.:
Ⓜ FIQIH ZAKAT FITRAH (PEMBAHASAN RINGKAS)
🎙 Al-Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy -hafidzahullah-
| Dauroh "FIKIH RAMADHAN" | Sabtu, 23 Sya'ban 1438 H / 20 Mei 2017 M di Masjid Diponegoro Pleburan UNDIP Semarang, Jawa Tengah
📊 (1,9 MB) - Durasi [07:45]
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Ⓜ FIQIH ZAKAT FITRAH (PEMBAHASAN RINGKAS)
🎙 Al-Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy -hafidzahullah-
| Dauroh "FIKIH RAMADHAN" | Sabtu, 23 Sya'ban 1438 H / 20 Mei 2017 M di Masjid Diponegoro Pleburan UNDIP Semarang, Jawa Tengah
📊 (1,9 MB) - Durasi [07:45]
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 APA YANG DIUCAPKAN PANITIA/ AMIL YANG MENERIMA ZAKAT : Apakah Lafadz Doa Harus dalam Bentuk Shalawat?
Lafadz doa tersebut tidak harus dalam bentuk shalawat. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
“Orang yang mengambil zakat hendaknya mengucapkan, ‘ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIKA’, atau doa (lain) yang dipandang sesuai; karena Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.” (at-Taubah: 3) (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 6/208)
An-Nasa’i dalam al-Mujtaba (5/30) meriwayatkan dari Wa’il bin Hujr bahwa Rasulullah ﷺ mendoakan barakah kepada seorang yang datang kepada beliau membawa seekor unta zakat yang baik.
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ سَاعِيًا فَأَتَى رَجُلًا فَأَتَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ : بَعَثَنَا مُصَدِّقَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنَّ فُلَانًا أَعْطَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا، اللَّهُمَّ لَا تُبَارِكْ فِيهِ وَلَا فِي إِبِلِهِ. فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَجَاءَ بِنَاقَةٍ حَسْنَاءَ فَقَالَ: أَتُوبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى نَبِيِّهِﷺ . فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ : اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي إِبِلِهِ
Nabi ﷺ mengutus seorang utusan untuk mengambil zakat hingga ia datangi seorang (untuk mengambil zakatnya) tetapi dia keluarkan unta sapihan yang sangat kurus. (Ketika Nabi ﷺ mengetahuinya) beliau bersabda, “Aku mengutus seseorang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya (untuk mengambil zakat), tetapi fulan memberikan unta sapihan kurus (yang tidak pantas untuk zakat). Ya Allah, janganlah engkau berkahi dia dan jangan Engkau berkahi untanya.” Sampailah doa ini kepada lelaki itu. Bergegas ia datang membawa seekor onta yang baik seraya berkata, “Aku bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Nabi-Nya ﷺ.” Lalu beliau ﷺ pun berdoa, “Ya Allah, berkahilah ia dan untanya.”
☝️🏽Dari riwayat tersebut diambil faedah bahwa doa untuk muzakki tidaklah harus dalam bentuk shalawat.
___________
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyukai bagi orang yang menerima zakat mendo'akan muzakki dengan perkataan:
آجَرَكَ اللهُ فِيمَا أَعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوراً وَبَارَكَ لَكَ فِيمَا أَبْقَيْتَ
“Semoga Allah memberi pahala atas apa yang telah engkau berikan. Semoga Allah menjadikan kesucian untukmu. Semoga Allah memberkahi hartamu yang tersisa.”
••••
📊 http://asysyariah.com/doa-untuk-pembayar-zakat/
🚇 APA YANG DIUCAPKAN PANITIA/ AMIL YANG MENERIMA ZAKAT : Apakah Lafadz Doa Harus dalam Bentuk Shalawat?
Lafadz doa tersebut tidak harus dalam bentuk shalawat. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
“Orang yang mengambil zakat hendaknya mengucapkan, ‘ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIKA’, atau doa (lain) yang dipandang sesuai; karena Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.” (at-Taubah: 3) (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 6/208)
An-Nasa’i dalam al-Mujtaba (5/30) meriwayatkan dari Wa’il bin Hujr bahwa Rasulullah ﷺ mendoakan barakah kepada seorang yang datang kepada beliau membawa seekor unta zakat yang baik.
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ سَاعِيًا فَأَتَى رَجُلًا فَأَتَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ : بَعَثَنَا مُصَدِّقَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنَّ فُلَانًا أَعْطَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا، اللَّهُمَّ لَا تُبَارِكْ فِيهِ وَلَا فِي إِبِلِهِ. فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَجَاءَ بِنَاقَةٍ حَسْنَاءَ فَقَالَ: أَتُوبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى نَبِيِّهِﷺ . فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ : اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي إِبِلِهِ
Nabi ﷺ mengutus seorang utusan untuk mengambil zakat hingga ia datangi seorang (untuk mengambil zakatnya) tetapi dia keluarkan unta sapihan yang sangat kurus. (Ketika Nabi ﷺ mengetahuinya) beliau bersabda, “Aku mengutus seseorang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya (untuk mengambil zakat), tetapi fulan memberikan unta sapihan kurus (yang tidak pantas untuk zakat). Ya Allah, janganlah engkau berkahi dia dan jangan Engkau berkahi untanya.” Sampailah doa ini kepada lelaki itu. Bergegas ia datang membawa seekor onta yang baik seraya berkata, “Aku bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Nabi-Nya ﷺ.” Lalu beliau ﷺ pun berdoa, “Ya Allah, berkahilah ia dan untanya.”
☝️🏽Dari riwayat tersebut diambil faedah bahwa doa untuk muzakki tidaklah harus dalam bentuk shalawat.
___________
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyukai bagi orang yang menerima zakat mendo'akan muzakki dengan perkataan:
آجَرَكَ اللهُ فِيمَا أَعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوراً وَبَارَكَ لَكَ فِيمَا أَبْقَيْتَ
“Semoga Allah memberi pahala atas apa yang telah engkau berikan. Semoga Allah menjadikan kesucian untukmu. Semoga Allah memberkahi hartamu yang tersisa.”
••••
📊 http://asysyariah.com/doa-untuk-pembayar-zakat/
::
🚇 APA YANG DIUCAPKAN MUZAKKI (ORANG YANG MENGELUARKAN ZAKAT)?
Doa di atas adalah doa yang diucapkan imam (penguasa), wakilnya, atau mereka yang menerima zakat.
Adakah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk dibaca oleh orang yang berzakat?
Dalam berberapa kitab fiqih disebutkan bahwa muzakki disunnahkan membaca doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلَا تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا
“Ya Allah, jadikan zakatku ini sebagai keuntungan (bagiku) dan jangan Kau jadikan sebagai kerugian.”
Doa tersebut dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, namun penisbatan ini tidak sah.
Ibnu Majah dalam as-Sunan (no. 1797) meriwayatkan sebuah hadits dari jalan Suwaid bin Sa’id, dari al-Walid bin Muslim, dari al-Bakhtari bin ‘Ubaid, dari bapaknya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَعْطَيْتُمُ الزَّكَاةَ فَلَا تَنْسَوُا ثَوَابَهَا أَنْ تَقُولُوا: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلَا تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا
“Jika kalian mengeluarkan zakat, janganlah kalian melupakan pahalanya dengan kalian berdoa, ‘Ya Allah, jadikan zakatku ini keuntungan (bagiku) dan jangan Engkau jadikan sebagai kerugian’.”
Hadits ini LEMAH. Bahkan, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).
Al-Bakhtari bin Ubaid at-Thabikhi al-Kalbi adalah perawi yang matruk (ditinggalkan). Suwaid bin Sa’id dikatakan fihi maqal (ada pembicaraan tentangnya), sedangkan al-Walid bin Muslim adalah seorang mudallis (yang suka menggelapkan hadits), dan dalam sanad ini dia meriwayatkan hadits dengan ‘an’anah. (Lihat takhrij hadits ini dalam Irwa’ul Ghalil 3/343—344)
••••
📊 http://asysyariah.com/doa-untuk-pembayar-zakat/
🚇 APA YANG DIUCAPKAN MUZAKKI (ORANG YANG MENGELUARKAN ZAKAT)?
Doa di atas adalah doa yang diucapkan imam (penguasa), wakilnya, atau mereka yang menerima zakat.
Adakah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk dibaca oleh orang yang berzakat?
Dalam berberapa kitab fiqih disebutkan bahwa muzakki disunnahkan membaca doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلَا تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا
“Ya Allah, jadikan zakatku ini sebagai keuntungan (bagiku) dan jangan Kau jadikan sebagai kerugian.”
Doa tersebut dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, namun penisbatan ini tidak sah.
Ibnu Majah dalam as-Sunan (no. 1797) meriwayatkan sebuah hadits dari jalan Suwaid bin Sa’id, dari al-Walid bin Muslim, dari al-Bakhtari bin ‘Ubaid, dari bapaknya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَعْطَيْتُمُ الزَّكَاةَ فَلَا تَنْسَوُا ثَوَابَهَا أَنْ تَقُولُوا: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلَا تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا
“Jika kalian mengeluarkan zakat, janganlah kalian melupakan pahalanya dengan kalian berdoa, ‘Ya Allah, jadikan zakatku ini keuntungan (bagiku) dan jangan Engkau jadikan sebagai kerugian’.”
Hadits ini LEMAH. Bahkan, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).
Al-Bakhtari bin Ubaid at-Thabikhi al-Kalbi adalah perawi yang matruk (ditinggalkan). Suwaid bin Sa’id dikatakan fihi maqal (ada pembicaraan tentangnya), sedangkan al-Walid bin Muslim adalah seorang mudallis (yang suka menggelapkan hadits), dan dalam sanad ini dia meriwayatkan hadits dengan ‘an’anah. (Lihat takhrij hadits ini dalam Irwa’ul Ghalil 3/343—344)
••••
📊 http://asysyariah.com/doa-untuk-pembayar-zakat/
::
🚇 APAKAH WAKTU IDUL FITRI LEBIH DIDAHULUKAN DARIPADA IDUL ADHA?
Ada dua pendapat:
1⃣ Pertama, bahwa keduanya dilakukan dalam waktu yang sama.
2⃣ Kedua, disunnahkan untuk diakhirkan waktu Shalat Idul Fitri dan disegerakan waktu Idul Adha.
Itu adalah pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Ini yang dikuatkan Ibnu Qayyim, dan beliau mengatakan:
“Dahulu Nabi melambatkan Shalat Idul Fitri serta menyegerakan Idul Adha. Dan Ibnu ‘Umar dengan semangatnya untuk mengikuti sunnah tidak keluar sehingga telah terbit matahari dan bertakbir dari rumahnya menuju mushalla.” (Zadul Ma’ad, 1/427, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)
Hikmahnya, dengan melambatkan Shalat Idul Fitri maka semakin meluas waktu yang disunahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah; dan dengan menyegerakan Shalat Idul Adha maka semakin luas waktu untuk menyembelih dan tidak memberatkan manusia untuk menahan dari makan sehingga memakan hasil qurban mereka. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105-106).
(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. hafidzahullah)
••••
📨 Sumber: Asy Syariah Edisi 26 | http://asysyariah.com/meneladani-nabi-dalam-beriedul-fitri/
🚇 APAKAH WAKTU IDUL FITRI LEBIH DIDAHULUKAN DARIPADA IDUL ADHA?
Ada dua pendapat:
1⃣ Pertama, bahwa keduanya dilakukan dalam waktu yang sama.
2⃣ Kedua, disunnahkan untuk diakhirkan waktu Shalat Idul Fitri dan disegerakan waktu Idul Adha.
Itu adalah pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Ini yang dikuatkan Ibnu Qayyim, dan beliau mengatakan:
“Dahulu Nabi melambatkan Shalat Idul Fitri serta menyegerakan Idul Adha. Dan Ibnu ‘Umar dengan semangatnya untuk mengikuti sunnah tidak keluar sehingga telah terbit matahari dan bertakbir dari rumahnya menuju mushalla.” (Zadul Ma’ad, 1/427, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)
Hikmahnya, dengan melambatkan Shalat Idul Fitri maka semakin meluas waktu yang disunahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah; dan dengan menyegerakan Shalat Idul Adha maka semakin luas waktu untuk menyembelih dan tidak memberatkan manusia untuk menahan dari makan sehingga memakan hasil qurban mereka. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105-106).
(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. hafidzahullah)
••••
📨 Sumber: Asy Syariah Edisi 26 | http://asysyariah.com/meneladani-nabi-dalam-beriedul-fitri/
::
Ⓜ️ APA HIKMAH ZAKAT FITRAH?
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai PENYUCI bagi orang yang berpuasa dari PERBUATAN YANG SIA-SIA DAN KATA-KATA KOTOR serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.”
(Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)
(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. hafidzahullah)
••••
📨 Sumber: Asy Syariah Edisi 26 | http://asysyariah.com/meneladani-nabi-dalam-beriedul-fitri/
Ⓜ️ APA HIKMAH ZAKAT FITRAH?
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai PENYUCI bagi orang yang berpuasa dari PERBUATAN YANG SIA-SIA DAN KATA-KATA KOTOR serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.”
(Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)
(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. hafidzahullah)
••••
📨 Sumber: Asy Syariah Edisi 26 | http://asysyariah.com/meneladani-nabi-dalam-beriedul-fitri/
::
Ⓜ️ UCAPAN SELAMAT HARI RAYA SEBELUM MASUK HARI IED (MALAM IED) TIDAK ADA ASALNYA DARI SALAF
Asy-Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah
P e r t a n y a a n:
{ انتشر بين الناس في هذه الأيام رسائل عبر الجوال تتضمن تحريم التهنئة بالعيد قبل العيد بيوم أو يومين وأنه من البدع، فما رأي فضيلتكم؟ }
“Telah tersebar diantara muslimin pada akhir-akhir ini pesan-pesan singkat melalui ponsel, yang isinya adalah mengharamkan ucapan selamat hari raya sebelum jatuh tanggal ied sehari atau dua hari sebelumnya. Dan dinyatakan bahwa perbuatan tersebut termasuk bid'ah. Bagaimanakah pendapat anda?
J a w a b a n
{ لا أعلم هذا الكلام، هذه يروجوها ولا أعلم له أصلاً، فالتهنئة مباحة في يوم العيد، أو بعد يوم العيد مباحة. أما قبل يوم العيد فلا أعلم أنها حصلت من السلف وأنهم يهنئون قبل يوم العيد، كيف يُهَنَأ بشيء لم يحصل التهنئة تكون يوم العيد أو بعد يوم العيد. }
“Saya tidak mengetahui ucapan seperti ini. Hal ini mereka sebarluaskan dan saya tidak mengetahui adanya asal dari perkara ini.
Ucapan selamat hari raya itu boleh pada hari ied.
⛔ Adapun jika diucapkan sebelum hari ied maka saya sama sekali tidak mengetahui asal muasalnya dari Salaf.
Dan saya tidak mengetahui mereka (salaf) mengucapkan selamat hari raya sebelum hari ied.
Bagaimana bisa ucapan selamat disampaikan untuk sesuatu yang belum terjadi. Ucapan selamat ini boleh diucapkan pada hari ied ataupun juga setelah hari ied".[*]
__________
[*] Hari ied ditandai dengan terlihatnya hilal bulan syawal dengan ketetapan waliyyul amr, (.pent)
••••
📨 Sumber: bit.ly/2rAJadR
@ForumSalafy | bit.ly/29aTNP2
Ⓜ️ UCAPAN SELAMAT HARI RAYA SEBELUM MASUK HARI IED (MALAM IED) TIDAK ADA ASALNYA DARI SALAF
Asy-Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah
P e r t a n y a a n:
{ انتشر بين الناس في هذه الأيام رسائل عبر الجوال تتضمن تحريم التهنئة بالعيد قبل العيد بيوم أو يومين وأنه من البدع، فما رأي فضيلتكم؟ }
“Telah tersebar diantara muslimin pada akhir-akhir ini pesan-pesan singkat melalui ponsel, yang isinya adalah mengharamkan ucapan selamat hari raya sebelum jatuh tanggal ied sehari atau dua hari sebelumnya. Dan dinyatakan bahwa perbuatan tersebut termasuk bid'ah. Bagaimanakah pendapat anda?
J a w a b a n
{ لا أعلم هذا الكلام، هذه يروجوها ولا أعلم له أصلاً، فالتهنئة مباحة في يوم العيد، أو بعد يوم العيد مباحة. أما قبل يوم العيد فلا أعلم أنها حصلت من السلف وأنهم يهنئون قبل يوم العيد، كيف يُهَنَأ بشيء لم يحصل التهنئة تكون يوم العيد أو بعد يوم العيد. }
“Saya tidak mengetahui ucapan seperti ini. Hal ini mereka sebarluaskan dan saya tidak mengetahui adanya asal dari perkara ini.
Ucapan selamat hari raya itu boleh pada hari ied.
⛔ Adapun jika diucapkan sebelum hari ied maka saya sama sekali tidak mengetahui asal muasalnya dari Salaf.
Dan saya tidak mengetahui mereka (salaf) mengucapkan selamat hari raya sebelum hari ied.
Bagaimana bisa ucapan selamat disampaikan untuk sesuatu yang belum terjadi. Ucapan selamat ini boleh diucapkan pada hari ied ataupun juga setelah hari ied".[*]
__________
[*] Hari ied ditandai dengan terlihatnya hilal bulan syawal dengan ketetapan waliyyul amr, (.pent)
••••
📨 Sumber: bit.ly/2rAJadR
@ForumSalafy | bit.ly/29aTNP2
.:
🚇 PENETAPAN 'IEDUL FITRI 1 SYAWWAL 1438 H
🇮🇩 Pemerintah Republik Indonesia, melalui Sidang Itsbat yang diadakan Kementerian Agama RI menetapkan tanggal 1 Syawal 1438 H jatuh pada:
🗓 Hari Ahad yang bertepatan dengan tanggal 25 Juni 2017 M
••••
🌎 Sumber:
| https://twitter.com/Kemenag_RI/status/878582001304981506
☝🏻 Semoga Allah Ta'ala mencurahkan kebaikan dan memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada Pemerintah kita yang telah bersungguh-sungguh mengurusi urusan kaum Muslimin (penetapan awal Syawal).
Admin FBF
t.me/ForumBerbagiFaidah
🚇 PENETAPAN 'IEDUL FITRI 1 SYAWWAL 1438 H
🇮🇩 Pemerintah Republik Indonesia, melalui Sidang Itsbat yang diadakan Kementerian Agama RI menetapkan tanggal 1 Syawal 1438 H jatuh pada:
🗓 Hari Ahad yang bertepatan dengan tanggal 25 Juni 2017 M
••••
🌎 Sumber:
| https://twitter.com/Kemenag_RI/status/878582001304981506
☝🏻 Semoga Allah Ta'ala mencurahkan kebaikan dan memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada Pemerintah kita yang telah bersungguh-sungguh mengurusi urusan kaum Muslimin (penetapan awal Syawal).
Admin FBF
t.me/ForumBerbagiFaidah
Twitter
Kementerian Agama RI
Sidang itsbat memutuskan 1 Syawal 1438H bertepatan pada hari Ahad 25 Juni 2017
.:
🚇 MENELADANI NABI DALAM BER-IDUL FITRI
1️⃣ Berhias ketika Id (untuk laki-laki)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma,
كان ﷺ يلبسُ يومَ العيدِ بردةً حمراءَ
"Dahulu, Rasulullah ﷺ pada hari Id mengenakan burdah (mantel) berwarna merah".
["Sanadnya bagus." kata Syaikh Al Albani]
📚 Silsilah As Shahihah no 1279
2️⃣ Mandi di hari Id sebelum keluar
Nafi' (seorang tabi'in) mengatakan,
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رضي الله عنه كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
"Bahwasanya Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dahulu biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke tanah lapang".
[Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa]
📚 Muwatha' Imam Malik no. 384
3️⃣ Makan kurma dengan jumlah ganjil
Anas bin Malik رضي الله عنه mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ َلا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. ويأكلهن وِترا
"Dahulu, Rasulullah ﷺ tidak berangkat pada Idul Fitri hingga makan beberapa kurma, beliau makan dengan jumlah ganjil".
📚 HR. Al Bukhari no. 953
4️⃣ Berjalan ke tanah lapang
Ibnu Umar mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا، وَيَرْجِعُ مَاشِيًا
"Dahulu, Rasulullah ﷺ berangkat salat Id dengan berjalan dan pulang dengan berjalan".
[Dihasankan Syaikh Al Albani]
📚 Shahih Ibni Majah no. 1078
5️⃣ Jalan berangkat berbeda dengan jalan pulang
Jabir bin Abdillah mengatakan,
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيق
"Dahulu, Nabi ﷺ pada hari Id, jalannya berbeda".
📚 HR. Al Bukhari no 986
6️⃣ Bertakbir mulai keluar rumah, sampai salat Id ditegakkan
Az Zuhri (seorang tabi'in) mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُخْرِجُ يَوْمَ الفِطَرِ فَيَكْبُرُ حَتَّى يَأْتِي المُصَلَّى، وَحَتَّى يَقْضِي الصَّلَاةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ قَطْعُ التَّكْبِيرِ
"Bahwa Rasulullah ﷺ dahulu keluar pada Idul Fitri, lalu bertakbir hingga tanah lapang dan sampai selesai salat. Saat selesai salat, beliau tidak bertakbir".
["Sanadnya shahih secara mursal, dan memiliki syahid bersambung yang menguatkannya." ~ Syaikh Al Albani]
📚 Silsilah As Shahihah no 171
7️⃣ Salat Id di mushalla, yakni tanah lapang
Ibnu Umar mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَغْدُو إِلَى الْمُصَلَّى فِي يَوْمِ الْعِيدِ، وَالْعَنَزَةُ تُحْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِذَا بَلَغَ الْمُصَلَّى نُصِبَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَيُصَلِّي إِلَيْهَا، وَذَلِكَ أَنَّ الْمُصَلَّى كَانَ فَضَاءً لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ يُسْتَتَرُ بِه
"Bahwa Rasulullah ﷺ dahulu biasa berangkat ke mushalla pada hari Id. Sebilah tombak kecil dibawa di depan beliau. Saat sampai mushalla, tombak itu ditancapkan di depannya kemudian salat menghadapnya. Hal itu karena mushalla berupa tanah lapang, tidak ada yang dipakai sebagai sutrah".
[Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]
📚 Shahih Ibni Majah no. 1084
Asy Syaikh Al Albani mengatakan, "Salat Id di mushalla tanah lapang, itulah ajaran Nabi. Beliau ﷺ lebih memilihnya daripada salat di Masjid beliau."
8️⃣ Mendengar Khutbah, hukumnya sunnah
Abdullah bin Saib mengatakan,
حَضٓرَتْ العِيدَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَصَلَّى بِنَا العِيدُ ثُمَّ قَالَ قَدْ قَضَيْنَا الصَّلَاةَ فَمِنْ أُحِبُّ أَنْ يَجْلِسَ لِلخُطْبَةِ فَلِيَجْلِسْ وَمِنْ أُحِبُّ أَنْ يَذْهَبَ فَلِيَذْهَبْ
"Saya menghadiri salat Id bersama Rasulullah ﷺ . Beliau salat Id mengimami kami. Kemudian beliau mengatakan, 'Kita telah selesai salat. Maka, siapa ingin duduk mendengar khutbah, silakan duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan pergi.'"
[Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]
📚 Shahihul Jami' no. 4376
9️⃣ Mengucapkan selamat
Jubair bin Nufair mengatakan,
كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ العِيدِ يَقُولَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ: تُقُبِّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
"Dulu, para sahabat Nabi ﷺ jika bertemu pada hari Id yang satu mengatakan kepada yang lain, 'taqabballallahu minna wa minka' (Semoga Allah menerima amalan kami dan engkau)".
[Sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani]
📚 Tamamul Minnah hlm. 354
@tashfiyah
🚇 MENELADANI NABI DALAM BER-IDUL FITRI
1️⃣ Berhias ketika Id (untuk laki-laki)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma,
كان ﷺ يلبسُ يومَ العيدِ بردةً حمراءَ
"Dahulu, Rasulullah ﷺ pada hari Id mengenakan burdah (mantel) berwarna merah".
["Sanadnya bagus." kata Syaikh Al Albani]
📚 Silsilah As Shahihah no 1279
2️⃣ Mandi di hari Id sebelum keluar
Nafi' (seorang tabi'in) mengatakan,
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رضي الله عنه كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
"Bahwasanya Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dahulu biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke tanah lapang".
[Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa]
📚 Muwatha' Imam Malik no. 384
3️⃣ Makan kurma dengan jumlah ganjil
Anas bin Malik رضي الله عنه mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ َلا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. ويأكلهن وِترا
"Dahulu, Rasulullah ﷺ tidak berangkat pada Idul Fitri hingga makan beberapa kurma, beliau makan dengan jumlah ganjil".
📚 HR. Al Bukhari no. 953
4️⃣ Berjalan ke tanah lapang
Ibnu Umar mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا، وَيَرْجِعُ مَاشِيًا
"Dahulu, Rasulullah ﷺ berangkat salat Id dengan berjalan dan pulang dengan berjalan".
[Dihasankan Syaikh Al Albani]
📚 Shahih Ibni Majah no. 1078
5️⃣ Jalan berangkat berbeda dengan jalan pulang
Jabir bin Abdillah mengatakan,
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيق
"Dahulu, Nabi ﷺ pada hari Id, jalannya berbeda".
📚 HR. Al Bukhari no 986
6️⃣ Bertakbir mulai keluar rumah, sampai salat Id ditegakkan
Az Zuhri (seorang tabi'in) mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُخْرِجُ يَوْمَ الفِطَرِ فَيَكْبُرُ حَتَّى يَأْتِي المُصَلَّى، وَحَتَّى يَقْضِي الصَّلَاةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ قَطْعُ التَّكْبِيرِ
"Bahwa Rasulullah ﷺ dahulu keluar pada Idul Fitri, lalu bertakbir hingga tanah lapang dan sampai selesai salat. Saat selesai salat, beliau tidak bertakbir".
["Sanadnya shahih secara mursal, dan memiliki syahid bersambung yang menguatkannya." ~ Syaikh Al Albani]
📚 Silsilah As Shahihah no 171
7️⃣ Salat Id di mushalla, yakni tanah lapang
Ibnu Umar mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَغْدُو إِلَى الْمُصَلَّى فِي يَوْمِ الْعِيدِ، وَالْعَنَزَةُ تُحْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِذَا بَلَغَ الْمُصَلَّى نُصِبَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَيُصَلِّي إِلَيْهَا، وَذَلِكَ أَنَّ الْمُصَلَّى كَانَ فَضَاءً لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ يُسْتَتَرُ بِه
"Bahwa Rasulullah ﷺ dahulu biasa berangkat ke mushalla pada hari Id. Sebilah tombak kecil dibawa di depan beliau. Saat sampai mushalla, tombak itu ditancapkan di depannya kemudian salat menghadapnya. Hal itu karena mushalla berupa tanah lapang, tidak ada yang dipakai sebagai sutrah".
[Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]
📚 Shahih Ibni Majah no. 1084
Asy Syaikh Al Albani mengatakan, "Salat Id di mushalla tanah lapang, itulah ajaran Nabi. Beliau ﷺ lebih memilihnya daripada salat di Masjid beliau."
8️⃣ Mendengar Khutbah, hukumnya sunnah
Abdullah bin Saib mengatakan,
حَضٓرَتْ العِيدَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَصَلَّى بِنَا العِيدُ ثُمَّ قَالَ قَدْ قَضَيْنَا الصَّلَاةَ فَمِنْ أُحِبُّ أَنْ يَجْلِسَ لِلخُطْبَةِ فَلِيَجْلِسْ وَمِنْ أُحِبُّ أَنْ يَذْهَبَ فَلِيَذْهَبْ
"Saya menghadiri salat Id bersama Rasulullah ﷺ . Beliau salat Id mengimami kami. Kemudian beliau mengatakan, 'Kita telah selesai salat. Maka, siapa ingin duduk mendengar khutbah, silakan duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan pergi.'"
[Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]
📚 Shahihul Jami' no. 4376
9️⃣ Mengucapkan selamat
Jubair bin Nufair mengatakan,
كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ العِيدِ يَقُولَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ: تُقُبِّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
"Dulu, para sahabat Nabi ﷺ jika bertemu pada hari Id yang satu mengatakan kepada yang lain, 'taqabballallahu minna wa minka' (Semoga Allah menerima amalan kami dan engkau)".
[Sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani]
📚 Tamamul Minnah hlm. 354
@tashfiyah