*#MewaspadaiSEPILIS*
UGM dengan Program CRCS (Center for Religious and Cross-cultural Studies) ternyata hanya melahirkan para pakar yang bingung (confuse) dengan jati diri agamanya. Studi agama-agama tanpa didahului kekokohan pondasi agama sejatinya hanya akan melahirkan keraguan. Terhadap kebingungan Samsul Maarif di bawah, perlulah kita tanyakan ke beliau:
1. Siapakah masyarakat Indonesia yang dia klaim?
2. Definisi tentang 'agama' siapa kemudian yang paling otoritatif?
3. Batas periode mana yang digunakan untuk melegitimasi tesisnya?
Serangan kaum Sepilis (Sekularisme, Pluralisme Agama dan Liberalisme) masuk melalui pintu-pintu keterbukaan, dan harapan terjadinya dialog antar agama. Namun, melihat pemikiran Samsul Maarif, yang terjadi adalah dialog agama dan selain agama.
Salam Ta'zhim,
Wido Supraha
Join Channel: t.me/supraha
-----------------------------------------------------------
*Quote Article:*
_Untuk meyakinkan majelis, pemohon menghadirkan pengajar di Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), UGM, Yogyakarta, Samsul Maarif. Dalam pemaparannya, Samsul memaparkan relasi negara dan agama, dekonstruksi agama, hingga sejarah hubungan agama di Indonesia._
_"Agama di Indonesia hari ini yang kita maknai adalah warisan atau jiplakan dari Barat. Agama yang hari ini kita maknai adalah jiplakan dari Barat, bukan agama yang dimaknai oleh masyarakat Indonesia. Kalau kita tanya masyarakat Indonesia, apa itu agama? Banyak definisinya dan bukan seperti agama yang diatur oleh negara hari ini," kata Samsul._
_"Ketika para Eropa keluar melakukan ekspansi melalui penjajahan, eksplorasi keluar dari Eropa, ketemu dengan banyak praktik, termasuk praktik-praktik yang hari ini disebut sebagai agama dunia. Dikonstruksi istilah agama dunia. Itu di abad ke-19. Baru ada yang namanya konsep agama dunia," ujar Samsul._
https://news.detik.com/berita/3491378/ahli-ugm-agama-yang-kita-maknai-adalah-jiplakan-dari-barat
UGM dengan Program CRCS (Center for Religious and Cross-cultural Studies) ternyata hanya melahirkan para pakar yang bingung (confuse) dengan jati diri agamanya. Studi agama-agama tanpa didahului kekokohan pondasi agama sejatinya hanya akan melahirkan keraguan. Terhadap kebingungan Samsul Maarif di bawah, perlulah kita tanyakan ke beliau:
1. Siapakah masyarakat Indonesia yang dia klaim?
2. Definisi tentang 'agama' siapa kemudian yang paling otoritatif?
3. Batas periode mana yang digunakan untuk melegitimasi tesisnya?
Serangan kaum Sepilis (Sekularisme, Pluralisme Agama dan Liberalisme) masuk melalui pintu-pintu keterbukaan, dan harapan terjadinya dialog antar agama. Namun, melihat pemikiran Samsul Maarif, yang terjadi adalah dialog agama dan selain agama.
Salam Ta'zhim,
Wido Supraha
Join Channel: t.me/supraha
-----------------------------------------------------------
*Quote Article:*
_Untuk meyakinkan majelis, pemohon menghadirkan pengajar di Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), UGM, Yogyakarta, Samsul Maarif. Dalam pemaparannya, Samsul memaparkan relasi negara dan agama, dekonstruksi agama, hingga sejarah hubungan agama di Indonesia._
_"Agama di Indonesia hari ini yang kita maknai adalah warisan atau jiplakan dari Barat. Agama yang hari ini kita maknai adalah jiplakan dari Barat, bukan agama yang dimaknai oleh masyarakat Indonesia. Kalau kita tanya masyarakat Indonesia, apa itu agama? Banyak definisinya dan bukan seperti agama yang diatur oleh negara hari ini," kata Samsul._
_"Ketika para Eropa keluar melakukan ekspansi melalui penjajahan, eksplorasi keluar dari Eropa, ketemu dengan banyak praktik, termasuk praktik-praktik yang hari ini disebut sebagai agama dunia. Dikonstruksi istilah agama dunia. Itu di abad ke-19. Baru ada yang namanya konsep agama dunia," ujar Samsul._
https://news.detik.com/berita/3491378/ahli-ugm-agama-yang-kita-maknai-adalah-jiplakan-dari-barat