Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Kaya atau miskin, mana yang lebih dianjurkan? Simak penjelasan Ustadz Abdul Somad berikut ini.
Silakan di-take-action!
Malam itu saya sempat ngobrol ringan sama Arie Untung dan Mario Irwinsyah. Tentang bisnis. Alhamdulillah, masing-masing kita punya bisnis dan menaruh minat yang besar pada bisnis.

Anda dan saya sama-sama tahu bahwa memulai bisnis saat ini semakin mudah. Tapi ingat, kalau serba mudah, maka pesaing juga merasakan hal yang sama. Serba mudah. Itu artinya, persaingan pun semakin sengit.

Lantas, bagaimana peranan socmed seperti FB dan IG pada bisnis? Socmed tidak lagi dipandang sebelah mata. FB dan IG tidak lagi dianggap enteng. Anda dan saya sama-sama maklum, betapa besarnya peran teknologi pada bisnis selama 1 dekade terakhir.

Suka atau tidak suka, Facebook (FB) adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu. Right?

"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap HopperHQ.

HopperHQ juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, menuju satu miliar user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.

Maka, tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari. Think.

Jangan sampai kita hanya menghabiskan waktu di socmed, tapi tidak menghasilkan apa-apa kecuali jumlah like dan share. Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Silaturahim istimewa...
Kali ini coba Anda jawab pertanyaan saya. Pilih mana, mentraktir atau ditraktir?

Begini. Kalau kita sering minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan Anda juga termasuk 😅😅😅

Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki mental kaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.

"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.

Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!

😁😁😁

Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.

Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, Anda ingin ikut seminar, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya. Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya Anda boleh masuk secara cuma-cuma.

Sekali lagi, kerahkan tenaga Anda, berikan jasa Anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar Anda dan saya punya mental kaya. Nah, saat Anda memberikan jasa Anda, terjadilah muamalah yang setimpal. Harga diri pun terjaga.

Kembali soal mentraktir. Gimana dengan orang yang gemar mentraktir dan gemar melayani. Ini bagus sekali. Saya menyebutnya mental kaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya.

Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Lagi-lagi, ini soal mental kaya. 😎😎😎

Percayalah, ini bukan soal uang. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Pada akhirnya, mari biasakan diri kita untuk mentraktir.

Sepertinya ini sepele, padahal tidak. Sama sekali tidak.
Sekadar berbagi cerita...

Total penjualan buku saya, termasuk 7 Keajaiban Rezeki, adalah 1 juta eksemplar. Bahkan lebih. Alhamdulillah.

Kalau trainer, baru 2 orang yang mencapai angka 1 juta itu. Yakni saya dan Ary Ginanjar. Ini menurut data Gramedia Group.

Keajaiban, siapa sih yang nggak mau?

Banyak yang bertanya ke saya, gimana cara menjemput keajaiban?

Saya jawab, "Kalau hidupmu baik-baik saja. Lebih sering sehat ketimbang sakit. Lebih sering senyum ketimbang nangis. Lebih sering kenyang ketimbang lapar. Itu saja sudah cukup disebut KEAJAIBAN. Karena sungguh, tak semua orang menikmatinya."

Mendengar jawaban ini, mereka pun terdiam.

Ini serius. Jangan lagi kita menunggu ini-itu untuk bersyukur. Sekiranya kita menjauhi kufur dan rajin bersyukur, niscaya rezeki semakin deras mengucur. Bukankah nikmat-Nya teramat banyak, tak terukur?

Think.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

(Mari ajak keluarga dan teman-teman kita bergabung ke Channel Telegram @ipphoright ini. Belajar bareng, sukses bareng)
KESEMPATAN EMAS

Nyantri Bisnis Sebulan
Bersama Ippho Santosa & Tim

Syarat:
Usia 20 sampai 35 tahun, mau ber-dhuha setiap hari, punya laptop dan modem sendiri.

Lokasi: BSD, dekat Jakarta.
Jadwal: 7 Maret - 4 April

Sehari-hari peserta akan bekerja seperti karyawan (di rumahnya masing-masing dengan bimbingan dari pusat). Wajib ngantor jam 08.00 s/d 12.00, setiap hari Rabu.

Apa saja manfaatnya? Banyak. Peserta akan belajar ilmu bisnis, penjualan, SEO, socmed, WA, dan Telegram. Tentu saja langsung dari Ippho Santosa.

Berapa biayanya? Hanya Rp 1,5 juta (dan Rp 1 juta akan dikembalikan sekiranya peserta menyelesaikan semua tugas dengan baik sesuai arahan).

Minat? Serius? SMS 0877-7779-2779.
First come, first serve...
Masing-masing kita baiknya punya proyek akhirat. Dan kita-lah yang jadi pimpro-nya.

Mungkin proyek itu bernama:
- panti asuhan
- klinik sosial
- sekolah sosial
- rumah singgah
- rumah ibadah

Tak cukup sedekah tenaga. Pastikan sedekah uang juga.

Menariknya, UANG bisa membeli kebahagiaan jika Anda habiskan dengan cara yang benar. Salah satunya dengan berbagi. Demikianlah pesan profesor psikologi dari University of British Columbia, Elizabeth Dunn, setelah melalui penelitian yang mendalam.

Menariknya, penelitian sebelumnya juga mengungkapkan bahwa menghabiskan uang untuk membantu orang lain bisa membuat hati lebih bahagia ketimbang membeli barang-barang. Ya, membuat hati bahagia.

Anda boleh menyebutnya sedekah, berbagi, donasi, charity, atau apa saja. Yang penting, dilakukan dengan segera dan berkelanjutan. Pada akhirnya, mari tuntaskan proyek kita. Jangan sampai mangkrak!



( Tebar inspirasi seperti ini setiap harinya. Ajak keluarga dan sahabat kita bergabung ke channel Telegram @ipphoright atau minta mereka klik telegram.me/ipphoright )
Praktek ya...
Kehidupan ini sarat dengan pelajaran dan hikmah. Tak terkecuali pada seekor lebah.

Allah menghadirkan lebah dengan bertabur manfaat. Lihatlah Surah An-Nahl 16 ayat 68-69. Di antara manfaat lebah adalah madu dan propolis. Bukan itu saja, perilaku lebah hendaknya jadi inspirasi bagi setiap insan.

Pertama, lebah hanya menghisap saripati bunga. Ia mengambil seperlunya dan membiarkan yang lain. Lebah tidak serakah.

Kedua, lebah menghasilkan madu dan propolis. Ia ambil yang baik-baik, lalu ia keluarkan yang baik-baik. Tidak saja halal, tapi juga sarat manfaat dan bagi manusia insya Allah sarat keberkahan.

Ketiga, lebah tidak merusak. Di mana pun ia hinggap, tak satu pun daun atau ranting yang rusak. Alih-alih merusak, lebah malah membantu penyerbukan tumbuhan.

Keempat, lebah merupakan serangga sosial yang gemar bergotong-royong dan hidupnya saling ketergantungan. Pembagian tugasnya penuh keteraturan dan penuh kesadaran diri, sehingga kelangsungan koloni sangat terjamin.

Kelima, lebah itu kuat. Ia tidak pernah mengganggu pihak lain selama dirinya dan kaumnya tidak diganggu. Tapi, apabila dirinya dan kaumnya dizalimi, maka ia bersama rekan-rekannya akan segera membalas.

Demikianlah beberapa kelebihan lebah. Semoga dari sini kita semua bisa mengambil pelajaran dan hikmah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sport perlu latihan.
Bisnis juga perlu latihan.
Selama ini, saya cenderung memilih olahraga yang ringan-ringan saja, tanpa konfrontasi, seperti berenang, jogging, dan treadmill. Bagi saya, kurang nyaman rasanya kalau fisik sampai berbenturan.

Tapi saat usia saya menginjak 40 tahun, saya malah berpikir yang sebaliknya, "Hei! Kenapa nggak nyoba sesuatu yang baru?" Toh prinsip saya sejak dulu, "Selagi legal dan halal, yah hajar."

Akhirnya saya dan istri memilih satu olahraga yang baru. Sedikit keras, menurut kami. Apa itu? Ya, sudah sekian bulan saya dan istri latihan thai boxing. Memang ini sekadar untuk sport, bukan untuk fight.

Awal-awal sempat merasa kuatir bahkan takut. Seperti kuatir terkilir, lecet, atau sejenisnya. Tapi kami coba saja. Dulu, guru saya pernah berpesan, "Tak perlu memanjakan rasa takut. Hadapi itu. Buktikan sesuatu."

Tiba-tiba saja saya teringat Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Sejak dulu sampai sekarang, Mark Zuckerberg sudah terbiasa dengan masa-masa sulit dan kritikan. Berbekal keberanian dan semangat, karya nyatalah yang menjadi tumpuan perhatiannya. Baginya, mengeluh adalah pantang. Dan mundur adalah terlarang.

Ya, dia berani. Sangat berani.

Ingat. Dalam bisnis, keberanian adalah modal. Uang banyak, nggak jaminan. IQ tinggi, nggak jaminan. Badan kekar, nggak jaminan. Yang utama dan pertama adalah keberanian. Saya ulang, ke-be-ra-ni-an.

Lantas, gimana dengan kita? Saran saya, jangan manjakan rasa takut kita. Lebih baik hadapi itu dan buktikan sesuatu. Saya harap Anda setuju.