::
🚇 HUKUM RINGKAS TERKAIT ZAKAT FITRAH
1️⃣ Apa hukum Zakat Fitrah?
Zakat fitrah wajib bagi setiap muslim, muda atau tua, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak.
(Majmu' Fatawa Ibni Baz 14/197)
2️⃣ Zakat Fitrah berupa apa? Berapa?
Dikeluarkan zakat berupa satu sha' makanan, kurma, gandum, kismis, atau susu kering, termasuk di sini — menurut pendapat ulama yang terkuat — semua makanan pokok di suatu negeri, seperti beras, jagung, jewawut (sejenis serealia yang digunakan sebagai makanan pokok), atau yang semisalnya.
(Majmu Fatawa Ibni Baz 14/32)
👉Kadar satu sha' dengan satuan kilogram adalah sekitar tiga kilo.
(Majmu' Fatawa Ibni Baz 14/203)
3️⃣ Kapan dikeluarkan?
Dikeluarkan pada hari ke-28, 29, dan ke-30, juga pada malam sebelum Id serta pagi sebelum salat Id.
(Majmu Fatawa Ibni Baz 14/32-33)
4️⃣ Siapakah yang berhak menerima Zakat Fitrah?
Yang berhak hanya satu golongan, yakni orang-orang miskin.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/259)
5️⃣ Bolehkah membayarkan zakat fitrah berupa UANG yang senilai?
Tidak boleh membayarkan berupa uang senilai, menurut mayoritas para ulama. Karena, itu menyelisihi apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallāhu 'alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu 'anhum.
(Majmu' Fatawa Ibni Baz 14/32)
🚫 Membayar berupa uang TIDAK SAH, karena zakat fitrah itu diwajibkan berupa makanan.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/265)
6️⃣ Zakat Fitrah untuk janin apa hukumnya?
Zakat Fitrah tidak dibayarkan secara wajib bagi janin yang masih di perut. Hanya dibayarkan secara sunah.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/263)
7️⃣ Kalau Zakat Fitrah diberikan kepada para pekerja non muslim, bagaimana?
Zakat Fitrah tidak boleh diberikan kecuali bagi orang miskin dari kaum muslimin saja.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/285)
8️⃣ Apa hukum orang yang diberi Zakat Fitrah menjual zakatnya?
Jika orang yang mengambil zakat fitrah itu adalah orang yang berhak, boleh dia menjual setelah menerimanya.
(Majmu' Fatawa Lajnah Daimah 9/380)
••••
🌎 Kunjungi website kami www.tashfiyah.com | @majalahtashfiyah
🚇 HUKUM RINGKAS TERKAIT ZAKAT FITRAH
1️⃣ Apa hukum Zakat Fitrah?
Zakat fitrah wajib bagi setiap muslim, muda atau tua, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak.
(Majmu' Fatawa Ibni Baz 14/197)
2️⃣ Zakat Fitrah berupa apa? Berapa?
Dikeluarkan zakat berupa satu sha' makanan, kurma, gandum, kismis, atau susu kering, termasuk di sini — menurut pendapat ulama yang terkuat — semua makanan pokok di suatu negeri, seperti beras, jagung, jewawut (sejenis serealia yang digunakan sebagai makanan pokok), atau yang semisalnya.
(Majmu Fatawa Ibni Baz 14/32)
👉Kadar satu sha' dengan satuan kilogram adalah sekitar tiga kilo.
(Majmu' Fatawa Ibni Baz 14/203)
3️⃣ Kapan dikeluarkan?
Dikeluarkan pada hari ke-28, 29, dan ke-30, juga pada malam sebelum Id serta pagi sebelum salat Id.
(Majmu Fatawa Ibni Baz 14/32-33)
4️⃣ Siapakah yang berhak menerima Zakat Fitrah?
Yang berhak hanya satu golongan, yakni orang-orang miskin.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/259)
5️⃣ Bolehkah membayarkan zakat fitrah berupa UANG yang senilai?
Tidak boleh membayarkan berupa uang senilai, menurut mayoritas para ulama. Karena, itu menyelisihi apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallāhu 'alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu 'anhum.
(Majmu' Fatawa Ibni Baz 14/32)
🚫 Membayar berupa uang TIDAK SAH, karena zakat fitrah itu diwajibkan berupa makanan.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/265)
6️⃣ Zakat Fitrah untuk janin apa hukumnya?
Zakat Fitrah tidak dibayarkan secara wajib bagi janin yang masih di perut. Hanya dibayarkan secara sunah.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/263)
7️⃣ Kalau Zakat Fitrah diberikan kepada para pekerja non muslim, bagaimana?
Zakat Fitrah tidak boleh diberikan kecuali bagi orang miskin dari kaum muslimin saja.
(Majmu' Fatawa Ibni Utsaimin 18/285)
8️⃣ Apa hukum orang yang diberi Zakat Fitrah menjual zakatnya?
Jika orang yang mengambil zakat fitrah itu adalah orang yang berhak, boleh dia menjual setelah menerimanya.
(Majmu' Fatawa Lajnah Daimah 9/380)
••••
🌎 Kunjungi website kami www.tashfiyah.com | @majalahtashfiyah
📑 Pdf Leaflet Peta dan Nomor Telepon /Call Center Tol Jalur Mudik (Jasamarga)
::
🚇 BEBERAPA AMALAN SUNNAH DALAM SEPULUH TERAKHIR RAMADHAN
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Aisyah رضي الله عنها berkata: Rosulullah ﷺ jika memasuki sepuluh terakhir Beliau melakukan :
1⃣ Mengencangkan ikat pinggangnya (bermakna Beliau lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah, atau bermakna beliau menjauhi istri-istrinya tidak bercumbu dengan mereka).
2⃣ Menghidupkan malamnya (bangun malam dengan memperbanyak Ibadah, seperti membaca Qur'an, dzikrullah, sholat dan do'a.
3⃣ Beliau membangunkan keluarganya.
[Hadis riwayat Bukhori dan Muslim]
Imam Sufyan Ats-Tsaury berkata:
"Aku senangi jika sepuluh terakhir seorang Muslim lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah dan membangunkan keluarganya mengajak anak anaknya sholat selama mereka mampu."
4⃣ Mandi diantara Maghrib dan Isya dalam rangka mempersiapkan diri beribadah di malamnya, sebagaimana hadits 'Aisyah riwayat Ibnu Abi Ashim.
Ibnu Jarir berkata : "Ulama salaf menyukai bagi mereka mandi di setiap malam pada sepuluh terakhir", demikian pula Imam an-Nakho`i.
5⃣ Memakai wewangian terbaik yang dimiliki, sebagaimana riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu
6⃣ Menggunakan pakaian terindah yang dia miliki
7⃣ Memberi wewangian pada pakaian, tempat sholat dan Masjid dengan dupa, sebagaiman riwayat Ayyub As-Sikhtiyani, Tsabit al-Bunani dan Humaid at Thowil.
Ibnu Rojab berkata: "demikian secara umum dalam ibadah seperti Jum'at dan Ied". Firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai manusia, gunakanlah perhiasanmu ketika memasuki setiap Masjid ” (QS. Al A’raf: 31).
وفقكم الله لطاعته
••••
📝 Faidah dari Khutbah Jum'at Al-Ustadz Usamah bin Faishol Mahri حفظه الله | MTDS ASSUNNAH MALANG
@FiqihPuasaRamadhan @thoriqussalaf
🚇 BEBERAPA AMALAN SUNNAH DALAM SEPULUH TERAKHIR RAMADHAN
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Aisyah رضي الله عنها berkata: Rosulullah ﷺ jika memasuki sepuluh terakhir Beliau melakukan :
1⃣ Mengencangkan ikat pinggangnya (bermakna Beliau lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah, atau bermakna beliau menjauhi istri-istrinya tidak bercumbu dengan mereka).
2⃣ Menghidupkan malamnya (bangun malam dengan memperbanyak Ibadah, seperti membaca Qur'an, dzikrullah, sholat dan do'a.
3⃣ Beliau membangunkan keluarganya.
[Hadis riwayat Bukhori dan Muslim]
Imam Sufyan Ats-Tsaury berkata:
"Aku senangi jika sepuluh terakhir seorang Muslim lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah dan membangunkan keluarganya mengajak anak anaknya sholat selama mereka mampu."
4⃣ Mandi diantara Maghrib dan Isya dalam rangka mempersiapkan diri beribadah di malamnya, sebagaimana hadits 'Aisyah riwayat Ibnu Abi Ashim.
Ibnu Jarir berkata : "Ulama salaf menyukai bagi mereka mandi di setiap malam pada sepuluh terakhir", demikian pula Imam an-Nakho`i.
5⃣ Memakai wewangian terbaik yang dimiliki, sebagaimana riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu
6⃣ Menggunakan pakaian terindah yang dia miliki
7⃣ Memberi wewangian pada pakaian, tempat sholat dan Masjid dengan dupa, sebagaiman riwayat Ayyub As-Sikhtiyani, Tsabit al-Bunani dan Humaid at Thowil.
Ibnu Rojab berkata: "demikian secara umum dalam ibadah seperti Jum'at dan Ied". Firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai manusia, gunakanlah perhiasanmu ketika memasuki setiap Masjid ” (QS. Al A’raf: 31).
وفقكم الله لطاعته
••••
📝 Faidah dari Khutbah Jum'at Al-Ustadz Usamah bin Faishol Mahri حفظه الله | MTDS ASSUNNAH MALANG
@FiqihPuasaRamadhan @thoriqussalaf
.:
Ⓜ SUNNAH-SUNNAH PADA 10 HARI TERAKHIR BULAN ROMADHON
🎙Al-Ustadz Usamah Mahri -hafidzahullah-
| Khutbah Jum'at, 21 Ramadhan 1438 H / 16 Juni 2017 M di Masjid Mujahidin Sapto Raya, Kec. Pakis MALANG
📊(2,5 MB)- Durasi [10:58]
••••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Ⓜ SUNNAH-SUNNAH PADA 10 HARI TERAKHIR BULAN ROMADHON
🎙Al-Ustadz Usamah Mahri -hafidzahullah-
| Khutbah Jum'at, 21 Ramadhan 1438 H / 16 Juni 2017 M di Masjid Mujahidin Sapto Raya, Kec. Pakis MALANG
📊(2,5 MB)- Durasi [10:58]
••••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
.:
Ⓜ CIRI DAN TANDA MALAM LAILATUL QODAR : DISUNNAHKAN BAGI ORANG YANG MENYAKSIKAN LAILATUL QODAR UNTUK MENYEMBUNYIKANNYA
🎙Al-Ustadz Abdurrahman Mubarok-hafidzahullah-
| "BERSEMANGAT MENCARI MALAM LAILATUL QADAR (Bagian 1-3) | Kajian Intensif 18-20 Ramadhan 1438 di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, BOGOR
📊(7,7 MB)- Durasi [33:32]
••••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Ⓜ CIRI DAN TANDA MALAM LAILATUL QODAR : DISUNNAHKAN BAGI ORANG YANG MENYAKSIKAN LAILATUL QODAR UNTUK MENYEMBUNYIKANNYA
🎙Al-Ustadz Abdurrahman Mubarok-hafidzahullah-
| "BERSEMANGAT MENCARI MALAM LAILATUL QADAR (Bagian 1-3) | Kajian Intensif 18-20 Ramadhan 1438 di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, BOGOR
📊(7,7 MB)- Durasi [33:32]
••••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
.:
Ⓜ PEMBAHASAN RINGKAS ZAKAT FITRAH
🎙Al-Ustadz Abdulloh Al-Jakarty -hafidzahullah-
◙ Durasi 23:47
◙ Ukuran file 4,12 MB
••••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net
Ⓜ PEMBAHASAN RINGKAS ZAKAT FITRAH
🎙Al-Ustadz Abdulloh Al-Jakarty -hafidzahullah-
◙ Durasi 23:47
◙ Ukuran file 4,12 MB
••••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 PEMBAHASAN SEPUTAR ZAKAT FITRAH
🎙 Oleh: Al-Ustadz Qomar Su'adi, Lc.-hafizhahullah-
| Audio Kajian Ilmiyah hari Ahad, 14 Rabi'ul Awwal 1436 H - 04 Januari 2015 di Masjid Diponegoro, Semarang
📊 Bag. 1 (8,79 MB) - Durasi [49:38]
📊 Bag. 2 (4,79 MB) - Durasi [26:18]
➖➖➖➖➖➖➖➖
)* Berisi penjelasan:
▪️Istilah Zakat Fithri atau Zakat Fitrah
▪️Takaran Zakat Fitrah apakah mutlak sekian KG atau boleh ada selisih sedikit?
▪️Hukum Zakat Fitrah dengan Uang
▪️Yang wajib membayar dan yang berhak menerima. Apakah janin dalam kandungan juga wajib berzakat?
▪️Kapan mulai boleh menyerahkan zakat kepada amil dan kapan terakhir diserahkan kepada mustahiq?
▪️Bolehkah ortu berzakat untuk anaknya atau sebaliknya?
▪️Apa zakat bisa diberikan hanya pada 1 orang saja ?
▪️Hukum menjadi pengemis & meminta-minta
▪️dan lain-lain
••••
💾 Channel Telegram:
👉🏽 bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net
🚇 PEMBAHASAN SEPUTAR ZAKAT FITRAH
🎙 Oleh: Al-Ustadz Qomar Su'adi, Lc.-hafizhahullah-
| Audio Kajian Ilmiyah hari Ahad, 14 Rabi'ul Awwal 1436 H - 04 Januari 2015 di Masjid Diponegoro, Semarang
📊 Bag. 1 (8,79 MB) - Durasi [49:38]
📊 Bag. 2 (4,79 MB) - Durasi [26:18]
➖➖➖➖➖➖➖➖
)* Berisi penjelasan:
▪️Istilah Zakat Fithri atau Zakat Fitrah
▪️Takaran Zakat Fitrah apakah mutlak sekian KG atau boleh ada selisih sedikit?
▪️Hukum Zakat Fitrah dengan Uang
▪️Yang wajib membayar dan yang berhak menerima. Apakah janin dalam kandungan juga wajib berzakat?
▪️Kapan mulai boleh menyerahkan zakat kepada amil dan kapan terakhir diserahkan kepada mustahiq?
▪️Bolehkah ortu berzakat untuk anaknya atau sebaliknya?
▪️Apa zakat bisa diberikan hanya pada 1 orang saja ?
▪️Hukum menjadi pengemis & meminta-minta
▪️dan lain-lain
••••
💾 Channel Telegram:
👉🏽 bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
.:
🚇 HUKUM MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIR SHALAT ID
Para ulama berbeda pendapat, apakah mengangkat tangan ketika takbir-takbir tambahan (selain takbiratul ihram) dalam shalat ‘id itu termasuk sunnah atau bukan.
PENDAPAT PERTAMA
Disyari’atkan mengangkat kedua tangan ketika takbir.
Ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan salah satu pendapat dari madzhab Maliki.
Dan di antara ulama yang memilih pendapat ini adalah An-Nawawi, Al-Juzajani, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Ibnul Qayyim, Ath-Thahawi, Asy-Syaikh bin Baz, Asy-Syaikh Al-Fauzan, dan juga Al-Lajnah Ad-Da’imah.
Dalilnya:
Al-Imam Ahmad, Ibnul Mundzir, Al-Baihaqi, dan yang lainnya berdalil dengan hadits dari Ibnu ‘Umar, bahwa dia berkata:
كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى إذا كانتا حذو منكبيه كبر ، ثم إذا أراد أن يركع رفعهما حتى يكونا حذو منكبيه ، كبر وهما كذلك ، فركع ، ثم إذا أراد أن يرفع صلبه رفعهما حتى يكونا حذو منكبيه، ثم قال سمع الله لمن حمده ، ثم يسجد ، ولا يرفع يديه في السجود ، ويرفعهما في كل ركعة وتكبيرة كبرها قبل الركوع حتى تنقضي صلاته
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak shalat, beliau mengangkat kedua tangannya, sampai ketika keduanya sejajar dengan pundaknya, beliau bertakbir. Kemudian ketika hendak ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar pundaknya, dan beliau pun bertakbir dalam keadaan kedua tangannya tetap pada posisi demikian. Kemudian beliau ruku’. Kemudian ketika hendak bangkit dari ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar kedua pundaknya, kemudian mengatakan : sami’allahu liman hamidah. Kemudian beliau sujud, dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Dan beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap rakaat dan takbir yang dilakukan sebelum rukuk sampai selesai shalat beliau.”
[HR. Ahmad dalam Musnadnya, Abu dawud dalam Sunannya, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa’, Ibnul Mundzir Ad-Daraquthni dalam sunannya, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, dan yang lainnya, sanadnya shahih].
Adapun sisi pendalilannya adalah keumuman lafzah:
Dan beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap rakaat dan takbir yang dilakukan sebelum rukuk sampai selesai shalat beliau.
Dan takbir-takbir tambahan (pada shalat ‘id) dilakukan sebelum rukuk.
Qiyas bahwasanya takbir-takbir tersebut dilakukan ketika berdiri, maka ini seperti takbiratul ihram dan takbir ketika hendak ruku’.
Atsar dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir-takbir shalat jenazah dan shalat id. [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubra(III/293)].
Atsar dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau dahulu juga mengangkat kedua tangannya ketika takbir-takbir shalat jenazah.
Adapun sisi pendalilan dari atsar ini adalah bahwa takbir-takbir shalat id diqiyaskan dengan takbir-takbir shalat jenazah.
Atsar dari ‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah, bahwa dahulu beliau juga mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir dan orang-orang yang di belakangnya (para makmum) juga mengangkat tangan-tangan mereka.
Al-Imam Maliki bin Anas berkata: “Angkat kedua tanganmu pada setiap takbir.”
Yahya bin Ma’in berkata: “Aku berpendapat (disyari’atkannya) mengangkat kedua tangan pada setiap takbir.”
Ibnu Qudamah berkata: “Jadi kesimpulannya adalah disukai untuk mengangkat kedua tangan.”
Ibnul Qayyim berkata: “Ibnu ‘Umar yang beliau adalah seorang yang benar-benar berupaya untuk mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir.”
Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata tentang hadits Ibnu ‘Umar tersebut:
“Cukuplah hadits tersebut sebagai dalil disyari’atkannya mengangkat kedua tangan.”
🚇 HUKUM MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIR SHALAT ID
Para ulama berbeda pendapat, apakah mengangkat tangan ketika takbir-takbir tambahan (selain takbiratul ihram) dalam shalat ‘id itu termasuk sunnah atau bukan.
PENDAPAT PERTAMA
Disyari’atkan mengangkat kedua tangan ketika takbir.
Ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan salah satu pendapat dari madzhab Maliki.
Dan di antara ulama yang memilih pendapat ini adalah An-Nawawi, Al-Juzajani, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Ibnul Qayyim, Ath-Thahawi, Asy-Syaikh bin Baz, Asy-Syaikh Al-Fauzan, dan juga Al-Lajnah Ad-Da’imah.
Dalilnya:
Al-Imam Ahmad, Ibnul Mundzir, Al-Baihaqi, dan yang lainnya berdalil dengan hadits dari Ibnu ‘Umar, bahwa dia berkata:
كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى إذا كانتا حذو منكبيه كبر ، ثم إذا أراد أن يركع رفعهما حتى يكونا حذو منكبيه ، كبر وهما كذلك ، فركع ، ثم إذا أراد أن يرفع صلبه رفعهما حتى يكونا حذو منكبيه، ثم قال سمع الله لمن حمده ، ثم يسجد ، ولا يرفع يديه في السجود ، ويرفعهما في كل ركعة وتكبيرة كبرها قبل الركوع حتى تنقضي صلاته
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak shalat, beliau mengangkat kedua tangannya, sampai ketika keduanya sejajar dengan pundaknya, beliau bertakbir. Kemudian ketika hendak ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar pundaknya, dan beliau pun bertakbir dalam keadaan kedua tangannya tetap pada posisi demikian. Kemudian beliau ruku’. Kemudian ketika hendak bangkit dari ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar kedua pundaknya, kemudian mengatakan : sami’allahu liman hamidah. Kemudian beliau sujud, dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Dan beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap rakaat dan takbir yang dilakukan sebelum rukuk sampai selesai shalat beliau.”
[HR. Ahmad dalam Musnadnya, Abu dawud dalam Sunannya, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa’, Ibnul Mundzir Ad-Daraquthni dalam sunannya, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, dan yang lainnya, sanadnya shahih].
Adapun sisi pendalilannya adalah keumuman lafzah:
Dan beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap rakaat dan takbir yang dilakukan sebelum rukuk sampai selesai shalat beliau.
Dan takbir-takbir tambahan (pada shalat ‘id) dilakukan sebelum rukuk.
Qiyas bahwasanya takbir-takbir tersebut dilakukan ketika berdiri, maka ini seperti takbiratul ihram dan takbir ketika hendak ruku’.
Atsar dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir-takbir shalat jenazah dan shalat id. [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubra(III/293)].
Atsar dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau dahulu juga mengangkat kedua tangannya ketika takbir-takbir shalat jenazah.
Adapun sisi pendalilan dari atsar ini adalah bahwa takbir-takbir shalat id diqiyaskan dengan takbir-takbir shalat jenazah.
Atsar dari ‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah, bahwa dahulu beliau juga mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir dan orang-orang yang di belakangnya (para makmum) juga mengangkat tangan-tangan mereka.
Al-Imam Maliki bin Anas berkata: “Angkat kedua tanganmu pada setiap takbir.”
Yahya bin Ma’in berkata: “Aku berpendapat (disyari’atkannya) mengangkat kedua tangan pada setiap takbir.”
Ibnu Qudamah berkata: “Jadi kesimpulannya adalah disukai untuk mengangkat kedua tangan.”
Ibnul Qayyim berkata: “Ibnu ‘Umar yang beliau adalah seorang yang benar-benar berupaya untuk mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir.”
Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata tentang hadits Ibnu ‘Umar tersebut:
“Cukuplah hadits tersebut sebagai dalil disyari’atkannya mengangkat kedua tangan.”
PENDAPAT KEDUA,
Tidak disyari’atkan mengangkat kedua tangan ketika takbir.
Ini adalah pendapat dari madzhab Maliki, Ibnu Hazm Azh-Zhahiri.
Dalilnya:
Tidak ada sunnah yang shahihah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir.
Al-Imam Malik berkata: “Tidak disyari’atkan mengangkat kedua tangan sekalipun pada setiap takbir shalat idul fithri dan idul adha kecuali pada takbir yang pertama (yakni takbiratl Ihram).”
Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan atsar yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau dahulu juga mengangkat kedua tangannya ketika takbir-takbir shalat jenazah.
Beliau berkata ketika menyanggah pendapat yang menshahihkan atsar tersebut: “Adapun penshahihan sebagian ulama yang mulia terhadap atsar yang menyebutkan diyari’atkannya mengangkat kedua tangan sebagaimana dalam ta’liq beliau terhadap Fathul Bari [III/190] adalah merupakan kesalahan yang nyata sebagaimana hal ini tidak tersamarkan lagi di kalangan orang yang mengetahui bidang ini (ilmu hadits).”
Beliau juga berkata: “Tidak disunnahkan mengangkat kedua tangan karena yang demikian tidak pernah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan apa yang diriwayatkan dari ‘Umar dan anaknya (Ibnu ‘Umar) tidak menjadaikan amalan ini sebagai amalana yang sunnah.”
Beliau juga berkata: “Kami tidak mendapatkan dalam sunnah satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya mengangkat kedua tangan selain dari takbir pertama (takbiratul ihram), dan ini adalah madzhab Al-Hanifiyyah, dan pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaukani, dan Ibnu Hazm juga memilih madzhab ini.”
Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata: “Aku tidak mendapati satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkan mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir shalat id.”
APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan:
إن رفع فلا حرج وإن لم يرفع فلا حرج
“Jika mengangkat kedua tangan, maka ini tidak mengapa. Dan jika tidak mengangkat kedua tangan, maka inipun juga tidak mengapa.” (Durus Al-Haram Al-Makki 1424 H)
Wallahu a’lam bish shawab.
••••
mahad-assalafy.com/hukum-mengangkat-tangan-ketika-takbir-shalat-id/
Tidak disyari’atkan mengangkat kedua tangan ketika takbir.
Ini adalah pendapat dari madzhab Maliki, Ibnu Hazm Azh-Zhahiri.
Dalilnya:
Tidak ada sunnah yang shahihah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir.
Al-Imam Malik berkata: “Tidak disyari’atkan mengangkat kedua tangan sekalipun pada setiap takbir shalat idul fithri dan idul adha kecuali pada takbir yang pertama (yakni takbiratl Ihram).”
Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan atsar yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau dahulu juga mengangkat kedua tangannya ketika takbir-takbir shalat jenazah.
Beliau berkata ketika menyanggah pendapat yang menshahihkan atsar tersebut: “Adapun penshahihan sebagian ulama yang mulia terhadap atsar yang menyebutkan diyari’atkannya mengangkat kedua tangan sebagaimana dalam ta’liq beliau terhadap Fathul Bari [III/190] adalah merupakan kesalahan yang nyata sebagaimana hal ini tidak tersamarkan lagi di kalangan orang yang mengetahui bidang ini (ilmu hadits).”
Beliau juga berkata: “Tidak disunnahkan mengangkat kedua tangan karena yang demikian tidak pernah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan apa yang diriwayatkan dari ‘Umar dan anaknya (Ibnu ‘Umar) tidak menjadaikan amalan ini sebagai amalana yang sunnah.”
Beliau juga berkata: “Kami tidak mendapatkan dalam sunnah satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya mengangkat kedua tangan selain dari takbir pertama (takbiratul ihram), dan ini adalah madzhab Al-Hanifiyyah, dan pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaukani, dan Ibnu Hazm juga memilih madzhab ini.”
Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata: “Aku tidak mendapati satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkan mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir shalat id.”
APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan:
إن رفع فلا حرج وإن لم يرفع فلا حرج
“Jika mengangkat kedua tangan, maka ini tidak mengapa. Dan jika tidak mengangkat kedua tangan, maka inipun juga tidak mengapa.” (Durus Al-Haram Al-Makki 1424 H)
Wallahu a’lam bish shawab.
••••
mahad-assalafy.com/hukum-mengangkat-tangan-ketika-takbir-shalat-id/