Satu bulan terakhir, saya melihat orang-orang jadi stress di mana-mana. Saya prihatin. Sebagian malah ketakutan, bukan stress lagi. Untuk itulah e-book ini saya hadirkan dan mudah-mudahan menjadi bagian dari solusi walaupun mungkin tak seberapa.
“Masalah Tuntas, Utang Pun Lunas”
Ya, e-book ini tentang masalah dan bagaimana menyelesaikannya. Kurang-lebih isinya sebagai berikut:
- menghadapi konflik
- mencegah stress dan depresi
- meng-install keberanian
- masalah finansial
- ganjaran rupiah dan non rupiah
- melunasi utang
- menolak jadi victim
- menyikapi sakit
- mengundang solusi
Jujur, sempat terlintas niat untuk menjual e-book ini Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu (biasanya saya jual segitu). Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, di tengah pandemi seperti sekarang, ada baiknya DIGRATISKAN saja. Yes, it’s free.
Yang minat e-book ini, boleh WA ke 0859-4506-3777.
Mungkin Anda bertanya-tanya dalam hati:
- Apakah ada penawaran training di e-book ini? Tidak ada.
- Apakah ada penawaran bisnis di e-book ini? Tidak ada.
- Apakah ada penawaran buku lanjutan? Tidak ada.
Di sini saya hanya ingin berbagi ilmu dan solusi. Cuma itu. Silakan baca dan praktek. Sekian, semoga berkah berlimpah!
“Masalah Tuntas, Utang Pun Lunas”
Ya, e-book ini tentang masalah dan bagaimana menyelesaikannya. Kurang-lebih isinya sebagai berikut:
- menghadapi konflik
- mencegah stress dan depresi
- meng-install keberanian
- masalah finansial
- ganjaran rupiah dan non rupiah
- melunasi utang
- menolak jadi victim
- menyikapi sakit
- mengundang solusi
Jujur, sempat terlintas niat untuk menjual e-book ini Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu (biasanya saya jual segitu). Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, di tengah pandemi seperti sekarang, ada baiknya DIGRATISKAN saja. Yes, it’s free.
Yang minat e-book ini, boleh WA ke 0859-4506-3777.
Mungkin Anda bertanya-tanya dalam hati:
- Apakah ada penawaran training di e-book ini? Tidak ada.
- Apakah ada penawaran bisnis di e-book ini? Tidak ada.
- Apakah ada penawaran buku lanjutan? Tidak ada.
Di sini saya hanya ingin berbagi ilmu dan solusi. Cuma itu. Silakan baca dan praktek. Sekian, semoga berkah berlimpah!
CORONA, MEREKA TETAP KELUAR RUMAH
Di tengah pandemi Corona, saya prihatin sama mereka yang terpaksa bekerja dan hilir-mudik di luar sana, karena tuntutan nafkah dan rupiah.
"Nggak keluar, yah nggak makan," jawab mereka dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
Jujur, saya salut sama mereka. Yang pasti, mereka itu bertanggung-jawab atas keluarganya dan benar-benar berani.
Ada pandemi, mereka tak peduli. Mereka tetap pergi, mencari nafkah sepanjang hari. Ya, mereka itu berani.
Kemudian saya sempat berpikir, kalau terhadap pandemi saja mereka berani, mestinya buka usaha yah lebih berani.
Ketika pandemi, risikonya nyawa alias bisa mati. Ketika buka usaha, yah risikonya cuma rugi. Anehnya, nggak semua orang berani. Saya melihat suatu kejanggalan di sini.
Sebagian menganggap modal sebagai kendala utama, saat merintis usaha. Terus, apa jawaban saya? Mungkin ya, mungkin tidak. Toh kalau uang Rp 1 juta, hampir semua orang punya dan itu sudah cukup untuk merintis usaha.
Soal produk, gimana? Namanya produk, tidak harus produksi sendiri. Kita bisa ngandalin pihak lain (vendor). Kita cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. Simple.
Ada yang bilang, "Ah, itu bukan pengusaha namanya. Itu sih calo."
Nggak juga. Terbukti showroom mobil, dealer motor, dan konter Apple melakukannya. Apa itu? Mereka cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. No production.
Lantas, gimana dengan kita? Yah coba saja jadi agent atau reseller untuk produk tertentu. Nggak rumit tho? Lebih baik lagi kalau pilih produk yang tinggi repeat order-nya dan tetap dicari walaupun lagi pandemi.
Buka deh pikiran kita. Sudah saatnya kita menempuh jalan berbeda dalam mencari nafkah dan rupiah. Nggak harus ngantor. Nggak harus hilir-mudik di tengah pandemi. Masih ada kok cara lain.
Think. Try.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di tengah pandemi Corona, saya prihatin sama mereka yang terpaksa bekerja dan hilir-mudik di luar sana, karena tuntutan nafkah dan rupiah.
"Nggak keluar, yah nggak makan," jawab mereka dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
Jujur, saya salut sama mereka. Yang pasti, mereka itu bertanggung-jawab atas keluarganya dan benar-benar berani.
Ada pandemi, mereka tak peduli. Mereka tetap pergi, mencari nafkah sepanjang hari. Ya, mereka itu berani.
Kemudian saya sempat berpikir, kalau terhadap pandemi saja mereka berani, mestinya buka usaha yah lebih berani.
Ketika pandemi, risikonya nyawa alias bisa mati. Ketika buka usaha, yah risikonya cuma rugi. Anehnya, nggak semua orang berani. Saya melihat suatu kejanggalan di sini.
Sebagian menganggap modal sebagai kendala utama, saat merintis usaha. Terus, apa jawaban saya? Mungkin ya, mungkin tidak. Toh kalau uang Rp 1 juta, hampir semua orang punya dan itu sudah cukup untuk merintis usaha.
Soal produk, gimana? Namanya produk, tidak harus produksi sendiri. Kita bisa ngandalin pihak lain (vendor). Kita cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. Simple.
Ada yang bilang, "Ah, itu bukan pengusaha namanya. Itu sih calo."
Nggak juga. Terbukti showroom mobil, dealer motor, dan konter Apple melakukannya. Apa itu? Mereka cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. No production.
Lantas, gimana dengan kita? Yah coba saja jadi agent atau reseller untuk produk tertentu. Nggak rumit tho? Lebih baik lagi kalau pilih produk yang tinggi repeat order-nya dan tetap dicari walaupun lagi pandemi.
Buka deh pikiran kita. Sudah saatnya kita menempuh jalan berbeda dalam mencari nafkah dan rupiah. Nggak harus ngantor. Nggak harus hilir-mudik di tengah pandemi. Masih ada kok cara lain.
Think. Try.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menghitung hari menuju Ramadhan...
Ini karya saya bareng Fadly Padi, Teddy Snada, Dwiki Dharmawan dkk. Niatnya bukan untuk nyari follower, nyari duit, atau nyari klik. Bukan.
Semata-mata ngajak orang-orang bershalawat dan kangen sama Rasulullah. Cuma itu. Judulnya Kangen Rasul (Bertabur Pahala).
Nah, ini versi lengkapnya:
bit.ly/BertaburPahala
Ini karya saya bareng Fadly Padi, Teddy Snada, Dwiki Dharmawan dkk. Niatnya bukan untuk nyari follower, nyari duit, atau nyari klik. Bukan.
Semata-mata ngajak orang-orang bershalawat dan kangen sama Rasulullah. Cuma itu. Judulnya Kangen Rasul (Bertabur Pahala).
Nah, ini versi lengkapnya:
bit.ly/BertaburPahala
YouTube
Shalawat Nabi - Shalawat Thola'al Badru - Fadly Padi - Takaeda - Snada - Dwiki - Cupink Topan
Shalawat Thola'al Badru telah mengilhami kami. Jadilah senandung ini, dengan judul KANGEN RASUL (Bertabur Pahala), bersama Fadly Padi, Teddy Snada, Ikhsan Snada, Dwiki Krakatau, Takaeda Ex-Drive, Ust Amir Faishol, Ust Riza Muhammad, Cupink Topan, dan Ippho…
Anda pengusaha?
Entrepreneur itu kan leader. Harus melindungi tim dan harus memberi contoh pada tim...
Coba rutinkan sedekah subuh ya. Transfer aja (lagi pandemi soalnya). Kalau saya, ke DD. Teman-teman bebas ke mana aja...
Usahain angkanya beda. Lebih banyak. Kenapa? Pertama, untuk menolak bala. Kedua, utk melindungi tim...
Saat kita rutin dan intens bersedekah, insya Allah tim pelan-pelan akan mengikuti. Amal jariyah nih...
Saran saya, sedekahnya tepat di waktu subuh...
Malaikat dengan izin Allah akan mendoakan orang yang bersedekah di waktu itu, agar lebih subur harta orang tersebut...
Saat bersedekah subuh, itu artinya kita memulai hari dengan kebaikan. Mudah-mudahan baik juga hasilnya...
Begini. Sedekah dan semua amal, itu untuk mencari ridha Allah. Segala manfaat yang saya sebut tadi, itu adalah fadilah-fadilahnya. Boleh insya Allah...
Sekiranya Anda tidak setuju dengan saya, yah nggak apa-apa. Bebas kok. Tapi, tetaplah bersedekah banyak di awal hari...
Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa...
Entrepreneur itu kan leader. Harus melindungi tim dan harus memberi contoh pada tim...
Coba rutinkan sedekah subuh ya. Transfer aja (lagi pandemi soalnya). Kalau saya, ke DD. Teman-teman bebas ke mana aja...
Usahain angkanya beda. Lebih banyak. Kenapa? Pertama, untuk menolak bala. Kedua, utk melindungi tim...
Saat kita rutin dan intens bersedekah, insya Allah tim pelan-pelan akan mengikuti. Amal jariyah nih...
Saran saya, sedekahnya tepat di waktu subuh...
Malaikat dengan izin Allah akan mendoakan orang yang bersedekah di waktu itu, agar lebih subur harta orang tersebut...
Saat bersedekah subuh, itu artinya kita memulai hari dengan kebaikan. Mudah-mudahan baik juga hasilnya...
Begini. Sedekah dan semua amal, itu untuk mencari ridha Allah. Segala manfaat yang saya sebut tadi, itu adalah fadilah-fadilahnya. Boleh insya Allah...
Sekiranya Anda tidak setuju dengan saya, yah nggak apa-apa. Bebas kok. Tapi, tetaplah bersedekah banyak di awal hari...
Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa...
Saya kaget sekaget-kagetnya begitu mendengar kabar bahwa sahabat saya, senior saya, Pak Tung Desem Waringin, terkena Covid-19 dan lagi dirawat di RS. Ya Allah.
Saya dapat kabar ini dari Coach Dedy, penulis buku '8 Misteri Duit'.
Langsung saya WA keluarga dan tim Pak Tung. Karena belum dapat respons, akhirnya saya WA saja beliau. Beberapa detik kemudian, beliau malah WA call ke saya. Sekitar setengah jam kami ngobrol.
Ternyata Pak Tung nggak berubah. Tetap cerah ceria. Tetap gembira. Ketawa-ketawa. Nyanyi-nyanyi. Dan selaluuuuu menumpahkan ilmu bermanfaat kepada orang yang diajaknya ngobrol. Masya Allah.
Saya yang awalnya prihatin, mata sempat berkaca-kaca, jadi berubah gembira. Ikutan ketawa, ikutan nyanyi. Begitulah. Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Itu pesan beliau dan itu 100% benar. Saya setuju sekali.
Alhamdulillah kondisi beliau sudah membaik. Tapi tetap perlu doa dari kita. Mohon doa ya untuk beliau. Yang tulus, yang serius. Dan saya langsung bilang ke beliau, "Pak Tung posting di IG dong, biar Indonesia ikutan cerah ceria seperti Bapak. Btw, IG saya lagi di-hack, belum pulih hehe."
Beliau pun posting di IG, mengabarkan keadaannya, dan hebohlah para netizen.
Apa pesan saya buat kita semua? Good mood akan membuat imun membaik dan menguat. Kami bicara juga soal VCO, madu, bee pollen, propolis, dan lain-lain. Memang itu perlu untuk kesehatan. Tapi yang lebih diperlukan adalah good mood.
So, kalau kita sakit atau mengunjungi orang sakit, baiknya tunjukkan good mood. Ya, tunjukkan good mood. Insya Allah ini akan menjadi bagian dari obat. Sangat bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya dapat kabar ini dari Coach Dedy, penulis buku '8 Misteri Duit'.
Langsung saya WA keluarga dan tim Pak Tung. Karena belum dapat respons, akhirnya saya WA saja beliau. Beberapa detik kemudian, beliau malah WA call ke saya. Sekitar setengah jam kami ngobrol.
Ternyata Pak Tung nggak berubah. Tetap cerah ceria. Tetap gembira. Ketawa-ketawa. Nyanyi-nyanyi. Dan selaluuuuu menumpahkan ilmu bermanfaat kepada orang yang diajaknya ngobrol. Masya Allah.
Saya yang awalnya prihatin, mata sempat berkaca-kaca, jadi berubah gembira. Ikutan ketawa, ikutan nyanyi. Begitulah. Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Itu pesan beliau dan itu 100% benar. Saya setuju sekali.
Alhamdulillah kondisi beliau sudah membaik. Tapi tetap perlu doa dari kita. Mohon doa ya untuk beliau. Yang tulus, yang serius. Dan saya langsung bilang ke beliau, "Pak Tung posting di IG dong, biar Indonesia ikutan cerah ceria seperti Bapak. Btw, IG saya lagi di-hack, belum pulih hehe."
Beliau pun posting di IG, mengabarkan keadaannya, dan hebohlah para netizen.
Apa pesan saya buat kita semua? Good mood akan membuat imun membaik dan menguat. Kami bicara juga soal VCO, madu, bee pollen, propolis, dan lain-lain. Memang itu perlu untuk kesehatan. Tapi yang lebih diperlukan adalah good mood.
So, kalau kita sakit atau mengunjungi orang sakit, baiknya tunjukkan good mood. Ya, tunjukkan good mood. Insya Allah ini akan menjadi bagian dari obat. Sangat bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
BUKAN Sekedar Online
Tadi malam, saya bersama teman-teman di Musawarah mengikuti kajian Ustadz Abdul Somad. Tak terasa, lebih dari 5 tahun saya menjadi bagian dari Musawarah. Nah, kajian tadi malam menjadi sedikit berbeda, karena kami melakukannya secara online, bukan tatap muka. Tepatnya, melalui zoom meeting.
Di tengah pandemi seperti sekarang, mau tidak mau, go online menjadi suatu keniscayaan. Termasuk dalam bisnis. Boleh dibilang, ini ancaman sekaligus peluang. Mereka yang lihai dan piawai akan menyulap ini sebagai peluang. Jujur, saat ini kesibukan saya sebagai entrepreneur tidak berkurang sama sekali. Tetap produktif.
Izinkan kali ini saya berbagi tips untuk menjalankan bisnis online. Boleh ya?
Untuk memulai dan membesarkan sebuah bisnis, sekalipun itu bisnis online, kita harus selektif dalam memilih produk. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pastikan mutunya bagus. Karena pada akhirnya, yang membuat produk itu terjual terus-menerus dalam jangka panjang adalah mutu, bukan promosi. Sekali lagi, mutu.
Akan lebih baik lagi memilih produk yang tetap dicari, walaupun lagi pandemi.
Setelah itu, pastikan produknya mudah dikirim (hemat ongkir) dan mudah disimpan (tidak menyita space). Kita ini pemula, yang biasanya tidak punya gudang dan armada. Kita sangat mengandalkan jasa pengiriman. Maka, jangan sampai ongkir membuat harga jual kita tidak kompetitif. Begitu pula soal size dan space. Seringkali saat stok dan omset mencapai angka ratusan juta rupiah, seorang pemula kerepotan untuk menyimpannya karena memang produknya menyita space.
Bagaimana dengan perencanaan?
Begini. Di semua bidang termasuk dalam bisnis, perihal terkait perencanaan perlu dilakukan. Awal-awal, langsung action yah silakan. Namun setelah berjalan, harus ada perencanaan. Tak hanya varian produk tapi juga strategi promosi dan strategi distribusi. Maka harus diatur sedemikian rupa. Belajarlah dari pemain lain agar kita bisa mengantisipasi berbagai masalah. Sebab hal-hal tak diinginkan bisa terjadi kapan saja.
Untuk tahap awal, kurangi variasi agar promosi lebih terarah. Variasi yang terbatas juga memudahkan kita untuk urusan stok dan kalkulasi. Saran saya selanjutnya, selain aktif di socmed, mesti aktif juga di berbagai grup WA. Buatlah diri kita dikenal dan dipercaya. Setelah dikenal dan dipercaya, maka produk akan lebih mudah untuk terjual.
Sekian dulu. Praktek ya. Kapan-kapan kita sambung lagi.
Tadi malam, saya bersama teman-teman di Musawarah mengikuti kajian Ustadz Abdul Somad. Tak terasa, lebih dari 5 tahun saya menjadi bagian dari Musawarah. Nah, kajian tadi malam menjadi sedikit berbeda, karena kami melakukannya secara online, bukan tatap muka. Tepatnya, melalui zoom meeting.
Di tengah pandemi seperti sekarang, mau tidak mau, go online menjadi suatu keniscayaan. Termasuk dalam bisnis. Boleh dibilang, ini ancaman sekaligus peluang. Mereka yang lihai dan piawai akan menyulap ini sebagai peluang. Jujur, saat ini kesibukan saya sebagai entrepreneur tidak berkurang sama sekali. Tetap produktif.
Izinkan kali ini saya berbagi tips untuk menjalankan bisnis online. Boleh ya?
Untuk memulai dan membesarkan sebuah bisnis, sekalipun itu bisnis online, kita harus selektif dalam memilih produk. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pastikan mutunya bagus. Karena pada akhirnya, yang membuat produk itu terjual terus-menerus dalam jangka panjang adalah mutu, bukan promosi. Sekali lagi, mutu.
Akan lebih baik lagi memilih produk yang tetap dicari, walaupun lagi pandemi.
Setelah itu, pastikan produknya mudah dikirim (hemat ongkir) dan mudah disimpan (tidak menyita space). Kita ini pemula, yang biasanya tidak punya gudang dan armada. Kita sangat mengandalkan jasa pengiriman. Maka, jangan sampai ongkir membuat harga jual kita tidak kompetitif. Begitu pula soal size dan space. Seringkali saat stok dan omset mencapai angka ratusan juta rupiah, seorang pemula kerepotan untuk menyimpannya karena memang produknya menyita space.
Bagaimana dengan perencanaan?
Begini. Di semua bidang termasuk dalam bisnis, perihal terkait perencanaan perlu dilakukan. Awal-awal, langsung action yah silakan. Namun setelah berjalan, harus ada perencanaan. Tak hanya varian produk tapi juga strategi promosi dan strategi distribusi. Maka harus diatur sedemikian rupa. Belajarlah dari pemain lain agar kita bisa mengantisipasi berbagai masalah. Sebab hal-hal tak diinginkan bisa terjadi kapan saja.
Untuk tahap awal, kurangi variasi agar promosi lebih terarah. Variasi yang terbatas juga memudahkan kita untuk urusan stok dan kalkulasi. Saran saya selanjutnya, selain aktif di socmed, mesti aktif juga di berbagai grup WA. Buatlah diri kita dikenal dan dipercaya. Setelah dikenal dan dipercaya, maka produk akan lebih mudah untuk terjual.
Sekian dulu. Praktek ya. Kapan-kapan kita sambung lagi.
BERGEMA DI TENGAH PANDEMI
Setidaknya ada 4 formula yang harus dipatuhi oleh seorang entrepreneur pemula agar bisnisnya tetap bergema (echo) di tengah pandemi seperti sekarang.
Boleh dibilang, 4 formula ini adalah fardhu ain bagi seorang entrepreneur. Apa saja 4 formula itu? ECHO yang terdiri dari Efficiency, Creativity, Health-Concern, Online. Kalau 4 formula ini diabaikan, bukan mustahil bisnisnya akan terkubur ditelan pandemi.
Kreativitas dan efisiensi. Jelas, dua hal ini sangat krusial. Dulu, penting. Sekarang, semakin penting. Belakangan ini, kita berpikir keras dan berusaha keras bagaimana bisnis terus berjalan dengan tetap berada di rumah.
SDM tidak leluasa bergerak. Produksi dan distribusi terkendala. Begitu juga operasional hari-hari di kantor. Kalau tidak kreatif dan tidak efisien, bagaimana mungkin bisnis masih bisa berjalan?
Kita lanjutkan. Concern terhadap kesehatan sekarang meningkat dan menjadi-jadi, bahkan menjadi prioritas tertinggi. Betul apa betul?
Ada baiknya kita menawarkan produk dan jasa terkait kesehatan. Setidaknya, tolong perhatikan faktor ini setiap kali kita menawarkan dan mengantarkan produk kita. Health-Concern istilahnya.
Go online akhirnya menjadi pilihan. Suka atau tidak suka. Siap atau tidak siap. Saya dan mitra-mitra saya BUKAN pedagang musiman. Sudah sekian tahun kami mengandalkan kekuatan online, walaupun belum 100%. Alhamdulillah hasilnya sangat lumayan.
Menurut saya, seorang pemula repot sekali kalau diarahkan bisnisnya berbasis toko atau ruko. Sewanya berapa? Gaji karyawan, gimana? Bahan baku, gimana? Listrik-air, gimana? Balik modal pun bisa 2 tahun atau lebih!
Saya merancang mitra-mitra saya agar balik modal dalam seminggu atau kurang. Cepat sekali. Ada baiknya bisnis teman-teman diarahkan seperti itu. Cepat balik modalnya. Dan ini insya Allah mengurangi risiko finansial.
Demikianlah ECHO yang terdiri dari Efficiency, Creativity, Health-Concern, Online. Praktek ya. Semoga hasilnya berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Setidaknya ada 4 formula yang harus dipatuhi oleh seorang entrepreneur pemula agar bisnisnya tetap bergema (echo) di tengah pandemi seperti sekarang.
Boleh dibilang, 4 formula ini adalah fardhu ain bagi seorang entrepreneur. Apa saja 4 formula itu? ECHO yang terdiri dari Efficiency, Creativity, Health-Concern, Online. Kalau 4 formula ini diabaikan, bukan mustahil bisnisnya akan terkubur ditelan pandemi.
Kreativitas dan efisiensi. Jelas, dua hal ini sangat krusial. Dulu, penting. Sekarang, semakin penting. Belakangan ini, kita berpikir keras dan berusaha keras bagaimana bisnis terus berjalan dengan tetap berada di rumah.
SDM tidak leluasa bergerak. Produksi dan distribusi terkendala. Begitu juga operasional hari-hari di kantor. Kalau tidak kreatif dan tidak efisien, bagaimana mungkin bisnis masih bisa berjalan?
Kita lanjutkan. Concern terhadap kesehatan sekarang meningkat dan menjadi-jadi, bahkan menjadi prioritas tertinggi. Betul apa betul?
Ada baiknya kita menawarkan produk dan jasa terkait kesehatan. Setidaknya, tolong perhatikan faktor ini setiap kali kita menawarkan dan mengantarkan produk kita. Health-Concern istilahnya.
Go online akhirnya menjadi pilihan. Suka atau tidak suka. Siap atau tidak siap. Saya dan mitra-mitra saya BUKAN pedagang musiman. Sudah sekian tahun kami mengandalkan kekuatan online, walaupun belum 100%. Alhamdulillah hasilnya sangat lumayan.
Menurut saya, seorang pemula repot sekali kalau diarahkan bisnisnya berbasis toko atau ruko. Sewanya berapa? Gaji karyawan, gimana? Bahan baku, gimana? Listrik-air, gimana? Balik modal pun bisa 2 tahun atau lebih!
Saya merancang mitra-mitra saya agar balik modal dalam seminggu atau kurang. Cepat sekali. Ada baiknya bisnis teman-teman diarahkan seperti itu. Cepat balik modalnya. Dan ini insya Allah mengurangi risiko finansial.
Demikianlah ECHO yang terdiri dari Efficiency, Creativity, Health-Concern, Online. Praktek ya. Semoga hasilnya berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
BERHEMAT BUKAN BERARTI MAIN PECAT
Sebelumnya sudah saya bahas, agar tetap bertahan di masa-masa menantang seperti ini, kita sebagai pengusaha terutama yang pemula harus menerapkan rumus ECHO, yaitu Efficient, Creative, Health-Concerned, Online. Sekarang kita singgung sedikit soal efisiensi. Soal budgeting.
Salah satu BUKTI perencanaan yang matang adalah penganggaran dana dengan tepat. Penggunaan dana ini mesti tepat jumlahnya dan tepat timing-nya. Simple-nya begini. Alokasikan secara HEMAT tapi tetap efektif untuk pembelian barang (repeat order), pemasangan iklan (di IG, FB, dan marketplace), dan pengiriman barang.
Kurang cermat dalam penganggaran dana bisa membuat bisnis kita keteteran di tengah jalan.
Lantas, bagaimana dengan karyawan dan penggajian karyawan? Saran saya, sebagai pemula, untuk tahap awal jangan dulu pakai karyawan. Tapi sekiranya sudah punya karyawan, hati-hati, itu amanah. Jangan sampai ada pengurangan karyawan, jangan sampai ada pengurangan gaji.
Mungkin saat ini, karyawan kita nggak terlalu produktif. Yah mau gimana lagi? Keadaan yang memaksa. Bukan maunya dia. Saran, gaji dan tunjangan mereka tetap kita tunaikan. Namanya pengusaha yah mesti siap untung dan SIAP RISIKO. Jangan mau enaknya saja.
Sekiranya Anda terpaksa menjual aset atau berutang demi membayar gaji dan tunjangan karyawan, yah lakukan saja. Itu lebih baik. Saya pun pernah melakukan itu. Dulu saya sampai menggadaikan barang agar gaji dan tunjangan karyawan tetap terbayarkan.
Menurut saya, berhemat bukan berarti main pecat. Buktikan bahwa Anda memang pengusaha, tempat bernaungnya banyak orang. Saat Anda bertekad dan berusaha menaungi banyak orang, insya Allah potensi Anda akan keluar. Percayalah, Allah akan memampukan Anda, Allah akan memajukan usaha Anda. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sebelumnya sudah saya bahas, agar tetap bertahan di masa-masa menantang seperti ini, kita sebagai pengusaha terutama yang pemula harus menerapkan rumus ECHO, yaitu Efficient, Creative, Health-Concerned, Online. Sekarang kita singgung sedikit soal efisiensi. Soal budgeting.
Salah satu BUKTI perencanaan yang matang adalah penganggaran dana dengan tepat. Penggunaan dana ini mesti tepat jumlahnya dan tepat timing-nya. Simple-nya begini. Alokasikan secara HEMAT tapi tetap efektif untuk pembelian barang (repeat order), pemasangan iklan (di IG, FB, dan marketplace), dan pengiriman barang.
Kurang cermat dalam penganggaran dana bisa membuat bisnis kita keteteran di tengah jalan.
Lantas, bagaimana dengan karyawan dan penggajian karyawan? Saran saya, sebagai pemula, untuk tahap awal jangan dulu pakai karyawan. Tapi sekiranya sudah punya karyawan, hati-hati, itu amanah. Jangan sampai ada pengurangan karyawan, jangan sampai ada pengurangan gaji.
Mungkin saat ini, karyawan kita nggak terlalu produktif. Yah mau gimana lagi? Keadaan yang memaksa. Bukan maunya dia. Saran, gaji dan tunjangan mereka tetap kita tunaikan. Namanya pengusaha yah mesti siap untung dan SIAP RISIKO. Jangan mau enaknya saja.
Sekiranya Anda terpaksa menjual aset atau berutang demi membayar gaji dan tunjangan karyawan, yah lakukan saja. Itu lebih baik. Saya pun pernah melakukan itu. Dulu saya sampai menggadaikan barang agar gaji dan tunjangan karyawan tetap terbayarkan.
Menurut saya, berhemat bukan berarti main pecat. Buktikan bahwa Anda memang pengusaha, tempat bernaungnya banyak orang. Saat Anda bertekad dan berusaha menaungi banyak orang, insya Allah potensi Anda akan keluar. Percayalah, Allah akan memampukan Anda, Allah akan memajukan usaha Anda. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
AYO BERADAPTASI
Saat terjadi perubahan besar, seringkali yang bertahan BUKAN mereka yang paling kuat. Tapi mereka yang pandai menyesuaikan diri dan beradaptasi. Lihatlah sejarah yang sudah-sudah, maka teman-teman akan menemukan benang merahnya.
Ketika pandemi seperti ini, kita harus mengingatkan teman-teman dan kerabat-kerabat kita. Ada perubahan dan penyesuaian dalam menjalankan bisnis. Kadang varian tertentu perlu dihadirkan. Kadang produk lama perlu digantikan.
Misal, jasa travel. Mungkin saat ini harus shift dulu, ke kuliner atau produk kesehatan. Begitu juga hotel. Mungkin saat ini harus menawarkan jasa katering, jasa laundry, dan jasa karantina (untuk memanfaatkan kamar-kamarnya).
Restoran menengah-atas? Yang biasanya makan di tempat, mungkin saat ini harus menawarkan jasa delivery dan katering. Demikian pula bisnis-bisnis lainnya. Jangan gengsian untuk berubah.
Saya beruntung, sudah bertahun-tahun menghadirkan produk-produk kesehatan alhamdulillah. BUKAN pedagang musiman insya Allah. Teman-teman yang terdampak karena pandemi, ayo lakukan perubahan dan penyesuaian. Segera.
Saya pribadi sudah satu tahun lebih OFF dari Facebook. Jumat yang lalu, saya aktif kembali. Buat apa? Demi menyemangati teman-teman semua. Di page 'Ippho Santosa & Tim Khalifah' ada 700.000 member (silakan search ya). Saat ini, sepertinya mereka sangat memerlukan motivasi dan inspirasi.
Karena itulah, bismillah saya hadir kembali. Insya Allah kita semua akan melalui masa-masa sulit ini bersama-sama. Bisa! Saling mendoakan ya!
Saat terjadi perubahan besar, seringkali yang bertahan BUKAN mereka yang paling kuat. Tapi mereka yang pandai menyesuaikan diri dan beradaptasi. Lihatlah sejarah yang sudah-sudah, maka teman-teman akan menemukan benang merahnya.
Ketika pandemi seperti ini, kita harus mengingatkan teman-teman dan kerabat-kerabat kita. Ada perubahan dan penyesuaian dalam menjalankan bisnis. Kadang varian tertentu perlu dihadirkan. Kadang produk lama perlu digantikan.
Misal, jasa travel. Mungkin saat ini harus shift dulu, ke kuliner atau produk kesehatan. Begitu juga hotel. Mungkin saat ini harus menawarkan jasa katering, jasa laundry, dan jasa karantina (untuk memanfaatkan kamar-kamarnya).
Restoran menengah-atas? Yang biasanya makan di tempat, mungkin saat ini harus menawarkan jasa delivery dan katering. Demikian pula bisnis-bisnis lainnya. Jangan gengsian untuk berubah.
Saya beruntung, sudah bertahun-tahun menghadirkan produk-produk kesehatan alhamdulillah. BUKAN pedagang musiman insya Allah. Teman-teman yang terdampak karena pandemi, ayo lakukan perubahan dan penyesuaian. Segera.
Saya pribadi sudah satu tahun lebih OFF dari Facebook. Jumat yang lalu, saya aktif kembali. Buat apa? Demi menyemangati teman-teman semua. Di page 'Ippho Santosa & Tim Khalifah' ada 700.000 member (silakan search ya). Saat ini, sepertinya mereka sangat memerlukan motivasi dan inspirasi.
Karena itulah, bismillah saya hadir kembali. Insya Allah kita semua akan melalui masa-masa sulit ini bersama-sama. Bisa! Saling mendoakan ya!
Pandemi & Mereka Yang Berjasa Saat Ini
Sudah dengar kabar ini?
Menteri Dalam Negeri Turki memutuskan untuk mundur, karena merasa gagal menahan laju penyebaran Covid-19.
Menteri Keuangan Jerman akhirnya bunuh diri, karena merasa bersalah atas goyahnya perekonomian nasional akibat Covid-19.
Menteri Kesehatan Prancis dituntut 600 dokter, karena dianggap gagal menyiapkan APD dan masker terkait Covid-19.
Itu yang terjadi di luar sana. Di Indonesia? Adakah yang merasa bertanggung-jawab? Adakah yang merasa bersalah? Adakah permintaan maaf?
Nggak perlu kita bahas panjang-lebar. Masing-masing kita sudah tahu jawabannya.
Awal-awal para elite malah menganggap enteng soal Covid-19 ini. Becanda. Main-main. Sekarang? Aturan dan anjuran dari pemerintah pun masih berubah-ubah.
Mudik yang awalnya dilarang, kemudian dibolehkan. Ojek bawa penumpang yang awalnya dilarang, kemudian dibolehkan. Dan masih banyak lagi. Berubah-ubah.
Bingung? Nggak tegas? Nggak jelas? Entahlah. Bayangkan saja apa yang dipikirkan oleh masyarakat luas. Ikut-ikutan bingung pastinya.
Di sini saya hanya ingin mengajak dan menyadarkan teman-teman semua untuk tidak terlalu mengandalkan pemerintah. Jaga diri kita dan keluarga kita.
Kata senior saya, bukan mustahil negeri ini tengah menuju Herd Immunity. Sekali lagi, jaga diri kita dan keluarga kita. Benar-benar jaga.
Kesehatan, jaga. Penafkahan, jaga. Insya Allah masih banyak sumber rezeki yang lain. Kalau satu tertutup, percayalah, sumber-sumber lain masih terbuka. Tetaplah optimis.
Bagi teman-teman nakes yang terjun langsung di garda terdepan, jangan berkecil hati. Apalagi sampai bersedih. Jangan. Allah menilai, masyarakat pun menilai.
Kelak, saat pandemi ini telah berlalu, masyarakat akan mengenang jasa para nakes, BUKAN pejabat, BUKAN pemerintah. Doa kami insya Allah selalu menyertai langkah-langkahmu.
Sudah dengar kabar ini?
Menteri Dalam Negeri Turki memutuskan untuk mundur, karena merasa gagal menahan laju penyebaran Covid-19.
Menteri Keuangan Jerman akhirnya bunuh diri, karena merasa bersalah atas goyahnya perekonomian nasional akibat Covid-19.
Menteri Kesehatan Prancis dituntut 600 dokter, karena dianggap gagal menyiapkan APD dan masker terkait Covid-19.
Itu yang terjadi di luar sana. Di Indonesia? Adakah yang merasa bertanggung-jawab? Adakah yang merasa bersalah? Adakah permintaan maaf?
Nggak perlu kita bahas panjang-lebar. Masing-masing kita sudah tahu jawabannya.
Awal-awal para elite malah menganggap enteng soal Covid-19 ini. Becanda. Main-main. Sekarang? Aturan dan anjuran dari pemerintah pun masih berubah-ubah.
Mudik yang awalnya dilarang, kemudian dibolehkan. Ojek bawa penumpang yang awalnya dilarang, kemudian dibolehkan. Dan masih banyak lagi. Berubah-ubah.
Bingung? Nggak tegas? Nggak jelas? Entahlah. Bayangkan saja apa yang dipikirkan oleh masyarakat luas. Ikut-ikutan bingung pastinya.
Di sini saya hanya ingin mengajak dan menyadarkan teman-teman semua untuk tidak terlalu mengandalkan pemerintah. Jaga diri kita dan keluarga kita.
Kata senior saya, bukan mustahil negeri ini tengah menuju Herd Immunity. Sekali lagi, jaga diri kita dan keluarga kita. Benar-benar jaga.
Kesehatan, jaga. Penafkahan, jaga. Insya Allah masih banyak sumber rezeki yang lain. Kalau satu tertutup, percayalah, sumber-sumber lain masih terbuka. Tetaplah optimis.
Bagi teman-teman nakes yang terjun langsung di garda terdepan, jangan berkecil hati. Apalagi sampai bersedih. Jangan. Allah menilai, masyarakat pun menilai.
Kelak, saat pandemi ini telah berlalu, masyarakat akan mengenang jasa para nakes, BUKAN pejabat, BUKAN pemerintah. Doa kami insya Allah selalu menyertai langkah-langkahmu.
Hacker!
Hari biasa, ada hacker.
Di tengah pandemi, mereka lebih gencar lagi.
Kok bisa? Karena dia tahu orang-orang pada di rumah dan online. Hati-hati.
Saya pun kena HACKED!
Lebih dari tiga minggu akun IG saya di-hack. Walhasil saya nggak bisa posting di IG sama sekali. Sementara, saya sudah terlanjur off dari FB dan Twitter selama satu tahun (walaupun follower saya di sana 3X dan 4X lebih banyak daripada di IG).
Ada bagusnya juga sih. Puasa socmed, hehehe. Kemarin, alhamdulillah akun IG saya pulih kembali, dibantu oleh seorang teman. Saya pun berjanji dalam hati untuk mem-posting sesuatu yang benar-benar manfaat dan menjauhi buang-buang waktu di IG.
Btw, terima kasih ya atas doa teman-teman. Saya sih yakin banget, doa dari teman-teman itu ngefek banget untuk kebaikan saya dan keselamatan saya. Termasuk kembalinya akun IG saya.
Saran saya, hati-hati dalam menyikapi email yang masuk (termasuk DM dan inbox). Kadang si hacker ini mengaku dari manajemen Instagram dan Facebook. Jangan mudah terpancing. Biasakan mengecek email dari laptop, bukan HP. Lebih jelas siapa sender-nya kalau di laptop. Sekali lagi, laptop.
Saya tertipu waktu itu. Akhirnya yah kena hacked. Karena saya cepat melapor ke Instagram, akhirnya si hacker ini nggak bisa ngapa-ngapain dengan akun IG saya. Ini pelajaran buat kita semua, biar nggak kejadian lagi.
Ada yang nanya, "Mas Ippho WFH-nya gimana?"
Alhamdulillah, di tengah pandemi seperti ini, hari-hari saya tetap aktif dan produktif. Kemarin saya zoom seminar untuk PLN. Hari ini saya zoom seminar untuk publik. Biasanya saya dibantu sama istri.
Kajian? Di komunitas BP, alhamdulillah kami rutin menghadirkan ustadz-ustadz setiap hari. Begitulah. Di rumah bukannya nggak produktif. Bisa kok aktif dan produktif. Kami belajar, kami praktek. Learning dan earning. Saya harap teman-teman juga begitu.
Kembali saya mengingatkan, hati-hati dengan hacker dan penipuan online. Mereka tahu kita lagi di rumah aja. Mereka tahu kita lebih sering online. Ada baiknya kita pakai proteksi dua langkah (two step verification). Silakan dipelajari.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hari biasa, ada hacker.
Di tengah pandemi, mereka lebih gencar lagi.
Kok bisa? Karena dia tahu orang-orang pada di rumah dan online. Hati-hati.
Saya pun kena HACKED!
Lebih dari tiga minggu akun IG saya di-hack. Walhasil saya nggak bisa posting di IG sama sekali. Sementara, saya sudah terlanjur off dari FB dan Twitter selama satu tahun (walaupun follower saya di sana 3X dan 4X lebih banyak daripada di IG).
Ada bagusnya juga sih. Puasa socmed, hehehe. Kemarin, alhamdulillah akun IG saya pulih kembali, dibantu oleh seorang teman. Saya pun berjanji dalam hati untuk mem-posting sesuatu yang benar-benar manfaat dan menjauhi buang-buang waktu di IG.
Btw, terima kasih ya atas doa teman-teman. Saya sih yakin banget, doa dari teman-teman itu ngefek banget untuk kebaikan saya dan keselamatan saya. Termasuk kembalinya akun IG saya.
Saran saya, hati-hati dalam menyikapi email yang masuk (termasuk DM dan inbox). Kadang si hacker ini mengaku dari manajemen Instagram dan Facebook. Jangan mudah terpancing. Biasakan mengecek email dari laptop, bukan HP. Lebih jelas siapa sender-nya kalau di laptop. Sekali lagi, laptop.
Saya tertipu waktu itu. Akhirnya yah kena hacked. Karena saya cepat melapor ke Instagram, akhirnya si hacker ini nggak bisa ngapa-ngapain dengan akun IG saya. Ini pelajaran buat kita semua, biar nggak kejadian lagi.
Ada yang nanya, "Mas Ippho WFH-nya gimana?"
Alhamdulillah, di tengah pandemi seperti ini, hari-hari saya tetap aktif dan produktif. Kemarin saya zoom seminar untuk PLN. Hari ini saya zoom seminar untuk publik. Biasanya saya dibantu sama istri.
Kajian? Di komunitas BP, alhamdulillah kami rutin menghadirkan ustadz-ustadz setiap hari. Begitulah. Di rumah bukannya nggak produktif. Bisa kok aktif dan produktif. Kami belajar, kami praktek. Learning dan earning. Saya harap teman-teman juga begitu.
Kembali saya mengingatkan, hati-hati dengan hacker dan penipuan online. Mereka tahu kita lagi di rumah aja. Mereka tahu kita lebih sering online. Ada baiknya kita pakai proteksi dua langkah (two step verification). Silakan dipelajari.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Beliau adalah guru saya, Dr Syafii Antonio. Seorang pakar ekonomi syariah, yang telah diundang ke berbagai negara, termasuk ke Inggris. Dari segi bisnis, beliau pun sangat berhasil. Mengelola travel umrah, ensiklopedia, kampus dll. Sekian tahun yang lalu kami pertama kali berjumpa di pesawat menuju ke Dubai. Setelah itu, berbagai event kami adakan bersama. Dari beliau, bukan sekedar tingginya ilmu yang saya dapatkan, tapi juga mulianya akhlak. Selasa pagi, insya Allah kami akan IG live bersama. Simak ya...
IG saya alhamdulillah sudah pulih, namanya sama dengan nama channel ini, yakni @ipphoright