Terima kasih ya atas respons teman-teman. Di IG saya. Alhamdulillah. Saya baca satu per satu.
Kadang, berseminar itu melelahkan. Kata siapa? Yah, kata saya. Namun demikian, tetap saya lakukan. Kenapa? Ternyata ada alasan tersendiri.
Ahad kemarin untuk kesekian kalinya saya seminar bareng Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin, ikon-nya dunia seminar di tanah air. Boleh dibilang, mereka adalah gurunya guru. Right?
Seperti biasa, ticket for charity. Tepatnya untuk para pengungsi Rohingya melalui Dompet Dhuafa. Doakan ya, semoga beliau-beliau tetap sehat, panjang umur, dan lancar rezeki. Aamiin. Demikian pula para peserta seminar yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
Selama 2 tahun terakhir, 60% seminar saya konsepnya sudah charity alias sosial. Peserta tetap bayar, tapi sayanya tidak dibayar. Kok nggak gratis saja? Kalau peserta digratiskan, kemungkinan besar mereka kurang serius.
Berdasarkan pengalaman saya, lebih baik peserta tetap bayar terus uang tiketnya saya donasikan. Kalau peserta nggak punya uang, gimana? Yah sudah, kerahkan tenaga. Bantu panitia mendapatkan 5 peserta berbayar. Bukan memelas, berharap dikasihani.
Meski lelah dan tidak ada uangnya, kenapa saya masih mengadakan seminar ini-itu, bahkan secara rutin? Saya ingin melihat perubahan, pada setiap peserta. Begitu mereka berubah, rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Juga saya ingin kesibukan saya dalam seminar menjadi amal jariyah buat almarhum papa saya serta almarhum kakek-nenek saya. Meski tak seberapa, tentu rasanya melegakan saat kita tahu bahwa ada pahala yang mengalir buat orangtua manakala si anak berusaha berbuat baik dan mengajarkan ilmu.
Doakan saya, semoga niat saya tetap terjaga. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ahad kemarin untuk kesekian kalinya saya seminar bareng Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin, ikon-nya dunia seminar di tanah air. Boleh dibilang, mereka adalah gurunya guru. Right?
Seperti biasa, ticket for charity. Tepatnya untuk para pengungsi Rohingya melalui Dompet Dhuafa. Doakan ya, semoga beliau-beliau tetap sehat, panjang umur, dan lancar rezeki. Aamiin. Demikian pula para peserta seminar yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
Selama 2 tahun terakhir, 60% seminar saya konsepnya sudah charity alias sosial. Peserta tetap bayar, tapi sayanya tidak dibayar. Kok nggak gratis saja? Kalau peserta digratiskan, kemungkinan besar mereka kurang serius.
Berdasarkan pengalaman saya, lebih baik peserta tetap bayar terus uang tiketnya saya donasikan. Kalau peserta nggak punya uang, gimana? Yah sudah, kerahkan tenaga. Bantu panitia mendapatkan 5 peserta berbayar. Bukan memelas, berharap dikasihani.
Meski lelah dan tidak ada uangnya, kenapa saya masih mengadakan seminar ini-itu, bahkan secara rutin? Saya ingin melihat perubahan, pada setiap peserta. Begitu mereka berubah, rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Juga saya ingin kesibukan saya dalam seminar menjadi amal jariyah buat almarhum papa saya serta almarhum kakek-nenek saya. Meski tak seberapa, tentu rasanya melegakan saat kita tahu bahwa ada pahala yang mengalir buat orangtua manakala si anak berusaha berbuat baik dan mengajarkan ilmu.
Doakan saya, semoga niat saya tetap terjaga. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Luruskan niat, sempurnakan ikhtiar.
Sisanya, biar Allah yang aturkan.
Sisanya, biar Allah yang aturkan.
Siapa sih yang nggak pernah malas? Saya pun pernah.
Berikut ini adalah tips-tips untuk mengatasinya.
Pertama, atur jadwal Anda dengan lebih baik. Sebisanya, buat daftar kegiatan harian Anda dalam sebuah catatan. Mungkin di laptop atau di ponsel. Dengan begini, Anda akan setengah dipaksa untuk menjalankan apa yang sudah Anda rencanakan sebelumnya.
Kedua, buatlah prioritas dan fokus. Saat Anda sudah mempunyai daftar tugas beserta analisisnya, maka langkah selanjutnya adalah menyusun prioritas. Terus, fokuslah sesuai urutan prioritas tersebut.
Ketiga, kenakan baju berwarna cerah. Akan beda rasanya. Coba saja.
Keempat, atur ulang meja dan ruang kerja Anda. Boleh juga ditambah sedikit pernak-pernik.
Kelima, cermati asupan makan. Terlalu kenyang akan cenderung membuat orang menjadi malas. Demikian pula kalau terlalu banyak karbohidrat. Sekali lagi, jangan sampai berlebihan. Terus, lengkapi dengan madu dan propolis biar tetap berstamina.
Keenam, ingat-ingat selalu impian besar Anda. Ya, Anda bukan hidup hari ini saja. Ada masa depan perlu dikejar. Bersemangatlah.
Ketujuh, ingat-ingat juga keluarga dan orang-orang tercinta. Ketika lelah dan malas, jadikan mereka ini penyemangat.
Semoga bermanfaat.
Berikut ini adalah tips-tips untuk mengatasinya.
Pertama, atur jadwal Anda dengan lebih baik. Sebisanya, buat daftar kegiatan harian Anda dalam sebuah catatan. Mungkin di laptop atau di ponsel. Dengan begini, Anda akan setengah dipaksa untuk menjalankan apa yang sudah Anda rencanakan sebelumnya.
Kedua, buatlah prioritas dan fokus. Saat Anda sudah mempunyai daftar tugas beserta analisisnya, maka langkah selanjutnya adalah menyusun prioritas. Terus, fokuslah sesuai urutan prioritas tersebut.
Ketiga, kenakan baju berwarna cerah. Akan beda rasanya. Coba saja.
Keempat, atur ulang meja dan ruang kerja Anda. Boleh juga ditambah sedikit pernak-pernik.
Kelima, cermati asupan makan. Terlalu kenyang akan cenderung membuat orang menjadi malas. Demikian pula kalau terlalu banyak karbohidrat. Sekali lagi, jangan sampai berlebihan. Terus, lengkapi dengan madu dan propolis biar tetap berstamina.
Keenam, ingat-ingat selalu impian besar Anda. Ya, Anda bukan hidup hari ini saja. Ada masa depan perlu dikejar. Bersemangatlah.
Ketujuh, ingat-ingat juga keluarga dan orang-orang tercinta. Ketika lelah dan malas, jadikan mereka ini penyemangat.
Semoga bermanfaat.
Bosan?
You may need a pause. Berhentilah dari pekerjaan Anda sejenak. Terus, rencanakan sebuah liburan. Ya, sebuah liburan. Membayangkan hal-hal menyenangkan seperti pergi liburan ternyata dapat meningkatkan mood di kantor. Berbagai riset menunjukkan hasil serupa.
Lalu, apa lagi? Belajar dan cobalah hal-hal yang baru. Cara tokcer yang bisa dilakukan untuk menghalau rasa bosan di kantor adalah dengan memanfaatkan waktu untuk belajar hal-hal baru. Terlebih-lebih kalau kita menginginkan itu sejak lama.
Lalu, apa lagi? Pergilah makan siang di luar, sesekali. Ini akan membuat otot dan tubuh Anda menjadi lebih rileks. Dan ajaklah rekan kerja Anda untuk melakukan hal ini. Setelah makan siang, biasanya mood Anda akan berubah jadi lebih baik.
Lalu, apa lagi? Iringi aktivitas kerja dengan musik. Kalau boleh, pilih beat yang relatif cepat. Dan ingat, hindari lagu cengeng karena bisa mengurangi hormon serotonin di otak. Berkurangnya hormon serotonin bisa membuat kita malas dan bosan.
Itu dulu. Silakan praktek.
You may need a pause. Berhentilah dari pekerjaan Anda sejenak. Terus, rencanakan sebuah liburan. Ya, sebuah liburan. Membayangkan hal-hal menyenangkan seperti pergi liburan ternyata dapat meningkatkan mood di kantor. Berbagai riset menunjukkan hasil serupa.
Lalu, apa lagi? Belajar dan cobalah hal-hal yang baru. Cara tokcer yang bisa dilakukan untuk menghalau rasa bosan di kantor adalah dengan memanfaatkan waktu untuk belajar hal-hal baru. Terlebih-lebih kalau kita menginginkan itu sejak lama.
Lalu, apa lagi? Pergilah makan siang di luar, sesekali. Ini akan membuat otot dan tubuh Anda menjadi lebih rileks. Dan ajaklah rekan kerja Anda untuk melakukan hal ini. Setelah makan siang, biasanya mood Anda akan berubah jadi lebih baik.
Lalu, apa lagi? Iringi aktivitas kerja dengan musik. Kalau boleh, pilih beat yang relatif cepat. Dan ingat, hindari lagu cengeng karena bisa mengurangi hormon serotonin di otak. Berkurangnya hormon serotonin bisa membuat kita malas dan bosan.
Itu dulu. Silakan praktek.
Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016 minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Ini sebuah data dan fakta yang sangat memprihatinkan
Demikian pula minat baca anak-anak. Data dari UNESCO menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca.
Membaca buku sama sekali berbeda dengan menyimak social media. Ya, sama sekali berbeda. Di buku terdapat kematangan dan kedalaman tulisan. Di social media, biasanya ini hampir-hampir tidak ada. Right?
Rupanya rutin membaca dapat mencegah penyakit alzheimer dan demensia. Selain itu, dapat menurunkan tingkat stress hingga 67%. Menariknya, di samping menambah kosakata dan wawasan, rutin membaca dapat membantu kita terhubung dengan dunia luar.
Membaca buku adalah bagian dari menuntut ilmu. Ingat, kalau sedekah saja berbalas, maka menuntut ilmu lebih berbalas. Menuntut ilmu, hukumnya wajib tho? Maka sempatkan membaca 1-2 buku dalam sebulan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Silakan praktek. Semoga berkah berlimpah.
Demikian pula minat baca anak-anak. Data dari UNESCO menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca.
Membaca buku sama sekali berbeda dengan menyimak social media. Ya, sama sekali berbeda. Di buku terdapat kematangan dan kedalaman tulisan. Di social media, biasanya ini hampir-hampir tidak ada. Right?
Rupanya rutin membaca dapat mencegah penyakit alzheimer dan demensia. Selain itu, dapat menurunkan tingkat stress hingga 67%. Menariknya, di samping menambah kosakata dan wawasan, rutin membaca dapat membantu kita terhubung dengan dunia luar.
Membaca buku adalah bagian dari menuntut ilmu. Ingat, kalau sedekah saja berbalas, maka menuntut ilmu lebih berbalas. Menuntut ilmu, hukumnya wajib tho? Maka sempatkan membaca 1-2 buku dalam sebulan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Silakan praktek. Semoga berkah berlimpah.
Belajar itu bukan karena kita lagi mentok. Tapi, kapan saja dan mudah-mudahan mencegah kita dari mentok!
Impian perlu dipupuk. Selalu, jangan pernah jemu. Hm, caranya? Bertemu dengan orang-orang yang menyuburkan impianmu.
Kalau kekayaan itu penting, maka kesehatan jauh lebih penting.
Jangan sampai, kita capek-capek cari harta dan kekayaan, tapi malah mengabaikan kesehatan.
Pernah malas? Kalaupun pernah, yah jangan lama-lama.
Kenapa?
Orang bodoh, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kampung, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kuper, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
TAPI, orang malas, tahu-tahu jadi kaya, ini hampir-hampir TIDAK PERNAH terjadi.
Hei, nggak perlu tersinggung. Mari kita sama-sama introspeksi...
Dua kelemahan kita (orang Indonesia) adalah 2M, yaitu Minder dan Malas. Ini menurut Pak Zul, Ketua MPR. Sekian kali saya bertemu beliau, alhamdulillah, saya dapat ilmu-ilmu baru. Minder itu penghambat. Malas, sama saja, juga penghambat. Anda sepakat?
Rabu minggu yang lalu, saya makan siang bareng Pak Zul dan Imam Shamsi. Terus, saya makan malam bareng Mas Dwiki Dharmawan dan Mas Fadly Padi. Saya pribadi sudah lama kenal kedua-duanya. Karya mereka hebat-hebat. Dan yang bikin saya kagum, mereka selalu punya waktu juga energi untuk umat. Kecil atau besar, mereka berusaha berbuat.
Kamis, saya ngobrol-ngobrol dengan pendiri Wardah dan pendiri Shafira dalam dua kesempatan yang berbeda. Kita semua tahu, mereka berdua berangkat dari nol sebelum sukses besar seperti sekarang. Hari-hari mereka isi dengan kerja keras. Nggak malas.
Maaf, mungkin nasib jelek yang kita terima saat ini adalah buah dari kemalasan kita. Malas berikhtiar, malas beribadah, malas belajar. Nah, sudah saatnya, kebiasaan buruk yang satu ini segera kita tinggalkan.
Kenapa?
Orang bodoh, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kampung, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
Orang kuper, tahu-tahu jadi kaya. Ini sering terjadi...
TAPI, orang malas, tahu-tahu jadi kaya, ini hampir-hampir TIDAK PERNAH terjadi.
Hei, nggak perlu tersinggung. Mari kita sama-sama introspeksi...
Dua kelemahan kita (orang Indonesia) adalah 2M, yaitu Minder dan Malas. Ini menurut Pak Zul, Ketua MPR. Sekian kali saya bertemu beliau, alhamdulillah, saya dapat ilmu-ilmu baru. Minder itu penghambat. Malas, sama saja, juga penghambat. Anda sepakat?
Rabu minggu yang lalu, saya makan siang bareng Pak Zul dan Imam Shamsi. Terus, saya makan malam bareng Mas Dwiki Dharmawan dan Mas Fadly Padi. Saya pribadi sudah lama kenal kedua-duanya. Karya mereka hebat-hebat. Dan yang bikin saya kagum, mereka selalu punya waktu juga energi untuk umat. Kecil atau besar, mereka berusaha berbuat.
Kamis, saya ngobrol-ngobrol dengan pendiri Wardah dan pendiri Shafira dalam dua kesempatan yang berbeda. Kita semua tahu, mereka berdua berangkat dari nol sebelum sukses besar seperti sekarang. Hari-hari mereka isi dengan kerja keras. Nggak malas.
Maaf, mungkin nasib jelek yang kita terima saat ini adalah buah dari kemalasan kita. Malas berikhtiar, malas beribadah, malas belajar. Nah, sudah saatnya, kebiasaan buruk yang satu ini segera kita tinggalkan.
Berhentilah bersikap malas dan memelas. Lebih baik isi hari-harimu dengan kerja keras.
Teman-teman ada pesan untuk Pak Gatot? Sekiranya ada, silakan komen dan sampaikan di IG saya. Mudah-mudahan bisa kita teruskan ke beliau. Komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BbBwKKVB2O4/
Instagram
Motivator Indonesia - IPPHO
Selagi legal dan halal, jangan takut gagal. Beranilah. Orang-orang hebat di sepanjang sejarah adalah orang-orang yang berani mengambil keputusan dan berani mengambil tindakan. Teman-teman #berani? . . . . #GatotNurmantyo #PanglimaTNI #NKRIHargaMati #SayaIndonesia…
Pernah kecurian?
Dulu, beberapa tahun yang lalu, mobil saya pernah dibobol orang pas lagi parkir di sebuah plaza di Batam. Kaca mobil dipecah dan tas saya di dalam mobil diambil. Tepatnya, dicuri. Saya pun kesal.
Terus, kejadian tidak menyenangkan ini saya laporkan ke pihak manajemen plaza. Saat itu saya tidak punya banyak waktu. Karena sudah ditunggu di kelas di sebuah kampus. Mau mengajar, ceritanya. Kunci mobil berada di tangan mereka.
Serunya, begitu saya selesai mengajar, kaca mobil saya sudah selesai diperbaiki. Dan di dalam mobil telah disiapkan tas pengganti. Ada pula kartu kecil berisi permintaan maaf. Alih-alih kesal, hati saya langsung terhibur dengan langkah recovery yang cepat dan cekatan dari manajemen plaza tersebut.
Bulan lalu, satu set jas saya (atas dan bawah) rusak parah ketika dry clean di Hotel Singga**** di Makassar. Saya sempat kesal. Pihak hotel pun mengakui kesalahan fatal itu dan berjanji akan segera mengganti.
Harga satu set jas itu, katakanlah, Rp100ribu (ini ilustrasi saja, untuk memudahkan komparasi). Ternyata setelah lebih dari dua minggu, satu set jas itu tidak diganti juga. Jawaban mereka, "Ntar. Besok. Ntar. Besok" Begitulah setiap harinya.
Terus mereka berusaha ngakalin dengan mencarikan jas alternatif dengan harga Rp12ribu atau Rp15ribu. Mereknya berbeda, harganya pun jauh berbeda alias jauh lebih murah. Sekitar 80% lebih murah. Diakalin begitu, terang saja saya marah.
Selanjutnya mereka berkelit setiap hari, mengaku bahwa jas sudah dikirim dan dalam proses delivery. Kemudian barulah saya tahu ternyata itu semua cuma omong-kosong. Setelah didesak sekian lama, akhirnya jas pengganti itu datang juga. Itu pun tim saya yang harus mengambil.
Yang membuat saya tersenyum kecut adalah mereka hanya mengganti jas bagian atas saja. Celana (bawahan) tidak mereka ganti. Padahal yang rusak adalah satu set jas, atas dan bawah. Harga jas pengganti itu hanya Rp75ribu.
Alasan mereka, "Kami hanya berjanji mengganti jas saja." Bayangkan, saya merusak kemeja dan celana Anda. Terus ketika ganti rugi, saya ngeles, "Saya hanya berjanji mengganti kemeja saja." Masuk akalkah?
Sebenarnya, bukan soal harga yang membuat saya kecewa. Tapi soal ngeles demi ngeles. Andai saja sejak awal mereka berujar, "Maaf Pak, kami hanya punya budget Rp30ribu atau 30% dari harga jas Bapak. Baiknya gimana ya Pak?" Insya Allah saya akan menerima dan merelakan.
Sekali lagi, bukan uang yang utama. Melainkan niat dan kesungguhan. Toh, jas pengganti dari Hotel Singga**** itu langsung saya hadiahkan pada salah satu peserta seminar pada 4 November 2017 di Jakarta. Saya tidak mau hati saya melekat pada barang dan merek tertentu.
Sekarang Anda sebagai pembaca, coba bandingkan dua kisah di atas. Pertama, kisah sebuah plaza di Batam. Kedua, kisah sebuah hotel di Makassar. Saya yakin Anda sepakat bahwa langkah recovery dari plaza itu lebih layak dijadikan contoh.
Apa pendapat Anda?
Dulu, beberapa tahun yang lalu, mobil saya pernah dibobol orang pas lagi parkir di sebuah plaza di Batam. Kaca mobil dipecah dan tas saya di dalam mobil diambil. Tepatnya, dicuri. Saya pun kesal.
Terus, kejadian tidak menyenangkan ini saya laporkan ke pihak manajemen plaza. Saat itu saya tidak punya banyak waktu. Karena sudah ditunggu di kelas di sebuah kampus. Mau mengajar, ceritanya. Kunci mobil berada di tangan mereka.
Serunya, begitu saya selesai mengajar, kaca mobil saya sudah selesai diperbaiki. Dan di dalam mobil telah disiapkan tas pengganti. Ada pula kartu kecil berisi permintaan maaf. Alih-alih kesal, hati saya langsung terhibur dengan langkah recovery yang cepat dan cekatan dari manajemen plaza tersebut.
Bulan lalu, satu set jas saya (atas dan bawah) rusak parah ketika dry clean di Hotel Singga**** di Makassar. Saya sempat kesal. Pihak hotel pun mengakui kesalahan fatal itu dan berjanji akan segera mengganti.
Harga satu set jas itu, katakanlah, Rp100ribu (ini ilustrasi saja, untuk memudahkan komparasi). Ternyata setelah lebih dari dua minggu, satu set jas itu tidak diganti juga. Jawaban mereka, "Ntar. Besok. Ntar. Besok" Begitulah setiap harinya.
Terus mereka berusaha ngakalin dengan mencarikan jas alternatif dengan harga Rp12ribu atau Rp15ribu. Mereknya berbeda, harganya pun jauh berbeda alias jauh lebih murah. Sekitar 80% lebih murah. Diakalin begitu, terang saja saya marah.
Selanjutnya mereka berkelit setiap hari, mengaku bahwa jas sudah dikirim dan dalam proses delivery. Kemudian barulah saya tahu ternyata itu semua cuma omong-kosong. Setelah didesak sekian lama, akhirnya jas pengganti itu datang juga. Itu pun tim saya yang harus mengambil.
Yang membuat saya tersenyum kecut adalah mereka hanya mengganti jas bagian atas saja. Celana (bawahan) tidak mereka ganti. Padahal yang rusak adalah satu set jas, atas dan bawah. Harga jas pengganti itu hanya Rp75ribu.
Alasan mereka, "Kami hanya berjanji mengganti jas saja." Bayangkan, saya merusak kemeja dan celana Anda. Terus ketika ganti rugi, saya ngeles, "Saya hanya berjanji mengganti kemeja saja." Masuk akalkah?
Sebenarnya, bukan soal harga yang membuat saya kecewa. Tapi soal ngeles demi ngeles. Andai saja sejak awal mereka berujar, "Maaf Pak, kami hanya punya budget Rp30ribu atau 30% dari harga jas Bapak. Baiknya gimana ya Pak?" Insya Allah saya akan menerima dan merelakan.
Sekali lagi, bukan uang yang utama. Melainkan niat dan kesungguhan. Toh, jas pengganti dari Hotel Singga**** itu langsung saya hadiahkan pada salah satu peserta seminar pada 4 November 2017 di Jakarta. Saya tidak mau hati saya melekat pada barang dan merek tertentu.
Sekarang Anda sebagai pembaca, coba bandingkan dua kisah di atas. Pertama, kisah sebuah plaza di Batam. Kedua, kisah sebuah hotel di Makassar. Saya yakin Anda sepakat bahwa langkah recovery dari plaza itu lebih layak dijadikan contoh.
Apa pendapat Anda?
Jenuh? Bosan?
Ini harus segera diatasi. Jangan ditunda-tunda. Bila tidak segera diatasi, ini akan membuat kita terjatuh pada kubangan kemalasan. Kita sama-sama tahu penyakit malas itu sulit diobati.
Pertama, identifikasi dulu apa saja penyebab kejenuhan. Terus, carilah alternatif solusi atas penyebab tersebut. Sekiranya karena pekerjaan yang monoton, Anda bisa berkonsultasi dengan atasan dan rekan kerja agar diberlakukan job rotation. Boleh dicoba.
Janganlah menganggap jenuh sebagai masalah yang permanen. Bagaimanapun kita harus berusaha untuk berpikir positif. Dengan kata lain, cobalah mengambil hikmah. Mungkin ada sesuatu yang bermakna di sana. Misal, dengan lama bekerja di suatu tempat, kita dapat banyak ilmu dan banyak pengalaman di sana. Atau luasnya pergaulan.
Kedua, kembangkan kreativitas. Maksudnya, buatlah sesuatu yang baru berdasarkan posisi Anda. Sebagai contoh, jika Anda seorang supervisor di perusahaan, maka Anda dapat bereksperimen dalam membuat susunan tugas dan tanggung jawab pada tim.
Ketiga? Hilangkan kejenuhan dengan berolahraga. Ya, berolahraga. Di British Propolis kami juga menganjurkan hal serupa. Tidak ada ceritanya olahraga bisa menyebabkan badan lemas dan malas.
Hm jangan salah, tak jarang orang justru merasa kesal dan emosional jika diam begitu saja, tidak memiliki kegiatan apapun. Betul apa betul? Anda yang jarang berolahraga, sebaiknya memulainya dari sekarang.
Ya, lakukan aktivitas olahraga yang Anda sukai. Jangan merasa terpaksa. Meskipun hanya lari di pagi hari mengitari kompleks rumah, ini cukup signifikan untuk mengubah suasana hati (mood).
Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ini harus segera diatasi. Jangan ditunda-tunda. Bila tidak segera diatasi, ini akan membuat kita terjatuh pada kubangan kemalasan. Kita sama-sama tahu penyakit malas itu sulit diobati.
Pertama, identifikasi dulu apa saja penyebab kejenuhan. Terus, carilah alternatif solusi atas penyebab tersebut. Sekiranya karena pekerjaan yang monoton, Anda bisa berkonsultasi dengan atasan dan rekan kerja agar diberlakukan job rotation. Boleh dicoba.
Janganlah menganggap jenuh sebagai masalah yang permanen. Bagaimanapun kita harus berusaha untuk berpikir positif. Dengan kata lain, cobalah mengambil hikmah. Mungkin ada sesuatu yang bermakna di sana. Misal, dengan lama bekerja di suatu tempat, kita dapat banyak ilmu dan banyak pengalaman di sana. Atau luasnya pergaulan.
Kedua, kembangkan kreativitas. Maksudnya, buatlah sesuatu yang baru berdasarkan posisi Anda. Sebagai contoh, jika Anda seorang supervisor di perusahaan, maka Anda dapat bereksperimen dalam membuat susunan tugas dan tanggung jawab pada tim.
Ketiga? Hilangkan kejenuhan dengan berolahraga. Ya, berolahraga. Di British Propolis kami juga menganjurkan hal serupa. Tidak ada ceritanya olahraga bisa menyebabkan badan lemas dan malas.
Hm jangan salah, tak jarang orang justru merasa kesal dan emosional jika diam begitu saja, tidak memiliki kegiatan apapun. Betul apa betul? Anda yang jarang berolahraga, sebaiknya memulainya dari sekarang.
Ya, lakukan aktivitas olahraga yang Anda sukai. Jangan merasa terpaksa. Meskipun hanya lari di pagi hari mengitari kompleks rumah, ini cukup signifikan untuk mengubah suasana hati (mood).
Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.