Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
"Enakan ngantor apa libur?”
“Enakan gawe apa nyante?"

Di in-house seminar saya sering tanya-tanya begitu. Dan serta-merta mereka menjawab, "Libuuuuur." Namun ketika ditanya benar-benar, akhirnya mereka mengakui ternyata bekerja itu lebih nikmat. Catat itu, bekerja itu lebih nikmat.

Sekiranya Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga?" Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi, hehehe. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.

Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Bekerja. Berjuang.

Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai. Bekerja. Berjuang.

Terakhir, dalam bekerja, ada baiknya kita menyimak petunjuk-petunjuk rezeki. Ternyata petunjuk-petunjuk itu ada, namun sayangnya sering tercecer selama ini » bit.ly/PetunjukRezeki
Selama berabad-abad manusia berjuang akan dua hal, yaitu kemakmuran dan kebahagiaan. Sayangnya, apa yang terjadi kemudian, sebagian besar manusia tidak mendapatkan kedua-duanya. Apalagi menurut penelitian Carnegie Mellon University, sejak 1983 hingga 2009 tingkat stress meningkat dari waktu ke waktu, 18% sampai 24%. Alih-alih bahagia yang bertambah, malah stress yang bertambah. Ini parah!

Yang sebenarnya:
- Target boleh bertambah, namun stress jangan sampai bertambah.
- Impian boleh membesar, namun resah dan gelisah jangan sampai membesar.

Bahkan di antara mereka ada yang mengalami gangguan jiwa. Beneran ada. Tidak mengada-ngada. Karena menurut mendiang Ann Landers, “1 dari 4 orang di dunia ini (dalam takaran tertentu) mengalami gangguan jiwa. Nah, apabila 3 orang yang Anda kenal baik-baik saja, berarti Anda-lah yang mengalami gangguan jiwa.” Hehehe, ini sih parah!

Kembali soal kebahagiaan. Benarkah jabatan, kekayaan, dan ketenaran bisa menjamin kebahagiaan? Mungkinkah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa? Simak cara-caranya » http://bit.ly/BAHAGIA
Negara mana yang paling berbahagia?

Survei World Happiness Report baru saja melaporkan dan ternyata Denmark berada di peringkat pertama sebagai negara paling berbahagia di dunia. Sementara, Burundi, berada di posisi paling buncit.

Laporan itu juga memuat negara yang memiliki kesenjangan sosial yang lebih sedikit ternyata warganya hidup jauh lebih bahagia. Swiss, Islandia, Norwegia dan Finlandia, seperti Denmark adalah negara-negara yang paling baik dalam jaminan keamanan sosialnya. Mereka adalah lima besar sebagai negara paling berbahagia.

Posisi Amerika Serikat berada di peringkat ke-13. Nomor paling buncit dari 156 adalah Burundi, bukan Suriah. Burundi mengalami banyak kekerasan serta gonjang-ganjing politik. Bahkan negara itu dianggap paling tak bahagia dibanding Suriah.

Indonesia berada dalam tingkat kebahagiaan di posisi 79. Rusia di peringkat 56 dan Jepang di peringkat 53. Laporan itu dirilis UN's Sustainable Development Solutions Network, dari Gallup World Poll yang mensurvei 1.000 orang dari setiap negara. Proses tersebut dihelat selama 3 tahun berturut turut.

Mungkin Anda bertanya, “Bisakah bahagia, sementara kita belum punya apa-apa?” Ternyata bisa. Simak cara-caranya » http://bit.ly/BAHAGIA
Ketika uang bisa membeli kebahagiaan...

Seorang peneliti di University of Cambridge di Inggris, Joe Gladstone, mengakui studi yang ada secara historis menunjukkan korelasi yang lemah antara uang dan kebahagiaan.

Namun Joe Gladstone mengklaim studinya menemukan sesuatu yang baru. Menurut studinya, uang bisa membeli kebahagiaan. Ya, kebahagiaan bisa dibeli. Syaratnya, kita harus membeli hal-hal yang cocok dengan kepribadian kita.

Sementara itu, riset klasik menunjukkan yang sebaliknya. Menurut Harvard Study of Adult Development, kunci kehidupan yang bahagia adalah kekuatan hubungan dengan keluarga, pasangan, dan sahabat. Bukan pada uang dan ketenaran. 

Lantas, apa pendapat saya? Sepertinya, lebih tepat kalau uang disebut sebagai alat bantu untuk mencapai kebahagiaan. Uang bukan semata-mata bertujuan konsumsi alias kepentingan pribadi. Melainkan uang juga bertujuan distribusi alias berbagi kepada sesama.

Lebih lanjut, telah ditemukan istilah 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989. Di mana munculnya bermacam perasaan positif setelah menolong dan berbagi. Ya, bahagia dapat diraih dengan sederet cara, salah satunya dengan berbagi.

Kembali soal bahagia. Saya sudah menulis tentang rahasia bahagia dan alhamdulillah sudah ribuan yang baca. Insya Allah tulisan ini penting sekali. Simak deh » http://bit.ly/BAHAGIA

Karena tulisan ini sangat penting, saya pun rela berbagi e-book untuk 10 pemenang bagi mereka yang sungguh-sungguh membacanya. Minat? Caranya:

Buka blog ini » http://bit.ly/BAHAGIA

Berikan komen Anda di blog tersebut. Mohon cantumkan juga alamat email Anda.

Boleh komen berulang untuk memperbesar kemungkinan menang.

Saya akan memilih 10 pemenang. Semoga tulisan saya dan ebook saya ini membawa kebahagiaan juga kesuksesan dalam hidup Anda.

Mohon doanya juga untuk saya beserta keluarga.
Ratemat Aboe adalah seorang penarik becak berusia 70-an. Bedanya dengan yang lain, dia punya jasa besar karena selalu menyisihkan waktu untuk mengajar anak-anak yang tidak mampu secara gratis di daerahnya, Jawa Timur.

Namun demikian, apa iya, jiwa sosial itu hanya muncul saat kita berusia tua? Sebelum dijawab, baiknya simak dulu uraian berikut.

Dalam beberapa tahun terakhir, ternyata keterlibatan anak-anak muda Indonesia pada aktivitas filantropi (sosial) cukup menyita perhatian. Menarik!

Biasanya mereka itu berbasis komunitas demi mengembangkan hasrat sosialnya. Sebagian lagi menjadi simpatisan, relawan, dan donatur di berbagai kegiatan sosial. Macam-macam.

Walhasil, potret filantropi tak lagi identik dengan kemunculan 'orang tua' atau 'orang kaya'. Kini, anak-anak muda ini siap mengambil-alih, entah mereka sudah kaya atau belum kaya.

Filantropi juga tidak lagi identik dengan kegiatan berbau keagamaan dan kebencanaan. Namun sekarang menjadi lebih luas dan 'lebih pop'.

Ada yang mendukung film nasional dan produk lokal. Ada juga yang menyelamatkan orang utan. Atau 'sekedar' menyiapkan kantong belanja yang tahan lama dan bisa didaur ulang. Semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan. Insya Allah semuanya baik.

Mau contoh? Sekelompok jurnalis Muda di Banyuwangi menunjukkan sikap pedulinya saat mengetahui kondisi seorang ibu-ibu bernama Juminten (50) yang menderita kanker. Mereka pun meliput dan urunan memberikan donasi.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi concern dalam kegiatan filantropi Anda?
Pernahkah sesama orang pelit bersatu, misal membuat asosiasi atau komunitas? Hehehe, nggak pernah. Ternyata orang pelit saja nggak suka sama orang pelit lainnya. Betul? Apalagi orang dermawan!

Orang pelit, adakah gunanya?

"Orang dermawan dan orang pelit, semuanya berguna bagimu. Orang dermawan, memberimu pertolongan. Orang pelit, memberimu pelajaran. Siapkan dirimu. Sesederhana itu." Demikianlah pesan guru saya beberapa tahun yang lalu.

Sebelum anda mengikuti pesan-pesan pada tulisan ini, ada baiknya anda memilih posisi duduk yang nyaman. Bukan apa-apa. Agar tulisan berikut bisa anda nikmati dan hayati sepenuh hati. Boleh?

Dan ini pertanyaan pertama saya: anda pilih mana, mentraktir atau ditraktir?

Begini. Kalau kita minta-minta, otak bawah sadar akan merekam, "Aku tidak mampu dan pantas dikasihani." Kemampuan kita akan melemah. Sayangnya, betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap begitu. Jangan-jangan anda juga termasuk, hehehe.

Hm, ngarep-ngarep ditraktir, malu dikit napa? Ayo miliki #MentalKaya! Diberi, yah terima. Nggak diberi, jangan ngarep-ngarep, jangan minta-minta. Nabi Muhammad sering diberi hadiah dan itu diterima oleh Nabi. Tapi, Nabi nggak pernah minta-minta. Harga diri pun terjaga.

"Sesiapa yang meminta sesuatu kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka ia telah memakan bara api," HR Ahmad.

Traktir dong!
Minta dong!
Gratis dong!
Oleh-oleh dong!

Pernah mendengar kalimat-kalimat itu? Sering kayaknya. Awal-awalnya cuma iseng, lama-lama jadi kebiasaan. Berurat-berakar. Ketika kemudian diingatkan, sudah tidak mempan lagi.

Misal kita perlu atau mau sesuatu, tapi nggak punya uang, terus gimana? Yah kerahkan tenaga. Umpama, anda ingin nonton konser Afgan atau Wali, tapi nggak punya uang. Yah kerahkan tenaga. Dekati panitianya dan jadilah penjual tiketnya (reseller). Begitu terjual 5 atau 10 tiket, sepertinya anda boleh masuk secara cuma-cuma.

Sekali lagi, kerahkan tenaga anda, berikan jasa anda. Bukan memelas apalagi memamerkan kemiskinan. Maaf, ini contoh saja. Agar anda dan saya punya mental kaya. Oleh karena itu, janganlah minta-minta pulsa, apalagi minta-minta saham. Maaf, sedikit ngelantur, hehehe.

Ingat ini. Walaupun kaya, tapi ia masih minta-minta pada sesama dan mempermalukan diri, itulah mental miskin. Kalau mental kaya? Walaupun belum kaya, ia terus berbagi dan menjaga harga diri. Anda pilih mana? Saya menulis ini bukan untuk nyinyir atau nyindir siapapun. Apalagi saya pribadi pernah hidup miskin selama belasan tahun.

Satu hal lagi. Sahabat sejati akan selalu men-support bisnis temannya. Ini juga mental kaya. Bukannya malah murah-murahin. Sekiranya teman ngasih diskon, yah terima. Te-ri-ma. Tapi kita jangan minta-minta apalagi sampai murah-murahin. Kan kasihan teman kita. Wong bisnisnya belum gede-gede amat.

Dulu teman saya buka bisnis ticketing. Saya pun membeli tiket dari dia. Selalu. Padahal, kadang harga tiketnya 5% lebih mahal daripada tempat lainnya. Nggak masalah, saya beli terus. Karena saya bisa memaklumi. Kan dia baru buka usaha, yah wajar kalau harganya belum kompetitif. Sekiranya saya dukung terus insya Allah harganya akan kompetitif. Dan benar, itulah yang terjadi kemudian.

Yakinlah. Bahagia bukan lagi ketika mendapatkan. Melainkan ketika membagi-bagikan. Itulah sejatinya mental kaya. Kalaupun mau minta-minta, cukup kepada Sang Pencipta saja. Ke makhluk, mah jangan. Apalagi ke tuyul, hehehe. Mungkin saat ini anda terpikir untuk men-share tulisan ini. Yah silakan saja.

Kalau minta-minta sama suami? Hehehe. Apabila dulu anda sudah meminta sama Allah untuk diberikan suami yang soleh, insya Allah suami yang soleh sudah memberikan sebelum istrinya meminta. Bukankah ciri pria sejati itu 'Sedikit bicara, banyak transfer'? Hahaha.

Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan agar kita semua memiliki mental kaya. Aamiin. Juga kaya beneran. Aamiin.Insya Allah bisa, ketika masing-masing kita sudah pantas. Karena tulisan ini sangat penting, jangan biarkan berhenti sampai di sini saja. Demi amal jariyah kita sama-sama, akan lebih baik kalau disebarkan kepada saudara dan sahabat anda.
Saat ini, alhamdulillah saya dikaruniai 3 anak. Yang terakhir, masih bayi. Dia berusia 7 bulan. Jelas, sebagai ayah, saya masih perlu belajar ini-itu.

Percakapan dengan bayi ternyata membawa andil yang besar, demi perkembangan otaknya. Kalau kita perhatikan, bayi memang belum bisa bicara. Namun keterlibatan interaktif dengan bayi bisa menumbuhkan kemahiran bahasa, kesiapan sekolah, dan kemantapan emosional bayi. Demikianlah menurut jurnal JAMA Pediatrics.

Sayangnya menurut riset, banyak sekali anak-anak yang tidak mengalami pola komunikasi demikian. Terutama, anak-anak yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Di samping itu, pakar literasi Harvard Graduate School of Education, Meredith Rowe mengungkapkan, kualitas percakapan-lah yang mempengaruhi perkembangan otak bayi. Bukan kuantitas.

Meredith Rowe berkolaborasi dengan Barry Zuckerman menyimpulkan bahwa orangtua tak perlu kaku mengikuti kuantitas tertentu atau mengajak bayi bicara sepanjang hari. Tak harus seperti itu. Orangtua baiknya fokus mencari waktu untuk interaksi yang penuh kasih-sayang dan berkualitas tinggi, sekalipun durasinya pendek.

Selama beberapa hari terakhir, saya bersama anak dan istri berkunjung ke kampung ibu saya di Sumatera Barat. Sepanjang perjalanan saya dan istri berusaha menjalin komunikasi yang intens dengan bayi kami. Insya Allah ini bagian dari pendidikan untuk si bayi, baik secara intelektual, maupun secara emosional dan spiritual.

Semoga sharing ini bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika Anda membantu anak yatim, siapa yang lebih senang? Anak yatim itu atau Anda?

Ketika Anda membantu orang dhuafa, siapa yang lebih senang? Orang dhuafa itu atau Anda?

Pikirkan dulu sebelum dijawab. Sudah?

Si anak yatim dan si orang dhuafa memang senang. Namun jangan salah, ternyata Anda-lah lebih senang. Coba ingat-ingat kembali, pasti Anda pernah mengalami perasaan senang ini. Betul apa betul? Di seminar 7 Keajaiban Rezeki, hal ini sering kita bahas bahkan kita praktekkan bareng-bareng.

Lebih senang, kok bisa? Simak deh penjelasan berikut. Satu hal yang perlu ditegaskan, sebelum men-share tulisan ini, baiknya Anda baca dulu sampai selesai. Boleh?

Begini. Telah ditemukan fenomena 'warm-glow-effect’ oleh James Andreoni pada tahun 1989, di mana orang-orang yang beramal atau berbagi, akan mengalami sensasi perasaan positif. Sekali lagi, perasaan positif ini diperoleh setelah tindakan mereka memberi atau membantu orang lain.

Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan, sejumlah area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa saling percaya teraktifkan ketika memberi. Otak pun dicurahi endorfin dan dopamin, sehingga menambah perasaan positif yang disebut 'helper’s high'. Semakin membaca tulisan ini, Anda pun semakin tertarik untuk men-share-nya.

Tidak cukup sampai di situ, rupanya terdapat sederet penelitian menunjukkan korelasi antara sikap dermawan dan kesehatan. Di antaranya penelitian Stephanie Post, yang dimuat dalam buku Why Good Things Happen To Good People, yang menyimpulkan bahwa berbagi kepada sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis, seperti HIV.

Sebagian orang sudah yakin dengan dalil-dalil agama terkait berbagi. Itu bagus. Namun yang lain masih ragu-ragu. Jujur saja, mereka lebih menyukai data-data ilmiah. Nah, penjelasan singkat di atas membuktikan secara rasional bahwa berbagi itu menyehatkan. Benar-benar menyehatkan. Right?

Kita bisa berbagi dalam bentuk apa saja. Mungkin uang, tenaga, waktu, perhatian, doa, atau yang lainnya. Di hari yang sangat baik ini, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah men-share tulisan ini. Bayangkan, setiap kali si pembaca tergerak hatinya untuk berbagi, maka kita (saya dan Anda) akan turut keciprat pahala dan berkahnya.

Tertarik?
Lihatlah, barang kalau nggak berguna, akan diletakkan di pinggir. Lama-lama, diletakkan di gudang. Pada akhirnya, diletakkan di tong sampah. Manusia kurang-lebih juga sama. Yang tak berguna, pelan-pelan akan dipinggirkan dan disingkirkan. Bukankah emas dinilai dari karat dan manusia dinilai dari manfaat? Anda sepakat?

Hidup itu perlu solusi.

Ngomong-ngomong:
- Siapa yang profit-nya paling banyak?
- Siapa yang pahalanya sangat banyak?
- Siapa yang dirindukan oleh orang banyak?

Ternyata jawabannya sama. Yaitu mereka yang menjadi solusi bagi sesamanya. So-lu-si. Karena itu, tidak ada pilihan lain, jadilah bagian dari solusi. Jika tidak, cepat atau lambat, Anda akan menjadi bagian dari masalah. Itu pesan guru saya dan selalu saya ingat-ingat sampai sekarang.

Sebagian orang heran, kok belakangan ini saya jarang sharing di blog. Bukan apa-apa, sekarang saya lebih memilih untuk sharing dalam bentuk text dan picture di channel Telegram: ipphoright. Tetap berbagi solusi. Menurut saya, saat ini Telegram itu lebih selektif juga lebih efektif. Nggak tahu ke depannya seperti apa.

Perhatikan ini:
- Ingin sukses, sukseskan orang lain
- Ingin cerdas, cerdaskan orang lain
- Ingin doa terkabul, doakan orang lain

Sekarang, Anda ingin mengalami keajaiban rezeki?
Bener-bener ingin?

Baiklah, saya akan memberitahu caranya, dengan dua syarat:
- Pertama, jangan tunda (langsung praktek)
- Kedua, jangan tanya (apalagi mempertanyakan)

Dengar, taati. Itu intinya.

Siap praktek?

Baiklah, begini caranya.

Ajak teman-teman bergabung di channel ini. Minimal 5 orang.

Bayangkan, setiap kali mereka memetik inspirasi dan motivasi dari channel ini, maka Anda dan saya turut kebagian berkahnya. Terus, mungkinkah ini berdampak terhadap kesuksesan Anda? Jelas! Karena Anda menginginkan teman-teman Anda turut sukses, lha apa mungkin Yang Maha Kuasa diam saja? Mana mungkin! Tentulah Dia Yang Maha Pemurah menolong Anda agar lebih sukses!

Kalau sudah begini, rezeki yang berkah dan berlimpah bukan suatu yang mustahil lagi. Pengalaman yang sudah-sudah, sekitar 80% orang yang berbagi akan mengalami keajaiban rezeki dalam waktu 7 hari atau kurang. Sisanya lagi, mungkin perlu sedikit waktu, ketulusan, kesabaran, dan baiksangka.

Siap membuktikan?
Anda pengusaha? Untuk jadi pengusaha, Anda belajar berapa tahun, baik secara formal maupun non formal? Hm, bisa bertahun-tahun.

Kalau Anda ingin menjadi notaris, arsitek, atau pengacara, Anda harus kuliah sampai 4 tahun bahkan lebih. Belajar. Nah, setiap kita insya Allah pasti akan menjadi ayah atau ibu. Sudahkah kita belajar untuk itu? Berapa tahun? Jangan mengandalkan logika kita saja. Kadang dicampur pula dengan logika dari orangtua kita yang kebanyakan juga tidak belajar. Akhirnya ke anak, kita seperti coba-coba saja.

Sekiranya Anda belajar sungguh-sungguh selama bertahun-tahun demi menjadi profesional atau entrepreneur, mestinya Anda lebih belajar lagi untuk menjadi ayah atau ibu, juga untuk menjadi suami dan istri. Soalnya guru saya pernah berpesan, “Dalam karier atau bisnis, kamu boleh gagal. Tapi dalam mendidik anak, kamu harus berhasil. Karena mendidik anak itu tidak bisa diulang.”

Hal sederhana saja, soal ASI. Ternyata itu bukan tanggung-jawab ibu. Sekali lagi, bukan tanggung-jawab ibu. Dan masih banyak hal lainnya. Sudahkah Anda mengetahuinya?

Tulisan ini penting banget! Simak deh » http://bit.ly/penafkahan
Anda karyawan?
Anda pengusaha?

Simak deh…

Sekarang kita berandai-andai. Katakanlah, ada seorang laki-laki jahat. Sebut saja, preman. Mungkin ia masih berani mencuri sebuah jambu. Mungkin pula, ia masih berani memakan jambu curian tersebut. Yah, namanya juga orang jahat. Preman. Akan tetapi, beranikah ia memberikan jambu curian itu kepada ibu, istri, atau anaknya? Kemungkinan besar, ia tidak berani. Kenapa? Disadari atau tidak, seorang laki-laki sejati masih berprinsip, “Walau bagaimanapun, keluargaku harus menikmati makanan yang baik-baik. Bukan jambu curian.”

Sadarkah kita:
- Kalau kita pejabat atau aparat, lalu kita menerima suap, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian!
- Kalau kita pengusaha atau profesional, lalu kita memperoleh proyek karena memberikan suap, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian!
- Kalau kita karyawan, lalu kita memperoleh uang karena manipulasi atau sejenisnya, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian! Dengan kata lain, kita lebih parah daripada preman yang dikisahkan tadi!

Think…
Ada channel ilmu yang keren. Seputar menarik rezeki.
Namanya Magnet Rezeki, dipimpin langsung oleh Pak Nasrullah, pelopor property syariah yang sekarang tengah bersiap-siap membangun apartemen di Depok. Tahun lalu, saya bersama beliau menulis buku bersama, judulnya Magnet Rezeki.

Di Telegram, dia sering bagi-bagi ilmu, gratis. Berupa tulisan, audio, dan video.

https://telegram.me/rahasiamagnetrezeki

Cara bergabung ke channel Magnet Rezeki:

1. Install aplikasi Telegram (gratis)

2. Masukkan nomor telepon Anda untuk verifikasi, sama seperti registrasi WhatsApp

3. Di tombol search, ketik RahasiaMagnetRezeki

4. Klik dan join

5. Selamat belajar

Setelah join, silakan lihat-lihat pesan (posting) sebelumnya. Sangat bermanfaat.
Sudahkah kita mendoakan orangtua hari ini?
Dengan sebaik-baik doa?

Ketika kita masih kecil, orangtua berusaha memberikan yang terbaik untuk kita: mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, sampai ke mainan. Mereka selalu menomorsatukan kita. Sekarang, ketika kita dewasa, apakah kita memberikan yang terbaik untuk mereka? Apakah kita menomorsatukan mereka? Yang ada, kita malah menomorduakan mereka. Biasanya rumah, makanan, dan pakaian kita jauh lebih baik daripada orangtua.

Yang ironis, biasanya beginilah cara kita ‘berbakti’:
- Begitu kita hidup susah, maka dilantiklah orangtua menjadi pembantu di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bekerja, maka dilantiklah orangtua menjadi babysitter di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bepergian, maka dilantiklah orangtua menjadi satpam di rumah kita. Memang, kita tidak pernah menyebutnya begitu, tapi begitulah pekerjaaan mereka sehari-hari.

Manakala orangtua meninggal, barulah kita tersadar. Kita pun berubah membaik. Mestinya dibalik. Kita berubah membaik dulu, sebelum orangtua meninggal. Tak perlu tunjuk sana-sini. Lebih baik introspeksi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Mohon doa ya untuk saya dan orangtua saya.
Kapan rezeki datang?

Sebenarnya, yah selalu.
Selagi kita masih ada umur.

Jangankan kita, hewan saja dijamin rezekinya. Jelek-jelek gitu, maling pun dijamin rezekinya. Yah, apalagi kita yang insya Allah orang baik-baik. Terlebih-lebih lagi kalau kita beriman.

Namun ada yang namanya rezeki tidak disangka-sangka. Sesuai namanya, tidak disangka-sangka, tapi datang seketika. Kapan datangnya? Saya pun berusaha mempelajari polanya, karena segala sesuatu ada polanya.

Alhamdulillah, sejak 2010 saya serius menulis tentang rezeki. Mulai buku 7 Keajaiban Rezeki sampai buku Percepatan Rezeki. Ada pula buku Magnet Rezeki. Akhirnya pola itu sedikit-banyak saya temukan.

Hm, apa saja polanya? Begini:
- Setelah kita berserah diri kepada-Nya (tawakal)
- Saat kita berusaha mematuhi perintah-Nya
- Saat kita berusaha menjauhi larangan-Nya

Itu pola umumnya, yang hampir semua orang sudah mengetahuinya.

Terus, apa pola khususnya? Ternyata banyak.

Saya berjanji akan sharing pola-pola khususnya setelah channel ini mencapai 12.000 member. Sayang sekali, ilmu sebagus ini hanya dinikmati oleh 9.000 orang. Maka dari itu, ajaklah teman-teman kita untuk install Telegram dan bergabung di channel ipphoright.

Apalagi kita sama-sama tahu, saat kita sungguh-sungguh berharap orang lain membaik rezekinya, maka Dia Yang Maha Pemurah serta-merta memperbaiki rezeki kita. Dan ingat-ingatlah ini:

- Ingin cerdas, cerdaskan orang lain

- Ingin sukses, sukseskan orang lain

- Ingin doa terkabul, doakan orang lain
- Ingin dibantu Allah, bantu orang lain

- Ingin darah membaik, donor darah ke orang lain
- Dan seterusnya

Inilah kuncinya. Ketika Anda mengajak orang lain bergabung ke channel ini, niatkan sungguh-sungguh agar mereka membaik rezekinya. Istilah saya, berkah berlimpah. Sekali lagi, kuncinya pada kesungguhan niat.

Siap?
Karena saya pernah bertemu dan dinner bareng Donald Trump (capres Amerika saat ini), maka banyak orang yang bertanya-tanya tentang sikap saya. Apalagi foto dan videonya beredar di mana-mana.

Jujur saja, dulu saya sempat antusias ketika bertemu dengannya. Belajar. Namun ketika ia mengeluarkan pernyataan yang SARA dan memojokkan kelompok tertentu, saya pun turut mengecam.

Belajar, yah belajar. Namun, kritis dan tegas itu harus. Mana mungkin saya diam saja? Dan saya lihat sendiri, orang-orang yang satu agama, satu ras, bahkan satu partai dengan Donald Trump pun turut menyesalkan kejadian SARA ini.

Sebagian dari mereka menyebut kejadian ini sebagai aib bagi Amerika. Terlepas dari itu, benarkah Amerika selama ini anti sama Islam? Simak pendapat saya tentang Donald Trump dan Amerika » http://bit.ly/DonaldTrumpUS
Sering jalan-jalan?
Dari Jakarta ke Bandung?
Nggak mau macet?

Sekarang sudah tersedia jasa helikopter dengan tarif Rp 16,5 juta. Hehehe.

Mahal?

Itu sih tergantung.
Ketersediaan uang Anda.
Ketersediaan waktu Anda.
Kepadatan jadwal Anda.

Saya pribadi tidak menggunakan jasa itu untuk mudik, namun saya berusaha memahami logika mereka yang menggunakan jasa tersebut.

Nah, beda dengan orang-orang yang bermental miskin. Begitu membaca kabar ini, mereka langsung tersinggung. Mereka merasa dipermalukan. Harusnya, dijadikan motivasi. Buat apa tersinggung? Buat apa malu?

Ayo buka wawasan kita. Selama ini di Jakarta, sudah banyak jasa helikopter seperti itu. Sebagian pengusaha, mau meeting saja, karena kejar-kejaran dengan waktu, terpaksa memakai jasa helikopter. Memang perlu dan harus bagi mereka. Yah, demi menghemat waktu (terkait jadwal yang padat) dan meneken transaksi yang nilainya jauh lebih besar.

Sebenarnya di sini, saya tidak bicara soal jasa helikopter. Terus, soal apa?

Soal mental kaya dan mental miskin.

Kita, walaupun belum kaya, hendaknya memiliki mental kaya. Tidak kaget, tidak skeptis, dan tidak sinis kalau mendengar kabar-kabar seperti ini. Biasa saja.

Mobil seharga Rp 1 M.
Rumah seharga Rp 12 M
Kamar hotel Rp 2 juta semalam.
Sewa mobil Rp 5 juta sehari.

Nggak perlu kaget. Biasa saja.

Teman saya, flight dari Texas ke Jakarta, menggunakan fasilitas business class. Dibanding kelas ekonomi, harga tiket business class 4 kali lipat. Saya tanya, kok mau? Dia bilang, kalau di business class, bisa tidur dan berbaring dengan sempurna. Nyaman. Jadi, begitu landing, langsung fresh. Ini harus bagi dia, karena sederet meeting penting dan transaksi besar telah menanti.

Saya juga melihat pengusaha berinisial J (salah satu orang terkaya di negeri ini) terbang dari Jakarta ke Labuanbajo dengan pesawat pribadi. Bagi dia, mungkin saja proses mengantri, check in, dan menunggu bagasi, lumayan menyita waktu. Sementara, sederet meeting penting dan transaksi besar telah menanti. Dengan pesawat pribadi, dia pun bisa balik ke Jakarta suka-suka. Nggak nunggu-nunggu jadwal penerbangan umum.

Sikap kita? Tidak kaget, tidak skeptis, dan tidak sinis. Biasa saja. Ingatlah, ini bagian dari mental kaya.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apapun impianmu, selaraskan dan komunikasikan dengan orang-orang terdekatmu. Seperti istri, ayah, dan ibu. Syukur-syukur kalau para sahabat turut mendukungmu. Semakin banyak, semakin selaras, yah semakin melaju... Simak lanjutannya » http://bit.ly/SELARAS