Wido Supraha
4.02K subscribers
1.08K photos
159 videos
375 files
1.57K links
Bersama Meniti Jalan Menuju Jannah
Download Telegram
*KAJIAN MUSLIM UMMAH – TADABBUR AL-QUR’AN*
Senin, 17 Dzulhijjah 1439 H

📚 *10 PERINTAH DASAR ISLAM (4)*
_Studi Surat Al-An'ām [6] ayat 151-152_

3⃣ *PERINTAH KETIGA: JANGAN TAKUT MISKIN KARENA ANAK*

[ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ ]

📌 Anak adalah rizki, fadhilah dari Allah, dan potensi investasi jariyah besar dalam kehidupan. Jika sahabat telah berlaku baik kepada kedua orang tua dan kakek nenek, maka saatnya kemudian sahabat wajib berlaku baik kepada anak-anak dan keturunannya kelak

📌 Setiap manusia dilahirkan dengan ketetapan rizki dari Allah, maka hendaknya manusia meyakini akan janji-Nya, dan tidak memastikan kefakiran dan kesengsaraan untuk diri maupun keturunannya. Jauhi bisikan syaithan, karena kalimat Ilahiyah tentu di atas segalanya.

📌 Membunuh adalah dosa besar, dan membunuh karena takut miskin telah menyatukan dua keburukan besar dalam diri seorang Muslim

Ayat senada dapat merujuk surat Al-Isrā [17] ayat 31:

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ خَشۡيَةَ إِمۡلَٰقٖۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُهُمۡ وَإِيَّاكُمۡۚ إِنَّ قَتۡلَهُمۡ كَانَ خِطۡ‍ٔٗا كَبِيرٗا
_Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar._

Jika ayat-Nya di atas mendahulukan penekanan rizqi untuk anak karena sesuai konteks persoalannya, maka di surat Al-An’am ini, Allah mendahulukan penekanan rizqi untuk kedua orang tua-nya, agar semakin kokoh dalam tauhid kepada-Nya.

💡 *Jika Allah telah mengaruniai sahabat anak keturunan, itu pertanda sahabat sebenarnya mampu dititipi amanah tersebut. Maka kembangkanlah kompetensi dan kapasitas sahabat sehingga menjadi sosok pendidik (muaddib) yang membanggakan Allah dan Rasul-Nya. Rencanakanlah kehidupan sahabat bersama bimbingan-Nya, karena keluarga yang berencana ke Jannah, akan mensukseskan setiap tahapan dalam kehidupannya.*

Semangat Pagi! 🌤🌤

👤 Pemateri: Dr. Wido Supraha
*Muslim Ummah*

_Download Application and we invite you to enter: Room: Wido Supraha New_
_https://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslim.android_
KAJIAN MUSLIM UMMAH – TADABBUR AL-QUR’AN
Rabu, 19 Dzulqa’dah 1439 H

📚 10 PERINTAH DASAR ISLAM (8)
Studi Surat Al-An'ām [6] ayat 151-152

PERINTAH KETUJUH: PROFESIONAL DALAM TAKARAN DAN TIMBANGAN

[ ۚ وَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۖ ]

📌 Jika sahabat diberikan kesempatan untuk memberikan hak saudara lain secara adil (بِٱلۡقِسۡطِ), maka tegakkanlah semaksimal dan seoptimal mungkin. Di antara konteks penerapan adil adalah presisi, maka lakukanlah dengan profesional, karena Allah tidak menginginkan hadirnya kesempitan jiwa pada diri siapapun. Hal yang sama berlaku saat sahabat menjadi penjual maupun pembeli, karena akad, kesepakatan di antara dua pihak harus didahulukan.

📌 Takaran dan timbangan adalah 2 (dua) perkara yang menyebabkan binasanya generasi-generasi terdahulu, seperti penduduk Madyan dimana diutus Nabi Syu’aib atas mereka.

Tadzakkuri ayat-ayat Allāh ﷻ berikut:

Q.S. Hūd [11] ayat 84-86:
۞وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu."


Q.S. Al-Isrā [17] ayat 35:

وَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ إِذَا كِلۡتُمۡ وَزِنُواْ بِٱلۡقِسۡطَاسِ ٱلۡمُسۡتَقِيمِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلٗا
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.


Q.S. Ar-Rahmān [55] ayat 9:

وَأَقِيمُواْ ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.


Q.S. Al-Muthaffifīn [83] ayat 1-3:

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

Dalam sebuah hadits dengan derajat Mursal Gharib sebagaimana disebutkan oleh Ibn Katsir:

وَقَدْ رَوَى ابْنُ مَرْدُوَيه مِنْ حَدِيثِ بَقِيَّة، عَنْ مُبَشر بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونِ بْنِ مهْران، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المسَيَّب قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا} فَقَالَ: "مِنْ أَوْفَى عَلَى يَدِهِ فِي الْكَيْلِ وَالْمِيزَانِ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ صِحَّةَ نِيَّتِهِ بِالْوَفَاءِ فِيهِمَا، لَمْ يُؤَاخَذْ". وَذَلِكَ تَأْوِيلُ {وُسْعَهَا}

Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui hadis Baqiyyah, dari Maisarah ibnu Ubaid, dari Amr ibnu Maimun ibnu Mahran, dari ayahnya, dari Sa'id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. sehubungan dengan firman-Nya: Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikul beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. (Al-An'am: 152) pernah bersabda: Barang siapa yang menunaikan dengan sempurna takaran dan timbangan yang ada di tangannya —Allah lebih mengetahui keben
aran niatnya dalam melakukan keduanya—, maka ia tidak berdosa. Demikianlah takwil 'sebatas kemampuannya'.

وَقَدْ رَوَاهُ ابْنُ مَرْدُوَيه فِي تَفْسِيرِهِ، مِنْ حَدِيثِ شَرِيك، عَنِ الْأَعْمَشُ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الجَعْد، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّكُمْ مَعْشَر الْمَوَالِي قَدْ بَشَّرَكم اللَّهُ بِخَصْلَتَيْنِ بِهَا هَلَكَتِ الْقُرُونُ الْمُتَقَدِّمَةُ: الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ"

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Syarik, dari Al-A’masy, dari Salim ibnu Abul Ja'd, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda: Sesungguhnya kalian, hai para Mawali, Allah telah mempercayakan kepada kalian dua perkara yang pernah menjadi penyebab kebinasaan generasi-generasi yang terdahulu, yaitu takaran dan timbangan.


💡 Muslim pasti mampu berlaku adil karena setiap ayat hadir kepada manusia agar manusia menegakkannya. Keadilan akan melahirkan cinta kasih, kezhaliman akan melahirkan kesempitan dalam kehidupan.

Semangat Pagi! 🌤🌤

👤 Pemateri: Dr. Wido Supraha
Muslim Ummah

Download Application and we invite you to enter: Room: Wido Supraha New
_https://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslim.android_
https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4144484/prancis-melarang-penggunaan-telepon-dan-tablet-di-sekolah

Mulai bulan September 2018, Prancis akan melarang penggunaan telepon genggam dan tablet di sekolah-sekolah di seluruh wilayahnya.

Perancis sudah memulai, bagaimana dengan negeri Muslim, atau kita sebagai keluarga Muslim. Masihkah kita jadikan HP sebagai hadiah terbaik bagi para pemuda kita? Masihkah kita biarkan anak kita menikmati kesendiriannya di dalam kamar yang sepi dengan gadget di tangannya, dan merebut kekuatannya dalam berlari, bersosialisasi dan mereguk ilmu?

@supraha
*DIALOG ISLAM*
Kamis, 20 Dzulqa’dah 1439 H

*Tema: Akhlak*

📬 *PERTANYAAN*
_Assalamualaikum Pak Ustad, pekerjaaan saya membuat laporan, dalam proses pembuatan nya, kadang harus merubah bukti dan merubah laporan. yang ingin saya tanyakan apakah perbuatan itu termasuk ciri orang munafik? dan apakah pekerjaan tersebut bisa di kategorikan haram? terima kasih._

📂 *JAWABAN*
_Sebuah laporan dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kinerja dari gerak atau dana kepada para pemangku kepentingan. Laporan sangat dibutuhkan agar pemangku kepentingan dapat menganalisa dan membuat keputusan yang tentunya terkait dengan rencana pribadi berkorelasi dengan dukungan kepada pembuat laporan di masa mendatang. Laporan yang jujur, hanya 1 (satu) versi, jelas, dan didukung dengan bukti-bukti yang kuat menjadi perintah dalam Islam yang wajib dilaksanakan, sebagaimana tujuan utama syariat Islam ini. Laporan yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya tentu hanya akan membuat kesalahan keputusan yang dibuat oleh pemangku kepentingan, dan ini adalah bentuk-bentuk rekayasa atau cara-cara mafia yang jauh dari nilai Islam._

Jika dikaitkan dengan kemunafikan, maka di antara ciri orang munafik adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Dalam kasus ini, masuk pada kemunafikan amal yang dapat dipandang bagian dari dosa besar.

Berkata Ibn Katsir dalam tafsirnya (1/176):

النفاق هو إظهار الخير وإسرار الشر
_Kemunafikan adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan._

و)النفاق) أنواع: اعتقادي، وهو الذي يخلد صاحبه في النار، وعملي وهو من أكبر الذنوب
_Dan kemunafikan bermacam-macam: [1] kemunafikan keyakinan (i’tiqadi), itulah kemunafikan yang menyebabkan pelakunya di neraka, [2] kemunafikan amali, dan itu termasuk dosa terbesar._


Ibn Rajab dalam kitabnya Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, memasukkan nifak amal dalam nifak kecil:

والثاني: النفاق الأصغر، وهو نفاق العمل، وهو أنْ يُظهر الإنسانُ علانيةً صالحةً، ويُبطن ما يُخالف ذلك.
_Itulah nifak amal, yaitu seseorang menampakkan kebaikan di muka umum, namun bertentangan dengan apa yang ada di hatinya._

_Wallāhu a'lam,_

Semangat pagi🌞🌞

🌤🌤🌤

👤 Teman Dialog: Dr. Wido Supraha

Silahkan bergabung dalam Channel Kajian dan Tanya Jawab, bersama: Dr. Wido Supraha | Dosen Tetap Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor dengan klik:

https://chat.whatsapp.com/9tSmCKnLkP22ncfZ5ATIiO
4 (EMPAT) LANGKAH SUKSES BERHAJI
1. MULIAKAN WAKTU DAN RENCANAKAN HAJI
Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 189:
۞يَسْأَلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَهِلَّةِۖ قُلۡ هِيَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلۡحَجِّۗ
189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji

Q.S. At-Taubah [9] ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ
36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.

B. SAMBUT PANGGILAN BERHAJI
Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 97:
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ
97. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Q.S. Al-Hajj [22] ayat 27:
وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ
27. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh

Rasūlullāh Muhammad ﷺ bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ
“Rasūlullāh ﷺ pernah berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasūlullāh, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasūlullāh ﷺ lantas bersabda, “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.”_
[HR. Muslim No. 1337]

C. BERHAJI DENGAN TOTALITAS
Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 196:
وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ
196. Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah.

Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 158:
۞إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ فَمَنۡ حَجَّ ٱلۡبَيۡتَ أَوِ ٱعۡتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَاۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
158. Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

D. WASPADAI FAKTOR KEGAGALAN
Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 197:
ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ
197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
Do'a kita untuk sahabat-sahabat yang akan menunaikan ibadah haji:

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا
بَرَّ العَمَلُ

@supraha
https://chat.whatsapp.com/9tSmCKnLkP22ncfZ5ATIiO
Do'a kita untuk saudara kita di Lombok pada khususnya, dan NKRI pada umumnya:

لا حول ولا قوة إلا بالله
حسبنا الله ونعم الوكيل
لا إله إلا أنت سبحانك إنا كنا من الظالمين
يا حي برحمتك نستغيث
يا حي برحمتك نستغيث
يا حي برحمتك نستغيث
يا حي برحمتك نستغيث
يا حي برحمتك نستغيث
يا حي برحمتك نستغيث
يا حي برحمتك نستغيث لسلامة وعافية إخواننا المسلمين في لومبوك وغيرها
اللهم لا تؤاخذنا بما كسبت أيدينا
اللهم لا تؤاخذنا بما فعل السفهاء منا ولا تعذّبنا يا الله بما عمل المجرمون بيننا
اللهم أنت ربنا لا إله إلا أنت خلقنا ونحن عبيدك ونحن على عهدك ووعدك ما استطعنا نعوذ بك من شرّ ما صنعنا ونبوء لك بنعمتك علينا ونبوء بذنوبنا فاغفر لنا فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

اَللَّهُمّ إِنّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ؛ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّمَافِيْهَا وَشَرِّمَا أَرْسَلْتَ بِهِ

آمين 🤲🤲🤲😭

@supraha

https://chat.whatsapp.com/9tSmCKnLkP22ncfZ5ATIiO
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214137217677133&id=1014022147

YUK KADER PEMIMPIN MUDA NKRI | PEMUDA LEADER NOT FOLLOWER
Seorang pemimpin tidak cukup bermodalkan semangat, namun ia harus terus membangun kapasitasnya yang melingkupi seluruh dimensi apa yang mempengaruhi keputusan kepemimpinannya. Akademi 'Islamic Leadership' yang digagas AQL ini akan kita dorong menjadi salah satu sumber kelahiran calon-calon pemimpin di masa datang. Pemimpin yang tidak meminta jabatan, namun selalui siap saat ia ditugaskan. Laksana anak panah yang dilesatkan dari busurnya.

(Wido Supraha | Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat)
*APAKAH NABI ﷺ PERNAH SESAT?*

📚 *DIALOG ISLAMI*
Kamis, 27 Dzulqa’dah 1439 H

Tema: Tadabbur Al-Qur’an

📬 *PERTANYAAN*
_Bagaimana memahami firman-Nya dalam surat Adh-Dhuha [93] ayat 7. Apakah benar Nabi Muhammad Saw dahulu pernah sesat dan kemudian mendapatkan petunjuk?_

📂 *JAWABAN*
_Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah berada dalam kesesatan tauhid, juga kesesatan amal seperti orang-orang jahiliyah di zamannya. Hendaknya memahami Al-Qur’an tidak menggunakan metode membaca terjemah, namun memahami makna bahasa dan sejarah saat ayat itu diturunkan, sebagaimana telah diteliti oleh para ulama bahasa dan tafsir sebelumnya._

📌 Dalam Kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibn Hisyam disebutkan sabda Nabi yang diingatkan sejak untuk tidak lagi membuka bajunya bertelanjang dada saat melakukan pekerjaan di luar rumah. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bagaimana Nabi pun diingatkan untuk tidak membuka pahanya saat melakukan pekerjaan di luar rumah. Tentunya ini bagian dari pembiasaan-pembiasaan baik dari-Nya sebagai bentuk pemuliaan dan kekhususan dibandingkan orang-orang Arab Jahiliyah.

📌 Dalam kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, disebutkan riwayat dari Ibn Atsir bahwa Nabi ﷺ pernah berkeinginan 2 (dua) kali mengikuti kebiasaan Jahiliyah, namun kemudian Allah menjadi penghalang antara dirinya dan keinginannya. Selepas itu Nabi ﷺ tidak lagi memiliki keinginan sebagaimana kebiasaan orang-orang Jahiliyah.

📌 Disebutkan juga dalam _Majma’ az-Zawa’id_ bahwa Nabi ﷺ pernah diminta kakeknya mencari unta yang hilang, namun lama tidak kembali hingga membuat kakeknya menyesal dan mengkhawatirkan terjadi sesuatu pada diri cucu kesayangannya tersebut. Nabi kecil kembali dengan selamat.

Sekitar 3 (tiga) tahun menjelang kenabian (nubuwwah), Nabi ﷺ melakukan pengasingan diri, uzlah, khulwah, ikhtila’, atau tahannuts. Sebagaimana kebiasaan orang-orang di saat itu, mencari tempat yang tinggi. Hal ini karena beliau melihat ada yang keliru di ummatnya, dan jurang perbedaan keyakinan antara dirinya dan kaumnya, namun beliau tidak faham apa dan bagaimana kebenaran itu sejatinya. Beliau bertemu dengan seorang penganut ajaran Ibrahim, ajaran samawi, yang sangat menjaga dirinya, namun ia hanya sendirian. Perasaan kebingungan dan gundah gulana inilah yang dirasakan oleh Nabi sebelum beliau diangkat menjadi Nabi.

Setelah memahami apa yang dialami Nabi, maka bagaimana pendapat ulama Tasir terhadap ayat tersebut. Berikut ini 3 (tiga) pendapat yang sejalan dengan apa yang dialami oleh beliau dalam hidupnya:

1⃣ *Allah mendapati beliau ﷺ sedang tidak berada atas jalan yang sekarang beliau berada di atasnya.*

Pendapat ini disebutkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya. Beliau juga mengutip pendapat dari As-Suddi yang juga ada dalam ath-Thabaqat al-Kubra-nya Ibn Sa’ad, bahwa maknanya adalah bingung berada dalam perkara kaumnya selama 40 (empat puluh) tahun:
وقال السدي في ذلك ما حدثنا ابن حميد ، قال : ثنا مهران ، عن السدي ( { ووجدك ضالا } ) قال : كان على أمر قومه أربعين عاما . وقيل : عني بذلك : ووجدك في قوم ضلال فهداك .

Dalam pendapat lain, dikutip ath-Thabari, bahwa Allah mendapati Nabi ﷺ ‘berada di tengah kaum yang sesat’, lalu Allah memberikan beliau ﷺ petunjuk. Maka kesesatan dalam tauhid dan amal itu dapat kita temukan telah dialami dan dilakukan oleh kaum dimana Nabi hidup, tumbuh dan besar, bukan pada diri Nabi ﷺ sendiri.

2⃣ *Belum mengetahui berbeda dengan kesesatan, karena belum mengetahui dapat bermakna belum tahu apa yang seharusnya dikerjakan, namun juga menahan diri dari apa yang dikerjakan orang lain.*

Ibn Katsir menafsirkan bahwa beliau ﷺ dahulu belum mengetahui Kitab Suci, belum mengetahui iman, sebagaimana surat Asy-Syūrā [42] ayat 52:

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab
(Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.


Ibn Katsir menjelaskan bahwa ulama tafsir lainnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Baghawi, menjelaskan bahwa di antara maknanya adalah bahwa Nabi ﷺ pernah tersesat di lereng-lereng pegunungan Makkah saat ia masih kecil, kemudian ia dapat pulang kembali ke rumahnya. Pendapat lain, ia pernah tersesat bersama pamannya di tengah jalan menuju negeri Syam. Saat itu Nabi ﷺ mengendarai unta betina di malam yang gelap, dan datanglah Iblis yang menyesatkannya dari jalur jalannya. Maka datanglah Malaikat Jibril yang langsung meniup Iblis hingga terpental jauh sampai ke negeri Habasyah. Kemudian Jibril meluruskan kembali arah tunggangan Nabi ﷺ ke jalur yang dituju:

‎وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ [إِنَّ] الْمُرَادَ بِهَذَا أَنَّهُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، ضَلَّ فِي شِعَابِ مَكَّةَ وَهُوَ صَغِيرٌ، ثُمَّ رَجَعَ. وَقِيلَ: إِنَّهُ ضَلَّ وَهُوَ مَعَ عَمِّهِ فِي طَرِيقِ الشَّامِ، وَكَانَ رَاكِبًا نَاقَةً فِي اللَّيْلِ، فَجَاءَ إِبْلِيسُ يَعْدِلُ بِهَا عَنِ الطَّرِيقِ، فَجَاءَ جِبْرِيلُ، فَنَفَخَ إِبْلِيسَ نَفْخَةً ذَهَبَ مِنْهَا إِلَى الْحَبَشَةِ، ثُمَّ عَدَلَ بالراحلة إلى الطريق. حكاهما البغوي


3⃣ *Menganut syariat Ibrahim*

Al-Alusi menjelaskan bahwa sebelum Nubuwwah, Nabi ﷺ mengikuti ajaran Ibrahim a.s., sebagaimana keterangan Ibn Aqil:

ونص أبو الوفاء على ابن عقيل على أنه صلى الله عليه وسلم كان متديناً قيل بعثه بما يصح عنه أنه من شريعة إبراهيم عليه السلام

_Abul Wafa Ali bin Aqil menegaskan bahwa sebelum diutus, Nabi ﷺ menganut syariat Ibrahim yang shahih dari beliau._
*[Tafsir al-Alusi, 23/160]*


💡 _Sebelum menjadi Nabi, Allah jaga beliau agar sentiasa berada dalam kelurusan (_hanifiyah as-samhah_), Allah jaga beliau dari perbuatan yang sia-sia, Allah takdirkan beliau menjadi orang yang terpercaya (Al-Amin) meski berada di tengah orang-orang yang sesat, dan Allah biasakan beliau dengan adab-adab yang baik. Maka Nabi kita yang mulia tidak pernah berada dalam kesesatan, tidak pernah menjadi orang yang sesat. Petunjuk wahyu yang kemudian diberikan kepadanya pada akhirnya mengubah kaum yang sesat ke jalan cahaya petunjuk._

Wallāhu a'lam,

Semangat pagi🌞🌞

🌤🌤🌤

👤 Teman Dialog Islami: Dr. Wido Supraha (Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat | Dosen Tetap Magister Pendidikan Agama Islam Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Silahkan bergabung dalam Channel Dialog Islami: https://chat.whatsapp.com/9tSmCKnLkP22ncfZ5ATIiO

*Terima kasih telah membantu menyebarkan pesan dakwah ini.*
[Sahabat, begitu masuk adzan Maghrib malam ini, maka telah masuk bulan Dzulhijjah. Persiapkan amal-amal shalih terbaikmu. Berkurbanlah nanti di tanggal 10, dan janganlah memotong kuku dan rambu hingga kurban telah disembelih.]
Berpuasa di hari Senin, hari dilahirkannya Nabi ﷺ sekaligus diangkat sbg Rasul. Lebih spesial lagi, karena hari ini, Senin pertama di awal bulan. Jauh lebih spesial, karena ini hari ke-I dari 10 hari terbaik dalam kurun satu tahun hijriyah. Semoga Allah berkahi kehidupan kita.

t.me/supraha
ANTARA AMAL SHĀLIH DAN FĀSID

Amal Shalih adalah amal yang jika dikerjakan akan memperbaiki dirinya, keluarganya, masyarakatnya bahkan lingkungannya. Lawannya adalah Amal Fasid, amal yang jika dikerjakan akan merusak dirinya, keluarganya, masyarakatnya bahkan lingkungannya.

Kejarlah amal shalih yang diridhai.

Join Dialog Islami:
https://chat.whatsapp.com/9tSmCKnLkP22ncfZ5ATIiO