, apa tips sehat dari beliau. Beliau pun berkenan menjawab. Ternyata adanya rasa ikhlas dan rasa enjoy dalam mengerjakan sesuatu. Bonusnya, kita akan terbebas dari rasa stress.
Silakan dicoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Bagi saya, umrah BUKAN soal mampu atau tidak mampu. Tapi soal mau atau tidak mau. Saya yakin Anda sudah tahu tentang ini. Kalau benar-benar niat (mau) dan dibuktikan dengan memantaskan diri, maka akan dimampukan.
Yang seperti ini sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya. Sampai di Tanah Suci.
Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah.
Mohon maaf, ini asal-asalan namanya! Sekali lagi, asal-asalan!
Jadi, baiknya gimana? Yah pantaskan diri. Percayalah, Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri.
Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). DP ke travel umrah. Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.
Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Sisanya, biar Allah yang membereskan. Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah.
Bukan kata orang. Ini menurut pengalaman saya dan pengelaman alumni seminar saya. Gimana dengan Anda? Yakin? Seberapa yakin? Ayo praktek! Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Yang seperti ini sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya. Sampai di Tanah Suci.
Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah.
Mohon maaf, ini asal-asalan namanya! Sekali lagi, asal-asalan!
Jadi, baiknya gimana? Yah pantaskan diri. Percayalah, Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri.
Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). DP ke travel umrah. Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.
Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Sisanya, biar Allah yang membereskan. Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah.
Bukan kata orang. Ini menurut pengalaman saya dan pengelaman alumni seminar saya. Gimana dengan Anda? Yakin? Seberapa yakin? Ayo praktek! Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Lihatlah perubahan lingkungan bisnis yang terjadi di sekitar kita. Berubahnya begitu cepat, bahkan tidak bisa dikontrol, sampai-sampai menyebabkan hal-hal yang disruptive. Menyentak.
Berderet contohnya. Social media menggeser dominasi media-media konvensional. Percakapan di grup WA menggeser dominasi percakapan-percakapan konvensional. Toko online menjamur. Pembuat konten menjamur.
Ya, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right?
Menariknya, seorang entrepreneur sejati harus tetap memiliki sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang berkelanjutan di tengah perubahan ini. Memang tidak mudah, tapi ini sebuah keniscayaan.
Sayangnya, iklim berbisnis di Indonesia, terutama aparat-aparat pemerintahnya, tidak bergerak selaras dengan perubahan ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Semua diminta untuk introspeksi dan berbenah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Cepatlah dalam berpikir, cepatlah dalam bertindak. Maksud saya, "Cepat, bukan buru-buru. Bergegas, bukan tergesa-gesa." Mudah-mudahan dengan begini, bisnis kita mampu bertahan lebih lama.
(Silakan save dan add WA Ippho Santosa, 0813-9520-0092)
Berderet contohnya. Social media menggeser dominasi media-media konvensional. Percakapan di grup WA menggeser dominasi percakapan-percakapan konvensional. Toko online menjamur. Pembuat konten menjamur.
Ya, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right?
Menariknya, seorang entrepreneur sejati harus tetap memiliki sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang berkelanjutan di tengah perubahan ini. Memang tidak mudah, tapi ini sebuah keniscayaan.
Sayangnya, iklim berbisnis di Indonesia, terutama aparat-aparat pemerintahnya, tidak bergerak selaras dengan perubahan ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Semua diminta untuk introspeksi dan berbenah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Cepatlah dalam berpikir, cepatlah dalam bertindak. Maksud saya, "Cepat, bukan buru-buru. Bergegas, bukan tergesa-gesa." Mudah-mudahan dengan begini, bisnis kita mampu bertahan lebih lama.
(Silakan save dan add WA Ippho Santosa, 0813-9520-0092)
Kesulitan itu cuma sedikit. Ya, cuma sedikit. Coba perhatikan contoh-contoh berikut.
Kelaparan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kenyang.
Kemiskinan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kaya.
Kematian, sedikit. Lebih banyak yang sehat dan hidup. Right?
Demikianlah. Kesulitan itu cuma sedikit. Kurang-lebih inilah salah satu pesan dalam Al-Baqarah 155-156. Saya menyarankan teman-teman untuk membacanya secara langsung dan membacanya lebih dari satu kali.
Kadang kita uring-uringan dengan jerawat. Padahal itu cuma 1 atau 2 jerawat saja. Lebih banyak lagi bagian wajah kita yang tidak berjerawat.
Kadang kita uring-uringan dengan nakalnya anak. Padahal itu cuma 5 atau 10 menit saja. Lebih banyak lagi perilaku anak yang tidak nakal.
Kadang kita uring-uringan dengan macetnya jalan raya. Padahal itu cuma 10 persen saja. Lebih banyak lagi ruas jalan yang tidak macet.
Kadang kita uring-uringan dengan naiknya harga barang. Padahal itu cuma 5 persen saja dan pada sebagian barang saja. Lebih banyak lagi harga barang yang tidak naik. Betul apa betul?
Sayangnya, perhatian kita seringkali lebih tercurah dan tersita pada kesulitan itu, sembari mengabaikan kemudahan-kemudahan yang ada. Bahkan Allah pun berjanji, sekiranya ada kesulitan, pasti ada kemudahan.
Guru-guru kita juga mengajarkan, untuk satu pertanyaan ada berbagai macam potensi jawaban. Maka, sudah semestinya kita lebih bersyukur. Mengeluh? Ah, buang sikap ini jauh-jauh.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga berkah berlimpah.
Kelaparan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kenyang.
Kemiskinan, sedikit. Lebih banyak yang cukup dan kaya.
Kematian, sedikit. Lebih banyak yang sehat dan hidup. Right?
Demikianlah. Kesulitan itu cuma sedikit. Kurang-lebih inilah salah satu pesan dalam Al-Baqarah 155-156. Saya menyarankan teman-teman untuk membacanya secara langsung dan membacanya lebih dari satu kali.
Kadang kita uring-uringan dengan jerawat. Padahal itu cuma 1 atau 2 jerawat saja. Lebih banyak lagi bagian wajah kita yang tidak berjerawat.
Kadang kita uring-uringan dengan nakalnya anak. Padahal itu cuma 5 atau 10 menit saja. Lebih banyak lagi perilaku anak yang tidak nakal.
Kadang kita uring-uringan dengan macetnya jalan raya. Padahal itu cuma 10 persen saja. Lebih banyak lagi ruas jalan yang tidak macet.
Kadang kita uring-uringan dengan naiknya harga barang. Padahal itu cuma 5 persen saja dan pada sebagian barang saja. Lebih banyak lagi harga barang yang tidak naik. Betul apa betul?
Sayangnya, perhatian kita seringkali lebih tercurah dan tersita pada kesulitan itu, sembari mengabaikan kemudahan-kemudahan yang ada. Bahkan Allah pun berjanji, sekiranya ada kesulitan, pasti ada kemudahan.
Guru-guru kita juga mengajarkan, untuk satu pertanyaan ada berbagai macam potensi jawaban. Maka, sudah semestinya kita lebih bersyukur. Mengeluh? Ah, buang sikap ini jauh-jauh.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga berkah berlimpah.
Ada uang di sekitar kita. Seliweran. Bertebaran. Dan sebenarnya, di mana ada masalah, di mana ada kemalasan, di mana ada harapan, maka di situ ada uang. Perlu contoh?
Orang-orang pada malas makan sayur-mayur. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah suplemen dan multivitamin.
Orang-orang pada malas cuci mobil. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa cuci mobil. Right?
Orang-orang pada malas cuci pakaian. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa laundry. Right?
Orang-orang pada malas masak lauk. Maka hadirlah penjual lauk. Bahkan sampai restoran dan pujasera.
Orang-orang pada malas belanja ke pasar. Apalagi kalau pasar becek. Maka hadirlah penjual sayur keliling.
Orang-orang pada malas bangun rumah sendiri. Maka hadirlah developer, membangun perumahan dengan berbagai tipe.
Orang-orang pada malas potong rambut sendiri atau dipotongkan oleh keluarganya. Maka hadirlah jasa pangkas dan salon.
Orang-orang pada malas desain website. Termasuk maintenance-nya. Maka hadirlah jasa desain website.
Orang-orang pada malas mengatur travelling-nya sendiri. Termasuk urusan tiket dan hotel. Maka hadirlah jasa tour and travel.
Perhatikan baik-baik. Saat muncul masalah, saat muncul kemalasan, maka pada waktu yang sama muncul pula harapan untuk disolusikan. Nah, jika kita mampu menawarkan solusinya, maka uang adalah ganjaran yang pasti untuk kita. Itu nyata.
Pada akhirnya, temukan masalah, temukan kemalasan. Terus, jadilah solusinya. Sesederhana itu. Siap praktek? Harus siap. Semoga berkah berlimpah.
Orang-orang pada malas makan sayur-mayur. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah suplemen dan multivitamin.
Orang-orang pada malas cuci mobil. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa cuci mobil. Right?
Orang-orang pada malas cuci pakaian. Mereka berharap sesuatu yang lebih praktis. Maka hadirlah jasa laundry. Right?
Orang-orang pada malas masak lauk. Maka hadirlah penjual lauk. Bahkan sampai restoran dan pujasera.
Orang-orang pada malas belanja ke pasar. Apalagi kalau pasar becek. Maka hadirlah penjual sayur keliling.
Orang-orang pada malas bangun rumah sendiri. Maka hadirlah developer, membangun perumahan dengan berbagai tipe.
Orang-orang pada malas potong rambut sendiri atau dipotongkan oleh keluarganya. Maka hadirlah jasa pangkas dan salon.
Orang-orang pada malas desain website. Termasuk maintenance-nya. Maka hadirlah jasa desain website.
Orang-orang pada malas mengatur travelling-nya sendiri. Termasuk urusan tiket dan hotel. Maka hadirlah jasa tour and travel.
Perhatikan baik-baik. Saat muncul masalah, saat muncul kemalasan, maka pada waktu yang sama muncul pula harapan untuk disolusikan. Nah, jika kita mampu menawarkan solusinya, maka uang adalah ganjaran yang pasti untuk kita. Itu nyata.
Pada akhirnya, temukan masalah, temukan kemalasan. Terus, jadilah solusinya. Sesederhana itu. Siap praktek? Harus siap. Semoga berkah berlimpah.
Lelah. Pernah merasakan? Izinkan saya bertanya. Apa yang membuat kita benar-benar lelah? Apakah kerja keras? Apakah olahraga? Apakah naik gunung? Ternyata ada yang lebih melelahkan daripada itu semua.
Menghadap dan berharap kepada selain Allah, pastilah membuat lelah. Pahit, kata Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya, jika dunia dijadikan sandaran dan tumpuan, pastilah rasanya nggak karu-karuan. Betul apa betul?
Makanya saya bilang, "Sudahlah, minta sama Allah saja. Dibalas kok. Kita lalai dan abai saja, Allah masih menolong kita, apalagi kalau kita berusaha memantaskan diri."
Saya tanya lagi. Pilih Avanza atau Xenia? Pilih CRV atau Captiva? Katakanlah Anda pengen mobil itu, karena hasrat duniawi semata. Terus, Anda minta kepada Yang Maha Kuasa. Menurut saya, itu jauh lebih baik. Ya, jauh lebih baik.
Seorang istri pengen Avanza, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan ke suaminya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan Avanza di garasi rumahnya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan iman namanya. Bagus tho?
Seorang bawahan pengen naik pangkat, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan atasannya atau perusahaannya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan kenaikan pangkat di kantornya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan tauhid namanya. Di mana salahnya?
Dan ingatlah. Seduniawi-duniawi-nya kita meminta, asalkan mintanya kepada Yang Maha Kuasa, tetap saja itu jauh lebih baik. Asalkan, yang diminta sesuatu yang legal dan halal. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menghadap dan berharap kepada selain Allah, pastilah membuat lelah. Pahit, kata Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya, jika dunia dijadikan sandaran dan tumpuan, pastilah rasanya nggak karu-karuan. Betul apa betul?
Makanya saya bilang, "Sudahlah, minta sama Allah saja. Dibalas kok. Kita lalai dan abai saja, Allah masih menolong kita, apalagi kalau kita berusaha memantaskan diri."
Saya tanya lagi. Pilih Avanza atau Xenia? Pilih CRV atau Captiva? Katakanlah Anda pengen mobil itu, karena hasrat duniawi semata. Terus, Anda minta kepada Yang Maha Kuasa. Menurut saya, itu jauh lebih baik. Ya, jauh lebih baik.
Seorang istri pengen Avanza, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan ke suaminya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan Avanza di garasi rumahnya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan iman namanya. Bagus tho?
Seorang bawahan pengen naik pangkat, terus dia minta ke Allah dan hanya ke Allah. Itu kan bagus. Berarti dia hanya berharap ke Tuhan-nya. Bukan atasannya atau perusahaannya.
Dan dia tahu persis, yang bisa mengabulkan dan menghadirkan kenaikan pangkat di kantornya, hanya Allah. Bukan yang lain. Itu kan tauhid namanya. Di mana salahnya?
Dan ingatlah. Seduniawi-duniawi-nya kita meminta, asalkan mintanya kepada Yang Maha Kuasa, tetap saja itu jauh lebih baik. Asalkan, yang diminta sesuatu yang legal dan halal. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda bekerja? Merasa bahagia?
Diberitakan, pegawai di Asia cenderung kurang bahagia tentang pekerjaan mereka dibandingkan rata-rata global. Salah satu faktor ketidakbahagiaan itu adalah sulitnya berkomunikasi dengan atasan.
Perusahaan solusi personalia TinyPulse menemukan, hanya 28 persen pegawai di Asia Pasifik yang dilaporkan merasa bahagia di tempat kerja mereka. Ya, hanya 28 persen. Angka ini kecil sekali.
Pertanyaan berikutnya, benarkah kebahagiaan itu terkait erat dengan materi?
Menurut psikolog Jessamy Hibberd, hal-hal kecil bisa berdampak besar dan membuat hati kita bahagia. Seperti bertemu teman, tertawa, bersyukur, dan berbagi. Inilah hal-hal kecil yang ia sarankan. Tidak harus materi.
Btw, negara mana yang paling berbahagia? Penghargaan terbaru datang dari "The Sustainable Development Solutions Network for the United Nations" yang mengumumkan negara paling bahagia di dunia. Tiga teratas adalah Finlandia, Norwegia, dan Denmark.
Selama bertahun-tahun, tiga negara itu selalu masuk dalam lima besar.
Mungkin Anda bertanya, “Bisakah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa?” Ternyata bisa. Penjelasan berikut ini sangat penting. Saya berharap Anda mau membacanya sampai tuntas dan mau men-share-nya.
Bukan apa-apa, agar Anda dan keluarga Anda bisa bahagia, selalu, tanpa ketergantungan terhadap uang atau apapun. Apalagi bergantung pada pemerintah. Lantas, bagaimana caranya bahagia, padahal kita belum punya apa-apa? Percayalah, ini soal keputusan, bukan soal kepemilikan.
"Saya memutuskan untuk bahagia," Batinkan seperti itu. Sekali lagi percayalah, ini soal keputusan. Kalau Anda menganggap 'punya rumah, baru bisa bahagia' maka anggapan itu cuma bertahan 12 bulan sampai 24 bulan. Nggak lama. Tapi kalau Anda memutuskan untuk bahagia entah punya atau belum punya, maka keputusan itu akan berdampak lebih lama.
Kuncinya, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang bersifat eksternal seperti rumah, mobil, dukungan masyarakat, kebijakan pemerintah, dst. Hendaknya digantungkan pada hal-hal yang bersifat internal seperti pikiran, perasaan, dan keputusan.
Be happy! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Diberitakan, pegawai di Asia cenderung kurang bahagia tentang pekerjaan mereka dibandingkan rata-rata global. Salah satu faktor ketidakbahagiaan itu adalah sulitnya berkomunikasi dengan atasan.
Perusahaan solusi personalia TinyPulse menemukan, hanya 28 persen pegawai di Asia Pasifik yang dilaporkan merasa bahagia di tempat kerja mereka. Ya, hanya 28 persen. Angka ini kecil sekali.
Pertanyaan berikutnya, benarkah kebahagiaan itu terkait erat dengan materi?
Menurut psikolog Jessamy Hibberd, hal-hal kecil bisa berdampak besar dan membuat hati kita bahagia. Seperti bertemu teman, tertawa, bersyukur, dan berbagi. Inilah hal-hal kecil yang ia sarankan. Tidak harus materi.
Btw, negara mana yang paling berbahagia? Penghargaan terbaru datang dari "The Sustainable Development Solutions Network for the United Nations" yang mengumumkan negara paling bahagia di dunia. Tiga teratas adalah Finlandia, Norwegia, dan Denmark.
Selama bertahun-tahun, tiga negara itu selalu masuk dalam lima besar.
Mungkin Anda bertanya, “Bisakah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa?” Ternyata bisa. Penjelasan berikut ini sangat penting. Saya berharap Anda mau membacanya sampai tuntas dan mau men-share-nya.
Bukan apa-apa, agar Anda dan keluarga Anda bisa bahagia, selalu, tanpa ketergantungan terhadap uang atau apapun. Apalagi bergantung pada pemerintah. Lantas, bagaimana caranya bahagia, padahal kita belum punya apa-apa? Percayalah, ini soal keputusan, bukan soal kepemilikan.
"Saya memutuskan untuk bahagia," Batinkan seperti itu. Sekali lagi percayalah, ini soal keputusan. Kalau Anda menganggap 'punya rumah, baru bisa bahagia' maka anggapan itu cuma bertahan 12 bulan sampai 24 bulan. Nggak lama. Tapi kalau Anda memutuskan untuk bahagia entah punya atau belum punya, maka keputusan itu akan berdampak lebih lama.
Kuncinya, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang bersifat eksternal seperti rumah, mobil, dukungan masyarakat, kebijakan pemerintah, dst. Hendaknya digantungkan pada hal-hal yang bersifat internal seperti pikiran, perasaan, dan keputusan.
Be happy! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Banyak orang yang menunda-nunda untuk memulai bisnis. Mereka menjawab, "Besok-besok. Nanti-nanti." Sementara waktu terus berjalan, tak terhenti. Padahal, begitu dia memulai, sukses finansial tengah menanti.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus. Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi.
Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, Anda ketika muda punya banyak waktu menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele atau lelucon, padahal nggak.
Kalau sudah berumur? Nggak masalah juga. Asalkan Anda punya semangat, keberanian, dan kecepatan.
Ingat. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, jempol adalah aset yang teramat besar dan bisa menghasilkan uang. TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS macet-macetan, TANPA HARUS produksi sendiri, TANPA HARUS punya ruko dan kios.
Anda cukup menguasai WA Marketing, FB, dan IG. Itu saja. Tapi sungguh-sungguh ditekuni. Maka hasilnya akan lumayan, bahkan sangat lumayan. Insya Allah. Apapun produknya apapun industrinya. Pada akhirnya, selagi muda berbisnislah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus. Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi.
Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, Anda ketika muda punya banyak waktu menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele atau lelucon, padahal nggak.
Kalau sudah berumur? Nggak masalah juga. Asalkan Anda punya semangat, keberanian, dan kecepatan.
Ingat. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, jempol adalah aset yang teramat besar dan bisa menghasilkan uang. TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS macet-macetan, TANPA HARUS produksi sendiri, TANPA HARUS punya ruko dan kios.
Anda cukup menguasai WA Marketing, FB, dan IG. Itu saja. Tapi sungguh-sungguh ditekuni. Maka hasilnya akan lumayan, bahkan sangat lumayan. Insya Allah. Apapun produknya apapun industrinya. Pada akhirnya, selagi muda berbisnislah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Siapakah pahlawan favorit-mu? Doakan beliau. Doakan juga pahlawan-pahlawan lainnya. Toh, apapun yang kita doakan akan kembali kepada diri kita dan keluarga kita. Aamiin.
Ya, sungguh-sungguh kita doakan, semoga segala amal dan kebaikan yang terjadi di negeri ini jadi amal jariyah mereka. Karena dengan perjuangan mereka-lah, kita saat ini bisa beramal dengan tenang.
Ada video Bung Tomo yang sangat menggetarkan hati saya, bahkan membuat saya menangis. Beberapa tahun yang lalu saya melihatnya. Lalu saya posting, terus menjadi viral, menjangkau jutaan orang.
Ini videonya. Simak kalimatnya satu per satu ya >> https://www.instagram.com/p/Bp_Nfo1FpCG/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=nb5glx88tdrq
Ya, sungguh-sungguh kita doakan, semoga segala amal dan kebaikan yang terjadi di negeri ini jadi amal jariyah mereka. Karena dengan perjuangan mereka-lah, kita saat ini bisa beramal dengan tenang.
Ada video Bung Tomo yang sangat menggetarkan hati saya, bahkan membuat saya menangis. Beberapa tahun yang lalu saya melihatnya. Lalu saya posting, terus menjadi viral, menjangkau jutaan orang.
Ini videonya. Simak kalimatnya satu per satu ya >> https://www.instagram.com/p/Bp_Nfo1FpCG/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=nb5glx88tdrq
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Perhatikan kata-kata yang diucapkan oleh #BungTomo. Perhatikan baik-baik. Kesungguhan niat dan tekadnya bisa kita rasakan, sampai detik ini. Masya Allah... Semoga Yang Maha Kuasa mengganjar jasa beliau serta pahlawan-pahlawan yang lain, dengan surga dan segala…
"Amati prosesnya. Nikmati prosesnya," itulah pesan saya kepada mitra-mitra. Saking sederhananya pesan ini, banyak orang yang mengabaikannya.
Ustadz Abdul Somad di acara Hijrah Fest mengibaratkan orang yang sukses itu seperti 'kursi mahal' atau 'meja mahal'. Ini analogi yang menarik, menurut saya.
UAS menyebut, mayoritas orang tidak melihat bagaimana proses 'kursi mahal' atau 'meja mahal' itu, mulai dari pemilihan kayu, pemotongan, hingga pembuatan. Rumit prosesnya.
"Mayoritas orang tahunya kursi mahal saja, tapi mereka tidak tahu proses menjadi kursi mahal. Maka, mulai sekarang cobalah kita melihat proses, jangan hanya melihat hasil," ucap UAS.
Adapun pesan saya selanjutnya, "Para achiever harus siap berproses." Sekali lagi, siap berproses. Tidak pasif. Hati-hati, merasa nyaman (comfort) dan tidak mau berproses itu berbahaya.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort. Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi dua kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Dari waktu ke waktu. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini yang berbahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Dengan siapa saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Ada satu hal yang seru. Ketika saya mulai melirik dan tertarik dengan hal-hal lain, guru saya langsung mengingatkan, "Tetap fokus. Tetap serius. Dengan izin Allah, hasilnya pasti bagus."
Ketidakfokusan, ini salah satu godaan dalam berproses. Begitulah. Namanya berproses memang tidak mudah. Tapi percayalah, hasil akhirnya indah. Benar-benar indah.
Mudah-mudahan kelak kita semua bisa menjadi 'kursi mahal' atau 'meja mahal' seperti yang dianalogikan oleh UAS. Dan berkah berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ustadz Abdul Somad di acara Hijrah Fest mengibaratkan orang yang sukses itu seperti 'kursi mahal' atau 'meja mahal'. Ini analogi yang menarik, menurut saya.
UAS menyebut, mayoritas orang tidak melihat bagaimana proses 'kursi mahal' atau 'meja mahal' itu, mulai dari pemilihan kayu, pemotongan, hingga pembuatan. Rumit prosesnya.
"Mayoritas orang tahunya kursi mahal saja, tapi mereka tidak tahu proses menjadi kursi mahal. Maka, mulai sekarang cobalah kita melihat proses, jangan hanya melihat hasil," ucap UAS.
Adapun pesan saya selanjutnya, "Para achiever harus siap berproses." Sekali lagi, siap berproses. Tidak pasif. Hati-hati, merasa nyaman (comfort) dan tidak mau berproses itu berbahaya.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort. Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi dua kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Dari waktu ke waktu. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini yang berbahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Dengan siapa saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Ada satu hal yang seru. Ketika saya mulai melirik dan tertarik dengan hal-hal lain, guru saya langsung mengingatkan, "Tetap fokus. Tetap serius. Dengan izin Allah, hasilnya pasti bagus."
Ketidakfokusan, ini salah satu godaan dalam berproses. Begitulah. Namanya berproses memang tidak mudah. Tapi percayalah, hasil akhirnya indah. Benar-benar indah.
Mudah-mudahan kelak kita semua bisa menjadi 'kursi mahal' atau 'meja mahal' seperti yang dianalogikan oleh UAS. Dan berkah berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bila kesibukan dan pekerjaan Anda tidak ada aspek:
1. Berbagi
2. Membantu orang lain untuk bertumbuh
3. Membuat Anda sendiri bertumbuh
4. Membuat Anda tambah dekat dengan keluarga
5. Membuat Anda tambah taat dengan Sang Pencipta
Maka baiknya Anda perlu mencari kesibukan dan pekerjaan yang lain.
Ingat. Kerja dan bisnis bukan soal uang semata.
Kita, orang beriman, juga berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih, seperti keberkahan, persaudaraan, dan nama baik. Ya, inilah yang lebih utama.
Pekerjaan dan bisnis yang hanya memikirkan soal uang semata adalah pekerjaan dan bisnis yang menyedihkan. Mohon maaf, itulah pendapat saya.
Apa pendapat teman-teman?
1. Berbagi
2. Membantu orang lain untuk bertumbuh
3. Membuat Anda sendiri bertumbuh
4. Membuat Anda tambah dekat dengan keluarga
5. Membuat Anda tambah taat dengan Sang Pencipta
Maka baiknya Anda perlu mencari kesibukan dan pekerjaan yang lain.
Ingat. Kerja dan bisnis bukan soal uang semata.
Kita, orang beriman, juga berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih, seperti keberkahan, persaudaraan, dan nama baik. Ya, inilah yang lebih utama.
Pekerjaan dan bisnis yang hanya memikirkan soal uang semata adalah pekerjaan dan bisnis yang menyedihkan. Mohon maaf, itulah pendapat saya.
Apa pendapat teman-teman?
Pemula? Mau berbisnis? Sepertinya tulisan berikut pas sekali buat Anda.
Saran saya, nggak harus produk dan produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Pilih yang terbaik. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.
Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu 'menjual' dan 'menjualkan'. Berapa lama? Selama 25 tahun, bukan satu-dua tahun. Sangat mungkin beliau seorang reseller atau sejenisnya.
Setidaknya, ada empat fungsi dalam bisnis menurut Robert Kiyosaki. Produksi, keuangan, SDM, dan marketing. Sebagai pemula, Anda tidak harus menguasai semuanya. Tidak harus. Cukup salah satunya saja. Misal, marketing. Itu pun sudah cukup disebut pengusaha.
Produk sendiri? Produksi sendiri? Sekali lagi, tidak harus.
Kalau Anda menjadi dealer Yamaha atau buka showroom Suzuki, Anda tidak melakukan produksi apapun. Hanya marketing tho? Kurang-lebih begitu juga saat Anda menjadi reseller atau agent produk tertentu. Mungkin fashion. Mungkin suplemen. Atau yang lainnya.
Bisnis kadang rumit. Tapi tidak serumit yang kita bayangkan. Menurut saya yang terpenting adalah berani memulai dan mau belajar. Seiring perjalanan waktu, insya Allah diri kita dan bisnis kita akan lebih baik selalu. Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saran saya, nggak harus produk dan produksi sendiri. Setidaknya, untuk tahap awal. Kita bisa mulai dengan 'menjual' dan 'menjualkan'. Vendor dan produk bisa dari mana saja. Pilih yang terbaik. Cara ini relatif mudah dan cost-nya relatif rendah.
Itulah yang saya lakukan bersama mitra-mitra, alhamdulillah. Setahu saya, itu pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu 'menjual' dan 'menjualkan'. Berapa lama? Selama 25 tahun, bukan satu-dua tahun. Sangat mungkin beliau seorang reseller atau sejenisnya.
Setidaknya, ada empat fungsi dalam bisnis menurut Robert Kiyosaki. Produksi, keuangan, SDM, dan marketing. Sebagai pemula, Anda tidak harus menguasai semuanya. Tidak harus. Cukup salah satunya saja. Misal, marketing. Itu pun sudah cukup disebut pengusaha.
Produk sendiri? Produksi sendiri? Sekali lagi, tidak harus.
Kalau Anda menjadi dealer Yamaha atau buka showroom Suzuki, Anda tidak melakukan produksi apapun. Hanya marketing tho? Kurang-lebih begitu juga saat Anda menjadi reseller atau agent produk tertentu. Mungkin fashion. Mungkin suplemen. Atau yang lainnya.
Bisnis kadang rumit. Tapi tidak serumit yang kita bayangkan. Menurut saya yang terpenting adalah berani memulai dan mau belajar. Seiring perjalanan waktu, insya Allah diri kita dan bisnis kita akan lebih baik selalu. Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kaya, haruskah? Mana yang lebih penting daripada akhlak?
Jumat kemarin, jadwal saya lumayan padat. Pagi, mengisi buat Askrida di Aston Sentul. Malam, mengisi buat UIN di Novotel Lampung. Di sela-sela itu, walaupun sebentar, saya berusaha menemui dan menyapa mitra-mitra saya.
Sebagian dari mereka tengah berjuang keluar dari utang. Mereka pun giat belajar sama tokoh-tokoh yang sudah terbukti sukses dan kaya. Jujur saja, kesuksesan dan kekayaan memang sangat menginapirasi. Tapi, saya merasa perlu mengingatkan satu hal. Apa itu?
Begini. Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan (impressed). Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."
Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Kurang-lebih begitu. Dan saya harap Anda setuju. Menjadi kaya itu perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika.
Dan ingatlah pesan WS Rendra, "Hidup itu seperti uap. Sebentar saja kelihatannya, lalu lenyap!" Ya, hidup itu singkat. Pada akhirnya, mari sama-sama kita berusaha menjadi manusia yang bermanfaat dan berakhlak. Semoga ujung-ujungnya hidup kita berkah berlimpah. Aamiin.
Kalau berkenan, mohon doanya ya untuk saya dan keluarga saya.
Jumat kemarin, jadwal saya lumayan padat. Pagi, mengisi buat Askrida di Aston Sentul. Malam, mengisi buat UIN di Novotel Lampung. Di sela-sela itu, walaupun sebentar, saya berusaha menemui dan menyapa mitra-mitra saya.
Sebagian dari mereka tengah berjuang keluar dari utang. Mereka pun giat belajar sama tokoh-tokoh yang sudah terbukti sukses dan kaya. Jujur saja, kesuksesan dan kekayaan memang sangat menginapirasi. Tapi, saya merasa perlu mengingatkan satu hal. Apa itu?
Begini. Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan (impressed). Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."
Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Kurang-lebih begitu. Dan saya harap Anda setuju. Menjadi kaya itu perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika.
Dan ingatlah pesan WS Rendra, "Hidup itu seperti uap. Sebentar saja kelihatannya, lalu lenyap!" Ya, hidup itu singkat. Pada akhirnya, mari sama-sama kita berusaha menjadi manusia yang bermanfaat dan berakhlak. Semoga ujung-ujungnya hidup kita berkah berlimpah. Aamiin.
Kalau berkenan, mohon doanya ya untuk saya dan keluarga saya.