Ippho Santosa - ipphoright
24.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Anda karyawan?
Atau punya karyawan?
Coba baca ini…

Semua orang tahu #KerjaItuIbadah (Work with Worship).
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga inti dan membantu keluarga besar.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
- Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah, di mana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
- Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.

Ya, kerja itu ibadah. Demikian pula bisnis dan kuliah, itu semua ibadah. Asalkan niatnya dan caranya benar. Lantas, bagaimana dengan falsafah ‘kerja kerja kerja’? Simak kelanjutannya » bit.ly/2aQgt6V
Males kerja? Males ngantor?

Di mana-mana saya sering mengingatkan bahwa #KerjaItuIbadah (Work with Worship).

- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga inti dan membantu keluarga besar.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
- Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah, di mana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
- Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.

Ya, kerja itu ibadah. Demikian pula bisnis dan kuliah, itu semua ibadah. Asalkan niatnya dan caranya benar. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Curi-curi waktu di kantor.
Menjelek-jelekkan atasan.
Datang telat, pulang cepat.

Pernahkan Anda melihat fenomena ini di kantor-kantor.

Beberapa hari yang lalu, saya diundang oleh Indonesia Power, sebuah BUMN. Ya, in-house seminar. Pada kesempatan itu, sedikit-banyak saya bicara soal #KerjaItuIbadah. Memang, semua profesional sudah tahu tentang ini, namun bagaimana dengan penerapannya? Contoh:

-       Ia curi-curi waktu di kantor. Atau, badannya di kantor, tapi hati dan pikirannya di luar kantor. Pantaskah kita mengaku kerja itu ibadah?

-       Ia menjelek-jelekkan atasan dan rekan sekantor. Bahkan sering bergunjing tentang kantor. Pantaskah kita mengaku kerja itu ibadah?

-       Ia tidak peduli dengan masalah-masalah kantor yang tidak berhubungan langsung dengan dirinya. Dengan alasan beda divisi dan beda KPI, ia enggan menolong rekan sekantor.

-       Ia mementingkan office politic daripada office performance. Ia menjalankan ‘politik kotor’ di kantor.

-       Tidak jarang ia membenarkan dirinya sendiri, menyalah-nyalahkan keadaan, bahkan oportunis dari setiap keadaan di kantor.

-       Masuknya nyuap, datangnya telat, pulangnya cepat, ngeluhnya tiap saat, kerjanya nyendat-nyendat, dan malasnya berlipat-lipat. Hm, masih ngaku kerja itu ibadah? Hehehe, kalau Anda tidak melakukannya, yah Anda tidak perlu tersinggung.

Masih pantaskah kita mengaku kerja itu ibadah? Tak ada salahnya kalau kita sama-sama merenungkan ini. Dan mohon sampaikan tulisan ini kepada rekan kerja Anda. Syukur-syukur kalau kita semua akhirnya tersadarkan.

Ingatlah, kerja hanya akan bernilai ibadah jika kita iringi dengan niat yang benar, sikap yang benar, dan cara yang benar. Bukan sekadar kerja. Demikian pula teman-teman yang masih belajar atau yang sudah berbisnis. Hendaknya semua kesibukan kita terhitung ibadah.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hugh Jackman dan Robert Downey Jr, adalah dua aktor yang paling mengena dalam memerankan karakter superhero-nya, dalam hal ini Wolverine dan Iron Man. Total. Ini menurut pendapat pribadi saya yang tentu saja sangat subjektif.

Btw, saya ini 'sufi'. Maksudnya 'suka film' hehe. Bukan pengamat film ya. Selama ini saya dan istri lumayan ngikutin film-film terbaru yang tayang di bioskop, terutama film-film action.

Diperankan oleh Hugh Jackman, kita seolah-olah bisa merasakan sosok Wolverine atau Logan begitu suram dan gemar menyendiri. Diperankan oleh Robert Downey Jr, kita seolah-olah bisa merasakan sosok Iron Man atau Tony Stark begitu powerful dan kadang belagu.

Di Museum Madame Tussaud di Los Angeles, bersama istri, saya melihat patung lilin Wolverine dan Iron Man sangat diminati. Pengunjung mengantri dan silih berganti berfoto di sampingnya.

Kemudian saya melakukan komparasi. Saya melihat aktor-aktor yang lain 'cuma' menjalankan perannya sebagai superhero. Tapi belum benar-benar mengena. Tidak 100% total.

Lantas, apa hikmahnya buat kita? Nah, kita sehari-hari menyandang peran yang harus kita jalankan. Right? Entah sebagai manajer, dokter, guru, arsitek, pengusaha, mahasiswa, atau peran lainnya. Maka, jalankan peran itu dengan total. Jangan asal.

Selama 5 hari ini, saya berada di Flores dan Kupang (NTT) juga di Lombok (NTB). Sebisanya, saya berusaha menjalankan peran saya sebagai motivator dan sebagai traveller dengan total. Di buku Success Protocol, saya pun menyerukan, "Bekerjalah dengan itqan." Artinya:
- teliti
- hati-hati
- sepenuh hati
- bermutu tinggi

Apalagi kita sama-sama tahu, kerja adalah ibadah. Dengan memaknai kerja adalah ibadah, semoga kita tidak termasuk golongan orang yang gemar mengeluh dan bergunjing di kantor.

Terlepas dari itu, tak semua negara mengenal konsep kerja adalah ibadah. Beruntunglah, walaupun belum sempurna penerapannya, Indonesia sedikit-banyak mengenal konsep #KerjaItuIbadah.

Kembali soal menjalankan peran dengan total. Sekiranya ini benar-benar terjadi, maka insya Allah kita akan lebih puas, lebih bahagia, lebih bermakna, lebih dihormati, dan dibayar tinggi. Jadi, sangat menguntungkan dari berbagai sisi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.



Note: Saatnya ajak keluarga kita bergabung ke channel Telegram @ipphoright atau klik telegram.me/ipphoright - Semoga setiap niat dan ajakan kita terhitung amal.
Saya entrepreneur. Tapi saya sangat menghormati mereka yang memilih untuk bekerja, jadi karyawan. Di buku Success Protocol, saya pernah menyerukan, "Bekerjalah dengan itqan."

Artinya:
- teliti
- hati-hati
- sepenuh hati
- bermutu tinggi
- sulit disaingi

Apalagi kita sama-sama tahu, kerja adalah ibadah. Berkah insya Allah. Dengan memaknai kerja adalah ibadah, semoga kita tidak termasuk golongan orang yang gemar mengeluh dan bergunjing di kantor.

Ada yang bekerja, niatnya sekedar untuk mendapatkan upah. Ada pula sekedar untuk mengisi waktu. Tentu, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi soal keberkahan, saya pikir nggak akan optimal.

Terlepas dari itu, tak semua negara mengenal konsep kerja adalah ibadah. Beruntunglah, walaupun belum sempurna penerapannya, Indonesia sedikit-banyak mengenal konsep #KerjaItuIbadah.

Kembali soal menjalankan pekerjaan dengan itqan. Sekiranya ini benar-benar terjadi, maka insya Allah kita akan lebih puas, lebih bahagia, lebih bermakna, lebih dihormati, dan dibayar lebih tinggi. Jadi, sangat menguntungkan dari berbagai sisi.

Pada akhirnya, saya serukan lagi, "Bekerjalah dengan itqan." Sekian dari saya, Ippho Santosa.