“Mas Ippho, kok rajin banget nulis di Telegram dan social media?”
Mendengar pertanyaan itu, saya pun teringat pesan guru saya, "Apapun profesi dan posisimu, sangat disarankan untuk menulis."
Setiap kita tentulah dikaruniai ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Sekecil apapun. Tidak inginkah Anda melipatgandakan manfaat itu dengan menuliskannya dan menyebarkannya?
Anda cukup mengemasnya menjadi satu tulisan yang apik dan menarik, sehingga orang lain memutuskan untuk membacanya, menyebarkannya, dan memetik manfaatnya. Istilahnya, memasifkan kebaikan.
Ingatlah, ucapan akan menguap. Tapi, tulisan akan mengendap. Hampir-hampir abadi. Ada sebuah petuah yang berbunyi, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Petuah itu benar adanya. Seratus persen. Ulama-ulama terdahulu sudah membuktikannya. Tokoh-tokoh dunia pun sudah melakukannya.
Gemar menulis bahkan bisa meredam emosi negatif, membuat kita lebih tenang, serta menyadari hal-hal penyebab kemarahan. Ini menurut Truth Heal Journal.
Yah, Anda bisa saja mulai menulis di blog, socmed, buletin kantor, mading di sekolah, kolom di koran, atau di mana saja. Gimana dengan buku? Nah, itu lebih baik. Hadirnya sebuah buku menunjukkan profesionalisme, portfolio, personal branding, dan kebanggaan bagi keluarga. Amal jariyah? Insya Allah itu pasti, bergantung niatnya.
Mau mengenal dunia? Bacalah buku. Mau dikenal dunia? Tulislah buku. Kalimat barusan amat sulit untuk disanggah dan dibantah. Alhamdulillah, saya pribadi bisa keliling dunia dan bertemu dengan puluhan tokoh dunia, yang menjadi wasilah alias perantara adalah buku.
Dan upah yang paling berharga bagi seorang penulis seperti saya adalah testimoni tulus dari pembaca yang menyatakan bahwa dia sudah berubah jauh lebih baik setelah membaca buku saya. Wah, mendengar ini, ada perasaan sejuk yang menyusup ke lubuk hati saya. Apalagi si pembaca yang telah berubah ini kemudian mengajak orang-orang untuk mengikuti langkah-langkahnya.
Nah, sekiranya Anda mengalami perubahan positif setelah bergabung di channel ipphoright ini, silakan japri ke admin. Testimoni tulus dari teman-teman insya Allah menjadi penyejuk dan penyemangat bagi kami untuk tetap menulis. Terakhir, mohon doanya untuk saya dan keluarga saya, juga kita semua. Semoga berkah berlimpah!
Mendengar pertanyaan itu, saya pun teringat pesan guru saya, "Apapun profesi dan posisimu, sangat disarankan untuk menulis."
Setiap kita tentulah dikaruniai ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Sekecil apapun. Tidak inginkah Anda melipatgandakan manfaat itu dengan menuliskannya dan menyebarkannya?
Anda cukup mengemasnya menjadi satu tulisan yang apik dan menarik, sehingga orang lain memutuskan untuk membacanya, menyebarkannya, dan memetik manfaatnya. Istilahnya, memasifkan kebaikan.
Ingatlah, ucapan akan menguap. Tapi, tulisan akan mengendap. Hampir-hampir abadi. Ada sebuah petuah yang berbunyi, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Petuah itu benar adanya. Seratus persen. Ulama-ulama terdahulu sudah membuktikannya. Tokoh-tokoh dunia pun sudah melakukannya.
Gemar menulis bahkan bisa meredam emosi negatif, membuat kita lebih tenang, serta menyadari hal-hal penyebab kemarahan. Ini menurut Truth Heal Journal.
Yah, Anda bisa saja mulai menulis di blog, socmed, buletin kantor, mading di sekolah, kolom di koran, atau di mana saja. Gimana dengan buku? Nah, itu lebih baik. Hadirnya sebuah buku menunjukkan profesionalisme, portfolio, personal branding, dan kebanggaan bagi keluarga. Amal jariyah? Insya Allah itu pasti, bergantung niatnya.
Mau mengenal dunia? Bacalah buku. Mau dikenal dunia? Tulislah buku. Kalimat barusan amat sulit untuk disanggah dan dibantah. Alhamdulillah, saya pribadi bisa keliling dunia dan bertemu dengan puluhan tokoh dunia, yang menjadi wasilah alias perantara adalah buku.
Dan upah yang paling berharga bagi seorang penulis seperti saya adalah testimoni tulus dari pembaca yang menyatakan bahwa dia sudah berubah jauh lebih baik setelah membaca buku saya. Wah, mendengar ini, ada perasaan sejuk yang menyusup ke lubuk hati saya. Apalagi si pembaca yang telah berubah ini kemudian mengajak orang-orang untuk mengikuti langkah-langkahnya.
Nah, sekiranya Anda mengalami perubahan positif setelah bergabung di channel ipphoright ini, silakan japri ke admin. Testimoni tulus dari teman-teman insya Allah menjadi penyejuk dan penyemangat bagi kami untuk tetap menulis. Terakhir, mohon doanya untuk saya dan keluarga saya, juga kita semua. Semoga berkah berlimpah!
Deva Mahenra, Denny Cagur, Teuku Wisnu, dll adalah pembaca buku-buku saya sejak lama. Bahkan sebelum kami saling kenal secara personal. Alhamdulillah
Uang kertas selalu menemui masalah alias serba salah, ketika ditakar nilainya dengan barang dan jasa. Diperlukan lebih banyak uang untuk membeli benda yang sama, dan di lembaran uang tersebut ditulislah angka-angka yang semakin besar. Ya, inflasi.
Emas dan perak, nilai keduanya bisa saja tidak naik tinggi-tinggi amat, namun tetap berharga untuk ditukar dengan barang dan jasa. Bahkan, nilai keduanya secara konsisten dan persisten naik melebihi inflasi, sehingga siapa saja yang menyimpan asetnya dalam bentuk emas dan perak tidak pernah merasa rugi.
Untuk menjabarkan fenomena ini, Al-Ghazali dengan sederhana menyebut emas dan perak, “Bukanlah harga, melainkan cermin yang menggambarkan harga-harga.” Ya, cermin yang menggambarkan harga-harga. Hal ini perlu dipahami oleh semua orang, terutama karyawan alias orang gajian.
Untuk menangkal inflasi, saya sangat menyarankan teman-teman untuk berinvestasi. Dengan kata lain, gaji tanpa investasi, pastilah tergerus inflasi. Berinvestasi di mana? Emas, boleh. Properti, boleh. Reksadana syariah, boleh. Kawin sama orang kaya juga boleh. Hehehe. Tapi, apa iya orang kayanya mau sama ente? Hehehe.
Kalau uangnya mepet, gimana mau investasi? Justru kalau mepet, harus memaksakan diri untuk investasi. Supaya ke depan, nggak mepet-mepet lagi. Orang kaya, tanpa investasi sekalipun, tetap kaya. Kita yang belum kaya ini yang lebih memerlukan investasi. Mulai saja kecil-kecilan. Siap?
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Emas dan perak, nilai keduanya bisa saja tidak naik tinggi-tinggi amat, namun tetap berharga untuk ditukar dengan barang dan jasa. Bahkan, nilai keduanya secara konsisten dan persisten naik melebihi inflasi, sehingga siapa saja yang menyimpan asetnya dalam bentuk emas dan perak tidak pernah merasa rugi.
Untuk menjabarkan fenomena ini, Al-Ghazali dengan sederhana menyebut emas dan perak, “Bukanlah harga, melainkan cermin yang menggambarkan harga-harga.” Ya, cermin yang menggambarkan harga-harga. Hal ini perlu dipahami oleh semua orang, terutama karyawan alias orang gajian.
Untuk menangkal inflasi, saya sangat menyarankan teman-teman untuk berinvestasi. Dengan kata lain, gaji tanpa investasi, pastilah tergerus inflasi. Berinvestasi di mana? Emas, boleh. Properti, boleh. Reksadana syariah, boleh. Kawin sama orang kaya juga boleh. Hehehe. Tapi, apa iya orang kayanya mau sama ente? Hehehe.
Kalau uangnya mepet, gimana mau investasi? Justru kalau mepet, harus memaksakan diri untuk investasi. Supaya ke depan, nggak mepet-mepet lagi. Orang kaya, tanpa investasi sekalipun, tetap kaya. Kita yang belum kaya ini yang lebih memerlukan investasi. Mulai saja kecil-kecilan. Siap?
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Anda karyawan?
Suka atau tidak suka,
siap atau tidak siap,
atasan atau bawahan,
pastilah Anda bakal pensiun.
Betul apa betul?
Sudahkah Anda mempersiapkan diri?
Izinkan saya mengambil sebuah ilustrasi. Sebuah penelitian yang dihelat oleh Liberty Investments menyibak bahwa untuk mempersiapkan diri pensiun di umur 40 tahun, setidaknya Anda harus menabung sebesar 62,44 persen dari gaji bulanan Anda. Rutin tentunya. Sementara, jika Anda memutuskan untuk pensiun di usia yang lebih tua yaitu 70 tahun, Anda hanya perlu menabung sebesar 5,27 persen dari gaji bulanan Anda.
Masih banyak lagi hal-hal yang perlu kita ketahui sebagai karyawan dan calon pensiunan. Ada baiknya Anda mengikuti training persiapan pensiun, apakah yang diadakan oleh kantor ataupun Anda ikuti sendiri di luar kantor. Sekurang-kurangnya, bacalah buku tentang persiapan pensiun. Kabar baiknya, saya dan kawan-kawan insya Allah akan merilis buku seperti ini dan royalti 100% untuk sedekah.
Yang harus dipahami oleh karyawan adalah, masa pensiun bukanlah akhir dari hidup dan bukanlah ujung dari karya. Sama sekali BUKAN. Bagi sebagian orang, masa pensiun justru menjadi ‘kurva kedua’ dalam hidupnya, yakni masa produktif berikutnya setelah masa tugas resminya usai dan selesai. Sebut saja, second chance. Kapan-kapan, kita sambung lagi.
Salam berkah berlimpah dari saya, Ippho Santosa.
Suka atau tidak suka,
siap atau tidak siap,
atasan atau bawahan,
pastilah Anda bakal pensiun.
Betul apa betul?
Sudahkah Anda mempersiapkan diri?
Izinkan saya mengambil sebuah ilustrasi. Sebuah penelitian yang dihelat oleh Liberty Investments menyibak bahwa untuk mempersiapkan diri pensiun di umur 40 tahun, setidaknya Anda harus menabung sebesar 62,44 persen dari gaji bulanan Anda. Rutin tentunya. Sementara, jika Anda memutuskan untuk pensiun di usia yang lebih tua yaitu 70 tahun, Anda hanya perlu menabung sebesar 5,27 persen dari gaji bulanan Anda.
Masih banyak lagi hal-hal yang perlu kita ketahui sebagai karyawan dan calon pensiunan. Ada baiknya Anda mengikuti training persiapan pensiun, apakah yang diadakan oleh kantor ataupun Anda ikuti sendiri di luar kantor. Sekurang-kurangnya, bacalah buku tentang persiapan pensiun. Kabar baiknya, saya dan kawan-kawan insya Allah akan merilis buku seperti ini dan royalti 100% untuk sedekah.
Yang harus dipahami oleh karyawan adalah, masa pensiun bukanlah akhir dari hidup dan bukanlah ujung dari karya. Sama sekali BUKAN. Bagi sebagian orang, masa pensiun justru menjadi ‘kurva kedua’ dalam hidupnya, yakni masa produktif berikutnya setelah masa tugas resminya usai dan selesai. Sebut saja, second chance. Kapan-kapan, kita sambung lagi.
Salam berkah berlimpah dari saya, Ippho Santosa.
Mau umrah?
Mau mengumrahkan?
Hm, berarti tulisan ini untuk Anda. Sempatkan membaca.
Ke Tanah Suci adalah impian bagi banyak orang. Bagaimana caranya? Pertama, pantaskan diri (secara amal dan akhlak). Kedua, buka tabungan khusus. Ketiga, segera ikut manasik.
Ada tips yang lain? Ada. Banyak. Detailnya akan saya sampaikan ketika member di channel ini sudah mencapai 15.000.
Nah, begitu pulang dari Tanah Suci, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi sumber perubahan (agent of change)? Simak deh >> http://bit.ly/DariTanahSuci
Mau mengumrahkan?
Hm, berarti tulisan ini untuk Anda. Sempatkan membaca.
Ke Tanah Suci adalah impian bagi banyak orang. Bagaimana caranya? Pertama, pantaskan diri (secara amal dan akhlak). Kedua, buka tabungan khusus. Ketiga, segera ikut manasik.
Ada tips yang lain? Ada. Banyak. Detailnya akan saya sampaikan ketika member di channel ini sudah mencapai 15.000.
Nah, begitu pulang dari Tanah Suci, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi sumber perubahan (agent of change)? Simak deh >> http://bit.ly/DariTanahSuci
Salah satu pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan bahwa kegiatan halal bihalal adalah produk asli Indonesia. Di negara lain tak ada istilah seperti ini. Menurut NU, adalah KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), salah satu pendiri NU asal Jombang, yang turut mencetuskan tradisi dan istilah tersebut.
Ini bermula saat kepemimpinan presiden pertama Indonesia, Bung Karno, dihadapkan dengan permasalahan yang serius. Sejumlah kementerian dalam kabinet mengalami disintegrasi antara satu dengan yang lain. Bagi Bung Karno, persoalan tersebut adalah perkara yang berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Kemudian Bung Karno menanyakan sebuah solusi yang tepat kepada kyai-kyai.
Lalu Bung Karno disarankan untuk mengadakan silaturahim antar menteri dalam kabinet. Dan ketika Bung Karno meminta ada istilah khusus yang lebih konkret, maka muncullah istilah halal bihalal. Sekarang, tradisi ini identik dengan acara silaturahim dan saling memaafkan paska Lebaran. Insya Allah ini baik secara kesehatan juga baik secara rezeki.
Simak lanjutannya » http://bit.ly/Maafkan
Ini bermula saat kepemimpinan presiden pertama Indonesia, Bung Karno, dihadapkan dengan permasalahan yang serius. Sejumlah kementerian dalam kabinet mengalami disintegrasi antara satu dengan yang lain. Bagi Bung Karno, persoalan tersebut adalah perkara yang berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Kemudian Bung Karno menanyakan sebuah solusi yang tepat kepada kyai-kyai.
Lalu Bung Karno disarankan untuk mengadakan silaturahim antar menteri dalam kabinet. Dan ketika Bung Karno meminta ada istilah khusus yang lebih konkret, maka muncullah istilah halal bihalal. Sekarang, tradisi ini identik dengan acara silaturahim dan saling memaafkan paska Lebaran. Insya Allah ini baik secara kesehatan juga baik secara rezeki.
Simak lanjutannya » http://bit.ly/Maafkan
Rezeki tidak disangka-sangka, siapa sih yang nggak mau? Orang kaya sekalipun, pasti mau. Apalagi kita yang masih punya sederet cicilan. Hehehe.
Kapan datangnya rezeki seperti itu? Ternyata berpola.
Dan begini polanya:
- Setelah kita berserah diri kepada-Nya (tawakal)
- Saat kita berusaha mematuhi perintah-Nya
- Saat kita berusaha menjauhi larangan-Nya
- Saat kita berikhtiar sungguh-sungguh
Itu pola umumnya dan hampir semua orang sudah mengetahuinya.
Terus, apa pola khususnya? Ternyata banyak. Karena channel ini sudah mencapai 12.000 member, maka izinkan saya untuk memberitahu pola-pola khusus dari rezeki tidak disangka-sangka.
Di antaranya:
- Ketika mood kita lagi bagus-bagusnya. Amat jarang terjadi, kita lagi marah-marah lalu dapat telepon yang isinya job atau sales yang besar.
- Selesai beramal dan berdoa.
- Setelah membantu orang lain.
- Setelah dizalimi namun kita bersabar.
- Setelah jatuh namun kita tawakal.
- Ketika bersegera menuntaskan tanggung-jawab besar.
Mau praktek?
Boleh dimulai dari yang mudah-mudah dulu.
Btw, sayang sekali, ilmu sebagus ini hanya kita-kita saja yang tahu. Tak inginkah Anda melihat sahabat dan saudara Anda turut membaik rezekinya?
Ingatlah, saat kita sungguh-sungguh berharap orang lain membaik rezekinya, maka Dia Yang Maha Pemurah serta-merta memperbaiki rezeki kita.
Maka bantulah orang lain untuk membaik rezekinya. Dengan ilmu atau apapun. Sekiranya belum bisa, tunjukkan jalan menuju ilmu tersebut. Ya, ini bagian dari praktek menuju rezeki yang tidak disangka-sangka.
Salah satu kuncinya ada di sini. Ya, di sini. Ketika Anda mengajak orang lain bergabung ke channel ipphoright ini, niatkan sungguh-sungguh agar mereka membaik rezekinya. Mudah-mudahan kesungguhan itu berdampak buat rezeki Anda.
Kalau Anda punya buku saya, pinjamkan itu kepada yang lain. Sekali lagi, berikan ilmu atau setidaknya tunjukkan jalan menuju ilmu tersebut. Simple tho? Boleh Telegram, boleh juga buku.
Satu hal lagi. Jika member di sini sudah mencapai 17.000, saya akan berbagi tips praktis untuk berumrah dan mengumrahkan. Nggak jadi soal berapapun uang yang ada di rekening kita saat ini.
Mau?
Kapan datangnya rezeki seperti itu? Ternyata berpola.
Dan begini polanya:
- Setelah kita berserah diri kepada-Nya (tawakal)
- Saat kita berusaha mematuhi perintah-Nya
- Saat kita berusaha menjauhi larangan-Nya
- Saat kita berikhtiar sungguh-sungguh
Itu pola umumnya dan hampir semua orang sudah mengetahuinya.
Terus, apa pola khususnya? Ternyata banyak. Karena channel ini sudah mencapai 12.000 member, maka izinkan saya untuk memberitahu pola-pola khusus dari rezeki tidak disangka-sangka.
Di antaranya:
- Ketika mood kita lagi bagus-bagusnya. Amat jarang terjadi, kita lagi marah-marah lalu dapat telepon yang isinya job atau sales yang besar.
- Selesai beramal dan berdoa.
- Setelah membantu orang lain.
- Setelah dizalimi namun kita bersabar.
- Setelah jatuh namun kita tawakal.
- Ketika bersegera menuntaskan tanggung-jawab besar.
Mau praktek?
Boleh dimulai dari yang mudah-mudah dulu.
Btw, sayang sekali, ilmu sebagus ini hanya kita-kita saja yang tahu. Tak inginkah Anda melihat sahabat dan saudara Anda turut membaik rezekinya?
Ingatlah, saat kita sungguh-sungguh berharap orang lain membaik rezekinya, maka Dia Yang Maha Pemurah serta-merta memperbaiki rezeki kita.
Maka bantulah orang lain untuk membaik rezekinya. Dengan ilmu atau apapun. Sekiranya belum bisa, tunjukkan jalan menuju ilmu tersebut. Ya, ini bagian dari praktek menuju rezeki yang tidak disangka-sangka.
Salah satu kuncinya ada di sini. Ya, di sini. Ketika Anda mengajak orang lain bergabung ke channel ipphoright ini, niatkan sungguh-sungguh agar mereka membaik rezekinya. Mudah-mudahan kesungguhan itu berdampak buat rezeki Anda.
Kalau Anda punya buku saya, pinjamkan itu kepada yang lain. Sekali lagi, berikan ilmu atau setidaknya tunjukkan jalan menuju ilmu tersebut. Simple tho? Boleh Telegram, boleh juga buku.
Satu hal lagi. Jika member di sini sudah mencapai 17.000, saya akan berbagi tips praktis untuk berumrah dan mengumrahkan. Nggak jadi soal berapapun uang yang ada di rekening kita saat ini.
Mau?
Kitab Suci hendaknya memberi arah dan semangat ketika bekerja. Orang yang benar-benar paham Kitab Suci-nya, tentulah:
- ia akan sungguh-sungguh dan tidak suka menunda-nunda (baca QS 94:7).
- ia akan berusaha mematuhi pemimpinnya (baca QS 4:59).
- ia akan menghormati rekan kerjanya (baca QS 28:77).
- ia tidak akan iri kepada rekan kerjanya (baca QS 4:32).
- ia tidak akan curi-curi waktu apalagi menipu (baca QS 83:1-3).
Niscaya terwujudlah Productivity with Spirituality.
Namun sayangnya sebagian orang sering membeda-bedakan. Ketika di rumah ibadah, dia sangat agamis dan memuliakan kitab sucinya. Ketika di kantor? Lain lagi sikapnya.
Semoga kita dan tim kita termasuk orang-orang yang menjadikan kitab suci sebagai solusi, arah, dan penyemangat. Juga menghadirkan nilai-nilai luhur dari Kitab Suci itu dalam kerja, bisnis, keluarga, dan kehidupan sehari-hari.
- ia akan sungguh-sungguh dan tidak suka menunda-nunda (baca QS 94:7).
- ia akan berusaha mematuhi pemimpinnya (baca QS 4:59).
- ia akan menghormati rekan kerjanya (baca QS 28:77).
- ia tidak akan iri kepada rekan kerjanya (baca QS 4:32).
- ia tidak akan curi-curi waktu apalagi menipu (baca QS 83:1-3).
Niscaya terwujudlah Productivity with Spirituality.
Namun sayangnya sebagian orang sering membeda-bedakan. Ketika di rumah ibadah, dia sangat agamis dan memuliakan kitab sucinya. Ketika di kantor? Lain lagi sikapnya.
Semoga kita dan tim kita termasuk orang-orang yang menjadikan kitab suci sebagai solusi, arah, dan penyemangat. Juga menghadirkan nilai-nilai luhur dari Kitab Suci itu dalam kerja, bisnis, keluarga, dan kehidupan sehari-hari.
Di tengah-tengah gelombang berita reshuffle, alhamdulillah tadi malam saya ber-halal bi halal bersama sejumlah tokoh. Mulai BJ Habibie, Jimly Asshiddiqie, Hidayat Nur Wahid, Amien Rais, sampai Agus Rahardjo (Ketua KPK). Hadir juga sederet pengusaha, motivator, ustadz, dan seniman seperti Ary Ginanjar, Syafii Antonio, Yusuf Mansur, Shamsi Ali, Fadly Padi, dan Opick. Acara halal bi halal semalam di-inisiasi oleh Saling Sapa, Dompet Dhuafa, dan sejumlah lembaga.
Serunya, di hadapan hadirin Habibie mengaku, “Film Habibie-Ainun, saya dedikasikan kepada istri saya. Film Rudy Habibie, saya dedikasikan kepada ibu saya. Mereka berdualah yang mengantarkan saya menjadi seperti sekarang.” Dalam buku 7 Keajaiban Rezeki (7KR), saya menamainya Sepasang Bidadari. Di akhir acara, Fadly Padi yang sudah membaca buku 7KR sejak lama, secara pribadi bilang ke saya, “Ini salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.”
Impian pribadi, target di kantor, dan visi di organisasi, hendaknya diselaraskan dengan semua orang. Yang pertama dan paling utama adalah dengan ibu dan istri. Mutu seorang pria dapat diketahui oleh dua wanita terdekatnya, yaitu ibu dan istri. Jangan heran, mereka yang belum menikah atau tidak selaras dengan ibu-istrinya, agak terbatas pencapaiannya. Jangan heran, mereka yang durhaka dengan orangtuanya, sering terjungkal dalam hidupnya.
Selaras, udah itu aja.
Serunya, di hadapan hadirin Habibie mengaku, “Film Habibie-Ainun, saya dedikasikan kepada istri saya. Film Rudy Habibie, saya dedikasikan kepada ibu saya. Mereka berdualah yang mengantarkan saya menjadi seperti sekarang.” Dalam buku 7 Keajaiban Rezeki (7KR), saya menamainya Sepasang Bidadari. Di akhir acara, Fadly Padi yang sudah membaca buku 7KR sejak lama, secara pribadi bilang ke saya, “Ini salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.”
Impian pribadi, target di kantor, dan visi di organisasi, hendaknya diselaraskan dengan semua orang. Yang pertama dan paling utama adalah dengan ibu dan istri. Mutu seorang pria dapat diketahui oleh dua wanita terdekatnya, yaitu ibu dan istri. Jangan heran, mereka yang belum menikah atau tidak selaras dengan ibu-istrinya, agak terbatas pencapaiannya. Jangan heran, mereka yang durhaka dengan orangtuanya, sering terjungkal dalam hidupnya.
Selaras, udah itu aja.
Pengen umrah? Atau mengumrahkan? Begini. Jika member di sini sudah mencapai 17.000, saya berjanji akan berbagi tips praktis untuk berumrah dan mengumrahkan. Nggak jadi soal berapapun saldo yang ada di rekening kita saat ini. Jadi, mari ajak teman-teman kita bergabung di channel ini. Tepatnya, channel ipphoright. Memperkenalkan seseorang dengan ilmu berumrah, insya Allah ini terhitung sebagai 'mengumrahkan'. Apalagi kita sama-sama tahu bahwa umrah itu mengundang rezeki dan solusi. Minat?
Mau jadi magnet rezeki? Simak >> http://m.bintang.com/success/read/2511453/jadi-magnet-rezeki-ini-11-kutipan-motivasi-dari-ippho-santosa
Benarkah dunia Cina dan dunia Islam itu berseberangan?
- Sejarah merekam, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
- Ada pepatah Arab yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Sebagian orang menyebut ini hadis. Terlepas itu pepatah atau hadis, mungkinkah Khalifah Usman RA mengutus rombongan ke Cina karena terinspirasi kalimat ini?
- Salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia.
- Menurut pakar studi Islam dari Universitas Hawaii, Prof James Frankel, diduga ada lebih dari 100 juta Muslim di Cina saat ini, yang sebagian besar merupakan etnis Hui. Sekedar informasi, Prof James Frankel dibesarkan dalam keluarga Yahudi.
- Semasa Dinasti Abbasiyah, beberapa komunitas Islam menetap di Cina. Seiring perjalanan waktu, orang-orang Islam di Cina disebut sebagai orang Hui Hui, yaitu pengikut Nabi Muhammad. Ini menurut Isaac Mason.
Manusia sering membenci ketika tidak mengetahui atau kurang mengetahui. Semoga dengan adanya fakta dan data di atas membuat kita lebih adil dalam menyikapi sesuatu. Insya Allah keterkaitan antara dunia Cina dan dunia Islam akan saya sampaikan dalam beberapa bagian tulisan.
- Sejarah merekam, Khalifah ke-3, Usman RA pernah mengutus rombongan diplomatik ke Cina (Tiongkok) sebanyak 60 orang yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Alhamdulillah saya sempat berziarah ke makamnya di Cina, kendati ada beda pendapat soal kebenaran makam ini.
- Ada pepatah Arab yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Sebagian orang menyebut ini hadis. Terlepas itu pepatah atau hadis, mungkinkah Khalifah Usman RA mengutus rombongan ke Cina karena terinspirasi kalimat ini?
- Salah satu sumbangsih bangsa Cina pada dunia Islam adalah kertas, di mana kemudian berdirilah pabrik kertas di Baghdad pada abad ke-8. Dan ini merupakan pabrik kertas pertama di dunia.
- Menurut pakar studi Islam dari Universitas Hawaii, Prof James Frankel, diduga ada lebih dari 100 juta Muslim di Cina saat ini, yang sebagian besar merupakan etnis Hui. Sekedar informasi, Prof James Frankel dibesarkan dalam keluarga Yahudi.
- Semasa Dinasti Abbasiyah, beberapa komunitas Islam menetap di Cina. Seiring perjalanan waktu, orang-orang Islam di Cina disebut sebagai orang Hui Hui, yaitu pengikut Nabi Muhammad. Ini menurut Isaac Mason.
Manusia sering membenci ketika tidak mengetahui atau kurang mengetahui. Semoga dengan adanya fakta dan data di atas membuat kita lebih adil dalam menyikapi sesuatu. Insya Allah keterkaitan antara dunia Cina dan dunia Islam akan saya sampaikan dalam beberapa bagian tulisan.
Matre, bolehkah?
Menurut riset yang dari perusahaan biro jodoh asal Singapura, Lunch Actually, ternyata wanita Indonesia cenderung lebih matre. Dalam artian, menilai pria dari sisi materi. Masih menurut riset tersebut, kebanyakan wanita di Indonesia lebih memilih pria yang memiliki karier dan penghasilan yang mapan. Tidak main-main, ini berdasarkan penelitian terhadap 1.659 responden.
Lantas, apa pendapat saya?
- Mapan, nikah.
- Belum mapan, tetap nikah.
- Justru setelah menikah, biasanya rezeki membaik. Lebih mudah menuju mapan.
- Dan perihal ini sudah terbukti di mana-mana.
Terlepas dari itu, benarkah menikah itu mengundang rezeki? Benarkah punya anak itu sekedar beban dan tanggung-jawab? Penjelasannya ada di sebuah ARTIKEL SERU yang sudah disimak 58.000 kali dengan 60 komen. Baca deh » http://bit.ly/JODOHKU
Menurut riset yang dari perusahaan biro jodoh asal Singapura, Lunch Actually, ternyata wanita Indonesia cenderung lebih matre. Dalam artian, menilai pria dari sisi materi. Masih menurut riset tersebut, kebanyakan wanita di Indonesia lebih memilih pria yang memiliki karier dan penghasilan yang mapan. Tidak main-main, ini berdasarkan penelitian terhadap 1.659 responden.
Lantas, apa pendapat saya?
- Mapan, nikah.
- Belum mapan, tetap nikah.
- Justru setelah menikah, biasanya rezeki membaik. Lebih mudah menuju mapan.
- Dan perihal ini sudah terbukti di mana-mana.
Terlepas dari itu, benarkah menikah itu mengundang rezeki? Benarkah punya anak itu sekedar beban dan tanggung-jawab? Penjelasannya ada di sebuah ARTIKEL SERU yang sudah disimak 58.000 kali dengan 60 komen. Baca deh » http://bit.ly/JODOHKU
Uang memiliki daya tarik yang sangat mengena. Walhasil, orang-orang pun mudah terpana dan terpesona.
Padahal...
Rezeki bukan sekedar uang.
Sekali lagi, bukan.
Yang namanya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, itu pun rezeki. Bahkan melebihi uang alias tak ternilai. Right? Tanpa kita sadari, justru dengan hadirnya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat ini, kita dimudahkan mencari dan dicari uang.
Ketika diberi uang dan banyak, kita menyebutnya rezeki. Lalu kita pun bersyukur. Sampai-sampai kita terharu. Lha, saat diberi kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, sudahkah kita bersyukur? Benar-benar bersyukur? Jleb!
Syukuri keberadaan guru dan sahabat kita. Salah satu caranya, dengan mendoakan mereka secara diam-diam. Saya ulang, secara diam-diam. Dengan cara ini, malaikat pun 'tak dapat menahan dirinya' untuk mendoakan kita. Insya Allah, itu nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Padahal...
Rezeki bukan sekedar uang.
Sekali lagi, bukan.
Yang namanya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, itu pun rezeki. Bahkan melebihi uang alias tak ternilai. Right? Tanpa kita sadari, justru dengan hadirnya kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat ini, kita dimudahkan mencari dan dicari uang.
Ketika diberi uang dan banyak, kita menyebutnya rezeki. Lalu kita pun bersyukur. Sampai-sampai kita terharu. Lha, saat diberi kesehatan, jodoh, guru, dan sahabat, sudahkah kita bersyukur? Benar-benar bersyukur? Jleb!
Syukuri keberadaan guru dan sahabat kita. Salah satu caranya, dengan mendoakan mereka secara diam-diam. Saya ulang, secara diam-diam. Dengan cara ini, malaikat pun 'tak dapat menahan dirinya' untuk mendoakan kita. Insya Allah, itu nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.