Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Saat bertemu guru, baiknya kita bukan sekadar berguru. Cobalah berkhidmat kalau perlu.

Di Tiongkok, terhadap guru Kung Fu, para murid bersikap begitu. Di pesantren, terhadap kyai dan ustadz, para santri bersikap begitu. Berkhidmat, ini budaya yang sangat bagus dan perlu ditiru.

Saya sering berpesan, "Mesti sungguh-sungguh ketika melayani tamu atau guru. Jangan biarkan mereka menunggu." Aktif dan proaktiflah sepanjang waktu.

#Berkhidmat ada tiga caranya. Dengan tenaga, harta, dan doa. Kalau dipakai semuanya, tentu ini lebih baik. Sekiranya belum bisa semuanya, niatkan dan ikhtiarkan. Insya Allah pelan-pelan akan dimampukan.

Ibnu Abbas ketika masih kecil berkhidmat dengan tenaga kepada Nabi, lalu Nabi mendoakan kecerdasan kepada Ibnu Abbas. Sekarang, kita mengenal Ibnu Abbas sebagai sahabat yang kuat daya ingatnya dan cerdas.

Guru pada umumnya tidak minta dihormati oleh muridnya. Namun, orang yang beradab dan sadar bahwa dirinya seorang murid harus tahu diri untuk menghormati gurunya. Right?

Lagi pula, berkhidmat ini penuh keberkahan. Fakhruddin al-Arsabandi, saat tenar dan berkuasa, mengungkapkan rahasia suksesnya, "Aku mendapatkan kedudukan yang mulia ini karena berkhidmat kepada guruku."

Mari diterapkan. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lahir di Jerman, Nouman Ali Khan salah satu ulama muda paling menonjol saat ini dan masuk dalam 500 most influential muslims in the world.

Nouman dikenal sebagai profesor di bidang tafsir, yang kemudian mendirikan Bayyinah Institute, sebuah pusat studi di Amerika Serikat.

Kemampuannya menyederhanakan analisa-analisa terkait Alquran disertai dengan bahasa yang lugas berhasil membius setiap peserta untuk fokus memperhatikan ceramahnya.

Menariknya, awal Mei 2018 beliau akan hadir dan berceramah di Indonesia. Insya Allah. Teman-teman silakan mendaftar. Free >> http://www.UstadNouman.com
Saya menganjurkan orang-orang untuk berkuda. Setidaknya, setahun sekali. Syukur-syukur kalau bisa rutin seminggu sekali.

Di sini perlu keberanian, ketenangan, dan pengendalian diri. Kuda tidak suka ditunggangi oleh orang yang cemas. Dan kuda bisa tahu apakah penunggangnya cemas atau tidak. Ini fakta, bukan mitos.

Umar bin Khattab telah mewajibkan penduduk Syam supaya mengajar anak-anak mereka berenang, dan memanah, dan menunggang kuda. Pastilah ini bukan pekerjaan sia-sia atau sekadar mengisi waktu luang.

''Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah," pesan Nabi.

''Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda)," pesan Nabi.

Gimana dengan mengendarai mobil dan motor? Tentu saja ini perlu dan kita harus mampu. Tapi, ini sama sekali tidak menggantikan hikmah dan manfaat dari berkuda.

Dari segi kesehatan, berkuda bisa menjadi obat untuk berbagai penyakit atau masalah kesehatan. Seperti autis dan sakit jantung. Juga dapat menghilangkan sakit kepala, sakit pinggang, dan stress.

Sekali lagi, cobalah untuk berkuda. Setidaknya, setahun sekali. Kalau rutin seminggu sekali, tentu ini lebih baik. Semoga sehat, berkah, dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Be healthy, be wealthy!
Anda tahu brand Hermes? Merek tas yang satu ini tak diragukan lagi mewahnya. Saya sempat kaget pas tahu ada tas Birkin dari Hermes yang dipasangi titanium dan 2.000 berlian! Lebih kaget lagi pas tahu harganya yaitu Rp 26 miliar!

Untuk itukah kekayaan? Megah-megahan dan gagah-gagahan? Tentu saja tidak.

Bagi saya, kaya itu BUKAN soal akumulasi harta, melainkan soal distribusi harta. Hendaknya begitu. Dengan kata lain, yang dipikirkan itu sesama, bukan dirinya dan keluarganya saja. Manfaat, manfaat, manfaat.

Terus, gimana dengan kebahagiaan?

Miskin, bahagia. Kaya, bahagia. Tapi kalau kaya, kita bisa membahagiakan orang banyak. Right? Bikin berbagai program sosial, mulai dari sekolah, klinik, rumah sakit, rumah ibadah, sport centre, dll. Maka, niatkan untuk kaya. Niatkan, ikhtiarkan!

Bagi saya, kaya BUKAN untuk megah-megahan dan gagah-gagahan. Barang-barang, silakan beli dan pakai seperlunya. Untuk diri kita dan keluarga kita. Setelah itu? Hendaknya yang menjadi fokus adalah kebermanfaatan untuk sesama. Sesuatu yang lebih luas dan lebih mulia.

Saya harap Anda setuju dengan saya.
Anda sudah menikah? Peneliti di Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat, menghelat survei terhadap 163 pasangan suami-istri. Hasilnya?

Menarik. Ternyata, pasangan yang saling mendukung cenderung lebih baik dalam menghadapi tantangan-tantangan dan cenderung #LebihSukses.

Laporan American Enterprise Institute menunjukkan, pria yang telah menikah cenderung bekerja lebih banyak 400 jam dalam setahun, ketimbang pria lajang dengan latar belakang yang sama. Rupanya, pria yang telah menikah lebih bisa diandalkan.

Satu lagi. Riset yang dihelat oleh para peneliti di Universitas Washington menyimpulkan, kinerja seseorang sangat dipengaruhi oleh dukungan pasangan mereka. Tidak main-main, para peneliti menilai reaksi-reaksi dari 4.544 pasangan yang telah menikah.

Kesimpulannya, apakah pernikahan itu menyukseskan? Hm. Tepatnya, pernikahan yang selaras dan saling mendukung. Bukan sekadar pernikahan. Kalau pasangannya bertengkar satu sama lain, tentu kita sama-sama tahu bagaimana dampaknya. Bad. Very bad.

Selaras dan saling mendukung, inilah yang utama. Insya Allah menentramkan dan menyukseskan. Yuk kita terapkan. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Selama 10 tahun terakhir, perekonomian Indonesia tumbuh dua kali lipat dan kini mencapai volume 932 miliar dolar AS. Di satu sisi, ini relatif bagus.

Namun di sisi lainnya, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, Indonesia masih tertinggal jauh dalam pembangunan infrastruktur dan pemerataan ekonomi.

Sementara itu, 28 juta penduduknya masih hidup dalam kemiskinan. Apabila dicermati secara mendalam, perekonomian Indonesia belum benar-benar bangkit secara riil.

Ya, ketimpangan ekonomi masih jadi isu utama.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, mengakui pemerintah masih sulit menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Pendistribusian beras sejahtera (rastra) pun terhitung lambat, menurut Kepala BPS.

Menyikapi fakta pahit ini, menurut saya kita perlu mencetak lebih banyak lagi pengusaha yang pro rakyat (pro umat). Ini demi mengurangi ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi tadi.

Mungkinkah? Sangat mungkin. Diharapkan, awalnya terbuka lapangan kerja dan akhirnya terjadi distribusi kekayaan. Memang ini tidak hadir seketika. Barangkali perlu 2 sampai 3 generasi.

Satu lagi. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Masing-masing kita hendaknya berkontribusi. Pada akhirnya, jadilah pengusaha. Yang pro rakyat, tentunya.

Mulai dari diri kita, mulai dari keluarga kita. Pelan-pelan. Semoga kita semua dimampukan, aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Btw, saya lagi survey, berapa follower saya di Telegram yang pernah baca buku saya...

Yang sudah pernah dan belum pernah, tentu perlu pendekatan berbeda. Ya, berbeda...

Ini menjadi bahan pertimbangan bagi saya dalam menyusun konten. Biar lebih pas...

Sudah apa belum, tolong komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/Bhcww9sB6eh/
Nouman Ali Khan segera hadir di Jakarta. Untuk hadir di acaranya, silakan mendaftar di www.UstadNouman.com
Malaikat Jadi Buzzer

😍😍😍

Kerja itu ibadah. Begitu pula dengan bisnis, sama-sama ibadah. Dengan pemahaman seperti ini, tentunya yang menjadi prioritas adalah ridha Allah. Bukan rupiah. Teman-teman setujukah?

Alhamdulillah, sejak lama saya diajarkan oleh guru-guru saya tidak saja soal kaya, tapi juga soal taqwa. Justru taqwa inilah yang pertama dan utama. Kaya tanpa taqwa, yah bisa bahaya. Bagi dirinya juga sesama.

Boleh dibilang, kerja dan bisnis adalah ibadah yang sifatnya umum. Sementara itu, berbagi kepada sesama dan berbakti kepada orangtua adalah ibadah yang sifatnya khusus. Sekelompok orang menyebutnya amal ibadah.

Begini. Dalam beramal, jangan selalu ingin diketahui dan dilihat. Baiknya sembunyikan sebagian amal-amal kita. Sebagian? Ya, sebagian. Istilah saya, "1 amal disampaikan sebagai syiar, inspirasi, dan motivasi. 9 amal dirahasiakan."

Buatlah malaikat di sebelah kanan sibuk mencatat amal-amal kita. Malaikat di sebelah kiri? Dibikin nganggur, hehehe. Jadi, kalaupun orang-orang tidak tahu, nggak masalah. Malaikat tahu, Allah tahu, itu sudah lebih dari cukup.

Menariknya, dengan izin Allah, malaikat ini akan memberitahu malaikat-malaikat yang lain. Nama kita disebut-sebut di kalangan malaikat. Dicatat. Akhirnya nama kita jadi viral di langit dan perbuatan kita jadi trending topic di akhirat. Masya Allah.

Hm, apa bisa sampai seperti itu? Ya bisa. Karena yang jadi buzzer-nya adalah para malaikat. Bahkan pelan-pelan penduduk langit ini akan memberitahu perbuatan kita tersebut kepada penduduk bumi.

Uwais Al Qarni, salah satu contohnya. Dan ini adalah kisah nyata, bukan fiktif.

Sekali lagi:
1 amal terang-terangan
9 amal diam-diam
yang diam-diam itu jadi bekal

Pada akhirnya, mari kita jaga keikhlasan kita dalam beramal. Saling mendoakan ya, mudah-mudahan kita semua dimampukan Allah agar bisa mencapai keikhlasan. Benar-benar ikhlas.

Serunya lagi, saat kita berusaha menjaga amal, maka amal itu akan 'menjaga' kita. Urusan-urusan dimudahkan. Kerja dan bisnis jadi ringan. Negosiasi lebih cepat. Prospek langsung closing. Dan masih banyak lagi. Termasuk masalah-masalah di rumah tangga.

Kalau boleh, tulisan ini mohon disimak sungguh-sungguh. Baca ulang, lebih baik. Boleh juga di-share kepada keluarga dan kerabat kita. Saling mengingatkan satu sama lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hari ini ibu saya milad. Senang sekali kalau teman-teman turut mendoakan...

Alhamdulillah. Tadi pagi saya bikin postingan soal milad ini >> https://www.instagram.com/p/Bhh78mfhrZp/
Yang halal, dihisab.
Yang haram, diazab.
Ada pertanggungjawaban.
Hati-hati soal harta.

Demikian pula dengan ilmu. Akan dihisab. Dengan kata lain, ada pertanggungjawaban. Maka, hati-hati soal ilmu.

Segala ilmu yang baik-baik dan nyata manfaatnya hendaknya disampaikan kepada yang lain. Seluas-luasnya. Jangan didiamkan begitu saja.

Selama 3 tahun terakhir, 80% seminar saya konsepnya sudah charity alias sosial. Peserta tetap bayar, tapi saya-nya tidak dibayar. Kok nggak gratis saja? Kan berbagi ilmu? Kalau peserta digratiskan, kemungkinan besar mereka kurang serius.

Berdasarkan pengalaman saya selama 10 tahun berseminar, lebih baik peserta tetap bayar terus uang tiketnya saya donasikan. Dengan berbayar, dijamin mereka akan lebih serius.

Kalau peserta nggak punya uang, gimana? Yah sudah, kerahkan tenaga. Bantu panitia mendapatkan 5 peserta berbayar. Bukan memelas, berharap dikasihani.

Meski kadang melelahkan dan tidak ada uangnya, kenapa saya masih mengadakan seminar ini-itu, bahkan secara rutin? Saya ingin melihat perubahan, pada setiap peserta.

Begitu mereka berubah, rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri yang tak bisa diukur dengan uang.

Juga saya ingin kesibukan saya dalam seminar (baca: berbagi ilmu) menjadi amal jariyah buat almarhum papa saya serta almarhum kakek-nenek saya.

Meski tak seberapa, tentu rasanya melegakan saat kita tahu bahwa ada pahala yang mengalir buat orangtua manakala si anak berusaha berbuat baik dan mengajarkan ilmu.

Doakan saya, semoga niat saya tetap terjaga. Demikian pula panitia, kita doakan juga. Mudah-mudahan membawa keberkahan dan keberlimpahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kembali saya ke Raja Ampat. Kali ini bareng mitra-mitra British Propolis, alhamdulillah.
Sudah 3x berpose di sini, tetap happy hehehe. Presiden Jokowi juga pernah berfoto di sini