Saya tidak pernah menganggap enteng doa orang lain. Malahan saya sering minta doa dari orang lain. Termasuk kali ini.
Dua bulan yang lalu, ibu saya terjatuh. Sempat #cedera bahu dan kakinya. Lumayan cederanya. Sampai sekarang, beliau diterapi setiap harinya. Sholatnya berdiri atau duduk di kursi saja, belum bisa bersimpuh. However, tetap alhamdulillah.
Dua hari ini saya ajak beliau ke luar kota. Liburan ceritanya. Soalnya beliau sudah lama nggak liburan. Mohon doa dari teman-teman, semoga ibu saya kembali sehat dan pulih seperti semula. Demikian pula ibu kita semua. Sehat selalu. Aamiin.
Kadang, doa kita gagal menembus langit. Tapi, doa teman kita, siapa tahu, bisa menembus langit. Apalagi kalau teman kita itu mendokan dengan diam-diam.
Ibu dari Komjen Syafruddin, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Hj. Lulu Iyah, juga tidak pernah meremehkan kekuatan doa. Beliau pun meminta doa dari banyak orang saat meresmikan sekolah. Saya pribadi mengenal Pak Wakapolri saat berada di rumah Pak Din.
Doa, doa, doa. Insya Allah ini sangat baik dan powerful.
Dua bulan yang lalu, ibu saya terjatuh. Sempat #cedera bahu dan kakinya. Lumayan cederanya. Sampai sekarang, beliau diterapi setiap harinya. Sholatnya berdiri atau duduk di kursi saja, belum bisa bersimpuh. However, tetap alhamdulillah.
Dua hari ini saya ajak beliau ke luar kota. Liburan ceritanya. Soalnya beliau sudah lama nggak liburan. Mohon doa dari teman-teman, semoga ibu saya kembali sehat dan pulih seperti semula. Demikian pula ibu kita semua. Sehat selalu. Aamiin.
Kadang, doa kita gagal menembus langit. Tapi, doa teman kita, siapa tahu, bisa menembus langit. Apalagi kalau teman kita itu mendokan dengan diam-diam.
Ibu dari Komjen Syafruddin, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Hj. Lulu Iyah, juga tidak pernah meremehkan kekuatan doa. Beliau pun meminta doa dari banyak orang saat meresmikan sekolah. Saya pribadi mengenal Pak Wakapolri saat berada di rumah Pak Din.
Doa, doa, doa. Insya Allah ini sangat baik dan powerful.
Ditraktir, itu menyenangkan.
Mentraktir, mestinya lebih menyenangkan.
Teman-teman pilih ditraktir atau mentraktir? Gemar mentraktir, inilah yang disebut #MentalKaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya.
Istri saya kalau makan di luar, sering mentraktir pengunjung-pengunjung di rumah makan itu. Yang biasanya, tidak ia kenal sama sekali. Dan ini ia lakukan sebelum dan sesudah menikah dengan saya.
Ibunya (mertua saya) juga begitu. Ketika dulu-dulu naik angkot dan turun pertama, dia sering mentraktir penumpang-penumpang di angkot itu. Demikian pula ibu saya dalam konteks yang berbeda.
Ditraktir, apakah salah? Tidak juga. Tapi kalau kita sengaja atau minta-minta agar ditraktir, ini tentu saja kurang elok. Dan kalau kita terbiasa dengan perangai ini, itu artinya kita belum memiliki mental kaya.
Nah, apapun posisi dan profesi Anda, ayo miliki mental kaya, salah satunya dengan gemar mentraktir. Mari dibiasakan. Sekecil apapun. Semoga berkah dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mentraktir, mestinya lebih menyenangkan.
Teman-teman pilih ditraktir atau mentraktir? Gemar mentraktir, inilah yang disebut #MentalKaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya.
Istri saya kalau makan di luar, sering mentraktir pengunjung-pengunjung di rumah makan itu. Yang biasanya, tidak ia kenal sama sekali. Dan ini ia lakukan sebelum dan sesudah menikah dengan saya.
Ibunya (mertua saya) juga begitu. Ketika dulu-dulu naik angkot dan turun pertama, dia sering mentraktir penumpang-penumpang di angkot itu. Demikian pula ibu saya dalam konteks yang berbeda.
Ditraktir, apakah salah? Tidak juga. Tapi kalau kita sengaja atau minta-minta agar ditraktir, ini tentu saja kurang elok. Dan kalau kita terbiasa dengan perangai ini, itu artinya kita belum memiliki mental kaya.
Nah, apapun posisi dan profesi Anda, ayo miliki mental kaya, salah satunya dengan gemar mentraktir. Mari dibiasakan. Sekecil apapun. Semoga berkah dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mental kaya itu perlu dilatih setiap harinya, bukan pekerjaan satu hari dua hari.
Saat ini, yang memimpin peradaban dunia adalah bangsa-bangsa yang berhasil mengelola dan mengedepankan SDM, bukan lagi SDA. Dengan kata lain, kuncinya adalah pendidikan.
Sekali lagi, kuncinya adalah pendidikan... Alhamdulillah, kelar seminar untuk guru-guru bersama Ketua MPR Pak Zul, Pak Tung, dan Kak Seto di Gedung MPR. Doakan kami ya agar tetap sehat dan penuh manfaat. Aamiin...
Terimakasih kepada OJK, PLN, BTN, dll yang telah mengundang saya selama 10 hari terakhir. Semoga materi-materi dari saya bisa membawa perubahan yang diharapkan. Aamiin.
Bayangkan, di halaman rumah Anda berjejer penjual yang tidak Anda kenal. Mereka jualan di sana tanpa seizin Anda.
Anda berusaha menegur.
Tapi si penjual berdalih, "Kami menjual barang-barang yang halal. Toh bukan di rumahmu. Hanya di halaman rumahmu."
Mereka berisik. Mereka mengganggu pandangan. Dan satu hal yang pasti, mereka memakai tempat Anda tanpa izin.
Hm, gimana rasanya?
Di social media dan grup WA hal ini sering terjadi. Muncul spamming di mana-mana. Padahal sudah dilarang beriklan, tapi mereka yang bebal masih saja beriklan di tempat orang lain. Seperti hama, mengganggu.
Semua orang tahu, nyampah atau spamming itu sangat mengganggu orang-orang. Kalau jelas-jelas mengganggu, tentu saja orang-orang nggak ridha dan ini jauh dari keberkahan.
Misal si A spamming di 100 titik. Katakanlah, di setiap titik ada 20 orang. Terus, si A berhasil closing satu item. Apa artinya? Berarti ada 2000 orang yang tergangggu dan tidak ridha dengan jualan si A.
Bukan itu saja. Sepertiga orang mungkin memaki si A dalam hati. Dengan cara murahan seperti ini, mana mungkin closing-an tersebut bisa berkah?
Itu pun kalau closing satu item. Kalau nggak, yah rugi dunia-akhirat. Benar-benar rugi. Belum lagi punya musuh di mana-mana, karena banyaknya orang yang kesal.
Bagi saya, bisnis itu soal membangun nama dan kredibilitas. Alhamdulillah, saya punya banyak mitra. Ternyata 30 mitra saya yang terbaik sales-nya tidak pernah melakukan spamming.
Mereka sama seperti saya, memilih untuk membangun nama dengan cara yang baik-baik. Berusaha agar terpercaya (kredibel). Dan jangan sampai orang lain terganggu dengan jualan kita.
Hidup adalah pilihan.
Saran saya, pilih cara yang baik-baik. Insya Allah sarat dengan berkah. Dan closing atau belum closing, kita punya teman di mana-mana. Kredibilitas pun terbangun. Menyenangkan tho?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda berusaha menegur.
Tapi si penjual berdalih, "Kami menjual barang-barang yang halal. Toh bukan di rumahmu. Hanya di halaman rumahmu."
Mereka berisik. Mereka mengganggu pandangan. Dan satu hal yang pasti, mereka memakai tempat Anda tanpa izin.
Hm, gimana rasanya?
Di social media dan grup WA hal ini sering terjadi. Muncul spamming di mana-mana. Padahal sudah dilarang beriklan, tapi mereka yang bebal masih saja beriklan di tempat orang lain. Seperti hama, mengganggu.
Semua orang tahu, nyampah atau spamming itu sangat mengganggu orang-orang. Kalau jelas-jelas mengganggu, tentu saja orang-orang nggak ridha dan ini jauh dari keberkahan.
Misal si A spamming di 100 titik. Katakanlah, di setiap titik ada 20 orang. Terus, si A berhasil closing satu item. Apa artinya? Berarti ada 2000 orang yang tergangggu dan tidak ridha dengan jualan si A.
Bukan itu saja. Sepertiga orang mungkin memaki si A dalam hati. Dengan cara murahan seperti ini, mana mungkin closing-an tersebut bisa berkah?
Itu pun kalau closing satu item. Kalau nggak, yah rugi dunia-akhirat. Benar-benar rugi. Belum lagi punya musuh di mana-mana, karena banyaknya orang yang kesal.
Bagi saya, bisnis itu soal membangun nama dan kredibilitas. Alhamdulillah, saya punya banyak mitra. Ternyata 30 mitra saya yang terbaik sales-nya tidak pernah melakukan spamming.
Mereka sama seperti saya, memilih untuk membangun nama dengan cara yang baik-baik. Berusaha agar terpercaya (kredibel). Dan jangan sampai orang lain terganggu dengan jualan kita.
Hidup adalah pilihan.
Saran saya, pilih cara yang baik-baik. Insya Allah sarat dengan berkah. Dan closing atau belum closing, kita punya teman di mana-mana. Kredibilitas pun terbangun. Menyenangkan tho?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Keselarasan pikiran itu penting.
1% saja orang di kota Anda berpikir secara kolektif (selaras) dan fokus, ternyata bisa menurunkan angka kriminalitas dan meningkatkan angka keteraturan (harmoni) di kota Anda.
Hebat ya? Sangat hebat.
Satu lagi. Walau tidak sekantor, walau tidak seruangan, mereka yang sevisi (selaras) bisa bekerjasama. Ya, orang-orang hebat perlu dikumpulkan. Tapi yang lebih perlu adalah orang-orang sevisi (selaras).
Saya tahu, menemukan orang-orang yang sefrekuensi memang tidak mudah. Tapi kalau ini berhasil, maka kita akan menuai hasil yang menakjubkan dan mengejutkan. Anda boleh pegang kata-kata saya.
Keselarasan, mari jadikan ini sebagai kriteria utama dalam memilih tim. Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
1% saja orang di kota Anda berpikir secara kolektif (selaras) dan fokus, ternyata bisa menurunkan angka kriminalitas dan meningkatkan angka keteraturan (harmoni) di kota Anda.
Hebat ya? Sangat hebat.
Satu lagi. Walau tidak sekantor, walau tidak seruangan, mereka yang sevisi (selaras) bisa bekerjasama. Ya, orang-orang hebat perlu dikumpulkan. Tapi yang lebih perlu adalah orang-orang sevisi (selaras).
Saya tahu, menemukan orang-orang yang sefrekuensi memang tidak mudah. Tapi kalau ini berhasil, maka kita akan menuai hasil yang menakjubkan dan mengejutkan. Anda boleh pegang kata-kata saya.
Keselarasan, mari jadikan ini sebagai kriteria utama dalam memilih tim. Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kemarin saya bertemu dengan sederet seniman, di antaranya HiVi. Mungkin sebagian dari kita belum pernah mendengar namanya tapi ternyata videonya di YouTube telah dilihat hampir 50 juta kali!
Dengan jumlah penonton sebanyak itu, tentu saja HiVi sudah meraup rupiah lumayan banyak dan boleh dibilang relatif mandiri. Begitulah, dengan YouTube dan socmed saat ini kita bisa menghasilkan uang.
Ya, cara mencari uang telah berubah.
Selama 3 tahun terakhir, saya lumayan intens mengajarkan ilmu internet marketing atau digital marketing. Kenapa? Karena ini benar-benar solusi, menurut saya. Siapa saja bisa. Yang penting, mau belajar.
Kita tidak harus punya ruko. Kita tidak harus paham produksi. Bisa dari rumah. Bisa terukur hasilnya. Hei, sesuatu yang terukur itu penting. Hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.
Bagi saya, kalaupun seminggu kita capek-capek belajar internet marketing, yah nggak masalah. Toh, langsung kelihatan hasilnya. Insya Allah kalau paham ilmunya, bisa langsung menghasilkan.
Kalau kita memiliki smartphone, ada baiknya kita belajar bagaimana mengoptimasi socmed, termasuk Facebook dan Instagram agar benar-benar menghasilkan uang. Adalah rugi kalau hanya posting-posting untuk sekadar eksis, tapi tidak menghasilkan uang.
Terakhir, saran saya, "Jadilah pemain! Bukan sekadar penonton!" Semoga berkah berlimpah!
Dengan jumlah penonton sebanyak itu, tentu saja HiVi sudah meraup rupiah lumayan banyak dan boleh dibilang relatif mandiri. Begitulah, dengan YouTube dan socmed saat ini kita bisa menghasilkan uang.
Ya, cara mencari uang telah berubah.
Selama 3 tahun terakhir, saya lumayan intens mengajarkan ilmu internet marketing atau digital marketing. Kenapa? Karena ini benar-benar solusi, menurut saya. Siapa saja bisa. Yang penting, mau belajar.
Kita tidak harus punya ruko. Kita tidak harus paham produksi. Bisa dari rumah. Bisa terukur hasilnya. Hei, sesuatu yang terukur itu penting. Hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.
Bagi saya, kalaupun seminggu kita capek-capek belajar internet marketing, yah nggak masalah. Toh, langsung kelihatan hasilnya. Insya Allah kalau paham ilmunya, bisa langsung menghasilkan.
Kalau kita memiliki smartphone, ada baiknya kita belajar bagaimana mengoptimasi socmed, termasuk Facebook dan Instagram agar benar-benar menghasilkan uang. Adalah rugi kalau hanya posting-posting untuk sekadar eksis, tapi tidak menghasilkan uang.
Terakhir, saran saya, "Jadilah pemain! Bukan sekadar penonton!" Semoga berkah berlimpah!
Sebenarnya saya tidak mau memaparkan testimoni dari peserta-peserta yang magang di kantor saya. Tapi saya pikir ini bisa membangkitkan semangat bagi entrepreneur dan calon entrepreneur.
Ini beberapa di antaranya:
"Saya salah satu peserta magang IM bersama Mas Ippho. Profesi saya karyawan sekaligus mahasiswa di Semarang. Baru 3 hari mengikuti pelatihan Internet Marketing (IM), saya sudah bisa menangkap konsep materinya. Mulai dari blog, FB sampai SEO. Saya terapkan dan pada hari ke-5, penawaran saya masuk halaman 1 Google."
- Hanif Rahman, Reseller
"KEREN, banyak hal baru yang saya ambil di sini. Dan saya langsung action. Eh dapat order, setelah 2 jam tayang lewat FB, alhamdulillah."
-Helen Chu, Produsen Roti
"Coba-coba buat blog, men-share artikel, dan FB Ads, alhamdulillah saya langsung dapat orderan dari konsumen-konsumen baru. Produk saya juga lebih dikenal dan lebih tepat sasaran. Terima kasih Mas Ippho dan para mentor yang sudah berbagi ilmu."
-Wijaya Prima, Peternak Bebek
Nah, bagi teman-teman yang ingin mengikuti magang Internet Marketing bersama saya dan tim di kantor saya pada awal April 2018, silakan WA 0815-4333-3600 atau 0813-8080-9921. Soal jadwal dan biaya, akan kami sampaikan via WA.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ini beberapa di antaranya:
"Saya salah satu peserta magang IM bersama Mas Ippho. Profesi saya karyawan sekaligus mahasiswa di Semarang. Baru 3 hari mengikuti pelatihan Internet Marketing (IM), saya sudah bisa menangkap konsep materinya. Mulai dari blog, FB sampai SEO. Saya terapkan dan pada hari ke-5, penawaran saya masuk halaman 1 Google."
- Hanif Rahman, Reseller
"KEREN, banyak hal baru yang saya ambil di sini. Dan saya langsung action. Eh dapat order, setelah 2 jam tayang lewat FB, alhamdulillah."
-Helen Chu, Produsen Roti
"Coba-coba buat blog, men-share artikel, dan FB Ads, alhamdulillah saya langsung dapat orderan dari konsumen-konsumen baru. Produk saya juga lebih dikenal dan lebih tepat sasaran. Terima kasih Mas Ippho dan para mentor yang sudah berbagi ilmu."
-Wijaya Prima, Peternak Bebek
Nah, bagi teman-teman yang ingin mengikuti magang Internet Marketing bersama saya dan tim di kantor saya pada awal April 2018, silakan WA 0815-4333-3600 atau 0813-8080-9921. Soal jadwal dan biaya, akan kami sampaikan via WA.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Coba simak percakapan fiktif ini...
Hotman Paris: I'm rich.
Batman: I’m richer.
Iron Man: I’m a millionaire.
King T’challa (Black Panther): I'm the richest!
Hehehe...
Ngomong-ngomong, saat orang-orang beranggapan bahwa CINTA itu BUTA, ternyata SI CINTA tahu persis, mana yang roda empat, mana yang roda dua.
Mana yang Alphard, mana yang Avanza.
Mana yang Gucci, mana yang Guess.
Mana yang berlian, mana yang belingan.
Hehehe...
Begitulah, harta dan kekayaan selalu menjadi pusat perhatian. Di mana-mana. Tapiiiii, sebenarnya inti dari kehidupan ini bukanlah pada kekayaan. Melainkan pada manfaat.
Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakan-mu."
Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Sampai di sini, saya harap Anda setuju.
Ingat, menjadi kaya perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika. Sekiranya belum bisa besar, mulai saja dari hal kecil di sekitar kita.
Ya, tak harus sekaya Batman atau Black Panther. Kita tebar saja manfaat sebisa kita. Insya Allah pelan-pelan kita akan dikayakan. Lagi-lagi saya berharap Anda setuju dan yakin.
Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hotman Paris: I'm rich.
Batman: I’m richer.
Iron Man: I’m a millionaire.
King T’challa (Black Panther): I'm the richest!
Hehehe...
Ngomong-ngomong, saat orang-orang beranggapan bahwa CINTA itu BUTA, ternyata SI CINTA tahu persis, mana yang roda empat, mana yang roda dua.
Mana yang Alphard, mana yang Avanza.
Mana yang Gucci, mana yang Guess.
Mana yang berlian, mana yang belingan.
Hehehe...
Begitulah, harta dan kekayaan selalu menjadi pusat perhatian. Di mana-mana. Tapiiiii, sebenarnya inti dari kehidupan ini bukanlah pada kekayaan. Melainkan pada manfaat.
Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakan-mu."
Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Sampai di sini, saya harap Anda setuju.
Ingat, menjadi kaya perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika. Sekiranya belum bisa besar, mulai saja dari hal kecil di sekitar kita.
Ya, tak harus sekaya Batman atau Black Panther. Kita tebar saja manfaat sebisa kita. Insya Allah pelan-pelan kita akan dikayakan. Lagi-lagi saya berharap Anda setuju dan yakin.
Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika remaja, saya termasuk pengguna C59. Lumayan sering.
Anda tahu C59 dan Es Teler 77? Kalau nggak tahu, lha Anda tinggal di mana selama ini? Hehehe. Belasan tahun yang lalu, kedua merek ini adalah ikon di industrinya masing-masing.
Sekarang? Yah masih eksis dan masih disegani, namun tidak sementereng dulu. Setelah 1 dekade, apalagi 2 dekade, segala sesuatu bisa berubah. Benar-benar berubah.
Ya, dunia telah berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya dominasi socmed. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan socmed.
Dalam berselancar di dunia maya alias internet, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi lainnya, kalau tidak memahami perubahan ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Ya, digilas zaman. Nokia dan Kodak adalah contoh kecilnya.
Alih-alih menganggap internet sebagai lawan atau ancaman, akan jauh lebih baik kalau kita menganggapnya sebagai kawan atau kesempatan. Betul apa betul?
Perhatikan baik-baik. Kita bisa memanfaatkan Facebook dan Instagram sebagai 'ruko kecil'. Kita pun bisa memanfaatkan blog sebagai 'billboard kecil'. Iya tho? Bahkan ini lebih hemat dan lebih tepat sasaran.
Kalau boleh jujur, kehadiran socmed secara langsung atau tidak langsung sebenarnya bisa membantu para entrepreneur, tepatnya para UKM, untuk go national dengan low budget. Nggak perlu buka cabang di mana-mana. Dan nggak perlu pasang iklan di TV nasional.
Pada akhirnya, ayo berdayakan, jangan malah terperdaya. Itulah sikap bijak kita terhadap internet dan socmed. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda tahu C59 dan Es Teler 77? Kalau nggak tahu, lha Anda tinggal di mana selama ini? Hehehe. Belasan tahun yang lalu, kedua merek ini adalah ikon di industrinya masing-masing.
Sekarang? Yah masih eksis dan masih disegani, namun tidak sementereng dulu. Setelah 1 dekade, apalagi 2 dekade, segala sesuatu bisa berubah. Benar-benar berubah.
Ya, dunia telah berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya dominasi socmed. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan socmed.
Dalam berselancar di dunia maya alias internet, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi lainnya, kalau tidak memahami perubahan ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Ya, digilas zaman. Nokia dan Kodak adalah contoh kecilnya.
Alih-alih menganggap internet sebagai lawan atau ancaman, akan jauh lebih baik kalau kita menganggapnya sebagai kawan atau kesempatan. Betul apa betul?
Perhatikan baik-baik. Kita bisa memanfaatkan Facebook dan Instagram sebagai 'ruko kecil'. Kita pun bisa memanfaatkan blog sebagai 'billboard kecil'. Iya tho? Bahkan ini lebih hemat dan lebih tepat sasaran.
Kalau boleh jujur, kehadiran socmed secara langsung atau tidak langsung sebenarnya bisa membantu para entrepreneur, tepatnya para UKM, untuk go national dengan low budget. Nggak perlu buka cabang di mana-mana. Dan nggak perlu pasang iklan di TV nasional.
Pada akhirnya, ayo berdayakan, jangan malah terperdaya. Itulah sikap bijak kita terhadap internet dan socmed. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya berencana mau mengajak teman-teman tur ke sini, bareng saya. Seru soalnya.
Ada yang minat? Saya lagi penjajakan. Kalau banyak yang minat, insya Allah segera kita bikin programnya.
Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di FB saya. Ditunggu ya >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1914966685212191&id=144175158958028
Ada yang minat? Saya lagi penjajakan. Kalau banyak yang minat, insya Allah segera kita bikin programnya.
Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di FB saya. Ditunggu ya >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1914966685212191&id=144175158958028
Facebook
Ippho Santosa & Tim Khalifah
Senang sekali #JalanJalan kemarin. Kurangnya satu aja. Nggak ada istri. Kalau saya diminta untuk jalan-jalan atau roadshow lama-lama tanpa istri, kayaknya saya harus ke Pak Lurah untuk bikin 'Surat...