Pasir Timbul, salah satu spot menggemaskan di #RajaAmpat. Serasa private island
Sesuatu yang berat bukan berarti harus kita hindari. Terkadang harus kita hadapi.
Hidup adalah perjuangan. Berat? Mungkin. Tapi menariknya kita bisa memilih tim sehingga perjuangan tadi tidaklah terlalu berat. Bahkan insya Allah ada masa senang-senangnya.
Alhamdulillah, 3x saya ke #RajaAmpat, 2x bareng mitra-mitra. Ya, mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai penjuru Indonesia. Saya bangga sekali bisa bertemu dan bermitra dengan mereka.
Perjalanan begitu nyaman.
3x saya ke Raja Ampat, baru kali ini saya merasa hempasan ombaknya bener-bener minim. Begitu kami kelar foto-foto dan snorkling, barulah hujan turun, seolah-olah membasuh air laut di tubuh kami. Alhamdulillah.
Btw, kami menjalankan bisnis British Propolis. Alhamdulillah, di sini kita semua saling mendukung dan saling mendoakan. Hampir setiap hari mereka (mitra-mitra) mendapat bimbingan dari pusat. Dan mereka sungguh-sungguh belajarnya.
Tak heran banyak yang sukses.
Menurut data, negara-negara maju memiliki #wirausaha di atas 14%. Kita (Indonesia) sekarang ini angkanya masih 3,01%. Belum ideal memang. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendorong lahirnya pengusaha untuk turut membantu pembangunan negara.
Banyak orang yang akhirnya punya usaha dan sukses usahanya setelah dipertemukan dengan British Propolis. Apalagi modalnya sangat terjangkau. Memang sengaja saya rancang begitu agar bisa membantu banyak orang.
Satu lagi. Teman-teman tidak harus bermitra dengan saya. Bisnis-bisnis yang lain juga bagus. Yang penting, legal dan halal. Pastikan saja mentor-nya ada dan ekosistem-nya membuat kita bertumbuh. Semoga berkah berlimpah.
Hidup adalah perjuangan. Berat? Mungkin. Tapi menariknya kita bisa memilih tim sehingga perjuangan tadi tidaklah terlalu berat. Bahkan insya Allah ada masa senang-senangnya.
Alhamdulillah, 3x saya ke #RajaAmpat, 2x bareng mitra-mitra. Ya, mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai penjuru Indonesia. Saya bangga sekali bisa bertemu dan bermitra dengan mereka.
Perjalanan begitu nyaman.
3x saya ke Raja Ampat, baru kali ini saya merasa hempasan ombaknya bener-bener minim. Begitu kami kelar foto-foto dan snorkling, barulah hujan turun, seolah-olah membasuh air laut di tubuh kami. Alhamdulillah.
Btw, kami menjalankan bisnis British Propolis. Alhamdulillah, di sini kita semua saling mendukung dan saling mendoakan. Hampir setiap hari mereka (mitra-mitra) mendapat bimbingan dari pusat. Dan mereka sungguh-sungguh belajarnya.
Tak heran banyak yang sukses.
Menurut data, negara-negara maju memiliki #wirausaha di atas 14%. Kita (Indonesia) sekarang ini angkanya masih 3,01%. Belum ideal memang. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendorong lahirnya pengusaha untuk turut membantu pembangunan negara.
Banyak orang yang akhirnya punya usaha dan sukses usahanya setelah dipertemukan dengan British Propolis. Apalagi modalnya sangat terjangkau. Memang sengaja saya rancang begitu agar bisa membantu banyak orang.
Satu lagi. Teman-teman tidak harus bermitra dengan saya. Bisnis-bisnis yang lain juga bagus. Yang penting, legal dan halal. Pastikan saja mentor-nya ada dan ekosistem-nya membuat kita bertumbuh. Semoga berkah berlimpah.
Anda punya bisnis?
Menjual produk premium, berarti harus penampilan juga harus premium.
Jangan kucel.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Bagi pria, upayakan pakai kemeja. Disetrika. Terus, pakai minyak rambut. Sepatu? Jelas, ini lebih baik daripada sandal.
Bau badan? Jangan sampai.
Bukan soal salah atau benar, tapi ini soal penampilan yang lebih meyakinkan.
Ketika janjian, jangan telat. Datanglah lebih awal. Boleh juga ke toilet dulu, bersih-bersih. Sekali lagi, jangan kucel.
Jualan produk premium, yuk premiumkan penampilan kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Menjual produk premium, berarti harus penampilan juga harus premium.
Jangan kucel.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Bagi pria, upayakan pakai kemeja. Disetrika. Terus, pakai minyak rambut. Sepatu? Jelas, ini lebih baik daripada sandal.
Bau badan? Jangan sampai.
Bukan soal salah atau benar, tapi ini soal penampilan yang lebih meyakinkan.
Ketika janjian, jangan telat. Datanglah lebih awal. Boleh juga ke toilet dulu, bersih-bersih. Sekali lagi, jangan kucel.
Jualan produk premium, yuk premiumkan penampilan kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya lagi ngukur berapa besar minat teman-teman FB saya terhadap dunia bisnis. Bantu respons ya di sini...
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1995200363855489&id=144175158958028
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1995200363855489&id=144175158958028
Facebook
Log in or sign up to view
See posts, photos and more on Facebook.
Anda ganteng? Cantik?
Kalau tidak pun, itu oke-oke saja. Nggak masalah sama sekali.
Wajah rupawan secara fisik tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan finansial. Ya, tidak selalu. Penelitian terbaru mengungkapkan, orang-orang yang tidak menarik justru menghasilkan uang yang lebih banyak.
Apa iya?
Iya. Studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Business and Psychology. Tim periset adalah Satoshi Kanazawa dari Sekolah Ilmu Ekonomi dan Politik di London serta Mary Still dari Universitas Massachusetts di Boston.
Hasilnya, mereka yang 'sangat tidak menarik' malah mengantongi pendapatan rata-rata lebih tinggi. Ya, mengantongi pendapatan rata-rata lebih tinggi.
Kok bisa? Kenapa? "Ternyata, tidak rupawan menjadi sesuatu yang bisa memotivasi dan memaksa seseorang untuk mengembangkan kemampuannya. Maka dia akan bekerja lebih keras," ujar penulis Roy Cohen.
"Pada beberapa profesi, wajah cantik bahkan menjadi hambatan tersendiri (bagi kaum wanita)," papar Stefanie Johnson, peneliti dari UC Denver Business School, yang telah menghelat penelitian tentang gender dan bidang-bidang pekerjaan.
Terus, apa poinnya buat kita semua? Jangan terpaku pada rupawan atau kurang rupawan. Jangan. Bagaimanapun kerja keras jauh 'lebih berbunyi' daripada apapun. Betul apa betul?
Kalau kita berhasil pada suatu hal karena kerja keras, ini menjadi something yang sangat fair. Semua orang bisa menerimanya dan kita boleh bangga karenanya. Akan beda ceritanya kalau semata-mata karena rupawan.
Mari isi hari-hari kita dengan kerja keras. Semoga berkah berlimpah. Selamat beraktivitas teman-teman!
Kalau tidak pun, itu oke-oke saja. Nggak masalah sama sekali.
Wajah rupawan secara fisik tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan finansial. Ya, tidak selalu. Penelitian terbaru mengungkapkan, orang-orang yang tidak menarik justru menghasilkan uang yang lebih banyak.
Apa iya?
Iya. Studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Business and Psychology. Tim periset adalah Satoshi Kanazawa dari Sekolah Ilmu Ekonomi dan Politik di London serta Mary Still dari Universitas Massachusetts di Boston.
Hasilnya, mereka yang 'sangat tidak menarik' malah mengantongi pendapatan rata-rata lebih tinggi. Ya, mengantongi pendapatan rata-rata lebih tinggi.
Kok bisa? Kenapa? "Ternyata, tidak rupawan menjadi sesuatu yang bisa memotivasi dan memaksa seseorang untuk mengembangkan kemampuannya. Maka dia akan bekerja lebih keras," ujar penulis Roy Cohen.
"Pada beberapa profesi, wajah cantik bahkan menjadi hambatan tersendiri (bagi kaum wanita)," papar Stefanie Johnson, peneliti dari UC Denver Business School, yang telah menghelat penelitian tentang gender dan bidang-bidang pekerjaan.
Terus, apa poinnya buat kita semua? Jangan terpaku pada rupawan atau kurang rupawan. Jangan. Bagaimanapun kerja keras jauh 'lebih berbunyi' daripada apapun. Betul apa betul?
Kalau kita berhasil pada suatu hal karena kerja keras, ini menjadi something yang sangat fair. Semua orang bisa menerimanya dan kita boleh bangga karenanya. Akan beda ceritanya kalau semata-mata karena rupawan.
Mari isi hari-hari kita dengan kerja keras. Semoga berkah berlimpah. Selamat beraktivitas teman-teman!
Dalam berbisnis, saya mengajak dan mengajarkan mitra-mitra untuk aktif di FB dan IG.
Facebook (FB) adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai (baca: optimasi), bukan sekadar tahu, bukan sekadar aktif.
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Apalagi user IG lebih berdaya beli ketimbang user FB. Ya, lebih berdaya beli. Secara umum yah begitu.
Ini bukan selera. Mungkin saja Anda lebih suka Twitter atau socmed yang lainnya. Masalahnya pasar (saat ini) berada di FB dan IG. Akankah kita diam saja? Atau sekadar aktif tapi tidak teroptimasi? Duh, ini sayang sekali.
Saran saya, pastikan aktif, pastikan teroptimasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Facebook (FB) adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai (baca: optimasi), bukan sekadar tahu, bukan sekadar aktif.
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Apalagi user IG lebih berdaya beli ketimbang user FB. Ya, lebih berdaya beli. Secara umum yah begitu.
Ini bukan selera. Mungkin saja Anda lebih suka Twitter atau socmed yang lainnya. Masalahnya pasar (saat ini) berada di FB dan IG. Akankah kita diam saja? Atau sekadar aktif tapi tidak teroptimasi? Duh, ini sayang sekali.
Saran saya, pastikan aktif, pastikan teroptimasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kebayang, orang terkaya di dunia malah ngebahas nyamuk? Kebayang?
"In 2016, sharks killed four people in the entire world. Diseases spread by mosquitoes killed more than half a million people," ujar Bill Gates.
Hiu hanya membunuh 4 orang.
Nyamuk? Sekitar setengah juta orang.
Ya, jangan remehkan sesuatu yang kecil. Bukankah manusia sering tersandung dan terjatuh karena kerikil yang dianggap kecil? Sementara, batu-batu yang besar jarang sekali mengenai manusia.
Kita lihat dunia bisnis.
Komplen pelanggan, misalnya. Sering dianggap remeh. Dianggap kecil. Padahal, di zaman serba socmed seperti sekarang, setiap komplen bisa berdampak besar. Bahkan sangat besar.
Di sini kita dituntut untuk lebih peka dan lebih cepat (responsif). Keterlambatan dalam merespons bisa berdampak fatal. Ini berlaku dalam bisnis dan dalam banyak hal, sebenarnya. Sekali lagi, jangan remehkan sesuatu yang kecil.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"In 2016, sharks killed four people in the entire world. Diseases spread by mosquitoes killed more than half a million people," ujar Bill Gates.
Hiu hanya membunuh 4 orang.
Nyamuk? Sekitar setengah juta orang.
Ya, jangan remehkan sesuatu yang kecil. Bukankah manusia sering tersandung dan terjatuh karena kerikil yang dianggap kecil? Sementara, batu-batu yang besar jarang sekali mengenai manusia.
Kita lihat dunia bisnis.
Komplen pelanggan, misalnya. Sering dianggap remeh. Dianggap kecil. Padahal, di zaman serba socmed seperti sekarang, setiap komplen bisa berdampak besar. Bahkan sangat besar.
Di sini kita dituntut untuk lebih peka dan lebih cepat (responsif). Keterlambatan dalam merespons bisa berdampak fatal. Ini berlaku dalam bisnis dan dalam banyak hal, sebenarnya. Sekali lagi, jangan remehkan sesuatu yang kecil.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Infinity War, sudah nonton? Film fiksi nih.
Bagi saya, Iron Man 2, Iron Man 3, dan Avengers 1 jauh lebih seru ketimbang #InfinityWar. Yang ini seru? Tetap seru. Sekali lagi, tetap seru. Tapi begitulah. Don't expect too much. Itu saran saya.
Btw, siapa saja yang tewas kali ini? 🙄
Hampir semua orang kecele. Dalam 'Infinity War' (Part I) ini, hero-hero yang tewas tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Nggak ketebak.
Sebagai penonton di hari pertama, saya termasuk orang yang tidak bisa menebak. Yang jelas, Marvel akan memperkenalkan superhero baru di Infinity War berikutnya (Part II). Captain Marvel, namanya.
Jauh-jauh hari sebelumnya, di film Goosebumps telah disampaikan bahwa sebenarnya film itu cuma punya tiga bagian. Pertama, pendahuluan. Kedua, pertengahan. Ketiga, KEJUTAN. Cuma itu.
Lantas, apa hikmahnya buat kita? Begini. Kejutan menjadi sesuatu yang wajib dalam bisnis. Konsumen itu haus akan kejutan. Tak harus dengan produk baru. Namun kita bisa mengejutkan konsumen dengan iklan baru atau endorser baru.
Ya, sudah fitrahnya manusia menyukai kejutan. Dengan cara positif, tentunya. Kalau caranya sampai negatif, yah, jangan. Sekali lagi, mari selipkan kejutan demi kejutan dalam bisnis kita. Tidak harus mahal. Tidak harus besar-besaran.
Siap? Saya harap Anda siap.
Bagi saya, Iron Man 2, Iron Man 3, dan Avengers 1 jauh lebih seru ketimbang #InfinityWar. Yang ini seru? Tetap seru. Sekali lagi, tetap seru. Tapi begitulah. Don't expect too much. Itu saran saya.
Btw, siapa saja yang tewas kali ini? 🙄
Hampir semua orang kecele. Dalam 'Infinity War' (Part I) ini, hero-hero yang tewas tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Nggak ketebak.
Sebagai penonton di hari pertama, saya termasuk orang yang tidak bisa menebak. Yang jelas, Marvel akan memperkenalkan superhero baru di Infinity War berikutnya (Part II). Captain Marvel, namanya.
Jauh-jauh hari sebelumnya, di film Goosebumps telah disampaikan bahwa sebenarnya film itu cuma punya tiga bagian. Pertama, pendahuluan. Kedua, pertengahan. Ketiga, KEJUTAN. Cuma itu.
Lantas, apa hikmahnya buat kita? Begini. Kejutan menjadi sesuatu yang wajib dalam bisnis. Konsumen itu haus akan kejutan. Tak harus dengan produk baru. Namun kita bisa mengejutkan konsumen dengan iklan baru atau endorser baru.
Ya, sudah fitrahnya manusia menyukai kejutan. Dengan cara positif, tentunya. Kalau caranya sampai negatif, yah, jangan. Sekali lagi, mari selipkan kejutan demi kejutan dalam bisnis kita. Tidak harus mahal. Tidak harus besar-besaran.
Siap? Saya harap Anda siap.