PENENTRAM
Mau hidup bahagia dan terhindar dari berbagai macam penyakit? Salah satu resepnya adalah memiliki pasangan (suami atau istri) yang tidak menyebalkan. Dengan kata lain, memiliki pasangan yang menentramkan.
Penelitian terkait hal ini digelar oleh Dr Bill Chopik dari Michigan State University, terhadap 2.000 pasangan selama 6 tahun. Para responden diminta terus-menerus melaporkan mengenai kondisi kebahagiaan dan kesehatan mereka.
Sebelumnya, riset bertajuk Novel Links Between Troubled Marriages, yang dihelat oleh Lisa Jaremka juga mengungkapkan perihal yang serupa. Hidup bahagia dan sehat salah satunya disebabkan oleh pasangan yang menyenangkan. Anda boleh menyebutnya, menentramkan.
Kejadian ini mengingatkan kita pada penciptaan Adam pertama kali. Adam tercipta dari tanah dan belum memiliki pasangan (istri). Walaupun sejak awal penciptaan, Adam sudah ditempatkan di surga, ternyata Adam tidak mampu menikmati keindahan surga secara sempurna tanpa adanya seorang pendamping hidup.
Di sinilah hikmah besar di balik pernikahan. Apa itu? Demi menghadirkan "kedamaian" (sakinah) dalam kehidupan manusia. Allah menjadikan istri, sebagai sosok yang bisa menentramkan tatkala suami melihatnya. Sudah ribuan tahun, hal ini terbukti. Right?
Oleh karenanya, penciptaan Hawa bukan saja sebagai pendamping hidup Adam. Tapi yang lebih penting lagi adalah bahwa hanya dengan pernikahan atau dengan ditetapkannya "institusi nikah" manusia akan merasakan kedamaian hidup (sakinah) itu.
Di komunitas BP, kami menggalakkan konsep couple-preneur. Yang utama di sini bukan soal jualan. Tapi soal keselarasan. Insya Allah ini akan berujung pada ketentraman dan kebahagiaan.
Siapa sih yang nggak mau hidup yang bahagia dan sehat? Nah, salah satu yang bisa menyebabkan itu adalah hadirnya pasangan yang menentramkan. Ya, riset dan dalil telah membuktikan hal ini sejak lama. Anggap saja tulisan ini reminder buat kita semua.
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mau hidup bahagia dan terhindar dari berbagai macam penyakit? Salah satu resepnya adalah memiliki pasangan (suami atau istri) yang tidak menyebalkan. Dengan kata lain, memiliki pasangan yang menentramkan.
Penelitian terkait hal ini digelar oleh Dr Bill Chopik dari Michigan State University, terhadap 2.000 pasangan selama 6 tahun. Para responden diminta terus-menerus melaporkan mengenai kondisi kebahagiaan dan kesehatan mereka.
Sebelumnya, riset bertajuk Novel Links Between Troubled Marriages, yang dihelat oleh Lisa Jaremka juga mengungkapkan perihal yang serupa. Hidup bahagia dan sehat salah satunya disebabkan oleh pasangan yang menyenangkan. Anda boleh menyebutnya, menentramkan.
Kejadian ini mengingatkan kita pada penciptaan Adam pertama kali. Adam tercipta dari tanah dan belum memiliki pasangan (istri). Walaupun sejak awal penciptaan, Adam sudah ditempatkan di surga, ternyata Adam tidak mampu menikmati keindahan surga secara sempurna tanpa adanya seorang pendamping hidup.
Di sinilah hikmah besar di balik pernikahan. Apa itu? Demi menghadirkan "kedamaian" (sakinah) dalam kehidupan manusia. Allah menjadikan istri, sebagai sosok yang bisa menentramkan tatkala suami melihatnya. Sudah ribuan tahun, hal ini terbukti. Right?
Oleh karenanya, penciptaan Hawa bukan saja sebagai pendamping hidup Adam. Tapi yang lebih penting lagi adalah bahwa hanya dengan pernikahan atau dengan ditetapkannya "institusi nikah" manusia akan merasakan kedamaian hidup (sakinah) itu.
Di komunitas BP, kami menggalakkan konsep couple-preneur. Yang utama di sini bukan soal jualan. Tapi soal keselarasan. Insya Allah ini akan berujung pada ketentraman dan kebahagiaan.
Siapa sih yang nggak mau hidup yang bahagia dan sehat? Nah, salah satu yang bisa menyebabkan itu adalah hadirnya pasangan yang menentramkan. Ya, riset dan dalil telah membuktikan hal ini sejak lama. Anggap saja tulisan ini reminder buat kita semua.
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika Mitra Lepas...
.
.
.
Mitra mundur dan kabur dari kita?
.
Mitra kurang militan dan malas-malasan?
.
Ada baiknya kita introspeksi.
.
Mungkin kita:
- kurang pembinaan
- hanya peduli dengan transaksi
- tidak adil dan tidak wajar dalam bagi-bagi profit
- tidak sungguh-sungguh dalam mewujudkan impian tim
- tidak sungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah tim
Perhatikan baik-baik. Si mitra itu mungkin punya mitra lagi. Sebut saja, si A punya si B. Apakah kita sudah serius membina si B? Sudah sungguh-sungguh dalam mewujudkan impian si B? Sudah adil dalam bagi-bagi profit untuk B?
Jika belum, jangan heran kalau si A memutuskan mundur dan kabur dari kita.
Saran saya, jangan buru-buru menyalahkan orang lain atau keadaan. Bagaimanapun introspeksi dan berbenah itu lebih baik.
Ingat. Sekiranya kita memberikan value dan benefit jauh LEBIH BESAR daripada profit yang kita terima, kemungkinan besar mitra akan loyal dan militan sama kita. Begitulah hukum alamnya.
Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
.
.
.
Mitra mundur dan kabur dari kita?
.
Mitra kurang militan dan malas-malasan?
.
Ada baiknya kita introspeksi.
.
Mungkin kita:
- kurang pembinaan
- hanya peduli dengan transaksi
- tidak adil dan tidak wajar dalam bagi-bagi profit
- tidak sungguh-sungguh dalam mewujudkan impian tim
- tidak sungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah tim
Perhatikan baik-baik. Si mitra itu mungkin punya mitra lagi. Sebut saja, si A punya si B. Apakah kita sudah serius membina si B? Sudah sungguh-sungguh dalam mewujudkan impian si B? Sudah adil dalam bagi-bagi profit untuk B?
Jika belum, jangan heran kalau si A memutuskan mundur dan kabur dari kita.
Saran saya, jangan buru-buru menyalahkan orang lain atau keadaan. Bagaimanapun introspeksi dan berbenah itu lebih baik.
Ingat. Sekiranya kita memberikan value dan benefit jauh LEBIH BESAR daripada profit yang kita terima, kemungkinan besar mitra akan loyal dan militan sama kita. Begitulah hukum alamnya.
Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
BERBAGI, BUAT SIAPA?
Sedekah, berbagi, dan kedermawanan itu luas manfaatnya. Bahkan manfaat yang utama adalah buat diri kita.
Selama bertahun-tahun, alhamdulillah, bangsa Indonesia termasuk dalam 10 negara paling dermawan sedunia. Dan prestasi membanggakan ini semakin terlihat ketika terjadi bencana. Betul apa betul?
Ketika terjadi bencana, biasanya kita rame-rame bersedekah. Bahkan tanpa dikomando. Itu sih sudah bagus. Bagian dari empati dan solidaritas. Tapi, sekarang coba dibalik. Kita rame-rame bersedekah, selalu, maka mudah-mudahan kita terhindar dari #bencana.
Bukankah sedekah itu menolak bala?
Kalau secara pribadi kita rajin bersedekah, mudah-mudahan kita terhindar dari tabrakan, kerugian, atau sakit. Nah, kalau secara kolektif kita rajin bersedekah, tentunya manfaatnya akan lebih besar lagi. Bukan pada pribadi A atau B saja.
Yang saya yakini, sedekah itu luas manfaatnya.
Kata guru saya, "Saat kita berbagi (sedekah), terkesan orang lain yang dapat manfaat. Yang sebenarnya kita-lah yang dapat manfaat lebiiiiih besar. Rezeki, bertambah. Pahala, bertambah. Insya Allah."
Begitu pula dalam bisnis, terutama saat kita membina dan melayani mitra-mitra. Terkesan orang lain (mitra-mitra) yang dapat manfaat. Yang sebenarnya kita-lah yang dapat manfaat lebiiiiih besar. Bisnis, membesar. Profit, membesar. Insya Allah.
Karena itulah saya rutin memberikan pembinaan dan bimbingan pada mitra-mitra saya. Misalnya Senin dan Ahad kemarin. Saya berada di Jember dan Surabaya dalam rangka pembinaan.
So, jangan pernah lelah dalam memberi dan melayani. Luas sekali manfaatnya. Buat diri kita. Buat sesama. Siap? Praktek ya. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sedekah, berbagi, dan kedermawanan itu luas manfaatnya. Bahkan manfaat yang utama adalah buat diri kita.
Selama bertahun-tahun, alhamdulillah, bangsa Indonesia termasuk dalam 10 negara paling dermawan sedunia. Dan prestasi membanggakan ini semakin terlihat ketika terjadi bencana. Betul apa betul?
Ketika terjadi bencana, biasanya kita rame-rame bersedekah. Bahkan tanpa dikomando. Itu sih sudah bagus. Bagian dari empati dan solidaritas. Tapi, sekarang coba dibalik. Kita rame-rame bersedekah, selalu, maka mudah-mudahan kita terhindar dari #bencana.
Bukankah sedekah itu menolak bala?
Kalau secara pribadi kita rajin bersedekah, mudah-mudahan kita terhindar dari tabrakan, kerugian, atau sakit. Nah, kalau secara kolektif kita rajin bersedekah, tentunya manfaatnya akan lebih besar lagi. Bukan pada pribadi A atau B saja.
Yang saya yakini, sedekah itu luas manfaatnya.
Kata guru saya, "Saat kita berbagi (sedekah), terkesan orang lain yang dapat manfaat. Yang sebenarnya kita-lah yang dapat manfaat lebiiiiih besar. Rezeki, bertambah. Pahala, bertambah. Insya Allah."
Begitu pula dalam bisnis, terutama saat kita membina dan melayani mitra-mitra. Terkesan orang lain (mitra-mitra) yang dapat manfaat. Yang sebenarnya kita-lah yang dapat manfaat lebiiiiih besar. Bisnis, membesar. Profit, membesar. Insya Allah.
Karena itulah saya rutin memberikan pembinaan dan bimbingan pada mitra-mitra saya. Misalnya Senin dan Ahad kemarin. Saya berada di Jember dan Surabaya dalam rangka pembinaan.
So, jangan pernah lelah dalam memberi dan melayani. Luas sekali manfaatnya. Buat diri kita. Buat sesama. Siap? Praktek ya. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yakin itu Harus
Menariknya, keyakinan itu menular. Karena itulah, ada baiknya kita sering-sering bergaul dengan para mentor, orang-orang yang duluan sukses, dan orang-orang yang berpikir positif.
Keragu-raguan, sekecil apapun, harus dihindari.
Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat.
Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.
Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha.
Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha TAPI ragu-ragu. Ingat, ragu-ragu artinya yakin untuk gagal.
Satu lagi. Keyakinan jangan pernah disandarkan pada uang.
- Ada uang, yakin.
- Nggak ada uang, tetap #yakin.
- Sudah closing, yakin.
- Belum closing, tetap yakin.
- Selagi bersama Allah, kita harus yakin.
Apalagi di komunitas bisnis seperti BP, kita dibersamai para mentor, orang-orang yang duluan sukses, dan orang-orang yang berpikir positif. Harusnya tambah yakin dong!
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share tulisan ini ya. Semoga berkah berlimpah.
Menariknya, keyakinan itu menular. Karena itulah, ada baiknya kita sering-sering bergaul dengan para mentor, orang-orang yang duluan sukses, dan orang-orang yang berpikir positif.
Keragu-raguan, sekecil apapun, harus dihindari.
Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat.
Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.
Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha.
Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha TAPI ragu-ragu. Ingat, ragu-ragu artinya yakin untuk gagal.
Satu lagi. Keyakinan jangan pernah disandarkan pada uang.
- Ada uang, yakin.
- Nggak ada uang, tetap #yakin.
- Sudah closing, yakin.
- Belum closing, tetap yakin.
- Selagi bersama Allah, kita harus yakin.
Apalagi di komunitas bisnis seperti BP, kita dibersamai para mentor, orang-orang yang duluan sukses, dan orang-orang yang berpikir positif. Harusnya tambah yakin dong!
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share tulisan ini ya. Semoga berkah berlimpah.
Apa sih salah ayam?
Tulisan nggak rapi, disebut cakar ayam.
Tidur nggak nyenyak, disebut tidur ayam.
Semangat turun, hangat-hangat tahi ayam.
Ya, ayam yang selalu disalahin, hehehe. 😁
Masih soal ayam nih. Capek-capek hamil (baca: bunting), capek-capek bertelur. Terus telurnya diambil dan dimasak. Adakah sedikit apresiasi pada ayam? Nggak ada. Jerih-payah itu dinamai telur mata sapi, hehehe. Ayam yang pasang badan, eh sapi yang dapat nama.
Sebenarnya, tak mengapa. Serius. Kalau kita bisa bersikap seperti itu, tidak mempermasalahkan, maka inilah yang disebut 'belajar untuk ikhlas'. Atau 'latihan untuk ikhlas'. Semacam pahlawan. Siap berjuang dan berkorban, namun kadang-kadang tak mendapat apresiasi. Bukan kadang-kadang. Sering malah.
Btw, tulisan ini saya ketik untuk menyemangati para pejuang keluarga (family fighter) di komunitas BP dan siapa saja. Saat kita membina tim, belum tentu kemudian tim akan ingat dengan kebaikan kita. Belum tentu. Yah nggak apa-apa tho? Hitung-hitung latihan jadi orang yang ikhlas.
Pesan guru saya, "Jangan pernah berharap pujian. Jangan pernah berharap apresiasi. Capek."
Lakukan saja yang terbaik untuk tim kita. 😎
Toh kita tahu bahwa Allah Maha Mencatat dan Maha Membalas. Tidak cukupkah balasan dari Tuhan-mu? Umar RA justru merasa risih dan khawatir dengan segala macam pujian, karena bisa melalaikan. Tak ada salahnya kita coba belajar seperti itu. Risih dengan pujian. Siap praktek?
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. 😀
Tulisan nggak rapi, disebut cakar ayam.
Tidur nggak nyenyak, disebut tidur ayam.
Semangat turun, hangat-hangat tahi ayam.
Ya, ayam yang selalu disalahin, hehehe. 😁
Masih soal ayam nih. Capek-capek hamil (baca: bunting), capek-capek bertelur. Terus telurnya diambil dan dimasak. Adakah sedikit apresiasi pada ayam? Nggak ada. Jerih-payah itu dinamai telur mata sapi, hehehe. Ayam yang pasang badan, eh sapi yang dapat nama.
Sebenarnya, tak mengapa. Serius. Kalau kita bisa bersikap seperti itu, tidak mempermasalahkan, maka inilah yang disebut 'belajar untuk ikhlas'. Atau 'latihan untuk ikhlas'. Semacam pahlawan. Siap berjuang dan berkorban, namun kadang-kadang tak mendapat apresiasi. Bukan kadang-kadang. Sering malah.
Btw, tulisan ini saya ketik untuk menyemangati para pejuang keluarga (family fighter) di komunitas BP dan siapa saja. Saat kita membina tim, belum tentu kemudian tim akan ingat dengan kebaikan kita. Belum tentu. Yah nggak apa-apa tho? Hitung-hitung latihan jadi orang yang ikhlas.
Pesan guru saya, "Jangan pernah berharap pujian. Jangan pernah berharap apresiasi. Capek."
Lakukan saja yang terbaik untuk tim kita. 😎
Toh kita tahu bahwa Allah Maha Mencatat dan Maha Membalas. Tidak cukupkah balasan dari Tuhan-mu? Umar RA justru merasa risih dan khawatir dengan segala macam pujian, karena bisa melalaikan. Tak ada salahnya kita coba belajar seperti itu. Risih dengan pujian. Siap praktek?
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. 😀
Rabu pagi, insya Allah puluhan mitra saya berangkat ke Turki. Sebagian lagi berangkat umrah. Alhamdulillah. Saya senang sekali. Kenapa? Karena memang itulah impian mereka.
Setahun terakhir, mulai 2019, impian dan ambisi saya berkurang drastis. YANG SERING TERLINTAS di kepala saya adalah bagaimana caranya mewujudkan impian tim.
Seorang guru berpesan, "Perbesar impian kita. Masukkan impian orang lain dalam impian kita."
Guru yang lain berpesan, "Di kehidupan ini, ada baiknya kita berusaha untuk mewujudkan impian orang lain." Menariknya, saat kita berusaha memikirkan dan mewujudkan impian orang lain, maka impian kita lebih mudah untuk terwujud.
Dan inilah salah satu poin yang sering saya bahas di pembinaan:
- Ingin maju? Majukan orang lain.
- Ingin kaya? Kayakan orang lain.
- Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
- Ingin mulia? Muliakan orang lain.
- Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
- Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.
Bukan sekedar sukses. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut sukses. Bukan sekedar kaya. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut kaya. Kurang-lebih begitu.
Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali disentuh dan diingatkan bahwa:
- Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
- Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
- Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
- Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
- Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
- Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.
Inilah yang terjadi dan selalu terjadi. Saya yakin, teman-teman setuju dan sedikit-banyak pernah mengalami.
Seorang guru suatu ketika berpesan, "Pikirkan perut dan dapur orang lain. Jangan egois. Setiap kali kita memikirkan dan mengurus kepentingan orang lain, percayalah, kepentingan kita akan diurus sama Allah." Semakin hari, saya pun semakin yakin dengan kalimat tersebut.
Bagaimana dengan teman-teman?
Saya pribadi tengah bekerja keras membersamai mitra-mitra saya. Kenapa sampai bekerja keras? Karena impian mereka yang berikutnya, setelah berumrah, adalah memiliki sebuah rumah. Tahu sendiri kan, harga sebuah rumah bisa 10 kali atau 20 kali biaya berumrah.
Pada akhirnya saya berharap, setelah membaca tulisan ini, teman-teman semua tambah semangat dalam mewujudkan impian orang lain, terutama impian mitra-mitra dan orang-orang terdekatnya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Setahun terakhir, mulai 2019, impian dan ambisi saya berkurang drastis. YANG SERING TERLINTAS di kepala saya adalah bagaimana caranya mewujudkan impian tim.
Seorang guru berpesan, "Perbesar impian kita. Masukkan impian orang lain dalam impian kita."
Guru yang lain berpesan, "Di kehidupan ini, ada baiknya kita berusaha untuk mewujudkan impian orang lain." Menariknya, saat kita berusaha memikirkan dan mewujudkan impian orang lain, maka impian kita lebih mudah untuk terwujud.
Dan inilah salah satu poin yang sering saya bahas di pembinaan:
- Ingin maju? Majukan orang lain.
- Ingin kaya? Kayakan orang lain.
- Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
- Ingin mulia? Muliakan orang lain.
- Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
- Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.
Bukan sekedar sukses. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut sukses. Bukan sekedar kaya. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut kaya. Kurang-lebih begitu.
Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali disentuh dan diingatkan bahwa:
- Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
- Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
- Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
- Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
- Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
- Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.
Inilah yang terjadi dan selalu terjadi. Saya yakin, teman-teman setuju dan sedikit-banyak pernah mengalami.
Seorang guru suatu ketika berpesan, "Pikirkan perut dan dapur orang lain. Jangan egois. Setiap kali kita memikirkan dan mengurus kepentingan orang lain, percayalah, kepentingan kita akan diurus sama Allah." Semakin hari, saya pun semakin yakin dengan kalimat tersebut.
Bagaimana dengan teman-teman?
Saya pribadi tengah bekerja keras membersamai mitra-mitra saya. Kenapa sampai bekerja keras? Karena impian mereka yang berikutnya, setelah berumrah, adalah memiliki sebuah rumah. Tahu sendiri kan, harga sebuah rumah bisa 10 kali atau 20 kali biaya berumrah.
Pada akhirnya saya berharap, setelah membaca tulisan ini, teman-teman semua tambah semangat dalam mewujudkan impian orang lain, terutama impian mitra-mitra dan orang-orang terdekatnya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Virus Corona & Penangkalnya
Ketika Kerajaan Saudi menutup sementara kesempatan orang luar untuk berumrah, saya dan mitra-mitra saya termasuk orang-orang yang terdampak. Kami tertahan sekian hari di Turki dan akhirnya kembali ke Tanah Air. Ya, kami tidak jadi berumrah.
Penyebabnya apa lagi kalau bukan mengantisipasi penyebaran virus corona. Bagaimanapun kami tetap bersyukur dan berpikir positif, walaupun umrah kami ditangguhkan. Begitu tiba di Tanah Air, saya pun coba mencari informasi lebih lanjut terkait virus corona dan penangkalnya.
Sejauh ini, saya menemukan sejumlah data yang menarik.
Ternyata senyawa propolis berpotensi menjadi alternatif obat terhadap virus corona (diberitakan di Kompas, Tempo, dan RRI pada Maret 2020).
Rupanya propolis itu bersifat antioksidan, antikanker, antijamur, anti-inflamasi, antibiotik, antiseptik, antinyeri, dan antialergi, sehingga dapat menangkal penyakit-penyakit akibat virus, termasuk virus corona (Tempo, Februari 2020).
Propolis dapat mencegah dan menyembuhkan kanker (Kompas TV, Februari 2020)
Propolis dapat meningkatkan kekebalan tubuh, menangkal virus, dan mengatasi kanker (Harapan Rakyat, Desember 2019).
Propolis berpotensi menyembuhkan HIV/AIDS (Liputan 6, Mei 2013).
Masih soal virus corona. Berikut ini adalah tips-tipsnya:
- cucilah tangan lebih intens
- jangan menyentuh wajah jika tangan tidak bersih
- hindari keramaian, kurangi bersalaman
- rutinkan minum propolis yang sarat flavonoid
Seperti yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, dr Terawan, masker bukanlah hal utama dalam rangka mencegah virus corona. Kata kunci yang beliau serukan adalah imunitas, yang mana ini sangat terbantu apabila kita rutin meminum propolis. Apapun mereknya.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat.
Ketika Kerajaan Saudi menutup sementara kesempatan orang luar untuk berumrah, saya dan mitra-mitra saya termasuk orang-orang yang terdampak. Kami tertahan sekian hari di Turki dan akhirnya kembali ke Tanah Air. Ya, kami tidak jadi berumrah.
Penyebabnya apa lagi kalau bukan mengantisipasi penyebaran virus corona. Bagaimanapun kami tetap bersyukur dan berpikir positif, walaupun umrah kami ditangguhkan. Begitu tiba di Tanah Air, saya pun coba mencari informasi lebih lanjut terkait virus corona dan penangkalnya.
Sejauh ini, saya menemukan sejumlah data yang menarik.
Ternyata senyawa propolis berpotensi menjadi alternatif obat terhadap virus corona (diberitakan di Kompas, Tempo, dan RRI pada Maret 2020).
Rupanya propolis itu bersifat antioksidan, antikanker, antijamur, anti-inflamasi, antibiotik, antiseptik, antinyeri, dan antialergi, sehingga dapat menangkal penyakit-penyakit akibat virus, termasuk virus corona (Tempo, Februari 2020).
Propolis dapat mencegah dan menyembuhkan kanker (Kompas TV, Februari 2020)
Propolis dapat meningkatkan kekebalan tubuh, menangkal virus, dan mengatasi kanker (Harapan Rakyat, Desember 2019).
Propolis berpotensi menyembuhkan HIV/AIDS (Liputan 6, Mei 2013).
Masih soal virus corona. Berikut ini adalah tips-tipsnya:
- cucilah tangan lebih intens
- jangan menyentuh wajah jika tangan tidak bersih
- hindari keramaian, kurangi bersalaman
- rutinkan minum propolis yang sarat flavonoid
Seperti yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, dr Terawan, masker bukanlah hal utama dalam rangka mencegah virus corona. Kata kunci yang beliau serukan adalah imunitas, yang mana ini sangat terbantu apabila kita rutin meminum propolis. Apapun mereknya.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat.
*MENGUNDANG PERTOLONGAN ALLAH*
Hari Jumat telah tiba. Kali ini kita akan membahas tentang sholat.
Kalau agama itu diumpamakan bangunan, maka fondasinya adalah syahadat dan tiang-tiangnya adalah sholat. Perlu juga dicatat, salah satu makna mendirikan sholat adalah menegakkan nilai-nilai sholat di luar sholat, seperti disiplin (Indibath), konsisten (Istiqomah), dan merasa diawasi oleh Allah (Ihsan). Inilah PR besar bagi kita semua, karena masih banyak muslim yang mengerjakan sholat, belum mendirikan sholat.
Menariknya, mereka yang rutin sholat lebih mudah mengundang pertolongan Allah, daripada mereka yang tidak rutin. Dengan syarat, mereka menjaga diri dan menjauhkan diri dari dosa besar. Yah, mungkin saja masalah datang silih-berganti, namun mereka yang rutin sholat, didekatkan Allah dengan pertolongan. Begitu ‘dipancing’ sedikit saja, dengan amal dan ikhtiar, maka pertolongan itu pun bergegas menghampiri. Inilah salah satu fadilah dan manfaat sholat yang jarang orang sadari. Kitab suci pun menegaskan hanya sabar dan sholat sebagai penolong.
3S
Sabar + Sholat = Solusi
Menariknya lagi, sholat juga menjadi salah satu syarat agar perniagaan tidak merugi. Saya ulang, tidak merugi. Hm, Anda-Anda yang pengusaha mungkin protes, “Saya sholat. Tapi kok nyatanya masih rugi?” Betul, tapi Allah siapkan juga gantinya, entah pada perniagaan itu maupun pada perihal yang lain. Kalau dihitung-hitung, yah tetap untung.
Sholat juga menyehatkan. Sudah teramat banyak penelitian yang membuktikan hal ini. Lebih jauh lagi, sholat juga indikator kesehatan dan kenormalan seseorang. Soalnya, sholat itu fitrahnya manusia. Jika seseorang sudah tidak mampu melakukan gerakan-gerakan sholat secara sempurna, itu adalah indikasi. Kemungkinan besar, ada yang kurang beres pada tubuhnya. Nah lho!
Pada akhirnya, mari kita jaga sholat kita. Siap?
Hari Jumat telah tiba. Kali ini kita akan membahas tentang sholat.
Kalau agama itu diumpamakan bangunan, maka fondasinya adalah syahadat dan tiang-tiangnya adalah sholat. Perlu juga dicatat, salah satu makna mendirikan sholat adalah menegakkan nilai-nilai sholat di luar sholat, seperti disiplin (Indibath), konsisten (Istiqomah), dan merasa diawasi oleh Allah (Ihsan). Inilah PR besar bagi kita semua, karena masih banyak muslim yang mengerjakan sholat, belum mendirikan sholat.
Menariknya, mereka yang rutin sholat lebih mudah mengundang pertolongan Allah, daripada mereka yang tidak rutin. Dengan syarat, mereka menjaga diri dan menjauhkan diri dari dosa besar. Yah, mungkin saja masalah datang silih-berganti, namun mereka yang rutin sholat, didekatkan Allah dengan pertolongan. Begitu ‘dipancing’ sedikit saja, dengan amal dan ikhtiar, maka pertolongan itu pun bergegas menghampiri. Inilah salah satu fadilah dan manfaat sholat yang jarang orang sadari. Kitab suci pun menegaskan hanya sabar dan sholat sebagai penolong.
3S
Sabar + Sholat = Solusi
Menariknya lagi, sholat juga menjadi salah satu syarat agar perniagaan tidak merugi. Saya ulang, tidak merugi. Hm, Anda-Anda yang pengusaha mungkin protes, “Saya sholat. Tapi kok nyatanya masih rugi?” Betul, tapi Allah siapkan juga gantinya, entah pada perniagaan itu maupun pada perihal yang lain. Kalau dihitung-hitung, yah tetap untung.
Sholat juga menyehatkan. Sudah teramat banyak penelitian yang membuktikan hal ini. Lebih jauh lagi, sholat juga indikator kesehatan dan kenormalan seseorang. Soalnya, sholat itu fitrahnya manusia. Jika seseorang sudah tidak mampu melakukan gerakan-gerakan sholat secara sempurna, itu adalah indikasi. Kemungkinan besar, ada yang kurang beres pada tubuhnya. Nah lho!
Pada akhirnya, mari kita jaga sholat kita. Siap?
MENTAL PEMENANG
Entrepreneur pastilah seorang pemenang. Maksudnya, bermental pemenang.
Tidak risih dengan penolakan.
Tidak takut dengan kerugian.
Tidak kapok dengan kegagalan.
Sejatinya, bagi mereka yang bermental pemenang, kegagalan dan tekanan adalah 'ruang belajar'. Yah, bukan berarti mereka pengen gagal. Nggak dong. Namun mereka berusaha memetik ilmu dan hikmah di balik kegagalan.
Dan, ada satu hal yang perlu kita catat benar-benar. Doa yang belum dikabulkan dan impian yang belum terwujudkan, menyimpan hikmah. Di antaranya, membuat kita lebih tangguh dan lebih sabar, juga lebih giat dalam beramal dan berikhtiar.
Betul apa betul?
Sejujurnya, menurut saya, gagal itu biasa. Sukses juga biasa. Nggak usah lebay. Tak perlu didramatisir. Lagi pula, kalau sedang gagal, jangan disebut-sebut. Ntar malah jadi doa. Makin gagal.
Orang lain pun muak dan mual mendengarnya. Mestinya harapkan yang baik-baik, ucapkan yang baik-baik, lakukan yang baik-baik. Mudah-mudahan hasilnya membaik. Insya Allah.
Dan sebagus-bagusnya rencana kita, belum tentu sesuai dengan rencana Allah. Perlu sabar, baik sangka, dan tawakal. Minimal, kita dicatat Allah sebagai hamba yang bersabar, berbaiksangka, dan ridha dengan ketetapan-Nya.
Awal Maret ini, saya dan 100-an mitra tidak jadi berumrah. Gagal berumrah. Kami ketahan di Turki. Kecewa, iya. Sedih, iya. Tapi kami berusaha untuk berbaiksangka. Toh cuma ditunda, bukan dibatalkan. Alhamdulillah kami pun berkesempatan untuk menjelajahi dan menikmati Turki.
Sekali lagi, jangan lebay dengan kegagalan. Biasa saja. Tak perlu didramatisir. Alih-alih begitu, anggaplah kegagalan sebagai 'ruang untuk belajar'. Siap? Nggak ada pilihan lain, setiap kita harus siap. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Entrepreneur pastilah seorang pemenang. Maksudnya, bermental pemenang.
Tidak risih dengan penolakan.
Tidak takut dengan kerugian.
Tidak kapok dengan kegagalan.
Sejatinya, bagi mereka yang bermental pemenang, kegagalan dan tekanan adalah 'ruang belajar'. Yah, bukan berarti mereka pengen gagal. Nggak dong. Namun mereka berusaha memetik ilmu dan hikmah di balik kegagalan.
Dan, ada satu hal yang perlu kita catat benar-benar. Doa yang belum dikabulkan dan impian yang belum terwujudkan, menyimpan hikmah. Di antaranya, membuat kita lebih tangguh dan lebih sabar, juga lebih giat dalam beramal dan berikhtiar.
Betul apa betul?
Sejujurnya, menurut saya, gagal itu biasa. Sukses juga biasa. Nggak usah lebay. Tak perlu didramatisir. Lagi pula, kalau sedang gagal, jangan disebut-sebut. Ntar malah jadi doa. Makin gagal.
Orang lain pun muak dan mual mendengarnya. Mestinya harapkan yang baik-baik, ucapkan yang baik-baik, lakukan yang baik-baik. Mudah-mudahan hasilnya membaik. Insya Allah.
Dan sebagus-bagusnya rencana kita, belum tentu sesuai dengan rencana Allah. Perlu sabar, baik sangka, dan tawakal. Minimal, kita dicatat Allah sebagai hamba yang bersabar, berbaiksangka, dan ridha dengan ketetapan-Nya.
Awal Maret ini, saya dan 100-an mitra tidak jadi berumrah. Gagal berumrah. Kami ketahan di Turki. Kecewa, iya. Sedih, iya. Tapi kami berusaha untuk berbaiksangka. Toh cuma ditunda, bukan dibatalkan. Alhamdulillah kami pun berkesempatan untuk menjelajahi dan menikmati Turki.
Sekali lagi, jangan lebay dengan kegagalan. Biasa saja. Tak perlu didramatisir. Alih-alih begitu, anggaplah kegagalan sebagai 'ruang untuk belajar'. Siap? Nggak ada pilihan lain, setiap kita harus siap. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
300 Orang Mati Sehari di Indonesia Karena Penyakit Ini
Mana yang lebih mengerikan di pikiran kita? Kata Corona, TBC, DBD, atau asma? Sebelum Anda menjawab, "Corona!" ada baiknya Anda simak dulu data-data berikut ini. Tenang-tenang.
Berdasarkan data WHO, Indonesia adalah negara dengan jumlah penderita TBC tertinggi di dunia, setelah India dan China. Dengan total kasus kematian 300 orang per hari. Ya, 300 orang per hari. Bahkan setiap tahunnya ada 1 juta kasus baru TBC di Indonesia.
Itu TBC. Bagaimana dengan DBD? Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, di Indonesia jumlah penderita DBD di atas 13.000 orang dalam sebulan. Dengan angka kematian akibat DBD mencapai 130 orang dalam sebulan.
Kalau asma? Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), pengidap asma di Indonesia di atas 1 juta orang. Boleh dibilang, 1 dari 22 orang di Indonesia menderita asma. Tapi hanya 54% yang terdiagnosis. Berdasarkan data WHO, angka kematian akibat asma di Indonesia mencapai 1,77% dari total jumlah kematian penduduk.
Bagaimana dengan virus Corona? Jawablah dengan jujur dan jernih. Ternyata angka-angka terkait TBC, DBD, atau asma jauuuuuh lebih mengerikan. Tepatnya, lebih mematikan.
Saya memunculkan data-data ini bukan untuk meremehkan ancaman #VirusCorona. Sama sekali bukan. Di sini saya semata-mata ingin mengajak kita semua untuk berpikir lebih rasional dan lebih proporsional. Itu saja.
Kehati-hatian kita terhadap virus dan penyakit, haruslah bersifat menyeluruh. Tidak boleh tebang pilih. Khusus terhadap Corona, menurut saya, dua kata kuncinya adalah kebersihan tangan dan imunitas tubuh. Drh Indro Cahyono, seorang virologist (ahli virus) menyarankan konsumsi vitamin E dan C terkait imunitas.
Lantas, bagaimana dengan propolis? Propolis sebenarnya mengandung dua vitamin ini, E dan C, juga zat-zat baik lainnya. Tidak heran menurut pemberitaan Detik, Tempo, Kompas, dan Indosiar awal Maret 2020, disampaikan bahwa propolis sangat berpotensi untuk mencegah virus Corona. Propolis juga dikenal sebagai antibiotik alami, bahkan salah satu terkuat di muka bumi.
Saya pribadi hanya ingin menegaskan kembali dua kata kunci tadi, yaitu kebersihan tangan dan imunitas tubuh. Doa? Tentu. Menyertakan ikhtiar sekaligus doa memang fitrah kita sebagai hamba Allah. Itu saja. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga kita dan keluarga kita selalu sehat, di bawah lindungan Allah. Aamin.
Mana yang lebih mengerikan di pikiran kita? Kata Corona, TBC, DBD, atau asma? Sebelum Anda menjawab, "Corona!" ada baiknya Anda simak dulu data-data berikut ini. Tenang-tenang.
Berdasarkan data WHO, Indonesia adalah negara dengan jumlah penderita TBC tertinggi di dunia, setelah India dan China. Dengan total kasus kematian 300 orang per hari. Ya, 300 orang per hari. Bahkan setiap tahunnya ada 1 juta kasus baru TBC di Indonesia.
Itu TBC. Bagaimana dengan DBD? Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, di Indonesia jumlah penderita DBD di atas 13.000 orang dalam sebulan. Dengan angka kematian akibat DBD mencapai 130 orang dalam sebulan.
Kalau asma? Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), pengidap asma di Indonesia di atas 1 juta orang. Boleh dibilang, 1 dari 22 orang di Indonesia menderita asma. Tapi hanya 54% yang terdiagnosis. Berdasarkan data WHO, angka kematian akibat asma di Indonesia mencapai 1,77% dari total jumlah kematian penduduk.
Bagaimana dengan virus Corona? Jawablah dengan jujur dan jernih. Ternyata angka-angka terkait TBC, DBD, atau asma jauuuuuh lebih mengerikan. Tepatnya, lebih mematikan.
Saya memunculkan data-data ini bukan untuk meremehkan ancaman #VirusCorona. Sama sekali bukan. Di sini saya semata-mata ingin mengajak kita semua untuk berpikir lebih rasional dan lebih proporsional. Itu saja.
Kehati-hatian kita terhadap virus dan penyakit, haruslah bersifat menyeluruh. Tidak boleh tebang pilih. Khusus terhadap Corona, menurut saya, dua kata kuncinya adalah kebersihan tangan dan imunitas tubuh. Drh Indro Cahyono, seorang virologist (ahli virus) menyarankan konsumsi vitamin E dan C terkait imunitas.
Lantas, bagaimana dengan propolis? Propolis sebenarnya mengandung dua vitamin ini, E dan C, juga zat-zat baik lainnya. Tidak heran menurut pemberitaan Detik, Tempo, Kompas, dan Indosiar awal Maret 2020, disampaikan bahwa propolis sangat berpotensi untuk mencegah virus Corona. Propolis juga dikenal sebagai antibiotik alami, bahkan salah satu terkuat di muka bumi.
Saya pribadi hanya ingin menegaskan kembali dua kata kunci tadi, yaitu kebersihan tangan dan imunitas tubuh. Doa? Tentu. Menyertakan ikhtiar sekaligus doa memang fitrah kita sebagai hamba Allah. Itu saja. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga kita dan keluarga kita selalu sehat, di bawah lindungan Allah. Aamin.
Belum Lockdown, TAPI Social Distance
Work from home? Social distance? Saat ini, keadaan mungkin memaksa sebagian kita untuk bekerja dari rumah. Sebenarnya, sekian tahun terakhir saya sudah berkali-kali menggaungkan konsep 'dari rumah hasilkan rupiah' dan konsep 'couple-preneur'...
Begini. Saya pribadi sudah memberikan konsultasi bisnis selama belasan tahun. Di 30-an provinsi. Di belasan negara. Insya Allah saya tahu persis bagaimana beratnya seorang pemula kalau awal-awal harus membayar sewa toko, gaji karyawan, listrik-air, dan bahan baku. Ya, sangat berat...
Karena itulah, saya mengajak pemula untuk TIDAK menyewa toko dan mengambil karyawan. Saya pun menganjurkan mereka untuk memilih produk yang relatif tahan lama (nggak mudah basi, nggak mudah out of date, dst)...
Setahun terakhir, alhamdulillah, dengan izin Allah saya sudah menghadirkan 100-an mitra yang benar-benar 'dari rumah hasilkan rupiah' dan benar-benar 'couple-preneur'. Ketika yang lain nyari uang dengan pontang-panting, mitra-mitra saya cukup dengan postang-posting, hehehe...
Begitulah. Ternyata bisnis TIDAK serumit yang kita bayangkan. Go online, bisa. Pakai WA, bisa. Via JNE, bisa. Via Tiki, bisa. Menghasilkan kok. Terbukti sebagian hasil dari bisnis bisa mereka gunakan untuk lunas utang, berangkat umrah, dan jalan-jalan ke LN, alhamdulillah...
Lebih lanjut, teman-teman yang mau bermitra dengan saya dan full bimbingan, silakan WA ke 0811-1360-177. Mutu produk sudah terbukti insya Allah. Terus, hemat space ketika disimpan dan hemat ongkir ketika dikirim...
Kalaupun teman-teman belum mau bermitra dengan saya, yah nggak apa-apa. Tapi tips-tips di atas, tolong diperhatikan. Insya Allah itu semua dapat menekan risiko kegagalan sedemikian rupa. Saya doakan, semoga usahanya lancar. Aamiin...
Work from home? Social distance? Saat ini, keadaan mungkin memaksa sebagian kita untuk bekerja dari rumah. Sebenarnya, sekian tahun terakhir saya sudah berkali-kali menggaungkan konsep 'dari rumah hasilkan rupiah' dan konsep 'couple-preneur'...
Begini. Saya pribadi sudah memberikan konsultasi bisnis selama belasan tahun. Di 30-an provinsi. Di belasan negara. Insya Allah saya tahu persis bagaimana beratnya seorang pemula kalau awal-awal harus membayar sewa toko, gaji karyawan, listrik-air, dan bahan baku. Ya, sangat berat...
Karena itulah, saya mengajak pemula untuk TIDAK menyewa toko dan mengambil karyawan. Saya pun menganjurkan mereka untuk memilih produk yang relatif tahan lama (nggak mudah basi, nggak mudah out of date, dst)...
Setahun terakhir, alhamdulillah, dengan izin Allah saya sudah menghadirkan 100-an mitra yang benar-benar 'dari rumah hasilkan rupiah' dan benar-benar 'couple-preneur'. Ketika yang lain nyari uang dengan pontang-panting, mitra-mitra saya cukup dengan postang-posting, hehehe...
Begitulah. Ternyata bisnis TIDAK serumit yang kita bayangkan. Go online, bisa. Pakai WA, bisa. Via JNE, bisa. Via Tiki, bisa. Menghasilkan kok. Terbukti sebagian hasil dari bisnis bisa mereka gunakan untuk lunas utang, berangkat umrah, dan jalan-jalan ke LN, alhamdulillah...
Lebih lanjut, teman-teman yang mau bermitra dengan saya dan full bimbingan, silakan WA ke 0811-1360-177. Mutu produk sudah terbukti insya Allah. Terus, hemat space ketika disimpan dan hemat ongkir ketika dikirim...
Kalaupun teman-teman belum mau bermitra dengan saya, yah nggak apa-apa. Tapi tips-tips di atas, tolong diperhatikan. Insya Allah itu semua dapat menekan risiko kegagalan sedemikian rupa. Saya doakan, semoga usahanya lancar. Aamiin...
Lockdown atau Tes Massal?
"Lockdown dong, kayak China!"
"Tes massal dong, kayak Korea!"
Itulah seruan netizen kita. Tapi, yang jelas, pemerintah saat ini memilih kebijakan social distance dan work from home.
Begitulah. Sebagian besar kita sekarang bekerja dari rumah. Termasuk entrepreneur, berbisnis dari rumah. Salah satu hikmahnya, mau nggak mau kita dilatih untuk lebih terampil lagi menggunakan WA, IG, dan FB. Juga marketplace.
Relatif aman kalau bisnisnya bersifat barang, bukan jasa. Dan relatif lancar kalau bisnisnya bersifat online, tidak melibatkan ruko atau toko. Sampai sekarang saya turut berempati pada teman-teman entrepreneur yang bisnisnya bersifat jasa dan mengandalkan ruko. Mereka sangat terdampak.
Belakangan ini banyak yang bertanya ke saya soal kebijakan lockdown dan social distance. Karena ini jelas-jelas berimbas pada bisnis. Besar imbasnya. Lantas, apa jawaban saya? Izinkan saya menyampaikan hadis dan kisah sahabat. Boleh ya?
Rasulullah pernah bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempatmu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu.” Mungkin ini semacam lockdown.
Peristiwa lain. Ketika terjadi wabah penyakit yang mematikan, Amru bin Ash (sahabat Nabi) pernah melarang masyarakat untuk ngumpul-ngumpul. Mereka diminta berpencar. Sebagian ke gunung, sebagian ke lembah, dan lain-lain. Mungkin ini semacam social distance.
Indonesia saat ini memilih kebijakan social distance saja. Tidak lockdown seperti China dan Eropa. Tidak juga tes massal seperti Korsel. Tentu, banyak yang mempertanyakan efektif atau tidaknya kebijakan social distance ini. Mengingat perilaku orang Indonesia yang tidak terlalu patuh.
Begini. Saya tidak mau membahas ini lebih lanjut. Bukan apa-apa. Saya nggak memiliki kompetensi di situ. Biarlah itu menjadi ranahnya pemerintah dan ulama. Insya Allah saya berusaha mengikuti dan mentaati apa yang ditetapkan oleh pemerintah dan ulama.
Go online sepertinya menjadi pilihan yang tepat saat ini. Bukan asal online, tentu saja. Pahamilah, go online juga mengharuskan kita untuk lebih cekatan menggunakan WA, IG, FB, dan marketplace. Ini ada ilmunya. Terus, ujung-ujungnya barang dikirim melalui JNE, TIKI, dan sejenisnya.
Saya dan mitra-mitra sudah melakukan ini sejak lama. Dari rumah, cetak rupiah. Alhamdulillah. Kami pun memilih barang yang tidak menyita space ketika disimpan dan tidak menghabiskan biaya ketika dikirim. Ya, hemat space dan hemat ongkir. Bahkan repeat order dan marginnya pun sangat lumayan.
Sekiranya teman-teman memiliki bisnis yang lain, yah nggak masalah. Tapi wacana go online ini harus dipertimbangkan dan disiapkan benar-benar, agar bisnis menjadi mesin uang dan ajang manfaat yang bisa diandalkan di berbagai macam keadaan.
Saling mendoakan ya! Semoga berkah berlimpah!
"Lockdown dong, kayak China!"
"Tes massal dong, kayak Korea!"
Itulah seruan netizen kita. Tapi, yang jelas, pemerintah saat ini memilih kebijakan social distance dan work from home.
Begitulah. Sebagian besar kita sekarang bekerja dari rumah. Termasuk entrepreneur, berbisnis dari rumah. Salah satu hikmahnya, mau nggak mau kita dilatih untuk lebih terampil lagi menggunakan WA, IG, dan FB. Juga marketplace.
Relatif aman kalau bisnisnya bersifat barang, bukan jasa. Dan relatif lancar kalau bisnisnya bersifat online, tidak melibatkan ruko atau toko. Sampai sekarang saya turut berempati pada teman-teman entrepreneur yang bisnisnya bersifat jasa dan mengandalkan ruko. Mereka sangat terdampak.
Belakangan ini banyak yang bertanya ke saya soal kebijakan lockdown dan social distance. Karena ini jelas-jelas berimbas pada bisnis. Besar imbasnya. Lantas, apa jawaban saya? Izinkan saya menyampaikan hadis dan kisah sahabat. Boleh ya?
Rasulullah pernah bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempatmu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu.” Mungkin ini semacam lockdown.
Peristiwa lain. Ketika terjadi wabah penyakit yang mematikan, Amru bin Ash (sahabat Nabi) pernah melarang masyarakat untuk ngumpul-ngumpul. Mereka diminta berpencar. Sebagian ke gunung, sebagian ke lembah, dan lain-lain. Mungkin ini semacam social distance.
Indonesia saat ini memilih kebijakan social distance saja. Tidak lockdown seperti China dan Eropa. Tidak juga tes massal seperti Korsel. Tentu, banyak yang mempertanyakan efektif atau tidaknya kebijakan social distance ini. Mengingat perilaku orang Indonesia yang tidak terlalu patuh.
Begini. Saya tidak mau membahas ini lebih lanjut. Bukan apa-apa. Saya nggak memiliki kompetensi di situ. Biarlah itu menjadi ranahnya pemerintah dan ulama. Insya Allah saya berusaha mengikuti dan mentaati apa yang ditetapkan oleh pemerintah dan ulama.
Go online sepertinya menjadi pilihan yang tepat saat ini. Bukan asal online, tentu saja. Pahamilah, go online juga mengharuskan kita untuk lebih cekatan menggunakan WA, IG, FB, dan marketplace. Ini ada ilmunya. Terus, ujung-ujungnya barang dikirim melalui JNE, TIKI, dan sejenisnya.
Saya dan mitra-mitra sudah melakukan ini sejak lama. Dari rumah, cetak rupiah. Alhamdulillah. Kami pun memilih barang yang tidak menyita space ketika disimpan dan tidak menghabiskan biaya ketika dikirim. Ya, hemat space dan hemat ongkir. Bahkan repeat order dan marginnya pun sangat lumayan.
Sekiranya teman-teman memiliki bisnis yang lain, yah nggak masalah. Tapi wacana go online ini harus dipertimbangkan dan disiapkan benar-benar, agar bisnis menjadi mesin uang dan ajang manfaat yang bisa diandalkan di berbagai macam keadaan.
Saling mendoakan ya! Semoga berkah berlimpah!
Kena Covid, Sekarang Fit
Dia seorang aktris papan atas yang terkena Corona (Covid 19), tapi kemudian pelan-pelan kondisinya membaik dan akhirnya sehat. Tanpa obat. Ya, tanpa obat.
Olga Kurylenko namanya, yang turut bermain di salah satu film James Bond. Pernah juga main bersama Tom Cruise. Sekarang dia fit. Apa rahasianya?
Olga Kurylenko mengonsumsi B5 yang membantu tubuh mengonversi makanan menjadi energi. Olga Kurylenko juga mengonsumsi suplemen vitamin E, yang mendukung fungsi sel dan imunitas tubuh.
Vitamin C juga tak ketinggalan ia konsumsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Olga Kurylenko juga mengonsumsi kunyit yang menurutnya memiliki manfaat anti-radang dan antioksidan.
Ia juga mengonsumsi zat besi, yang membantu memperkuat daya tahan tubuh dalam menghadapi bakteri dan virus. Bagi kita yang tidak terkena, sebagai ikhtiar, ada baiknya rutin mengonsumsi vitamin B, E, C, zat besi, dan kunyit.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dia seorang aktris papan atas yang terkena Corona (Covid 19), tapi kemudian pelan-pelan kondisinya membaik dan akhirnya sehat. Tanpa obat. Ya, tanpa obat.
Olga Kurylenko namanya, yang turut bermain di salah satu film James Bond. Pernah juga main bersama Tom Cruise. Sekarang dia fit. Apa rahasianya?
Olga Kurylenko mengonsumsi B5 yang membantu tubuh mengonversi makanan menjadi energi. Olga Kurylenko juga mengonsumsi suplemen vitamin E, yang mendukung fungsi sel dan imunitas tubuh.
Vitamin C juga tak ketinggalan ia konsumsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Olga Kurylenko juga mengonsumsi kunyit yang menurutnya memiliki manfaat anti-radang dan antioksidan.
Ia juga mengonsumsi zat besi, yang membantu memperkuat daya tahan tubuh dalam menghadapi bakteri dan virus. Bagi kita yang tidak terkena, sebagai ikhtiar, ada baiknya rutin mengonsumsi vitamin B, E, C, zat besi, dan kunyit.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Awan gelap PHK sekarang menghantui berbagai industri. Setidaknya, pengurangan gaji dan tunjangan mulai diberlakukan di mana-mana.
Dengan sikon terkini, kebayang betapa repotnya kalau bisnis masih mengandalkan ruko, produksi, dan padat karya.
Saya (Ippho Santosa) dan mitra-mitra bersyukur sekali, sebagai pemula, sejak awal kami berusaha meniadakan aspek produksi dan fokus pada aspek pemasaran.
Maklum, kami pemula. Modal kami belum banyak.
Alhamdulillah, sampai saat ini bisnis kami berjalan baik, walaupun kondisi ekonomi nasional tidak terlalu baik. Dua produk kami semakin dicari belakangan ini, karena memang sangat dibutuhkan untuk tujuan kesehatan.
Saya pikir ini peluang yang sangat bagus buat teman-teman. Dicoba saja, toh modalnya nggak seberapa. Kurang dari Rp 1 juta. Ada bimbingan lagi!
Terus, hemat space ketika disimpan dan hemat ongkir ketika dikirim. Margin dan repeat order, jangan ditanya. Sangat lumayan insya Allah. Insya Allah semua keunggulan itu dapat menekan risiko kegagalan sedemikian rupa.
Lebih lanjut, teman-teman yang mau bermitra dengan saya dan mau full bimbingan, silakan WA ke 0812-9539-9965. Mutu produk sudah terbukti insya Allah.
Btw, ada bonus ongkir bagi teman-teman yang bergabung pada hari ini atau besok (30 atau 31 Maret). Saya doakan, semoga kita bisa bermitra dan bisnis kita berjalan lancar. Aamiin.
Dengan sikon terkini, kebayang betapa repotnya kalau bisnis masih mengandalkan ruko, produksi, dan padat karya.
Saya (Ippho Santosa) dan mitra-mitra bersyukur sekali, sebagai pemula, sejak awal kami berusaha meniadakan aspek produksi dan fokus pada aspek pemasaran.
Maklum, kami pemula. Modal kami belum banyak.
Alhamdulillah, sampai saat ini bisnis kami berjalan baik, walaupun kondisi ekonomi nasional tidak terlalu baik. Dua produk kami semakin dicari belakangan ini, karena memang sangat dibutuhkan untuk tujuan kesehatan.
Saya pikir ini peluang yang sangat bagus buat teman-teman. Dicoba saja, toh modalnya nggak seberapa. Kurang dari Rp 1 juta. Ada bimbingan lagi!
Terus, hemat space ketika disimpan dan hemat ongkir ketika dikirim. Margin dan repeat order, jangan ditanya. Sangat lumayan insya Allah. Insya Allah semua keunggulan itu dapat menekan risiko kegagalan sedemikian rupa.
Lebih lanjut, teman-teman yang mau bermitra dengan saya dan mau full bimbingan, silakan WA ke 0812-9539-9965. Mutu produk sudah terbukti insya Allah.
Btw, ada bonus ongkir bagi teman-teman yang bergabung pada hari ini atau besok (30 atau 31 Maret). Saya doakan, semoga kita bisa bermitra dan bisnis kita berjalan lancar. Aamiin.
Sebentar lagi, insya Allah saya (Ippho Santosa) akan membagikan e-book gratis. Ya, gratis. Mohon maaf, saya tidak bisa menyebarkan informasi ini di Instagram, soalnya IG saya lagi di-hack (mohon doa ya, semoga segera kembali). Bagi teman-teman yang berminat, silakan WA 0859-4506-3777. Isinya tentang apa? Tentang menyelesaikan masalah dan utang. Insya Allah e-book ini sangat bermanfaat.
Entrepreneur & Corona
Saat ini, berbagai sendi kehidupan telah dipukul babak-belur oleh pandemi. Di satu sisi, ya memang itu yang terjadi. Tapi di lain sisi, ada hikmah yang tersembunyi.
Di tengah pandemi akhirnya kita disadarkan akan tiga hal yang teramat penting dalam kehidupan. Apa itu? Agama, keluarga, dan kesehatan. Sekali lagi, agama, keluarga, dan kesehatan.
Angka kematian yang dipertontonkan setiap hari mau nggak mau membuat kita lebih sering dan lebih khusyuk dalam berdoa. Ya, kita berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa.
Gimana dengan keluarga? Sekarang, saat lama-lama berada di rumah, kita pun punya waktu yang berkualitas dan berkuantitas bersama keluarga, yang mana sebelumnya ini jarang-jarang terjadi.
Gimana dengan kesehatan? Dulu kita nggak terlalu peduli sama kesehatan. Sekarang? Lebih concern. Bahkan kita berusaha mencari tahu lebih dalam tentang virus dan cara mencegahnya.
Dengar-dengar tingkat polusi pun turun drastis di berbagai belahan bumi, yang insya Allah ini membuat semua manusia menghirup udara dengan kualitas yang lebih baik. Tentu saja, lebih sehat.
Itulah tiga hal yang teramat penting dalam kehidupan. Agama, keluarga, dan kesehatan.
Ada satu hal lagi. Terutama bagi seorang entrepreneur. Apa itu? Kreativitas dan efisiensi. Belakangan ini, kita berpikir keras dan berusaha keras bagaimana bisnis terus berjalan dengan tetap berada di rumah. Go online akhirnya menjadi pilihan.
Saya dan mitra-mitra saya BUKAN pedagang musiman. Sudah sekian tahun kami mengandalkan kekuatan online, walaupun belum 100%. Alhamdulillah sangat lumayan hasilnya.
Menurut saya, seorang pemula repot sekali kalau diarahkan bisnisnya berbasis toko atau ruko. Sewanya berapa? Gaji karyawan, gimana? Bahan baku, gimana? Listrik-air, gimana? Balik modal pun bisa 2 tahun atau lebih!
Saya merancang mitra-mitra saya agar balik modal dalam seminggu atau kurang. Barang? Mudah disimpan dan tidak mudah expired (out of date). Murah dikirim dan tidak mudah rusak. Pembinaan? Full. Operasional? WFH.
Saya membina orang bukan satu hari dua hari. Tapi sudah belasan tahun. Di 34 provinsi di Indonesia. Di belasan negara di 5 benua. Insya Allah tahu persis permasalahan pemula dan solusinya.
Pada akhirnya, hampir semua entrepreneur sekarang lagi diayak. Ya, lagi diayak. Boleh juga disebut seleksi alam. Corona pemicunya. Entrepreneur yang tangguh, kreatif, dan efisien insya Allah akan bertahan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Keep on fighting!
Saat ini, berbagai sendi kehidupan telah dipukul babak-belur oleh pandemi. Di satu sisi, ya memang itu yang terjadi. Tapi di lain sisi, ada hikmah yang tersembunyi.
Di tengah pandemi akhirnya kita disadarkan akan tiga hal yang teramat penting dalam kehidupan. Apa itu? Agama, keluarga, dan kesehatan. Sekali lagi, agama, keluarga, dan kesehatan.
Angka kematian yang dipertontonkan setiap hari mau nggak mau membuat kita lebih sering dan lebih khusyuk dalam berdoa. Ya, kita berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa.
Gimana dengan keluarga? Sekarang, saat lama-lama berada di rumah, kita pun punya waktu yang berkualitas dan berkuantitas bersama keluarga, yang mana sebelumnya ini jarang-jarang terjadi.
Gimana dengan kesehatan? Dulu kita nggak terlalu peduli sama kesehatan. Sekarang? Lebih concern. Bahkan kita berusaha mencari tahu lebih dalam tentang virus dan cara mencegahnya.
Dengar-dengar tingkat polusi pun turun drastis di berbagai belahan bumi, yang insya Allah ini membuat semua manusia menghirup udara dengan kualitas yang lebih baik. Tentu saja, lebih sehat.
Itulah tiga hal yang teramat penting dalam kehidupan. Agama, keluarga, dan kesehatan.
Ada satu hal lagi. Terutama bagi seorang entrepreneur. Apa itu? Kreativitas dan efisiensi. Belakangan ini, kita berpikir keras dan berusaha keras bagaimana bisnis terus berjalan dengan tetap berada di rumah. Go online akhirnya menjadi pilihan.
Saya dan mitra-mitra saya BUKAN pedagang musiman. Sudah sekian tahun kami mengandalkan kekuatan online, walaupun belum 100%. Alhamdulillah sangat lumayan hasilnya.
Menurut saya, seorang pemula repot sekali kalau diarahkan bisnisnya berbasis toko atau ruko. Sewanya berapa? Gaji karyawan, gimana? Bahan baku, gimana? Listrik-air, gimana? Balik modal pun bisa 2 tahun atau lebih!
Saya merancang mitra-mitra saya agar balik modal dalam seminggu atau kurang. Barang? Mudah disimpan dan tidak mudah expired (out of date). Murah dikirim dan tidak mudah rusak. Pembinaan? Full. Operasional? WFH.
Saya membina orang bukan satu hari dua hari. Tapi sudah belasan tahun. Di 34 provinsi di Indonesia. Di belasan negara di 5 benua. Insya Allah tahu persis permasalahan pemula dan solusinya.
Pada akhirnya, hampir semua entrepreneur sekarang lagi diayak. Ya, lagi diayak. Boleh juga disebut seleksi alam. Corona pemicunya. Entrepreneur yang tangguh, kreatif, dan efisien insya Allah akan bertahan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Keep on fighting!