#GhazwulFikr
FILM NAURA CONTOH GHAZW AL-FIKR
Mengumpulkan seluruh testimoni para ayah dan bunda yang telah menontonnya dan berharap film ini sekualitas film Sherina terdahulu harus gigit jari plus kebingungan menjelaskan kepada ananda yang dibawanya menonton bersama akan konsep nilai dan karakter yang selama ini ditanamkan di rumah, lingkungan dan sekolah sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
Film adalah sarana Ghazw al-Fikr yang cukup efektif. Dukungan dana besar berdamai dengan worldview produser dan penulis naskah untuk mencapai cita yang sama, yang jelas jika dilihat dari muatannya, bukan untuk Indonesia Beradab.
Ada apa dengan film itu?
1. Kegiatan di hutan yang mengharuskan anak wanita mengenakan hot pants sepanjang film, logiskah?
2. Tiadanya wali pendamping dan mengesankan area camping bercampur antara putra dan putri, adakah karakter ini yang ingin dikembangkan untuk bangsa?
3. Sosok penjahat culas yang dikesankan ahludzdzikir lengkap dengan janggut, adakah pantas mengesankan Islam sebagai teroris?
4. Karya sains yang tidak dibahas detail dan cenderung pelengkap yang tidak terapresiasi, lalu apa sebenarnya muatan film ini?
Kita berduka bukan saja karena siasat film yang bermuatan negatif untuk tumbuh kembang ananda dan toleransi beragama, namun kita lebih berduka karena para pemeran film ini adalah keluarga-keluarga Muslim juga. Tidakkah mereka sadar adanya dosa jariyah yang mengalir terus menerus dari amal yang terlahir dari ananda yang berhasil terstigma oleh karakter dalam film ini sehingga menjadi berpandangan negatif terhadap Islam dan berperilaku terbaratkan?
Masihkan sahabat membatasi diri hanya pada menjadi penonton pada realitas negatif, sementara Islam adalah ajaran yang mendorong manusia untuk bergerak dan berpadu membuat perubahan atas realitas di masyarakat sekitar.
Masihkah sahabat hanya membatasi diri pada aktif mengaji dan tidak bergerak menerapkan ilmu yang diperoleh dari mengaji dalam lapangan amal yang luas secara berjama'ah?
📡 Join Channel: t.me/supraha
FILM NAURA CONTOH GHAZW AL-FIKR
Mengumpulkan seluruh testimoni para ayah dan bunda yang telah menontonnya dan berharap film ini sekualitas film Sherina terdahulu harus gigit jari plus kebingungan menjelaskan kepada ananda yang dibawanya menonton bersama akan konsep nilai dan karakter yang selama ini ditanamkan di rumah, lingkungan dan sekolah sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
Film adalah sarana Ghazw al-Fikr yang cukup efektif. Dukungan dana besar berdamai dengan worldview produser dan penulis naskah untuk mencapai cita yang sama, yang jelas jika dilihat dari muatannya, bukan untuk Indonesia Beradab.
Ada apa dengan film itu?
1. Kegiatan di hutan yang mengharuskan anak wanita mengenakan hot pants sepanjang film, logiskah?
2. Tiadanya wali pendamping dan mengesankan area camping bercampur antara putra dan putri, adakah karakter ini yang ingin dikembangkan untuk bangsa?
3. Sosok penjahat culas yang dikesankan ahludzdzikir lengkap dengan janggut, adakah pantas mengesankan Islam sebagai teroris?
4. Karya sains yang tidak dibahas detail dan cenderung pelengkap yang tidak terapresiasi, lalu apa sebenarnya muatan film ini?
Kita berduka bukan saja karena siasat film yang bermuatan negatif untuk tumbuh kembang ananda dan toleransi beragama, namun kita lebih berduka karena para pemeran film ini adalah keluarga-keluarga Muslim juga. Tidakkah mereka sadar adanya dosa jariyah yang mengalir terus menerus dari amal yang terlahir dari ananda yang berhasil terstigma oleh karakter dalam film ini sehingga menjadi berpandangan negatif terhadap Islam dan berperilaku terbaratkan?
Masihkan sahabat membatasi diri hanya pada menjadi penonton pada realitas negatif, sementara Islam adalah ajaran yang mendorong manusia untuk bergerak dan berpadu membuat perubahan atas realitas di masyarakat sekitar.
Masihkah sahabat hanya membatasi diri pada aktif mengaji dan tidak bergerak menerapkan ilmu yang diperoleh dari mengaji dalam lapangan amal yang luas secara berjama'ah?
📡 Join Channel: t.me/supraha