Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Dengki? Tertutup rezeki
Buku gratis. Mau?

Ada hadiah dari saya untuk teman-teman semua. Terutama untuk #bumil alias ibu-ibu hamil... Di Kitab Suci, kata 'hamil' hampir-hampir selalu diiringi dengan kata 'kabar gembira'. Salah satu maknanya, ibu hamil harus dibuat gembira. Kalau hatinya gembira, proses persalinannya akan lebih lancar dan anaknya akan lebih cerdas. Ini menurut penelitian... So, silakan komen di sini. Sebanyak-banyaknya. Nanti akan saya pilih 20 pemenang. Dapat hadiah buku plus tanda tangan. Mau?

Yang mau, silakan komen di IG saya >> https://www.instagram.com/p/BdMZgUHh2D8/
Jelas, kita perlu positive thinking.

Namun di waktu yang sama, kita juga perlu proportional thinking.
Tetap bekerja di tengah suasana liburan kadang membuat kita malas. Betul apa betul? Nah, berikut ini tips-tips agar kita bersemangat kembali saat bekerja.

Pertama, bawa oleh-oleh ke kantor. Kita tentu sepakat bahwa makanan atau oleh-oleh bisa menyenangkan hati semua orang di kantor, termasuk diri kita sendiri.

Kedua, dengarkan musik. Mendengarkan musik-musik ceria bisa membangkitkan semangat. Terutama kalau beat-nya cepat. Dengar murottal juga boleh.

Ketiga, manfaatkan waktu makan lebih lama dari biasanya, dengan syarat masih dalam waktu istirahat. Misal, kita lazimnya makan siang sekitar 30 menit. Nah, sesekali boleh kita tambah jadi 45 menit.

Keempat, pergi bertemu teman setelah jam kerja. Boleh-boleh saja setelah jam kerja kita mampir dulu ke restoran bersama teman untuk sekadar menikmati makan malam. Ngobrol santai bisa meningkatkan semangat.

Kelima, tuliskan dan susun ulang rencana kegiatan yang akan dilakukan di kantor. Ini akan membantu kita untuk lebih fokus saat muncul rasa malas dan bingung.

Keenam, konsumsi alpukat, green tea, cokelat, tomat, bayam, madu, dan propolis. Di berbagai riset, ini semua dipercaya dapat memperbaiki mood. Dan tentunya, meningkatkan semangat.

Ketujuh, hindari mereka yang suka mengeluh. Sekali lagi, hindari mereka yang suka mengeluh. Bahaya. Kecuali kita ingin ikut-ikutan negatif seperti mereka.

Nggak sulit tho? Silakan praktek. Semoga sedikit-banyak membawa perubahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Positive thinking bukanlah segalanya. Tapi, dari sinilah bermula pikiran yang jernih. Ide-ide bisa lahir. Inovasi-inovasi bisa hadir.
Teman-teman, mohon doa ya. Ibu saya lagi pemulihan di bagian bahunya. Semoga ibu saya dan ibu-ibu lainnya selalu dinaungi kesehatan. Aamiin.

Kita tahu, sakit adalah ujian. Sekaligus penambah kemuliaan bagi sesiapa yang menjalaninya dengan sabar dan tegar. Sampai detik ini, Nabi Ayub adalah teladan nyata yang penuh ibrah dan syiar.

Sakit adalah terapi kesabaran. Lagi-lagi Nabi Ayub kita jadikan contoh nyata karena berhasil membuat hati kita tersentuh dan trenyuh. Meski sakit di sekujur tubuh, sekalipun ia tak pernah mengeluh.

Sakit adalah zikir dan muhasabah. Dibanding ketika sehat, orang yang sakit akan lebih sering dan lebih khusyuk dalam menyebut nama Allah. Amal-amal pun ia tambah.

Sakit adalah tobat. Saat sakit, manusia cenderung sulit diajak berbuat sia-sia apalagi maksiat. Bahkan ia sedikit tertawa dan banyak menangis yang mana ini merupakan anjuran mereka yang taat. Alih-alih maksiat, si sakit malah menggiatkan tobat.

Sampai di sini, teman-teman sepakat? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saling mendoakan ya...
Satu hari sebelum saya milad (Jumat, 29 Desember), pagi-pagi Ustadz #YusufMansur sudah menelepon saya. Beliau mengucapkan selamat milad, masya Allah. Saya sampai speechless.

Terus-terang, selama ini, saya bukan jenis orang yang merayakan milad. Biasa saja.

Terus, saya Jumatan di At-Tin. Di sana Ustadz YM kasih kado dobel-dobel ke saya. Pertama, uang tunai Rp5juta (uangnya untuk sedekah). Kedua, dua kue tar (satu untuk saya, satu lagi untuk anak saya). Ketiga, ribuan jamaah diminta doain saya.

Masya Allah. Saya nggak tahu harus ngomong apa. Beneran. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan-kebaikan Ustadz YM. Semoga beliau selalu sehat dan dijaga Allah. Aamiin. Kita doakan ya.

Terus, pada 29 Desember itu juga, ada ucapan milad dari Ustadz Amir Faishol dari Tanah Suci. Alhamdulillah. Beliau kita kenal sebagai Juri Hafiz Indonesia di RCTI. Saya pribadi sudah lama berguru sama beliau.

30 Desember 2017, tepat saya berusia 40 tahun (hitungan Masehi). Medina, 2 tahun. Alhamdulillah, saya dikirim kue sama #EyangHabibie, Hotel Ayana, dkk. Sekali lagi, terima kasih atas doa dan ucapan dari teman-teman semua. Semoga berkah sisa umur kita. Aamiin.

Seperti yang saya singgung di awal, saya bukan jenis orang yang merayakan milad. Kalaupun saya bikin event akbar di hotel sekelas Ayana (Raisa dan Hamish resepsi di sini), itu karena grand seminar bersama mitra-mitra BP.

Saya #bersyukur sekali. Tak pernah saya minta, tapi Allah takdirkan saya dan anak ketiga saya lahir pada tanggal yang sama, 30 Desember. Normal lahirnya, alhamdulillah. Sekarang anak ketiga saya ini, Medina, sudah 2 tahun umurnya.

Satu lagi. Ibu saya yang sempat cidera bahunya karena terjatuh beberapa hari yang lalu, alhamdulillah kemarin sudah jauh lebih baik. Keadaan yang membaik ini pun patut kita syukuri. Bukankah begitu?

Dan izinkan saya memberikan apresiasi demi apresiasi. Terima kasih buat Uda David Chalik, Pak Jamil Azzaini, dan Kang Teddy Snada yang telah hadir di acara saya tadi di Ayana. Saya menyaksikan sebuah great performance dari tiga tokoh ini!

Terima kasih juga buat panitia (tim BSD dan tim TK), Kak Diaz dkk, Mas Jimmy dkk, dan mitra-mitra BP yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Saya sampai terharu! It's so great! Semoga segala kesibukan kita ini, semuanya terhitung berkah! Aamiin!
Hari yang mengharukan, 30 Desember kemarin
Hampir 800 peserta di Ayana Mid Plaza
Mungkin ini perasaan saya saja. Tapi begitulah adanya, saya senang sekali melihat foto ini
Bersama 3 orang hebat. Teddy Snada, Akhmad Musyaffa, dan David Chalik
Ingat wajah mereka satu per satu. Silakan belajar ilmu bisnis dan penjualan sama mereka. Dahsyat orangnya!
Ada yang nanya, mau umrah nggak? Jawabnya, "Buat makan aja susah!" Aneh nih orang. Ditanya apa, jawabnya apa. Nggak ngerti Bahasa Indonesia kali ya, hehehe. Berpikirlah positif. Bukankah Tuhanmu maha kaya dan maha besar, tak sekecil pikiranmu? Berapapun saldo kita masing-masing, saya harap kita semua setuju.

Seorang muslim, kalau ditanya soal umrah, yah jawab saja, "Insya Allah mau. Insya Allah berangkat." Nggak susah tho? Ini soal pola pikir saja. Lha, kalau kita ngomong, "Buat makan aja susah," walhasil makannya makin susah dan umrahnya makin susah! Bertambah-tambah! Kata-kata itu kan doa. Apalagi kalau sampai terekam oleh otak bawah sadar.

Begini. Umrah BUKAN soal mampu atau tidak mampu. Tapi soal mau atau tidak mau. Yang beginian, saya yakin Anda sudah tahu. Kalau benar-benar niat (mau) dan dibuktikan dengan memantaskan diri, maka akan dimampukan. Sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya.

Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah. Mohon maaf, ini omong kosong namanya! Sekali lagi, omong kosong! Apa perlu saya ulang untuk ketiga kalinya?

Jadi, baiknya gimana? Lha, masih nanya! Yah pantaskan diri. Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri. Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). DP ke travel umrah. Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.

Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Sisanya, biar Allah yang membereskan. Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah. Ini menurut pengalaman saya dan pengelaman alumni seminar saya. Gimana dengan Anda? Yakin? Seberapa yakin?
Pengen umrah? Simak video di atas...
Anda pernah mengalami rasa takut? Tentu saja pernah, terutama untuk mencoba hal-hal baru. Betul apa betul?

Ketika memulai, kadang muncul #RasaTakut. Nyali sampai menciut. Kening sampai berkerut. Tapi, tetaplah melangkah, jangan pernah surut. Selagi legal dan halal, tak perlu takut.

Hei, ingat! Rasa takut harus ditaklukkan dengan sadar dan sengaja. Bukan untuk dimanja-manja. Sering kali apa-apa yang kita takutkan itu tak pernah terjadi. Right?

Dan sebenarnya, keberanian itu menular. Benar-benar menular. Maka, ada baiknya kita bergaul dengan orang-orang yang berani.  Sedikit-banyak kita akan terpengaruh. Hm, apa penjelasannya?

Begini. #Manusia itu semacam transmitter, semacam pemancar. Orang-orang hebat akan memancarkan energi dan gelombang yang hebat. Hendaknya kita bertemu dan belajar sama mereka. Bukan saja karena ilmunya. Tapi juga karena energinya.

Demikian pula kalau kita bertemu dengan orang-orang yang berani. Ya, keberanian itu akan memancar dan menular. Sedikit-banyak kita akan merasakannya dan terpengaruh. Ini logis sekali.

Bagaimana dengan doa? Sama, ini juga energi dan gelombang. Akan memancar. Berdoa, minta doa, dan saling mendoakan, ini adalah kebiasaan yang sangat baik. Masya Allah, akan nikmat dan dahsyat rasanya kalau ini terus-menerus dibiasakan.

Saya pribadi berterima kasih banyak kepada Eyang Habibie (Presiden ke-3), Pak Zul (Ketua MPR), Pak Tung, Ustadz Amir, dan Ustadz Yusuf yang telah mendoakan saya berbagai kebaikan pada milad saya, 30 Desember yang lalu. Doa yang sama untuk beliau-beliau sekeluarga, insya Allah. Semoga Allah ijabah, aamiin.

Sampai di sini, ada dua poin. Apa itu? Pertama, bertemu dengan orang-orang hebat. Kedua, saling mendoakan. Terus, poin yang ketiga? Niat yang lurus. Percayalah, ketiga hal ini akan menjadi 'suatu penguat' dan akan memancar dengan sendirinya.

Kalau kita perhatikan baik-baik, ketiga poin tadi tidaklah sulit. Yang penting, kita mau dan sungguh-sungguh mencobanya. Gimana dengan Anda? Siap mencoba? Saya harap begitu. Pada akhirnya, semoga berkah berlimpah.
Energi itu memancar. Ini logis