Tidak ada rumus yang terlalu baru dalam meraih kesuksesan. Siap bekerja keras dan siap mengambil risiko adalah rumus sukses sepanjang masa.
Sabtu yang lalu, pas saya buka puasa di rumah Pak Chairul Tanjung, Ketua MUI KH Ma'ruf Amin memberikan wejangan-wejangan bisnis untuk seluruh tamu. Mau tahu apa nasihatnya? Simak saja tulisan berikut.
Sambil tersenyum, beliau menjelaskan, "Muslim sekarang jarang yang ngerti syariat, jarang yang ngerti muamalah. Repotnya, kalau sudah ngerti, malah nggak punya bisnis." Kami pun tertawa mendengarnya, karena itu ada benarnya.
Padahal 9 dari 10 bagian kehidupan (pintu rezeki) berada di perniagaan. Banyak Muslim yang belum ngeh soal ini. Perlu contoh?
Industri makanan dan minuman yang bersertifikat halal bernilai 415 triliun dolar AS. Menurut OKI, ternyata 8 dari 10 pemasok daging halal global terbesar adalah negara-negara mayoritas Non-Muslim, dengan Brasil, Australia dan India yang berada di peringkat tiga teratas.
Ini kan ironis. Ke mana Muslim-nya?
Sewaktu saya 4 kali berkunjung ke Jepang, saya melihat beberapa restoran di sana mendapat sertifikasi halal dari Thailand. Bayangkan, dari Thailand, bukan dari Indonesia. Sepertinya kita kalah cepat sama Thailand.
Seorang peserta seminar pernah bertanya kepada saya, "Mungkinkah seorang Muslim bisa sukses besar dalam bisnisnya?" Menurut saya, pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan. Ya, tidak perlu ditanyakan. Bisa insya Allah.
Perluas wawasan kita. Buka pikiran kita. Kalau binatang saja dijamin rezekinya, apalagi manusia, apalagi orang beriman! Padahal binatang nggak pernah sekolah, nggak pernah kuliah! Hehehe.
Rezeki mah udah ada yang ngatur. Itu betul. Tapi, tetap saja perlu kesungguhan dalam menjemput rezeki, apalagi rezeki yang besar. Betul apa betul? Soal ini saya yakin Anda setuju dengan saya.
Begini. Saya mengamati, saat ini ada satu hal yang kurang dari seorang Muslim ketika ia berbisnis. Apa itu? Itqan. Mereka yang itqan hendaknya berusaha memberikan produk yang terbaik dan mengiringi prosesnya dengan perbaikan terus-menerus.
Ya, dalam Islam, ada etos kerja yang namanya itqan. Maksudnya? Teliti, hati-hati, sepenuh hati, bermutu tinggi, dan sulit disaingi. Apapun nama dan istilahnya, sudah sepantasnya orang Indonesia belajar soal itqan. Terutama dalam berbisnis.
Ini PR besar. Apalagi mengingat SDM kita yang belum terlalu kompetitif. Tanpa itqan, produk dari seorang Muslim tidak akan dibeli oleh Muslim lainnya. Tanpa itqan, produk dari seorang Muslim sulit untuk go intenational.
Gagal di awal itu biasa. Tapi, jangan lama-lama. Segeralah berbenah. Ketika Anda gagal, berarti itu adalah signal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Perlu disempurnakan. Ya, itqan. Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan berkah berlimpah.
(Ippho Santosa dan tim mengucapakan mohon maaf lahir dan batin. Semoga Yang Maha Kuasa menerima amal ibadah kita semua. Aamiin)
Sambil tersenyum, beliau menjelaskan, "Muslim sekarang jarang yang ngerti syariat, jarang yang ngerti muamalah. Repotnya, kalau sudah ngerti, malah nggak punya bisnis." Kami pun tertawa mendengarnya, karena itu ada benarnya.
Padahal 9 dari 10 bagian kehidupan (pintu rezeki) berada di perniagaan. Banyak Muslim yang belum ngeh soal ini. Perlu contoh?
Industri makanan dan minuman yang bersertifikat halal bernilai 415 triliun dolar AS. Menurut OKI, ternyata 8 dari 10 pemasok daging halal global terbesar adalah negara-negara mayoritas Non-Muslim, dengan Brasil, Australia dan India yang berada di peringkat tiga teratas.
Ini kan ironis. Ke mana Muslim-nya?
Sewaktu saya 4 kali berkunjung ke Jepang, saya melihat beberapa restoran di sana mendapat sertifikasi halal dari Thailand. Bayangkan, dari Thailand, bukan dari Indonesia. Sepertinya kita kalah cepat sama Thailand.
Seorang peserta seminar pernah bertanya kepada saya, "Mungkinkah seorang Muslim bisa sukses besar dalam bisnisnya?" Menurut saya, pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan. Ya, tidak perlu ditanyakan. Bisa insya Allah.
Perluas wawasan kita. Buka pikiran kita. Kalau binatang saja dijamin rezekinya, apalagi manusia, apalagi orang beriman! Padahal binatang nggak pernah sekolah, nggak pernah kuliah! Hehehe.
Rezeki mah udah ada yang ngatur. Itu betul. Tapi, tetap saja perlu kesungguhan dalam menjemput rezeki, apalagi rezeki yang besar. Betul apa betul? Soal ini saya yakin Anda setuju dengan saya.
Begini. Saya mengamati, saat ini ada satu hal yang kurang dari seorang Muslim ketika ia berbisnis. Apa itu? Itqan. Mereka yang itqan hendaknya berusaha memberikan produk yang terbaik dan mengiringi prosesnya dengan perbaikan terus-menerus.
Ya, dalam Islam, ada etos kerja yang namanya itqan. Maksudnya? Teliti, hati-hati, sepenuh hati, bermutu tinggi, dan sulit disaingi. Apapun nama dan istilahnya, sudah sepantasnya orang Indonesia belajar soal itqan. Terutama dalam berbisnis.
Ini PR besar. Apalagi mengingat SDM kita yang belum terlalu kompetitif. Tanpa itqan, produk dari seorang Muslim tidak akan dibeli oleh Muslim lainnya. Tanpa itqan, produk dari seorang Muslim sulit untuk go intenational.
Gagal di awal itu biasa. Tapi, jangan lama-lama. Segeralah berbenah. Ketika Anda gagal, berarti itu adalah signal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Perlu disempurnakan. Ya, itqan. Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan berkah berlimpah.
(Ippho Santosa dan tim mengucapakan mohon maaf lahir dan batin. Semoga Yang Maha Kuasa menerima amal ibadah kita semua. Aamiin)
#Lebaran, tinggal menghitung hari.
Sebagian nunggu hilal.
Yang lain nunggu halal.
Sebagian mikir THR.
Yang lain mikir 'THR'.
Tunangan Hari Raya.
Sebagian mengucapkan 'mohon maaf lahir batin'. Yang lain mengucapkan 'mohon nafkah lahir batin'. Hehehe...
Tapi kali ini saya tidak sedang membahas soal jodoh. Sama sekali tidak. Melainkan membahas soal mudik dan Lebaran. Boleh saya menyarankan sesuatu? Bagi teman-teman yang mudik, segeralah kembali.
"Apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusannya (saat bepergian, termasuk mudik), hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya," HR Bukhari. Demikianlah pesan Nabi Muhammad.
Satu tradisi yang sulit dipisahkan ketika mudik dan Lebaran adalah hidangan ketupat. Saya yakin Anda dan kita semua sering menyantapnya. Ngomong-ngomong soal ketupat, apa saja hikmahnya?
Ketupat (kupat) sebagai tradisi Muslim di nusantara saat Lebaran, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Dan lazimnya, kupat dihidangkan dengan lauk bersantan (santen) atau “kupat santen” yang mengisyaratkan “kulo lepat, nyuwun ngapunten.”
Terjemahnya, saya salah mohon dimaafkan. Keren ya? Di sisi lain, kupat juga dapat dijabarkan sebagai “laku papat” atau empat tindakan, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Maksudnya?
- Lebaran berasal dari kata “lebar”. Artinya selesai. Ini mengisyaratkan telah selesai menjalani ibadah puasa. Ini pula yang disampaikan oleh MA Salmun (1954).
- Luberan berasal dari kata “luber”. Artinya meluap atau melimpah. Ini mengisyaratkan semangat berbagi dalam bentuk zakat dan sedekah.
- Leburan, berasal dari kata “lebur”. Artinya melebur atau menghilangkan. Ini mengisyaratkan dileburnya dosa karena saling bermaafan.
- Laburan berasal dari kata “labur”. Artinya memutihkan dinding rumah. Ini mengisyaratkan bersihnya lahir dan batin.
Ini tradisi yang indah, penuh hikmah, dan penuh berkah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat. Boleh di-share.
Sebagian nunggu hilal.
Yang lain nunggu halal.
Sebagian mikir THR.
Yang lain mikir 'THR'.
Tunangan Hari Raya.
Sebagian mengucapkan 'mohon maaf lahir batin'. Yang lain mengucapkan 'mohon nafkah lahir batin'. Hehehe...
Tapi kali ini saya tidak sedang membahas soal jodoh. Sama sekali tidak. Melainkan membahas soal mudik dan Lebaran. Boleh saya menyarankan sesuatu? Bagi teman-teman yang mudik, segeralah kembali.
"Apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusannya (saat bepergian, termasuk mudik), hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya," HR Bukhari. Demikianlah pesan Nabi Muhammad.
Satu tradisi yang sulit dipisahkan ketika mudik dan Lebaran adalah hidangan ketupat. Saya yakin Anda dan kita semua sering menyantapnya. Ngomong-ngomong soal ketupat, apa saja hikmahnya?
Ketupat (kupat) sebagai tradisi Muslim di nusantara saat Lebaran, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Dan lazimnya, kupat dihidangkan dengan lauk bersantan (santen) atau “kupat santen” yang mengisyaratkan “kulo lepat, nyuwun ngapunten.”
Terjemahnya, saya salah mohon dimaafkan. Keren ya? Di sisi lain, kupat juga dapat dijabarkan sebagai “laku papat” atau empat tindakan, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Maksudnya?
- Lebaran berasal dari kata “lebar”. Artinya selesai. Ini mengisyaratkan telah selesai menjalani ibadah puasa. Ini pula yang disampaikan oleh MA Salmun (1954).
- Luberan berasal dari kata “luber”. Artinya meluap atau melimpah. Ini mengisyaratkan semangat berbagi dalam bentuk zakat dan sedekah.
- Leburan, berasal dari kata “lebur”. Artinya melebur atau menghilangkan. Ini mengisyaratkan dileburnya dosa karena saling bermaafan.
- Laburan berasal dari kata “labur”. Artinya memutihkan dinding rumah. Ini mengisyaratkan bersihnya lahir dan batin.
Ini tradisi yang indah, penuh hikmah, dan penuh berkah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat. Boleh di-share.
Pernah dendam?
Belakangan ini kita salut sama Anwar Ibrahim, politisi Malaysia, yang memaafkan orang-orang yang pernah menzalimi dia selama belasan tahun. Sangat lama. Ini bukan perkara gampang.
Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan juga bisa merusak kesehatan. Ya, merusak kesehatan. Apa saja 3D itu? Dengki, Dongkol, Dendam.
Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Benarkah sampai seperti itu? Ya, benar.
Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.
Sekiranya kita sadar bahwa dendam itu berdampak buruk terhadap rezeki dan kesehatan kita, tentulah kita akan membuang jauh-jauh sikap negatif ini. Kita pun semakin berhati-hati karena dendam ternyata juga memberangus amal-amal alias membuat hangus amal-amal. Ngeri.
Kesimpulannya, kalau lapang hati, akan lapang rezeki. Kalau sempit hati, akan sempit rezeki. Pilih mana? Saya yakin Anda akan menjatuhkan pilihan pada sikap yang memberdayakan masa depan Anda.
Jadi, buat apa mendendam? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Di bulan yang mulia ini, mari kita saling memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin ya. Semoga berkah berlimpah!
Belakangan ini kita salut sama Anwar Ibrahim, politisi Malaysia, yang memaafkan orang-orang yang pernah menzalimi dia selama belasan tahun. Sangat lama. Ini bukan perkara gampang.
Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan juga bisa merusak kesehatan. Ya, merusak kesehatan. Apa saja 3D itu? Dengki, Dongkol, Dendam.
Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Benarkah sampai seperti itu? Ya, benar.
Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.
Sekiranya kita sadar bahwa dendam itu berdampak buruk terhadap rezeki dan kesehatan kita, tentulah kita akan membuang jauh-jauh sikap negatif ini. Kita pun semakin berhati-hati karena dendam ternyata juga memberangus amal-amal alias membuat hangus amal-amal. Ngeri.
Kesimpulannya, kalau lapang hati, akan lapang rezeki. Kalau sempit hati, akan sempit rezeki. Pilih mana? Saya yakin Anda akan menjatuhkan pilihan pada sikap yang memberdayakan masa depan Anda.
Jadi, buat apa mendendam? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Di bulan yang mulia ini, mari kita saling memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin ya. Semoga berkah berlimpah!
Kali ini coba Anda jawab pertanyaan saya. Anda lebih sering mana, mentraktir atau ditraktir?
Begini. Kalau kita sering minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Inner capacity akan mengecil. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu.
Jangan-jangan Anda juga termasuk 😅😅😅
Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki mental kaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.
"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain TANPA adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.
Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!
😁😁😁
Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.
Misal kita perlu sesuatu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, Anda ingin ikut seminar, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya. Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya Anda boleh masuk dengan cuma-cuma.
Sekali lagi, kerahkan tenaga Anda, berikan jasa Anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar Anda dan kita semua punya mental kaya. Nah, saat Anda memberikan jasa Anda, terjadilah transaksi alias muamalah yang setimpal. Setara. Harga diri pun terjaga.
Kembali soal mentraktir. Gimana dengan orang yang gemar mentraktir dan gemar melayani. Ini bagus sekali. Saya menyebutnya mental kaya. Ya, mental kaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya.
Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Mentraktir, apa susahnya sih? Toh itu bagian dari berbagi dan insya Allah pasti berbalas.
Lagi-lagi, ini soal mental kaya. 😎😎😎
Percayalah, ini bukan soal uang. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Pada akhirnya, mari biasakan diri kita untuk mentraktir.
Sepertinya ini sepele, padahal tidak. Sama sekali tidak. Terakhir pesan saya, kalaupun mau meminta, cukuplah kepada Yang Maha Kuasa, bukan kepada makhluk. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Begini. Kalau kita sering minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Inner capacity akan mengecil. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu.
Jangan-jangan Anda juga termasuk 😅😅😅
Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki mental kaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.
"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain TANPA adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.
Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!
😁😁😁
Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.
Misal kita perlu sesuatu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, Anda ingin ikut seminar, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya. Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya Anda boleh masuk dengan cuma-cuma.
Sekali lagi, kerahkan tenaga Anda, berikan jasa Anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar Anda dan kita semua punya mental kaya. Nah, saat Anda memberikan jasa Anda, terjadilah transaksi alias muamalah yang setimpal. Setara. Harga diri pun terjaga.
Kembali soal mentraktir. Gimana dengan orang yang gemar mentraktir dan gemar melayani. Ini bagus sekali. Saya menyebutnya mental kaya. Ya, mental kaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya.
Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Mentraktir, apa susahnya sih? Toh itu bagian dari berbagi dan insya Allah pasti berbalas.
Lagi-lagi, ini soal mental kaya. 😎😎😎
Percayalah, ini bukan soal uang. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Pada akhirnya, mari biasakan diri kita untuk mentraktir.
Sepertinya ini sepele, padahal tidak. Sama sekali tidak. Terakhir pesan saya, kalaupun mau meminta, cukuplah kepada Yang Maha Kuasa, bukan kepada makhluk. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Pacaran dulu, baru nikah.
Nikah dulu, baru pacaran.
Mana yang lebih seru? 😁
Saya tunggu jawaban dari teman-teman. Boleh ya. Di sini >> https://www.instagram.com/p/BkJTpP-AU6n/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=17gf5p8t43np1
Nikah dulu, baru pacaran.
Mana yang lebih seru? 😁
Saya tunggu jawaban dari teman-teman. Boleh ya. Di sini >> https://www.instagram.com/p/BkJTpP-AU6n/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=17gf5p8t43np1
Instagram
Motivator Indonesia - IPPHO
Awalnya, saya bertemu dia cuma sekali. Ya, cuma sekali. Nggak sampai 15 menit. Kemudian melalui percakapan-percakapan via telepon, saya bilang saya mau melamar dia. Alhamdulillah, dia mau. Pertemuan kedua, saya datang ke keluarganya di Kalimantan. Melamar.…
Menikah itu mengundang rezeki. Ya, mengundang rezeki.
Dan sebenarnya, menikah itu mudah. Yang membuatnya sulit dan mahal adalah adat, gengsi, serta ego.
Dan sebenarnya, menikah itu mudah. Yang membuatnya sulit dan mahal adalah adat, gengsi, serta ego.
Saya sudah keliling Indonesia sejak 2005, setiap weekend-nya, di 33 provinsi.
Ternyata adat itu kurang-lebih sama saja. Cenderung membuat pernikahan itu sulit dan rumit.
Ternyata adat itu kurang-lebih sama saja. Cenderung membuat pernikahan itu sulit dan rumit.
Pandai-pandailah kita beragumen ke keluarga, agar pernikahan kita bisa berlangsung segera dan sederhana.
Ustadz Yusuf Mansur (agar ringkas, izinkan selanjutnya saya sebut YM saja) adalah seorang pembelajar. Maksud saya, benar-benar pembelajar.
Ramadhan kemarin, dengan izin Allah, saya berbuka puasa bersama Ketua MPR Pak Zul, Presiden RI Pak Jokowi, sejumlah menteri, dan tokoh-tokoh lainnya.
Ketika maghrib, Syekh Ali Jaber yang menjadi imam. Saya, Pak Zul, Pak Jokowi, Pak Oesman Sapta Odang dll berada di shaf pertama. Ketika isya, YM yang menjadi imam. Nah, di sini saya sedikit takjub.
Kenapa?
Meski saya tidak terlalu pandai mengaji, tapi insya Allah sedikit-banyak saya bisa menilai bacaan YM ketika sholat. Sekitar 10 tahun saya mengenal beliau, saya merasakan ada perubahan signifikan pada bacaan beliau. Jauh lebih baik insya Allah.
Pas pulang, saya sampaikan hal ini kepada istri saya. YM juga bisa Bahasa Inggris dan Bahasa Arab dengan jauh lebih baik ketimbang 10 tahun yang lalu. Setidaknya, menurut saya.
Yes, YM itu pembelajar. Bukan sekali dua kali saya melihat YM jadi peserta di kajian atau seminar. Duduk beneran, belajar beneran. Kita-kita yang enggan belajar tentu merasa malu. Right?
Bagi saya, mengajar itu baik. Tapi jangan salah, belajar itu sama baiknya bahkan bisa lebih baik. Paling tidak, penilaian di sisi Allah. Sudah semestinya kita lebih giat belajar, apapun posisi dan profesi kita sekarang.
Btw, teman-teman ada pesan atau doa untuk YM? Silakan komen di sini ya. Nanti saya sampaikan ke beliau >> https://www.instagram.com/p/BkJdxhdHrMk/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=rjq0recex115
Ramadhan kemarin, dengan izin Allah, saya berbuka puasa bersama Ketua MPR Pak Zul, Presiden RI Pak Jokowi, sejumlah menteri, dan tokoh-tokoh lainnya.
Ketika maghrib, Syekh Ali Jaber yang menjadi imam. Saya, Pak Zul, Pak Jokowi, Pak Oesman Sapta Odang dll berada di shaf pertama. Ketika isya, YM yang menjadi imam. Nah, di sini saya sedikit takjub.
Kenapa?
Meski saya tidak terlalu pandai mengaji, tapi insya Allah sedikit-banyak saya bisa menilai bacaan YM ketika sholat. Sekitar 10 tahun saya mengenal beliau, saya merasakan ada perubahan signifikan pada bacaan beliau. Jauh lebih baik insya Allah.
Pas pulang, saya sampaikan hal ini kepada istri saya. YM juga bisa Bahasa Inggris dan Bahasa Arab dengan jauh lebih baik ketimbang 10 tahun yang lalu. Setidaknya, menurut saya.
Yes, YM itu pembelajar. Bukan sekali dua kali saya melihat YM jadi peserta di kajian atau seminar. Duduk beneran, belajar beneran. Kita-kita yang enggan belajar tentu merasa malu. Right?
Bagi saya, mengajar itu baik. Tapi jangan salah, belajar itu sama baiknya bahkan bisa lebih baik. Paling tidak, penilaian di sisi Allah. Sudah semestinya kita lebih giat belajar, apapun posisi dan profesi kita sekarang.
Btw, teman-teman ada pesan atau doa untuk YM? Silakan komen di sini ya. Nanti saya sampaikan ke beliau >> https://www.instagram.com/p/BkJdxhdHrMk/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=rjq0recex115
Instagram
Yusuf Mansur
Guru saya, guru kami... @ipphoright. Dari 2008 kami belajar dari beliau. Semoga para guru dimuliakan dan diberkahi Allah selalu. Aaamiin. Jg orang2 tuanya, guru2nya guru2, keluarganya, anak2 keturunan sd akhir zaman.