Ippho Santosa - ipphoright
22.8K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Anda suka band musik?

Saya sempat menonton konser Weezer ketika mereka singgah di Indonesia. Teman-teman tahu band ini? Yang bikin saya kaget adalah mereka berkali-kali menggunakan Bahasa Indonesia dari awal sampai akhir.

Kalimat keren-keren. Seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."

Bahkan Weezer sempat memainkan lagu 'Heavy Rotation' dari AKB48. Kenapa? Pertama, mereka memang suka meng-cover lagu orang lain. Kedua, mereka tahu bahwa 'Heavy Rotation' sangat populer di Indonesia.

'Think globally, act locally!' Ini adalah salah satu filosofi marketing dan Weezer berhasil menerapkannya ketika berada di Jakarta. Berpikir secara global, bertindak secara lokal. Begitulah kurang-lebih.

Mungkin ini seperti KFC yang melakukan penyesuaian rasa dan menu ketika masuk di sejumlah negara. Fleksibel, tidak kaku. Demikian pula Unilever dan Procter & Gamble.

Ya, Weezer salah satu band kesukaan saya. Kalau Guns N Roses? Saya suka juga.

Intro lagu #IndonesiaRaya sempat dibawakan Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Keren ya? Banget. Ini event lama. Saya sempat hadir di sana bagian depan, bareng Mas Denny Cagur.

Teman-teman mungkin tahu atau sangat familier dengan band ini. Terlepas kita suka atau tidak, yang jelas Guns N Roses berusaha 'Think globally, act locally!' Tidak semua band seperti. Misalnya, saat saya menonton Good Charlotte. Kurang sentuhan lokalnya.

Awal-awal saya seminar dan keliling Indonesia, saya berusaha mempelajari kultur setempat. Saya baca koran lokalnya. Saya berdialog dengan panitia di sana. Saya googling hal-hal terkait di sana. Supaya apa? Supaya bisa memberikan sentuhan lokal yang mengena dan bermakna.

Sekali lagi, "Think globally, act locally." Setiap tempat punya value dan habit tersendiri. Jangan dianggap enteng. Tak ada salahnya kalau kita pelajari. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tadi malam saya nonton konsernya Liam Gallagher, Oasis. Di rockpit alias front row.

Detik-detik yang sangat menyenangkan bagi saya adalah saat dia membawa bendera #MerahPutih ke hadapan penonton sembari memuji, "Ini bendera yang bagus." Ini namanya personal touch. Good job, Liam!

Silakan lihat videonya di Instagram saya, @ipphoright.

Demikian pula Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Ada personal touch. Saya suka sekali saat mereka membawakan intro lagu #IndonesiaRaya, menjelang mereka menyanyikan lagu Don't Cry. Keren!

Kalau Weezer? Lebih keren lagi. Mereka kaya akan celetukan-celetukan khas Bahasa Indonesia seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."

Penonton mana yang nggak senang? Saya pun tersenyum sumringah saat mendengar sapaan-sapaan yang penuh personal touch itu.

Begitulah. Produk nasional bahkan internasional sekalipun perlu memberikan personal touch. Mungkin dari segi bahasa, dari segi kemasan, atau yang lainnya. Sehingga masyarakat setempat merasa lebih dispesialkan. Dan ujung-ujungnya produk kita bisa lebih diterima.

Mari kita terapkan ini pada bisnis kita. Personal touch.