Capek-capek berikhtiar.
Capek-capek belajar.
Capek-capek beramal.
Apakah jaminan sukses?
Nggak juga. Tapi dari segi statistik, kemungkinan sukses kita akan jauh lebih besar.
Coba pikirkan ini. Yang capek-capek berikhtiar saja nggak jaminan sukses, apalagi yang males-malesan?
Sadar woy !
Capek-capek belajar.
Capek-capek beramal.
Apakah jaminan sukses?
Nggak juga. Tapi dari segi statistik, kemungkinan sukses kita akan jauh lebih besar.
Coba pikirkan ini. Yang capek-capek berikhtiar saja nggak jaminan sukses, apalagi yang males-malesan?
Sadar woy !
Saya mau minta tolong. Boleh? Terima kasih sebelumnya.
Copas link ini, terus minta keluarga dan kerabatnya baca. Boleh?
Nggak harus sekarang sih. Nanti pun boleh.
https://m.kitabisa.com/MotivatorIndonesia
Setidaknya mereka bantu doakan.
Copas link ini, terus minta keluarga dan kerabatnya baca. Boleh?
Nggak harus sekarang sih. Nanti pun boleh.
https://m.kitabisa.com/MotivatorIndonesia
Setidaknya mereka bantu doakan.
Teman-teman pernah belanja online? Kalau jualan online?
Hampir semua barang yang dulunya kita beli di toko, sekarang sudah bisa dibeli secara online. Ingat, kegandrungan belanja online ini bukan saja dimiliki oleh kaum milenial, terbukti para ibu pun sering mencari kebutuhan si kecil melalui internet.
Belanja secara online kadang bisa membingungkan, terutama saat konsumen harus memilih suatu produk. Orang rata-rata akan memilih berdasarkan rating dan review. Kendati begitu, ternyata produk dengan rating tertinggi tak selalu yang terbaik.
Menurut studi dari Derek Powell, PhD, peneliti Stanford University, ulasan memang membantu kita menentukan produk yang dibeli, tapi bukan yang terbaik. Tidak jaminan.
Hasil penelitian mengungkapkan, produk dengan jumlah ulasan lebih banyak akan cenderung dibeli, bahkan walau peringkatnya rendah. Menariknya, jika ada dua produk yang sama-sama memiliki ulasan buruk maka konsumen tetap akan membeli produk dengan ulasan terbanyak.
Teman-teman yang punya toko online harus memperhatikan hal ini. Maka, mintalah konsumen kita untuk memberikan ulasan. Tentunya, ulasan yang jujur dan alami. Mudah-mudahan ini bisa membuat toko online kita semakin ramai dan menguntungkan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hampir semua barang yang dulunya kita beli di toko, sekarang sudah bisa dibeli secara online. Ingat, kegandrungan belanja online ini bukan saja dimiliki oleh kaum milenial, terbukti para ibu pun sering mencari kebutuhan si kecil melalui internet.
Belanja secara online kadang bisa membingungkan, terutama saat konsumen harus memilih suatu produk. Orang rata-rata akan memilih berdasarkan rating dan review. Kendati begitu, ternyata produk dengan rating tertinggi tak selalu yang terbaik.
Menurut studi dari Derek Powell, PhD, peneliti Stanford University, ulasan memang membantu kita menentukan produk yang dibeli, tapi bukan yang terbaik. Tidak jaminan.
Hasil penelitian mengungkapkan, produk dengan jumlah ulasan lebih banyak akan cenderung dibeli, bahkan walau peringkatnya rendah. Menariknya, jika ada dua produk yang sama-sama memiliki ulasan buruk maka konsumen tetap akan membeli produk dengan ulasan terbanyak.
Teman-teman yang punya toko online harus memperhatikan hal ini. Maka, mintalah konsumen kita untuk memberikan ulasan. Tentunya, ulasan yang jujur dan alami. Mudah-mudahan ini bisa membuat toko online kita semakin ramai dan menguntungkan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa cita-cita anak Anda?
Spirit dan passion untuk menjadi wirausahawan itu bisa muncul dari keluarga. Ini bukan soal anak yang diberi warisan berupa perusahaan oleh orangtua, tapi ini lebih terkait pada pola asuh terhadap anak.
Ingat, pola asuh akan membentuk karakter anak. Juga akan mengasah mental dan mindset-nya. Semua itu akan berpengaruh secara sadar atau tidak, saat ia menjadi seorang wirausahawan kelak.
Anak yang jatuh kemudian dimotivasi untuk bangkit atau malah dimarahi akan membawa dampak berbeda. Ada pula anak yang dibiarkan untuk menyalah-nyalahkan lantai. Tentu Anda tahu mana yang terbaik.
Anak seharusnya didorong untuk memiliki percaya diri. Bukan dimarahi di mana ini akan membuat mentalnya turun. Bukan pula dibiarkan anak menyalah-nyalahkan lantai.
Satu lagi. Biasakan anak untuk menyukai dunia penjualan sejak dini. Ya, sejak dini. Terjun langsung sebagai penjual pun tak masalah. Lebih bagus malah. Pelan-pelan ia akan terbiasa dengan risiko dan transaksi.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Spirit dan passion untuk menjadi wirausahawan itu bisa muncul dari keluarga. Ini bukan soal anak yang diberi warisan berupa perusahaan oleh orangtua, tapi ini lebih terkait pada pola asuh terhadap anak.
Ingat, pola asuh akan membentuk karakter anak. Juga akan mengasah mental dan mindset-nya. Semua itu akan berpengaruh secara sadar atau tidak, saat ia menjadi seorang wirausahawan kelak.
Anak yang jatuh kemudian dimotivasi untuk bangkit atau malah dimarahi akan membawa dampak berbeda. Ada pula anak yang dibiarkan untuk menyalah-nyalahkan lantai. Tentu Anda tahu mana yang terbaik.
Anak seharusnya didorong untuk memiliki percaya diri. Bukan dimarahi di mana ini akan membuat mentalnya turun. Bukan pula dibiarkan anak menyalah-nyalahkan lantai.
Satu lagi. Biasakan anak untuk menyukai dunia penjualan sejak dini. Ya, sejak dini. Terjun langsung sebagai penjual pun tak masalah. Lebih bagus malah. Pelan-pelan ia akan terbiasa dengan risiko dan transaksi.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda karyawan? Anda profesional?
Sepertinya secara berkala Anda perlu menilai hasil kinerja Anda. Dengan demikian, Anda tahu persis kelebihan dan kekurangan Anda. Ini penting. Jika nantinya Anda ingin pindah kerja atau banting setir, Anda pun sudah memahami keunggulan-keunggulan Anda.
Baiknya dievaluasi setiap berapa lama? Enam bulan adalah waktu relatif pas untuk mengevaluasi kinerja. Ya, setiap enam bulan. Bilamana ternyata kinerja kita kurang memuaskan, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya hingga akhir tahun. Right?
Terus, coba perhatikan satu hal. Apakah atasan sering memberi Anda tugas? Sebenarnya, kalau atasan percaya pada hasil kerja kita, kemungkinan besar dia akan mengamanahkan kita berbagai tugas. Terutama tugas-tugas baru. Ini pertanda baik.
Perlakuan rekan kerja terhadap diri kita juga dapat dijadikan patokan. Apakah selama ini mereka sering menanyai pendapat kita seputar pekerjaan? Atasan yang mengamanahkan tugas dan rekan yang meminta pendapat soal tugas, ini adalah dua patokan sederhana bagi kita dalam menilai kinerja kita.
Sebenarnya, senang bekerja sendiri adalah sesuatu yang bagus. Dapat bekerja secara independen, itu berarti Anda memiliki inisiatif yang tinggi dan tidak perlu banyak bimbingan. Namun, jika Anda tidak bisa bekerja dalam tim, ini adalah sesuatu yang jelek. Ya, jelek. Lambat-laun sikap dan kebiasaan ini akan menghambat kinerja Anda.
Kinerja Anda juga dinilai bermasalah jika Anda tidak pandai mengatur waktu. Ingat, Anda hanya membuang-buang waktu bila menghabiskan waktu terus-menerus mengecek socmed dan WA. Saatnya Anda bekerja lebih disiplin dan lebih fokus.
Demikianlah tips-tips terkait evaluasi kinerja bagi Anda yang karyawan dan profesional. Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sepertinya secara berkala Anda perlu menilai hasil kinerja Anda. Dengan demikian, Anda tahu persis kelebihan dan kekurangan Anda. Ini penting. Jika nantinya Anda ingin pindah kerja atau banting setir, Anda pun sudah memahami keunggulan-keunggulan Anda.
Baiknya dievaluasi setiap berapa lama? Enam bulan adalah waktu relatif pas untuk mengevaluasi kinerja. Ya, setiap enam bulan. Bilamana ternyata kinerja kita kurang memuaskan, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya hingga akhir tahun. Right?
Terus, coba perhatikan satu hal. Apakah atasan sering memberi Anda tugas? Sebenarnya, kalau atasan percaya pada hasil kerja kita, kemungkinan besar dia akan mengamanahkan kita berbagai tugas. Terutama tugas-tugas baru. Ini pertanda baik.
Perlakuan rekan kerja terhadap diri kita juga dapat dijadikan patokan. Apakah selama ini mereka sering menanyai pendapat kita seputar pekerjaan? Atasan yang mengamanahkan tugas dan rekan yang meminta pendapat soal tugas, ini adalah dua patokan sederhana bagi kita dalam menilai kinerja kita.
Sebenarnya, senang bekerja sendiri adalah sesuatu yang bagus. Dapat bekerja secara independen, itu berarti Anda memiliki inisiatif yang tinggi dan tidak perlu banyak bimbingan. Namun, jika Anda tidak bisa bekerja dalam tim, ini adalah sesuatu yang jelek. Ya, jelek. Lambat-laun sikap dan kebiasaan ini akan menghambat kinerja Anda.
Kinerja Anda juga dinilai bermasalah jika Anda tidak pandai mengatur waktu. Ingat, Anda hanya membuang-buang waktu bila menghabiskan waktu terus-menerus mengecek socmed dan WA. Saatnya Anda bekerja lebih disiplin dan lebih fokus.
Demikianlah tips-tips terkait evaluasi kinerja bagi Anda yang karyawan dan profesional. Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda suka band musik?
Saya sempat menonton konser Weezer ketika mereka singgah di Indonesia. Teman-teman tahu band ini? Yang bikin saya kaget adalah mereka berkali-kali menggunakan Bahasa Indonesia dari awal sampai akhir.
Kalimat keren-keren. Seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."
Bahkan Weezer sempat memainkan lagu 'Heavy Rotation' dari AKB48. Kenapa? Pertama, mereka memang suka meng-cover lagu orang lain. Kedua, mereka tahu bahwa 'Heavy Rotation' sangat populer di Indonesia.
'Think globally, act locally!' Ini adalah salah satu filosofi marketing dan Weezer berhasil menerapkannya ketika berada di Jakarta. Berpikir secara global, bertindak secara lokal. Begitulah kurang-lebih.
Mungkin ini seperti KFC yang melakukan penyesuaian rasa dan menu ketika masuk di sejumlah negara. Fleksibel, tidak kaku. Demikian pula Unilever dan Procter & Gamble.
Ya, Weezer salah satu band kesukaan saya. Kalau Guns N Roses? Saya suka juga.
Intro lagu #IndonesiaRaya sempat dibawakan Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Keren ya? Banget. Ini event lama. Saya sempat hadir di sana bagian depan, bareng Mas Denny Cagur.
Teman-teman mungkin tahu atau sangat familier dengan band ini. Terlepas kita suka atau tidak, yang jelas Guns N Roses berusaha 'Think globally, act locally!' Tidak semua band seperti. Misalnya, saat saya menonton Good Charlotte. Kurang sentuhan lokalnya.
Awal-awal saya seminar dan keliling Indonesia, saya berusaha mempelajari kultur setempat. Saya baca koran lokalnya. Saya berdialog dengan panitia di sana. Saya googling hal-hal terkait di sana. Supaya apa? Supaya bisa memberikan sentuhan lokal yang mengena dan bermakna.
Sekali lagi, "Think globally, act locally." Setiap tempat punya value dan habit tersendiri. Jangan dianggap enteng. Tak ada salahnya kalau kita pelajari. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya sempat menonton konser Weezer ketika mereka singgah di Indonesia. Teman-teman tahu band ini? Yang bikin saya kaget adalah mereka berkali-kali menggunakan Bahasa Indonesia dari awal sampai akhir.
Kalimat keren-keren. Seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."
Bahkan Weezer sempat memainkan lagu 'Heavy Rotation' dari AKB48. Kenapa? Pertama, mereka memang suka meng-cover lagu orang lain. Kedua, mereka tahu bahwa 'Heavy Rotation' sangat populer di Indonesia.
'Think globally, act locally!' Ini adalah salah satu filosofi marketing dan Weezer berhasil menerapkannya ketika berada di Jakarta. Berpikir secara global, bertindak secara lokal. Begitulah kurang-lebih.
Mungkin ini seperti KFC yang melakukan penyesuaian rasa dan menu ketika masuk di sejumlah negara. Fleksibel, tidak kaku. Demikian pula Unilever dan Procter & Gamble.
Ya, Weezer salah satu band kesukaan saya. Kalau Guns N Roses? Saya suka juga.
Intro lagu #IndonesiaRaya sempat dibawakan Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Keren ya? Banget. Ini event lama. Saya sempat hadir di sana bagian depan, bareng Mas Denny Cagur.
Teman-teman mungkin tahu atau sangat familier dengan band ini. Terlepas kita suka atau tidak, yang jelas Guns N Roses berusaha 'Think globally, act locally!' Tidak semua band seperti. Misalnya, saat saya menonton Good Charlotte. Kurang sentuhan lokalnya.
Awal-awal saya seminar dan keliling Indonesia, saya berusaha mempelajari kultur setempat. Saya baca koran lokalnya. Saya berdialog dengan panitia di sana. Saya googling hal-hal terkait di sana. Supaya apa? Supaya bisa memberikan sentuhan lokal yang mengena dan bermakna.
Sekali lagi, "Think globally, act locally." Setiap tempat punya value dan habit tersendiri. Jangan dianggap enteng. Tak ada salahnya kalau kita pelajari. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya menyiapkan 10 buku dan ebook gratis buat teman-teman semua. Ya, gratis. Mau?
Gampang caranya. Klik ini >>
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1779585442083650&id=144175158958028
Atau boleh juga buka Instagram saya. Namanya @ipphoright
Gampang caranya. Klik ini >>
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1779585442083650&id=144175158958028
Atau boleh juga buka Instagram saya. Namanya @ipphoright
Semoga dimampukan dan berjodoh untuk mengikuti program 1 bulan ini.
Dalam bersedekah, ikhlas itu penting. Tapi, jumlah juga penting. Sangat penting! Lha, kalau jumlah tidak penting, buat apa Abubakar sedekah sampai 99%? Buat apa Umar sedekah sampai 50%?
Demikianlah para sahabat. Mereka yakin dan berani. Bagaimana dengan kita? Idealnya, kita menyedekahkan yang TERBAIK. Tapi, sekiranya belum bisa, hendaknya kita menyedekahkan yang baik-baik.
Maksudnya? Dari sumber yang baik. Terus? Bentuk dan manfaatnya masih baik. Bukan sesuatu yang sudah rusak bentuknya dan turun manfaatnya. Lebih afdol lagi kalau kita bersedekah lebih sering, lebih banyak, dan lebih ikhlas. Upayakan begitu.
Yakinlah, setiap sedekah itu pasti berbalas. Nggak pake insya Allah. Lha, Allah sendiri yang berjanji, mana mungkin Allah mengingkari? Orang yang suka menunda-nunda sedekah, berarti dia kurang yakin dengan balasan sedekah. Ya, kurang yakin.
Boleh dibilang, bisnis pasangannya adalah sedekah. Memang begitulah adanya. Dengan bisnis, kita menggerakkan uang dan barang. Demikian pula dengan sedekah, kita juga menggerakkan uang dan barang.
Pelit bersedekah, berarti pelit terhadap diri sendiri. Ya, pelit itu bagai menolak rezeki bahkan mengusir rezeki. Rugi. Benar-benar rugi. Sebaliknya, orang yang dermawan, jangan heran kalau dirinya semakin mantap jadi hartawan.
Semoga kita semua dimampukan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Demikianlah para sahabat. Mereka yakin dan berani. Bagaimana dengan kita? Idealnya, kita menyedekahkan yang TERBAIK. Tapi, sekiranya belum bisa, hendaknya kita menyedekahkan yang baik-baik.
Maksudnya? Dari sumber yang baik. Terus? Bentuk dan manfaatnya masih baik. Bukan sesuatu yang sudah rusak bentuknya dan turun manfaatnya. Lebih afdol lagi kalau kita bersedekah lebih sering, lebih banyak, dan lebih ikhlas. Upayakan begitu.
Yakinlah, setiap sedekah itu pasti berbalas. Nggak pake insya Allah. Lha, Allah sendiri yang berjanji, mana mungkin Allah mengingkari? Orang yang suka menunda-nunda sedekah, berarti dia kurang yakin dengan balasan sedekah. Ya, kurang yakin.
Boleh dibilang, bisnis pasangannya adalah sedekah. Memang begitulah adanya. Dengan bisnis, kita menggerakkan uang dan barang. Demikian pula dengan sedekah, kita juga menggerakkan uang dan barang.
Pelit bersedekah, berarti pelit terhadap diri sendiri. Ya, pelit itu bagai menolak rezeki bahkan mengusir rezeki. Rugi. Benar-benar rugi. Sebaliknya, orang yang dermawan, jangan heran kalau dirinya semakin mantap jadi hartawan.
Semoga kita semua dimampukan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di antara semua, siapakah Presiden Indonesia yang paling sedikit haters-nya? Coba tebak. Kemungkinan besar jawabannya adalah BJ Habibie. Setuju? Setuju atau tidak, silakan teman-teman lanjut membaca.
Sewaktu berada di rumah Eyang Habibie, saya sempat nanya-nanya perihal pribadi sama beliau, di samping membahas program-program beliau untuk negeri ini. Ternyata sewaktu kecil beliau susah tidur. Ya, susah tidur.
Adalah sang ayah yang gemar mengaji, dua juz sehari. Ternyata lantunan ayat suci sang ayah ini berhasil menidurkan Habibie cilik. Kisah ini kemudian saya sampaikan ke sahabat saya, Kang Abik, penulis Ayat-Ayat Cinta.
Kang Abik langsung teringat surat Al-Kahfi, bagaimana kesolehan orangtua bisa menjaga anak dan keturunannya. Karena sangat menggugah, tulisan ini boleh di-share. Sekarang, boleh. Sebentar lagi juga boleh.
Begitulah. Ayah beliau rutin mengaji dua juz sehari. Istri beliau (Bu Ainun) bisa khatam Al-Quran hanya dalam beberapa hari. Dan beliau sendiri, belakangan ini, menghabiskan setengah waktunya bersama Al-Quran.
Menariknya, Habibie muda pernah belajar di sekolah non muslim selama sekian tahun. Bahkan ibunya mengizinkan Habibie muda mengikuti pelajaran agama lain. Karena sang ibu yakin dengan iman anaknya dan ingin wawasan anaknya bertambah.
Inilah cuplikan-cuplikan kisah yang saya dengar langsung dari beliau dalam sejumlah pertemuan. Bukan kata orang. Boleh dibilang, perpaduan antara imtaq dan iptek, beliau adalah kyai-nya. Itu menurut saya.
Sewaktu Eyang Habibie jadi presiden, ada pengawal beliau yang sangat setia, anggota Kopassus. Saat Eyang Habibie tidak lagi jadi presiden, pengawal itu memilih meninggalkan kesatuannya untuk tetap bersama Eyang Habibie.
Pengawalnya itu bercerita banyak hal tentang tawadhu-nya Eyang Habibie, baik saat jadi presiden maupun setelah itu. Sampai sekarang, sebagian besar orang di negeri ini menyukai beliau. Hampir-hampir tanpa haters. Beda dengan politisi lain yang berderet-deret haters-nya.
Untuk menyimak kisah Eyang Habibie lainnya, silakan klik >> http://bit.ly/EyangHabibie
Semoga Yang Maha Kuasa memberkahi umur Eyang Habibie. Penuh rahmat dan selalu sehat. Aamiin. Bantu share ya. Dengan di-share, mudah-mudahan semakin banyak anak muda Indonesia yang terinspirasi dan termotivasi.
Sewaktu berada di rumah Eyang Habibie, saya sempat nanya-nanya perihal pribadi sama beliau, di samping membahas program-program beliau untuk negeri ini. Ternyata sewaktu kecil beliau susah tidur. Ya, susah tidur.
Adalah sang ayah yang gemar mengaji, dua juz sehari. Ternyata lantunan ayat suci sang ayah ini berhasil menidurkan Habibie cilik. Kisah ini kemudian saya sampaikan ke sahabat saya, Kang Abik, penulis Ayat-Ayat Cinta.
Kang Abik langsung teringat surat Al-Kahfi, bagaimana kesolehan orangtua bisa menjaga anak dan keturunannya. Karena sangat menggugah, tulisan ini boleh di-share. Sekarang, boleh. Sebentar lagi juga boleh.
Begitulah. Ayah beliau rutin mengaji dua juz sehari. Istri beliau (Bu Ainun) bisa khatam Al-Quran hanya dalam beberapa hari. Dan beliau sendiri, belakangan ini, menghabiskan setengah waktunya bersama Al-Quran.
Menariknya, Habibie muda pernah belajar di sekolah non muslim selama sekian tahun. Bahkan ibunya mengizinkan Habibie muda mengikuti pelajaran agama lain. Karena sang ibu yakin dengan iman anaknya dan ingin wawasan anaknya bertambah.
Inilah cuplikan-cuplikan kisah yang saya dengar langsung dari beliau dalam sejumlah pertemuan. Bukan kata orang. Boleh dibilang, perpaduan antara imtaq dan iptek, beliau adalah kyai-nya. Itu menurut saya.
Sewaktu Eyang Habibie jadi presiden, ada pengawal beliau yang sangat setia, anggota Kopassus. Saat Eyang Habibie tidak lagi jadi presiden, pengawal itu memilih meninggalkan kesatuannya untuk tetap bersama Eyang Habibie.
Pengawalnya itu bercerita banyak hal tentang tawadhu-nya Eyang Habibie, baik saat jadi presiden maupun setelah itu. Sampai sekarang, sebagian besar orang di negeri ini menyukai beliau. Hampir-hampir tanpa haters. Beda dengan politisi lain yang berderet-deret haters-nya.
Untuk menyimak kisah Eyang Habibie lainnya, silakan klik >> http://bit.ly/EyangHabibie
Semoga Yang Maha Kuasa memberkahi umur Eyang Habibie. Penuh rahmat dan selalu sehat. Aamiin. Bantu share ya. Dengan di-share, mudah-mudahan semakin banyak anak muda Indonesia yang terinspirasi dan termotivasi.