Jadwal seminar Ippho Santosa:
- Korea, +82-1049-5324-40
- Malang, 0816-887-542
- Kediri, 0816-887-542
- Surabaya, 0811-657-7711
- Bandung, 0811-657-7711
- Pekanbaru, 0852-7473-8158
- Sukabumi, 0852-1678-9740
Minat? Serius? Silakan SMS panitia setempat terkait biaya, waktu, dan tempat. Sekali lagi, SMS panitia setempat.
- Korea, +82-1049-5324-40
- Malang, 0816-887-542
- Kediri, 0816-887-542
- Surabaya, 0811-657-7711
- Bandung, 0811-657-7711
- Pekanbaru, 0852-7473-8158
- Sukabumi, 0852-1678-9740
Minat? Serius? Silakan SMS panitia setempat terkait biaya, waktu, dan tempat. Sekali lagi, SMS panitia setempat.
Yakin itu harus.
Dua senior saya, Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin, sangat menganjurkan ini. Yakin.
Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.
Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha. Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha tapi ragu-ragu.
Keyakinan jangan pernah disandarkan pada uang.
- Ada uang, yakin.
- Nggak ada uang, tetap #yakin.
- Selagi bersama Allah, kita harus yakin.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Yang setuju, bantu share dan forward ya tulisan ini. Semoga berkah berlimpah.
Dua senior saya, Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin, sangat menganjurkan ini. Yakin.
Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.
Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha. Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha tapi ragu-ragu.
Keyakinan jangan pernah disandarkan pada uang.
- Ada uang, yakin.
- Nggak ada uang, tetap #yakin.
- Selagi bersama Allah, kita harus yakin.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Yang setuju, bantu share dan forward ya tulisan ini. Semoga berkah berlimpah.
Orang Indonesia itu berani-berani.
Sama badai? Nggak takut.
Sama teror? Nggak takut.
Sama tagihan? Nah, itu baru takut.
Hehehe...
Ada tambahan? Ada...
"Kami hanya takut sama Satpol PP," kata pedagang-pedagang asongan.
"Kami hanya takut hidup menjomblo," kata mbak-mbak single.
"Kami hanya takut sama Allah," kata orang-orang beriman.
Sekali lagi, harus diakui orang Indonesia itu berani-berani. Bukankah nenek moyang kita sudah berlayar sampai ke Madagaskar, sebelum film animasi Madagaskar dipikirkan oleh Hollywood?
Berani, ini modal dasar untuk menjadi seorang entrepreneur. IQ boleh rendah. Saldo boleh sekedarnya. Relasi boleh seadanya. Tapi, kalau kita berani dan mau belajar, insya Allah sebuah bisnis bisa dimulai.
Catat ya. Untuk memulai, perlu berani. Untuk membesarkan, perlu ilmu. Kurang-lebih begitu.
Demikian pula dalam penjualan. Perlu keberanian. Tak semua orang pede dengan apa-apa yang ia tawarkan. Lha, dia saja ragu-ragu. Gimana mungkin orang lain bisa yakin?
"Jika ingin menaklukkan rasa takut, janganlah berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu untuk berpikir. Keluarlah dan sibukkan diri Anda," ungkap Dale Carnegie. Intinya, perbanyak action.
Saran saya, "Biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-risiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.
Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, penjualan, olahraga, atau politik. Pastilah mereka berani mengambil langkah besar dan risiko besar.
Saya harap Anda setuju. Beranilah. Semoga berkah berlimpah.
Sama badai? Nggak takut.
Sama teror? Nggak takut.
Sama tagihan? Nah, itu baru takut.
Hehehe...
Ada tambahan? Ada...
"Kami hanya takut sama Satpol PP," kata pedagang-pedagang asongan.
"Kami hanya takut hidup menjomblo," kata mbak-mbak single.
"Kami hanya takut sama Allah," kata orang-orang beriman.
Sekali lagi, harus diakui orang Indonesia itu berani-berani. Bukankah nenek moyang kita sudah berlayar sampai ke Madagaskar, sebelum film animasi Madagaskar dipikirkan oleh Hollywood?
Berani, ini modal dasar untuk menjadi seorang entrepreneur. IQ boleh rendah. Saldo boleh sekedarnya. Relasi boleh seadanya. Tapi, kalau kita berani dan mau belajar, insya Allah sebuah bisnis bisa dimulai.
Catat ya. Untuk memulai, perlu berani. Untuk membesarkan, perlu ilmu. Kurang-lebih begitu.
Demikian pula dalam penjualan. Perlu keberanian. Tak semua orang pede dengan apa-apa yang ia tawarkan. Lha, dia saja ragu-ragu. Gimana mungkin orang lain bisa yakin?
"Jika ingin menaklukkan rasa takut, janganlah berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu untuk berpikir. Keluarlah dan sibukkan diri Anda," ungkap Dale Carnegie. Intinya, perbanyak action.
Saran saya, "Biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-risiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.
Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, penjualan, olahraga, atau politik. Pastilah mereka berani mengambil langkah besar dan risiko besar.
Saya harap Anda setuju. Beranilah. Semoga berkah berlimpah.
Seberapa serius Anda terhadap bisnis Anda...
Ini terlihat dari bagaimana Anda menyikapi fungsi penjualan...
Ini terlihat dari bagaimana Anda menyikapi fungsi penjualan...
Punya produk?
Selagi produk kita benar-benar bagus, jangan pernah ragu dan tabu untuk menjual.
Mestinya ada perasaan bersalah, punya produk bagus, kok didiamkan saja? Nggak ngasih tahu orang lain.
Niatkan ingin membantu setiap kali kita menawarkan produk. Ya, membantu. Ini artinya, keberadaan kita bagian dari solusi.
Ingat, apapun bisnis Anda, akan mati seketika bila absen menjual. Ya, penjualan adalah penentu.
Jangan ragu dalam menjual.
Selagi produk kita benar-benar bagus, jangan pernah ragu dan tabu untuk menjual.
Mestinya ada perasaan bersalah, punya produk bagus, kok didiamkan saja? Nggak ngasih tahu orang lain.
Niatkan ingin membantu setiap kali kita menawarkan produk. Ya, membantu. Ini artinya, keberadaan kita bagian dari solusi.
Ingat, apapun bisnis Anda, akan mati seketika bila absen menjual. Ya, penjualan adalah penentu.
Jangan ragu dalam menjual.
Supel...
Istri saya ini supel. Kalau ngobrol, dia bisa nyambung dengan siapa saja. Termasuk dengan ibu saya, saudara saya, dan sepupu saya. Yah, semua.
Meski akrab dengan berbagai pengusaha, motivator, dan artis, tapi ia juga gampang klik kalau ngobrol sama mbak-mbak yang membantu di rumah.
Bahkan ketika mengantre di rumah sakit, ia bisa ngobrol lama-lama dengan babysitter dan asisten rumah dari keluarga lain. Nggak canggung. Nggak beda-bedain orang.
Menurut saya, ini hebat. Beneran. Tak semua orang bisa.
Saat aktif di luar (misalnya dengan sesama orangtua siswa), ia supel dan membawa namanya sendiri. Bukan istrinya Ippho atau semacamnya. Menurut kami, lebih enak begitu. Mandiri tho?
Supel ini bagian dari otak kanan. Kalau otak kiri? Serba kaku, maunya lurus-lurus saja. Nggak luwes. Di IG, ia memakai namanya sendiri dan nama ayahnya. Jadilah @AstridSuhaimi.
Kok nggak pake nama Ippho atau Santosa? Agama sebenarnya menganjurkan memakai nama ayah dan kami berusaha mengikutinya. Dengan begini, sampai kapanpun, silsilah tetap jelas.
Supel, seperlu apa sih? Manakala kita menjadi pemimpin atau pengusaha, kita dituntut untuk supel dan luwes. Kenapa? Karena kita membawahi karyawan yang beragam. Kita bertemu dengan klien yang beragam.
Sekali lagi, supel itu perlu. Be right. Be flexible. Begitu istilahnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Istri saya ini supel. Kalau ngobrol, dia bisa nyambung dengan siapa saja. Termasuk dengan ibu saya, saudara saya, dan sepupu saya. Yah, semua.
Meski akrab dengan berbagai pengusaha, motivator, dan artis, tapi ia juga gampang klik kalau ngobrol sama mbak-mbak yang membantu di rumah.
Bahkan ketika mengantre di rumah sakit, ia bisa ngobrol lama-lama dengan babysitter dan asisten rumah dari keluarga lain. Nggak canggung. Nggak beda-bedain orang.
Menurut saya, ini hebat. Beneran. Tak semua orang bisa.
Saat aktif di luar (misalnya dengan sesama orangtua siswa), ia supel dan membawa namanya sendiri. Bukan istrinya Ippho atau semacamnya. Menurut kami, lebih enak begitu. Mandiri tho?
Supel ini bagian dari otak kanan. Kalau otak kiri? Serba kaku, maunya lurus-lurus saja. Nggak luwes. Di IG, ia memakai namanya sendiri dan nama ayahnya. Jadilah @AstridSuhaimi.
Kok nggak pake nama Ippho atau Santosa? Agama sebenarnya menganjurkan memakai nama ayah dan kami berusaha mengikutinya. Dengan begini, sampai kapanpun, silsilah tetap jelas.
Supel, seperlu apa sih? Manakala kita menjadi pemimpin atau pengusaha, kita dituntut untuk supel dan luwes. Kenapa? Karena kita membawahi karyawan yang beragam. Kita bertemu dengan klien yang beragam.
Sekali lagi, supel itu perlu. Be right. Be flexible. Begitu istilahnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rp 1 miliar,
pernah lihat?
Kalau Rp 3 miliar?
Ada e-book bagus.
Karya teman saya.
Tentang apa?
Bagaimana
mendapatkan
Rp 3 miliar
dalam 1 hari.
Ini kisah nyata.
Beneran terjadi.
Setelah saya baca,
sepertinya bisa
diterapkan oleh
semua orang.
Yang penting
orangnya serius.
Beberapa hari lagi
akan saya bagikan.
GRATIS.
Ya, e-book gratis.
Di mana? Kapan?
Gimana caranya?
Nanti dikabari lagi.
Siap-siap saja 😊
pernah lihat?
Kalau Rp 3 miliar?
Ada e-book bagus.
Karya teman saya.
Tentang apa?
Bagaimana
mendapatkan
Rp 3 miliar
dalam 1 hari.
Ini kisah nyata.
Beneran terjadi.
Setelah saya baca,
sepertinya bisa
diterapkan oleh
semua orang.
Yang penting
orangnya serius.
Beberapa hari lagi
akan saya bagikan.
GRATIS.
Ya, e-book gratis.
Di mana? Kapan?
Gimana caranya?
Nanti dikabari lagi.
Siap-siap saja 😊
Kenapa saya tertarik dengan berkuda? Begini.
Umar bin Khattab pernah berseru, "Ajari anak-anakmu berenang, memanah, dan berkuda."
“Segala sesuatu selain zikir kepada Allah adalah sia-sia dan permainan belaka, kecuali empat hal, yaitu latihan memanah, candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, dan mengajarkan renang." HR Timirdzi.
"Setiap hal yang melalaikan seorang Muslim hukumnya batil, kecuali memanah dengan busur, melatih kuda, dan canda dengan istri.” HR Ibnu Majah.
"Pada ubun-ubun kuda itu, telah ditetapkan kebaikan, hingga Hari Kiamat." HR Bukhari.
Berkuda melatih ketenangan, keberanian, dan kepemimpinan. Itu beberapa manfaatnya. Hal ini pernah saya tanya langsung pada Aa Gym dan Ust Arifin Ilham. Yang menarik, zaman sekarang penyewaan kuda hadir di mana-mana dengan biaya yang relatif terjangkau.
Kalau kita menganggap berkuda sebagai olahraga? Yah, boleh juga. Insya Allah ini pun bagian dari syukur nikmat dan berpahala. Kok bisa? Begini. Tubuh yang sehat itu kan nikmat dan perlu dijaga. Right? Tulisan ini boleh Anda share.
Di sini saya melihat visi Nabi dan Umar yang mengagumkan. Benar-benar mengagumkan. Mereka menganjurkan berkuda, bukan berunta. Karena tidak semua negeri ada unta. Tapi kalau kuda, yah ada.
Tak ada salahnya kalau kita dan anak-anak kita mulai mencoba. Berkuda. Syukur-syukur dimampukan untuk rutin. Semoga berkah berlimpah.
Umar bin Khattab pernah berseru, "Ajari anak-anakmu berenang, memanah, dan berkuda."
“Segala sesuatu selain zikir kepada Allah adalah sia-sia dan permainan belaka, kecuali empat hal, yaitu latihan memanah, candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, dan mengajarkan renang." HR Timirdzi.
"Setiap hal yang melalaikan seorang Muslim hukumnya batil, kecuali memanah dengan busur, melatih kuda, dan canda dengan istri.” HR Ibnu Majah.
"Pada ubun-ubun kuda itu, telah ditetapkan kebaikan, hingga Hari Kiamat." HR Bukhari.
Berkuda melatih ketenangan, keberanian, dan kepemimpinan. Itu beberapa manfaatnya. Hal ini pernah saya tanya langsung pada Aa Gym dan Ust Arifin Ilham. Yang menarik, zaman sekarang penyewaan kuda hadir di mana-mana dengan biaya yang relatif terjangkau.
Kalau kita menganggap berkuda sebagai olahraga? Yah, boleh juga. Insya Allah ini pun bagian dari syukur nikmat dan berpahala. Kok bisa? Begini. Tubuh yang sehat itu kan nikmat dan perlu dijaga. Right? Tulisan ini boleh Anda share.
Di sini saya melihat visi Nabi dan Umar yang mengagumkan. Benar-benar mengagumkan. Mereka menganjurkan berkuda, bukan berunta. Karena tidak semua negeri ada unta. Tapi kalau kuda, yah ada.
Tak ada salahnya kalau kita dan anak-anak kita mulai mencoba. Berkuda. Syukur-syukur dimampukan untuk rutin. Semoga berkah berlimpah.
Sudah punya usaha?
Bagaimana margin-nya, besarkah?
Bagaimana mentor-nya, ahlikah?
Kali ini saya, Ippho Santosa, membuka kesempatan. Dalam artian, teman-teman semua bisa bermitra dengan saya. Tepatnya, jadi reseller. Di sini kita akan memasarkan produk kesehatan (suplemen). Bukan MLM.
Begini. Harus pede jadi reseller. Bukankah Nabi Muhamamd awalnya seorang reseller? Kita sama-sama tahu, beliau sempat menjualkan barang-barang dari saudagar-saudagar di Mekkah.
Kembali ke bisnis ini:
- modalnya Rp1,2juta
- marginnya hampir 100%
- balik modalnya cepat
- repeat order-nya tinggi
- ongkirnya sangat murah
- standarnya internasional
- open sampai 20 September
Ngomong-ngomong, apa sih produknya? British Propolis (BP), asli dari Inggris.
Olla Ramlan, Andre Taulany, David Chalik, Shandy Aulia, Meyda Sefira, Ust Yusuf Mansur, Ust Maulana, Tung Desem Waringin, dan Jamil Azzaini adalah tokoh-tokoh yang turut meng-endorse produk ini.
Profit-nya?
Simak saja testimoni Triyanto, distributor BP di Jakarta Timur, "Baru gabung di #BritishPropolis selama 5 bulan, eh sudah dapat bonus jalan-jalan ke Lombok bersama Mas Ippho. Ini luar biasa. Soal omzet dan profit? Ndak usah ditanya. Sangat lumayan profit-nya."
Simak juga testimoni Wendi, distributor BP di Bandung, "Alhamdulillah, baru 4 bulan fokus jalani bisnis BP ini, omset saya sudah menyentuh Rp 200 juta. Ini 1000% lebih banyak daripada omset saya dari bisnis lainnya."
Perhatikan baik-baik. Margin-nya besar, hampir 100%. Amat langka produk seperti ini.
Terus, saya dan tim setiap hari membimbing Anda. Ya, setiap hari.
Bimbingan, adakah buktinya?
Ada. Melalui sebuah training yang powerful, saya dan tim akan mengajari Anda menjual lebih cepat dan lebih banyak. Ini salah satu buktinya.
Ya, Anda berhak mengikuti training (dengan seat VIP) senilai Rp900ribu di Hotel Grand Citra, Karawang. Di mana Anda tidak perlu bayar biaya training lagi. Asalkan Anda bergabung di bisnis ini sebelum 15 September.
Kapan training-nya?
24 September, seharian, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Sekali lagi, ini training. Bukan seminar. Bukan sekedar ngumpul-ngumpul. Kita akan belajar detail bagaimana menjual lebih cepat dan lebih banyak!
Siapa saja yang bakal mengisi materi?
- Ippho Santosa, pendiri BP.
- Diaz Adriani (telah membimbing ribuan reseller, omset miliaran rupiah).
Yang lain?
MEYDA SEFIRA, aktris Ketika Cinta Bertasbih, juga hadir dan siap untuk foto bareng.
Jangan salah! Bergabungnya Anda dengan bisnis ini akan menjadi moment yang sangat menentukan! Karena insya Allah sangat berpengaruh pada peningkatan income Anda!
Minat?
Transfer saja ke Rp1,2juta ke BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa.
Atau ke BCA 4979-091-777 a.n. Ippho D. Santosa.
Setelah transfer, WA ke 0813-9520-0092
Anda akan dikirimi dan mendapat produk senilai Rp2juta.
Siap jadi pengusaha? Siap usahanya saya bimbing?
Bagaimana margin-nya, besarkah?
Bagaimana mentor-nya, ahlikah?
Kali ini saya, Ippho Santosa, membuka kesempatan. Dalam artian, teman-teman semua bisa bermitra dengan saya. Tepatnya, jadi reseller. Di sini kita akan memasarkan produk kesehatan (suplemen). Bukan MLM.
Begini. Harus pede jadi reseller. Bukankah Nabi Muhamamd awalnya seorang reseller? Kita sama-sama tahu, beliau sempat menjualkan barang-barang dari saudagar-saudagar di Mekkah.
Kembali ke bisnis ini:
- modalnya Rp1,2juta
- marginnya hampir 100%
- balik modalnya cepat
- repeat order-nya tinggi
- ongkirnya sangat murah
- standarnya internasional
- open sampai 20 September
Ngomong-ngomong, apa sih produknya? British Propolis (BP), asli dari Inggris.
Olla Ramlan, Andre Taulany, David Chalik, Shandy Aulia, Meyda Sefira, Ust Yusuf Mansur, Ust Maulana, Tung Desem Waringin, dan Jamil Azzaini adalah tokoh-tokoh yang turut meng-endorse produk ini.
Profit-nya?
Simak saja testimoni Triyanto, distributor BP di Jakarta Timur, "Baru gabung di #BritishPropolis selama 5 bulan, eh sudah dapat bonus jalan-jalan ke Lombok bersama Mas Ippho. Ini luar biasa. Soal omzet dan profit? Ndak usah ditanya. Sangat lumayan profit-nya."
Simak juga testimoni Wendi, distributor BP di Bandung, "Alhamdulillah, baru 4 bulan fokus jalani bisnis BP ini, omset saya sudah menyentuh Rp 200 juta. Ini 1000% lebih banyak daripada omset saya dari bisnis lainnya."
Perhatikan baik-baik. Margin-nya besar, hampir 100%. Amat langka produk seperti ini.
Terus, saya dan tim setiap hari membimbing Anda. Ya, setiap hari.
Bimbingan, adakah buktinya?
Ada. Melalui sebuah training yang powerful, saya dan tim akan mengajari Anda menjual lebih cepat dan lebih banyak. Ini salah satu buktinya.
Ya, Anda berhak mengikuti training (dengan seat VIP) senilai Rp900ribu di Hotel Grand Citra, Karawang. Di mana Anda tidak perlu bayar biaya training lagi. Asalkan Anda bergabung di bisnis ini sebelum 15 September.
Kapan training-nya?
24 September, seharian, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Sekali lagi, ini training. Bukan seminar. Bukan sekedar ngumpul-ngumpul. Kita akan belajar detail bagaimana menjual lebih cepat dan lebih banyak!
Siapa saja yang bakal mengisi materi?
- Ippho Santosa, pendiri BP.
- Diaz Adriani (telah membimbing ribuan reseller, omset miliaran rupiah).
Yang lain?
MEYDA SEFIRA, aktris Ketika Cinta Bertasbih, juga hadir dan siap untuk foto bareng.
Jangan salah! Bergabungnya Anda dengan bisnis ini akan menjadi moment yang sangat menentukan! Karena insya Allah sangat berpengaruh pada peningkatan income Anda!
Minat?
Transfer saja ke Rp1,2juta ke BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa.
Atau ke BCA 4979-091-777 a.n. Ippho D. Santosa.
Setelah transfer, WA ke 0813-9520-0092
Anda akan dikirimi dan mendapat produk senilai Rp2juta.
Siap jadi pengusaha? Siap usahanya saya bimbing?
Orang-orang besar, apa yang mereka pikirkan? Bukan perutnya sendiri. Bukan dapurnya sendiri. Ternyata begitu. Visi mereka besar.
Saya pernah dinner bareng Pak Habibie dan anaknya, Pak Zulkifli (Ketua MPR) dan keluarganya, Dr Zakir Naik, Pak Chairul Tanjung, dan KH Ma'ruf Amin (Ketua MUI). Obrolan bersama mereka terasa berbeda.
Selalu ada terselip pemikiran besar atau visi besar.
Dalam bisnis, bukan sekadar ngomong, visi yang besar ini dimanifestasikan pada kerja keras setiap harinya. Pelan-pelan keajaiban terjadi. Kemudahan demi kemudahan pun hadir.
Ya, visi yang besar akan membuat orang-orang berdatangan dan bantu mewujudkan. Sementara visi yang kecil hanya akan diwujudkan oleh dirinya sendiri.
Sekarang, coba tanya pada hati Anda yang paling dalam. Apa visi besar Anda dalam berbisnis? Jika benar-benar terjawab, maka insya Allah sebesar apapun rintangan yang Anda hadapi, akan dianggap kecil, karena visi Anda dan semangat Anda jauh lebih besar.
Ingat, bisnis itu benda mati. Visi yang membuatnya hidup. So, find your vision.
Praktek ya. Istilahnya, "Mulai dari yang kanan. Mulai dari visi." Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya pernah dinner bareng Pak Habibie dan anaknya, Pak Zulkifli (Ketua MPR) dan keluarganya, Dr Zakir Naik, Pak Chairul Tanjung, dan KH Ma'ruf Amin (Ketua MUI). Obrolan bersama mereka terasa berbeda.
Selalu ada terselip pemikiran besar atau visi besar.
Dalam bisnis, bukan sekadar ngomong, visi yang besar ini dimanifestasikan pada kerja keras setiap harinya. Pelan-pelan keajaiban terjadi. Kemudahan demi kemudahan pun hadir.
Ya, visi yang besar akan membuat orang-orang berdatangan dan bantu mewujudkan. Sementara visi yang kecil hanya akan diwujudkan oleh dirinya sendiri.
Sekarang, coba tanya pada hati Anda yang paling dalam. Apa visi besar Anda dalam berbisnis? Jika benar-benar terjawab, maka insya Allah sebesar apapun rintangan yang Anda hadapi, akan dianggap kecil, karena visi Anda dan semangat Anda jauh lebih besar.
Ingat, bisnis itu benda mati. Visi yang membuatnya hidup. So, find your vision.
Praktek ya. Istilahnya, "Mulai dari yang kanan. Mulai dari visi." Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Beberapa hari yang lalu saya keliling Jatim. Mulai dari Batu, Malang, Kediri, Jombang, Mojokerto, Surabaya, sampai Pasuruan.
Menariknya, di Batu saya liburan bareng keluarga dan tim. Belasan orang. Di Kediri, bertemu Mas Andy Noya, seorang presenter yang kondang dengan acara Kick Andy. Di Mojokerto, bertemu Pak Bibit, seorang difabel yang keliling Indonesia dengan sepeda motor. Alhamdulillah, menyenangkan.
Keliling Indonesia, bahkan keliling dunia, insya Allah semua orang bisa.
Sebenarnya, ini nggak ada urusan sama uang. Cuma sayangnya, kebanyakan orang, ada uang dulu, baru yakin. Nggak ada uang, yah nggak yakin. Ini kan kebalik. Justru dengan yakin, suatu hari nanti, uang akan teradakan. Kanan!
Bayangkan, dulu dari Pekanbaru ke Batam saja, saya naik kapal. Ya, naik kapal. Seharian. Berangkat pagi, sampai maghrib. Keluarga saya tak punya cukup uang untuk naik pesawat.
Yang menyedihkan, pas ayah saya meninggal, saya tak sempat melihat. Pulang-pulang, saya cuma melihat kuburnya saja. Saat itu, saya kelamaan di jalan, berhubung cuma naik bis dan kapal. Tak mampu untuk naik pesawat. Meski begitu, saya punya impian: pengen keliling dunia.
Jujur saja, sewaktu remaja cita-cita saya berubah-ubah. Namanya juga remaja. Pengen jadi pelukis, arsitek, dan duta besar. Kok pengen jadi duta besar? Kenapa? Saat itu saya mikir, bisa jalan-jalan ke luar negeri, hehehe.
Kendati keadaan lagi sulit, jangan sampai itu menciutkan impian kita.
Apa yang ingin sampaikan di sini? Yakinlah. Bisa keliling Indonesia atau apapun itu. Setelah yakin, pantaskan diri. Insya Allah apa saja bisa jadi kenyataan ketika kita sudah pantas dan ketika sudah tiba waktunya. Sekali lagi, yakinlah.
Bukankah Allah itu Maha Besar?
Menariknya, di Batu saya liburan bareng keluarga dan tim. Belasan orang. Di Kediri, bertemu Mas Andy Noya, seorang presenter yang kondang dengan acara Kick Andy. Di Mojokerto, bertemu Pak Bibit, seorang difabel yang keliling Indonesia dengan sepeda motor. Alhamdulillah, menyenangkan.
Keliling Indonesia, bahkan keliling dunia, insya Allah semua orang bisa.
Sebenarnya, ini nggak ada urusan sama uang. Cuma sayangnya, kebanyakan orang, ada uang dulu, baru yakin. Nggak ada uang, yah nggak yakin. Ini kan kebalik. Justru dengan yakin, suatu hari nanti, uang akan teradakan. Kanan!
Bayangkan, dulu dari Pekanbaru ke Batam saja, saya naik kapal. Ya, naik kapal. Seharian. Berangkat pagi, sampai maghrib. Keluarga saya tak punya cukup uang untuk naik pesawat.
Yang menyedihkan, pas ayah saya meninggal, saya tak sempat melihat. Pulang-pulang, saya cuma melihat kuburnya saja. Saat itu, saya kelamaan di jalan, berhubung cuma naik bis dan kapal. Tak mampu untuk naik pesawat. Meski begitu, saya punya impian: pengen keliling dunia.
Jujur saja, sewaktu remaja cita-cita saya berubah-ubah. Namanya juga remaja. Pengen jadi pelukis, arsitek, dan duta besar. Kok pengen jadi duta besar? Kenapa? Saat itu saya mikir, bisa jalan-jalan ke luar negeri, hehehe.
Kendati keadaan lagi sulit, jangan sampai itu menciutkan impian kita.
Apa yang ingin sampaikan di sini? Yakinlah. Bisa keliling Indonesia atau apapun itu. Setelah yakin, pantaskan diri. Insya Allah apa saja bisa jadi kenyataan ketika kita sudah pantas dan ketika sudah tiba waktunya. Sekali lagi, yakinlah.
Bukankah Allah itu Maha Besar?
Amat penting untuk memahami margin. Terutama bagi entrepreneur.
Untuk mengurangi risiko rugi dan gagal, carilah produk yang tinggi marginnya.
Terlalu banyak berpikir dan menimbang-nimbang, tak akan membuat Anda maju. Yang ada malah jalan di tempat... Saatnya take action!
Bukan barang yang kurang laku.
Mungkin kita yang kurang gigih dan kurang ilmu.
Ingat itu!
Mungkin kita yang kurang gigih dan kurang ilmu.
Ingat itu!