Manhajul Anbiya
12K subscribers
2.07K photos
238 videos
224 files
5.48K links
الدعوة إلى الله على بصيرة
Dakwah ke Jalan Allah di atas Bashirah

Admin:
Ustadz Muhammad Baraja,
Abu Sumayyah Firman

Pembina:
Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc,
Ustadz Ahmad Alfian
Download Telegram
🌅 Obat Kebodohan adalah Bertanya Kepada Ulama

#AdabAkhlak

✍🏻 Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

"دواء العي السؤال.
وهذا يعم أدواء القلب والروح والبـدن وأدويتهـا.
وقد جعل النبي ﷺ الجهل داء، وجعل دواءه سؤال العلماء."

"Obat penyakit kebodohan adalah bertanya.

Ini bersifat umum meliputi penyakit hati, jiwa hingga penyakit badan. Demikian juga dengan obat yang menyembuhkannya.

Nabi ﷺ telah menjadikan kejahilan (kebodohan) sebagai penyakit. Kemudian beliau menjadikan obatnya adalah bertanya kepada para ulama."

📗 [Ad-Daa' Wa ad-Dawaa' hal. 17]

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~
WAJIB BERTAUHID.pdf
1.1 MB
Buletin Dakwah Virtual | Wajib Mentauhidkan Allah 'Azza wa Jalla Dalam Ibadah
Buletin Dakwah Virtual | Wajib Mentauhidkan Allah 'Azza wa Jalla Dalam Ibadah
Buletin Dakwah Virtual | Wajib Mentauhidkan Allah 'Azza wa Jalla Dalam Ibadah
Buletin Dakwah Virtual | Wajib Mentauhidkan Allah 'Azza wa Jalla Dalam Ibadah
Buletin Dakwah Virtual | Wajib Mentauhidkan Allah 'Azza wa Jalla_ Dalam Ibadah
📚📝🔍 KETEKUNAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU

#AdabAkhlak

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

"وللسلف الصالح قضايا مشهورة في المثابرة على طلب العلم حتى أنه يروى عن ابن عباس رضي الله عنه أنه سئل بما أدركت العلم ؟ قال : بلسان سؤل، وقلب عقول، وبدن غير مثول ، وعنه ـ أيضاً ـ رضي الله عنه ـ قال : « . . . إن كان ليبلغني الحديث عن الرجل فأتي بابه ـ وهو قائل ـ ، فأتوسد ردائي على بابه ، تسـفـر الريح علي من التراب ، فيخرج فـيـقـول : يا ابن عم رسول الله مـا جاء بك ؟ ألا أرسلت إلى فأتيك ؟ فأقول : أنا أحق أن أتيك ، فأسأله عن الحديث . . . » . فابن عباس ـ رضي الله عنه ـ تواضع للعلم فرفعه الله به.

"Salafus shalih memiliki kisah-kisah yang masyhur tentang ketekunan dalam mencari ilmu.

Sampai-sampai diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau ditanya: 'Dengan apa engkau peroleh ilmu?' Beliau menjawab: "Dengan lisan yang suka bertanya, dengan hati yang mau berpikir, dan dengan badan yang tidak malas."

Ibnu Abbas juga berkata:
"Pernah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang (Seorang sahabat Nabi). Aku pun mendatangi rumahnya, dan saat itu dia sedang istirahat siang. Maka aku hamparkan rida' (selendang)ku di depan pintu rumahnya, anginpun menerbangkan debu-debu menerpaku. Kemudian Shahabat itu keluar dan berkata: "Wahai anak paman Rasulullah ada hajat apa engkau datang? Kenapa tidak kau utus orang kepadaku sehingga aku bisa datang kepadamu Aku berkata: "Aku lebih berhak untuk mendatangimu" Maka aku tanyakan kepadanya tentang hadits itu."

Lihatlah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bersikap tawadhu' terhadap ilmu, maka Allah mengangkat derajatnya dengan sebab hal tersebut."

📙 [Kitabul Ilmi hlm. 61]

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~
👍2💯1
📗🍓 HARUSKAH MENGQADHA KEWAJIBAN YANG DITINGGALKAN KARENA BODOH ATAU TIDAK TAHU?

#Fatwa

🪶 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
(Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa, Ketua Lembaga Ulama Senior Arab Saudi)

السؤال:
علي صلاة بسبب تسقيط جنين عمره سبعة أسابيع، لم أصل جهلا مني؛ لأنني اعتبرت أنه نفاس، وكيف القضاء وتركت الصلاة لمدة نصف شهر لا أدري أكثر أو أقل هل يجوز أن أصلي في منى صلاتين التي علي من قبل ثلاث سنوات والصلاة الواجبة؟

الجواب:
إذا كان الجنين قد بان فيه علامة الإنسان من يد أو رجل فهو نفاس، وإن كان ما بان فيه شيء إنما هو دم فقط، فالمرأة تصلي وتتحفظ بحفائظ وتتوضأ لكل صلاة وتصلي، وإن قضيت هذا احتياطا، وإلا إن شاء الله ليس عليك شيء لأنك تركتها لشبهة تظنين ليس عليك شيء، والنبي -صلى الله عليه وسلم- ما أمر المستحاضات اللواتي تركن الصلوات لشبهة ما أمرهن بالقضاء، ولم يأمر الأعرابي الذي ينقر الصلاة ما أمره أن يقضي الأيام الماضية لجهله، وإن قضيتها فلا بأس، ولكن لا يلزمك ذلك، لأنك جاهلة، وإن كان فيه علامة إنسان؛ لأنه في الطور الثالث قد يكون فيه يد أو رجل، في الأربعين الثالثة قد يبين فيه يد أو رجل أو رأس يكون نفاسا، لا تصلي ولا تصومي، والمقصود أنه ليس عليك قضاء؛ لأجل الشبهة، وإنما عليك التوبة والحرص في المستقبل.

📗 (مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ بن باز ج ٢٩ ص ١٣٠ - ١٣١)

Pertanyaan:
Saya memiliki tanggungan shalat karena keguguran ketika janin berumur 7 minggu. Saya pun tidak shalat disebabkan kejahilan saya. Karena waktu itu saya menganggap darah yang keluar (pasca keguguran) adalah darah nifas.
Maka bagaimanakah cara mengqadhanya? Sementara ketika itu saya telah meninggalkan shalat dalam rentang waktu setengah bulan, entah lebih atau kurang. Apakah diperkenankan bagi saya yang sedang di Mina untuk menunaikan shalat-shalat yang saya tinggalkan 3 tahun yang lalu, sedangkan shalat hukumnya adalah wajib?

🧾 Jawaban:
Apabila ketika itu janin (yang keguguran) telah tampak bentuk tubuh manusia berupa tangan atau kaki, maka (darah yang keluar) teranggap darah nifas.

➡️ Adapun jika janin tersebut belum tampak bentuk tubuh manusia sedikitpun, maka itu teranggap darah biasa saja. (Dalam kondisi demikian) seorang wanita tetap wajib mengerjakan shalat dan hendaknya dia memakai pembalut (untuk menahan darah tersebut) serta (disyariatkan) baginya untuk berwudhu pada setiap shalat.

Jika engkau mengqadha shalatmu dalam rangka berhati-hati (maka yang demikian boleh, pen), walaupun _insyaAllah_ sebenarnya tidak ada kewajiban bagimu untuk mengqadhanya, karena engkau meninggalkan shalat tersebut karena ada sebuah kerancuan dibenakmu, yaitu engkau mengira bahwa yang demikian tidak mengharuskan untuk shalat.

Terhadap para wanita (dari kalangan shahabat) yang mengalami istihadhah dan meninggalkan shalat karena sebuah kerancuan di benak mereka (yaitu karena mengira bahwa istihadhah mengharuskan tidak shalat, pen), maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun tidak memerintahkan mereka untuk mengqadha shalat.

Begitu juga seorang badui yang shalatnya seperti ayam yang mematuk (karena gerakan shalatnya yang begitu cepat, pen) beliau pun tidak memerintahkannya untuk mengqadha shalatnya di masa lampau karena kejahilannya.

Sehingga (sekali lagi) jika engkau ingin mengqadhanya maka yang demikian tidak mengapa, namun itu tidak wajib atasmu. Karena engkau tidak tahu.

Namun jika saat keguguran, janin tersebut sudah tampak bentuk manusia, karena sudah masuk pada fase ketiga (dari perkembangan janin dalam kandungan, pen) baik berupa bentuk tangan, kaki ataupun kepala. Sebagaimana diketahui, pada fase perkembangan janin di periode 40 hari yang ketiga mulai terbentuk wujud tangan, kaki atau kepala janin. Maka jika terjadi keguguran pada masa tersebut, darah yang keluar teranggap darah nifas. Jika kondisinya demikia, maka engkau tidak boleh shalat dan berpuasa.
👍1
Maksud dari penjelasan ini semua, bahwa tidak ada kewajiban atasmu untuk mengqadha, karena adanya kerancuan padamu. Hanyalah yang diwajibkan atas engkau sekarang adalah bertaubat (atas kejahilan tersebut) dan bersungguh-sungguh untuk lebih memperhatikan hal-hal yang demikian dimasa mendatang.

📘 [Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 29/130-131]

📝 Catatan:
Ini juga pendapat yang dipegang oleh Syeikhul lslam lbnu Taimiyah (Lihat Majmu Fatawa 22/101-102) dan Asy-Syaikh lbnul Utsaimin (lihat Liqoaatil Bab al-Maftuh, kaset no 79)

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~
👍1
Live stream scheduled for
Live stream started
Live stream finished (1 hour)
🛑 HASAD/DENGKI

#AdabAkhlak

🎙Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

الحسد هو كراهة ما أنعم الله على العبد، وليس هو تمني زوال نعمة الله على الغير، بل هو مجرد أن يكره الإنسان ما أنعم الله به على غيره فهذا هو الحسد سواء تمنى زواله أو أن يبقى ولكنه كاره له.
كما حقق ذلك شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله فقال: ((الحسد كراهة الإنسان ما أنعم الله به على غيره ))

▪️“Hasad adalah benci / tidak senang terhadap apa yang telah Allah karuniakan kepada seorang hamba. Hasad bukan menginginkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain, bahkan sebatas seorang tidak suka atau benci terhadap apa yang telah Allah berikan terhadap orang lain maka inilah hasad sama saja apakah ia menginginkan hilangnya atau tidak, tetapi ia tidak suka nikmat itu diberikan pada orang lain.

📍Sebagaimana telah ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: beliau katakan, “Hasad adalah seorang tidak suka / benci terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain.”

📚 [Kitab aI-Ilmi hlm. 71]

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~
👍1
💐 KABAR GEMBIRA

#InfoKajian

📻 Ikuti kajian ilmiah bersama Masyaikh Ahlus Sunnah

📘 Dars "Syarah Kitab al-Adabul Mufrad"

💺 bersama Fadhilah asy-Syaikh DR. Khalid bin Qasim ar-Radady hafizhahullah

☄️ Malam ini pukul 19:40 WIB (Insyaallah)

dan

📘 Dars "Syarah al-Ushul as-Sittah"

💺 Fadhilah asy-Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah

☄️ Malam ini pukul 21:50 WIB (Insyaallah)

-------------------
📡 Disiarkan LIVE (Langsung) di:
Radio Miraath 1: Miraath.net/radio/1
-------------------

📡 Disiarkan relay di:*"

📻 Radio Minhajul Atsar 1:**
http://radiosalafy.com/atsar
(versi web)

📥 Atau download aplikasinya di:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.minhajul.atsar

📻 Radio Manhajul Anbiya via Aplikasi Radio Syariah.
Buletin Dakwah Virtual 2 | Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar | hal. 1
Buletin Dakwah Virtual 2 | Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar | hal. 2
Buletin Dakwah Virtual 2 | Wajib Berilmu, Beramal, Berdakwah, dan Bersabar | hal. 3