matnul dawrah_revisi.pdf
12.9 MB
Mutun Daurah Ilmiah "Masjid Jami Amirul Mukminin Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhuma" ke-7
🌿 Hafrul Bathin - Arab Saudi
22-27 Rabiul Akhir 1443 H
meliputi:
1- Syarh as-Sunnah li al-Muzani
2- al-Arbaun fi al-Ahkam li al-Mundziri
3- Risalah Syaikh al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab ila Ahli al-Qashim
4- Manzhumah Manhaj al-Haq fi al-Haq li as-Sa'di
5- Adab Thalib al-Ilmi wa Wajibuhu Nahwa Wathanihi
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
🌿 Hafrul Bathin - Arab Saudi
22-27 Rabiul Akhir 1443 H
meliputi:
1- Syarh as-Sunnah li al-Muzani
2- al-Arbaun fi al-Ahkam li al-Mundziri
3- Risalah Syaikh al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab ila Ahli al-Qashim
4- Manzhumah Manhaj al-Haq fi al-Haq li as-Sa'di
5- Adab Thalib al-Ilmi wa Wajibuhu Nahwa Wathanihi
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
::
📬 ADA APA DENGAN “MAYORITAS”?
Bagian Kedua
Rubrik: #manhaj #rudud #haddadiyah #mushofiqoh
Pada bab dan hadits yang sama, di dalam kitab “I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid” salah satu ulama terkemuka zaman ini al-’Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah juga mengingatkan kita semua dari bahaya sikap menjadikan “Mayoritas” sebagai pedoman dalam bersikap dan mencari kebenaran.
Mari kita simak bersama penjelasan beliau dengan penuh harapan hidayah dan taufiq dari Allah untuk bisa mengamalkannya.
Beliau hafizhahullah berkata :
فهذا فيه دليل على أنه لا يُحتج بالكثرة، وإنما يُحتج بمن كان على الحق، ومعه الدليل، ولو كانوا قليلين، ولو كان شخصاً واحداً. فمن كان على الحق، ومعه دليل من كتاب الله وسنّة رسوله، فهذا هو الذي يُؤخذ بقوله ويُقتدى به. أما من خالف الدليل فلا عبرة به حتى ولو كانوا كثرة.
"Maka dalam hadits ini terdapat dalil bahwa jumlah (pengikut) yang banyak (mayoritas) tidak boleh dijadikan hujjah (untuk menentukan kebenaran), tetapi yang dijadikan hujjah adalah orang yang berada di atas al-haq, dan yang memiliki dalil walaupun jumlah mereka sedikit, bahkan walaupun seorang diri.
Barang siapa di atas al-haq dan memiliki dalil dari al-Quran dan sunnah Rasul-Nya, maka dialah yang boleh diambil pendapatnya dan diteladani. Adapun orang yang menyelisihi dalil maka tidak boleh diperhitungkan walaupun jumlah mereka banyak.
والله تعالى يقول في نوح: {وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آَمَنَ وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ } [هود: 40]
Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam (yang artinya):
“Kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” [Hud : 40]
ويقول: { وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ } [يوسف: 103]
Allah juga berfirman (yang artinya):
”Dan sebahagian besar (mayoritas) manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” [Yusuf: 103]
ويقول جل وعلا: {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ} [الأنعام: 116]
Dan Allah Jalla wa ‘Ala berfirman (yang artinya):
”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [al-An’am: 116]
فالكثرة ليست هي الضابط في إصابة الحق، ولا يُغتر بها، فربما تكون الكثرة على الباطل. إنما إذا اجتمع الكثرة مع إصابة الحق، فهذا طيّب، أما إذا كانت كثرة بدون حق فلا،
Maka jumlah (pengikut) yang banyak bukanlah pedoman untuk memperoleh kebenaran, dan jangan teperdaya dengannya, bisa saja jumlah yang banyak (mayoritas) ternyata berada di atas kebatilan.
📬 ADA APA DENGAN “MAYORITAS”?
Bagian Kedua
Rubrik: #manhaj #rudud #haddadiyah #mushofiqoh
Pada bab dan hadits yang sama, di dalam kitab “I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid” salah satu ulama terkemuka zaman ini al-’Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah juga mengingatkan kita semua dari bahaya sikap menjadikan “Mayoritas” sebagai pedoman dalam bersikap dan mencari kebenaran.
Mari kita simak bersama penjelasan beliau dengan penuh harapan hidayah dan taufiq dari Allah untuk bisa mengamalkannya.
Beliau hafizhahullah berkata :
فهذا فيه دليل على أنه لا يُحتج بالكثرة، وإنما يُحتج بمن كان على الحق، ومعه الدليل، ولو كانوا قليلين، ولو كان شخصاً واحداً. فمن كان على الحق، ومعه دليل من كتاب الله وسنّة رسوله، فهذا هو الذي يُؤخذ بقوله ويُقتدى به. أما من خالف الدليل فلا عبرة به حتى ولو كانوا كثرة.
"Maka dalam hadits ini terdapat dalil bahwa jumlah (pengikut) yang banyak (mayoritas) tidak boleh dijadikan hujjah (untuk menentukan kebenaran), tetapi yang dijadikan hujjah adalah orang yang berada di atas al-haq, dan yang memiliki dalil walaupun jumlah mereka sedikit, bahkan walaupun seorang diri.
Barang siapa di atas al-haq dan memiliki dalil dari al-Quran dan sunnah Rasul-Nya, maka dialah yang boleh diambil pendapatnya dan diteladani. Adapun orang yang menyelisihi dalil maka tidak boleh diperhitungkan walaupun jumlah mereka banyak.
والله تعالى يقول في نوح: {وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آَمَنَ وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ } [هود: 40]
Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam (yang artinya):
“Kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” [Hud : 40]
ويقول: { وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ } [يوسف: 103]
Allah juga berfirman (yang artinya):
”Dan sebahagian besar (mayoritas) manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” [Yusuf: 103]
ويقول جل وعلا: {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ} [الأنعام: 116]
Dan Allah Jalla wa ‘Ala berfirman (yang artinya):
”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [al-An’am: 116]
فالكثرة ليست هي الضابط في إصابة الحق، ولا يُغتر بها، فربما تكون الكثرة على الباطل. إنما إذا اجتمع الكثرة مع إصابة الحق، فهذا طيّب، أما إذا كانت كثرة بدون حق فلا،
Maka jumlah (pengikut) yang banyak bukanlah pedoman untuk memperoleh kebenaran, dan jangan teperdaya dengannya, bisa saja jumlah yang banyak (mayoritas) ternyata berada di atas kebatilan.
Hanya saja jika jumlah yang banyak tersebut bersamaan dengan perolehan kebenaran maka hal itu baik, namun apabila jumlah (pengikut) yang banyak tanpa disertai al-Haq (dalil atau hujjah) maka sungguh tidak (bukan kebaikan).
ولا يُزَهِّدُنا في الحق قلّة أتباعه، لأن بعض الناس اليوم إذا نُبّه على خطأ يقول: هذا عليه أكثر الناس…
Dan janganlah kita mengabaikan al-haq karena sedikit (minoritas)nya jumlah pengikut al-haq tersebut, karena sebagian manusia pada masa ini jika diperingatkan dari sebuah kesalahan (penyimpangan) dia (menolak dengan) menjawab: “Perkara ini adalah (keyakinan) mayoritas orang..."
ويجب على المسلم أنه يتبع الحق، ولا يكابر بكثرة من خالفه أو جانبه، نبي من أنبياء الله ليس معه إلاَّ دون عشرة، ونبي من أنبياء الله ليس معه إلَّا رجل أو رجلان، ونبي من أنبياء الله ليس معه أحد.
Wajib atas seorang muslim untuk mengikuti al-haq dan tidak menolaknya disebabkan banyaknya orang yang menyelisihi atau menjauhi al- haq tersebut. Ada seorang nabi dari nabi-nabi Allah tidak memiliki pengikut kecuali kurang dari sepuluh orang pengikut, ada pula seorang nabi dari nabi-nabi Allah tidak memiliki pengikut kecuali satu atau dua orang, bahkan seorang nabi dari nabi-nabi Allah tidak memiliki seorang pengikut pun.
نسأل الله أن يوفقنا وإيّاكم لقول الحق والعمل به، ومخالفة الهوى والنفس والشيطان. اهـــــ
Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiq kepada kami dan kalian untuk (berkata) dengan perkataan yang haq (benar) dan beramal dengannya, serta (diberi taufiq) untuk menyelisihi hawa nafsu dan Syaithan." -selesai-
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9737
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
ولا يُزَهِّدُنا في الحق قلّة أتباعه، لأن بعض الناس اليوم إذا نُبّه على خطأ يقول: هذا عليه أكثر الناس…
Dan janganlah kita mengabaikan al-haq karena sedikit (minoritas)nya jumlah pengikut al-haq tersebut, karena sebagian manusia pada masa ini jika diperingatkan dari sebuah kesalahan (penyimpangan) dia (menolak dengan) menjawab: “Perkara ini adalah (keyakinan) mayoritas orang..."
ويجب على المسلم أنه يتبع الحق، ولا يكابر بكثرة من خالفه أو جانبه، نبي من أنبياء الله ليس معه إلاَّ دون عشرة، ونبي من أنبياء الله ليس معه إلَّا رجل أو رجلان، ونبي من أنبياء الله ليس معه أحد.
Wajib atas seorang muslim untuk mengikuti al-haq dan tidak menolaknya disebabkan banyaknya orang yang menyelisihi atau menjauhi al- haq tersebut. Ada seorang nabi dari nabi-nabi Allah tidak memiliki pengikut kecuali kurang dari sepuluh orang pengikut, ada pula seorang nabi dari nabi-nabi Allah tidak memiliki pengikut kecuali satu atau dua orang, bahkan seorang nabi dari nabi-nabi Allah tidak memiliki seorang pengikut pun.
نسأل الله أن يوفقنا وإيّاكم لقول الحق والعمل به، ومخالفة الهوى والنفس والشيطان. اهـــــ
Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiq kepada kami dan kalian untuk (berkata) dengan perkataan yang haq (benar) dan beramal dengannya, serta (diberi taufiq) untuk menyelisihi hawa nafsu dan Syaithan." -selesai-
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9737
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
::
📬 ADA APA DENGAN “MAYORITAS”?
Bagian Kedua
Rubrik: #manhaj #rudud #haddadiyah #mushofiqoh
Pada bab dan hadits yang sama, di dalam kitab “I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid” salah satu ulama terkemuka zaman ini al-’Allamah Shalih al-Fauzan…
📬 ADA APA DENGAN “MAYORITAS”?
Bagian Kedua
Rubrik: #manhaj #rudud #haddadiyah #mushofiqoh
Pada bab dan hadits yang sama, di dalam kitab “I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid” salah satu ulama terkemuka zaman ini al-’Allamah Shalih al-Fauzan…
::
📬 MENAKAR KEBENARAN SIKAP AL-WALA' (LOYALITAS) DAN AL-BARA' (BERLEPAS DIRI) KITA
Rubrik: #manhaj #haddadiyah
Asy-Syaikh Fawwaz bin Ali al-Madkhali hafizhahullah berkata,
"Ahlussunnah wal Jamaah dalam bab al-Wala' wal Bara' bersikap pertengahan di antara dua poros; ghulah (ekstremis) dan mumayyi'ah (lembek) sebagaimana yang dijelaskan oleh Yang mulia asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah dalam perkataan beliau sebagai berikut,
الولاء والبراء أمر انقسم الناس فيه إلى ثلاثة أقسام:
"Al-Wala wal Bara (loyalitas dan berlepas diri) merupakan perkara yang umat ini (di dalam menyikapinya, pen.) terbagi menjadi 3 kelompok:
الأول: قسم تشدد فيه فصاروا يوالون ويعادون بأدنى شيء، حتى لو يرى الإنسان أخاه متمسكا بالسنة أبغضه وكرهه، حتى ولو يراه مخالفا له في رأيه -وإن كان الصواب مع هذا المخالف- كرهه وأبغضه، وهذا لا شك أنه تفرق في الولاء والبراء، وهذا معناه أنه لا يبقى أحد يواليه أو يحبه إلا من كان على نهجه فقط.
1⃣ Kelompok yang ekstrem dalam menyikapinya. Sehingga mereka bersikap loyal atau berlepas diri disebabkan perkara yang sepele. Walaupun sekiranya seseorang itu melihat saudaranya berpegang teguh dengan as-Sunnah, dia tetap membencinya dan tidak menyukainya.
Walaupun sekiranya si saudara itu menyelisihi pendapatnya dan kebenaran bersama saudara yang menyelisihinya tersebut, dia pun tetap tidak menyukainya dan membencinya.
Dan ini tidak diragukan lagi merupakan perpecahan dalam hal al-wala' wal bara'.
Ini maknanya bahwa tidak ada seorang pun yang akan dia beri sikap loyal atau dia cintai kecuali orang yang sejalan dengannya saja.
الثاني: قسم ماعوا فيه ميوعة تامة أمام الواقع، وصاروا لا يوالون ولا يعادون، ولا يحبون ولا يكرهون، وهذا أيضًا خطأٌ.
2⃣ Kelompok yang lembek pada bab ini dengan kelembekan yang sempurna (fatal) di hadapan fakta yang ada. Sehingga mereka tidak mempunyai sikap al-wala' dan tidak pula sikap al-bara'. Tidak mencintai dan tidak membenci (karena Allah). Ini juga merupakan (sikap yang) salah.
الثالث: قسم جعل ميزان الولاء والبراء ما جاءت به الشريعة، وهذا له موازين معروفة.
3⃣ Kelompok yang menjadikan timbangan al-wala' wal bara' adalah ajaran yang dibawa oleh syariat (Islam). Maka kelompok ini memiliki timbangan- timbangan yang dikenal (dalam agama ini, pen).
(Fatawa 'Ala ath-Thariq, hlm. 26-27)
[Dikutip dari Makalah Fathul 'Ali lil Kasyfi 'an Akhta' wa Mughalathat Muhammad bin Hadi al-Madkhali, Bagian Kesebelas, hlm. 4-5]
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9758
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MENAKAR KEBENARAN SIKAP AL-WALA' (LOYALITAS) DAN AL-BARA' (BERLEPAS DIRI) KITA
Rubrik: #manhaj #haddadiyah
Asy-Syaikh Fawwaz bin Ali al-Madkhali hafizhahullah berkata,
"Ahlussunnah wal Jamaah dalam bab al-Wala' wal Bara' bersikap pertengahan di antara dua poros; ghulah (ekstremis) dan mumayyi'ah (lembek) sebagaimana yang dijelaskan oleh Yang mulia asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah dalam perkataan beliau sebagai berikut,
الولاء والبراء أمر انقسم الناس فيه إلى ثلاثة أقسام:
"Al-Wala wal Bara (loyalitas dan berlepas diri) merupakan perkara yang umat ini (di dalam menyikapinya, pen.) terbagi menjadi 3 kelompok:
الأول: قسم تشدد فيه فصاروا يوالون ويعادون بأدنى شيء، حتى لو يرى الإنسان أخاه متمسكا بالسنة أبغضه وكرهه، حتى ولو يراه مخالفا له في رأيه -وإن كان الصواب مع هذا المخالف- كرهه وأبغضه، وهذا لا شك أنه تفرق في الولاء والبراء، وهذا معناه أنه لا يبقى أحد يواليه أو يحبه إلا من كان على نهجه فقط.
1⃣ Kelompok yang ekstrem dalam menyikapinya. Sehingga mereka bersikap loyal atau berlepas diri disebabkan perkara yang sepele. Walaupun sekiranya seseorang itu melihat saudaranya berpegang teguh dengan as-Sunnah, dia tetap membencinya dan tidak menyukainya.
Walaupun sekiranya si saudara itu menyelisihi pendapatnya dan kebenaran bersama saudara yang menyelisihinya tersebut, dia pun tetap tidak menyukainya dan membencinya.
Dan ini tidak diragukan lagi merupakan perpecahan dalam hal al-wala' wal bara'.
Ini maknanya bahwa tidak ada seorang pun yang akan dia beri sikap loyal atau dia cintai kecuali orang yang sejalan dengannya saja.
الثاني: قسم ماعوا فيه ميوعة تامة أمام الواقع، وصاروا لا يوالون ولا يعادون، ولا يحبون ولا يكرهون، وهذا أيضًا خطأٌ.
2⃣ Kelompok yang lembek pada bab ini dengan kelembekan yang sempurna (fatal) di hadapan fakta yang ada. Sehingga mereka tidak mempunyai sikap al-wala' dan tidak pula sikap al-bara'. Tidak mencintai dan tidak membenci (karena Allah). Ini juga merupakan (sikap yang) salah.
الثالث: قسم جعل ميزان الولاء والبراء ما جاءت به الشريعة، وهذا له موازين معروفة.
3⃣ Kelompok yang menjadikan timbangan al-wala' wal bara' adalah ajaran yang dibawa oleh syariat (Islam). Maka kelompok ini memiliki timbangan- timbangan yang dikenal (dalam agama ini, pen).
(Fatawa 'Ala ath-Thariq, hlm. 26-27)
[Dikutip dari Makalah Fathul 'Ali lil Kasyfi 'an Akhta' wa Mughalathat Muhammad bin Hadi al-Madkhali, Bagian Kesebelas, hlm. 4-5]
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9758
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
::
📬 MENAKAR KEBENARAN SIKAP AL-WALA' (LOYALITAS) DAN AL-BARA' (BERLEPAS DIRI) KITA
Rubrik: #manhaj #haddadiyah
Asy-Syaikh Fawwaz bin Ali al-Madkhali hafizhahullah berkata,
"Ahlussunnah wal Jamaah dalam bab al-Wala' wal Bara' bersikap pertengahan di antara…
📬 MENAKAR KEBENARAN SIKAP AL-WALA' (LOYALITAS) DAN AL-BARA' (BERLEPAS DIRI) KITA
Rubrik: #manhaj #haddadiyah
Asy-Syaikh Fawwaz bin Ali al-Madkhali hafizhahullah berkata,
"Ahlussunnah wal Jamaah dalam bab al-Wala' wal Bara' bersikap pertengahan di antara…
🔹 محاضرة الليلة🔹
📚 بعنوان:
📜 السلفية منهج رباني
⏰ بعد صلاة العشاء (بتوقيت حفر الباطن)
▪️للشيخ الدكتور #عبدالله_بن_عبدالرحيم_البخاري
♻️ #الدورة_العلمية_بجامع_أمير_المؤمنين_معاوية
🎙إذاعة ميراث الأنبياء
🔗 http://miraath.net/radio/1/
🎙إذاعة سبيل الأنبياء
📎 http://aldafiri.com/radio/
————-
Muhadhoroh malam ini LIVE judul : Salafiyyah Manhaj Rabbani bersama AsySyaikh DR Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhori hafizhohulloh
📚 بعنوان:
📜 السلفية منهج رباني
⏰ بعد صلاة العشاء (بتوقيت حفر الباطن)
▪️للشيخ الدكتور #عبدالله_بن_عبدالرحيم_البخاري
♻️ #الدورة_العلمية_بجامع_أمير_المؤمنين_معاوية
🎙إذاعة ميراث الأنبياء
🔗 http://miraath.net/radio/1/
🎙إذاعة سبيل الأنبياء
📎 http://aldafiri.com/radio/
————-
Muhadhoroh malam ini LIVE judul : Salafiyyah Manhaj Rabbani bersama AsySyaikh DR Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhori hafizhohulloh
miraath.net
إذاعة ميراث الأنبياء
من هنا تسمعون ما يبث في الاذاعة الرئيسية
::
📬 PELAJARAN BERHARGA DARI AL-’ALLAMAH RABI’ BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH TENTANG FITNAH AL-HADDADIYAH VERSI FALIH AL-HARBY DAN KELOMPOKNYA
Rubrik: #manhaj #rudud #haddadiyah
Diantara pelajaran penting yang bisa dipetik dari fitnah al-Haddadiyah versi Falih al-Harby dan kelompoknya adalah kewajiban memproteksi diri dari sebuah kondisi yang sangat berbahaya bagi manhaj dan prinsip beragama, yaitu ketika mereka mulai menentang dan menolak nasehat ulama serta semakin kukuh dalam mengobarkan api permusuhan dan perpecahan di tengah-tengah salafiyyin. Nas'alullah as-salamah wal afiyah.
Saat ulama menyampaikan nasehat bahwa alasan dan dasar yang dia kemukakan tidak pantas untuk menjadi sebab dan bahan tahdzir serta perpecahan, dan semua itu harus berdiri di atas hujjah yang ilmiah, ternyata dia tidak bersegera menyambut nasehat itu dengan lapang dada dan penuh kejujuran.
Akibatnya, Allah taqdirkan baginya kemunculan Qurana’ Suu’ (teman-teman jahat) yang mendukungnya dalam dosa dan permusuhan. Qurana’ Suu’ tersebut senatiasa setia mengelilinginya dengan berbagai cara dan media seraya membisikkan kepadanya bisikan-bisikan yang penuh tipu daya, sehingga meyakini dosa dan kesesatan yang dilakukannya sebagai kebenaran yang harus dipertahankan dan diperjuangkan.
Tak ayal, api permusuhan dan perpecahan pun terus menerus mereka kobarkan di tengah-tengah salafiyyin tanpa mau mempedulikan nasehat-nasehat ulama yang sangat berharga kepada mereka.
Berikut ini salah satu pemaparan asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah tentang kondisi Falih al-Harby, yang kami kutip dari Majmu' Kutub wa Rasail wa Fatawa beliau hafizhahullah jilid 4 hlm. 70, pada makalah yang berjudul “Hal Yajuzu at-Tanazul 'anil Wajibat Mura'atan Lil Mashalih wal Mafasid wa 'Inda al-Hajat wa adh-Dharurat.” Semoga kita yang berada di Indonesia ini khususnya dapat mengambil pelajaran berharga darinya. Amiin...
Beliau hafizhahullah berkata:
وقد كان من ورائه عصابة تتظاهر بتعظيمه وتقديسه وتقديس أصوله وأحكامه الباطلة فتطعن أشد الطعن فيمن طعن فيهم فالح وحكم عليهم بأحكامه البهلوانية.
Dan ternyata di belakangnya (Falih al-Harby) ada ‘Ishabah (sekelompok orang) yang menampakkan pengagungan dan pengultusan terhadapnya serta pengultusan terhadap prinsip-prinsip dan berbagai vonisnya yang batil.
‘Ishabah tersebut dengan sangat keras mencela (menjatuhkan) siapa saja (para da’i sunnah) yang dicela oleh Falih dan divonis dengan vonis-vonisnya yang arogan.
فلما أدار ظهره لأولئك العلماء المنوَّه عنهم أسقطهم وأسقط أحكامهم تابعوه ونسوا التضليل والتكفير بمخالفتهم فأصبحوا يحاربونهم بعد أن كانوا يتظاهرون بتعظيمهم، ويطعنون فيهم أشد ما يطعن صاحب هوى في أهل السنة.
Ketika dia (Falih) membelakangi (meninggalkan) para ulama yang telah disebutkan, mulailah dia menjatuhkan kehormatan para ulama tersebut dan mencela fatwa-fatwa mereka, para pengagung Falih pun segera mengikutinya (dalam hal tersebut) dan mereka lupa terhadap sikap penyesatan dan pengkafiran (yang sebelumnya mereka lakukan) dengan sebab menyelisihi para ulama yang disebutkan itu.
Maka menjadilah mereka (Falih dan kelompoknya) orang-orang yang memerangi para ulama tersebut, padahal sebelumnya menampakkan sikap pengagungan terhadap mereka, bahkan mencela para ulama tersebut dengan celaan yang paling keras (layaknya) yang dilakukan oleh ahlul bid’ah terhadap Ahlussunnah.
لأنَّ هذا من أهدافهم التي جندوا لها وحتى هذا المتعالم الذي يتظاهرون بتقديسه لو خالفهم وخالف أهدافهم لأسقطوه.
Karena hal ini (penjatuhan kehormatan ulama) termasuk bagian dari target-target utama mereka (teman-teman jahat Falih), yang demi target-target tersebut mereka kerahkan segala kemampuan.
Bahkan orang yang sok pintar ini (Falih), yang mana saat ini mereka (teman-teman jahatnya) masih menampakkan pengultusan kepadanya, jika (suatu saat) si Falih ini menyelisihi mereka dan menyelisihi target-target yang mereka canangkan, niscaya mereka pun akan menjatuhkan kehormatannya.
📬 PELAJARAN BERHARGA DARI AL-’ALLAMAH RABI’ BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH TENTANG FITNAH AL-HADDADIYAH VERSI FALIH AL-HARBY DAN KELOMPOKNYA
Rubrik: #manhaj #rudud #haddadiyah
Diantara pelajaran penting yang bisa dipetik dari fitnah al-Haddadiyah versi Falih al-Harby dan kelompoknya adalah kewajiban memproteksi diri dari sebuah kondisi yang sangat berbahaya bagi manhaj dan prinsip beragama, yaitu ketika mereka mulai menentang dan menolak nasehat ulama serta semakin kukuh dalam mengobarkan api permusuhan dan perpecahan di tengah-tengah salafiyyin. Nas'alullah as-salamah wal afiyah.
Saat ulama menyampaikan nasehat bahwa alasan dan dasar yang dia kemukakan tidak pantas untuk menjadi sebab dan bahan tahdzir serta perpecahan, dan semua itu harus berdiri di atas hujjah yang ilmiah, ternyata dia tidak bersegera menyambut nasehat itu dengan lapang dada dan penuh kejujuran.
Akibatnya, Allah taqdirkan baginya kemunculan Qurana’ Suu’ (teman-teman jahat) yang mendukungnya dalam dosa dan permusuhan. Qurana’ Suu’ tersebut senatiasa setia mengelilinginya dengan berbagai cara dan media seraya membisikkan kepadanya bisikan-bisikan yang penuh tipu daya, sehingga meyakini dosa dan kesesatan yang dilakukannya sebagai kebenaran yang harus dipertahankan dan diperjuangkan.
Tak ayal, api permusuhan dan perpecahan pun terus menerus mereka kobarkan di tengah-tengah salafiyyin tanpa mau mempedulikan nasehat-nasehat ulama yang sangat berharga kepada mereka.
Berikut ini salah satu pemaparan asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah tentang kondisi Falih al-Harby, yang kami kutip dari Majmu' Kutub wa Rasail wa Fatawa beliau hafizhahullah jilid 4 hlm. 70, pada makalah yang berjudul “Hal Yajuzu at-Tanazul 'anil Wajibat Mura'atan Lil Mashalih wal Mafasid wa 'Inda al-Hajat wa adh-Dharurat.” Semoga kita yang berada di Indonesia ini khususnya dapat mengambil pelajaran berharga darinya. Amiin...
Beliau hafizhahullah berkata:
وقد كان من ورائه عصابة تتظاهر بتعظيمه وتقديسه وتقديس أصوله وأحكامه الباطلة فتطعن أشد الطعن فيمن طعن فيهم فالح وحكم عليهم بأحكامه البهلوانية.
Dan ternyata di belakangnya (Falih al-Harby) ada ‘Ishabah (sekelompok orang) yang menampakkan pengagungan dan pengultusan terhadapnya serta pengultusan terhadap prinsip-prinsip dan berbagai vonisnya yang batil.
‘Ishabah tersebut dengan sangat keras mencela (menjatuhkan) siapa saja (para da’i sunnah) yang dicela oleh Falih dan divonis dengan vonis-vonisnya yang arogan.
فلما أدار ظهره لأولئك العلماء المنوَّه عنهم أسقطهم وأسقط أحكامهم تابعوه ونسوا التضليل والتكفير بمخالفتهم فأصبحوا يحاربونهم بعد أن كانوا يتظاهرون بتعظيمهم، ويطعنون فيهم أشد ما يطعن صاحب هوى في أهل السنة.
Ketika dia (Falih) membelakangi (meninggalkan) para ulama yang telah disebutkan, mulailah dia menjatuhkan kehormatan para ulama tersebut dan mencela fatwa-fatwa mereka, para pengagung Falih pun segera mengikutinya (dalam hal tersebut) dan mereka lupa terhadap sikap penyesatan dan pengkafiran (yang sebelumnya mereka lakukan) dengan sebab menyelisihi para ulama yang disebutkan itu.
Maka menjadilah mereka (Falih dan kelompoknya) orang-orang yang memerangi para ulama tersebut, padahal sebelumnya menampakkan sikap pengagungan terhadap mereka, bahkan mencela para ulama tersebut dengan celaan yang paling keras (layaknya) yang dilakukan oleh ahlul bid’ah terhadap Ahlussunnah.
لأنَّ هذا من أهدافهم التي جندوا لها وحتى هذا المتعالم الذي يتظاهرون بتقديسه لو خالفهم وخالف أهدافهم لأسقطوه.
Karena hal ini (penjatuhan kehormatan ulama) termasuk bagian dari target-target utama mereka (teman-teman jahat Falih), yang demi target-target tersebut mereka kerahkan segala kemampuan.
Bahkan orang yang sok pintar ini (Falih), yang mana saat ini mereka (teman-teman jahatnya) masih menampakkan pengultusan kepadanya, jika (suatu saat) si Falih ini menyelisihi mereka dan menyelisihi target-target yang mereka canangkan, niscaya mereka pun akan menjatuhkan kehormatannya.